Gallery

When The Love Reached Into My Heart (Part 6)

Author : Serlin

Sudah berakhir musim gugur ini dan aku harus kembali ke sekolah karena mr chang hanya menskorsku sampai akhir musim gugur. Oh aku mendapat kesulitan kali ini karena sudah tertinggal banyak sekali pelajaran. Tidak mungkin aku tidak lulus lagi untuk tahun ini. Aku bersiap-siap mencari pakaian seragamku yang ternyata ada didalam ransel yang berada dipojok kamar, untunglah aku tidak menaruhnya dikoper karena kalau ku melakukannya pasti seragamku ini sudah raib dan mr chang akan menambahkan hukumannya padaku.

Aishh.. aku ingat sesuatu, tidak mungkin aku bersekolah memakai sendalku semata wayang ini, aduh bagaimana ini tidak ada sepatu untuk bersekolah.

“kau mau sekolah?” paman nam meliriku heran.

“Ne” anggukku pelan tanpa ada rasa semangat sedikitpun, aku yakin kyuhyun sedang memikirkan sesuatu hal untuk ditanyakan kepadaku secara mendetail.

“kau bercanda? Setelah ku lihat kau hanya berlenggang kesana kemari dengan santainya selama 3 bulan ini sekarang kau mau kembali sekolah?”

Dia menyeruput secangkir susu yang ada di meja didepannya.

“kemarin itu aku sedang berlibur, kenapa kau mau tahu urusanku?”

Aku sebenarnya malas melayani dari setiap kalimatnya itu tapi apa boleh buat yang lainnya juga terlihat penasaran.

“baiklah, dimana kau sekolah? Aku akan tanyakan pada seosangnim-mu”

Mataku mendelik cepat kearahnya, tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Apa maunya sih orang ini benar-benar menyusahkan. Aku pun menantangnya mana mungkin dia berani untuk melakukan hal itu. Biarkan sajalah aku juga tidak yakin dengan setiap ucapannya itu.

“Silahkan saja kalau kau berani, aku tak keberatan” aku tersenyum paksa kepadanya, dia hanya memandangku yang hanya kelihatan bola matanya itu saat dia memegang cangkir.

“kau mau bertelanjang kaki seperti itu?” ryeowook menegaskan keadaanku, aku lupa belum memakai sepatu, tadinya aku berpikir untuk meminjam sepatu pada member-member ini tapi setelah ku lihat ada kyuhyun dan heechul jadi kubatalkan niatku tadi, terlalu gengsi untuk membicarakannya di depan dua orang ini.

“ Oppa ini kan musim dingin jadi akan kubuat kakiku menjadi kebal tanpa memakai alas”

Ryeowook tersenyum, begitupun dengan siwon dan teukie, aih pemuda ini memang terlihat sangat memukau dengan senyuman mereka.

“pakailah” perintah wookie, kulihat ke arah sepatu itu dan sepertinya dia sangat merawatnya karena terlihat cahaya dapat memantul dari sepatu itu. Perlahan ku memasukan kaki sebelah kananku dan “auww” terlalu sempit sepertinya.

“kenapa” ryeowook menanyaiku karena dia melihat wajahku yang penuh dengan tanda tanya, dia membungkukan tubuhnya dan melihat keadaan kakiku.

“terlalu kecil ya?” gumamnya.

“anniyo oppa, ini benar benar pas dengan ukuranku, kau tau langkahku bisa tidak terdengar jika memakai sepatu ini”

Aku mencoba meyakinkannya, yang lain hanya memerhatikan kami berdua.

“Ani ini terlalu kecil untukmu” ryeowook berjongkok dan mencoba melepaskan sepatu yang telah terpasang dikakiku. “aissh sulit sekali” ujarnya kesusahan. Akhirnya sepatunya bisa terlepas tapi terdapat kerusakan kecil karena tarikan paksa. Aku merasa sangat bersalah setelah mengetahui bahwa itu adalah sepatu kesayangannya.

“Dasar kau ori (bebek), kau sudah tau kan kakimu itu berselaput kenapa terus memaksakannya? aku heran tubuhmu itu kecil tapi kenapa kakimu begitu besar?”

Terus saja kau heechul, aku tahu kau tidak menyukaiku tapi kali ini aku merasa tersinggung karena tuduhannya itu, kau telah menghina salah satu bagian dari tubuhku, yaitu kakiku. Aku tidak mau berdebat dan yang hanya kupikirkan adalah perasaannya ryeowook, “oppa mianhae, aku benar benar minta maaf”, ryeowook hanya menjawabnya dengan anggukan pelan pertanda bahwa tidak apa-apa aku baik.

@@@

Semua orang memandangku aneh saat ku menyusuri koridor sekolah dan saat ku masuk ke dalam kelasku. Kelas yang terasa asing bagiku, begitupun orang-orang penghuni kelas tersebut. Setelah menuai permasalahan dalam menuju ke sekolah ini akhirnya aku bisa sampai juga. Permasalahan dari sepatu tadi bisa ku atasi dengan memakai sepatu kyuhyun karena ukuran kaki kami sama, sebenarnya kulihat raut wajah penuh kedengkian terpasang jelas di wajahnya saat leeteuk menyarankan dia untuk meminjamkan sepatunya itu tapi karena teuki itu yang paling tua dan sebagai kakak dari mereka maka kyuhyun pun menurutinya. Kenapa sepatunya bisa begitu pas di kakiku, dia itu pria tapi kenapa ukuran sepatunya sekecil ini.

“Lee Yura”

Aku langsung menoleh saat mendengar namaku dipanggil, guru ini menambah kedongkolan dihatiku saja, dia menyuruhku mengerjakan soal-soal fisika di depan kelas. Yang benar saja aku sudah tidak belajar selama 3 bulan, dengan sekeras apapun ku berpikir pasti tidak akan bisa aku memecahkan soal tersebut karena memang sebelumnya tidak pernah kupelajari. Saat ku berjalan perlahan maju ke depan kelas, semua mata tertuju padaku, aku membayangkan aku sedang berada di atas catwalk dan melambaikan tanganku, setelah itu semua orang bersorak sorai meneriakki namaku. Yah aku berpikir bahwa aku sedang menjadi miss universe dan “jlepp” bayangan itu tiba-tiba menghilang, yang ada didepanku hanya papan tulis entah apa warnanya dengan seosangnim berdiri disampingku.

Tanganku gemetaran saat kucoba menggariskan sebuah tulisan di papan tulis tadi.

“Apa yang kau tulis yura-ya?”

Aku tidak sadar apa yang aku tulis, dan ternyata aku menuliskan “mad physic, mad teacher and we’re in our madness” yang artinya “fisika gila begitupun gurunya dan kita semua berada dalam kegilaan” aku menggigit ujung kukuku sambil memerhatikan tulisan itu, aku tidak percaya bahwa aku yang menulisnya. Tentu saja seosangnim mengeluarkan amarahnya dengan menggebu gebu, tanpa berbelit belit dia memberiku sekumpulan tugas fisika yang harus kukerjakan sebanyak seratus halaman.

$$$

Sudah ku bolak balik soal itu tapi tak ada satupun yang bisa aku kerjakan. Sesekali ku membantingkan tubuhku ke kasur tapi lagi-lagi selalu terbayang wajah seosangnim beserta garis keriputnya itu, sungguh menyeramkan lebih menyeramkan dari sebuah kegelapan ditengah hutan belantara seorang diri. “aihh seosangnim kau begitu tega padaku!!! Aaaa” aku menggebruk gebruk meja belajarku sambil terus menangis karena tugas ini harus dikumpulkan besok. Kemungkinan malam ini aku tidak akan tidur. Ini semua gara-gara mr chang, dia terlalu berlebihan menanggapi masalah. Aku bingung siapa yang akan ku mintai bantuan. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku dan mulai berpikir, akupun menemukan jalan pintasnya. Ku bawa pekerjaan rumahku yang seabreg itu dan kulihat tidak ada siapa-siapa di ruang tengah, sampai pada suatu tempat dan ku buka pintu perlahan, terlihat eunhyuk sedang asik menyantap makanan ringan sambil menonton yadong?? Omo omo bahaya, aku secepat mungkin menutup pintu itu kembali dan berlari kocar kacir ke kamarku tapi terlambat, eunhyuk menyetopku dan menghampiriku.

“wae?” Eunhyuk bertanya tanpa beban sambil terus menyantap makanannya itu, aku hanya berpikir “kau sudah kupergoki masih saja kau bersikap santai seperti itu” sambil menatapnya tajam. “wae??” tanyanya keras, aku tundukkan kepalaku dan memperlihatkan setumpuk kertas, dia meraihnya dan mengajakku duduk di meja yang berada dekat dengan kami.

“hemmm, mudah saja” dia menyimpulkan dengan mudahnya, aku hanya melongo mendengar ucapannya itu, aku lihat dia begitu serius mengerjakan dari setiap soalnya. Orang ini ternyata baik juga setelah ku ingat-ingat apa yang telah dia lakukan kepadaku selama ini mungkin dapat terbayar dari perlakuannya padaku malam ini. Aku rasa semua member telah tertidur pulas karena katifitas mereka yang sangat padat seharian ini. Aku memakluminya, lagipula sekarang sudah menjelang pagi tapi kenapa si eunhyuk ini tidak ikut tidur padahal kegiatannya pun tak kalah melelahkan dari kegiatan member lain, malah dia lebih memilih menonton yadong dini hari seperti ini.

“Ne, sudah selesai semuanya” Eunhyuk meletakkan alat tulisku di meja, aku pun membungkukan badan seraya mengucapkan “Gomawoyo oppa, ghamsa hamnnida” Eunhyuk berlalu kekamarnya, tanpa memandang kertasku aku pun langsung menuju kamar dan berbaring di tempat tidurku yang ku tempati sejak 3 bulan yang lalu.

@@@

Mataku sangat berat saat mencoba melangkahkan kaki ke luar rumah, cuaca sangat suram dengan butiran salju yang jatuh dari langit. Aku mendekapkan keduatanganku dan terus melaju menyusuri jalan yang licin ini. Kalau aku boleh memilih, aku lebih baik didalam asrama dengan ditemani ramyeon dan teh hangat, aih membayangkannya saja membuat perutku bergejolak wajar saja karena saking bersemangatnya aku ke sekolah aku jadi tidak sarapan. Terus terang saja aku ingin cepat sampai disana karena ingin secepatnya ku serahkan hasil kerjaanku atau lebih tepatnya kerjaannya eunhyuk kepada seosangnim. Dengan senyum lebarku aku memasuki kelas dalam kepercayaan diriku sesampainya disana kulihat kelas kosong, tidak hanya kelasku saja tapi juga kelas yang lain. Kantin juga sepi, apalagi ruang guru yang diselimuti suasana yang mencekam karena aura yang terbagi dari para guru. Aku lihat ke jam tanganku ternyata masih pukul 6 pagi, aku rupanya datang terlalu awal. Aku kembali ke kelasku dan ku buka tasku, ku tarik sebuah buku dan kubaca buku itu, bahasa inggris, aku tidak begitu menyukainya tapi setiap kali test nilaikulah yang tertinggi di pelajaran ini. Aku penasaran pada soal yang eunhyuk isi kemarin, bagaimana bisa hanya dengan waktu kurang lebih satu jam dia menyelesaikan pekerjaan rumahku sampai tuntas. Mataku sangat merah saat ku sadari bahwa kelas sudah dipenuhi para siswa. Aku mengucek-ngucek mataku, ternyata aku tertidur saat membaca buku tadi. Pelajaran pertama adalah fisika, tentu saja aku sedikit merasa rileks dengan tugas tugas yang diberikan seosangnim kepadaku. Tanpa perlu perintahnya dengan sigap kuserahkan hasil pekerjaan rumahku. Dan ternyata….

“LEE YURA-YA”

Seosangnim memelototiku sampai kedua bolamatanya itu hendak keluar. Kali ini terlihat raut marah diwajahnya, aku sangat takut melihatnya, ingin menangis sekencang-kencangnya. Dia tunjukan lembaran demi lembaran kertas soal tersebut, dan kulihat disana terdapat gambar-gambar wanita berbikini dengan berbagai macam pose.

“AAAAAAAAAAAA” aku menjerit keras sekali, semua orang dikelas ini menutup telinga mereka.

$$$

Aku berjalan dengan menyeret langkah, lelah sekali setelah seharian diperbudak oleh sekolahku.. karena kejadian tadi aku berpikir aku tidak lagi memiliki wajah di hadapan seosangnim. Semalam aku sangat kelelahan dengan pikiranku yang sangat berbelit jadi aku tidak sadar kalau eunhyuk menulisnya di kertas yang terbalik. Emosiku berubah sesaat ketika melihat dia dengan santainya mengerjakan soal-soalku, tapi ternyata bukan soal yang dia kerjakan dia malah membuat gambar-gambar yang tidak senonoh.

“Awas kau lee hyuk jae!!!!” pekikku sambil memandang jauh ke depan.

@@@

Part 8

Sudah ku cari keberadaannya dari ruang satu dan yang lainnya, tapi tetap saja aku tidak menemukannya, “Eunhyuk dimana kau” gusarku. Aku kelelahan dan memutuskan untuk duduk di ruang bersantai di dekat dapur, terlihat disana terdapat sebuah akuarium dan seekor kura-kura didalamnya. Aku mengetuk-ngetuk kaca akuarium tersebut tapi sang kura-kura hanya berdiam diri dalam tempurungnya. Aku rasa aku benar-benar kelelahan hingga kura-kura saja ku ajak bicara.

“Yaa kau didalam sana, apa kau tidak penat?”

“siapa namamu wahai makhluk manis? Aku yura, lee yura, hemm.. aku pikir kau tuli, kau tidak mendengarnya? Yaa..yaa” ku terus mengetuk kaca akuarium tadi.

“Aku bosan, kenapa kau bukannya menghiburku tapi malah mengacuhkanku?”

“Aisshh kau ini”

Saat ku berbalik, tepat sekali yesung ada didepan wajahku.

“Kyaa apa yang kau lakukan dengannya?” bentaknya hampir saja membuatku mati berdiri, aku tak mengedipkan mataku saat kulihat dia bisa semarah itu karena ku ganggu persemayaman binatang peliharaannya tadi.

“Aigoo, aku hanya mencoba mengajaknya berbicara tapi dia hanya diam saja, aku juga tidak tertarik pada binatang malang ini, tidak menggemaskan”

“ya ttakoma itu milikku, dia hanya bisa mendengar suaraku, arasseo?” yesung membentangkan kedua tangannya menjaga akuarium itu dari keberadaannku.

“aku juga tidak mau dengan binatang jelek seperti itu, hanya menyusahkan saja, dia itu sungguh malang harus berada ditempat kecil seperti itu, apa kau pernah membuatnya tertawa yaa? Kalau aku disuruh memilih, aku akan lebih memilih untuk memelihara seekor macan agar rumah ini bisa ramai dengan jeritan orang!!” tukasku sambil pergi meninggalkan kakak beradik ini. Ternyata ucapanku tadi membuat yesung termenung dan berpikir ulang untuk memelihara hewan tersebut, kudengar dia berbincang dengan ttakoma, seperti orang tidak waras saja.

Yesung: “Mianhae, aku tidak bisa merawatmu dengan baik, kau tau kan kalau aku tidak pernah membuatmu tersenyum apalagi tertawa, aku hanya membuat dirimu berada dalam keterpurukan sehingga kau selalu membisu seperti itu”

Aku jadi terharu mendengarnya, tidak kusangka sejauh itukah persahabatan dia dengan seekor kura-kura? Aihh.. apa-apaan aku ini, menangis hanya karena melihat adegan tersebut, adegan yang tak masuk akal. Ku lihat yesung masuk ke dalam kamarnya dan aku kembali menghampiri ttakoma, ku masukan tanganku ke dalam akuarium perlahan dan ku coba mengangkatnya “omo.. kenapa berat sekali” dan ternyata ttakoma itu hanyalah sebuah batu yang menyerupai tempurung kura-kura. Aish yesung memang benar-benar gila, dia telah menipuku.

Aku berpikir ulang tentang kejadian tadi, apa benar yesung itu tidak waras? Dia berbicara dengan sebuah batu? Ah mungkin itu adalah batu perekam yang selalu merekam curhatannya, mereka ini kan kaya mungkin mereka memiliki alat-alat canggih yang dijadikan sebagai benda koleksi mereka. Ku ingat dengan helm yang kyuhyun pasangkan dikepalaku, itu juga alat untuk menjahili orang yang sering dipakai eunhyuk. Hanya yang tahu kodenya yang bisa melepaskan helm itu, karena ternyata dibelakang helm tersebut ada beberapa tombol kecil yang dipakai untuk mencantumkan kode-kodenya. Aku semakin penasaran dengan ttakoma, apa mungkin dia itu sebuah robot kura-kura? Tadi tidak kuamati secara mendetail, tapi seingatku itu hanyalah sebuah batu, ya sebuah batu.

Sedang asik ku berkecamuk dengan pikiranku, telepon di ruang tengah berbunyi nyaring, sesegera mungkin aku bangkit dan kuangkat telepon itu.

“yeoboseyo” ucapku lembut.

“ya kenapa kau yang angkat?”

Aku membulatkan mulutku, dan mengernyitkan bibirku.

“Siapa disana?” aku terus bersikap selembut mungkin meskipun ku sudah tahu kalau suara itu adalah suara heechul.

“Yura-ya berikan telepon ini pada yesung” perintahnya tapi ku rasa yesung sedang tertidur pulas jadi aku merasa tidak enak untuk membangunkannya.

“katakan apa yang kau inginkan? Yesung sedang tidur” jawabku datar.

“aissh.. kau ini, cepat bawakan kami jaket ke lokasi syuting, jangan sampai kami membeku kedinginan”

Kata-katanya itu, setidaknya kalau dia mau menyuruhku harusnya dia meminta dengan sopan bukan malah membentak seperti itu. Aku malas membawakannya, aih tapi kalau tidak mereka pasti akan kedinginan sementar ku ingat pasti siwon, leeteuk dan ryeowook juga pasti ada disana. Aku menyeret koper yang berisi jaket mereka itu. Saat ku sampai didepan pintu asrama ternyata sudah ada paman nam yang berniat untuk mengambilnya, syukurlah aku tidak jadi kesana jadi hanya kuserahkan koper itu pada paman nam.

“jaga yesung ya” ujar paman nam tergesa-gesa dan diapun berlalu dengan mobilnya.

“WAE?” otakku penuh dengan tanda tanya setelah mendengar ucapanny tadi, aku masuk kedalam dan ku hampiri yesung yang dari tadi belum keluar dari kamarnya. Ku lihat dia sedang menggigil, sesegera mungkin ku mendekat padanya dan ku pegang keningnya, aku tidak tahu berapa suhunya tapi yang pasti derajatny sangat tinggi karena terasa badannya begitu panas. Aku bergegas menuju dapur untuk mengambil peralatan untuk mengompres. Setelah selesai aku langsung kembali kekamarnya dan mengompresnya.

“Oppa gwaenchana?” aku khawatir dengan keadaanny, namun tak ada sahutan dari mulutnya. Wajahnya pucat pasi, aku terus menggosok-gosok kedua tanganku ke tangannya karena itulah yang aku lakukan saat melihat sepupuku kedinginan.

“Yaa oppa jawab aku!!” aku kali ini menangis berurai air mata, aku bingung apalagi yang harus kulakukan, sementara aku tidak mengetahui banyak hal tentang kesehatan.

“G..w..enchachannna” sahutnya lirih, tapi wajahnya masih pucat yang bisa aku lakukan hanya terus mengusap kedua tangannya.

@@@

Siwon,ryeowook, Eunhyuk, kyuhyun, leeteuk, donghae, sungmin, heechul, shindong dan manajer nam baru pulang pagi ini. Mereka tidak pulang semalam karena terjebak badai salju. Saat mereka membuka pintu yang tidak dikunci, mereka langsung berbaring di ruang tengah menguraikan betapa lelahnya mereka itu. Heechul beranjak ke kamar yesung dan saat didapati bahwa aku berada disana juga heechul langsung berteriak sekencang mungkin “YURAAA YA”. Aku yang masih tertidur ditempat duduk disamping tempat tidurnya yesung langsung terlonjak kaget, begitupun yesung. Heechul langsung menarikku paksa, dan dia dorong aku hingga terjungkal di ruang tengah.

“Heechul-ah apa-apaan kau ini?” bentak siwon, tidak terima perlakuan kasar heechul padaku. Manajer nam juga terlihat sangat marah.

“Tanya saja padanya” heechul menunjuk ke arahku dengan wajah bencinya. Donghae berusaha membangunkanku dan kemudian tangannya ditepis oleh heecul.

“Kau Wanita gatal!!” jerit heechul padaku, aku tidak terima dengan hinaannya itu dan aku pun bangun lalu menamparnya.

“Aku tidak punya penyakit kulit, ARRRRAASSSEEOO?” tepisku.

Sontak saja pernyataanku tadi membuat seluruh isi ruangan menjadi penuh dengan tawa, tidak terkecuali kyuhyun yang selalu melemparkan tatapan sangarnya setiap kali bertemu denganku.

“Kau, Babo..babo..babo” heechul mulai kesal, aku benci mendengarnya memanggilku seperti itu, dia pikir dia pintar apa? Tidak, dia memang cerdas. Tak lama berselang terlihat yesung keluar dari kamarnya dengan langkah yang sempoyongan sambil memegangi kedua kepalanya.

“Kalian itu tidak bisa diam, hah?” sepertinya dia ingin menjerit tapi karena keadaaannya yang lemah suaranya jadi terdengar sangat pelan. Semua orang terperanjat melihat keadaan yesung yng sangat pucat itu.

“Hyung kau kenapa?” ryeowook yang juga adalah dongsaengnya terlihat sangat mengkhawatirkannya, ku perhatikan yesung tersenyum kecil dan melihat ke arahku.

“anniyo, aku tidak apa-apa”

Yesung kembali tersenyum kepadaku dengan tatapan wajahnya yang lemah, aku jadi salah tingkah melihatnya tersenyum seperti itu. Perdebatan antara aku dan heechul pun berhenti, hari ini mereka semua tidak ada aktifitas jadi hanya bisa berdiam diri dirumah saja. Karena semua ruangan full maka aku memutuskan untuk tetap berada dikamar menyelesaikan semua tugas yang diberikan menjelang ujian 2 bulan ke depan.

“Aigoo, kenapa kau itu begitu sulit? Kau itu benar-benar menyusahkan” aku terus menggerutu kesal melihat soal matematika yang berserakan. Tak lama ku dengar seseorang menyelinap ke kamarku yang memanng sengaja ku tidak tutup pintunya.

“Kau itu terlalu babo, lihat saja soalpun tidak mau dilirik olehmu”

Enak sekali kyuhyun meluncurkan kata-kata seperti itu, “mengganggu orang saja” pikirku.

“yaa.. kau mengganggu konsetrasiku, pergi sana” aku memasang wajah serius, dan kembali menatap soal dimeja, ku coret-coret saja soal itu agar terlihat seperti aku sedang mengisinya.

“Yaa babo, apa kau mau menipuku? Apa-apaan mencoret-coret soalmu seperti itu? Apa kau pikir saat kau hapus coretanmu lalu akan muncul bacaan “selamat kau beruntung” seperti di makanan kemasan, hah?”

Aku menundukan kepalaku, merutuk perkataannya tadi.

“Cih soal seperti ini saja tidak bisa kau kerjakan” ledeknya sambil terus berkeliling mencari kertas-kertas soal lainnya. Aku memandangnya ngeri “Kenapa kau itu cerewet sekali bukannya mengajariku hah?”

Kyu duduk disampingku, entah kenapa hati ini terasa bergetar.

“Sini” dia menarik bolpen yang sedang kugigiti ujungnya itu, kemudian mulai mencoretkannya ke atas kertas, ku perhatikan betapa cepatnya dia kerjakan soal-soal itu. “Aigoo” gumamku.

“Rumus apa yang kau pakai?” aku bertanya padanya dengan penuh keheranan.

“Untuk apa aku memberitahumu, kau juga tidak akan mengerti” jawabnya enteng.

“sombong sekali dia, oke kau bisa matematika lalu bagaimana dengan kemampuanmu berbahasa inggris? Ah mana berani aku berbicara seperti itu kepadanya, karena walau bagaimanapun juga dia telah membantuku sedikit hanya sedikit untuk mengerjakan soal-soal ini”. Ku lihat banyak coretan hitungan di kertasku, dia kemudian menyerahkannya lalu pergi keluar dari kamarku. Ku lihat dengan seksama, ternyata hanya satu soal yang dia isi tapi dengan berbagai macam cara, kau itu kenapa pelit sekaliii. Saat berada dipintu dia tersenyum padaku “Aigoo.. kenapa dia itu? Aisshh” hatiku kembali berdesis, Aku menyandarkan kepalaku di meja, dan memanyunkan mulutku.

@@@

To Be Continue…

Advertisements

4 comments on “When The Love Reached Into My Heart (Part 6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s