Cooking Cooking (Part 1)


Aku Lee Sungmin, kehidupan itu menurutku sangatlah sulit. Terkadang kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi tapi setelah suatu hal menimpa diri kita maka kita hanya bisa membiarkan itu terjadi, tidak bisa menolaknya ataupun mengembalikannya ke awal keadaan. Maka dari itu sesuatu yang harus dilakukan adalah selalu siap menerima hal terburuk sekalipun.

 

Sungmin dan Ryeowook menunggu dengan perasaan gelisah di depan papan pengumuman kampus. Mereka menunggu pengumuman tentang magang bulan ini karena mereka akan di tempatkan di Grand Hotel Daegu sebagai uji coba sebelum menempuh serangkaian tes ujian yang akan dilaksanakan bulan depan. Sudah hampir 18 bulan mereka menggeluti dunia koki, yah memang itulah salah satu cita-cita Lee Sungmin menjadi seorang koki besar di korea dan ini merupakan awal dari mimpi yang akan ia capai. Bagaimana dengan Kim Ryeowook? Dia adalah sahabat baik Lee Sungmin yang selalu setia berada di sisinya, kemanapun Sungmin pergi dan dimanapun Sungmin berada pasti Ryeowook ada di dekatnya.

“Hyung aku yakin professor pasti akan menimbang keputusannya, kau tenang saja kita pasti akan magang bersama..” Ryeowook menepuk pundak memberi semangat. Sungmin membalasnya dengan senyuman.

“Lee Sungmin..” seorang dosen muncul, dia lantas melipat kedua tangannya. “Professor Park ingin kau ke ruangannya” ucapnya dingin kemudian melempar pandangannya pada Ryeowook yang berdiri di samping Sungmin.

“Ne..” Sungmin membungkuk memberi hormat kemudian meninggalkan Ryeowook seorang diri bersama dosen wanita muda yang baru saja datang.

“Ini urusannya kau jangan ikuti dia.. ara” dosen itu memberi peringatan dengan sudut bibir yang tertarik ke atas, Ryeowook membalas perkataannya dengan anggukan dengan mata yang terus tertuju pada sosok Lee Sungmin yang mulai menjauh.

Sementara itu di ruangan seorang dosen senior sedang berdiri menatap jendela yang terbuka dalam ruangannya sehingga sinar bisa menembus masuk ke dalam ruang tersebut.

Tok Tok Tok

Saat dia mendengar suara ketukan pintu, dia menggerakan kepalanya ke kanan dan mencoba melihat ke arah daun pintu yang masih tertutup rapat.

“Ya masuk..” perintahnya kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela.

Daun pintu itu mulai terbuka, Sungmin mendorongnya dan melangkah perlahan serta membungkuk sopan saat pria paruh baya itu menghadapnya.

“Kau mengerti apa tujuanku memanggilmu kesini?”

Sungmin menatap matanya sekilas dan memalingkan pandangannya ke lain tempat.

“Ne, aku masih mengingat perkataanmu kemarin, setidaknya kata-kata yang keluar dari mulutmu tak mudah dilupakan oleh siapapun?”

“Mwoya? Apa itu sopan santunmu sebagai seorang mahasiswa disini?” Mata Prof. Park mulai memerah menahan emosi “Aku tak bisa untuk mengikutsertakan kau pada magang kali ini sebelum kau merubah sikapmu”

“Apa karena nilaiku kurang dari 700?“ Sungmin berani menatap Prof. Park dengan tatapan yang sangat menantang.

“Itu salah satunya.. tapi satu hal yang perlu kau tahu, kami butuh mahasiswa yang bisa meningkatkan nama baik akademi ini, sekolah kita adalah sekolah keterampilan siapapun yang tidak bisa mengembangkan kreatifitasnya dan selalu keras kepala maka dia hanya akan menjadi sampah..”

“Sampah? Jika kau tetap bersikukuh pada pendirianmu maka orang-orang yang tidak kau beri kesempatan akan menjadi sampah karenamu”

Sungmin tersenyum merendahkan. Perkataannya seolah menyindir tuan Park. Golgu University, bukanlah universitas terkenal di korea. Universitas ini memiliki citra yang buruk di masyarakat karena lulusannya memang jarang ada yang berhasil. Sungmin memiliki masalah di semester ini, dia memang mahasiswa jenius semua nilai selalu diraihnya dengan sempurna, hanya satu yang tidak ia miliki, Tata krama. Itulah yang menjadi masalah sehingga dosen dari beberapa mata pelajaran tidak mau memberinya ujian untuk semester ini sehingga Sungmin hanya mendapat pengelomokkan nilai sebesar 300, semua mahasiswa diwajibkan memiliki total nilai 700 sebagai syarat untuk mengikuti magang di semester 2 ini, tentu saja pencapaian nilai Sungmin masih sangat jauh dari standar yang diterapkan.

Sungkyunkwan University

Di tempat lain Han Seulki yang merupakan mahasiswa Sungkyunkwan University semester awal duduk di bangku taman dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia sedang berusaha untuk menghindari semua teman yang selalu memanfaatkan uang darinya untuk mendapatkan makan siang gratis.

“Selalu saja seperti ini, apa kalian berteman denganku hanya karena uang? Lalu bagaimana jika ayahku bangkrut dan kami jadi gelandangang hah?” Seul Ki terus bergumam sendiri, dia melihat keadaan isi dompetnya yang hanya tersisa beberapa koin.

“Aigoo.. hanya ada 500 won? Jika aku meminta transfer dana dari ayah hari ini, tamatlah riwayatku! ck”

Dua hari kemarin sang ayah mentransfer dana sejumlah 2 juta won ke rekening Seul Ki namun dalam dua hari ini ia telah menghabiskan semua saldo dan hanya menyisakan 500 won di dompetnya. Seul Ki menunduk dalam tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk saat ini.

“Apa yang kau lakukan disini?” Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Seul Ki yang sedang menunduk segera menggerakan kepalanya untuk melihat sosok manusia yang berdiri di belakangnya sekarang.

“Fiuh.. Seul Jang-ah apa yang kau lakukan disini?”ia menghembuskah nafas lega sesaat setelah mengetahui siapa yang berada di belakangnya, Dia Han Seul Jang adik dari Han Seul Ki yang tiba-tiba saja muncul.

“Aku mencarimu..” jawab Seul Jang polos. Seulki tersenyum dan berdiri dari tempatnya semula.

“Kau ini” Seulki menjitak kepala Seul Jang pelan. “Kau kemari dengan siapa? Kau kabur dari rumah hah?”

“Aku kesini bersama pak Jung, ayah menyuruhku untuk membawamu ke kantornya”

“Ada apa? Tumben sekali..” Seulki membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan tentang ayahnya, dia berpikir apa mungkin ayahnya mengetahui bahwa  Seul Ki telah menghabiskan uang sejumlah 2 juta won selama dua hari.

“HAN SEULKIIIIIII.. APA KAU BISA MEMBUAT UANG HAH? KALI INI AKU TAK BISA MEMAAFKANMU, AKU AKAN MENGHUKUMMU DAN KAU HARUS TERIMA ITU!!!”

“Ah tidak mungkin” Seulki menepis khayalannya dia malah kembali membayangkan hal lain yang lebih menyeramkan . “Pasti akan lebih menyeramkan dari itu”

“HAN SEULKI, MULAI SEKARANG AKU AKAN MEMECATMU SEBAGAI ANAK DARI HAN SEOK HA, KAU AKAN MENGHABISKAN HIDUPMU DIJALANAN”  Seulki menggelengkan kepalanya berkali-kali. Seul Jang menatapnya aneh.

“Ya kau ini kenapa hah?” bentaknya seraya mencibir kesal karena Seul Ki tidak menanggapi pembicaraan Seul Jang. Hubungan keluarga satu ini memang kacau. Terkadang Seul Jang yang masih berumur 6 tahun bersikap lebih dewasa dari kakaknya Seul Ki. Meskipun Seulki memiliki umur jauh di atas Seul Jang namun tidak dengan jiwanya.

 Chef Academy of korean

Sungmin dan Ryeowook berjalan beriringan menuruni tangga.

“Hyung apa yang Professor bicarakan denganmu? apa dia sudah merubah keputusannya? Ayolah ceritakan padaku” Pinta Ryewook. Sungmin kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ryeowook dengan memicingkan matanya.

“Ini semua gara-gara kau” Ujarnya lantang.

“Mwoya?” Ryeowook merasa bingung.

“Jika kita tidak menandatangani surat persetujuan itu dan menerima tawaran untuk bersekolah di tempat seperti ini, jika kau tidak merekomendasikan sekolah ini padaku, jika itu semua tidak terjadi maka aku tak akan ada disini..” Sungmin kembali melangkah dan terus menggerutu mengeluarkan semua amarahnya.

“Semua ini karena aku termakan omonganmu” bentaknya membuat Ryeowook tidak berani berkutik.

“Selalu saja melimpahkan kesalahan pada orang lain” Ryeowook tidak terima atas tuduhan Sungmin. Namun saat mereka berdua terus berjalan menyusuri koridor tempat itu seorang gadis muncul dan menghalangi jalan mereka berdua.

“Oppa..” Dia menunduk malu dengan tangan yang menjulur serta lolipop yang ia sodorkan pada Sungmin. Ryeowook menatap gadis itu dengan tatapan iba, dia melirik ke arah Sungmin yang masih tetap pada posisinya Diam Tanpa Kata.

“Ini untukmu” ujar Il Suk malu-malu sambil terus menundukan kepalanya. Sungmin tidak bergeming, dia lantas berlalu meninggalkan sosok gadis yang masih berdiri di persimpangan kelasnya.

“Ini untuknya? Aigoo.. kau hanya membuang-buang uangmu  jika kau membeli sesuatu untuknya, bagaimana kalau untukku saja?”

Il Suk mengangkat kepalanya dengan tatapan yang sangat menyedihkan.

“Keuraeyo oppa? kalau begitu aku akan memberikannya pada adikku saja” jawab Il Suk putus asa. Il Suk berbalik dan melangkah dengan gontai, dari belakang Ryeowook dapat mengetahui bahwa saat ini dia benar-benar hancur.

“Ah jeosonghamnida Il Suk-ah” teriak Ryeowook saat il Suk mulai menjauh meninggalkannya. “Bagaimana ini? Dia pasti sangat hancur? Aigoo.. kau benar-benar jahat Lee Sungmin” Gumam Ryeowook dan mulai berlari kecil menyusul Sungmin yang sudah berada jauh di depannya.

“Berapa lama lagi dia akan membenci para gadis? atau jangan-jangan dia penyuka sesama jenis?”

Ryeowook berbicara tepat di samping Sungmin membuatnya menyadari apa yang diucapkan Ryeowook barusan.

“Mati aku!!” gumamnya saat melihat Sungmin memandangnya penuh emosi.

Core’s Company

Seul Ki memainkan kursi yang sedang ia duduki, Seul Jang memutuskan untuk keluar membeli beberapa makanan kecil. Pandangan mata Seul Ki terus berpencar menyusuri satu per satu pernak pernik yang terdapat di ruangan sang appa. Tapi sesuatu membuat dia membatu, sebuah figura yang diletakan beberapa tahun lalu, figura yag menghias foto dirinya ketika berumur 3 tahun dan kedua orang tuanya, ayah dan ibu Seul Ki.

“Eomma..?” ucapnya dengan suara hampir tidak terdengar, matanya mulai berkaca-kaca. Eomma Seul Ki telah meninggalkannya ketika melahirkan Seul Jang 6 tahun lalu. Antara kedua pilihan yang berat dan berakhir pada sebuah keputusan yang telah digariskan Sang Maha Kuasa.

“Ehm..”

Seulki langsung merapikan penampilannya saat dia mendengar suara orang berdeham memasuki ruangan. Seulki menarik nafas panjang menunggu sang ayah muncul di hadapannya.

“Kau sudah datang?” tanya Han Seok Ha dingin. Seulki hanya mengangguk seraya menelan ludahnya gugup.

“Ottokhaji?” Gumamnya gugup dan mulai salah tingkah.

“Mworago?” Seok Ha melirik ke arah Seul Ki yang berusaha menyembunyikan sesuatu.

“Aniyo..”

“Aku sudah menerima laporan akhir semestermu dan semua nilaimu sangat buruk..”

“Aku pernah mengatakan bahwa aku sama sekali tidak tertarik pada jurusan yang kuambil sekarang, tapi appa terus memaksaku dan membuatku tak bisa berkutik”

“Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu”

“Yang terbaik untukku? Bukankah hanya menguntungkanmu karena jika aku berhasil menjadi pebisnin wanita maka aku akan menjadi pengelola perusahaan ini berikutnya dan otomatis perusahaan ini akan terus berjalan, itu keinginanmu kan?” Seul Ki berbicara panjang lebar hingga membuat amarah ayahnya memuncak.

“Aku akan mengirimmu ke Amerika, aku pikir pendidikan disana akan jauh lebih baik”

Seulki terperanjat mendnegar pernyataan ayahnya secara tiba-tiba itu.

“Mwoya? Shireo, aku tidak mau” tolaknya kasar.

“Lalu apa yang akan kau lakukan hah? Aku tak bisa mengerti jalan pikiranmu, kau memang sangat susah diatur”

“Setidaknya aku sudah bersedia menjalankan keinginanmu selama 1 semester ini walaupun aku tidak memberikan nilai yang memuaskan yang terpenting bahwa aku sudah bisa berada di jurusan yang selalu kau rekomndasikan.. meskipun aku tidak suka, tapi bukankah itu lebih baik?”

Seul Ki terdiam saat melihat api sudah membara di mata Han Seok Ha.

“Kau pulang sekarang dan bereskan barang-barangmu, besok aku akan mengirimmu ke Amerika”

“Appa kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini, walaupun aku ini anakmu tapi aku juga manusia yang memiliki haknya sendiri” Seul Ki terus membantah. “Ya appa di korea saja aku mendapatkan nilai yang sangat buruk bagaimana di amerika? aku bahkan tidak mengerti bahasanya” tandasnya.

Han Seok Ha memanggil pesuruhnya yang berada di luar ruangan tak lama berselang dua orang berbadan cukup besar dan berotot masuk ke dalam ruangan dan membawa Seul Ki secara paksa keluar.

“Ya apa yang kau lakukan?” Seul Ki mengerang saat orang itu menyeretnya paksa. “Appa kau membiarkan dia berlaku kasar terhadap anakmu ini hah? Ayah macam apa kau ini hah?” Pekiknya terus memberontak. Han Seok Ha yang masih berada dalam ruangan hanya memijit dahinya yang mulai berdenyut.

“Anak durhaka..” geramnya.

Core’s Company adalah perusahaan yang bergerak di bidang furniture. Han Seok Ha adalah pemilik dari perusahaan tersebut. Ia sudah mengembangkannya selama kurang lebih dalam kurun waktu 19 tahun terakhir. Beberapa desainnya laku besar di industri dunia, yang bisa terlihat adalah hasil gemilang dari paket tempat makan unik dengan sebuah lambang khusus dengan alphabet Chinna sebagai struktur utama di desainnya.

***

Sungmin sedang berada di ruang tengah bersama Lee Gong Ja, Lee Myung Ji dan Lee Hye Bin. Mereka akan memulai untuk makan malam. Beberapa varian menu sudah tertata rapi di atas meja

“Aissh Sungmin-ah apa yang kau pikirkan? Nasimu nanti dingin..” Lee Myung Ji ibu dari Sungmin memberikan sepotong ikan tuna pada mangkuk makannya. Sungmin hanya tersenyum pikirannya terus berkecamuk dengan kata-kata Prof. Park siang tadi. Dia memutuskan untuk mengikutsertakan Sungmin pada magang kali ini dengan catatan Sungmin akan ditempatkan sebagai pelayan bukan sebagai koki. Dia merasa kali ini dirinya benar-benar gagal.

“Aku akan membuktikan padamu apa keahlianku” ucapnya dalam hati dengan tatapan yang mematikan. Sungmin langsung menyantap makanannya yang sudah dingin dengan lahap.

“Ya pelan-pelan nanti kau tersedak” Myung  Ji mengelus punggung Sungmin.

***

Seulki sedang asik bermain game bersama Seul Jang, semenjak siang tadi aktifitasnya langsung tertuju pada beberapa kaset game yang berserakan di lantai.

“Ya mati kau mati! Mati ! mati!” ujar Seulki gemas, dia sangat antusias memainkannya. Dia berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhirnya berperang dengan Seul Jang karena besok dia akan berangkat ke Amerika.

“Ya kenapa susah sekali hah? Apa sticknya rusak?” Seulki terus berkomentar membuat Seul Jang sedikit terusik.

“Noona kau itu berisik sekali huh! Gunakan taktik untuk memenangkan permainannya bukan suaramu!” Protes Seul Jang. Seulki menoleh dan tersenyum bodoh kearah Seul Jang yang masih terpusat pada layar LCD.

“Aku menang” ucap Seul Jang datar. Seulki kembali memalingkan perhatiannya pada Layar LCD, dia begitu menyesali kelalaiannya, saat Seulki menoleh ke arah Seul Jang, Seul Jang memanfaatkan moment itu untuk mendapatkan keuntungan.

“Kau curang!!” geram Seulki tidak terima. “Pointku lebih banya darimu bagaimana kau bisa memenangkannya?”

“Aku bilang gunakan ini” Seul Jang menggerakan telunjuk tangan kanannya ke arah kepala.

“Cish bocah licik” Seulki mencibir kesal.

You don’t know me you don’t know me, so shut up boy so shut up boy..

Ringtone ponsel Seulki berbunyi nyaring. Ringtone bad girl good girl dari Miss A. Seulki adalah fanbase dari beberapa girlband dan boyband korea. Kedudukan dirinya sebagai pewaris pertama perusahaan furniture terbesar tidak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari Han Seul Ki. Bahkan sampai saat ini seluruh lapisan masyarakan tidak mengetahui status Seul Ki yang sebenarnya kecuali seorang sahabat Seul Ki yang sudah lama berpisah dengannya.

“Yoboseyo Han Seulki disini akan menjawab pertanyaan anda dengan ramah ada yang bisa aku bantu?”

Seulki mengangkat panggilannya membuat Seuljang bergumam kecil “Dia itu seperti operator?” Seulki mendengar gurauannya dan menjitak Seuljang pelan.

“Ahahaha.. tentu saja tidak , kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

“Lalu kau kemana tadi siang?”

“Appa menyuruhku untuk segera pulang, aku tidak meninggalkan kalian, apa kau pikir aku sejahat itu?”

“ah aniya.. baiklah kalau begitu kami bisa mentolerirmu..annyeong”

Panggilan terputus, Seul Ki menatap ponselnya nanar.

“Hidupmu sangat menderita..” Seul Jang ikut prihatin namun tetap memusatkan fokusnya pada layar LCD.

Jung Ra yang menelponnya tadi. Ketika semua teman Seul Ki sedang makan siang di cafe kampus Seul Ki langsung meninggalkannya begitu saja, padahal biasanya yang membayar semua keinginan mereka adalah Han Seulki dengan imbalan Seul Ki akan menjadi teman mereka karena mereka itu adalah sekelompok orang terkenal maka Seul Ki selalu menuruti kemauan mereka, tapi itu sangat melelahkan bagi dirinya dia selalu ingin terlepas dari para pecundang itu, tak ada yan bisa ia lakukan selain terus mengikuti jalan hidupnya.

Daegu Grand Hotel

Merupakan hotel terkemuka di daerah Daegu. biaya akomodasi yang cukup murah serta pelayanannya yang berkualitas menjadikan hotel ini sebagai hotel yang sangat dipandang dikalangan masyarakat sekitar. Pemilik dari hotel ini adalah Kang Ho Jin yang bersahabat baik dengan Han Seok Ha ayah dari Han Seul Ki.

Mahasiswa yang ditempatkan magang di Grand hotel Daegu berjumlah 6 orang dan keseluruhan dari mereka ditempatkan di bagian dapur lain halnya dengan Lee Sungmin. Sekarang mereka sedang mengadakan review tempat dan setelah itu mereka harus sudah siap menjalankan tugasnya masing-masing sebagai pegawai di tempat ini.

“Ya hyung apa benar kau akan ditempatkan sebagai pelayan?” Ryewook menghentikan langkahnya tepat di depan Sungmin.

“Tidak seperti yang kau pikirkan..” jawab Sungmin malas. Ryeowook berdiri di depannya dan memandang Sungmin dengan tatapan penuh arti.

“Semua murid di kampus membicarakanmu”

“Apa kau percaya pada mereka?”

Ryeowook tidak menjawab dia lebih memilih untuk meneliti keadaan permukaan meja di hadapannya.

“Hyung kenapa permukaannya kotor sekali?” Ryeowook menunjukan jarinya, kotoran di permukaan meja berpindah ke tangannya. Sungmin melakukan hal yang sama.

“Sayang sekali” Sungmin menggeleng kemudian menyapu tangannya untuk membersihkan semua kotoran yang melekat.

“Wae hyung?” Ryeowook nampak penasaran.

“Hotel terkenal harus di nodai dengan hal-hal sekecil ini”

“Dinodai? Apa maksudnya?”

“Mereka hanya menyempurnakan apa yang terlihat dan mengabaikn yang tidak terlihat, padahal yang tidak terlihat itulah yang akan menimbulkan masalah kompleks”

“Ah aku paham” Ryeowook mengangguk seraya memamerkan senyum paksanya.

“Apa yang dia katakan?” Gumamnya. Mereka semua kini menuju ruang ganti, hanya ada 5 seragam koki sedangkan satu dari lainnya adalah sebuah pakaian seragam pelayan hotel biasa dengan motif berwarna biru muda kehijauan. Di bagian dada sebelah kiri tertera nama Lee Sungmin. Ryeowook menatap Sungmin penuh arti membuatnya tak bisa berkutik.

Incheon Airport at 9.35am

Seulki berada di bandara dengan para pesuruh ayahnya beserta Han Seok Ha yang berjalan di depan Seulki. Seul Jang membawa koper besar Seulki dengan tampang sangat terpaksa sementara Seulki hanya membawa tas ransel miliknya.

“Aigoo kau lambat sekali huh?” komentar Seulki kemudian mengambil alih koper yang sebelumnya dibawa Seuljang.

“Kau membawa korban mutilasi? Kenapa seberat itu?” Seul Jang menggerakan tangannya selepas menyeret koper berat tadi.

“Tidak, aku hanya membawa beberapa barang tambahan, PS3, laptopku, pengering rambut, sepatu cats, dan.. beras”

“Beras? Apa kau gila? Untuk apa membawa hal tidak penting seperti itu?” Seul Jang menggeleng tidak percaya.

“Tentu saja untuk makan, di Amerika mungkin saja beras di jual per bulir.. jika harga beras disana mahal aku bisa menjualnya atau memakannya sendiri..”

“Makanan pokok di Amerika adalah sumber protein dan lemak bukan karbohidrat” Seul Jang berjalan memimpin Seulki. Seul Ki berjalan di belakangnya dan mengacak rambut Seul Jang gemas.

“Kau memang pintar Seul Jang-a, tidak sia-sia aku mengajarimu”

“Aku belajar sendiri, jika aku belajar darimu aku tak akan sepintar ini”  Seul jang langsung menepis dan kembali berjalan di depan Seul Ki.

“Cish.. tidak sopan”

Seulki duduk di kursi sekitar bandara, ayahnya hanya berdiam diri sambil terus berbicara melalui telepon.

“Jika aku pergi lalu siapa yang akan menjaganya?” Gumam Seulki dalam hati, ia melihat Seul Jang yang sedang asik bermain seorang diri.

“Aku tidak ingin pergi lalu apa yang harus aku lakukan?” Seulki menunduk dan terus memutar bandul dari kalung yang dia kenakan. Kalung peninggalan ibunya.

“Ibu bantulah anakmu ini aku yakin kau juga tidak setuju dengan keputusan ayah kan?”

“Seulki-a, ada masalah penting ayah harus segera pergi, kau hubungi ayah saat sudah sampai di sana”

“Ah Ne..” Seulki beranjak dari duduknya untuk membungkuk pada sang ayah. Seul Jang ikut di belakang ayahnya dan hanya ada seorang pesuruh ayahnya yang berada bersama Seulki.

“Kau tidak ikut bersama ayah?” tanya Seulki penasaran. Orang itu menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

“Ya aku bertanya padamu!” Seul Ki Menaikan nada suaranya membuat orang itu sedikit tersentak.

“Ah jeosonghamnida agashi, aku diperintahkan direktur untuk mengawasimu mungkin saja kau akan melarikan diri jika tak ada satupun yang mengawasimu”

Sebuah ide terlintas di benak Seulki.

“Melarikan diri?” gumamnya menahan senyum yang akan terkembang.

Lee Myung Ji ibu Sungmin sedang menjemur beberapa kain besar dengan warna dominan putih di halaman rumahnya. Semenjak perekonomian keluarga mereka terpuruk Myung Ji memilih untuk mencari pekerjaan guna menambah penghasilan keluarga. Menjadi buruh cuci, meskipun pendapatan yang didapat tidaklah seberapa setidaknya bisa menutupi kekurangan di keluarga.

“Aigoo.. tanganku keram aissh..” Myung Ji bergumam sendiri saat menjemur beberapa helai kain basah di halaman rumahnya.

“Myung Ji-ya.. Lee Myung Ji..” terdengar suara seseorang meneriaki namanya . Myung Ji memutar tubuh menghadap sumber suara.

“Ne waeyo?”

“Huh huh huh.. Gong Jang, Lee Gong Jang.. suamimu jatuh dari tangga saat mengambil bahan tekstil di rak pabrik”

Myung Ji sangat tersentak mendengar pemberitaan yang di sampaikan oleh tetangganya. Dia segera beranjak meninggalkan  cuciannya yang masih belum dijemur, dia berlari untuk segera melihat keadaan suaminya di rumah sakit.

Seulki melambaikan tangannya saat pesawat yang akan dia naiki sebelumnya lepas landas.

“Jeosonghamnida Abeoji..” ucapnya dengan nada menyesal, pekerja suruhan ayahnya telah meninggalkan Seulki beberapa waktu lalu. Seulki menghembuskan nafas berat kemudian berbalik menuju tempat duduk yang berjejer di area bandara.

“Mianhanda..” Seulki menatap ponsel blackberry torch miliknya. Selanjutnya dia memutuskan untuk berjalan pergi dari tempat tersebut.

“Aigoo kalau aku tahu aku tidak jadi ke luar negri untuk apa aku membawa semua ini?” Seulki terus menggerutu kesal kepada koper yang diseretnya.

Grand Hotel Daegu

“Hari pertama magang, ah senang sekali rasanya memakai pakaian koki seperti ini” Ryeowook tersenyum lebar memandang dirinya di cermin besar.

“Kau mau pamer?” ucap Sungmin dingin. Dia hanya mengenakan sebuah seragam pelayan, berbeda dengan yang lainnya. Sungmin hanya diijinkan untuk menjadi pelayan dan jika dia tidak mengikuti aturan itu maka ia harus mengulang di tahun depan.

“Ah animida, bukan seperti itu hyung, aissh aku rasa seragammu lebih keren karena berbeda dari kami, kapan-kapan aku boleh mencobanya kan?” Goda Ryeowook.

“Tubuhku gatal memakai pakaian ini”

“Sombong sekali kau ini? katakan saja kalau kau menginginkan bajuku?”

“Kim Ryeowook!!!” Sungmin menggeram kesal. Ryeowook langsung berlari menghindar seraya berucap “Ah animida hyung, aku belum menikah jangan bunuh akuuu!!”

***

Seulki menyusuri jalan seraya memeluk koper dengan warna biru miliknya. Matahari sudah berada di ufuk barat dan dia masih belum tahu apa yang akan dilakukannya sendirian di tengah Daegu.

“Sebenarnya aku ini mau kemana? Aissh dingin sekali diluar sini..” Seulki kembali menyeret koper miliknya dan terus bergumam pelan. Dia memutuskan untuk pergi ke daegu dan melanjutkan kehidupannya dengan usahanya sendiri. Tak ada yang tahu bagaimana wajah dari anak Han Seok Ha, karena memang masalah ini tak pernah dipublikasikan oleh ayahnya.

“Grand Hotel Daegu?” Seulki berdiri tepat berada di depan sebuah hotel besar dan mewah. Sebelum ia memutuskan untuk masuk ke dalamnya Seulki menghitung keadaan uangnya terlebih dulu.

“Hana, dul, set.. aigoo” Seulki masuk ke dalam hotel dan yang ia lakukan hanya duduk di ruang tunggu resepsionis.

“Apa ada yang bisa saya bantu nona?” Seorang pegawai dengan seragamnya menghampiri Seul Ki yang masih memandangi keadaan dalam Hotel.

“Ah aku hanya sedang hem.. ingin makan”

“Ne?”

“Iya aku mencari restoran, aku belum makan sejak siang tadi..”

“Oh..kalau begitu anda ikut denganku, biar aku tunjukan”

Seulki berjalan di belakang seorang pegawai yang menunjukan arah menuju restoran.

“Ah eotteokahji? Bagaimana ini? uangku hanya 15000 won, aissh..” perkataannya terdengar oleh pegawai yang berjalan di depannya.

“Ne?” dia bertanya ramah. Seulki langsung menggeleng.

“Animida, tidak ada apa-apa” kemudian kembali bergumam “Tajam sekali pendengarannya?” Pegawai itu untuk kedua kalinya mengatakan hal yang sama “Ne?”.

Seulki menjawabnya dengan senyuman kikuk. “Ah tidak, tidak ada..”

Sementara itu di dapur restoran Sungmin tetap memusatkan pandangannya pada seorang koki yang sedang membuat mie. Dia kembali mengulang masa lalu saat sang kakek memberi wasiat padanya untuk kembali membuka kedai milik keluarga Lee yang sudah lama ditutup. Namun di sisi lain orang tuanya melarang Lee Sungmin berhubungan dnegan apapun yang ada sangkut pautnya dengan mie. Sungmin tidak dibiarkan untuk mengetahui alasannya. Mereka hanya memberi dua pilihan, jika Sungmin ingin mewujudkan impiannya menjadi seorang koki maka mereka tidak mengijinkan Sungmin bertemu dengan mie namun jika Sungmin memilih untuk membuat mie maka mereka tidak akan membantu Sungmin untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang koki.

Sungmin mengalihkan perhatiannya pada Ryeowook yang sedang membumbui sebuah kepiting“Aissh.. kau terlalu banyak menumpahkan merica pada kepitingnya, jangan sampai kau merusak aroma kepiting dnegan aroma merica ini” komentar Sungmin pada Ryeowook yang sedang menyiapkan menu.

“Ya hyung kau itu daritadi hanya mengomentari masakanku, lalu apa yang kau lakukan hah?”

“Aku mengamatimu..”

“Tapi tempatmu bukanlah disini!!” Protes Ryeowook kesal. Sungmin menatapnya sejenak dan berbalik, saat melangkah ia berujar “Ya kau benar.. aku akan keluar sekarang” Sungmin pun keluar meninggalkan dapur hotel.

“Ah bukan seperti itu maksudku hyung.. ya ya!! Hyung-ah!!” Ryeowook menggaruk keningnya bingung “Aissh aku salah bicara lagi!”

Sungmin berpapasan dengan seorang pelayan resmi hotel ini “Sungmin-ssi, tolong kau layani orang itu aku tidak mengerti apa keinginannya, gadis aneh” Pinta salah seorang pelayang yang membawa kembali nampan yang berisi beberapa menu.

“Ah algesimnida..” jawab Sungmin berusaha ramah.

Seulki sedang memainkan piring di atas meja. Dia bingung harus memesan apa, setiap kali pelayan membawakannya makanan dia menanyakan harganya terlebih dahulu dan setelah mendengar bahwa semua harga di atas standar Seulki kembali mengurungkan niatnya, dia menolak semua makanan yang sudah dibuat dengan berbagai macam alasan.

“Permisi nona apa ada yang bisa saya bantu?”

Seulki menoleh dan sesaat terpukau mendapati sosok Sungmin yang berdiri di hadapannya.

“Apa dia seorang pangeran? Kenapa tampan sekali aigoo.. aku tidak bermimpi kan?” Seulki memperlihatkan tampang bodohnya. Tanpa menghiraukan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Lee Sungmin.

“Maaf nona jika anda hanya ingin membuang waktu kami, maka lebih baik anda segera pergi dari sini sebelum kami mengusir anda secara paksa..” Sungmin tersenyum penuh tekanan. Seulki akhirnya tersadar penuh.

“Aku berada disini karena ada sesuatu yang akan kubeli”

“Tapi apa yang anda inginkan? Bukankah kami sudah membawakan pesanan anda? lalu kenapa anda menolaknya?”

“Semuanya standar, aku ingin makanan yang berkelas bukan makanan berbau kedai..” Jawabnya asal, sebenarnya bukan itu yang ada dalam benak Seulki. “Mati Aku!!!” Gumamnya dalam hati.

“Oh keuraesimnida, aku akan membawakan semuaa makanan berkelas ke hadapanmu..”

Seulki menggoyangkan tangannya saat Sungmin berbalik. Memberi sinyal bahwa semua yang dikatakannya itu salah tapi percuma karena Sungmin terus berjalan tanpa menghiraukannya. Dia lalu memukul kepalanya sendiri berkali-kali.

Semua makanan menggiurkan menghias meja makan Seulki, dia menjadi kebingungan. Yang ia pikirkan bukanlah bagaimana cara memakannya melainkan bagaimana untuk membayar semua ini.

“Aku akan berakhir disini..” ujarnya dengan nada penuh penyesalan.

Seulki mengangkat sumpitnya tinggi-tinggi, ia mulai memakannya dengan sangat terpaksa, sementara Sungmin tetap berdiri di sisi kanan Seul Ki terus memperhatikannya. Sesekali Seulki menoleh ke arah Sungmin menunjukan tampang ingin dikasihani tapi Sungmin hanya tersenyum seolah mengatakan ‘makan semuanya atau aku akan membunuhmu’

“Arrggghh.. aku kenyang, apa kau mau membunuhku dengan semua makanan ini?”

“Kau yang memintanya kan? Aku hanya bersikap sewajarnya terhadap pelanggan karena mereka adalah raja”

“Ah aku sudah selesai.. aku hanya memakan roullete, cheese cake dan segelas air putih, chicken coaster, dan seporsi nasi aku rasa semuanya tidak lebih dari 15 ribu won..”

“Kau bilang 15 ribu won? Apa kau hidup di jaman purba nona? Harga 1 buah cheese cake 20000 won, chicken coaster 43000 won, nasi 15000 won dan kami hanya memberikan air putih itu sebagai bonus.. total biaya yang harus kau bayar adalah 150000 won untuk semua makanan tidak terkecuali yang tidak kau makan..”

“MWOYA? Harga macam apa itu? ani ani..”

“Kau ingin makanan yang berkelas kan? Apa ada makanan berkelas dengan harga murah?”

Seseorang kemudian datang untuk mengetahui apa yang sedang mereka perdebatkan.

“Sajangnim dia mau mencoba lari dari tanggung jawab” Sungmin mengadu pada Kang Minhyuk seorang namja muda yang menjadi pemimpin dari restoran ini. dia adalah direktur utama Grand Hotel Daegu.

“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Kang Min Hyuk tidak mengerti.

“kau tanyakan saja padanya?” jawab Sungmin.

“Apa maksudnya?” Min Hyuk bertanya pada Seulki.

“Apa yang harus aku lakukan? 150.000 won? Itu sepuluh kali lipat dari uang yang kumiliki saat ini..” Seulki bergumam dalam hati. dia mulai kebingungan untuk mencari solusi.

“Aku..aku..” Seulki tergolek begitu saja di atas lantai. Semuanya panik termasuk Kang Minhyuk, tapi Sungmin hanya menyunggingkan bibirnya.

“Pintar sekali dia, apa dia pikir aku bisa ditipu olehnya?”

Kang Minhyuk sibuk menyuruh orang orang untuk membawa Seulki. Dia berpikir citra hotel akan rusak jika mengetahui ada seorang yeoja yang jatuh pingsan karena perdebatan soal makanan, mungkin mereka berpikir ini salah satu dari kekerasan.

“Lee Sungmin cepat kau angkat dia!” perintahnya tiba-tiba, Sungmin tersentak  dan melirik ke arah Seulki yang sedang tersenyum simpul. Seulki membuka sedikit matanya untuk melihat apa yang sedang terjadi.

“Jadi namanya Lee Sungmin?” Batinnya.

Setelah tiba di sebuah tempat dimana hanya ada Seul Ki dan Sungmin, Sungmin menjatuhkan Seulki begitu saja.

Bukk..

“YA!!!” Pekik Seulki.

“Bisa-bisanya berpura-pura pingsan untuk makan gratis? Gadis tidak tahu diri”

“MWO?? Kau bilang apa??” Seulki bangun sambil menggosok bokongnya yang tertandat lantai.”Aissh sakit sekali..” rintihnya.

“Aku mau ke toilet, kau jangan ikuti aku..” Pinta Seulki tapi Sungmin dengan sigap menahan tangan Seulki.

“Kau mau berusaha kabur?”

“Hyuung!!!” Ryeowook melambaikan tangannya dari kejauhan. Dia menghampiri Sungmin.

“Ayahmu mendapat musibah, ahjumma menyuruhku untuk menyampaikannya padamu tadi dia menghubungi ponsel milikmu yang kau tinggalkan di meja dapur, ahjumma bilang ahjussi jatuh dari tangga..” Tanpa pikir panjang Sungmin mengambil langkahnya untuk segera pergi. Seulki hanya memerhatikan sosoknya hingga tidak terlihat. Ryeowook menoleh ke arah Seulki yang sedang berdiri dia lalu membungkuk ramah.

“Annyeonghaseyo.. aku koki di tempat ini” Seulki balas membungkuk. “Annyeonghaseyo”

Ryeowook menepuk jidatnya “Aigoo teman macam apa aku ini, aku akan pergi menyusulnya.. annyeong”

Seul Ki tersenyum bahagia. “Jeosonghamnida Lee Sungmin-ssi, semoga ayahmu lekas sembuh” Teriaknya dengan lambaian tangan yang dibuat-buat.

Hospital

Dirumah sakit Sungmin bertanya pada perawat tentang keadaan ayahnya. Ryeowook mengikuti Sungmin dari belakang.

“Suster bagaimana keadaan ayahku apa ada luka serius?” Sungmin langsung bertanya tanpa mengenalkan identitasnya terlebih dahulu.

“Maaf tapi ayah anda itu siapa?”

“Gong Jang, Lee Gong Jang..” sela Ryeowook dari balik bahu Sungmin. Saat sungmin menoleh Ryeowook langsung mengalihkan perhatiannya ke lain tempat.

“Tuan Lee pasien yang dilarikan sore tadi.. dia ada di kamar 1120” Sungmin langsung berlari ketika mendapatkan informasinya. Ryeowook membungkuk mengucap terimakasih.

“Abeoji..” Myung Ji dan Gyeong Ja melihat ke arah sumber suara.

“Ah Sungmin-a.. apa yang kau lakukan?” tanya sang ayah.

“Kau kecelakaan dan bertanya seperti itu pada anaknya? Ya abeoji aku sudah peringatkan pdamu berulang kali untuk menghentikan pekerjaanmu, biarkan aku saja yang mencari penghasilan dari kerja paruh waktuku tapi kau tetap keras kepala hingga akhirnya mendapatkan luka seperti ini” Protes Sungmin panjang lebar, Ryeowook berusaha menghentikannya sambil tersenyum pada pasien lain yang berada di ruang yang sama. Kelas 3, memang tidak memiliki banyak privasi.

“Sungmin-a aku tidak apa-apa, dokter juga sudah memperbolehkanku pulang, hanya luka kecil di lengan, besok pasti membaik”

“Lengan diperban seperti itu abeoji masih berkata tidak apa-apa? Lalu jika semua tulangmu remuk baru kau akan mengatakan itu bermasalah?”

Ryeowook terus memperingatkan Sungmin dnegan menarik-narik lengannya tapi sungmin tetap mengeluarkan suaranya yang membuat pasien lain merasa terganggu.

“Hyung-ah sudahlah ahjussi sedang sakit kau malah memarahinya” pinta Ryeowook.

di perjalanan pulang ke rumah ponsel Sungmin terus bergetar. dia saat ini berada dalam bis yang siap mengantar mereka ke Rumahnya. semntara itu Ryeowook kembali ke Hotel untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal sekaligus memberi penjelasan pada CEO hotel tentang alasan kenapa Lee Sungmin dan dirinya pergi begitu saja tanpa pamit.

“Sungmin-ah kenapa tidak kau angkat teleponnya?” Sungmin menatap sosok ibu yang berdiri di kursi di depannya.

“Ne..” ucapnya malas. dia merogoh saku celana pelayan yang masih ia kenakan, saat menuju rumah sakit Sungmin hanya menutupi atasan seragamnya dengan jaket karena dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan bagi orang tuanya.

“Yoboseyo?”

“HYUUNG!!!!! GAWAT!!!!” Sungmin menjauhkan ponsel saat mendengar suara nyaring yang begitu  mengusik telinganya.

“YA!! kau mau membuatku tuli huh?”

“Tidak Hyung, ini lebih darurat dari telingamu.. Sajangnim, dia mengamuk karena seorang yeoja tidak membayar makanannya sebanyak 150.000 won, dia bilang ini semua gara-gara kau Hyung! dia juga menegaskan padaku untuk segera membawamu kesini tapi aku katakan padanya kalau kau sedang ada masalah jadi dia meminta pertanggung jawabannya besok, Hyung ottokhae? aku tau ini semua karna kesalahanku.. mianhae..” Ryeowook terdengar sangat menyesali perbuatannya. pikiran Sungmin kembali mengulang kejadian di Hotel tadi sebelum dia melesat pergi ke rumah sakit. dia ingat yeoja bermasalah itu, dia ingat bahwa dia sudah melakukan kesalahan karena membiarkan yeoja itu begitu saja.

“Aissh.. lagi-lagi kau Kim Ryeowook, jika kau tidak ikut bersamaku kerumah sakit dia pasti tidak akan kabur!!”

“Aku akan membantumu mencarinya Hyung”

“YA KAU PIKIR DAEGU ITU SEKECIL APA HAH?”

Myung Ji dan Geong Ja tersentak mendengar hentakan suara Sungmin.

“Sungmin-ah..” Geong Ja memperingatkan.

“Jeosonghamnida abeoji..”

***

Seulki terus berjalan menyeret kopernya. Dia tidak tahu kemana dirinya harus pergi hingga akhirnya Seulki memutuskan untuk berhenti di depan mesin minuman. Dia merogoh saku celana jeansnya dan menemukan 2 buah koin yang terselip di dalam.

“Fyuh..” Seulki memandangnya tidak rela. Dia memasukan koin itu ke dalam mesin minuman yang berada ti bahu jalan tanpa harus menunggu lama sekaleng minuman pun keluar, sebelum menenggaknya Seulki mengocok minuman itu terlebih dahulu.

“Apa yang akan aku lakukan? Disini sepi sekali.. aissh jika aku terus berada di luar seperti ini maka tubuhku akan membeku..” Seulki melirik ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapapun.

Seul Ki terus berjalan dengan kopernya yang terus ia seret. Saat tiba di sebuah kawasan perumahan matanya langsung tertuju pada rumah dengan warna dominan coklat yang memasang iklan tentang penyewaan kamar.

“Menyewa kamar?” Seulki menyeret kopernya untuk segera menuju tempat itu, setibanya di depan sebuah kediaman kecil Seul Ki langsung mengetuk pintu.

“Permisi.. apa ada orang di dalam”

Tok tok tok

“Aku ingin menyewa kamar disini, apa masih ada yang kosong?”

Tok Tok Tok

“Bisakah kalian membuka pintu untukku di luar sangat dingin, aku hampir membeku karena kedinginan?”

Ckrekk..

Pintu dibuka, seorang anak perempuan membukakan pintunya untuk Seulki. Seulki menoleh ke kiri dan ke kanan.

“Siapa yang membuka pintunya?” Gumam Seulki heran. Dia tidak melihat anak perempuan yang berdiri di depannya.

“Aku disini” jawab anak itu. Seulki menunduk dan melihat keberadaannya.

“Ah Mianhamnida, aku pikir hantu yang membukakan pintunya..”Seulki berjongkok untuk menyamakan tingginya dnegan anak tersebut.

“Mana orang tuamu?”

“Mereka sedang dirumah sakit, appa mendapat musibah siang tadi”

“Ah.. jadi kau sendirian di rumah? Aigoo..”

“Ne, eonni apa kau mau menemaniku?”

“Nanti kau dimarahi orang tuamu karena memasukan orang asing”

Seulki mengacak rambut anak itu gemas.

“Kau bilang tadi akan menyewa tempat, kalau begitu akan aku tunjukan tempatnya..”

Anak itu menarik lengan Seulki, terpaksa diapun mengikuti arahan anak tersebut. Mereka berdua masuk ke sebuah rumah sederhana berlantaikan kayu jepang. Rumah tradisional yang memiliki nilai seni tersendiri.

“siapa namamu?” tanya Seulki. Anak tadi melangkah menuju dapur untuk mengambilkannya secangkir teh hangat. Hye Bin kembali ke meja dimana tempat Seul Ki berada.

“Aku Lee Hye Bin..umurku 6 tahun, bagaimana denganmu?”

“Aku Seulki, Han Seulki.. aku juga memiliki adik seumur kau namanya Seul Jang, tapi dia kalah manis darimu..”

“Eonni kau pasti kedinginan” Hye Bin menyodorkan secangkir teh hangat. Seulki tersenyum haru melihatnya.

“Andai Seul Jang sepertimu..” Seul Ki mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian teh hangat dari Hye Bin.

“Memangnya dia seperti apa?” tanya Hye Bin.

“Dia itu..”

“Aigoo.. cepat kau buka pintunya, dingin sekali..” Ucapan Seul Ki terpotong oleh suara seseorang di luar sana. Hye Bin bangkit dari duduknya “Eonni itu pasti mereka” ujar Hye bin sumringah “Kau tunggu disini, aku akan bukakan pintu” Hye Bin berjalan menuju pintu depan.

Seulki yang menunggu di dalam hanya bisa mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru tempat ini, dengan tangan yang terus memeluk koper berwarna biru miliknya.

“Rumah nyaman sekali.. “ gumamnya sesekali dia menggosok hidungnya hingga memerah. Suara derap langkah kaki terdengar sangat jelas. Beberapa orang masuk ke dalam tempat Seul Ki berada saat ini.

“Eomma dia yang akan menyewa kamar di rumah kita” Seulki langsung memalingkan pandangannya dan berdiri untuk kemudian membungkuk memberi hormat.

“Annyeonghasimnika.. Han Seulki imnida” Dia kembali mengangkat kepalanya, matanya membulat sempurna ketika menangkap sosok pria yang pernah ia lihat sebelumnya.

“NEO??” Sungmin menatap tajam ke arah Seulki.

***

Fyuhh..

bagaimanakah? aneh? ancur? berantakan? ngebosenin? geje?

silahkan saja di kritik asalakan kritikan yang membangun (sambil nangis sesegukan).

ini adalah part 1 dari cooking cooking, di ff ini author janji gabakal mandek kayak yongwonhii (lebih baik diupus aja postingannya) karena sekarang SAYA PUNYA MODEM BARU SEHINGGA SAYA BISA BEBAS PUBLISH DAN BALESIN KOMENTAR KAPAN SAJA

(Sungmin : Norak amat sih kamu!)

kalian kan tau sendiri yang sering balesin komentar di sujuyongwonhie itu admin selly, aku jarang banget bahkan mungkin gapernah. haha mian yah..

pokonya saya seneng bukan kepalang, karena rumah yang sangat jauh dari perkotaan jadilah harus bersusah payah mendaki gunung, lewatin jalanan terjal, kuburan sama sumur angker.. (Lebay) eh tapi beneran, itulah yang aku alami hanya untuk publish ff, tapi itu semua demi readers *Popo

(Niatnya mau ditambahin gambar-gambar tapi karena LEPI saya bermasalah jadilah begini, tapi kalo udah baikan beneran mau ditambahin biar agak banyakan.. punya modem LEPInya eror.. ahh Suee!! huweee)

baiklah silahkan dicomment, bagia yang bersedia berminat untuk menorehkan kata-kata demi kemajuan dunia per ffan, silakan saja komentari sepuasnya, aku malah seneng..

babay babay..

Advertisements

22 comments on “Cooking Cooking (Part 1)

  1. Onnie,,
    Critanya menarik nih…
    Q Penasaran ma nasibnya Sungmin.. Tp karakterny Umin kok rada” gimanaaaa gitu..
    Kirain dia tuh bakal jdi cwo yg penuh semangat (kayak Kim Tak Goo),, ehh ternyata ga punya sopan santun…
    Ryeowook neomu kyeopta.. Aq suka Ryeowook di FF ini.. Lucu >.<

    lanjutannya ditunggu….

  2. Sumpah lucu abis! xD disini umin wataknya agak nyebelin *tendang umin* u,u wookie kasian dimarahin mulu 😦 *popo*
    Ah.. Eonni.. Kyknya kok alurnya rada kecepetannya O.o kesannya jd buru2.. Tapi scr keseluruhan udh oke kok ^^b daebak!

    • haha jangan ditendang atuh, sini mending buat aku..
      tapi ada saatnya wookie oppa yang dimarahin umin (kapan?) entahlah,
      woah kecepetan ya?
      jadi kemaren pas mau publish sambil ngedit lepinya bermasalah, jadilah begini, liat bahasanya aja ancur banget..
      nanti di cerita selanjutnya gabakal diburu-buru kok..

  3. Like a drama.,

    serlin?annyeong,,zia imnida.
    Bgus ko,,tp blum dpet dingin ny sungmin.
    But,hwaiting!
    Waiting next chap~

  4. bagus2..lanjutin..
    aku suka karakter ryeowook kya d attack on the pin up boys yg ngikutin siwon tp dsni jd pengikut umin…

  5. Gyaaaaa imej aegyo dan imut umin masih tertanam jelas d otak unn..
    Agak susah emang ngebayangin umin yg jutek plus judes
    u,u

    tapi ide cerita mu bagus saeeeeng..
    Cihuyyy
    🙂

    eh tapi inget yaa kamu nanti harus tanggung jawab kalo nanti unn jadi demen ama bang umin!
    Wokkiey!
    Eh ngemeng” wokkie disini peran ny dodol yaa?
    Unyu unyu gimanaaaa gitu..
    Huehehehe

    hokedeh saya cabut dulu ke part berikut ny..
    Caaaau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s