(Share FF) Mochi I’m With You (Part 6)

Author : Shin Hye Wook

(Klik nama author untuk melihat profil lengkapnya)

“Sudahku bilang kepribadiannya sudah jauh banyak berubah, aku tidak bilang ini tugas yang mudah untukmu,”

Yeoja yang berdiri di depan meja laki-laki itu bergindik dan kemudian menghela nafas berat.

“Saya kira dia dapat mengenali saya ketika bertemu pertama kali,”

“Tentu saja tidak. Kau tau, wajahmu sangat jauh berbeda dari terakhir kali kita bertemu 3 tahun yang lalu,”

Yeoja itu mengeluarkan smirknya tetapi tidak mengurangi rasa hormatnya kepada laki-laki yang berada di hadapannya itu.

“Kamsahamnida Ahjusshi … ”

****

Woochy’s POV

‘Eh?’

‘Jagi?’

‘Namja babo ini?’

Pletak!

“Siapa yang mau jadi yeojachingu mu baboya!”

Jinki meringis pelan dan kemudian mengeluarkan senyum evilnya.

“Salah kau juga yeoja-galak, kenapa kau tinggalkan tugas kita, aku harus bersusah payah sendiri menyelesaikannya!” Jinki tidak kalah gusar berkata kepadaku.

“Mwo? Kita??? Salah kau sendiri namja-babo sudah menghilangkan lembar ilmiah kita!” tukasku sengit.

Henry dan Haera terbengong-bengong melihat tingkah kami berdua.

‘Aarrghhh rusak sudah image baik ku di hadapan mereka, semua gara-gara namja-setan ini!’

“Tenanglah Woochy, mungkin dia tidak sengaja menghilangkannya,” bujuk Haera.

“Namamu Jinki kan? Mari Jinki, duduklah bergabung dengan kami,” ajak Haera seraya menolehkan wajahnya ke arah Jinki.

Haera tersenyum manis kepada namja-babo itu.

‘Cih, rusak sudah acara ku!’

Dengan merengut kesal aku kembali duduk di kursi dan Jinki menempatkan diri duduk di samping Henry.

“Mian sudah mengganggu acara kalian, Lee Jinki imnida,” katanya sopan kepada Henry dan Haera.

Aku masih saja memasang wajah kesal. Kemudian dengan tatapan bengisku, aku melirik ke arahnya.

Matanya bertemu dengan mataku.

“Urusan-kita-belum-selesai-babo,” tanpa suara aku memberi isyarat padanya.

Dia hanya terkekeh dan tidak peduli dengan amarahku yang sedang meluap-luap.

‘Sialan!’

****

“Ooh jadi kalian bertiga satu kampus?” tanya Henry ketika aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi karena Haera merengek-rengek memaksaku.

Aku mengiyakan dengan tidak bersemangat, sepertinya Haera menyadari perubahan mood ku itu.

“Oppa, bukankah kau masih ada kegiatan lagi setelah ini? Sepertinya sudah cukup lama kita berbincang-bincang,” ucap Haera.

“Ah ne, aku harus bergegas pergi,” Henry melihat ke arah jam tangannya, “Hyungdeul pasti akan mencari ku,”

“Nah, aku pamit pulang ya, senang sudah dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian,” Henry membungkukkan badan kepada ku dan Jinki, setelah mengenakan jaket dan masker untuk penyamarannya kembali, Henry bergegas pulang.

Aku menatap punggungnya yang mulai menghilang dari balik pintu Cafe. Ah pertemuan yang singkat. Aku masih ingin menatapnya lebih lama lagi.

“Haahhh .. ” Aku mendesah kecewa.

Sekarang apa yang Henry pikirkan tentangku, seorang yeoja-galak.

Haera menatap heran ke arah ku.

“Ah bukan apa-apa, aku hanya masih kesal karena kedatangan namja-babo ini,” aku berkata sambil melirik tajam ke arah Jinki.

Jinki hanya tertawa.

“Tidak ku sangka kita bertemu di sini, jadi sekalian saja aku mengerjai mu karena kau sudah meninggalkan aku di perpustakaan tadi,”

“Sudahlah kalian ini selalu saja bertengkar, apa kalian tidak lelah hah?” Haera menatap kami kesal.

“Ah mian, salahkan saja namja-babo ini,” kataku tidak peduli.

“Haera, ayo kita pulang,”

Haera berdiri dan mengikuti ku berjalan dari belakang. Masa bodoh dengan namja setan itu.

“Woochy! Mana uang bayaran makanannya!” namja itu berteriak ketika aku dan Haera sudah mencapai pintu Cafe.

“Kau saja yang bayarkan bodoh!”

‘Rasakan kau!’

Aku masih saja berjalan dengan cepat menuju parkiran mobil. Ketika aku sadar, tidak ada Haera lagi di belakangku, mata ku berkeliling mencarinya. Ah itu dia, dia sedang mengangkat telepon. Aku melihat wajah Haera tersenyum lebar, sepertinya dia mendapatkan kabar baik. Aku membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.

Sembari menunggu aku mengeluarkan ponsel dan membuka folder foto yang telah lama aku abaikan.

‘Henry, tidak ada yang berubah darimu,’

Aku tersenyum kecil melihat koleksi fotonya didalam ponselku.

Jglek!

Pintu mobilku terbuka. Haera masuk masih dengan senyum lebarnya.

“Ada apa Haera? Sepertinya kau senang sekali?”

“Gwaenchana, nanti kau juga akan tau,” katanya dengan misterius.

‘Aih yeoja ini selalu membuatku penasaran’

****

Henry’s POV

Aku merasa sesak ketika mendengar namja itu memanggil ice princess itu jagi. Aku tidak tau kenapa, otakku tidak pernah  berhenti memikirkannya. Perlahan namun pasti, sepertinya dia sudah merebut hatiku.

Sambil menyetir menuju dorm, jariku mengetuk-ngetuk setiran, menimbang-nimbang sesuatu.

‘Ah lebih baik, aku lakukan saja!’

Aku mengeluarkan ponsel.

“Yeobseyo?” terdengar suara di seberang sana.

“Haera~ya, bolehkah aku minta tolong kepadamu?”

“ …. “

“Kirimkan aku nomor teleponnya, Jebal Haera~ya,”

“ …. “

“Tentu saja dia yang barusan aku temui tadi,” aku mulai kesal.

“ …. “

“Ne, ne. Shin Hye Wook. Arraseo?”

“ …. “

“Kau senang sekali menggodaku Haera~ya!”

“ …. “

“Kalau tidak, aku batalkan niat untuk mengajakmu berkunjung ke dorm,”

“…. “

Aku terkekeh, ternyata ancamanku berfungsi baik terhadapnya.

“Ne,”

Tut tut tut

Sambungan terputus. Aku tersenyum lebar dan meneruskan menyetir sambil bersenandung kecil.

****

Jinki’s POV

“Kau saja yang bayarkan bodoh!”

Dasar yeoja-galak, dia selalu saja bertingkah semena-mena terhadapku. Aku menghela nafas dan mengangkat tanganku memanggil waiters.

“Minta bon nya,”

Waiters itu pergi dan tak lama kembali seraya menyodorkan bon kepadaku. Aku mengeluarkan beberapa lembar won dan memberikan sedikit tip untuknya.

Aku keluar dari cafe dan berjalan menyusuri jalanan. Kota Seoul di malam hari ramai sekali. Aku berjalan menyusuri pertokoan dan melihat barang-barang yang terpajang di etalase toko yang aku lewati. Aku terhenti di depan toko yang memajang tv plasma berukuran 32’ inc. Ah ini, Henry~hyung yang ku temui tadi. Ternyata di anggota boyband korea, pantas saja dia memakai pakaian aneh seperti itu. Ternyata untuk mengelabu’i penggemar.

Mataku kembali menatap Henry~hyung yang ada di dalam tv. Aku kembali teringat tatapan mata yeoja-galak kepadanya. Tatapan yang aku tau secara pasti kalau itu adalah tatapan seseorang yang memendam perasaan rindu yang sangat besar.

‘Apa yeoja-galak itu menyukai Henry~hyung?’

Ah tidak mungkin, mana mungkin Henry~hyung menyukai yeoja-galak seperti dirinya, hahahaha.

****

Haera’s POV

“Yeobseyo?” aku mengangkat telepon dari Henry~oppa.

Aishh apa lagi oppa ku ini, padahal baru saja kami bertemu. Mungkin oppa masih merindukanku, hahaha.

“Haera~ya, bolehkah aku minta tolong kepadamu?” katanya terdengar memelas.

“ Minta tolong apa Oppa?“

“ …. ”

“ Nomor telepon siapa?“ aku tidak mengerti apa maksud oppa ku itu.

“ …. ”

Nada suaranya berubah kesal.

“Siapa Oppa? Sebutkan saja namanya?“ aku sengaja mengerjainya, padahal aku tau saja yang dimaksud oppa itu adalah Woochy.

“Ne, ne. Shin Hye Wook. Arraseo?” katanya dengan agak gugup.

Aku tersenyum lebar. Akhirnya bisa jujur juga oppa ku itu.

“Hahahaha aku hanya mengerjaimu oppa!” aku tertawa terbahak. Polos sekali oppa ku itu.

“ …. ”

Aku masih saja tertawa terbahak.

“ …. ”

“ANDWAE oppa! Aku hanya bercanda!“

Oppa mengancam akan membatalkan kunjunganku ke dorm mereka.

“Mian oppa, aku akan mengirimkan nomor ponselnya untukmu, arraseo?“ Kataku berbalik memelas.

“ …. ”

tut tut tut

Oppa ku itu memang selalu bisa mengalahkanku dalam adu mulut. Aishh tapi aku senang dia juga memiliki perasaan kepada Woochy. Semoga mereka bisa segera jadian, sepertinya ada proyek perjodohan yang sedang aku tangani sekarang. Aku tersenyum lebar seraya berjalan dan masuk kedalam mobil Woochy.

“Ada apa Haera? Sepertinya kau senang sekali?” dia menoleh ke arahku dengan heran.

“Gwaenchana, nanti kau juga akan tau,” kataku dengan evil smirk terbaikku.

****

Woochy’s POV

“Haahhhh,”

Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur sambil memijat kepalaku dengan pelan. Kenapa aku merasa pusing? Sepertinya selalu bertengkar dengan namja-babo itu memberikan efek buruk terhadapku. Namanya juga setan. Aku mendengus kecil mengingatnya yang sudah mengacaukan pertemuanku dengan Henry tadi.

‘Sekarang Henry sedang apa ya?’

Ah sekarangkan dia sudah menjadi artis. Aku rasa banyak yeoja-yeoja cantik yang menggila’i nya. Sampai-sampai aku menjadi minder seperti ini.

‘Henry? Jebal, lihatlah aku,’

Aku memelas sendiri sambil menatap langit-langit kamar. Sampai kapan aku bertahan dengan perasaanku ini.

****

Henry’s POV

Siaran radio yang aku isi dengan hyungdeul sudah usai. Sekarang aku sudah duduk di sofa dorm dengan santai sedangkan hyungdeul sedang menyantap makan malam di dapur. Kenapa aku merasa lelah sekali hari ini, aku memijat-mijat dahiku pelan.

“Kau kenapa magnae?”

“Kau tidak ikut makan?”

Teukie~hyung datang dan duduk di sampingku.

“Entahlah hyung, aku merasa sedikit pusing,”

Hyung menatapku dengan cemas.

“Beristirahatlah magnae, masuklah ke kamarmu. Nanti aku akan membawakan obat ke atas,”

“Ne,”

Aku berjalan ke arah kamarku dan Zhou Mi. Aku merebahkan diri ke atas tempat tidur yang belum genap seminggu aku tempati.

Tidak begitu lama kemudian, teukie~hyung membawakan obat dan air minum untukku.

“Minumlah,”

“Gomaweo hyung,”

“Tentu saja, kami hyung mu ini sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Sepertinya kau belum begitu baik beradaptasi terhadap cuaca di korea,”

“Mungkin saja,” aku mengangguk pelan.

“Baiklah, kau beristirahat saja. Kalau kau membutuhkan bantuan, teriak saja dari kamar ini, kami di bawah pasti akan mendengarnya,”

Aku tertawa mendengar lelucon Teukie~hyung.

“Ah ne, tentu saja hyung,” aku tersenyum kepadanya.

Hyung keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan.

****

Sudah 1 jam, aku masih saja tidak bisa memejamkan mataku. Pusing yang ku rasakan sudah agak berkurang. Aku kembali teringat kejadian tadi sore. Ah ice princess itu masih saja berlari-lari didalam otakku. Aku mengambil ponselku dan membuka daftar kontak.

No ponsel yeoja itu sudah dikirimkan Haera untukku. Setelah menimbang-nimbang sebentar, ah aku kirimi pesan saja dia. Aku tersenyum kecil.

To: Ice Princess

Hy, do you sleep ice princess?

Aku tersenyum sendiri melihat pesanku itu.  Di balasnya kah? Aku meragukannya. Mungkin saja dia sekarang sudah tertidur.

DDRRRTT DDRTT

Ponselku bergetar.

You have a new message.

From: Ice Princess

Ice Princess? It isn’t my name. Who are you?

To: Ice Princess

You can guess who i am.

Send!

From: Ice Princess

Whetever but i don’t have anytime to serve your joke.

Sadis juga yeoja satu ini, aku terkekeh pelan dan mulai mengetik balasan pesan untuknya.

To: Ice Princess

I’m Haera’s brother. Do you forget me? Padahal aku sudah mengingat namamu, Shin Hye Wook.

Send!

Aku tidak berani untuk terlalu jauh menggoda. Bisa saja nanti aku akan di telannya hidup-hidup, hahahaha.

From: Ice Princess

Hahahaha i’m so sorry. I don’t know you bcause i didn’t have ur phone number before, right? I feel happy, you didn’t forget my name.

To: Ice Princess

I never can be forget ur name. You were too fabulous, haha.

Send!

****

Woochy’s POV

From: +997111xxx

I never can be forget ur name. You were too fabulous, haha.

Aku tersenyum sendiri membaca pesan darinya.

‘Henry, kau selalu membuat aku berdebar-debar’

Percakapan kami berlanjut tentang berbagai macam hal. Ternyata Henry seorang yang easy going, kau merasa nyaman dengannya. Benar-benar malaikatku. Aku tidak salah menilainya. Pusing yang kurasa mendadak hilang, mungkin efek baik yang ditimbulkan Henry. Berbeda sekali dengan namja-babo itu.

From: +997111xxx

I think you should get a sleep now. It’s 03.00 am. Haera~ya said you have a lecture tomorrow morning.

Aigoo~ aku sama sekali tidak menyadari waktu berjalan sangat cepat. Ya sebaiknya aku tidur.

To: +997111xxx

Ne, i wanna go to sleep. See you Henry.

DRRTT DRRTTTT

From: +997111xxx

See you too. I had headache before but i feel better now. Thanks for tonight J

Aku tersenyum sendiri.

‘ya Henry, aku akan selalu menjadi obat yang akan meyembuhkanmu dari berbagai penyakit’

Tidak ku sangka Henry akan mengirimiku pesan dan lusa kami berjanji akan bertemu kembali! I’m really happy now!

‘Namja-babo itu pun tak akan ku biarkan merusak kencanku kali ini’

****

Author’s POV

Other place, on the same time

Seorang yeoja berbaring dengan gelisah di atas tempat tidurnya. Dengan tidak sabar, dia membalikkan letak bantal. Sesekali mengganti posisi tidurnya. Benar-benar terlihat kalau dia sedang memikirkan sesuatu. Yeoja itu kemudian bangun dari tempat tidurnya dan meminum segelas air yang ada di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Dia menghela nafas berat dan bangkit menuju meja belajar yang ada di kamarnya itu. Yeoja itu menyalakan lampu kecil yang terletak di atas meja dan mengambil sebuah buku agenda kecil. Dia pun mulai menulis.

Aku tidak tau lagi harus berbicara kepada siapa.

Aku terlalu memikirkannya.

Dan merindukannya tentu saja.

Ketika ahjusshi memintaku untuk kembali ke sini, aku dengan senang hati pulang.

Aku berharap aku dapat mengembalikan kenangan kita dan membuatmu tetap berada disampingku.

Aku terlalu kecewa ketika melihat kau terlalu  dekat dengan dia, sedangkan aku? Kau sama sekali tidak mengingatku padahal aku juga selau ada di dekatmu.

Apakah kau tidak menyadari, 3 tahun ini aku berusaha berubah agar terlihat pantas untukmu.

Aku bersedia menjadi pendampingmu hingga akhir waktu. Kaulah yang membuatku dapat berpikir dengan baik, benafas dan tetap ada di sini hingga sekarang.

Haruskah aku menyerah?

Lee Jinki

****

Woochy’s POV

“Yeoja-galak!”

Aku mendengus kesal. Siapa lagi selain namja-babo yang memanggilku seperti itu.

“Apa hah??” aku menoleh ke arahnya yang sedang duduk di belakangku.

Pelajaran anatomi kali ini mengharuskan kami berpisah untuk sementara dan aku bersyukur karenanya, dia tidak akan menggangguku untuk hari ini saja. Ternyata aku salah, sedari tadi namja-babo itu memanggil julukanku dengan berisik sekali.

“Tolong kerjakan bagianku ini?” wajahnya terlihat memelas.

“ANDWAE! Kau itu babo sekali,”

“Jebal,” puppy eyesnya mentap ke arahku.

“Tidak bodoh, sesukamu saja,”

Aku berbalik dan mengacuhkannya

“Yeoja-galak, jebal. Aku sangat jijik melihatnya .. “

“Kau itu memang babo. Itu silent mentor kita tau!”

Aku berkata tanpa memandangnya.

Aihh namja ini cengeng sekali. Padahal ini cuma kadaver.

“Yeoja-galak .. “ panggilnya lagi.

“t-i-d-a-k”

Namja-babo itu kemudian tidak terdengar lagi suaranya. Sepertinya dia sudah menyerah. Syukurlah.

****

Jinki’s POV

Aishh yeoja-galak itu pelit sekali, padahal aku benar-benar tidak berani memegang kadaver yang ada di hadapanku ini. Padahal hanya menguliti bagian tangannya, tapi aku sudah merasa jijik sekali. Inilah aku, jinki yang lemah sekali kalau berhadapan dengan kadaver. Oleh karena itu aku sama sekali tidak berminat masuk kedokteran. Entertainer jauh lebih menarik!

‘Aigoo~ eomma, tolanglah anakmu ini’

Bagaimana ini, kacaulah sudah nilai sempurna yang sudah aku dapatkan selama 4 bulan ini. Gara-gara yeoja-galak itu tidak membantuku.

“Awas kau yeoja-galak,” rutuk ku pelan.

“Kau sedang kesulitan?”

Suara yeoja di sebelah ku mengagetkanku.

“Mwo?”

“Kau mengalami kesulitan?” tanyanya sekali lagi.

“itu,” lanjutnya sambil menunjuk kadaver yang sama sekali belum aku sentuh.

Bagaimana ini? Aku tidak mau di cap namja cengeng hanya gara-gara kadaver yang di depanku ini tapi kalau ku tidak menerima bantuannya, aku akan kehilangan nilai sempurnaku dan aku harus selamanya mendekam di kedokteran ini. Aku mengigit bibir bawahku. Aku tidak memiliki pilihan yang lebih baik dari ini.

“Ne, aku tidak berani memegangnya,” kataku polos.

Yeoja itu hanya tersenyum, “sini aku bantu,”

Dia mendekat dan sekarang sudah berada di sampingku. Dengan cekatan dia menguliti kadaver yang ada di hadapanku. Sedangkan kadavernya tentu saja sudah selesai dari tadi. Yeoja-galak juga sudah selasai tapi dia sama sekali tidak mau menolongku.

“Lee Jinki imnida,” kataku padanya.

Yeoja itu menoleh dan tersenyum kembali.

“Shin Rie Na imnida,”

‘Entah kenapa aku merasa sangat familiar dengan wajah yang ada di depanku ini. Ketika menatapnya aku merasakan kerinduan dan rasa bersalah kepadanya. Siapa yeoja ini sebenarnya?’

****

Rie-Na’s POV

“Lee Jinki imnida,” dia mengenalkan dirinya kepadaku.

Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.

“Shin Rie Na imnida,”

‘Ternyata dia benar-benar sudah melupakan ku … ‘

TBC

Hee jumpa lagi reader!!!

Di page 6 aku sempat stuck, ga tau lagi mo nulis apa

Tapi akhirnya Part 6 ini SELESAI!!!!!

Mianhae kalo masih banyak typo, hahaha

Aku lagi kesengsem habis liat video-video Henry~oppa

Maklum, aku kan ELF sekaligus STRINGS yang belum genap sebulan, jadi masih dangkal banget tentang mereka, wkwkwk

Dan jujur, aku lebih terpesona ama permainan pianonya ketimbang violin.

Aigoooo~

Dasar ababil!

Komentarnya ya jangan lupa, CHU~

Advertisements

2 comments on “(Share FF) Mochi I’m With You (Part 6)

  1. waa jd seru az,cinta segi berapa ini nanti jdinya?di tambah haera juga suxa ma jinxi mungxin jd lebih bnyax xonflixnya.xexexe~~axhirnya henry udah ambil tindaxan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s