Mochi, I’m With You! (Part 2)

Author: Yanthy a.k.a Shin Hye Wook

 

Henry’s POV
Tepuk tangan menggema di Bellgorich Hall saat ku tutup penampilanku dengan permainan violin yang menurutku cukup memuaskan karena aku sedang tidak mood bermain violin hari ini. Malam yang panjang. Malam inilah penganugerahan pemenang kompetisi violin seluruh Eropa, ya Toronto mendapatkan kesempatan berharga untuk menyelenggarakan event semegah ini, ayah sudah memberitahuku, aku menjadi juara pertama setelah mendapat telepon dari penyelenggara dan mengharapkanku untuk menunjukkan kebolehan pada malam penganugerahan pemenang kompetisi tersebut. Awalnya aku menolak, karena pada malam yang sama aku sudah berjanji kepada kedua sahabatku Sam dan Michael untuk mengadakan perpisahan sebelum upacara kelulusan kami sabtu depan.


FLASHBACK
“Ayolah ayah, toh aku sudah memenangkannya untuk kalian, kalian saja yang mengambil hadiah itu dan menyampaikan permohonan maafku yang tidak bisa hadir,” aku merengek pada ayahku yang duduk di ruang keluarga.


“Henry, bersikaplah profesional, kau salah satu violinist internasional, jangan membuat ayah malu di hadapan semua wartawan yang datang!”


“Tapi yah, aku sudah berjanji kepad-,”


“Michael dan Sam maksudmu?”


“Ya,” jawabku tertunduk.


“Nanti ayah undang mereka ke acara penganugerahanmu itu, kalian bertemulah di sana, usai-kau-tampil dan menerima-hadiah,” ucap ayah dengan penuh penekanan.


‘Ya sudahlah, aku tidak dapat membantah lagi ketika ayah sudah berkata seperti itu.’

FLASHBACK END

Ayah dan ibu menatapku dengan bangga ketika piala kristal berbentuk violin itu beralih ke tanganku. Ketua penyelenggara tiada hentinya menepuk-nepuk pundakku dengan bangga.

Jepret! Jepret!
Blitz kamera dari wartawan tidak henti-hentinya mengarah kepadaku.
“Pasti akan jadi headline terhangat,” aku bergumam pelan.
Aku sungguh benci karena bakat yang aku miliki membuat aku menjadi robot seperti ini, hidup dengan penuh jadwal dan aturan dari orang tuaku, terutama ayah yang dari dulu memang ingin aku go internasional.
Kehidupan remajaku perlahan-lahan akan berlalu begitu saja, tanpa ada kenangan yang berarti, siapapun pasti akan muak jika merasakan berada di posisi sepertiku.
Dari kejauhan aku melihat Sam dan Michael tersenyum padaku. ya hanya merekalah sahabatku selama ini yang sangat mengerti bagaimana perasaanku. Kelulusan sudah di ambang mata, Sam akan berkuliah di jerman, mengikuti ibunya yang baru menikah lagi dengan pengusaha sukses di sana, aku yakin nantinya dia akan menjadi pianis yang handal dan Michael akan ke belanda, beasiswa yang di tawarkan salah satu universitas musik di sana sangat menggiurkan untuk di lewatkan Michael tentu saja. Aku? Ya aku akan ke Juilliard, siapa yang tidak tahu tempat itu? Sekolah musik terkenal di dunia, memenangkan kompetisi violin ini membuatku mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan musikku di sana, alangkah beruntungnya diriku.

****
“Congratulation Henry!” Sam dan Michael merangkulku ketika aku berjalan menghampiri mereka.
“Thanks,” Aku tersenyum lebar.

Hanya mereka berdualah yang bisa membuatku tersenyum seperti ini.
“Lalu apa yang kita lakukan setelah ini?”
“Nothing,”
Aku menautkan kedua alisku.

“Hahahaha tentu saja pesta Prince Henry yang sempurna!” Mereka terkekeh melihat ekspresiku.
Begitulah julukan mereka kepadaku “Prince Henry” , it’s not bad right? Kehidupanku memang seperti pangeran-pangeran yang dikekang dalam peraturan kolot kerajaan.

Pletak! Pletak!
2 jitakan kecil kurasa cukup di kepala mereka berdua.

“Aww!”

“Aishh kau galak sekali Henry,”

“Hahahaha rasakan. Sudahlah, ayo kita berpesta dirumahku,” aku menarik tangan mereka berdua, membuat kue yang sedang di lahap Sam hampir jatuh dari tangannya.

“Henry!” rutuknya.

Lau’s House, Henry’s Room
“Yak! Yak! Bodoh, ayo, kick, ayo, yahhh sedikit lagi,” aku berteriak kencang.
                YOU LOST
Kalimat pendek  berwarna merah itu terpampang di layar tv kamarku, Sam dan Michael kontan tergelak melihat wajahku yang kecewa.

“Sepertinya kau harus berguru kepadaku Henry, agar bisa mengalahkan Sam,” ucap Michael sambil terkekeh.

“Cih,”

“Hahahaha Prince Henry, you lost!” Sam mengacak-acak rambutku.

Aku tersenyum masam, “Ayo sekali lagi, pasti aku yang menang!”

“Tidak tidak, ini sudah cukup. Ini merupakan kekalahanmu yang ke 10 kalinya Henry,” Sam medorong dahiku pelan dengan telunjuknya.

“Kau sungguh menyebalkan,”

Inilah yang mereka maksud dengan pesta tadi, ya! Pesta game di kamarku. Ini kegiatan rutin kami ketika berkumpul di kamarku, entah sejak kapan kamarku sudah di anggap basecamp untuk kami bertiga.

“Nah, jadi kapan kau berangkat Sam?” Tanyaku setelah menyodorkan cemilan dan minum kepada mereka berdua.

“Aku? Lusa setelah kelulusan,” gumamnya dengan mulut penuh makanan.

“Bagaimana adik mu, ikut pindah ke jerman??” Tanya Michael antusias.

“Dasar playboy, ya tentu saja ikut,” ucap Sam dengan mata melotot.

Aku hanya terkekeh melihat mereka berdua. Sudah menjadi rahasia umun, Michael tergila-gila kepada adiknya Sam, Helen yang 2 tahun lebih muda dari kami tapi Sam tidak pernah mau merelakan adiknya menjadi pacar seorang Michael, kapten basket dan playboy nomor satu di sekolah.

Pikiran ku barusan mengingatkan ku pada kejadian beberapa hari yang lalu, gadis aneh itu …

“Kalian kenal Shin Hye Wook ??”

Sam ternganga, Michael menyemburkan minuman yang sudah nyaris dia teguk.

“Apa kau sudah gila?”

Jawab yang bukan aku harapkan keluar dari mulut Sam.

“Crazy?? Aisshhh tentu saja tidak, memangnya siapa dia?” Aku sungguh heran melihat ekspresi mereka berdua.

“Kulit putih bersih, rambut ikal panjang tergerai, mata cokelat menawan, tinggi semampai,” Kata-kata Michael barusan menyadarkan aku dan membuatku menganga lebar.

(author mau muntah saat menulis ini, mana ada gadis sesempurna itu)

“Shin Hye Wook, primadona jurusan ekskak, murid tercantik dan terpintar di jurusannya, tes IQ nya tertinggi di sekolah kita, siapa yang tidak mengenalnya adalah lelaki kuper masa kini,”

Aku hanya bisa melongo apa yang di ucapkan mereka.

“Kau belum paham?” Michael melirik ku tajam.

“Siapa dia?” Hanya kalimat pendek itu yang bisa keluar dari mulutku.

Pletak!

“Aissshhh, Helloww Prince Henry, ternyata kau lah pria kuper di sekolah kita, wajah tampanmu itu hanya kau sodorkan kepada violin bodohmu saja,” Sam menepuk jidatnya di iringi tawa keras dari Michael.

“Berarti pianomu pun lebih bodoh dari violin ku yang sudah juara internasional,” Aku menggerutu kecil sambil mengusap-usap jidatku yang memerah.

Aku mencoba menguasai diriku, jadi perempuan itu dari jurusan ekskak, ku akui memeng wajahnya sungguh cantik, persis yang di katakan Michael dan Sam.

“Kenapa kau menanyakan woochy pada kami?”

“Kau menyukainya Prince Henry?”

“Woochy??” Aku kembali memasang wajah kebingungan.

“Dasar otak udang, woochy itu panggilannya. Walaupun sebenarnya nama baratnya Michie Robert, entah mengapa di sekolah nama koreanya lebih terkenal,” Michael menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak pernah gatal.

“Dasar kau playboy! Semua info perempuan cantik, kau pasti mengetahuinya,” aku tertawa melihat ekspresi Michael.

“That’s Alright,” ucap Sam Sambil ikut terkekeh.

“Jadi dia keturunan korea?”

“Yan ibunya korea-belanda dan ayahnya orang korea yang menjadi diplomat sukses di sini,”

“Kenapa aku tidak pernah mendengar dan mengenalnya?”

“Itu karena kau hanya mengenal dan berkencan dengan violin kesayanganmu itu!”

Kata-kata Sam barusan membuat aku tertawa, memang aku selama ini hanya di sibukkan sekolah dan berlatih violin sehingga aku tidak pernah mengurus dan peduli dengan hal lainnya, terutama perempuan tentu saja. Aku tersenyum kecil dan menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu kepada kedua sahabatku itu

“What?? Woochy mengenalkan dirinya sendiri padamu??”

“Kau sungguh lelaki sempurna Prince Henry,”

Ekspresi mereka berdua malam ini benar-benar membuatku tidak habis pikir, aku keheranan terus menerus di buat kedua sahabatku ini

Michael’s POV

“Berarti pianomu pun lebih bodoh dari violin ku yang sudah juara internasional,” Kata-kata Henry kepada Sam yang membuat ku tertawa tergelak-gelak.

“Kenapa kau menanyakan woochy pada kami?” aku penasaran.

“Kau menyukainya Prince Henry?” Sam menambahkan dengan wajah kebingungan sama sepertiku.

Ini memang terasa aneh sekali, seorang Henry yang biasanya hanya sibuk dengan violin kesayangannya dan tidak peduli dengan dunia luar selain dunia violinnya sendiri, bertanya hal lain, dan kali ini masalah, “GIRL” Aisshh akhir dunia sudah dekat sepertinya.

“Woochy??” Henry memasang wajah bloonnya kembali.

“Dasar otak udang, woochy itu panggilannya, walaupun sebenarnya nama baratnya Michie Robert, entah mengapa di sekolah nama koreanya lebih terkenal,” Jelasku Sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak pernah gatal, heran dengan kepolosan sahabatku yang satu ini.

“Dasar kau playboy! Semua info perempuan cantik, kau pasti mengetahuinya,” Henry menertawakan ekspresi ku barusan, Dasar! Dia dan Sam masih saja mencap ku sebagai playboy sekolah, padahal aku benar-benar sudah tobat dan ingin sekali menjadi pacar Helen, adiknya Sam, Yah walaupun aku tidak menolak berselingkuh dengan angelina jolie, hahaha.

“That’s Alright,” ucap Sam Sambil ikut terkekeh menertawakanku.

“Jadi dia keturunan korea?” tanya Henry gamblang.

“Ya, ibunya korea-belanda dan ayahnya orang korea yang menjadi diplomat sukses di sini,”

“Kenapa aku tidak pernah mendengar dan mengenalnya?”

“Itu karena kau hanya mengenal dan berkencan dengan violin kesayanganmu itu!”
Sam balik mengolok Henry, aku hanya terkekeh melihatnya.

Aku benar-benar menyayangi kedua sahabatku ini.

Henry tersenyum kecil, dan kemudian menghela nafas.

“Aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di ruangan berlatihku di sekolah,”

Aku dan Sam melongo.

“Saat aku frustasi tidak bisa menyelesaikan dan menguasai lagu yang ku lombakan dengan benar, tiba-tiba saja dia masuk dan memperkenalkan dirinya kepadaku, kemudian pergi begitu saja,” Lanjut Henry.

“What?? Woochy mengenalkan dirinya sendiri padamu??” Aku terbelalak melihatnya.

“Kau sungguh lelaki sempurna Prince Henry,”

Ya tentu saja aku dan Sam terkaget-kaget karena woochy, gadis cantik itu sangat dingin terhadap laki-laki, sungguh sulit untuk di dapat lelaki manapun, bagaimana tidak semua laki-laki yang menyetakan perasaan kepadanya, hanya dan selalu satu kata saja yang keluar dari mulutnya yaitu “forget me” dan woochy pun pergi begitu saja meninggalkan laki-laki yang memandangnya penuh harap. Entah apa yang istimewa dari Prince yang satu ini sehingga woochy mau mengenalkan dirinya, mungkin secara cuma-cuma hanya kepada Henry seorang.

Henry masih memasang tampang bloonnya, membuatku gemas dan ingin mencubit pipinya yang agak tembam itu.

“Aisshhhh Henry, apa kau tidak tau apa julukannya selama ini??” aku menatapnya nanar.

Henry menggeleng pelan.

“Princess ice,”

Belum sempat aku menjawabnya, Sam menjawabkan nya terlebih dahulu untukku. Untuk ke 3 kalinya Henry memasang tampang bloonnya.

“iiissshhhh  ….” Aku cubit pipi Henry yang menggemaskan itu, sudah cukup untuk kebloonannya untuk hari ini.

Pletak!

Henry menjitak kepala ku, pipinya berubah menjadi merah, terlihat gusar melirik ke arahku.

“Hahahaha sudahlah Henry, wajahmu itu memang pantas untuk di cubit, betapa menggemaskannya

di tambah dengan tampangmu yang bloon itu,” Sam terkekeh mencoba menahan tawanya.

“Kalian ???!”

BRUK!

Bantal-bantal kemudian berterbangan di kamar 5×6 meter ini, kontan aku dan Sam terkaget-kaget, perang bantalpun di mulai.

Jangan kalian kira kami laki-laki tidak bisa bercanda seperti ini, kami juga manusia, hahahaha.

(ga nyambung-thor)

Woochy’s POV

Brussel, Belgia

“Fyuhh,” aku meniup poni ku dan kemudian kembali menatap laptop kesayanganku.

Sungguh bosan tanpa kehadiran dan dapat memandangnya secara langsung. Aku membuka satu persatu foto-foto henry yang telah ku ambil diam-diam selama 5 tahun terakhir. Foto-foto ini pun tidak dapat mengobati kerinduan ku kepadanya yang berada jauh di sana.

Ahh sudahlah, lebih baik aku browsing perkembangan film Harry Potter 7 part 2 kesukaanku, aku tak kan melewatkan kesempatan untuk menonton premierenya lusa di Cilv Scene. Dengan lincah jemari ku membuka situs-situs yang selalu update berita tentang Harry Potter dan tak lupa membuka emailku untuk mengecek email masuk.

“Henry!” Pekikku kaget.

“PEMENANG KOMPETISI VIOLIN SELURUH EROPA: HENRY LAU”

Saat home emailku terbuka, foto dan headline berita tentang Henry terpampang dengan jelasnya di layar laptopku.

“Syukurlah, aku tau kau bisa memenangkannya …” bisik ku pelan dan tersenyum simpul lalu menyimpan page berita tentang Henry itu.

****

Henry’s POV

“Sudahlah, aku lelah, aku mau tidur,” Kata Sam dan kemudian merebahkan dirinya di kasurku.

“Aku juga,” Michael menguap dan menyusul Sam, kelelahan setelah perang bantal bersama.

Aku tertawa melihat mereka, ya mereka tentu saja menginap malam ini di rumahku, inilah pesta perpisahan kami sebelum terjun kedunia mahasiswa.

“Baiklah, selamat malam teman-teman,” aku mematikan lampu kamar dan ikut bergabung dengan mereka berdua yang sudah beradu musik hidung alias dengkuran yang cukup memekakkan telinga.

Aku menerawang sambil menatap ke arah langit-langit kamarku, dan berdehem.

“Princess ice? Prince Henry? Hmm sepertinya bisa menjadi pasangan yang cukup serasi,” aku terkekeh dan kemudian memejamkan mataku.

****

Woochy’s POV

“Pagi Mom, Dad,”

Aku benar-benar ceria hari ini, entah mengapa hanya berita kecil tentang Henry yang ku dapat di internet tadi malam mempunyai efek begitu hebatnya untuk ku, paling tidak kerinduan ku yang sudah 4 hari ini pindah ke brussel ini kepadanya sudah berkurang.

“Pagi sayang, what’s happen to you?” Ibu menatapku heran. Tangannya dengan lihai mengoleskan selai ke atas roti yang di pegangnya.

“Nothing mom, i’m happy because today is the first day, i’m back to school, isn’t it?”

“Sure dear, ayo sekarang makan,” ibu menyodorkan roti yang sudah di olesnya kepadaku.

“Woochy, semoga kau betah di sekolah mu yang baru, daddy sudah pilihkan sekolah terbaik di sini,” Ayah melipat korannya dan berbicara menatap ke arahku.

“Thank you dad, aku akan mencoba betah di sana, semoga semuanya berjalan dengan baik,”

“Woochy-dear, mommy dan daddy hari ini akan terbang ke ottawa, daddy ada acara serah jabatan untuk diplomat baru di Toronto, kau tidak keberatan kan kami tinggal untuk 2 hari?”

Perkataan ibu barusan menyadarkan ku, aku menelan kunyahan terakhir roti ku dan menatapnya dengan senyum lebar.

“Tentu saja mommy, aku kan sudah besar, bisa menjaga diriku sendiri!” Aku menatapnya ibu dan ayahku dengan yakin.

Aku memang anak tunggal mereka, ibu memiliki gangguan pada rahimnya karena itu beliau hanya mampu untuk melahirkan satu anak saja yaitu aku, itupun dengan perjuangan yang berat karena beresiko tinggi untuk ibu ku. Kalian tau namaku? Ya Shin Hye, yang bisa di singkat shiny atau shine bukan? Ketika kelahiranku mereka berharap agar aku selalu dan tetap berkilauan. Aku menatap mereka berdua dengan sayang. Aissshh apa yang aku pikirkan, entah mengapa ada sedikit perasaan tidak rela di hati ku untuk melepaskan mereka. Segera ku tepis pikiran buruk ku itu jauh-jauh, toh brussel-ottawa cuma berjarak 3 jam perjalanan.

“Daddy sudah meminta Jung uncle untuk bertahan di sini menemani mu, kau tidak usah khawatir sayang,”

“Dan kau, jangan sering membolos lagi sayang, sudah cukup di sekolah lama mu kau bertingkah seperti itu, walaupun mommy tau otak mu benar-benar jenius hanya untuk mengejar pelajaran yang tidak kau ikuti beberapa jam,”

Aku terkekeh pelan, ibu tidak tau apa yang aku kerjaan selama membolos pelajaran yang hanya beberapa jam itu, yah kalian tau sendiri, aku membolos hanya untuk mengintip dan mendengarkan permainan violin Henry, aku diam-diam menduplikat kunci ruang latihannya dengan sedikit bujukan kepada penjaga sekolah, aku mendapatkannya. Aku masuk ke ruangan beberapa menit sebelum Henry masuk ke ruang latihan dan menguncinya dari dalam, kemudian aku masuk ke lemari besar yang berada persis di samping pintu masuk dan berhadapan langsung dengan jendela yang biasanya Henry duduk menghadap jendela tersebut. Kekanakan memang tapi entah mengapa, kegiatan ini sungguh mengasikkan untukku.

Para guru kadang-kadang berusaha menguntitku, tapi aku selalu bisa lolos dengan mudah dan tentu saja, Henry tidak pernah tau keberadaanku di dalam lemari besar itu. Kadang-kadang aku mendengar suara Henry berbicara kepada violinnya, dia biasa menumpahkan seluruh perasaannya kepada violin kesayangannya itu. Dari situlah aku tau, Henry mencintai violinnya tapi sekaligus juga membencinya, dia sungguh tersiksa dengan tekanan dari orang-orang sekitarnya terutama ayahnya yang sedikit memaksakan kehendaknya kepada Henry.

“Calm down mom, aku tidak akan pernah bolos lagi,” aku mengedipkan mataku kepadanya.

Bagaimana mau bolos? Yang menjadi alasan ku saja tengah berada di Toronto, haha.

“Wocchy ini sudah jam berapa, pergilah ke sekolah, nanti kau terlambat!”

“Yes dad!” Aku meminum seluruh susu yang ada di gelasku, arrghh ini hari pertamaku sekolah di belgia, jangan sampai aku terlambat lagi seperti saat pertama masuk JHS dulu, aku tersenyum manis, hari itu lah aku pertama kali melihat malaikatku yang tampan.

Aku mencium pipi ayah dan ibu.

“Bye Dad, Mom, cepat kembali,”

Aku mengambil blazer di kursi ku dan kemudian bergegas keluar. Jung uncle sdh menunggu ku di mobil.

“Are you ready miss?”

“Sure!!”

Kehidupan ku di belgia telah di mulai.

****

Henry’s POV

A.Y. Jackson Secondary School (Toronto)
“Kau harus janji akan selalu menghubungi ku!” Aku mengacak rambut Sam dan Michael
Michael masih saja terisak dengan upacara kelulusan kami, dasar cengeng.

“Ak-ku hiks ppasti hiks aak-an merin-dukan hiks kkaa-li-an,”

“Kami juga!” Sam merangkulku dan Michael.

“Nanti, bisa ku pastikan, setelah sukses kita akan berjumpa lagi, jangan lupa bawa istri dan anak

yang cantik okay??” Gurauku pada mereka.

Sam dan Michael melongo mendengar perkataanku.

“Dasar tidak bisa di ajak bercanda!” Aku terkekeh melihat ekspresi mereka berdua.

“Aku serius, kau tunggu saja, aku pasti akan mengajak anak dan istri ku yang cantik menemui mu” Sam memandangku dengan serius.

“Aku juga,” Michael ikut-ikutan.

“Hahahaha aku tau, pasti Michael yang akan terlebih dahulu melepas masa lajangnya di antara kita bertiga,”

“That’s Alright,”

Michael memasang muka masam.

“It’s ok, but i’ll marry with ur young sister Sam,” Michael terkekeh.

Pletak!

“Jangan harap Michael!” Sam menjitak kepala Michael yang masih cengar-cengir.

“Sudahlah, ayo kita berfoto,” Aku menengahi mereka agar perang dunia ke 3 tidak terjadi, mereka mengangguk dan menghampiriku.

Aku sudah siap dengan kamera di tangan dan

Cheers!

Kami bertiga tersenyum bahagia.

****

Woochy’s POV

Ayah memang tidak pernah salah memilih, sekolah ku yang baru benar-benar bagus sekali. Dari luar gerbang saja sudah terlihat bangunannya yang luar biasa megah dan banyak pohon rindang di halaman, aku memang meyukai suasana dan display seperti ini. Setelah mobil yang di kemudikan Jung uncle masuk ke dalam halaman dapat aku lihat berbagai wajah siswa siswi yang menuntut ilmu di tempat ini, ternyata ini sekolah internasional, Jung uncle menceritakan ini adalah sekolah elite di brussel, semua anak pejabat dan kedubes bersekolah di sini, tidak heran aku sepertinya yah kalu tebakan ku benar, anak yang barusan kulihat adalah keturunan amerika dan afrika, wow ras yang kontras sekali bukan?

Jung uncle membuka kan pintu mobil untukku.

“Selamat belajar nona,”

“Thanks, where’s my class?”

“Di depan sana ada guru yang sudah menunggu nona, beliau yang akan mengantarkan nona ke kelas,”

“Yes, terima kasih banyak uncle,” aku menatapnya dengan senyum ceria.

“Kembali kasih nona, semoga hari mu menyenangkan,” ucapnya seraya membungkukkan badan kepadaku

DDRRT DRRTT

Ponselku bergetar, aku membuka ponsel ku, dari mommy.

From: Mommy

 

10 menit lagi kami boarding, bagaimana sekolahmu nak?

To: Mommy

 

Amazing! I really like it, please say thanks to daddy from me mom ^^

From: Mommy

 

Sure, have a nice day sweetheart.

 

To: Mommy

 

Yes mom.

Guru yang yang di maksudkan Jung uncle tersenyum ramah kepadaku.

“Miss. Michie, isn’t it?”

“Yes, i am. Michie Robert,”

“I am Mr. Thomas. Mari saya antar menuju ruang kelas anda,”

“Tentu saja,” aku membalas senyumannya “aku benar-benar berharap belgia akan mencoretkan kebahagiaan di hidupku …. ”

****

Henry’s POV

Semua barang ku sudah di kemas, akan segera langsung di paketkan ke juilliard, sekolah musik yang sudah menunggu ku untuk menempuh pendidikan di sana, aku tersenyum simpul akhirnya aku tidak akan di gerecoki ayah tentang schedule yang membuat ku pusing dan frustasi. Aku memang tidak jenius dalam pelajaran ekskak tapi aku mempunyai kelebihan yaitu sangat mudah dalam mempelajari sesuatu. selama ini aku, Sam, dan Michael diam-diam berlatih rap, piano, sing, and street dance! Dengan diam-diam menyusup ke dalam club-club yang ada di sekolahku, kami berlatih sendiri, Hahaha aku senang sekali melakukannya,  Sampai-Sampai di sekolah dulu aku mendapat julukan boogaloo popping. Aku tertawa sendiri mengingat kenangan-kenangan itu, aisshh belum apa-apa aku sudah merindukan kedua sahabat ku itu -___-

Nanti Jam 2 siang penerbangan ku ke new york, masih 3 jam lagi. Aku akan terpisah dari ayah, ibu dan haera adik ku, walaupun tahun depan haera juga akan segera kuliah, menjadi dokter adalah cita-citanya dari dulu. Aku tersenyum kecil, ya semoga saja cita-citanya dapat tercapai.

2,5 hours later

Aku sudah berada di bandara, ibu terisak melepas kepergianku. Aku memeluknya dan meyakinkan aku akan selalu menghubunginya. ayah tidak dapat mengantarkanku karena ada rapat penting dengan klien bisnisnya. Beliau 1 jam sebelumnya sudah memberiku banyak petuah lewat telepon Sampai telinga ku panas mendengarnya. Aku tersenyum menatap Haera dan memeluknya.

“Jaga mom and dad baik-baik, dan belajar lah yang rajin agar kau bisa jadi dokter seperti keinginanmu,” kataku

“Understand Mochi,” Haera mendekapku dengan erat.

Sungguh mengharukan perpisahan keluarga seperti ini, tapi toh aku pasti akan sangat merindukan mereka karena jadwal juilliard yang padat menyebabkan ku pasti jarang bisa pulang ke Toronto.

“Bye ..”

Aku berjalan membelakangi mereka yang terus menatap kepergianku.

“Aku pasti akan menjadi profesional violinist …”

****

Woochy’s POV

Sepanjang perjalanan menuju kelas banyak siswa siswi yang menatapku kagum, aku sudah terbiasa dengan pandangan seperti ini, wajahku yang blasteran tentu saja sangat terlihat tidak biasa di mata mereka dan aku bersyukur mendapatkan wajah cantik seperti ini. (narsis-mode on)

Ternyata  teman-teman di sini so friendly, aku merasa betah, aku harus menelpon ayah usai sekolah untuk menyampaikan ucapan terima kasih ku secara langsung.

Akhirnya sekolah usai juga, pelajaran yang ku ikuti tadi lumayan mudah untuk aku ikuti, dengan kepintaran seperti ini, everything is easy! Hahaha.

Jung uncle sudah menunggu ku di gerbang, aku bergegas menghampirinya dan tersenyum senang.

“Today is amazing uncle!”

Jung uncle terkekeh “baguslah, mari kita pulang nona,”

Di dalam mobil, aku mengeluarkan ponsel dan mencoba menelpon ayah.

“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi, tut tut tut ….”

 

Mungkin ayah sedang ada pertemuan penting sehingga ponsel nya di matikan dan aku juga tidak berani mencoba menelpon ibu karena beliau juga berSama ayah. Aku akan teleon lagi nanti malam sebelum tidur.

Sesampai di rumah, aku masuk ke kamar dan mengganti baju seragamku dengan baju rumahan.

“Ahh perut ku masih kenyang, lebih baik aku browsing harpot lagi sebelum menontonnya besok,” gumamku.

Aku menyalakan laptopku dan kemudian terhanyut kedalam buaian dunia maya.

****

“Kryuuukk …”

Perutku mulai protes, astaga sudah jam berapa ini?

Pukul 09.00 pm.

Pantas saja perut ku lapar, sudah 5 jam aku menjelajahi laptopku. Aisshhhh …. aku menyimpan semua data yang sudah ku download dan mematikan laptop. Setelah merenggangkan badan, aku berjalan menuju pintu kamar dan turun ke lantai dasar. Aku melihat Han Aunt, istri dari Jung uncle dan tidak lain bibi pengasuhku dari bayi tengah duduk di ruang keluarga dan merajut sesuatu di tangannya.

“Apa itu ahjumma?” aku menyapanya dalam bahasa korea.

Ya selain bahasa inggris, aku juga menguasai bahasa belanda dan korea, kakek nenek ku adalah orang korea dan belanda oleh karena itu  aku memang harus bisa berbahasa mereka untuk memudahkanku bercakap-cakap dengan mereka.

“Bukan apa-apa agashi, hanya taplak meja. Bibi merajutnya untuk mengisi waktu senggang,” kata beliau sambil tersenyum menatapku.

“Bagus sekali ahjumma! ayah pasti senang sekali apabila taplak ini di pasang di meja kerjanya, boleh kan ahjumma??” Mata ku berbinar-binar melihat taplak meja itu.

“Tentu saja agashi, tidak ada alasan saya menolak permintaan nona mungil saya ini,” Han Aunt memelukku dengan sayang dan aku memang menganggap beliaulah ibu kedua untukku ketika ayah dan ibu pergi dengan urusan mereka yang super padat.

“Kryuukkkk …”

Perut ku kembali protes, aah ini saat yang tidak tepat untuk kau bernyanyi perutku yang cantik!

“Nona lapar? Mari saya buatkan makanan,” tawar Han Aunt.

Aku hanya menyengir lebar menatapnya.

“Aku lapar ahjumma,” ucapku tersipu malu.

****

Setelah makan aku kembali ke kamar dan kembali mencoba menghubungi ayah ku.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi, tut tut tut ….”

 

Masih tidak aktif, ah lebih baik aku telepon ibu saja, jari-jari ku menekan nomor ponsel ibu dengan lihai dan kemudian menekan tombol calling ….

“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi, tut tut tut ….”

 

Juga tidak aktif, ahh aku mendesah pelan, mungkin kali ini ada rapat yang benar-benar penting sehingga keduanya masih belum bisa di hubungi, aku naik ke atas kasur dan mencoba untuk tidur, besok akan ku coba menelpon kembali.

****

 

Pukul 06.00 AM

 

Aku sudah siap dengan seragam sekolahku dan bergegas turun untuk sarapan. Ya masih 1 jam lagi sebelum bel masuk berbunyi.

“Aigoo! Harabeoji! Halmeoni!” Pekik ku ketika melihat kakek dan nenekku tengah duduk di ruang makan.

Kakek dan Nenek ku dari ayah lah yang datang dari korea, sedangkan kakek dan nenek dari ibu sudah lama meninggal akibat kanker dan serangan jantung.

Shin Halmeoni tersenyum kepada ku tapi Harabeoji malah sebaliknya mentapku dengan raut sedih, beliau menghela nafas dan

“Kau akan ikut kami pindah ke korea,” ucapnya.

“MWOYA????”

“Ya cucu ku, pesawat keberangkatan orang tua mu kemarin ke ottwa mengalami kecelakaan,”

Nafas ku benar-benar terasa terhenti,  tubuhku mematung tidak bisa bergerak dan kemudian semuanya menjadi gelap gulita.

Daddy ….

Mommy ….

Why

Why

Why!

TBC

Bagaimana ff kali ini???

 

Udah cukup puas kah??

 

Cukup panjang kah untuk di baca????

 

FEEL nya dapet nggak????? (point terpenting)

 

Ini buat bayar utang ff pendek kemarin. Gomaweo udah suka ff aku dan setia menunggu kelanjutannya. Semoga reader ga pernah bosan J

 

Aku menunggu dan selalu dengan tangan terbuka menantikan kritik dan saran dari kalian semua, walaupun pujiannya juga ga nolak sih 😀

                                                                                                                                                         

Aku berusaha bikin cast terbaik henry di sini, udah aku coba nyesuain sama kehidupan nyata nya, dari nama sekolah, bakatnya tapi mian, family nya aku rubah di sini, henry jadi ga punya kakak cwo, hahahahahahahaha

 

Kamsahamnida ^^

Advertisements

16 comments on “Mochi, I’m With You! (Part 2)

  1. waaaaaaah…..
    First comment……
    Mochi woochy…….
    Seru bgt, tp kok blm ketemu sich……
    Part slnjt.a jgn lama2 yah….

  2. halo halo
    lambai lambai tangan d udara
    kasian ya woochy
    mnurutku kehidupanya bisa dikatakan sempurna
    tp dikasi cobaan kehilangan kedua orgtua sekaligus
    T.T

    • WKWKWKWKWK

      ini koment sarat dengan paksaan 😀

      udah ah, ntar aku tunggu koment km di changeover! 2 aja ya, kalo sempat nyelesai’n malam ni, langsung aku publish deh, aku mau buka puasa dulu 😀

      • wkakakkaa
        abis kmu maksa sih mentang2 jarang2 tunangan onew komen LOL
        haha okaai ntar changeover aku komen jg dh

      • Aishh ni anak narsisnya udah tingkat dewa kali ya. emang onew mau sama km chingu?? wkkwwkwk *kena tabok, langsung babak belur*

        ya ya ya dan aku entah kenapa tiba-tiba kehilangan feel buat nulis n ga bisa lanjutin changeover.. mian, mungkin besok 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s