Cooking Cooking

Yeorebeun…

Uyyyy!!!!

*Tutup muka, oke lebih baik aku meminjam wajahnya Eun So untuk melakukan penyamaran biar ga diganyang readers*

Ahhaha akhirnya saya kembali dengan sejuta uang, halah dengan sejuta kerinduan yang membara dan hampir membuat rongga dadaku terbakar. *lebe*

Okeh sebelum baca cerita selengkapnya, aku mau nanya “APAKAH ADA YANG MASIH INGET SAMA NI CERITA????????????????????????????”

Yudah gapeduli mau masih inget kek, udah lupa kek, bukan sama ceritanya tapi sama aku mungkin *HUWEEEKKKK*

Astaga udah tahunn berapa ini? *lupa ingatan*

Intinya aku mau lanjutin cerita dan aku minta kritik dan sarannya, kalo emang pada gasuka dan bosen sama alurnya, mending aku udahan aja karena buat apa nulis kalo ga ada yang ngehargain. *ngambek*

Aku Cuma pake judul cooking cooking karena aku sendiri LUPA KEMAREN SAMPE PART BERAPA Sebelum baca lanjutannya, biar aku ulas lagi dari part satu ampa kemaren, ah bukan kemaren juga sih tapi beberapa bulan yang lalu.

Lee Sungmin anak dari Lee dan Lee Myungji, dia bersekolah koki di Golgu University. Pemilik universitas itu ternyata adalah sahabat dari kakek Lee Sungmin, Lee Yeol Shin. Ia ingin membantu Sungmin untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang koki berbakat dan kembali mempopulerkan Damyeon Doenjang, salah satu makanan dari bahan dasar mie yang dibuat oleh tangan terampil sang kakek. Kendalanya yaitu keluarga Lee tidak menyukai apapun yang menyangkut dengan mie, tanpa Sungmin tahu apa itu alasannya hingga ia yang diizinkan untuk sekolah koki pun akan menerima konsekuensi jika menyentuh mie. Impian utama sungmin mengikuti pelatihan ini adalah agar ia bisa kembali membangun restoran keluarga Lee yang telah lama ditutup.

Han Seul Ki, adalah anak dari pengusaha furniture terbesar di korea, ia dijodohkan dengan Minhyuk anak dari pemilik daegu hotel demi sebuah suntikan dana. Seul Ki berada di daegu tepatnya tinggal di kediaman keluarga Lee, ia melarikan diri saat akan pergi ke Los Angeles untuk melanjutkan sekolahnya. Seul Ki tidak menyukai segalanya tentang bisnis, itulah yang membuat nilainya rendah selama beberapa semester di sungkyukwan university. Pada akhirnya Seul Ki memilih jalan hidupnya sendiri dan mencari cara bagaimana membangun masa depannya yang masih semu.

Di part sebelumnya, Seok Ha dan Jung Jin mengumumkan perihal pertunangan antara kedua anak mereka. Sungmin sangat terkejut dan pikirannya kabur saat sebuah nama yang sangat ia kenal disebutkan secara gamblang di hadapan semua orang penghuni hotel besar ini.

Oke sampe situ aja, silakan lanjutkan..

-Grand Hotel Daegu, 5.30 PM KST-


“Han Seul Ki? Benarkah yang dia maksud Han Seul Ki gadis itu? sebenarnya ada berapa nama Han Seul Ki di korea? Walaupun marga Han itu sering terdengar namun nama Han Seul Ki hanya satu yang ku ketahui.. aissh kenapa gadis itu harus datang ke kehidupanku dan membuat seluruh daya pikirku kacau?” Sungmin terus memikirkan sebuah nama yang baru saja di lantunkan oleh salah seorang berkarisma di hotel ini, Kang Jung Jin. Semenjak berita pertunangan itu menyeruak dan secara gamblang diumumkan di depan media, Sungmin tak bisa lagi memfokuskan dirinya. Hanya nama Han Seul Ki yang saat ini terus bermunculan di ingatan Lee Sungmin. Ryeowook yang sejak tadi berdiri di sampingnya menyaksikan ekspresi terkejut Sungmin, memegang pundaknya dengan tatapan seolah menyuruh Sungmin untuk tidak memercayai semua perkataan barusan.

“Aku rasa Han Seul Ki lain yang ia maksud” tukasnya kemudian, dengan alis yang ia naikan menunjukan sebuah kepercayaan diri. Sungmin memijit dahinya seketika, dia melirik kaku dengan raut berpikir.

“Kami hanya menyampaikan sebuah berita yang sekiranya akan menjadi topik hangat dikalangan kalian, pertama kalinya kami mengumumkan wacana ini di gedung kebanggaanku, tidak ada maksud apapun karena ini telah di rencanakan sejak lama jadi bagi siapapun yang merasa keberatan saya harap anda dapat menerimanya..” Jung Jin kembali menyampaikan pidatonya dengan ekor mata dia tujukan pada para gadis yang terlihat merasa kecewa. Kang Minhyuk pria yang selalu didambakan dan kini ia telah terikat pada sebuah kata “Pertunangan” yang akan dilangsungkan sebulan mendatang. Sebuah kenyataan pahit, meruntuhkan harapan mereka pada sosok pria ini.

“Aku harus pergi” Sungmin berbalik, mengambil langkah cepat dan segera meninggalkan aula dimana semua pekerja hotel daegu dikumpulkan ditempat ini, hari terakhir magang dan Sungmin telah usai menyelesaikan pekerjaannya. Derap langkah saat ia menghentakan kakinya terdengar, membuat ia menjadi pusat perhatian sekarang. Kang Jung Jin hanya memicingkan matanya, Seok Ha melirik ke arah kerabatnya itu namun tak ada sepatah katapun yang keluar. Ryeowook berusaha menahan sungmin dengan alasan sikap tidak sopan yang ia tunjukkan, namun gagal. Ia hanya melebarkan senyuman bodohnya saat semua orang memberikan tatapan menuduh pada Kim  Ryeowook.

“Mwollayo” jawabnya dengan cengiran lebar.

***

Sungmin berlari menyusuri koridor hotel yang berada sepanjang jarak pandangnya. Ia berbelok di pertigaan yang menghubungkan antara lounge dengan pintu masuk. Seorang penjaga berusaha mempertahankan keseimbangannya saat tidak sengaja Sungmin menyenggol tangan penjaga itu. Dia membungkuk singkat, untuk meminta maaf namun tanpa menghentikan langkahnya sedetikpun. Rasa penasarannya mengalahkan apapun. Karena Sungmin berniat untuk segera mengetahui lebih jelas perihal identitas Han Seul Ki.

“Kau terlihat sangat gelisah oppa..” sedetik sebelum menoleh ia mencoba mengatur nafasnya, posisinya saat ini sedang berada di sebuah shelter bis yang berjarak tidak jauh dari Hotel Daegu.

“Neo?” ia terkejut mendapati gadis bertubuh tinggi dengan kuncirannya tersenyum sumringah menunjukan sederet gigit putihnya.

“Kau masih mengingatku rupanya” gadis itu menatap langit yang masih terlihat terang saat ini. ia memainkan kakinya berkali-kali, Sungmin hanya mendengus jera.

“Aku berniat untuk mengadakan selebrasi atas keberhasilanmu menjalankan magang selama 3 minggu terakhir” Jelas Il Sook datar. Sungmin masih tetap tidak memalingkan pandangannya, dirinya penuh harap melihat wanita itu lenyap dari penglihatannya sekarang juga.

“Aku..” perkataan sungmin terputus saat bis berwarna hijau cerah berhenti dihadapan mereka, ia beranjak merapikan kemeja yang ia kenakan dan menoleh kilas pada Il Sook yang mulai menatap penuh harap.

“Il Sook-ssi, Jeosonghamnida..” katanya sambil berbalik lalu menaiki beberapa undakan tangga di pintu masuk bis. Il Sook mengangkat lengan kirinya untuk menghentikan langkah Sungmin, tapi itu tidak ada pengaruhnya sama sekali karena keputusan seorang Lee Sungmin tidak bisa digoyahkan oleh apapun.

“Oppa..” Lirihnya dengan air mata yang hampir menetes. Il Sook melihat aula kosong di shelter bus, ia memutuskan untuk menyendiri di tempat itu. Tangannya bergerak merogoh isi tas ransel yang sejak tadi ia sandang di pundaknya. Sebuah kotak berukuran sedang yang berisi kue hasil buatan Il Sook untuk ia persembahkan di hari spesial ini sebagai perayaan keberhasilan magang Sungmin selama 3 minggu dan lagi besok adalah hari dimana Sungmin bertambah usianya. Il Sook ingin sekali menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat pada Sungmin karena kemungkinan untuk bertemu dengan Sungmin besok itu sangat kecil.

“Saengil Chukhae..” ujarnya nyaris tidak terdengar karena diiringi oleh suara deburan mesin kendaraan yang berlalu lalang. Ryeowook melihat pemandangan menyedihkan ini, sebelumnya ia sudah bersiap untuk mendekat tapi keinginannya untuk menghibur Il Sook berubah begitu saja saat wanita itu duduk dan memangku sebuah kue tart, dengan air mata yang menetes tepat diatas krim berwarna putih.

“Tidak ada yang bisa ku perbuat selain menyaksikan drama mengharukan ini, Jung Il Sook andaikan Lee Sungmin itu aku.. kau pasti tau persis apa yang akan kulakukan” batin Ryeowook dengan tatapan ibanya.

***

-123-3 Dongin-ga, Jung-gu, Daegu, Lee’s Family House-

“BUKK” suara benturan pintu dengan tembok jelas terdengar mengisi ruangan. Penghuni rumah ini langsung berhamburan untuk mengetahui siapa yang melakukan hal buruk seperti itu.

“Oppa..” Suara Hye Bin meruntuhkan suasana. Sungmin menjaga sikapnya di depan gadis kecil yang berdiri dihadapannya, dia sendiri tidak menyangka dorongan tenaganya untuk membuka pintu terlalu keras dan terdengar sangat kasar.

“Mianhe, Hye Bin-ah.. oppa pikir pintu ini terkunci” jawabnya mencari alasan. Myung Ji muncul dari balik pintu dapur menggerakan kepala perlahan hingga akhirnya ia mendapati sosok Sungmin.

“Sungmin-ah kau kah itu?” Sebuah sendok di pegang oleh tangan kanannya, dengan apron yang menutupi bagian depan tubuhnya.

“Baguslah kau sudah pulang, aku hanya khawatir padanya karena ku lihat hari ini gadis itu sangat tidak bersemangat, dia pergi pukul 9 pagi tadi dan hingga saat ini belum kembali. Aku berusaha menghubungi nomornya, tapi tidak ada jawaban”

“apa dia meninggalkan pesan? Bagaimana dengan barang-barangnya?”

“Barang-barangnya masih ada di kamarnya, dia hanya membawa tas ransel..”

“Cish.. kalau begitu biarkan saja, aku yakin gadis itu pasti kembali”

“Yak!! Lee Sungmin, aku tidak pernah mengajarkan sikap acuh seperti itu padamu, cepat cari dia atau aku yang akan pergi mencarinya!!” Suara Myung Ji memekik, Hye Bin menutup kedua telinganya dengan tangan. Sungmin sangat terkejut melihat ibunya bisa berbicara sekeras itu selama beberapa tahun terakhir bahkan ini bisa dibilang paling menyeramkan.

“Eomma, aku baru saja menginjakan kakiku..  haruskah aku bersusah payah hanya kerena wanita dengan identitas tidak jelas seperti dirinya?”

“Berhenti berbicara seakan kau lebih baik darinya, sekarang cepat keluar dan cari dia!!!”

Sungmin tak bisa menjawab, perasaannya bercampur antara kesal, dan rasa ingin sekali berteriak. Bahkan ibu yang telah ia kenal selama lebih dari 20 tahun, lebih mengkhawatirkan keadaan gadis yang baru 3 minggu datang di kehidupan keluarga Lee.

“Geurasseo, aku pergi.. kau bahkan tidak mengkhawatirkan keadaanku, aissh jeongmal..”

“Oppa, kau itu pria sedangkan dia seorang wanita, jangan pernah bertingkah kekanakan seperti itu” suara kecil itu menimpali ditengah gemuruh ucapan yang keluar dari mulut Myung Ji. Sungmin memicing kesal, dia mengapit hidung Hye Bin dengan kedua jarinya.

“Jalgayo Lee Sungmin-ssi..” ujar Myung Ji sambil berlalu kembali ke dapur.

Dengan langkah yang sangat terpaksa Sungmin meninggalkan rumahnya, lelah yang ia rasakan seolah terhapus oleh rasa kesal yang amat sangat. Sepanjang perjalanan yang ia lakukan hanyalah melirik ke kiri dan kanan jalan dengan terus bergumam kecil, berharap sosok yang ia cari muncul sebagai bayangan yang masuk melalui retina matanya. Hari sudah mulai gelap, sementara Sungmin tidak tahu kemana ia harus mendaratkan kakinya. Ia duduk sejenak, melepas peluh dengan memainkan ponsel yang sejak tadi berada di kantung celana hitam yang ia kenakan.

“Han Seul Ki-ssi, kau lihat apa yang akan aku lakukan padamu setelah ini” Gerutunya kecil. Sungmin menekan tombol hijau itu dengan penuh emosi, berharap sebuah sambungan akan terhubung.

“Omo omo..” gumamnya saat mendengar suara tanda panggilan tersambung. Dia menunggu dengan sabar, seseorang di kejauhan sana mengangkat panggilannya dengan sebuah sapaan khas.

“Yoboseyo..”

“Yak Han Seul Ki-ssi, kenapa kau baru mengangkat panggilannya huh? Neo Eodiga?”

“Aku pasti membuatmu khawatir, jeosonghamnida”

“Haissh.. ya kau membuat keluargaku khawatir dan aku menjadi korban dari kekhawatiran mereka, cepat katakan dimana kau sekarang? Aku tidak bisa bersabar arasseo?”

“Jika aku mengatakannya kau pasti akan membunuhku”

Sungmin tidak bisa terus bersabar, rasanya ia ingin sekali membanting ponsel jika itu memang dibutuhkan namun buktinya saat ini ponselnya lah yang sangat berperan penting agar dia bisa tetap hidup dan selamat sampai di rumah.

“Apa kau bermaksud meminta belas kasihan dariku dengan cara berbicara selembut itu?”

“Aniyeyo, oppa sebenarnya aku ingin memberitahukan ini padamu, aku sedang berada di rumah duka kangnam”

“Mwo? Apa yang kau lakukan disa…”

Tidak ada jawaban, pertanyaan yang akan diajukan Sungmin terpotong karena sambungan yang putus. Dia menghembuskan nafas berat, sembari sesekali melap keringat di dahinya.

“Kali ini kau tidak akan selamat, kau pikir dari daegu ke kangnam bisa dilalui dengan berjalan kaki huh? Han Seul Ki-ssiiiii aisssh..Neo” rasanya percuma jika ia terus menggerutu meluapkan segala kekesalannya pada sebuah ponsel yang kini sedang ia pegang. Lebih baik Sungmin memutuskan tindakan apa yang akan ia ambil untuk membuat gadis itu sampai dirumahnya sekarang.

***

Rumah Duka Kangnam-gu

Seul Ki terus menggerakan kakinya dengan ragu, warna langit lama-kelamaan berubah menjadi gelap benaknya dihinggapi rasa khawatir yang semakin berkecamuk. Seul ki duduk di sebuah bangku taman di sudut kota. Besok adalah hari dimana eommanya meninggalkan Seulki untuk waktu yang lama, dia hanya tidak ingin jika mengunjungi makam di keesokan hari maka akan bertemu degan ayahnya yang juga datang di waktu bersamaan. Akan sangat gawat jika kenyataannya seperti itu, tapi yang menjadi masalah Seul Ki sekarang adalah dompetn yang hilang ketika ia sampai di tempat ini, Seul Ki sama sekali tidak bisa mengingat kapan kejadiaannya karena ia yakin pada saat menaiki bus tadi dompet berharganya itu masih tersimpan rapi di tas. Untung saja ponselnya tidak ikut lenyap, jika iya maka Seul Ki sendiri berpikir pasti dirinya akan membusuk di tempat ini tanpa tahu harus menghubungi siapa.

“Eh?” Seul Ki tersentak saat mendapati sosok pria yang sedang berdiri jauh di depannya, posturnya tidak begitu tinggi namun ia kenal betul siapa pria itu. Tuan Jung manajer kepercayaan keluarganya, sekaligus ayah dari Jung Il Sook sedang berdiri tepat di perempatan jalan dengan jas biru tua dan syall putih yang melingkar. Pikirannya mengingat sesuatu saat merajut syall itu berdua dengan Il Sook sebagai kado ulang tahun tuan Jung dan sejak itu pula Il Sook pergi dan memilih tinggal bersama ibunya di daegu. Tanpa ia sadari ternyata pandangan tuan Jung sedang mengarah padanya, dengan gerak cepat Seul Ki segera menghindar dan menghalangi sisi wajahnya yang dapat dilihat oleh tuan Jung.

“Kenapa Jung ahjussi bisa ada disini? aissh.. semoga dia tidak mengenaliku, tapi bagaimana jika kenyataannya dia mengenaliku? Ah lebih baik aku pergi dari tempat ini sekarang juga” batin Seul Ki. Dia bangkit dari tempat duduknya, berbalik dan melangkah cepat. Tanpa memerdulikan keadaan disekitarnya Seul Ki terus berjalan, ia sendiri tidak tahu kemana langkahnya akan membawa dirinya asalkan bisa terhindar dari pengamatan tuan Jung maka dia akan merasa lega.

“Dek..” Seul Ki sangat terlonjak saat dirasakan seseorang memegang bahunya. Ia hanya bisa terdiam mematung tanpa tahu apa yang akan ia lakukan. Dengan mata terpejam Seul Ki berdoa dalam hati agar rahasia bersembunyi di daegu tidak terungkap namun sepertinya itu akan menjadi sebuah harapan semu, yah Han Seul Ki merasakan degup jantung  jantungnya terus gencar menghentak rongga dada.

Sesaat sebelum berbalik untuk melihat keadaan di belakang, Seul Ki menarik nafas panjang serta memikirkan kata-kata yang berpendar di otaknya dan ia keluarkan menjadi sebuah narasi yang bisa masuk diakal.

“Ahjussi ini tidak seperti yang kau lihat, aku..aku.. baru saja pulang dari amerika dan ku putuskan untuk mengunjungi makam eomma terlebih dulu.. aku sama sekali tidak berniat untuk menghindar darimu, aku hanya berpikir untuk pulang seorang diri tanpa ada pengawalan..”

“Mwoya?”

Matanya mendelik mendengar suara yang sangat akrab dipendengarannya “Suara sengau, suara sengau itu… eh?” Seul Ki bergumam sendiri, berpikir mencoba mengingat siapa pemilik suara itu dan kemudian membalikkan badannya perlahan seraua ia menurunkan tangan kiri yang ia gunakan untuk menutupi sebagian wajahnya.

“Sungmin oppa?” matanya membulat besar melihat sosok Sungmin yang sudah berdiri tegak di depannya.

“Kau tertangkap basah Han Seul Ki-ssi” balas Sungmin dengan seringaiannya. Seul Ki menelan ludah gugup, tangannya berkeringat. Dia teringat kata-kata yang ia ucapkan barusan, Seul Ki tidak bisa berbohong ataupun mencari alasan. Rahasianya diketahui karena kesalahannya sendiri. Sebuah tampang bodoh ia tunjukan di hadapan sungmin yang masih tersenyum sinis dengan matanya yang menyii\pit.

“Aani..anii.. bukan itu maksudku” jawabnya berusaha mencari penjelasan untuk membela diri. Sungmin terus mendekatkan wajahnya dengan tatapan ingin membunuh, Seul Ki semakin merasa tercekik dia tidak bernafas dengan leluasa melihat tatapan tidak mengenakan itu.

“Kau Han Seul Ki anak dari Han Seok Ha pemilik Core’s Company perusahaan furniture terbesar di korea bukan?”

Tubuh Seul Ki bergetar hebat, pandangannya memudar. Dia tidak bisa memfokuskan dirinya, tidak habis pikir bagaimana Lee Sungmin bisa mengetahui semuanya dengan jelas dan tentu saja itu membuat Seul Ki merasa dihantam oleh sebuah dedalu raksasa. Rahasia yang berusaha ia simpan untuk menemukan kejelasan masa depannya sekarang terbongkar, kenapa harus Lee Sungmin yang mengetahuinya. Setidaknya akan lebih baik jika bukan dia.

“Kau bercanda? Dengarlah leluconmu itu sama sekali tidak lucu”Jawab Seul Ki kikuk dengan tangan kiri yang ia kibaskan di depan wajahnya.

“Apa aku pernah membuat lelucon sebelumnya?” jarak wajah mereka berdua kini tidak lebih dari sejengkal.

“Andwae..” jawabnya kaku.

“Jangan pernah berpikir bahwa yang aku katakan adalah sebuah lelucon, sebenarnya aku tidak berniat untuk menanyakan perihal ini sekarang, tapi karna kau yang memulainya jadi aku tidak bisa menahan apa yang hendak aku sampaikan”

“Aku..”

“Kau berbicaralah jujur, mungkin saja aku masih bisa membuka hatiku jika kenyataannya seperti itu “

“Naega.. fuhh”

“Wae? masalah apa yang menghinggapimu sehingga kau berani membohongi banyak orang? Bukan aku yang tersakiti, tapi eomma, appa dan juga ayahmu yang bersikap sangat baik dan telah memercayaimu”

Air mata Seul Ki telah menggenang di sudut matanya, ia tak bisa lagi menahan cairan bening itu hingga pada akhirnya dapat meluncur bebas.

“Jeosonghamnida..” ujarnya lirih sembari menundukan kepalanya.

“Semudah itukah kau mengucapkan kata ‘maaf’ apa kau pikir semuanya akan selesai setelah kau mengungkapkan permintaan maafmu di hadapanku?” Sungmin tidak lagi dapat menahan emosinya, ia membentak Seul Ki yang sedang bergetar hebat menahan tangis yang kian mencekik lehernya.

“Jangan katakan ini pada siapapun..hiks hiks..” gadis itu terduduk lemah dihadapan Sungmin, dengan  tiba tiba ia langsung memeluk kaki Sungmin dan tentu saja kejadian ini menjadi pusat perhatian banyak orang. Sungmin tampak kebingungan menanggapi tindakan Seul Ki, tidak habis pikir kenapa kejadiannya malah berbalik tampaknya sekarang adalah seperti Sungmin yang sudah melakukan kesalahan pada gadis ini.

“Ya.. apa yang kau lakukan hah? Cepat bangun..Han Seul Ki-ssi, atau aku akan berteriak menuduhmu sebagai gadis tidak waras” ia berusaha menyingkirkan lengan Seul Ki yang melingkar di kakinya tapi tubuh gadis itu tetap tidak bergming.

“Kau harus memaafkanku terlebih dahulu dan berjanji tidak akan menceritakan kejadian ini pada siapapun..”

“Mwo? Apa aku harus melakukannya?”

“Lee Sungmin-ssi, aku akan berteriak dan menuduhmu telah mencampakanku jika kau tidak mau melakukannya..jebal” Seul Ki mengangkat kepalanya menghadap Sungmin dengan tampang sangat memohon. Sungmin memejamkan matanya kilat, ia menggertakan giginya menahan emosi yang terus memuncak.

“Aissh.. Kenapa kau selalu melakukan ini saat dimana aku harus membencimu, Han Seul Ki-ssi!!” gusarnya namun tak membuat Seul Ki berubah  posisi.

“Oppa..hiks,,hiks” tangis gadis itu malah memecah. Semua orang kini berkumpul mengelilingi mereka, ada yang memandang dengan iba adapun yang berbisik dan menggelengkan kepala mereka. Sepertinya semua orang ini sangat bersimpati terhadap Seul Ki.

“YAK!! Lepaskan peganganmu, semua orang melihat kita..”

“Aku tidak peduli”

“Iya karena kau berpikir kau yang berada di kubu tertindas, cepat lepaskan atau aku akan membuatmu tersungkur..”

“Kau harus berjanji untuk tidak menceritakan ini, maka aku akan menuruti permintaanmu”

“Aissh.. jika ada alasan yang mendasar maka aku akan memafkaanmu”

Seul Ki menghentikan tangisnya yang sejak tadi bergema di area taman dekat dengan pemakaman di kangnam. Ia melap air mata yang membuat pipinya terasa lengket dengan lengan baju yang ia kenakan. Sementara itu Sungmin mengangkat kepalanya, mengeluarkan udara dari mulut untuk meredam emosi.

“Jeongmalyo?” Ia mengangkat wajahnya, menampakkan tampang aegyeo dengan raut berbinar yang berlebihan. Sungmin menunduk, melihatnya dengan cibiran kecil.

“Kau pikir aku sebodoh itu Han Seul Ki-ssi huh?”

“Mwo?”

“Semudah itukah melupakan kesalahan besar yang kau lakukan?”

Seul Ki menggeratkan giginya, rasa kesal menghinggapinya dan sekarang ia mulai berpikir bagaimana meluapkan kekesalannya ini agar Sungmin dapat memberi sedikit toleransi atas kesalahan berdasar yang telah ia lakukan. Yah sebuah kesalahan yang tentu saja sangat sulit untuk mencari dimana letak kebaikannya.

“Berdirilah” titahnya kaku, Seul Ki menurut karena ia rasa tidak ada gunanya juga jika tetap dalam keadaan seperti ini.

“Ne” jawabnya lemah.

Sebuah mobi melaju di depan mereka, memecah keheningan suasana malam di musim dingin. Beberapa kali Seul Ki terlihat menggosok kedua tangannya, namun tidak ada jawaban apapun dari Lee Sungmin. Mereka berdua berjalan melintasi pohon-pohon tinggi, dengan langkah penuh kelelahan sementara Seul Ki ia sangat takut untuk memulai pembicaraan.

“Kau tahu sudah lama sekali rasanya aku tidak pernah ketempat ini..” Usik Seul Ki dengan suara yang hampir tidak terdengar. Sungmin berhenti tepat di depan Seul Ki, ia menoleh dengan tatapan tajamnya.

“Bagaimna bisa ada seorang manusia sepertimu yang sama sekali tidak tahu diri, kau berbicara seolah tidak ada apapun yang terjadi. Han Seul Ki-ssi perlu kau ketahui bahwa aku tidak akan menyembunyikan kesalahan yang pernah kau lakukan terlebih itu melibatkan banyak orang.  Aku berpesan lebih baik kau diam, anggap kita tidak saling mengenal”

Sungmin kembali berbalik. Ia terus berjalan dengan langkah tergesa seolah tidak ingin jika dirinya di ikuti oleh Han Seul Ki.

“Sudah kuduga akan sulit berurusan dengannya” batin Seul Ki dengan raut masam. Mereka mendaratkan diri tepat di shelter bus. Berkali-kali Seul Ki melirik memerhatikan pria di sampingnya yang Terlihat terlihat menggoyangkan kaki sebelah kirinya resah menanti kedatangan sebuah bus. “Ck Kenapa tidak menggunakan Subway saja, bukankah jalurnya lebih mudah dan cepat? Ya benar, jika aku mengajukan pendapat dia pasti tidak akan mendengarnya, terserah kau saja Lee Sungmin ” gumamnya kecil sehingga terdengar seperti berbisik. Sungmin seperti menyadari gumaman gadis itu. ia melirik dan kembali mengatur posisinya seperti semula.

Seul Ki tidak berani mendekat, ia sangat menjaga jarak karena itu akan sangat bermasalah. Sungmin sendiri yang memintanya untuk tetap diam dan bertingkah seolah mereka tidak saling mengenal, maka Seul Ki memutuskan untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.

Sebuah bis berhenti tepat di shelter mereka berada, Sungmin melangkah cepat dan dengan sigap Seul Ki mengikutinya dari belakang. Dia terkejut di suasana malam seperti ini bagaimana bisa tidak ada tempat duduk yang tersisa.

“Tunggu dulu, bukankah ini bus menuju seoul? Mwoya? Kami salah menaiki bus?” pikirnya melihat nomor bus yang tercantum di muka. Kali ini ada sedikit masalah, dan itu akan menjadi sebuah bencana jika Sungmin sampai tersadar. Seul Ki berpikir keras bagaimana cara memberitahukan ini pada sungmin sementara dia sendiri sudah berjanji untuk tidak bicara selama perjalanan.

Sungmin memandang Seul Ki sejenak saat gadis itu bertingkah aneh. sebenarnya ia merasa sedikit janggal saat menaiki bus ini, namun ia tidak begitu mempermasalahkannya karena ketika malam tiba semua benda yang ia lihat akan tampak dengan warna sama.

“Ehm.. kau seorang diri di malam seperti ini nona?” Seorang pria mendekat ke arah Seul Ki, reflek ia menjauh dan berusaha menghindar. Sungmin memerhatikan gerik mereka dari kejauhan, ia terus berpikir positif menahan dirinya untuk tidak lagi berurusan dengan gadis itu.

“Kami itu pria baik, kau tidak perlu khawatir” teman-teman pria lainnya ikut dalam pembicaraan, mereka mulai bersikap tidak sopan dengan mencolek dagu Seul Ki yang berdiri menghadap tiang pegangan dalam bis. Karena keadaan sangat ramai, maka tidak ada satu orang pun yang mengetahui apa yang sedang mereka lakukan pada Seul Ki.

“Jangan berani bersikap kurang ajar terhadapku, atau aku akan berteriak sekencang mungkin?” ancam Seul Ki ragu. Namun tidak sedikitpun membuat sekomplotan pria ini terlihat takut, melainkan mereka malah tersenyum meledek.

“Ikut aku..” Sungmin meraih lengan Seul Ki yang menopang tubuhnya di tiang bus, mereka langsung turun sesaat bersamaan dengan bis itu berhenti. Ia tetap memegang lengan Seul Ki dan menyeret langkahnya. Seul Ki berusaha berontak melepaskan pegangan Sungmin yang membuat tangannya terasa sakit.

“Apa kau akan tetap diam saat mereka mulai melecehkanmu?”

“aku tadi menanggapinya, dan selama mereka tidak berbuat macam-macam maka aku tidak akan mengambil tindakan yang lebih jauh..”

“Yak.. bagaimanapun juga kau itu tanggung jawabku, aissh..kenapa kau senang sekali membuatku kerepotan, apa aku pernah memiliki dosa besar terhadapmu sehingga kau selalu melibatkanku dalam urusanmu? Kau berpura-pura berada di amerika dan memilih untuk tinggal dirumahku? Bagaimana jika ayahmu dan para pekerjanya itu tahu,  mereka pasti berpikir aku ada sangkut pautnya dengan semua ini..”

“Mianhae..”

“Han Seul Ki-ssi..”

Seul Ki yang sejak tadi menunduk terkejut mendengar suara sungmin dengan intonasi lebih lembut sekarang. Ia langsung mendongak dan mendapati sosok pria itu sedang memandang keadaan sekeliling dengan raut kebingungan.

“Apa kau tahu kita ada dimana?” tambahnya.

“Aku rasa kita sedang berada di area sungai Cheonggye”Tebaknya asal. Sungmin berpikir sejenak sebelum meluncurkan beberapa argumentasi bagaimana bisa mereka ada disini sekarang?

“Jangan bilang kalau kita salah menaiki bus?”

“Kau memang jenius, ah.. sejak tadi aku berpikir bagaimana cara untuk memberitahumu hingga akhirnya kau tersadar dan lebih baik aku diam.. kau yang menginginkannya bukan?”

Tangan kanannya mengepal erat, seakan siap berlabuh kepada apapun yang berada di depannya. Sungmin tidak menyangka, akan menjadi semenyebalkan ini jika bersama dengan sorang wanita bernama Han Seul Ki, yang baru saja ia kenal dan telah melibatkannya pada berbagai macam perkara, sungguh melelahkan.

***

-Restaurant of Daegu Hotel-

Selepas memberitahukan perihal berita pertunangan putra tunggal pemilik grand hotel daegu, Kang Minhyuk, Kang Jung Jin memutuskan untuk berbincang dalam suasana santai dengan Seok Ha di restaurant utama daegu hotel dengan beberapa menu yang tersaji di atas meja makan tempat mereka bertumpu.

“Jadi apa kau sudah mengabari putrimu dan memberitahukan tentang perjodohan ini padanya?”

Seok Ha yang baru saja meneguk segelas teh hangat di cangkir berwarna puthi kembali meletakannya di atas meja tanpa menimbulkan suara sentuhan antara cangkir dan kaca meja.

“Belum..” Seok Ha menanggapinya dengan sebuah gelengan kepala. Kaki kedua orang ini disilangkan, cara yang biasa dilakukan oleh kalangan atas diobrolan penting tapi dengan suasana santai ditemani secangkir teh yang menjadi sebagai ciri khas masyarakat korea.

“Kapan dia kembali dari studinya?”

“Secepatnya” jawab Seok Ha tanpa pikir panjang. Jung Jin tampak tidak ingin terlalu lama dalam obrolan ini, dia lebih baik membicarakan segala konsep dari bisnisnya dengan Seok Ha dibandingkan mendiskusikan acara pertunangan kedua anak mereka, karena pada dasarnya pertunangan ini dilakukan demi bisnis semata.

“Bukankah ini teh akar jahe?”

“Kau menyadarinya?”

“Aku tahu dari aromanya, lebih kuat daripada teh ginseng”

Kedua sahabat ini tersenyum simpul, dan Seok Ha melanjutkan menyeruput sedikit demi sedikit teh akar jahe yang masih mengeluarkan asap tipis.  Sementara di tempat lain Minhyuk duduk termenung pada ayunan tepat di taman tidak jauh dari Daegu Hotel. Ia merasa sangat kelelahan, bukan fisiknya tetapi otaknya. Pikirannya terus terpaku pada kata ‘pertunangan’. Minhyuk masih belum bisa mengeluarkan kata setuju, walaupun ia sendiri mengakui perihal kesendiiannya dan membutuhkan seseorang yang akan bermanfaat sebagai tempat ia bersandar. Tapi bukan seperti ini caranya, bukankah setiap orang yang dijodohkan akan langsung menikah saat mereka usai bertunangan dan tidak ada masa penjajakan dimana mereka dapat mengenal satu sama lain.

“Errr…” ia mengacak rambutnya sendiri. Beberapa buah kaleng kosong berserakan di bawahnya, kaleng soda bekas minumnya yang dibuang sembarangan.

“Aku bahkan belum mengenalnya..” ucapnya lagi. Kali ini disertai dengan hentakan kaki minhyuk diatas tanah tempatnya berpijak.

“Appa bagaimana bisa kau mengorbankan anakmu hanya untuk menambah keuntunganmu dalam berbisnis, sungguh tidak masuk akal, apa kita akan jatuh miskin jika aku menolak perjodohan ini? tentu saja tidak kan? Kau memang terlalu baik, seharusnya kau beri saja dia dana untuk menormalkan perusahaannya, jangan menyerahkan anakmu juga.. sungguh beruntung keluarga Paman Han, dia mendapat dana darimu dan anaknya mendapatkanku..aisshh jeongmal!!” Minhyuk menginjak kaleng-kaleng soda itu satu persatu hingga menimbulkan suara bising. Ia tidak peduli melihat orang yang berlalu lalang memerhatikannya, terlalu sibuk seorang diri sehingga membuatnya tidak sadar terhadap penampilannya yang sangat kacau.

***

-Cheonggye, Seoul, Korea Selatan, 4-20-

Seul Ki mengangguk anggukan kepalanya saat memeriksa sebuah folder gambar di ponsel putih milik Sungmin. Orang itu sedang berada di warung sekarang, karena Seul Ki terus merengek untuk dibelikan makanan maka akhirnya Sungmin menurut dan pergi mencari sesuatu yang dapat dimakan. Waktu sudah cukup malam, dan mereka masih berada di seoul. Tempat ini sangat ramai, karena besok adalah hari libur maka orang-orang biasa menghabiskan waktu mereka di area Sungai Cheonggye, terlebih saat ini sedang ada pameran lampion yang membuat suasana malam menjadi lebih indah.

“Drrt..Drrt..” ponsel Sungmin dirasakan bergetar di tangan Seul Ki. Ia melirik ke kiri dan ke kanan sebelum membuka sebuah pesan yang baru masuk, mengantisipasi bahwa si empunya akan menegur dan memerahi Seul Ki karena semua yang ada di ponsel itu adalah rahasia pribadinya.

“Sweet Friends” Seul Ki menggigit jarinya sendiri sebelum ia berani mengecek siapa yag mengirimi Sungmin pesan.

“Hyeong.. aku bingung apa yang harus aku lakukan, tapi besok adalah hari ulang tahunmu hemh mungkin terlalu awal aku mengucapkannya tapi sebagai teman yang baik aku harus menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat ulang tahun padamu.. Saengil Chukha hamnida Saengil Chukha hamnida.. Hyung !! you’re So cool ;)”

“HAHAHAHAHA..” perutnya terasa keram menertawai sebuah pesan yang masuk. Ternyata itu pesan dari Ryeowook. Tidak disangka Sungmin menyimpan list pria itu dengan nama ‘Sweet Friend’ sebuah hal yang Seul Ki anggap sangat menggelikan namun tak berselang lama ia langsung tersadar dan berpikir.

“Omo.. jadi besok? Kenapa tanggalnya sama dengan tanggal meninggalnya eomma?” Seul Ki menggaruk kening dengan jari telunjuknya. Tanpa ia sadari Sungmin sudah berdiri dan menatapnya dengan tajam. Ia sangat tersentak dan segera  mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.

“Sudah kuduga, jika ini berada di tanganmu hidupku pasti tidak akan selamat” ujarnya dengan penuh tekanan.

“Kau berlebihan..Sweet Friends” Kilahnya dengan senyuman meledek dengan alis yang ia angkat bersamaan.

“Cepat makan dan pulang” Sungmin menyerahkan mi ramen cup yang sudah matang. Seul Ki mengamati Sungmin sesaat, curiga kenapa pria itu hanya membeli 1 buah mi ramen, apa karena dia sangat membenci mie. Entahlah ia tidak mau terlalu jauh memikirkan itu, yang terpenting perutnya harus segera ia isi karena sejak tadi pagi tidak ada sedikitpun makanan yang masuk ke tubuhnya.

“Kau tidak mau mencicipinya?” tawar gadis itu ketika sedang menyantap mi ramennya dengan lahap. Sungmin hanya menggeleng kaku seolah memberi artian bahwa seulki harus segera menghabiskan makanannya dan pulang.

“Ne.. aku akan segera menghabiskannya..srrruuppptt woah enak sekali..emm” dengan sengaja ia menyeruput airnya hingga menimbulkan suara serta lidah yang ia mainkan membuat ekspresi  sangat menikmati makanan yang masuk ke mulutnya itu.

“Kruyuk..” Sungmin mengelus suara lambung yang meminta untuk diisi. Rasanya sangat sulit jika dihadapkan dlam situasi semacam ini. Mie jenis makanan ini sekarang  di korea bukan hanya sebagai pelengkap lagi melainkan makanan pokok pengganti nasi, tapi seorang Lee Sungmin tidak diperbolehkan untuk menyentuh makanan itu apalagi memakannya. Terlalu pusing memikirkan persoalan itu Ia lantas mengangkat kepalanya menghadap langit, menghembuskan nafas berat. Dilihatnya warna-warni lampu dan tampak padu padan yang satu dengan lainnya, Sungmin tersenyum tipis seraya menggumam “setidaknya aku masih bisa hidup walau tanpa mie..” pikir Sungmin membangkitkan rasa percaya dirinya.

***


-123-3 Dongin-ga, Jung-gu, Daegu, 12PM KST-

Kali ini tempat lain yang dikunjungi Minhyuk adalah sebuah minimarket di kawasan distrik daegu. Sebelumnya ia berniat membeli beberapa kaleng minuman soda lagi, tapi entah kenapa saat melihat beberapa kemasan ramen di depan matanya ia malah merubah keinginannya.

“Sepertinya enak..” bibirnya tersenyum dengan sebuah gigitan kecil yang ia buat. Namun saat Minhyuk berbalik Han Seul Ki berada di depannya sedang menunduk di balik rak-rak makanan. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu yang tidak bisa ditemukan. Seul Ki menahan sara sakit yang menjalari perutnya, maagnya kambuh setibanya di rumah dan kini Seul Ki bersusah payah mencari obat di minimarket dekat kediaman kelurga Lee tanpa ingin merepotkan Sungmin.

“Kau bayar ini juga..”

Seul Ki tersentak daat merasakan seseorang memasukan ramen kemasan itu ke dalam keranjangnya.  Sebelumnya Seul Ki berniat untuk membeli beberapa barang kebutuhannya sehari-hari, makanan dan lain-lain namun saat menyadari kang Minhyuk ada di sampingnya dengan langkah sigap Seul Ki segera menjauhkan keranjangnya dan berjalan mundur untuk menghindari Minhyuk.

“Bagaimana orang itu bisa ada disini..” batin seul Ki kesal. Dia masih belum bisa melupakan kelakuan Minhyuk yang sudah memandang rendah dirinya. Rasa benci Seul Ki terhadap Minhyuk bukan seperti rasa bencinya terhadap Sungmin, entah dimana letak perbedaannya tapi ia berpikir bahwa itu memang benar berbeda.

“Hutangmu masih belum lunas, 50 000 won Han Seul Ki-ssi..” Mnhyuk beerbisik di samping kanan Seul Ki yang sedang sibuk membayar belanjaan.

“Noona tolong kau hitung ramennya juga..” tambah Minhyuk membuat Seul Ki geram dan menginjak kaki pria itu. namun Minhyuk berhasil mengelak, ia dapat membaca sikap Seul Ki setelah itu Minhyuk tersenyum puas. Seul Ki langsung menyambar sekantung belanjaan yang sudah ia bayar dan berjalan cepat untuk segera pergi dari pria yang sangat dibencinya itu.

“Kau bahkan tidak menyapaku, cish.. sopan santun macam apa itu? hem.. setidaknya kau pernah terlibat masalah denganku, tapi kenapa dengan mudahnya kau melupakan hutangmu 50 000 won itu bukan jumlah yang lumayan kecil, ya meskipun tidak terlalu besar juga..”

“Ya.. bisakah kau tidak mengikutiku ehm.. TUAN?”

“Mi ramenku ada di kantung yang kau bawa AGASHI, jadi tolong berikan itu dan aku akan menghilang dari pandanganmu”

“MWO? Heh.. kau bilang itu mi ramenmu? Jelas-jelas aku yang membayarnya. Ah araseo, aku mengerti jadi apa mi ramen ini untuk mengganti 50 ribu wonku?” Seul Ki bergerak mendekat, dia menyerahkan semua ramen kemasan yang berada dalam kantung itu pada minhyuk. “Milikku hanya ini, jadi mulai sekarang walaupun kau melihatku jangan pernah bertingkah kita pernah saling bertemu, aku sangat membencimu jadi pergi menjauh sebelum aku mual dan mengeluarkan seluruh isi di perutku” ujarnya penuh ancaman. Minhyuk hanya tersenyum meremehkan, ia meremas kantung plastik putih yang berisikan mi ramen. Sementara itu Seul Ki pergi menjauh dengan menggenggam sebuah obat dan ia meninggalkan Minhyuk yang masih berdiri di depan tiang yang menghubungkan dua jalan.

“Geu Yeoja…” Minhyuk meremas kantung itu.

“Trekk..” sebuah suara aneh keluar saat Minhyuk membanting kantungnya ke sembarang tempat. Ia terkejut mendapati ponsel yang berda dalam kantung itu. tanpa pikir panjang Minhyuk langsung mengira ponsel berwarna biru adalah miliki Han Seul Ki.

“Bukan aku yang ingin bertemu denganmu, tapi kau yang melakukan kesalahan dan akhirnya kita ditakdirkan untuk kembali bertemu”

***

“Ckrekk..” Seul Ki berjalan lunglai menaiki undakan tangga yang menghubungkan pintu utama dengan ruang tamu. Ia terus mengelus perutnya yang kian terasa sakit.

“Aissh.. kenapa maagku kambuh malam-malam begini” runtutnya sebal.

“Darimana kau?” suara yang terdengar sengau tapi tajam itu selalu membuat daya kerja jantung Seul Ki berpacu dengan waktu, mengagetkan. Ia menjawab pertanyaan Sungmin dengan nada rendah “Aku mencari obat maag, untung saja di dekat sini ada minimarket yang buka 24 jam”

“Kau tidak makan tadi siang?”

“Eh?”

“Aku tanya kau makan apa tadi siang? Apa perlu kuulangi beberapa kali lagi?”

Seul Ki tersenyum bodoh mendengar pertanyaan Sungmin kali ini. dia berpikir itu merupakan salah satu perhatian sungmin yang ditujukan padanya. Entah kenapa perasaannya menjadi sedikit lebih baik, mungkin mulai saat ini Sungmin dapat menjadi alternatif selain obat yang ia beli. Mereka berdua beranjak menuju lantai dua. Kamar keduanya memang bersebelahan namun kamar Sungmin langsung menghadap ke luar balkon dengan dapur pribadi di sampingnya.

“Jangan berpikir aku memberi perhatian padamu, aku hanya tidak ingin kau sampai masuk rumah sakit dan membuat kami kerepotan”

“Tadi terdengar sangat manis, tapi kenapa sekarang menyayat hati..omoo kapan kau akan bersikap lebih baik padaku?” batin Seul Ki.

“Hsshh.. Au” Seul Ki kembali meringis, dia terduduk menahan lambungnya yang semakin sakit. Sungmin mendesah pelan sebelum akhirnya ia pergi ke arah dapur dan kembali membawakannya segelas air hangat.

“Cepat minum” pintanya. Seul Ki segera menenggak hingga tak tersisa. Seul Ki hanya bisa terduduk di dalam kamarnya sembari memijit perutnya yang terasa melilit.

“Appayeo..” ringisnya lagi dengan memasang tampang ingin dikasihani di depan Sungmin. Alhasil ia tidak tega melihatnya, Sungmin sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sungmin pasrah terhadap keadaan, dimana waktu akan membuat mereka bersama seperti saat ini meski bukanlah ini yang ia inginkan.

“Biasanya abeoji akann mengusap perutku saat maagku kambuh..”

“Mwo? Kau ingin aku melakukannnya?”

“Anii.. tapi perutku tidak akan sembuh jika tidak seperi itu”

“Haissh.. tapi aku ini seorang pria”

“Ayahku juga seorang pria”

Sungmin akhirnya mengalah, permintaan Seul Ki tidak bisa ia tolak. Perasaan tidak tega ini mengalahkan rasa bencinya. Bukan benci, Sungmin sendiri tidak bisa mengartikan rasa benci seperti apa yang terjadi padanya, karena setiap kali gadis ini bersikap abnormal dan bahkan membuatnya simpati, walaupun hanya sedikit tapi Sungmin bisa menarik bibirnya untuk tersenyum.

“Cepat berbaring..” Ucapnya samar dengan nada tegas.

Seul Ki menurut, perlahan ia membaringkan tubuhnya di atas kasur lantai yang berada dalam kamar. Sungmin menarik nafas berat tanpa memandang gadis itu sedikitpun, berharap jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Beberapa kali ia mengusap wajahnya gugup, tapi lain halnya dengan Seul Ki, tanpa ada rasa curiga Seul Ki menikmati gosokan tangan Sungmin di perutnya hingga ia merasa sedikit lebih baik.

“Walaupun usapanmu agak kasar, tapi ini benar-benar berfungsi..”

“Diamlah.. lebih baik kau pejamkan matamu dan tidur”

“Ne..”

Sungmin terus menggerakan tangannya dengan lembut, namun Seul Ki masih belum bisa terpejam sempurna ia teringat kesalahan yang telah ia perbuat. Seul Ki bahkan belum sempat memohon maaf pada Sungmin dari lubuk hatinya yang terdalam.

“Jeosonghamnida..”

Sungmin berhenti, ia yang sejak tadi tidak mau melihat wajah gadis itu akhirnya menoleh dan mendapati Seul Ki yang sedang berurai air mata, terisak.

“Waeyo?” tanya Sungmin bingung.

“Karena aku sudah membohongimu, jeongmal mianhe.. tidak ada maksud apapun yang tersirat dalam benakku, jika waktunya sudah tepat aku pasti akan pergi menemui appa dan menjelaskan semuanya..”

“Sudahlah, itu masalahmu aku tidak mau ikut campur terlalu jauh”

“Aniyeo, kau yang meminta aku menjelaskan alasan yang mendasar bukan? Jadi aku hanya bisa mengatakan yang perlu aku sampaikan padamu..”

“Keuraesseo, jika itu maumu maka aku akan mendengarkannya”

“Aku ingin membuatnya bahagia, itulah alasan kenapa aku berpura-pura berada di Los Angeles. Appa sangat memercayaiku, tapi aku sudah melunturkan harapannya. Maka dari itu, aku berada disini untuk berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan, aku ingin membuat prestasi yang bisa ia banggakan tapi aku juga senang melakukannya. Tidak ada niatan untuk putus belajar, aku berjanji akan melanjutkan studiku tapi menurut bidang dan bakat yang mungkin aku kuasai..”

“Lalu kenapa kau pergi ke daegu bukan ke tempat lain?”

“Itu, emm.. entahlah langkahku yang membawaku ke Daegu hingga akhirnya aku bertemu dengan keluarga Lee yang hebat ini..”

“Mwo? Hebat?”

“Ne.. kalian itu sangat baik padaku, dan itu mungkin sudah ditakdirkan oleh Tuhan bahwa aku akan bertemu dengan kalian. Sekalipun jika aku pergi ke tempat lain, kita pasti akan tetap dipertemukan dikeadaan bukan seperti ini..”

“Jika kau tidak membungkam mulutmu dan tidur, kapan aku bisa pergi ke kamarku huh?”

“Ah.. Mianhae, kau tenang saja cepat atau lambat aku pasti akan segera pergi dari tempat ini, jadi aku harap kau dapat memaklumi seluruh perbuatanku yang pernah membuatmu sibuk”

Seul Ki memiringkan tubuhnya memunggungi Sungmin. Air mata kembali menetes dari pelupuk matanya, tanpa Sungmin ketahui gadis itu menangis dalam keheningan malam. Sungmin bangkit, memandang sosoknya sekilas lalu berbalik pergi dari tempat itu. Perasaannya sedikit aneh ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Seul Ki. Dia tak dapat mengartikan itu, benci bagaimana mungkin dia bisa membenci gadis polos ini? Simpati, yah mungkin kata itulah yang cocok ia sandang sebagai perasaannya terhadap Han Seul Ki.

***

“Hyuung!!! Cepat buka pintunya? Kau tidak merindukanku setelah dua hari kita tidak bertemu huh?”

“Ckrekk!!” Myung Ji membuka pintu utama rumahnya, Ryeowook terkejut ia pikir tidak ada siapapun di kediaman Lee selain Sungmin dan Seul Ki karena biasanya saat hari libur seperti ini mereka akan pergi untuk berumpul bersama keluarga di Busan.

“Ah anyeonghaseyo ahjumma, jeosonghamnida aku pikir dirumah hanya ada Sungmin dan Seul Ki” Ryeowook membungkuk penuh penyesalan dengan memukul kecil kepalanya sesekali.

“Ahaha gwaenchanayo, aku sudah sering mendengarmu berteriak seperti ini.. kaja kita sedang sarapan bersama, aku akan menyiapkanmu sup udang madu”

“Kamsahamnida ahjumma..”

Semuanya terpaku pada sosok yang baru saja datang dan turut serta mengisi pagi hari keluarga Lee. Seul Ki mengembangkan senyumnya saat melihat Ryeowook yang tengah berdiri sambil menyapa sopan dan mengambil posisi untuk ikut bergabung.

“Pagi hari di musim dingin..” ucapnya sumringah. Seul Ki meletakkan mangkuk makan yang sedari tadi dipegangnya, ia mengambilkan kimchi dan menambahkannya pada mangkuk makan Ryeowook.

“Oppa kau harus makan banyak agar kau bersemangat hari ini”

“Han Seul Ki-ssi kau memang gadis baik” Myung Ji menautkan kedua tangannya, memandang dengan tatapan haru.

“Eomma, tidak usah berlebihan” Sela Sungmin terdengar sedikit galak, jika keadaannya seperti ini yang lain lebih memilih diam termasuk Myung Ji sendiri.

“Hyung apa kau tidak bertemu dengan Il Sook Kemarin?” Hanya Ryeowooklah yang berani memecah keadaan. Karena pekataan tiba tibanya itu, sekarang semua orang menjadikan Ryeowook sebagai pusat perhatian.

“Mwoeyo?” tanya Myung Ji dengan penuh rasa penasaran.

Sungmin menghentak mangkuknya dengan sumpit kayu yang kerap ia pegang, yah ia kembali teringat pada kejadian kemarin saat Il Sook berpapasan dengannya  yang tampak kebahagiaan diwajah Il Sook tapi tidak ada respon positif yang ditunjukan oleh Sungmin. Pada dasarnya Sungmin hanya tidak ingin melukai hati gadis itu, tapi apa daya dia sendiri bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada Il Sook yang sangat menumpu harapannya pada seorang Lee Sungmin. Bukanlah sebuah perkara mudah saat hati seseorang tidak mampu digubah dengan daya dan upaya apapun karena hanya bisa merasakan sebuah perasaan itu pada satu orang saja, itulah yang dialami oleh Sungmin. Kekasihnya yang telah lama meninggal mampu mengubah kepribadian sungmin 90 derajat, berbeda dari sebelumnya. Berhati dingin, kehilangan sebuah senyuman dan keras kepala tapi mungkin itu lebih baik dibandingkan jika ia harus ikut pergi menyusul gadis yang sangat dicintainya itu.

“Aku rasa aku harus pergi sekarang” Sungmin bangkit dari duduknya, mengakhiri pertanyaan Ryeowook yang bahkan belum ia jawab.

“Ya Hyung.. kau mau kemana?”

“Sungmin-ah ku belum menghabikan makanannya”

Seul Ki memainkan bola matanya, menyusuri satu persatu makanan yang tersaji di atas meja.

“Biar aku yang menghabiskannya” ucapnya asal.

***

-Rumah Duka, Kangnam-gu-

3 orang itu berdiri sejajar di depan sebuah makam kawasan gangnam. Seok Ha tertunduk lesu di hadapan mendiang sang Istri. Semuanya memakai pakaian seragam dengan warna gelap. Lebih dari 7 tahun wanita itu pergi dari sisi Seok Ha tapi perasaan cinta yang mendalam masih belum bisa ia hapus. Nisan yang tertutupi oleh sedikit salju coba ia bersihkan. Rasanya memang sangat sulit untuk melupakan semua kenangan mereka begitu saja.

“Sayang, aku yakin kau pasti dalam damai disana, mianhae aku tidak datang bersamanya, Han Seul Ki, dia sedang belajar merajut masa depannya. Kau pasti senang kan melihat putri kita tumbuh menjadi gadis yang baik dan pintar? Aku rasa itulah harapanmu saat kau masih hidup dulu.. Seul Jang, dia juga tumbuh menjadi pria tampan.. “ Seok Ha bangkit “aku tidak bisa berlama-lama disini” ia mulai beridiri, melepas kacamata bulat yang sejak tadi melingkar diwajahnya. Ia mengeluarkan sapu tangan putih dari saku jasnya dan mengusap matanya dengan benda itu. Seok Ha selalu tidak bisa menahan tangiis jika harus mengingat sang istri. Rasanya terlalu cepat kebahagiaannya saat bersama sang istri harus berhenti begitu saja. Tidak ada yang bisa disalahkan, sekali lagi hanya kelapangan dada yang seharusnya dilakukan.

“Tuan..” manajer jung bersiap menyangga tubuh Seok Ha yang sedang berusaha berdiri.

“Ani.. nan gwaenchanayo” Seok Ha memberi sinyal agar Jung tidak usah mengkhawatirkannya.

Dalam perjalanan menuju perusahaan Ia memandangi layar i-phone miliknya, mencari kontak yang akan coba ia hubungi. I-phone itu kini menempel di telinga sebelah kiri, dengan raut menunggu ia tanpa hentinya bergumam.

“Yoboseyo?”

Panggilannya di jawab, tapi janggal karena yang ia dengar malah suara seorang pria.

“Nuguseyo?” Seok Ha bertanya panik, ia takut jikalau ada hal buruk yang menimpa Seul Ki.

“Annyeong, apa kau ayah dari pemilik ponsel ini?”

“Mwo? Siapa yang kau maksud pemilik ponsel ini, kenapa ponsel putriku bisa ada ditanganmu? Apa yang kau lakukan padanya?”

“Jeosonghamnida ahjussi, tapi semalam dia meninggalkan ponselnya aku memutuskan untuk membawa onselm ini, aku berjanji akan mengembalikannya jika aku bertemu egan putrimu nanti”

“Chakkaman, apa kau orang korea? Kau berkenalan dengan putriku di los angeles?”

Minhyuk menautkan sebelah alisnya, bibirnya tersungging menahan tawa dengan sebelah tangan yang di kepal diatas keningnya. Pintu diruang kerja itu terbuka, Minhyuk menahan seorang pria saat akan menjelaskan perihal lembaran berkas yang haru ia periksa.

“Jeosonghamnida ahjussi, tapi ini korea bukan los angeles”

Kedua mata pria paruh baya itu membuka lebar, perasaannya berkecamuk antara ketidakpercayaan dan amarah yang mulai memuncak. Dadanya terasa sesak mendengar berita mengagetakan yang keluar langsung dari mulut Minhyuk. Seok Ha terus bertanya untuk memastikan perkataan Minhyuk yang seharusnya dipertanggung jawabkan.

“Korea?”

“Ne Korea, apa perlu aku menyingkatnya tuan?”

“Aku ingin bertemu denganmu untuk memastikan semua kebenarannya”

“Jamku kosong siang ini, lagipula aku merasa tidak enak jika benda milik orng lain berada ditanganku”

“Geuraesseo, dimana kita bsa beremu?”

“bisakah Ahjussi sebutkan dimana kau berada sekarang?”

“Aku sedang di daerah Kangnam-gu, dan sekarang menuju Gwaencheol-dong”

“Aku ada pertemuan di wonju siang nanti, apa ahjussi tidak merasa keberatan jika kita bertemu disana?”

“Tentu saja tidak, baiklah aku akan ke tempat itu siang nanti..”

“Keuraesimnida..”

-Grand Hotel Daegu, 12th Floor-

Minhyuk mengamati ponsel berwarna biru itu, sepertinya ia pernah melihat ponsel yang sama sebelumnya. Minhyuk membuka sedikit nalurinya untuk mencaritahu dan mencoba menelisik siapa itu, sepengetahuannya ia pernah melihat ponsel dengan bentuk yang sama persis seperti ini di rumah sakit saat ia dan ayahnya menjenguk Han Seok Ha.

“Ya benar, bukankah itu milik Seul Jang? Omo.. apa Han Seul Ki yang ia maksud gadis misterius itu?”

Dengan gerak cepat Minhyuk langsung meraih jasnya yang tersampir di bahu bangku kebesarannya, perjalanan dari daegu menuju wonju membutuhkan waktu sekitar 3 jam.

“Bukankah gadis itu sedang melanjutkan studinya di amerika, lantas motif apa yang membuatnya terus berada di korea? Apa dia mengetahui perihal perjodohanku dengannya? Aissh tidak bisa kupercaya, wanita aneh itu adalah calon tunanganku? Aku berharap ini tidak benar” pikirnya dengan mata yang tertuju pada satu arah, pintu utama dari daegu hotel.

***

-#53-4 Yonggye-ri, Gachang-myeon, Dalseong-gun, Daegu-

“kenapa Dia terlihat sangat tampan ketika sedang memasak seperti itu?” Batin Seul Ki dengan tatapan yang masih ia palingkan pada sosok Sungmin yang berada di dapur sebuah rumah makan berada di dalseong-gun, daegu. Ini adalah kerja paruh waktunya, dan saatnya ia mulai kembali setelah tugasnya di hotel daegu usai.

“Aku malu sebagai seorang wanita tapi tidak bisa memasak..fyuh!” gumamnya kemudian pergi meninggalkan tempat dimana ia dapat mengawasi Sungmin yang sedang melaksanakan semua pekerjaannya. Ryeowook muncul tiba-tiba di samping Seul Ki, ia mengetahui apa yang dilakukan gadis itu di tempat ini.

“Ck apa yang kau lakukan disini?”

Seul Ki terlonjak mendengar suara nyaring yang berasal dari pita suaranya, belum sempat ia menghindar Ryeowook lantas menimpali dengan kalimatnya yang lain.

“Jangan bilang kalau kau juga menyukai Hyung? Aigoo.. pesona apa yang dia miliki sehingga bisa memikat hati para gadis, aku benar-benar iri padanya..”

“A..aniiya.. aku hanya penasaran apa yang akan ia lakukan di hari libur seperti ini, wajahnya tidak terlihat bersemangat tapi kurasa dia dapat melakukannya dengan baik”

“Dia itu seorang professional jadi kau jangan pernah ragukan kemampuannya..” Ryeowook memasukan lengan ke saku sebelah kanan celana yang ia kenakan. Selang beberapa detik, ia langsung memandang Seul Ki yang berdiri di sampingnya dan menanyakan sesuatu “Lalu sekarang kau akan pergi kemana?”

Seul Ki tak menjawab, ia hanya memberikan respon dengan menggaruk kepala disertai ekspresi bodoh yang terkembang.

“Aish daripada kita harus berlama-lama disini tanpa jelas apa yang akan kita lakukan bagaimana jika aku mengajakmu berkeliling kota daegu, mungkin akan lebih menyenangkan?” Ryeowook langsung menimpali dengan mengangkat sebelah alisnya, menunggu kata setuju dari Seul Ki yang terlihat sedang berpikir keras menimbang sebuah keputusan pasti.

“Apa kau merasa keberatan?” belum sempat gadis itu menjawab, ia sudah harus meluncurkan pertanyaan lain. Tanpa ada kata yang keluar, Seul Ki hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Ryeowook.

“Baiklah.. darimana kita akan mulai?” Ryeowook mengangkat tangannya di udara, membangun sebuah semangat. Wajah yang Seul Ki tunjukan sangat datar, tapi Ryeowook berhasil merubah wajahnya dengan tingkah yang membuat Seul Ki merasa gembira.

***

-Namgu Street-

TRRRRTTTT..

Minhyuk mengerem mobilnya tiba-tiba. Ia memutar kendali stirnya hingga mobil yang saat ini ia kendarai berubah haluan. Pikirannya mulai menerawang, dengan batin yang terus berbicara memberikannya dua pilihan.

“Sepertinya ini akan menjadi sebuah kesempatan bagus untukku” Alisnya saling bertautan, perkataannya barusan seolah mengandung arti yang teramat penting baginya. Kang Minhyuk, ia mendapatkan sebuah inisiatif yang dirasanya cukup menyenangkan.

“Han Seul Ki-ssi ini akan menjadi kehidupan yang sulit untukmu” gumamnya dengan senyuman penuh arti. Tangannya bergerak mnelusup ke dalam dashboard mobil yang masih tetap pada posisi tepat bagaimana dia menghentikannya.

“Algetda..” dengan penuh rasa penasaran Minhyuk kembali memainkan ponsel biru tua itu. Ia menelusuri satu persatu folder yang ada didalamnya, matanya menyipit saat melihat galeri foto-foto Seul Ki bersama keluarganya, dan juga foto kedua orang dengan bayi wanita berusia 23 bulan dipangkuannya. Foto itu persis seperti figura yang dilihatnya di kediaman tuan Han beberapa waktu lalu.

“Jadi dia benar anak dari tuan Han? Lalu apa maksudnya bersembunyi di daegu dan membohongi ayahnya? Kau memang gadis aneh, dari awal aku melihatmu entah kenapa aku terus dihantui rasa penasaran, rupanya ini? aissh..”

Pertemuan itu dibatalkan, dengan alasan tertentu Minhyuk lebih memilih kembali ke hotel dan memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

***

Seok Ha termenung di ruang kerja megah dimana ia duduk sekarang. Sejam yang lalu Minhyuk menghubunginya dengan sebuah pernyataan yang membuat Seokk Ha bertambah penasaran. Pria itu memutuskan untuk membatalkan pertemuan yang Seok Ha ajukan. Seok Ha sendiri belum tahu siapa pria pemegang ponsel milik putri kesayangannya.  Konsentrasinya kini terbagi-bagi, pikiran Seok Ha sangat kacau sebelum ia mengetahui yang sebenarnya.

“Gwaenchanayo?” Manajer Jung kembali dari sebuah tempat diruangan Seok Ha, ia terlihat membawakan segelas teh dengan asap yang masih mengepul.

“Apa kau pikir Seul Ki putriku sebenarnya ada di korea?” Seok Ha membetulkan posisinya yang sejak tadi bersandar pada kepala bangku yang ia duduki. Pria setengah baya itu masih belum bisa memercayai perkataan lelaki yang identitasnya masih menjadi tanda tanya bagi Seok Ha.

“Aku rasa pikiran anda akan menjadi lebih segar setelah meminumnya” Manajer Jung terus menyodorkan teh yang berada dalam cangkir putih dan sejak tadi ia letakkan di meja kerja Seok Ha. Tuan Han, pemilik bisnis terbesar di perusahaan furniture ini tampak begitu panik, ia tak bisa mengendalikan emosinya sendiri hanya karena ucapan yang belum tentu dapat ditinjau kebenarannya.

“Apa aku terlalu memaksa putriku hingga dia berani melakukan hal gila seperti ini? Aku harus menemukannya Jung” Seok Ha bangkit dari duduknya, dengan raut gelisah dan penuh ambisi. Manajer jung hanya tersenyum bijak dengan beberapa kata yang ia keluarkan dan membuat Seok Ha mengurungkan niatnya semula.

“Jika memang benar Putri anda masih berada di korea maka satu-satunya alasan dia bersembunyi adalah agar tidak bertemu dengan anda, dengan begitu ia bisa bebas memilih jalannya sendiri, anda harus yakin bahwa jika saatnya sudah tepat dia pasti akan memberitahukannya..”

“Aku melihat sebuket mawar putih di makam Ji Young, keyakinanku semakin bertambah setelah melihat itu.. Han Seul Ki” Seok Ha memutar pandangannya dan mengajukan  pertanyaan lain pada Manajer Jung.

“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

“Karena aku juga memiliki seorang puteri”

Hubungan kedua orang ini sudah seperti kerabat yang sangat dekat, tidak hanya itu mereka malah terlihat lebih seperti seorang kakak dan adik. Seok Ha begitu memercayai Manajer Jung, hanya dialah satu-satunya orang yang sangat setia pada keluarga Han hingga saat ini maka bukanlah hal mustahil jika kedua rang ini sering mengungkapkan keluh kesah mereka sekalipun itu adalah hal yang paling pribadi.

***

-Jung-gu, Daegu-

Ryeowook memainkan ayunan di taman tepat dimana ia dan Seul Ki menghabiskan waktu bersama. Sebelum keesokan hari ia harus aktif dalam jadwal perkuliahan lagi, Ryeowook memutuskan untuk sekedar bersantai setelah magang 3 minggu di Grand Hotel Daegu.

“Apa yang akan kau ceritakan tentang Sungmin Oppa?”

Ryeowook menghentikan gerakannya, menoleh ke arah Seul Ki dengan sebelah alis yang terangkat.

“Ck Itu terdengar sangat menggelikan Han Seul Ki-ssi, Oppa? Dia pasti sangat frustasi mendengarmu memanggilnya dengan sebutan oppa apalagi diselingi oleh ekspresi wajahmu yang membuat perutku melilit” balasnya setengah terkikik. Seul Ki geram, merasa tidak terima mendengar Ryeowook meledeknya seperti itu.

“Yak.. aku hanya berusaha memanggilnya dengan sapaan sopan, kau tidak sadar bagaimana responnya ketika aku memanggil Sungmin-ssi, sepertinya panci ramyeon itu siap ia layangkan di wajahku”

“Ahahaha.. keurae” ia kembali memegang perutnya, menahan gelak tawa saat sebuah bayangan Sungmin hinggap di pikirannya. “lalu bagaimana kehidupanmu di keluarga Lee?”

“Pada dasarnya yang menjadi masalahku sejak awal hanya dia”

Mereka sekarang berhenti mengayun, sementara itu Ryeowook duduk dengan wajah menghadap Seul Ki seolah ingin menyampaikan sebuah narasi penting. Ia berdeham sejenak, dengan penuh rasa kehati-hatian Ryeowook mengawali perkataan yang sudah sejak tadi ingin diungkapkan.

“Han Seul Ki-ssi?”

Seul Ki merasa sedikit tidak nyaman melihat tampang serius yang ditunjukan Ryeowook padanya. Tidak seperti Ryeowook biasa, dia menjelma menjadi seorang pria dewasa saat menatap tajam dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.

“Apa benar kau anak dari Han Seok Ha?”

Kedua mata gadis itu membesar, mulutnya tak bisa ia katupkan. Semua perasaan bercampur menjadi satu sehingga membuat tenggorokannya tercekat seketika.

“M..Mwo? apa aku terlihat seperti orang ber-uang?” elaknya mencari alasan.

“Aku bertanya serius, jika memang seperti itu kenyataannya maka aku akan mengisolasimu dan meminta bayaran pada appamu yang kaya raya, kemudian uangnya akan aku gunakan untuk membangun kembali restoran milik keluarga Lee agar Hyung tidak lagi bekerja keras seperti ini..”

“Jadi semua yang dia lakukan hanya untuk membuka restoran itu? apa pengaruhnya sangat kuat untuk kehidupan keluarga Lee?” tanpa memandang Ryeowook, Seul Ki mengajukan sebuah pertanyaan dengan nada santai. Sementara itu tangannya sibuk membuka minuman kaleng yang baru saja ia beli.

“Restoran itu adalah aset yang sangat berharga, hingga saat ini mereka belum mengetahui atas dasar apa restoran itu ditutup. Aku hanya bisa menyimpulkan ketidaksukaan mereka terhadap mie juga berawal dari insiden tersebut, entahlah tapi aku sangat ingin membantu Sungmin Hyung, sekalipun aku harus mengorbankan hidupku untuknya”

“Mbuhuk..uhuk” Seul Ki menyemburkan minuman kaleng yang baru saja ia seruput. Ryeowook terkejut, reflek ia menepuk punggung Sel Ki dengan sekuat tenaga.

“Gwaenchanayo Seul Ki-ya?”

“Appo..” rintih Seul Ki menyingkirkan tangan Ryeowook yang terus menepuk punggungnya. Jantungnya seolah melompat mendengar pernyataan mencengangkan yang keluar dari mulut kecil Kim Ryeowook. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan konyol  sekaligus dugaan yang tidak bisa dinalarkan.

“N..neo, apa kau benar-benar menyukai Lee Sungmin?”

“MWO????”

PLEtaakk..

Tak pelak Ryeowook pun melesatkan sebuah jitakan hebat di kening Seul Ki. Ia sama sekali tidak menyangka perkataan yang diungkapkannya menimbulkan persepsi lain di pikiran gadis ini.

“YAK!! APPAYO!!”

“Kau itu memang sangat bodoh, aissh.. kali ini aku berkeyakinan besar bahwa kau bukanlah putri dari Han Seok Ha..”

“Terserah kau saja aku tidak peduli..” jawabnya emosi sembari mengusap-usap puncak kepalanya yang baru saja didaratkan sebuah hantaman dari tangan ryowook.

“Pantas saja Hyung begitu membencimu, aigoo..”

“Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan lebih baik aku pergi Kim Ryeowook-ssi, aku akan membeli jajangmyun dengan saus hitamnya atau mungkin lebih baik Ramyeon kuah kaldu kental dengan potongan daging sapi dan..” Layaknya bocah, Seul Ki terus mengoceh dengan gusar karena rasa kesalnya atas perlakuan Ryeowook barusan. Namun saat ia bangkit Seul Ki mengurungkan niatnya saat sadar tidak ada sedikitpun uang yang tersisa di dalam dompet.

“Aniyeo.. tidak ada yang bisa kulakukan tanpa uang” keluhnya kemudian. Ryeowook tersenyum mengamati tingkah menggemaskan gadis di depannya. Seul Ki kembali mengambil posisi dengan duduk di ayunan.

“Kau sudah mengucapkan selamat pada Hyung?”

“Ah.. aku lupa, hari ini ulang tahunnya bukan? Hem sebenarnya aku ingin membuatkan sup rumput laut untuk Hyung-mu tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana cara memasaknya..”

“Keahlianmu memang bukan di bidang memasak..aissh memalukan”

“Aku akan membeli sup rumput laut instan saja untuknya, tidak masalah kan?”

“Tentu saja, akan sangat bermasalah jika sup rumput laut itu kau buat sendiri, hyung akan mendapatkan celaka di hari spesialnya.”

“NE.. kau benar”

“Tolong beri perhatian lebih padanya” Suara ryeowook terdengar sangat meminta. Seul Ki terkesiap, saat memandang wajah pria di sampingnya kilas.

“Waeyo?”

“Aku hanya ingin melihat Hyung yang dulu. Itulah yang membuatku bertingkah konyol di hadapannya. Kau memiliki rentang waktu yang cukup banyak untuk bertemu dengannya, ya mungkin dengan begitu kalian bisa lebih dekat dari ini”

“kenapa harus aku?”

“Karena aku berpikir kau itu gadis baik dan tidak akan mencampakan Hyung, selain Il Sook kau memiliki kesamaan dengannya, meskipun ada perbedaan disisi lain” keduanya intens dalam obrolan serius mereka. Seul Ki mengalihkan pandangannya pada tanah yang ia injak. Ia lantas berpikir keras, apa pantas gadis sepertinya menjadi seseorang yang dapat dipercaya. Kim Ryeowook, dia memang benar sahabat sejati Sungmin, berbagai usaha dilakukan demi kebahagiaan orang yang sudah ia anggap sebagai Hyungnya sendiri.

***

-123-3 Dongin-ga, Jung-gu, Daegu, Lee’s Family House-

“Ting Tong”

Hyebin berjalan dengan mantel birnya untuk melangkah ke pintu utama dan melihat siapa yang menekan bel di luar rumah.

“Ckrekk..” Pintu terbuka. Tampak seorang pria dengan senyum yang membuat matanya hanya terlihat seperti sebuah garis berdiri di depan pintu. Hye Bin memandangnya sejenak dengan kepala yang ia telengkan ke belakang.

“Mwoeyo?”

“Anyeonghaseyo, Kang Minhyuk Imnida bangapseumnida” ucapnya sambil menunduk sopan. Myung Ji muncul dari balik celah pntu yang saat ini masih terbuka. Mtnya tak berhent berkedip melihat pria yang belum pernah ia emui berdiri diambang pintu.

“Mwoeyo?” tanyanya penasaran. Minhyuk membungkuk lalu menyapa dengan sopan.

“Annyeonghaseyo Kang Minhyuk imnida”

Myung Ji dan Hye Bin saling bertukar pandang. Akhirnya merka megijinkan pria ini masuk ke kediamannya yang terkesan tertutup ini karena rumahnya dibatasi oleh tembok besar dari rumah tetangga lainnya. Rumah ini terpisah dari rumah di distrik daegu lainnya, menjadi perbatasan antara komplek satu dengan komplek sebelahnya.

-#53-4 Yonggye-ri, Gachang-myeon, Dalseong-gun, Daegu-

“Lee Sungmin-ssi” seorang pria menghampiri Sungmin yang masih sibuk menyusun menu di dapur cafe tempatnya bekerja.

“Ne?” jawabnya dengan sopan dan tangan berlumuran cokelat.

“Mm.. apa kau memiliki banyak waktu?”

“Sepertinya bulan in aku tidak memiliki banyak kesibukan”

“Minggu depan aku dan istriku, kami akan merayakan anniversarry dan aku sangat berharap kau bisa menjadi dekorator dari perayaan ini, ottaeyo?”

Sungmin mengangguk paham. Baginya sebuah penawaran seperti ini hal yang paling penting untuk membuka karirnya sehingga dirinya dapat diakui sebagai seorang  dengan  bakat yang dapat diandalkan.

“Aku rasa aku bisa melakukannya..” jawabnya pasti. Pria pemilik kafe ini menepuk pundaknya bersahabat, dan tertawa bijak mendengar pernyataan Sungmin.

“Aku mempercayakan semuanya padamu..”

“Ah kamsahamnida..”

***

Sesekali Seul Ki mengetukkan kakinya ke atas tempat dimana ia berpijak sekarang, dengan mantel tebal dan tangan yang ia lipat Seul Ki terus bergumam menahan sore hari yang mulai semakin dingin. Ia lirik cafe di jarak 10 meter dari tempatnya berdiri dengan wajah masam, berharap Sungmin cepat keluar dari tempat itu dan pulang bersamanya.

“Bagaimanapun juga aku harus bisa merubahmu Lee Sungmin-ssi” ia memetik satu persatu tanaman merambat di sisi pagar pembatas restauran.

“Neo, sedang apa?”

Suara itu membuatnya sedikit tersentak, dengan mata masih tidak ingin menangkap sosok yang baru saja bercakap dengannya Seul Ki memilih untuk diam dan menjawab pertanyaan pria itu dengan menundukan kepala.

“Aku em..” seakan kehabisan kata-kata, Seul Ki memainkan jemarinya jengah.

“Wae?” tanya Sungmin kemudian. Dia tak mau ambil pusing, malah memutuskan untuk berjalan di depan gadis itu dengan langkah cepat. Sungmin tidak ingin diikuti lagi, sudah terlalu lelah rasanya jika harus terus bersama dengan gadis bernama Han Seul Ki.

“Ya.. Sungmin-ssi” pekik Seul Ki dengan tangan terangkat, namun tidak membuat pria itu berhenti melangkah. Seul Ki memandang punggung itu dengan gusar seraya berujar “PRIA ANEH” pikirnya.

Seul Ki berjalan dengan bungkusan besar yang ia bawa di tangan kanannya, tampangnya sangat ragu untuk mengucapkan sebuah kata yang telah bergulir di pikirannya.

“Apalagi yang kau inginkan huh? Apa kau tidak lelah setiap hari hanya menguntit di belakangku? Kenapa kau tidak mencari aktifitas yang bermanfaat selain mengikutiku, kau hanya penyewa rumahku jadi jangan lagi mencampuri urusanku, arasseo?” Sungmin terus berbicara dengan tubuh membelakangi Seul Ki. Memang yang dikatakan Sungmin ada benarnya, mengikuti pria ini memang tidak ada gunanya.

“Aku sendiri bingung kenapa bisa seperti ini, sementara saat aku melihatmu hasratku untuk terus bersamamu lebih kuat dari apapun.. sejujurnya aku sangat ingin merubah sikap dinginmu Lee Sungmin, apalagi setelah aku mendengar Ryeowook berkata seperti itu padaku..hmm” Seul Ki menunduk dengan batin yang terus bergumam. Rambutnya terjuntai ringan, saat ditiup oleh semilir angin musim dingin membuatnya tergoyang beraturan. Sungmin melihatnya, sisi wajah Seul Ki yang sebelumnya ditutupi rambut itu tersibak dan membuat kontur pipinya terlihat dengan jelas. Hingga akhirnya Sungmin tersadar dan menghilangkan pemikiran aneh yang sempat hinggap dibenaknya.

“Saengil Chukae..” ujar Seul Ki lembut nyaris tidak terdengar. Sungmin beralih memandang gadis yang masih tertunduk di sebelahnya. Ia kembali memastikan ucapan yang baru saja ia ungkapkan.

“MWO?”

Wajahnya terangkat, Seul Ki tahu pasti seperti ini reaksinya. Bahkan untuk mengucapkan kata ‘Saengil Chukhae’ saja ia harus mengumpulkan seluruh tenaganya. Terlalu sulit jika harus berbicara dengan manusia sedingin Lee Sungmin.

“Aku tidak bisa memberikan apapun.. ini” Ia menyerahkan bungkusan yang sejak tadi dibawanya. Sungmin mengamati isi dari bungkusan itu dengan tampang bingung.

“Ige Mwoya?” tanyanya tidak paham. Beberapa kali Seul Ki terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu mengartikan untuk apa ia memberikan sesuatu yang ada di dalam bungkusan itu. beberapa bahan makanan yang digunakan untuk membuat sup rumput laut, makanan spesial yang identik dengan hari ulang tahun seseorang di korea.

“Aku tidak bisa memasaknya, daripada kau keracunan jadi lebih baik aku memberi bahan mentah dan… kau saja yang memasaknya”

“Heh.. MWO?”

***

-123-3 Dongin-ga, Jung-gu, Daegu, Lee’s Family House-

“Annyeonghaseyo..” Kedua orang itu melepas sandalnya, keluarga Lee yang tengah berkumpul di ruang utama memandang mereka berdua dengan raut berbinar.

“Annyeong..” seorang pria, Kang Minhyuk menyambut kedatangan mereka dengan keramahan yang terasa dipaksa. Seul Ki terbelalak, mulutnya tak bisa menutup ketika menyadari keberadaan Minhyuk. Ia melihat pria itu tersenyum ke arahnya, tapi berbeda halnya dengan Seul Ki ia lebih memilih untuk menampakkan raut benci pada Minhyuk.

“Lee Sungmin-ssi, aku tidak bermaksud mengaitkan masalah hotel karena kedatanganku kesini, ada sangkut pautnya dengan wanita di sampingmu” Minhyuk menunjuk Seul Ki membuat gadis itu menggerakan jarinya melakukan hal yang sama menunjuk dirinya sendiri,

Sungmin mengangguk, dengan tampang tidak pedulinya dia mengedikkan kepala agar Seul Ki mau menuruti apa yang dimaksud oleh Kang Minhyuk.

“Nae..Ani Ani..” mereka berdua saling berbisik. Myung Ji bangun dari posisinya, menghampiri kedua orang ini dan memisahkan mereka berdua.

“Lebih baik kau pergi ke kamarmu” pintanya pada anak lakilakinya itu. Sungmin menurut, ia menoleh kilas pada Minhyuk yang masih setia duduk di tempat semula dengan senyum lebarnya. “Kamsahamnida Sungmin-ssi” nada suaranya cukup pelan tapi menekan. Sungmin membalas dengan mimik wajah dan nada yang serupa “Cheonmaneyo.. sajangnim”. Terdengar sedikit tidak sopan, meskipun Minhyuk memiliki usia jauh dibawahnya tapi ia adalah mantan Direktur sementara Sungmin di daegu hotel, hubungan kedua orang ini memang tidak begitu baik. Bukan bermusuhan, tapi mereka juga tidak berteman. Selama Sungmin di Daegu hotel ayah Minhyuk Kang Jungjin selalu memuji pria ini, itulah yang membuat Kang Minhyuk sebagai seorang anak merasa selalu dibandingkan terlebih ia tahu bahwa Sungmin hanya seorang pekerja bukan kakak laki lakinya.

“Apakah kita bisa bicara di luar, Agashi?” Seul ki melirik ke kiri dan ke kanan mengharap persetujuan dari paman Lee dan Bibi Lee serta Hyebin yang masih setia berada di sela-sela mereka. Dari raut wajahnya mereka terlihat membolehkan Seul Ki untuk menuruti permintaan Minhyuk.

***

Seul Ki sangat malas duduk berhadapan dengan pria ini, terbukti ia sama sekali tidak merespon saat Minhyuk membuka pembicaraan sepurta ponsel miliknya yang berada di tangan minhyuk saat ini. namun tanpa disangka pria itu tiba-tiba memanggil namanya.

“Han Seul Ki-ssi” ucapnya mantap, Seul Ki hanya terperangah tidak bisa dipercaya orang itu tahu identitasnya.

“MWO?” Nada suara gadis itu penuh keterkejutan namun Minhyuk hanya mengembangkan senyuman meremehkan. “Tidak kusangka pria tampaan dan berwibawa seperti Kang Minhyuk bisa dijodohkan dengan gadis tidak tahu aturan dan pembangkang sepertimu” ia mengibaskan tanganya dengan angkuh membuat Seul Ki mencibir dan menelisik apa arti dari ucapan pria yang saat ini berdiri dihadapannya.

“PERJODOHAN? BWOSUN MARIYA?”

“Aissh.. nona Han jangan bertingkah seolah kau tidak mengetahui apapun”

“Apa jangan-jangan, NEO??” Seul Ki menduga-duga, menurut prasangkanya Minhyuk pasti sudah mengetahui identitas asli dirinya. Minhyuk hanya tersenyum, seakan mengiyaikan pertanyaan yang belum ada artinya itu.

“Kau putri dari Han Seok Ha, jangan pernah mengelak jika aku memintamu melakukan apapun atau aku akan memberitahu tempat persembunyianmu pada ayahmu” tambahnya lagi, membuat gadis itu tidak bisa berkutik ataupun menyahuti ucapannya. Ia hanya bisa mematung saat Minhyuk menyerahkan ponsel biru tua miliknya.

“Keuraesseo, sepertinya aku sudah cukup, Han Seul Ki-ssi aku harap kau dapat ingat ucapanku tadi dan lagi aku sudah memasukan nomorku di kontak listmu jadi sewaktu-waktu aku pasti akan menelponmu, aratchi?”

Seul Ki tidak menjawabnya, ia tetap diam berpikir keras. Dalam nuraninya dia terus bertanya apa kehidupannya saat ini bukan sebuah mimpi, atau mungkin alur dalam drama. Ah tapi sepertinya itu semua salah, karena yang sebenarnya gadis yang menjadi pusat dari semua hal ini adalah Han Seul Ki.

“Ya itu aku..” gumamnya pasrah.

***

-Golgu University, Yuga-myeon, Dalseong-gun, Daegu-

Il Sook menunduk di depan sebuah kelas. Rambut bergelombangnya terjuntai indah menutupi wajah cantiknya, ia sedang menunggu seseorang. Berkali-kali Il Sook mengetukkan kakinya diatas lantai, wajahnya langsung terangkat ketika menyadari pantulan bayangan pria di hadapannya di lantai. Ia tersenyum sumringah, entahlah apa yang membuat ia menjadi gadis penuh pengharapan seperti ini. Il Sook paham, sebuah perasaan itu tidak bisa dipaksakan oleh karenanya ia akan bersabar menunggu hingga pria yang sangat dikaguminya membalas segenap perasaan Il Sook.

“Sungmin oppa, aku sangat senang melihatmu kembali ke tempat ini” ujarnya bersemangat. Namun ada guratan lain di wajah pria itu, tidak biasanya ia tersenyum lepas dihadapan Il Sook walaupun hanya sebuah senyum tipis, bahkan ini adalah kejadian untuk pertama kali setelah sekian lama gadis ini mencoba merubah sikap dingin Sungmin.

“Ne..” kalimat pendek yang ia luncurkan dari mulutnya sukses membuat Il Sook terpaku. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan berusaha terbangun dari mimpi indah ini, namun perkiraannya salah. Ini adalah sebuah kenyataan, yang bahkan sangat sulit untuk dipercaya.

“O..Oppa” dada Il Sook terasa dipenuhi oleh gundukan tanah, dia sangat bahagia dan ia tunjukkan dengan ekspresi gembira.

“Sungmin-ssi” kerabat Sungmin menyapanya dalam kelas dan membuat Sungmin meninggalkan Il Sook seorang diri. namun wanita itu masih belum bisa sadar sepenuhnya, berulang kali ia bahkan menepuk pipinya sendiri hingga akhirnya Ryeowook datang dan menghentikan pergerakan tangannya.

“YA APA YANG KAU LAKUKAN HUH?” Ryewook memegang tangan Il Sook, tidak ingin gadis itu terluka karena sikap bodohnya sendiri. Tanpa sadar Il Sook memeluk Ryeowook kilas, ia mlepaskan semua kebahagiaannya dengan cara menghambur dalam dekapan Ryeowook dan tentu saja perbuatannya itu membuat pria labil ini mematung. Bagaimanapun juga sebuah sikap dapat menimbulkan kekeliruan jika tidak diketahui apa alasan jelasnya seseorang melakukan itu.

“Neomu Joahaeyo..” Il Sook melepas pelukannya.

“Mwo?”

“Jeosonghamnida, ah.. bagaimana ini, oppa aku harus pergi ke kelas, annyeong” Il Sook membungkuk untuk pamit. Wajahnya terus berseri, tentunya perasaan dia terhadap Sungmin semakin bertambah karena peristiwa ini. Ryeowook tertunduk kaku, mulutnya tak bisa ia katupkan dengan pikiran yang menerka-nerka maksud dari sikap Il Sook yang ditunjukkan padanya. Memeluknya, dan lagi sebuah ungkapan yang pasti membuat pria manapun akan mengalami salah persepsi jika mendengarnya.

“Jadi selama ini kau itu menyukaiku? Bukan Hyung?”

Bibirnya tertarik membuat sebuah senyum simpul yang menyilaukan. Ryeowook sendiri tidak mengerti bagaimana bisa perasaannya membuncah bahagia seperti itu, namun dari hal yang terjadi dia bisa melapangkan hatinya tanpa harus dinaungi rasa bersalah, yah sudah terbukti bahwa Kim

Ryeowook merubah perasaan simpatinya menjadi perasaan pribadi.

“YA..”

“WAAAAAAA..”

“BUKK!!” Seul Ki tiba-tiba saja muncul dihadapannya, dan membuat Ryeowook yang sedang bersemi terlonjak hingga menabrak pintu kelas.

“Neo? Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?”

Gadis itu mengerling dengan senyuman anehnya. Ia melongok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Sungmin.

“Aku hanya ingin memastikan apa dia memakan bekal buatanku”

Ryeowook mengusap pundaknya, dengan raut bingung dan sedikit kikuk karena takut jika Seul Ki menanggapi sikapnya yang salah tingkah.

“Kau hampir saja membuatku mati berdiri, wajahmu itu sangat besar jika dilihat dari dekat ara!”

Kilahnya, berusaha mencairkan suasana yang membuat dia sendiri menjadi sedikit tegang.

“Ah mianheyo, tapi apa yang sedang kau lakukan tadi? Tersenyum sendiri, ck apa belajar di tempat ini membuatmu frustasi?”

“A..Aniyeyo, aku.. hanya senang saja bisa kembali belajar setelah 3 minggu magang dan itu membuatku sangat sangat bersemangat, keurae sepertinya aku harus masuk ke dalam kelas.. Han Seul Ki-ssi, jeosonghamnida  kau tidak dapat ikut bersamaku..aratchi?” Ryeowook berlalu dengan senyuman meledeknya, dan itu membuat Seul Ki sedikit merasa tersinggung. Bagaimanapun juga dia sangat ingin kembali mengenyam pendidikan namun hingga saat ini dia sendiri masih bimbang tempat apa yang cocok untuk murid yang tidak bisa mengenali bakat dalam dirinya sendiri.

“Mm..” Seul Ki terdiam dengan hidungnya yang mencoba mengendus sesuatu. Cuping hidungnya terangkat saat aroma lezat ia baui. Langkahnya bergerak begtu saja menelusuri koridor kampus, semakin ia cari bau itu semakin kuat. “daging asap” batinnya. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan ruangan , dilihatnya sekumpulan orang dengan seragam putih mengelilingi sebuah meja raksasa dalam kelas tersebut. Seorang pria berusia matang menjadi pusat di tengah-tengah mereka sedang menginterupsi, memberikan pengarahan dengan gesturenya yang khas.

“Jadi dalam pelajaran tata hidang kali ini kalian harus memerhatikan penamppilan dari  bahan yang kalian masak hingga menjadi makanan siap saji, daging asap sebutkan tata cara bagaimana membuat daging asap itu sendiri, menurut tradisi kita”

Pria itu diam menunggu jawaban dari mahasiswa yang sedang sibuk berpikir. Sementara di luar ruangan Seul Ki hanya menatap rendah mereka seolah jawaban semua itu sangat mudah ia temukan.

“Anak berusia 3 tahun pun sudah bisa memanggang daging diatas arang” dia mengetuk kedua jarinya di kaca jendela kelas. Kepalanya terngkat untuk mengamati papan nama kelas yang tercantum di atas pintu.

“Kelas memasak?” dia mengangguk paham.

“Seonsangnim” seorang pria mengangkat tangannya diudara bersiap menjawab pertanyaan dari guru yang sangat ia hormati itu. Seul Ki memasang kedua bola matanya lekat-lekat memerhatikan setiap gerik yang terjadi di dalam kelas. Sepertinya gadis ini mulai terbawa suasana, seperti berada dalam sebuah kompetisi yang memperebutkan medali berharga.

“Daging dipanggang ditengah-tengah meja menggunakan arang, setelah itu untuk menyantapnya maka daging dibungkus dengan daun sayuran bersama nasi dan potongan bawang putih, dan samjjang yaitu campurang gochujjang dan doenjjang”

Seul Ki mengangguk puas, di dalam mereka juga menanggapinya dengan hal yang serupa.

“Lalu apa saja varian dari makanan yang dipanggang diatas arang itu sendiri?” tambah guru itu dengan nada tajam. Seul Ki yang masih sibuk memerhatikan di luar memicingkan matanya sejenak. Dia ikut berpikir, mencari jawaban dari pertanyaan yang terus diluncurkan oleh seonsangnim.

“Pastinya bulgogi, Galbi, Samgyeopsal, Hoe, Sannakji, Malchang, Gobchang”jawab siswa tadi. Seul Ki memandangnya dengan gembira, gurat senyuman terhias diwajahnya. Ia bertepuk tangan memuji pria tadi.

“baiklah terapkan pertanyaaku tadi dalam praktik kali ini, cha cha cha..” seonsangnim di dalam menepuk-nepuk tangannya memberi sinyal bahwa para siswa harus bekerja secepat mungkin. Sebuah stopwatch menggantung di leher guru tersebut, ia tersenyum melihat muridnya sangat bersemangat. Saat ia menoleh, tidak sengaja ia beradu pandang dengan Seul Ki yang masih setia menatap diluar jendela. Wanita itu segera memalingkan wajahnya dari perhatian pria tadi, dengan terburu-buru Seul Ki segera menghindar dan pergi dari tempat itu.

“Bukk..” seseorang menabraknya. Mereka berdua terpental hingga ke jarak yang saling berjauhan. Il Sook memegang kakinya yang terbentur lantai, lututnya tampak berdarah. Sementara Seul Ki hanya terperangah melihat sosok perempuan yang sangat dikenalnya ini, dan belum lama ia temui seminggu lalu.

“Jung Il Sook?” retina matanya bisa menangkap bayangan Il Sook dengan jelas. Bibirnya tertarik hingga membentuk sebuah senyuman. Il Sook mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Ia juga tidak bisa mempercayai ini, sahabat yang sangat ia sayangi berada di hadapannya. Dengan Sigap baik Seul Ki maupun Il Sook bangkit berdiri hingga akhirnya mereka menghambur dan saling berdekapan.

“Il Sook-ah..Il Sook-ah..” pekik Seul Ki girang. Il Sook terus melompat bahagia, ia tidak bisa mengucapkan kalimat apapun selain menjerit histeris.

“Neomu bogoshippeo.. Seul Ki-ya..” tangannya terus memeluk tubuh Seul Ki. Keduanya melepaskan kerinduan mereka.

“Tapi apa yang sedang kau lakukan disini?” Il Sook melonggarkan lengannya yang melingkar pada Seul Ki hingga akhirnya pelukan dia terlepas. Seul Ki terlihat kaku dan bingung untuk mencari sebuah alasan, dia berjaga-jaga agar Il Sook tidak mengetahui alamat dimana ia gunakan sebagai tempatnya untuk menetap.

“Aku..aku hanya melakukan survey, em mencari bidang studi yang pantas untukku” jawabnya asal tak pelak membuat Il Sook terbengong tapi disusul dengan raut gembira. Dia kembali mencengkram tangan Seul Ki dan menggoyangkannya dengan antusias.

“Jeongmalyo? Baguslah kalau begitu, jadi kau akan kembali melanjutkan studimu?”

“Em..ya, sepertinya begitu ah tapi rasanya tidak masuk akal jika aku masuk dan belajar di tempat ini”

“Waeyo? Bukankah akan menyenangkan jika setiap hari kita bertatap muka seperti ini, membicarakan apa yang terjadi di kelas kita, saling bertukar pikiran tentang pelajaran yang tidak kita ketahui, kita bisa menghabiskan waktu di bawah pohon sana, mendengarkan lagu bersama, itu sangat keren kan?”

“A..aniya, aku sama sekali tidak ada niatan untuk melanjutkan studiku di tempat ini, aku butuh waktu untuk memikirkannya, aku hanya tidak ingin kembali mengecewakan abeoji, setidaknya saat aku bertemu dengannya nanti ada hal yang bisa dia banggakan dariku” Seul Ki tertunduk lesu, entah kenapa setiap kali mengingat ayahnya dia merasa seluruh daya tubuhnya menurun. Terlalu sulit untuk melupakan kesalahan besar yang telah ia perbuat dan saat ini Seul Ki berusaha untuk menebus semuanya, membuat sebuah kebahagiaan kecil bagi dirinya dan juga ayah tercintanya.

“Ne.. gwaenchanayo, aku rasa ayahmu pasti akan memahami semuanya, hanya butuh waktu dan lambat laun kalian pasti akan bertemu” Il Sook menepuk bahu Seul Ki, menenangkan. Mereka kembali berpelukan satu sama lain. Setidaknya dengan begini sedikit beban yang sudah menumpuk di pundak Seul Ki bisa ia lepaskan.

“Aku ingin bertemu appa..” tubuh Seul Ki gemetar, suara sesegukan terdengar dari mulutnya. Il Sook dapat merasakan sahabatnya ini sedang mencoba terbebas dari semua masalah. Namun tanpa mereka sadari Sungmin berdiri di balik pintu ruang praktikum, alisnya saling bertautan menyaksikan pemandangan ini. walaupun hanya samar-samar percakapan mereka ia dengar, namun Sungmin paham tentang topik apa yang sedang mereka perbincangkan.

“Kenapa semua yang ada di dunia ini selalu berhubungan denganmu Han Seul Ki-ssi, apa kau memiliki sebuah magnet yang dapat menarik orang-orang di dekatmu sehingga mereka selalu menjadi  bagian dari lakon hidupmu? Aneh.. dan tentunya itu sulit dipercaya, pertama Kang Minhyuk, Han Ahjussi dan sekarang Jung Il Sook, lalu selanjutnya apalagi?”  pikirnya dengan mata terpejam.

***

Akhirnya finish.. ehm aku buka pake sapaan khas ala kyuhyun aja yah, JALJAYO *PAK!!

haha sumpah ini ff beberapa kali aku revisi karena ngerasa gapuas sama hasilnya. Udah lama ga nulis, jadi aku ngerasa kaku buat nyari kata-kata ataupun alur. Padahal setiap dikamar mandi suka bikin alur sambil berkhayal. Wekeke tapi tetep aja mentok-mentok juga.

AKU MINTA MAAF BERKALI-KALI KARENA BELUM SANGGUP MENGEMBAN TUGAS INI, *GULING GULING DI TANAH*

mudah-mudahan aku bisa lanjutin semua ff tanpa ada kendala lagi, maaf banget karena kemaren-kmaren udah bikin kalian nunggu, sebenernya aku juga ga pengen tapi apalah daya karena waktu yang terbatas dan segala macem aku jadi jarang aktif di dunia maya, apalagi di dunia per-ffan.. huhuhu

kadang aku suka iri kalo ngeliat sely lagi ngetik, sampe sampe pas aku merem dia juga masih tuk tak tik tuk aja. Tapi apalah daya dengan segenap usaha dan kemampuan tetep aja gagal juga, entah deh reader bakal seberapa ngamuk sama aku, aku terima..hiks hiks dengan lapang dada selebar dada Sungmin, dan dengan ketulusan hati seperti hatinya yesung..

 

Liburan ini aku banyak banget waktu buat melanjutkan kegiatan yang udah ditunda tapiiii selama liburan aku gadapet sepeserpun dana dan pulsa modem, pulsa hape ga ada yang keiisi. Sungguh sungguh menyedihkan. *sebenerny hape aku Cuma satu, si bappa udah ngasih duit tapi tetep aja minta pulsa sama abeoji lagi dah, isi pulsa modem minta juga, naka macem apa coba ini*

 

Sekali lagi, aku beneran minta maaf dan bagi yang kecewa buat alurnya, karena jarang ada skinship dan macem-macem. Aku sih sebenernya pengen bikin cerita yang ada unsur edukasinya *maklum calon guru* haha jadi kalo yang nunggu ff aku jangan berharap lebih yah *tepok tepok kepala saeng sujuyongwonhie*

Tapi menurut aku momen romantis itu ga harus ada skinship dan lainnya, adegan yang udah bikin senyum-senyum sendiri aja kayaknya udah bisa disebut romantis, okeh..

Walaupun aku lebih suka kalo ada adegan nyerempetnya, kan kalo nulis sambil ngayal juga..

Baiklah sekian dari saya wabilahi taufik wal HIDAYAT *ditampol gayung* wasalamualaikum warohmatulahi wabarokatuh

Salam :

-Serlin Nurhidayati Wanita  yang selalu tetap cantik walau didera berbagai macam masalah karena Leeteuk yang sudah resmi dengan Sora, Donghae akan menyusul dengan Eunso, Bunga yang dikasih Yesung buat Tiffany dan Kyuhyun yang terlihat ceria saat syuting WGM spesial lunar bersama artis china-  T_T

Advertisements

30 comments on “Cooking Cooking

  1. gmn klo tu skalian crta yg special kim heechul yg love u rather than music klo g slah ya? d’lanjutkan jg??? pnsran m lnjutan’y hhu

  2. Astaga ser.
    Akhirnya kao kembali juga ke dunia perffan(?)
    ah aku napakin jejak dulu yey.
    Sumpah ngeblank banget nih ama cerita sebelum nye.
    *baca ulang deh*

  3. Baru sempet baca sekarang..HUWAAAAAA~
    minhyuk’ah mian ya..dsini aku gak suka kamu..hiks..
    Pdhl kamu imut bgt><
    *peyuk minhyuk*

    tiap bc cooking2,pasti yg kebayang tentang seulki itu suzy miss A, polos2 gmana gitu~

    WGM huwaa,kemarin aq nahan ketawa pas liat di warnet,ya ampun itu si donge keliatan bener low dia suka ma eunso wkwkwkwk

    serlin sayang,aku tunggu ff2mu berikutnya..mmuah~

    • unni seperti biasa aku baru bisa bales komennya, wakaka kamu tau sendiri kan kendalanya kenapa?

      unni gausah benci minhyuk kan itumah tuntutan peran, eh suzy? aku dong kan aku dibilang mirip suzy *Gampar!!

      karena aku baru bales sekarang jadi aku ulas dikit ttg fighting junior, aku suka ah un..

  4. akhirnya setelah lama menunggu ada juga cooking cooking lagi! ahhh PUAS,
    haha eoni daebak!
    ninggalin coment dulu. entar malam baca deh!
    hwaiting eoni lanjutin ff yg lain yg makin keren!
    :):):)

  5. Assalammualaikum~

    Akhirnyaaaa akhirnyaaaa berlanjut jugaaa hiks *terharu* T^T
    Aku kira hanya berakhir di part 5 unn.. sumpah seneng berat pas buka sujuyongwonhie dan nemuin cooking cooking, seolah tumbuh ribuan bunga dihatiku~ muahahah 😀
    Ah iya, sok akrab banget aku yah unn, mianhae -,-v
    Panggil unnie gapapa ka? Ah pokoknya gapapa yah unn *tabok* wkwk >u< Ridha Annisa imnida, panggil aja Ridha, 15 yo, frm Karawang, Jawa Barat, wookie’s biased , reader yang masih dibilang baru 🙂 Aku udah kenalan sama sely unnie dan kayaknya sama serlin unnie belom :/ tapi di fb udah temenan kok , hehe ^^
    Well~ cooking cooking, salah satu ff favoritkuuuuuuu ^^ serasa nonton drama yang bikin seyum senyum sendiri pas baca tiap adegannya, penuh konflik, jadi ga ngebosenin, selalu bikin penasaran, suka nebak2 apa yg bakal terjadi selanjutnya, dan sekarang aku lagi nebak2 tentang alasan sungmin oppa yang tingkahnya kelewat dingin kayak es duren, trus diatasnya dikasih susu kental manis coklat, ditabur misis… mmm yummy~ *lho? Kenapa ngomogin es? duren* -____-v hehee..
    Tapi justru itu sisi kerennya sungmin oppa, dingin dingin menghanyutkan~ kebayang deh mukanya pas ngelus2 perut seulki~ sosweet.. hihi :3
    Aku juga suka han seul kiiiii~berani ngelawan perintah appanya, yg menurutnya ga sesuai sama hatinya, pribadi yg berpendirian teguh, aku mendukungmu Han SeulKi-ssi! Kekeke 😀 kayaknya mulai tumbuh rasa suka ke sungmin oppa nih~ *eciyeee* :p
    Dan juga aku kagum sama nae yeobo.. ah anni, maksudku wookie, yang.. yang apa yah? Dia itu sulit digambarkan, terlalu sempurna, wajahnya tampan, suaranya lebih dari idah, tulang pipinya sexy… *Nah loh?* *abaikan unn ._.*
    dia, wookie, namja yg penuh perhatian sama sahabatnya, setia banget, tetep setia ngebuntutin sungmin walau tingkahnya sungmin yg kadag bener2 dingin ke dia, merinding sama kata-katanya yg gini “…. aku sangat ingin membantu Sungmin Hyung, sekalipun aku harus mengorbankan hidupku untuknya” aigoyaaaa wookiekuuuuuu *cengkram peluk cium jilat* *abaikan lagi ._.*
    Minhyuk, Ilsook, seul jang, manajer jung, da lainnya dan lainnya aku sukaa xD Dan yang paling penting… ada ryeowooknyaaaa kyaaaaa~ hihi xD

    umm.. kalo bisa sih dilanjut yah unn, kalo engga, kalo engga.. Bagaimana bisa aku hidup jika dipenuhi rasa penasaran yang akut?!? *lebe part 1* Hahaaa pokonya selalu kutunggu next part-nya, walaupun bahkan itu seribu tahun lagi~ *lebe part 2* wkwk xD

    oke, cukup sekian komen singkat ku(?)

    Wassalammualaikum~

    p.s Maaf ga pernah komen di cooking cooking part part sebelumnya, jeongmal mianhae~ (_ _)v Insya Allah, sekarang bakal berusaha buat ngebubuhin komen2, biarpu gaje, kkk~ ^^v

    • Astaga *geleng-geleng*
      akhirnya aku ketemu lagi sama reader setres lainnya..haha

      gapapa aku suka dipanggil unni, asal jangan hyung okeh? apalagi halmeoni..
      aku panggil kamu apanih ridha? anissa? nissa? hemh? eciye dari karawang, jago ngedance dong *dance karawang*
      makin kesini aku makin ngerasa tambah tuwir, huweekk.. *maskeran dulu ah*

      ah aku kira kamu bias kyu, bagus deh walaupun disini wookienya cuma jadi figuran*tampol*

      eh eh.. yang boleh jilat wookie cuma aku *senyum epil*

      okeh ditunggu aja yah, aku juga gatau bakal publish kapan tapi pasti dilanjutin sampe akhir kok..wekeke
      gabakal lama kayak kemaren, nanti otak aku keburu berkarat,

      komen singkat?
      komenan kamu itu lebih panjang dari ff aku,
      gapapa yang penting kamu udah nyadar diri dan mau komen sekarang 😉

      Senang kenalan sama kamu..

  6. Eonnie boleh minta twitternya? Sama temen eonnie yg satunya yg depan nya s juga ._.v *aku lupa
    ntar aku follow tapii……..

    Jangan lupa difollow back .-. Okey *lempar heechul

  7. Akhirnya Serlin eonni comeback juga~ kangen bgt ama FF ini! Suer deh ><v

    Buakakkak, name contact wook di HP umin "Sweet Friend" .___. Trnyata walaupun galak ama wook, name contact di HPnya unyu gitu XD

    Ayo eonii!! Lanjutannya cepetan!! XD sama yg Love U rather than music lanjutin!! XD

  8. Aku inget koo :3 muehehe. Seru juga ini unni.. Lanjutin yaa!! Gatau knapa smnjak nemu(?) blog sujuyongwonhie jadi hobby banget bac. Huwaa. Thanks banget yaaw. Gamau panjang lebar langsung aku tutup aja.. Anyyeong~

  9. Aku inget koo :3 muehehe. Seru juga ini unni.. Lanjutin yaa!! Gatau knapa smnjak nemu(?) blog sujuyongwonhie jadi hobby banget baca. Huwaa. Thanks banget yaaw. Gamau panjang lebar langsung aku tutup aja.. Anyyeong~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s