(SHARE FF) (WonNic Couple) Its Real??

 

(WonNic Couple) Its Real??

 

 

Author : Nicma Choi

Maincast :

–          Nichan Liu = Liuqie Liu

–          Siwon Choi

 

 

Shenzhen, 7 April 2012.

08.00 pm

 

” Apa yang harus kulakukan?” tanyaku seraya menimang-nimang ponsel dengan gantungan kupu-kupu cantik. Sekali lagi kubuka aplikasi pesan, kemudian mencantumkan nomor telfon pria yang sukses membuatku hampir mati lemas karena perlakuannya. Tapi, sesaat kemudian ku tutup kembali aplikasi tersebut. Rasa ragu kembali menyerangku.

 

” Aish!! Bodoh sekali kau ini!!” kupukul kepalaku berkali-kali.

 

Jujur, aku masih tak percaya dengan hal yang ku alami 4 hari yang lalu. Bagaimana bisa seorang Choi Siwon Super Junior menyukaiku? Bahkan ia memberikan nomor ponselnya padaku, apa dia ingin mengikuti jejak Teuk gege dengar menyebar nomor ponsel?

Aish, semua ini membuatku bingung! >.<

 

Perasaan ragu atas setiap ucapannya itu terus menghantuiku. Ragu akan kebenaran ucapan pria yang selama ini aku cintai melebihi seorang fans terhadap idolanya. Aku takut jika ini hanyalah imajinasiku yang berlebihan, layaknya fatamorgana, begitu nyata tapi palsu. Karena hal itulah aku tak juga menghubunginya bahkan setelah ia tinggal di paris hampir 4 hari. Aku hanya terlalu takut jika ia tak akan pernah membalas pesanku.

 

Tapi, kenapa bahkan rasa hangat akan pelukannya, perasaan gugup saat nafasnya menerpa kulit leher dan juga telingaku karena bisikan kata cintanya, yang seakan membuatku terbang itu masih bisa kurasakan dengan begitu jelas? Apa aku yang terlalu mencintainya, atau dia memang bersungguh-sungguh mencintaiku??

 

” Argh, ini benar-benar membuatku pusing!!” pekikku seraya kembali memukuli kepalaku dengan kedua tangan.

 

” Liuqie jiejie, apa kau akan terus memukul-mukul kepalamu dan mencoba semakin menggeser otakmu yang sudah bergeser itu? Atau kau sedang mencoba membuat adonan di depanmu itu mengeras dan menjadi batu?” tanya rekan kerjaku dengan berlebihan. Membuatku dengan seketika melotot kearahnya, memprotes ucapan berlebihannya itu.

 

” Xiemei, ucapanmu itu benar-benar berlebihan sekali,” sungutku. Dan gadis yang usianya lebih muda satu tahun dariku itu kini terkikik geli seraya memotong-motong adonan yang akan ia buat menjadi roti-roti berisi kacang merah.

 

” Ah, Xiemei.. Apa yang harus aku lakukan?” keluhku. Bukannya menjawab keluhanku, gadis itu justru semakin menyibukkan diri dengan adonan dan juga pasta kacang merahnya. Ku kerucutkan bibirku karena kesal. Dengan muram kupotong-potong adonan roti milikku yang sudah cukup lama aku diamkan. Dan saat pekerjaan kami yang memang tinggal sedikit itu selesai, Xiemei menepuk bahuku.

 

” Jiejie, kenapa tak coba kau hubungi dia dulu? Bukankah dia minta agar kau menghubunginya setelah dia sampai di paris?”

 

Kuanggukkan kepalaku menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya. Karena memang semua yang kualami selalu kuceritakan pada gadis bermata sipit ini.

 

” Nah, jika dia membalas, itu artinya ucapan cintanya yang kemarin memang tidak main-main. Jika tidak dibalas itu artinya dia memang hanya mencoba bersikap ramah pada fansnya. Kau coba saja dulu, Liuqie jiejie. Toh ini juga hari ulang tahunnya, anggap saja kau fans beruntung yang bisa memberi ucapan selamat secara khusus.” lanjutnya.

 

” Kau benar, bahkan aku belum mencobanya. Aku tak boleh patah semangat! Kyaa, aku benar-benar menyayangimu, uri dongsaengie, Saranghae!!” Pekikku dalam bahasa korea -bahasa negara ibuku dan juga pria pujaanku- dengan gembira seraya memeluk tubuhnya. Yang kemudian disusul oleh jitakan gemas dari Xiemei.

 

” Sudah kubilang jangan kau gunakan bahasa alienmu itu saat berbicara denganku!” sungutnya. Aku hanya terkekeh kecil menanggapinya.

 

Kami berjalan beriringan menuju ruang staff untuk merapikan diri setelah seharian berkutat dengan adonan dan kawan-kawannya, menciptakan berbagai kebahagiaan yang kami selipkan kedalam kue-kue hangat dan harum.

Begitu selesai, kami berpisah di depan toko. Ia tak lupa menyemangatiku,

membuatku tersenyum bahagia. Setidaknya jika pada akhirnya aku akan kecewa, karena pemikiran berlebihan atas ucapan cinta yang Siwon oppa katakan padaku itu ternyata salah. Maka masih ada orang yang mau menjadi tempat berkeluh kesahku nanti. Ku ambil ponsel hitam milikku dari dalam tas. Dan mulai mengetikkan sebuah pesan singkat kepada pria tampan yang selalu membuatku tersenyum setiap harinya. Kuperhatikan kuda pegasus mungil yang menggantung manis diponselku, membuat senyumanku semakin lebar.

 

Baiklah Captain Choi, aku akan menunggumu pulang dan meminta penjelasan tentang semua hal ini. Tapi untuk sekarang aku hanya akan diam, dan cukup mengatakan satu kalimat padamu.

 

“Saengil chukhae hamnida, Captain Choi.”

 

Kutatap langit malam kota Shenzhen dengan perasaan riang dan senyuman lebar. Kemudian kulangkahkan kakiku dengan ringan meninggalkan toko kue milik keluargaku.

Untuk bersiap menyambut esok hari dengan perasaan bahagia.

 

‘ Captain Choi, cepatlah pulang.’

***

 

-Choi Siwon’s POV-

 

Paris, 07 Apris 2012

10.30am

 

 

Drrt..drrt…drrt..

 

Dengan segera kubuka pesan yang baru saja masuk ke ponselku. Dari sebuah nomor Cina. Begitu terbuka, senyumku langsung mengembang. Seseorang yang sudah kutunggu sejak kakiku mengijak kota paris kini menghubungiku, stalker manisku.

From : My Stalker

 

‘ Saengil Chukhae, Captain Choi. ^^

God Bless You.

 

Nichan’

 

Meski hanya sebuah pesan singkat dengan sebuah foto kue ulang tahun sederhana, tapi sanggup membuat perasaan bosan dan lelahku menghilang. Berganti dengan debaran jantung yang semakin meningkat dan rasa bahagia yang kian membuncah.

 

” Setelah menekuk muka selama 3 hari, sekarang kau senyum-senyum tak jelas seperti itu. Apa ada yang membuatmu senang?” tanya Donghae tiba-tiba. Ia mengangsurkan secangkir kopi panas dan sepiring waffle padaku. Kami tengah sarapan di dalam kamar hotel, karena kami harus segera berlatih untuk konser nanti malam.

 

” Kau ingat gadis yang kuceritakan padamu?” tanyaku pelan disertai senyuman tipis. Donghae tampak berpikir, dahinya yang kini terbuka lebar itu mengkerut. Hahaha, sungguh lucu melihat wajahnya yang seperti itu. Setelah beberapa saat, ekspresinya berubah menjadi berbinar-binar. Tangannya yang tadinya ia gunakan untuk menopang dagu, kini ia gunakan untuk bertumpu di atas meja bar kecil yang ada di dalam kamar, dengan tubuh yang sedikit ia majukan.

 

” Stalker anehmu itu?” tanyanya antusias. Yang dengan sukses membuatku mendaratkan jitakan ekstra pada kepalanya. Enak saja mengatai gadis yang kucintai dengan panggilan stalker aneh, dia itu manis.

 

” Auw..appo!” rintihnya dengan wajah kesakitan.

 

” Itu salahmu, asal kau tau saja.”

Kuletakkan ponsel hitamku, kemudian mulai meminum kopi hitam pekat kesukaanku.

 

” Ada apa dengan dia?” tanya Donghae. Kutatap sekilas wajahnya, lalu kuberikan ponsel milikku padanya, dan melanjutkan rutinitas pagiku.

 

” Howaaa, dia mengirimimu pesan? Bagaimana bisa?”

Dengan heboh kini Donghae menatapku, meminta penjelasan atas pesan singkat yang dikirim oleh gadis itu.

 

” Sebelum ke Paris, ia menemuiku di Shenzhen. Ia memberiku cake secara langsung,” terangku. Selama ini kami memang belum pernah berkomunikasi secara langsung, gadis itu lebih memilih menitipkan hadiah-hadiah yang dibawanya pada fanbase atau fans lain.

 

Ku ambil cake yang gadis itu berikan dari dalam lemari pendingin, dan kutunjukkan pada Donghae.

 

” Lalu kau memberikan nomor ponselmu padanya, begitu?”

 

” E..hem,” jawabku singkat. ” Yak, jangan kau makan!” sentakku saat ujung jarinya mencolek krim yang ada atas kue.

 

” Kau pelit sekali,” sungutnya. ” Hei, kau tak ingin membalasnya?”

 

” Tentu saja.” Kumainkan ponsel hitamku di atas meja.

 

” Kalau begitu telfon saja sekarang,” saran Donghae.

 

Ku tatap ponselku beberapa saat, menimang saran dari Donghae untuk menghubunginya lewat telfon.

 

” Aish, kenapa lama sekali,” protesnya dan dalam sekejap, ponsel yang ada di tanganku berpindah ketangannya.

 

” Jangan macam-macam kau, Donghae-ya.”

 

” Anni, aku hanya 1 macam saja,” jawabnya asal tanpa mengalihkan fokusnya dari layar ponsel. Membuatku gemas ingin memukul kepalanya.

 

” Yobboseo?”

 

” Oh,” Mataku membulat saat suara lembut itu terdengar. Kutatap Donghae yang tersenyum lebar pada ponselku, sepertinya dia melakukan video call.

 

” Annyeong!” Dengan riang Donghae melambai-lambaikan tangannya. ” Lee Donghae imnida.”

 

Astaga, cildish sekali pria ini. Tanpa mengenalkan diri juga pasti gadis itu kenal betul dengannya.

 

” Aku tau, oppa. Nichan Liu imnida.” jawab suara di sebrang sana disertai tawa kecil yang terdengar seperti lonceng ditelingaku. Begitu merdu dan menenangkan. Kufokuskan telingaku untuk mendengarkan percakapan mereka, seraya menikmati sarapan pagiku.

 

” Kau bisa bahasa korea?”

Terdengar kekehan halus darinya, saat pertanyaan polos meluncur dari bibir Donghae.

 

” Ne, oppa. Ibuku orang korea.”

Donghae mengangguk paham, ” Bagaimana-”

 

TING TONG

suara bel memutus pertanyaannya.

” Ah, itu pasti manager. Aku harus pergi. Bye, Nichan-ssi,” pamitnya. Setelah menyerahkan ponsel kepadaku, dia langsung melangkah pergi guna menemui tamu yang ia yakini salah satu dari manager kami. Kualihkan pandanganku ke layar ponsel. Disana tampak seorang gadis yang sepertinya sudah bersiap akan tidur jika dilihat dari pakaiannya.

 

” Hai,” sapaku. Gadis itu tersenyum manis. Tampak gurat-gurat lelah di wajahnya.

 

” Hallo, oppa.”

” Apa kau sudah mengantuk?”

Gadis itu mengangguk kecil. Senyumanku mengembang melihatnya. Dia sungguh manis.

” Gurae, kalau begitu tidurlah.”

” A…ne, aku tidur.” jawabnya dengan suara pelan.

” Apa ada yang ingin kau katakan padaku? Saengil chukhae lagi mungkin?!” candaku ketika kudengar nada tak rela dalam suaranya saat aku menyuruhnya tidur. Mata gadis itu kembali bersinar, kekehan kecil tak urung lepas dari bibirnya. Entah apa yang ia tertawakan, yang pasti tawa kecilnya sanggup membuat jantungku berdetak berkali-kali lipat.

 

” Oppa, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan.”

Dengan raut serius ia menatapku.

 

” Mwoya?”

 

” Apa..apa yang kau ucapkan kemarin itu sungguhan? Apa kau..benar-benar..eum.”

 

” Ne, I really love you.” jawabku memutus kalimatnya saat sebuah pemahaman muncul dikepalaku.

” Apa kau ragu dengan pernyataanku?”

 

Gadis itu mengangguk. Kuberikan senyum terbaikku padanya.

 

” Oppa, aku..aku hanya wanita biasa, rasanya terlalu sulit untuk percaya bahwa kau menyukaiku.”

 

Dahiku mengkerut saat mendengar kata-katanya, apalagi melihat ekspresi gamang yang terpampang jelas di wajah lembutnya.

 

” Nichan-ah, dengar. Aku tak butuh wanita luar biasa untuk menemaniku, aku hanya butuh seseorang yang mampu membuatku nyaman. Dan aku mendapatkannya saat kau ada di sekitarku. Ada di tempat yang sama denganku. Jadi, apa kau masih meragukanku?”

 

Gadis itu diam. Tampak tetesan-tetesan airmata mulai mengaliri pipi pucatnya. Senyumanku tak urung kembali mengembang saat gelengan pelan ia berikan. Senyum tipisnya semakin membuat jantungku berdetak tak beraturan.

 

” Aku..aku juga mencintaimu, oppa. Wo ai ni.”

 

” Nado. Besok aku akan pulang, kita akan segera bertemu. Sekarang tidurlah, wajahmu tampak pucat sekali.”

 

” Ne, oppa. Fighting untuk konser nanti malam,” ucapnya ceria disertai uapan kecil.

 

” Arra. Goodbye, darling.”

 

Ku kecup kedua jariku lalu ku dekatkan ke camera ponsel, seolah-olah memberikannya ciuman selamat malam. Dan senyuman manisnyalah yang mengakhiri hubungan singkat kami di pagi hari ini.

 

Cepat ku selesaikan sarapanku, kemudian bersiap-siap untuk rehearsal kami. Malam ini aku harus tampil maksimal, sebagai balasan dari semua cinta yang telah fans berikan kepada kami.

 

” Siwon-ah, kau sudah selesai sarapan?”

Junghoon hyung masuk ke dalam kamar. Ia kemudian bersandar di kepala sofa seraya mengutak-atik tablet yang tak pernah lepas dari tangannya.

 

” Ne, hyung. Kajja!”

 

Kutepuk bahu Junghoonie hyung seraya mendahuluinya keluar kamar. Dengan senyuman, kumulai hari yang akan berlalu dengan cepat ini.

 

‘I really love you, my oxygen.’

 

-FIN-

 

 

ANNYEOOOOOOONG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Author abal kembali lagi…….

Saya kembali membawa fanfic WonNic couple, nyahahaha

Yah, meski gaje bin gombal, tapi semoga cukup menyenangkan untuk dibaca.

Dan ini pendek, karena memang hanya 1600an kata, dan hanya 11 page, dan khusus untuk couple ini akan terus berlanjut mengikuti kegiatan si abang kuda.

Mian kalo ada typo, karena sejujurnya emang ada typonya, tapi saya males ngecek lagi, jadi harap dimaklumi^^

Terakhir, gomawo buat yang udah mau nyempetin baca.

Matur thank KYU…..

-MasiMyeolchi-

Advertisements

3 comments on “(SHARE FF) (WonNic Couple) Its Real??

    • Yap, bener bgt. Ini lanjutan yang kemarin. Sebenernya udah jadi dari lama. Cuma aku merasa gak yakin buat ngepublish fanfic ancur ini.wkwkwk

      gomawo udah RCL^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s