(Share FF) Mochi I’m With You (Part 7)

Author : Shin Hye Wook

(Klik nama author untuk melihat profil lengkapnya)


 

 

Jinki’s POV

‘Kenapa aku menjadi kepikiran yeoja itu ya?’

‘Kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini?’

‘Apa aku mengenalnya?’

Setelah hari itu, saat perkuliahan aku sering mencuri-curi pandang ke arahnya hanya untuk mengingatkanku, apakah aku pernah mengenalnya. Kadang-kadang mata kami saling bertemu. Entah kenapa aku sangat menyukai senyumnya.

“Namja-babo!”

Suara Woochy membuyarkan konsentrasiku.

“Mwo?”

“Perhatikan. Prof. Geum sedari tadi sudah melirikmu dengan tajam. Apa sih yang kau lakukan?”

“Tidak ada, aku hanya memikirkan bagaimana cara menjahilimu lagi,” kataku dengan senyum evil ku.

SEETTT

Sebuah pulpen melayang di udara dan yak! Tepat mengenai dahiku. Aisshh yeoja-galak ini benar-benar tidak bisa d ajak bercanda.

“Aku sudah mengingatkanmu babo,” dengusnya kesal dan kembali berbalik memperhatikan kuliah yang di berikan Prof. Geum.

Aku meringis pelan. Sepertinya aku sudah sedikit gila karena yeoja bernama Shin Rie Na itu.

****

Woochy’s POV

Akhir-akhir ini namja-babo itu berubah menjadi aneh. Dia lebih sering melamun dan tidak berusaha menggangguku lagi. Aku kerap kali memergokinya sedang mencuri pandang ke arah seorang yeoja yang satu kelas dengan kami. Kata Haera, nama yeoja itu Shin Rie Na. Lulusan SHS dari Jerman.

“Kau jatuh cinta pada yeoja itu?” tanyaku lugas pada Jinki saat kami sedang praktik di laboratorium.

“Hah?” kedua alisnya tertaut.

Jinki sedang berkutat mencampurkan bahan kimia ke dalam tabung reaksi yang ada di tangannya.

“Kau jatuh cinta pada yeoja itu?” tanyaku sekali lagi dengan agak keras di telinganya.

“Yang mana?”

Dia masih saja acuh di tengah kumpulan asap yang keluar dari tabung reaksi yang dipanaskan.

“Siapa lagi yeoja yang sering kau pandangi akhir-akhir ini,” dengusku kesal.

Matanya tiba-tiba berubah ceria.

“Kau cemburu ya yeoja-galak?”

Dia terkekeh dan tersenyum lebar ke arahku.

“Bodoh, mana mungkin aku menyukai namja-babo sepertimu,”

Jinki tertawa terbahak dan kemudian menghela nafas berat. Cukup membuat perhatianku kembali terpusat kearahnya.

“Sepertinya aku memang sedang jatuh cinta … ”

Mataku berubah menjadi bulat sempurna.

‘Namja-babo jatuh cinta?’

Ingin rasanya aku tertawa sekeras-kerasnya tapi aku urungkan niatku karena melihat wajah sedihnya itu.

“Kau kenapa? Kau sudah di tolaknya?” tanyaku polos.

“Di tolak apa? Menyatakan cinta saja belum,”

“Lalu?”

****

Jinki’s POV

‘Apa aku ceritakan saja ya kepada Woochy?’

‘Mungkin saja dia bisa membantuku’

Woochy itu yeoja yang baik. Walaupun aku sering menjahilinya tapi itu hanya sebagai bentuk perhatianku kepadanya. Aku sudah menganggap Woochy itu seperti dongsaengku sendiri. Walaupun usiaku hanya 4 bulan lebih tua darinya. Aku rasa pikirannya jauh lebih dewasa dariku.

Aku berdehem kemudian menceritakan perasaanku kepadanya, bahwa aku merasa pernah mengenal yeoja itu.

“Kau jangan sekalipun bertanya apapun kepadanya, arraseo?” pintaku pada Woochy.

“Ne,”

****

Woochy’s POV

“Sebenarnya aku tidak mengerti ini cinta atau bukan. Aku hanya saja merasa sudah bertahun-tahun mengenalnya dengan baik dan entah mengapa aku sekaligus juga merasa memiliki rasa bersalah yang besar terhadapnya,”

Untuk pertama kalinya, aku merasa kasihan kepada Jinki.

“Mungkin kau sebelum ini pernah bertemu dengannya. Dia lulusan SHS dari jerman,” aku menatap manik matanya yang terlihat gelisah.

“Jerman? Mana mungkin. Aku menghabiskan masa kecil di seoul dan sejak appa dan eomma bercerai, aku tinggal bersama eomma di amerika. Aku tidak pernah menginjakkan kaki di jerman,” Jinki menundukkan wajahnya.

Aku juga merasa bingung karenanya. Dimana kemungkinan Jinki pernah bertemu yeoja itu?

“Kau jangan sekalipun bertanya apapun kepadanya, arraseo?”

“Ne,” aku menganggukkan kepala.

****

Rie-Na’s POV

‘Dia bersama yeoja itu lagi’

‘Apa memang sudah tidak ada lagi aku di hatinya’

Aku menatap mereka yang sedang berbincang dengan akrab di sela praktikum kali ini.

“Na~ya, kau lupa memasukkan glukosanya,” suara Shekyo membuyarkan lamunanku.

“Mian, aku akan segera menambahkannya, ” aku kembali berkonsentrasi pada tabung reaksi yang aku kerjakan.

****

Woochy’s POV

Perkuliahan sudah berakhir dari satu jam yang lalu dan kami mendapatkan libur selama seminggu karena ada Seminar Dokter seluruh Asia di Fakultas kami. Haera akan pulang ke Toronto untuk mengunjungi orang tuanya dan Jinki? Ya sepertinya dia sudah mempunyai kegiatan sendiri.

Akhir-akhir ini aku semakin dekat saja dengan Henry. Kami rutin saling mengirimkan pesan dan sekali-kali kalau schedule nya kosong, kami bertemu di Cafe.

‘Ah lebih baik aku mengirimkan pesan untuknya’

To: Prince Henry

What r you doing now? I got a week holiday.

10 menit aku menunggu belum di balas juga, mungkin Henry sedang ada schedule.

DDRRTT DRRTT

Aku tersenyum lebar, segera saja aku membuka pesan yang masuk.

From: Namja-Babo

Kau dimana? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.

Aku mendesah kecewa.

‘Bukan si babo ini yang ku harapkan’

Dengan malas aku mengetik balasan untuknya.

To: Namja-Babo

Di cafetaria kampus. Tadi aku sudah mengumpulkan tugas kita. Mengajak ku kemana?

Send!

5 menit kemudian

Tidak ada balasan.

‘Dasar bodoh’

Aku menghabiskan kopi yang ada di hadapanku dan beranjak pergi. Sebaiknya aku pulang saja.

“Yeoja-galak!”

Jinki melambai dengan riang dan berjalan ke arahku.

‘Aishh namja-babo itu, kenapa memanggilku seperti itu di tengah orang banyak begini’

“Kau mau mempermalukan aku untuk kedua kalinya hah?” aku mendesis kesal kepadanya.

“Hahahahaha bukankah kau sudah tidak punya saraf malu yeoja-galak?”

Pletak!

“Namja-babo!”

Jinki meringis pelan dan sudah bersiap membalas jitakanku tadi. Tapi dengan cepat aku potong.

“Memangnya kau mau mengajakku kemana?”

Dia menurunkan tangannya dan kembali tersenyum lebar.

“Aku besok berangkat ke amerika dan eomma ku lusa akan berulang tahun. Kau mau kan menemaniku mencarikan kado yang cocok?”

Mulutku menganga lebar. Namja-setan ini ternyata perhatian juga pada ibunya.

“Yeoja-galak, kenapa kau takjub seperti itu? Sedemikian menjijikannya kah seorang anak laki-laki memberi eommanya kado?”

Aku menggelangkan kepala kuat-kuat.

“Kajja!”

Aku langsung menarik tangannya keluar dari cafetaria.

****

Aku dan Jinki sedang berada di Mall. Aku mengusulkan kepadanya untuk membelikan scraft saja. Kata Jinki, ibunya adalah seorang wanita karir. Aku rasa scraft pasti akan sangat berguna untuk ibunya.

Kami berdua sedang memilih motif dan warna yang cocok, berbagai macam pilihan yang sangat bagus membuatku agak sedikit kebingungan.

“Eomma mu kapan akan berulang tahun, Woochy?” tanya Jinki tiba-tiba.

“Mommy dan Daddy sudah tenang di surga,” ucapku seraya tersenyum kepadanya.

Jinki terhenyak mendengar perkataanku itu dan mencoba menguasai dirinya.

“Mian Woochy, i never know,”

“It’s okay. I still have my grandpa and grandma,”

“Kau benar-benar yeoja yang kuat!”

Jinki menepuk pundakku.

Aku tersenyum kepadanya.

“Nah, yang ini saja ya? Bagus tidak menurutmu?”

Aku menyodorkan sebuah scraft berwarna pastel dengan motif yang elegan.

“Ne, aku suka,”

Jinki mengambil scraft yang ada di tanganku dan berjalan menuju kasir.

DDRRRT DRRTTT

Ponselku bergetar di dalam saku jaket.

From: Prince Henry

Aku baru selesai syuting. Ya aku sudah tau, Haera tadi juga mengirimiku pesan. Katanya dia pulang ke Toronto besok. Kau sedang apa?

Dengan cepat aku membalas pesan dari Henry.

To: Prince Henry

Aku sedang menemani temanku mencarikan kado untuk eommanya. Besok kau bisa menemani ku? Aku ingin membeli sesuatu.

Hanya beberapa saat pesan terkirim, sudah datang balasan dari Henry.

From: Prince Henry

Mianhae Woochy~ya, minggu depan konser ke 2 suju M digelar. Jadi pihak SM mengetatkan jadwal trainee kami. Seusai konser aku akan menemanimu pergi, arraseo?

Wajahku berubah kecewa.

“Ada apa?”

Jinki sudah kembali dengan membawa kotak terbungkus cantik dengan pita besar berwarna emas.

Aku menggeleng pelan.

“Gwaenchana,”

Aku kembali menatap layar ponselku dan mengetik balasan untuk Henry.

To: Prince Henry

Ara, hwaiting Henry! Konsermu pasti akan sukses. Aku pasti datang menontonmu.

Segera ku tutup ponselku dan mengembalikannya ke dalam kantong jaket.

“Kau lapar?” tanya Jinki kepadaku.

Aku menggeleng

“Tidak, aku hanya merasa haus saja,”

“Kajja! Aku akan mentraktirmu minum,”

Jinki mendorong tubuhku keluar dari toko scraft dan berjalan mendahului ku ke arah foodcourt yang ada di lantai 4 Mall ini.

Namja-babo itu sama sekali tidak menunggu ku berjalan.

‘Bagaimana aku bisa menyamakan langkahnya yang besar itu?’

Dengan menggerutu akhirnya aku tiba juga di foodcourt itu walaupun dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.

Jinki tertawa melihat ekspresiku yang kelelahan karena berjalan mengejarnya. Aku ingin saja menjitak kepalanya seperti biasa tapi aku tidak mempunyai cukup tenaga setelah berjalan dari lantai dasar ke lantai 4.

‘Namja-babo ini sepertinya ingin membunuhku!’

“Kau mau minum apa?”

“Coke saja,” aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi yang aku duduki.

Jinki pergi meninggalkanku untuk membeli minuman.

Seminggu ke depan Henry pasti sibuk sekali. Padahal aku mendapat libur 1 minggu. Sia-sia saja rasanya.

‘Apa yang aku lakukan ya?’

“Haaahhh,” aku mendesah kesal.

“Sudahlah yeoja-galak. Anggap itu olahraga untukmu,”

Jinki datang dengan membawa 2 cup minuman di tangannya.

“Ini,”

“Gumaweo,”

Aku langsung menghabiskan setengah cup minumanku dalam sekali teguk.

“Aahhh lega sekali rasanya,” kataku sambil menyandarkan badanku lagi ke sandaran kursi.

Melihat kelakuanku itu, Jinki tertawa kecil.

“Ngomong-ngomong kau mau ku belikan oleh-oleh apa dari amerika? Patung liberty? Gedung pentagon?” oceh Jinki sambil memainkan sedotan yang ada di cup minumannya.

“Tidak usah repot, aku sudah puas melihat semua itu ketika tinggal di amerika,”

Jinki menautkan kedua alisnya.

“Ayahku seorang diplomat. Jadi aku sering berpindah ke berbagai negara,” jelasku padanya.

Dia mengangguk paham dan kembali meminum minumannya.

“Mereka meninggal karena kecelakaan pesawat saat terbang ke kanada,” tanpa sadar aku menceritakannya  kepada Jinki.

Sudah terlalu lama aku memendam kesedihan ini, biarlah aku ceritakan ke Jinki. Karena hanya dia dan Haera yang menjadi temanku saat ini. Aku memang terbiasa sendirian oleh karena itu aku tidak punya banyak teman.
“Dari dulu aku memang tidak bisa mengakrabkan diri kepada orang lain. Kau lihat saja, tatapan dinginku membuat orang lain sulit mendekatiku,”

Aku menghela nafas berat.

Jinki memperhatikanku dengan penuh perhatian. Aku suka caranya memperlakukan aku seperti ini. Memang tidak salah aku sudah menaruh kepercayaan kepadanya.

Jinki tersenyum kepadaku.

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu Woochy~ya, karena takdir Tuhan memang sudah di tentukan. Aku bangga memiliki teman sekuat dirimu,” Jinki menatapku dengan yakin.

“Gumaweo sudah mau mendengarkan ceritaku,”

Jinki mengangguk dan matanya terlihat menerawang.

“Woochy~ya, apakah aku ini memiliki tampang menjadi dokter?”

Aku terhenyak kaget.

“Maksudmu apa Jinki?”

“Kau tau, aku hanya ingin menjadi entertainer dan menjadi mahasiswa kedokteran ini adalah tantangan dari appa agar beliau memberikan aku izin,”
“MWOYA???”

****

Jinki’s POV

“Kau tau, aku hanya ingin menjadi entertainer dan menjadi mahasiswa kedokteran ini adalah tantangan dari appa agar beliau memberikan aku izin,”

Akhirnya aku beritahukan juga rahasia terbesarku ini kepada Woochy.

“MWOYAA???” dia terlihat kaget sekali.

Aku hanya bisa mengangkat bahu.

“Dan waktuku cuma setahun,” tambahku padanya.

“Apa kau yakin bisa memenangkan tantangan appa mu?”

“Tentu saja, dengan bantuanmu aku bisa memenangkannya. Kamsahamnida Woochi~ya,”

Aku membungkukkan badanku ke arah Woochy.

“Aishh kenapa kau harus berterima kasih kepadaku seperti itu?”

“Tentu saja karena tantangan appa adalah harus mendapat nilai sempurna. Beliau sama sekali tidak memperhitungkan aku yang berteman dengan yeoja sejenius dirimu,” aku tersenyum lebar kepadanya.

“Hahahaha syukurlah. Ternyata aku ada manfaatnya juga untukmu,”

Woochy tertawa kecil dan kembali menikmati minumannya.

“Terkadang hidup memiliki kisanya masing-masing, ya kan Jinki?” katanya sambil menerawang.

“Ya, aku harap cerita hidup kita akan berakhir dengan Happy Ending Story Woochy~ya,”

****

Woochy’s POV

“Kau menyukai Henry~hyung?” tanya Jinki dengan gamblang.

“MWO??”

Minuman yang ku teguk hampir tersedak keluar.

“Bagaimana kau tau Namja-babo?” kataku heran.

“Tentu saja dari sorot matamu yeoja-galak,” katanya santai.

Aku menghela nafas. Sepertinya aku memang tidak pintar dalam menyembunyikan perasaanku terhadap Henry.

“Henry itu cinta pertamaku. Aku pertama kali bertemunya di kanada di hari pertamaku masuk sekolah yang ternyata sama dengan dirinya,”

“Kau tau, sejak saat itu, aku tidak pernah memandang namja lain selain dirinya,”

****

Jinki’s POV

‘Aku tidak pernah memandang namja lain selain dirinya’

Kata-kata Woochy itu seperti mengingatkanku pada sesuatu. Perasaan ini, seperti pernahku rasakan bertahun-tahun yang lalu. Sepertinya aku harus menanyakan sesuatu kepada eomma ketika tiba di amerika nanti.

****

Woochy’s POV

“Haaaahhhhh,”

“Aku bosan,”

Aku merebahkan diri di atas tempat tidurku dan memandang langit-langit kamar seraya menerawang.

Ini hari kedua liburanku dan aku sama sekali tidak tau harus melakukan apa.

Aku berpikir sejenak. Ah lebih baik aku browsing saja.

Aku menyalakan laptop kesayanganku dan mulai menjelajah dunia maya yang sangat aku sukai itu.

Aku iseng-iseng mencoba masuk ke sebuah situs. Sepertinya ini website sebuah perusahaan yang bergelut di dunia perhotelan seperti perusahan Harabeoji ku.

Tiba-tiba saja account email yang aku gunakan log out otomatis. Ketika aku masukan password ku.

FAILED

‘Ya ampun, kenapa ini!’

Aku harus remember password ulang.

Dengan malas aku log in ke account email ku. Membuat pekerjaanku saja. Padahal aku hanya iseng memasuki website itu.

NEW CHAT by master_homin

‘Mwo? Siapa ini?’

Aku memandangi ID yang terpampang di hadapan ku.

master_homin: anda siapa?

 

shiny_woochy: kau yang siapa?

shiny_woochy: babo!

master_homin: hey, kau kan yang mencoba masuk ke website perusahaanku!

‘Aishhh ternyata salah satu admin perusahaan itu.’

‘Pasti dia ingin memarahiku’

Aku menepuk dahiku pelan, matilah aku!

shiny_woochy: Mian, tadi aku hanya iseng.

master_homin: bagaimana aku bisa percaya kepadamu?

master_homin: mungkin saja kau mata-mata perusahaan lain yang ingin mengetahui rahasia perusahaan kami?

‘rahasia?’

‘Aku rasa id master_homin ini mulai gila’

shiny_woochy: rahasia perusahaan?

shiny_woochy: tidak ada gunanya juga untuk mahasiswa semester 2 sepertiku

master_homin: siapa nama anda?

shiny_woochy: Shin Hye Wook.

master_homin: baiklah nona Shin yang terhormat, datanglah besok jam 10 pagi ke Sapphire Blue Hotel. Saya ingin meminta pertanggung jawaban anda karena telah memasuki website kami tanpa izin.

shiny_woochy: mwo?

shiny_woochy: aku tidak mau!

master_homin: baiklah, saya akan melacak id anda ini dan melaporkannya ke pihak berwajib karena sudah memasuki website kami tanpa izin.

shiny_woochy: ara ara. Aku akan datang.

shiny_woochy: bertemu dengan siapa aku besok?

master_homin: datanglah ke resepsionis.

master_homin: saya akan mengaturnya untuk anda besok.

master_homin is offline.

Tidak ada pilihan lain selain mengikuti permintaan id master_homin tadi. Aku tau dimana letak hotel itu. Sapphire Blue Corp salah satu dari tiga perusahaan di bidang perhotelan tebesar di korea saat ini, termasuk perusahaan milik Harabeoji ku. Aku tidak mau berurusan dengan polisi. Aku tidak habis pikir kalau di media massa terpampang fotoku dengan baju tahanan.

“SEORANG MAHASISWA KEDOKTERAN GAGAL MENJADI HACKER WEBSITE SEBUAH PERUSAHAAN”

Aigooo~ itu sungguh tidak keren sekali. Pasti Jinki akan menertawakanku dan Henry? Pasti akan menjauhi yeoja kriminal sepertiku.

‘HUAAAAAAAA!!!!!!’

Aku segera menepis pikiran konyolku itu. Aku mematikan laptop dan merebahkan kembali tubuhku ke atas tempat tidur. Ah lebih baik aku tidur saja.

‘Masa bodoh dengan id master_homin itu’

****

Minho’s POV

“Tuan Muda, ini sudah jam 7 malam. Bukankah anda sudah memiliki janji makan malam dengan Tuan Besar?”

“Batalkan saja,”

“Nanti Tuan Besar marah, Tuan Muda,”

“Gwaenchana. Katakan saja pada appa, ikan yang ingin kita pancing sudah mendekatkan diri sendiri ke arah jaring jebakan,”

Aku tersenyum penuh arti.

“Ne, saya akan menelepon Tuan Besar,”

Orang kepercayaanku itu membungkukkan badannya sejenak, kemudian keluar dari ruanganku.

Aku kembali menatap layar laptop yang ada di hadapanku.

master_homin is log out

‘Akhirnya kita bertemu. Aku tidak usah menunggu terlalu lama lagi, Shin Hye Wook’

TBC

 

ENG ING ENG

CAST BARUUUU!!!!!!!

Akhirnya tampil juga tuh si “Minho”

Hahahahahahahaha

Silahkan tebak sendiri bagaimana alur cerita part selanjutnya

Benarkan? Aku bakal bikin cerita ini lebih dari TRIANGLE LOVE 😀

(Author-gila)

“SAMA SEKALI GAK ADA POV nya HENRY”

Aku nangissssss, bener-bener ga ada ide buat masukin mochi di part ini.

Siapa suruh sibuk ama trainee ke duanya, jadinya aku yang di abaikan

#TabokAuthor

Hahahahahahahahahahaha

Mian my mochi, di part 8 bakal aku bayar lunas kog!

(peluk mochi dengan manja)

Dan di part ini juga udah aku jelasin tentang jinki dan aku itu ga ada apa-apa

Cuma hubungan “OPPA-DONGSAENG”

Jadi fans nya Jinki ga usah kecewa 😀

Tetap tunggu ya dan jangan lupa KOMENTAR NYA!!!!

Gumaweo

*bow

Advertisements

7 comments on “(Share FF) Mochi I’m With You (Part 7)

  1. Makn kren aja ne crta!
    Tp ak pnasaran jd apa si minho?
    Jgn2 jd org jahat pula!
    Aish
    masa org ganteng gt jd org jahat si?
    Tp daebk author!
    Ak skak bget ma crtanya!
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s