(SHARE FF) I WANT TO GET MARRIED (Last Sequel)

 

I WANT TO GET MARRIED (Last Sequel)

 

 

 

Author : Nicma Choi (klik nama author)

Main cast :

– Lee Donghae

– Lee Hani

Suport cast :

– Super Junior Member

– Ahn Selly

– And other

note : I dedicate this fanfic to my beloved dongsaeng, author Hann.. yang lagi ultah…

SAENGIL CHUKHAE…..*tiup lilin*

 

 

 

-AUTHOR POV-

 

“LEE DONGHAE, KAU!!!”

 

Leeteuk melempar handuk yang tadi ia kenakan untuk mengeringkan rambutnya kearah donghae penuh emosi.

 

“Aku tau kau sudah tidak sabar menikahi gadismu ini, tapi bukan begini caranya, Donghae-ya!!” wajah Leeteuk memerah sedangkan donghae hanya bisa menunduk, eunhyuk yg juga ada disana sedang susah payah menahan tawanya yg hampir mau meledak.

“hyung..i-ini bu-”

 

“APA? Bukan seperti yang aku pikirkan begitu? Lalu desahan yang tadi aku dengar itu apa hah?!” Belum sempat donghae melanjutkan perkataanya, hyungnya itu sudah memotongnya. Membuat Donghae dan Hani mengkeret ketakutan, sesaat merasa menyesal telah melakukan permainan ini. Sedangkan Eunhyuk justru hampir tersedak karena menahan tawanya.

 

“baiklah. Aku menyerah, aku memperbolehkan kalian menikah. tapi ingat awas kalau kabar ini diketahui org lain selain kita dan masalah SM, akan ku usahan,” lanjut Leeteuk membuat ke tiga orang yang ada di dalam kamar itu menganga tak percaya.

 

***

 

“Ahahaha, aku tak menyangka hasilnya akan secepat ini,” ucap Eunhyuk disela tawanya yang menggema di taman belakang apartement mereka. Duduk berdua bersama sekaleng cola, menikmati udara malam musim semi yang begitu sejuk.

 

Donghae juga ikut tersenyum senang, “hem hem..kau benar. Ku kira, hyung akan mengusirku atau paling tidak dia akan menghajarku habis-habisan. Tapi ternyata semua prekdisiku salah,” tutur Donghae dengan senyum mengembang.

 

“Aku juga sama denganmu. Aku sudah sangat takut saat hyung masuk dan melihat posisi kalian yang yah..cukup meyakinkan itu,” Eunhyuk kembali meneguk cola ditangannya, senyum mendadak hilang dari bibirnya.

 

“Ya, kau kenapa??”

 

Eunhyuk menatap Donghae tak mengerti, “nan?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Donghae.

 

“Aha..ahahaha..nan gwenchana, Donghae-ya,” jawab Eunhyuk canggung. Dirangkulnya bahu Donghae yang duduk disebelahnya dengan sedikit lebih bersemangat. Bermaksud menutupi apa yang kini tengah ia rasakan.

 

“Kau..aish! Terserah kau saja,” umpat Donghae pada akhirnya.

 

“Lalu, bagaimana selanjutnya? Kau sudah mengantongi izin dari SM yang entah bagaimana bisa di dapat oleh Teukie hyung, kapan kau akan menikah?” tanya Eunhyuk mengembalikan topik pembicaraan mereka yang sempat berganti alur.

 

“Kau sedang menutupi masalahmu?” bukannya menjawab, Donghae justru memicing curiga pada Eunhyuk.

 

“Hah, kenapa kau memaksaku, aku hanya..”

 

“Karena gadis itu? Apa..dia masih belum muncul juga?”

 

Donghae menatap simpatik pada sahabat karibnya yang kini tampak lesu.

 

“Bodoh sekali kan aku? Tak pernah berani mendekatinya. Dan kini, saat dia menghilang, aku merasa sebagian hatiku juga ikut hilang,” tutur Eunhyuk dengan sedih.

 

“Aku yakin, jika tidak di airport saat kita ke Jepang, pasti dia akan muncul di super show encore. Kau tenang saja, Hyuk-ah. Aku akan membantumu.”

 

“Jinjja?” dengan bersemangat Eunhyuk menjawab pernyataan Donghae. Semakin dieratkannya rangkulan tangannya dibahu Donghae, menunjukkan betapa bahagianya ia sekarang.

 

Begitu pula dengan Donghae, ia merasa saat ini adalah hari dimana ia telah mendapatkan segalanya. Ya, segalanya. Mulai dari restu hyungnya, ijin dari SM, dan kebahagiaan sahabatnya. Ya, itu sudah lebih dari cukup baginya.

 

“Lalu, kapan kalian akan menikah?”

 

“2 Juni. Tenang, aku sudah menyiapkannya serapi mungkin,” dengan bangga Donghae menuturkan hal yang memang telah ia persiapkan.

 

“Perlu bantuan?” tawar Eunhyuk yang disambut gelengan kepala oleh Donghae.

 

“Tidak, aku sudah selesai mempersiapkannya. Toh pernikahan kami hanya pernikahan sederhana. Lebih baik kau pikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan gadismu itu.”

 

“Hahahaha, kau benar,” balas Eunhyuk membenarkan. “Udara mulai dingin, aku ingin kembali, ayo!”

 

“Ya, kajja kita masuk.”

 

Mereka saling berjalan beriringan kembali ke apartment tempat mereka tinggal. Dengan perasaan bahagia atas kepuasan hati masing-masing.

 

***

 

02 juni 2012,Imperial Hotel

 

 

Donghae meremas tangannya yang terbalut sarung tangan putih. Perasaan gugup melingkupi hatinya. Sesekali ia membungkuk memberi salam pada tamu-tamu yang baru datang. Dan saat ke sebelas saudaranya datang, Donghae tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

 

“Lee Donghae!!” sebuah tepukan dibahu diberikan oleh Heechul, “tak kusangka kau mendahuluiku, Hae-ya.”

 

“Ya. Kau benar, hyung. Hai, Donghae-ya, caramu memang hebat!!” ledek Kangin seraya mengacungkan kedua jempolnya ke wajah Donghae, dan sukses membuat Donghae bersungut jengkel.

 

“Eish, pengantin dilarang marah, ayo senyum,” Kyuhyun ikut meledek Donghae, bahkan ia dengan lancangnya menarik ke dua sudut bibir Donghae keatas, membuatnya seolah tengah tersenyum.

 

Para member mulai masuk ke ballroom hotel tempat diselenggarakannya ikrar janji pernikahan yang akan menyatukan Donghae dan Hani. Setelah sebelumnya memberi Donghae berbagai pesan seperti,

 

“Beri aku keponakan laki-laki.” Ini pesan dari Yesung, begitu datar dan tak lupa aura mistis yang dipancarkannya.

 

Atau pesan dari Eunhyuk yang membuat Donghae bernafsu untuk mencekiknya saat itu juga karena pesannya yang menyebalkan itu. “Hae, nanti saat sesi ciuman, yang lama ya? Aku ingin merekamnya, akan kumasukkan sebagai koleksi.” Nah, siapa yang tidak kesal jika pesannya seperti itu? Apalagi dia mengatakannya diiringi dengan cengiran lebar yang terlihat menyebalkan dimata Donghae.

 

Atau pesan dari pastur pribadi Super Junior, “Hae-ya, setelah ini kau memiliki tanggung jawab yang sangat besar, kau akan jadi kepala keluarga. Kau harus melindungi istrimu, mengasihinya, dan kau juga harus menjadi suami yang bertanggung jawab, jangan pernah menyakitinya.” Membuat Donghae semakin menyesal mengundang mereka, karena nanti pun, saat ia akan mengucapkan ikrar, pastur pernikahannya pasti juga akan mengatakan hal yang hampir serupa.

 

Sepertinya pria berotot itu memang selalu memanfaatkan kesempatan berceramahnya dengan sebaik mungkin. Meski tak urung Donghae juga merasa bahagia, karena ada banyak orang yang sangat perhatian kepadanya. Terlebih, hyung yang dikecewakannya, justru tersenyum lebar bahkan memeluknya. Saat itulah, Donghae merasa sangat bersalah sekaligus bahagia. Dan ia berjanji bahwa suatu saat ia akan mengakui kebohongannya.

 

Suasana di dalam ballroom begitu tenang saat Donghae menginjakkan kakinya di hadapan pastur. Tak lama kemudian alunan musik khas pernikahan mulai terdengar, dan saat pintu terbuka, Donghae seolah kehilangan oksigennya. Seolah ia tak berpijak di bumi lagi. Matanya tak berkedip sekalipun, seolah lupa karena kecantikan mempelai wanitanya yang begitu memukau meski hanya mengenakan gaun pengantin yang begitu sederhana, bukan hanya di mata Donghae tetapi juga di mata para tamu undangan. Rasanya Donghae ingin berlari ke arah wanitanya saat Hani berjalan begitu pelan, ingin cepat-cepat menariknya kehadapan pastur dan mengucapkan janji pernikahan, agar ia bisa lebih cepat menjadikan Hani sebagai pendamping hidupnya hingga ia tua.

 

“Yeppo.”

 

Bisik Donghae tak tertahankan saat pada akhirnya tangan mungil gadisnya dapat ia genggam. Saat pada akhirnya ia merasa telah menggenggam seluruh dunianya. Karena dunia bagi Donghae adalah Hani, dan saat Hani dengan senang hati mengulurkan tangannya untuk Donghae genggam, maka pada saat itulah ia telah mendapat seluruh dunianya, seluruh kehidupannya.

 

“Lee Donghae, bersediakah kau menikahi Lee Hani, mencintainya hingga maut memisahkan kalian, menyayanginya baik dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, apakah kau bersedia?”

 

“Saya bersedia,” dengan lantang Donghae menjawab pertanyaan dari pastur.

 

“Lee Hani, bersediakah kau menikahi Lee Donghae, mencintainya hingga maut memisahkan kalian, menyayanginya baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, melahirkan dan merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, apa kau bersedia?”

 

“Saya bersedia.”

 

Jantung Donghae seakan kembali berdetak saat pada akhirnya kalimat yang sangat ia nantikan mengalun lembut dari bibir Hani. Senyumnya mengembang sempurna saat matanya bertabrakan dengan mata Hani, dan ia merasa menemukan cinta di dalamnya.

 

“Baiklah, sekarang silahkan kalian bertukar cincin.”

 

Selly maju sembari membawa nampan dengan sebuah kotak diatasnya, berisi sepasang cincin sederhana yang pernah Donghae perlihatkan kepada Hani saat melamarnya dulu. Dengan lembut dipasangkannya cincin tersebut ke jari manis Hani, begitu pula dengan Hani. Dan saat sepasang cincin itu telah berada pas ditempatnya, dengan lantang pastur menyatakan bahwa mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri, yang di ikuti dengan gemuruh tepuk tangan dari para tamu undangan yang menyaksikan pernikahan mereka.

 

“Sebagai tanda bukti dari cinta suci kalian, kupersilahkan kalian saling berciuman,” lanjut sang pastur.

 

Donghae menunduk, disentuhnya dagu Hani agar mata mereka saling bertatapan. Dan dengan begitu pelan Donghae mengarahkan wajahnya ke wajah Hani, dikecupnya dengan amat lembut bibir wanita yang dicintainya itu. Kemudian ia tersenyum bahagia, akhirnya, gadisnya kini telah berganti status menjadi istrinya.

 

***

 

HanHae apartment, 22.00pm

 

“Huwaaah, akhirnya bisa istirahat,” pekik Hani seraya menjatuhkan dirinya ke ranjang.

 

Rasa lelah mendera tubuh mereka, setelah pesta resepsi yang sangat lama. Mereka berdua harus terus berdiri, menjamu para tamu yang sebagian besar adalah relasi bisnis ayah Hani yang merupakan seorang CEO perusahaan otomotif ternama di Korea, dan juga dari keluarga Donghae. Bahkan Hani harus menahan jerit histerisnya saat para artis SM saling bergantian memberinya ucapan selamat. Ia harus mengatur ekspresi wajahnya agar tampak tenang dan anggun saat ia harus bersalaman dengan duo TVXQ, SHINee, dan juga beberapa member EXO. Meski yang ia idolakan adalah Super Junior, tapi tetap saja mereka adalah pria-pria tampan yang mampu membuat para wanita menjerit histeris. Contoh mudahnya ya Selly, ia tak pernah bisa diam. Meminta berfoto kesana-kemari dengan para idola tersebut. Dan setelah resepsi yang panjang dan melelahkan itu, akhirnya kini ia bisa merebahkan tubuhnya di ranjang empuk apartment mereka. Apartment yang sama dengan dorm Super Junior, bahkan sama-sama berada di lantai 12.

 

Donghae mengikutinya berbaring di sisi ranjang yang lain, “kau benar, hari ini benar-benar melelahkan.”

 

“Oppa..”

 

“Hem?” Donghae yang sudah memejamkan mata kembali terbangun. Dan tanpa bertanya apa maksud dari panggilan istrinya, ditariknya Hani kepelukkannya, mungkin saja kan Hani memanggilnya karena ingin ia peluk?

 

“O..oppa.. Apa yang kau lakukan?”

 

“Memelukmu. Kau ingin aku peluk kan, makanya kau memanggilku?” jawab Donghae percaya diri.

 

“Anniya, bukan itu..” bantah Hani tanpa menolak pelukan dari suami barunya.

 

“Ah, aku sangat lelah. Lebih baik kita bicarakan besok saja. Aku besok sudah harus syuting,” dieratkannya pelukan ditubuh Hani, kemudian kembali memejamkan mata.

 

Sedangkan Hani, ia hanya tersenyum maklum dan lega. Setidaknya, malam ini mereka tidak melakukan apapun selain tidur dengan saling berpelukan, karena jujur, ia masih belum siap jika ia harus melakukan apa yang biasanya pengantin baru lakukan.

 

Di dalam pelukan Donghae, Hani mulai memejamkan matanya. Di iringi oleh hembusan nafas dan detak jantung yang begitu teratur milik suaminya, Hani tertidur. Memulai mimpi indahnya malam itu dan malam-malam berikutnya.

 

***

 

Itu harapan Hani. Tapi, siapa sangka, 1 minggu setelah pernikahan mereka. Hani harus rela tidur sendiri bertemankan selimut dan guling. Lantaran Donghae terlalu sibuk melakukan pekerjaannya. Syutting drama terbaru miliknya.

 

Hani mendengus kesal saat ia membuka mata dan menemukan suaminya tengah terlelap. Ia tak pernah mengeluh jika ia harus tidur sendiri. Tetapi ia sangat kesal saat harus membuka mata dan menemukan suaminya terlelap dengan wajah yang tampak begitu letih. Tak jarang ia melihat lingkaran hitam yang begitu besar disekitar mata Donghae.

 

Dengan pelan Hani membelai wajah suaminya, sambil mengagumi indahnya ciptaan Tuhan yang diberikan padanya. Setelah puas memandangi wajah suaminya, Hani beringsut turun dari ranjang, ia harus membuatkan sarapan untuk suaminya tersebut.

 

Hampir setengah jam ia berkutat di dapur saat Donghae muncul dengan penampilan rapi dan wajah yang tampak lebih segar.

 

“Apa jadwal oppa pagi lagi?”

 

“De, karena sebentar lagi album ke 6 akan dirilis, kami jadi makin sering ke SM untuk latihan, apalagi aku juga ada syutting. Hani, maafkan aku karena kau jadi kesepian,” jawab Donghae dengan penuh ekspresi bersalah, sesekali ia menyuap makanannya.

 

“Anniyo, oppa. Aku tak apa.”

 

Donghae tersenyum bahagia, istrinya begitu perhatian dan sangat menyayanginya. Ia cukup bersyukur karena hal ini. Meski ia juga tau Hani pasti memendam luka di dalam hatinya.

 

“Aku berangkat dulu, sayang,” pamit Donghae. Diciumnya dahi istrinya yang menurutnya cukup seksi. Jika bagi Hani, dahi Donghae adalah bagiannya yang paling disukainya, ini Donghae tau saat ia bertanya kenapa Hani sering membelai dahinya melalui poster ajaib yang Hani dapatkan waktu itu. Maka begitu pula bagi Donghae, ia sangat menyukai dahi milik istrinya itu. Entah karena apa, tapi ia selalu ingin memberi kecupan pada dahi putih bersih itu.

 

“Hati-hati, oppa. Jangan lupa makan tepat waktu,” pesan Hani saat ia mengantar Donghae sampai ke depan pintu.

 

Hani tersenyum hambar saat ia kembali sendiri di rumahnya. Rasa rindu pun kembali menghinggapi perasaannya, hanya bertemu saat ia bangun tidur hingga mereka selesai sarapan membuat hatinya terasa kosong, seolah ada lubang besar yang menganga disana. Dia tau ini sudah menjadi resikonya menikahi seorang artis, terkadang ia ingin sekali mengatakan kepada suaminya bahwa dia merasa rindu dan ingin sekali menghabiskan waktunya bersama suaminya. Karena itulah, untuk mengatasi rindunya, terkadang dia diam-diam datang kelokasi syutting tempat Donghae bekerja, hanya untuk sekedar melihat bagaimana keadaan suaminya. Apakah suaminya berkerja dengan baik atau tidak, makan tepat waktu atau tidak. Dia menyuruh manajer yang biasa menemani suaminya itu tidak memberi tahu keberadaanya pada Donghae, dia hanya tidak ingin Donghae terganggu dengan kegadiranya. Kadang, rasa cemburu pun juga muncul saat ia menyaksikan Donghae dan lawan mainnya melakukan adegan yang terlalu romantis, bahkan terkadang hanya adegan pelukanpun berhasil membuat dirinya panas. Merasa tak rela jika suaminya, Donghaenya memeluk wanita lain.

 

***

 

Hari ini donghae pulang lebih cepat, Hani pun merasa senang karena akhirnya malam ini mereka bisa makan malam bersama. Setelah makan malam, mereka pun saling berbincang satu sama lain, mereka sama-sama menceritakan hal apa saja yang mereka lewati hari ini. Donghae pun menceritakan apa saja yang terjadi padanya hari ini, dia kesulitan untuk melakukan adegan ketika dia harus menatap lawan mainya dalam waktu yang cukup lama. Hani pun hanya bisa mencoba bersikap tenang meski sesungguhnya dia sangat ingin mencekik seseorang untuk melampiaskan rasa kesalnya.

 

“oppa ayo kita tidur, aku sudah sangat lelah, kau juga kan?” Hani menarik-narik tangan Donghae, pria itu pun menarik Hani sehingga istrinya itu jatuh di pangkuanya.

 

“emm, sudah sangat lama aku ingin melakukan ini, bisa kah kau tetap dalam posisi seperti ini untuk beberapa saat?”

 

Hani mengangguk, untuk beberapa saat mereka saling terdiam satu sama lain, setidaknya rasa rindu mereka mulai terobati. Donghae pun membelai rambut panjang milik istrinya itu dengan lembut, menikmati wajah cantik istrinya yang dalam beberapa hari ini tak dapat ia lakukan sepuas yang ia mau.

 

Tak lama kemudian bunyi ponsel Hani memecahkan kesunyian yang tercipta di antara mereka. Hani pun merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya, dan mengangkat panggilan tersebut dengan posisi yang sama.

 

“yeoboseo?”

 

‘Hani-ya kau belum mengirim data yang aku minta ya?’ selly menelpon Hani dengan perasaan setengah kesal.

 

“Ahh iya, tunggu sebentar! Aku akan mengirimnya sekarang.”

 

“siapa?”

 

“selly, aku lupa memgirim data kelompok kepadanya. Oppa kau tidur sana, nanti aku akan menyusul,” hani pun menghilang dari pandangan Donghae. Donghae pun langsung menuju kamar tidurnya. Sambil menunggu kedatangan istrinya dia pun memutuskan untuk membuka akun twitternya yg sudah jarang dia buka, lalu setengah iseng ia mengupdate status dengan foto dirinya bersama lawan mainya di drama yang tengah ia kerjakan saat ini. Tak lama hani pun datang, dengan setengah berlari dia melompat keatas ranjang, dimana Donghae tengah duduk bersandarkan kepala ranjang. Karena penasaran dengan apa yang tengah suaminya lakukan, Hani pun berinisiatif mengintip iphone milik suaminya itu. Matanya pun melebar seketika saat ia tau bahwa yang Donghae lakukan adalah mengupload foto dirinya bersama wanita yang menjadi lawan mainnya di dalam drama. Rasa cemburunya pun tidak bisa ia bendung lagi.

 

“Ehem kau mengupload fotomu dengannya, kenapa tidak sekalian saja kau tulis disitu, selamat malam sayang?” dari intonasinya sangat kelihatan bahwa Hani sedang cemburu.

 

“Aishh apa yang kau katakan?” Donghae meletakkan iphonenya dan berusaha untuk memeluk Hani yang kini menyelimuti tubuhnya hingga ke atas kepala, tapi gadis itu menepisnya.

 

“jika kau benar-benar menyukainya, kenapa tidak kau kencani saja dia. Aku yakin banyak elf yg merestui hubungan kalian,” Hani bangun karena merasa kesal dengan ulah Donghae yang terus mencoba memeluknya, dan duduk diatas ranjang sambil melipat kedua tangan didada.

 

“kau sedang cemburu?”

 

“Mwo?? Cemburu??, memang aku terlihat seperti orang yang sedang cemburu??” katanya berusaha menutupi perasaanya.

 

“Memang kau tidak merasa begitu??” goda Donghae sambil menahan senyum. Istrinya sedang marah, tentu ia tidak boleh tersenyum atau itu justru akan semakin membuat istrinya merasa dipermainkan.

 

“Tidak!” bantah Hani.

 

“Apa kau yakin??”

 

Donghae pun bangkit, kemudian dia mengambil posisi duduk agar berhadapan dengan gadis yang dia sayangi.

 

“oke, oppa. Aku cemburu, apa kau puas?!!” Hani menghembuskan napas panjang.

 

“Aku tidak suka kau mengupload fotomu dan mengucapkan selamat malam pada gadis lain, aku tidak suka kau terlalu lama menatap gadis lain selain aku. Kadang aku suka bingung jika kau terlihat tampan, apa aku harus senang atau aku harus sedih, aku mau kau terlihat tampan jika dihadapan ku saja. Tapi itu semua tidak benar, aku harus menahan diriku dari perasaan yang seperti itu, oppa kau pasti menyesal menikahi gadis egois sepetiku,” mata Hani pun mulai berkaca-kaca, wajah gadis itu memerah karna menahan amarahnya sejak tadi.

Donghae pun membawa Hani kedalam pelukannya, gadis itu pun akhirnya menangis karna kesal dengan dirinya sendiri.

 

“Aku tidak akan pernah merasa menyesal karna menikah denganmu, aku pun tau alasanmu untuk bersikap seperti itu. Baiklah aku tidak akan mengupload foto atau mengucapkan selamat malam pada gadis lain. Maafkan aku istriku,” Donghae mengecup dahi milik istrinya singkat.

 

“Oppa aku yang salah, aku yang egois, tak bisa memahamimu yang seorang artis, padahal aku sendiri adalah ELF, seharusnya aku paham dan tidak bersikap seperti ini. Aku adalah istri yang tidak baik untukmu.”

 

“Sst, berhenti berbicara seperti itu, karna itu akan membuatku sedih. Menurutku Kau adalah istri terbaik didunia.”

“aishh oppa ini bukan saatnya kau menggombaliku!” Hani mendorong Donghae sampai pria itu berbaring keranjang dan disambut dengan kekehan kecil oleh Donghae. Donghae pun menarik pinggang Hani sehingga gadis itu jatuh dalam pelukkannya.

 

“Baiklah, sepertinya ini sudah cukup larut. Kau bilang tadi sudah sangat mengantuk kan? Kalau begitu, mari kita tidur,” ajak Donghae seraya mengeratkan pelukannya.

 

“De, aku sangat mengantuk,” Hani memejamkan matanya, selama beberapa saat ia terbuai dengan aroma tubuh Donghae yang khas dan juga belaian lembut dipunggungnya. Membuat ia dengan cepat pergi ke alam mimpi yang indah.

 

***

 

Super Junior Dorm’s 11 floor

02 July 2012, 07.00pm

 

“Semua sudah selesai kan?” tanya Donghae, diamatinya seluruh makanan yang terhidang diatas meja.

Tampak begitu menggugah selera, apalagi perutnya yang memang belum di isi dari siang tadi.

 

“Ya, syukurlah sudah selesai,” jawab Leeteuk dengan ekspresi lelah.

 

Tentu saja lelah, mereka terpaksa mengangkat 2 meja yang ada di dorm lantai 12 dan apartment Donghae berikut dengan kursi-kursinya agar meja yang akan mereka tempati cukup untuk semua orang.

 

Malam ini mereka sengaja memasak begitu banyak makanan, untuk merayakan pesta ulang tahun istri Donghae yang ke 21.

 

“Masih ada yang kurang sepertinya,” Ryeowook tampak mengamati meja makan yang kini memanjang di ruang tengah dorm mereka, matanya membelalak saat akhirnya ia tau apa yang kurang dari susunan makanan di atas meja itu. “Donghae hyung, apa kau sudah membeli kue?” tanyanya dengan wajah resah. Andai ia tau, ia pasti akan membuatnya dari semalam.

 

“Astaga, aku lupa. Otteohke?”

 

“Ck, kau ini. Seharusnya kau sudah persiapkan sedari kemarin. Bikin acara kok dadakan, untung kita semua sedang longgar jadwalnya,” komentar Yesung tajam, ia duduk di lantai sambil bermain dengan kkoming dan choco.

 

“Bukannya pacar Siwon hyung yang gadis Cina itu baru saja buka cabang disini? Siapa namanya? Liu qie? Kenapa kau tidak pesan kesana saja?” usul Kyuhyun yang baru saja selesai mandi, setelah ikut menggotong meja tentunya.

 

“Kau benar Kyu!” pekik Leeteuk, “Siwon juga sepertinya ada disana, sejak gadis itu tiba disini kan, selain bekerja, dia sibuk menempel pada gadis itu.”

 

Shindong yang juga tengah terbaring di lantai karena kelelahan juga hanya ikut mengangguk membenarkan.

 

“Baiklah, kalau begitu aku akan menelponnya.”

 

Dengan cekatan Donghae meraih ponselnya, kemudian menghubungi nomor Siwon. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilan itu di jawab,

 

“Yeoboseyo Donghae-ya, waeyo?”

 

“Siwon-ah, kau dimana? Apa di toko kue milik Nichan?” tanya Donghae to the point.

 

“Ne, memangnya kenapa?”

 

“Bisakah kau bawakan kue ulang tahun untuk Hani? Kami lupa membeli kuenya.”

 

“Oh, soal itu. Kau tenang saja. Kue ulang tahun istrimu tinggal mendapat sentuhan terakhir dan selesai.”

 

Donghae menghembuskan nafasnya dengan lega. “Gomawo, Siwon-ah.”

 

“Ne, cheonma. Ya sudah, aku tutup telponnya. Kami sudah selesai, dan akan segera berangkat ke dorm. Hani masih belum datang kan?”

 

“Tidak, dia akan datang pukul delapan nanti. Oke, kau hati-hati di jalan.”

 

“Ne.”

 

Donghae menutup panggilannya, “aman,” cengirnya ke arah member lain yang menatapnya.

 

“Oh..syukurlah kalau begitu, kapan mereka sampai?” tanya Leeteuk, semua member yang ada termasuk Kangin juga ikut mengangguk.

 

“Toko Nichan itu sekitar 20 menit dari sini, jadi tak lama lagi pasti mereka akan sampai. Lagipula, menurut Selly, yang kutugaskan untuk membawa Hani jalan-jalan hingga persiapan kita selesai, mereka akan tiba sekitar pukul delapan, jadi kita masih punya cukup waktu,” ucap Donghae panjang lebar.

 

PIP

 

Bunyi tanda pintu terbuka terdengar, kemudian muncul lah Sungmin dan Heechul yang masing-masing menenteng satu kantong plastik.

 

“Kenapa kau lama sekali, Sungmin-ah?” protes Shindong.

 

“Mian, hyung. Aku tadi bertemu dengan Heechul hyung, dan dia bilang dia ingin membeli beberapa botol soju, jadi kami pergi ke supermarket sekalian.”

 

“Ya, Sungmin benar. Pesta ulang tahun tak menarik kalau tak ada soju bukan?” sahut Heechul sambil menata botol-botol soju ke dalam lemari pendingin.

 

PIP

 

Lagi-lagi bunyi pengaman pintu yang terbuka terdengar, disusul dengan Eunhyuk yang tampak menggandeng seorang gadis masuk ke ruang tengah tempat mereka berkumpul.

 

“Ya! Kemana saja kau hah?!” bentak Kangin kesal. Daritadi dia memang sudah kesal dengan dongsaengnya yang satu itu. Pamitnya membeli kado, tapi hampir 4 jam baru kembali, bawa cewek pula.

 

“Eish, hyung. Jangan marah dulu, kalian kan tidak tau hal apa yang akan terjadi padaku. Makanya aku jadi terlambat datang. Memangnya semua sudah selesai?” ucap Eunhyuk membela diri. Kakinya melangkah ke arah meja makan yang membentang di ruangan itu, bibirnya sesekali berdecak mengagumi makanan yang terhidang di atas meja.

 

“Memangnya hal apa yang menimpamu sampai-sampai melupakan kami yang sedang berkerja keras disini? Kau bahkan baru sampai saat semua sudah selesai,” timpal Yesung tajam.

 

“Ah. itu..,” Eunhyuk menggaruk lehernya canggung.

 

“Sudahlah. Hyuk-ah, kau tak ingin mengenalkan gadis yang kau gandeng sedari tadi itu pada kami?” tanya Shindong dengan ekspresi penasaran, begitu pula member yang lain, yang tengah duduk santai di sofa yang juga ada di ruangan itu, hanya saja letaknya sedikit di geser ke sudut agar ruangannya tampak lebih luas.

 

Eunhyuk menepuk dahinya pelan, “aku sampai lupa. Kenalkan, ini kekasihku. Hyon-ah, perkenalkan dirimu pada mereka.”

 

Gadis yang tampak cantik dengan balutan baju dan celana jeans simple itu membungkuk sejenak, “annyeonghaseyo, oppadeul. Nan Park Hyon Hee imnida. Bangapseumnida.”

 

“Jadi kalian berpacaran? Jadi kau keluar sedari sore hanya untuk berkencan, Eunhyuk-ah?” dengan sangat kurang ajarnya Kyuhyun bertanya, bahkan pandangan matanya tak lepas dari laptop yang ia mainkan.

 

Eunhyuk bersungut marah, kesal karena magnae di groupnya itu lagi-lagi memanggilnya tanpa sebutan hyung.

 

“Sudah, jangan ribut. Hyon Hee-shi, senang bisa mengenalmu. Semoga hubungan kalian bertahan lama,” lerai Leeteuk, disambut oleh senyuman manis dari Hyon Hee.

 

Mereka terus berbincang membahas tentang bagaimana Eunhyuk dan Hyon Hee bisa resmi berkencan, yang ternyata baru diresmikan tadi sore. Hingga akhirnya Siwon dan Nichan datang, mereka membawa kue tart berukuran sedang dan tampak lezat.

 

Tak lama, pesan dari Selly masuk ke ponsel Donghae, Selly bilang mereka sudah sampai di lobi apartment.

 

“Mereka sudah mau naik, ayo cepat bersiap!”

 

Semua member termasuk Nichan dan Hyon Hee saling menghambur ke pinggir ruangan dengan pinata di tangan masing-masing. Siwon yang kebetulan dekat dengan saklar, cepat-cepat mematikan lampu ruangan tersebut. Sedangkan Donghae sudah siap berdiri di depan meja makan dengan kue di tangannya. Terdapat dua lilin berbentuk angka 21 yang menancap diatasnya.

 

PIP

 

“Sel, kok gelap ya?”

 

Terdengar suara Hani dari arah depan setelah bunyi pip yang menandakan pintu terbuka. Jantung Donghae mulai berdetak kencang, ia merasa gugup, ini adalah kali pertama ia merayakan ulang tahun Hani, baik saat mereka pacaran ataupun setelah pernikahan. Dan itu membuatnya semakin gugup sekaligus antusias dan bersemangat.

 

“Apa mati lampu ya, Han? Sudah, kau jalan dulu saja, aku akan mencari letak saklarnya,” sahut suara lain yang sudah dapat Donghae pastikan itu suara Selly.

 

“Ya, baiklah..”

 

Derap langkah pelan mulai terdengar semakin mendekat. Dan saat bayangan samar Hani muncul, Donghae tersenyum lembut.

 

“Saengil chukhae hamnida, saengil chukhae hamnida, saranghaneun uri anae, saengil chukhae hamnida.”

 

Donghae bersenandung pelan sembari menghampiri Hani yang berdiri mematung di tengah pintu. Wajahnya tampak terkejut luar biasa, tak urung matanya juga mulai berkaca-kaca.

 

“Saengil chukhae, honey.”

 

 

“SAENGIL CHUKHAE HAMNIDA, LEE HANI!!”

 

Pekikan serentak dari semua member  yang dibarengi dengan hidupnya lampu ruang tengah membuat Hani semakin terkejut. Ia tak menyangka ulang tahunnya kali ini akan dirayakan seramai ini. Bahkan oleh suami dan idola yang ia cintai.

 

“Oppadeul..” ucap Hani serak menahan tangis, “gomawo, kalian membuatku terharu.”

 

Donghae tersenyum lembut, diusapnya pipi merah istrinya yang tengah menahan tangis. Sedangkan para member saling tertawa bahagia, bahkan beberapa dari mereka sesekali mengusap kepala Hani sambil mengucapkan selamat.

 

“Cha, tiup lilinnya sekarang, Hani-ya,” pekik Heechul tak sabar.

 

“Baiklah, Hani. Sekarang ucapkan permohonanmu lalu tiup lilin ini,” perintah Donghae seraya menyodorkan kue yang ada di tangannya ke hadapan Hani.

 

Hani tersenyum kemudian menutup matanya selama beberapa saat, kemudian meniup lilinnya hingga padam.

 

“Yaiy..mari makaaan!” Shindong bersorak gembira, setelah mencolek pipi Hani dengan krim kuenya, Shindong langsung menghambur ke meja makan di ikuti oleh semua orang yang ada di ruangan itu, meski mereka juga tak lupa memberi satu coletan krim di wajah Hani.

 

“Selamat, kau sudah makin dewasa. Ku doakan kau selalu sehat dan selalu ada di sampingku, istriku sayang.”

 

Donghae mengecup dahi istrinya singkat, kemudian menggandeng Hani yang tengah bersemu-semu itu ke meja makan yang telah disiapkan.

 

“Baiklah, sepertinya semua sudah berkumpul. Kalau begitu ayo kita makan!” seru Leeteuk disusul sorakan oleh semua member termasuk Hani dan Selly yang terkagum-kagum dengan semua makanan di atas meja tersebut.

 

“Hani, kau harus makan sup rumput laut ini. Ini buatan Donghae hyung loh,” Ryeowook mengangsurkan semangkuk sup rumput laut kehadapan Hani.

 

Hani menatap Donghae dan sup itu dengan tatapan tak percaya, suaminya yang suka bangun siang itu memasakkan sup rumput laut untuknya, “jeongmal?”

 

Donghae tersenyum malu, “kurasa agak kurang enak.”

 

Hani menyesap kuah sup itu, kemudian ia tersenyum pada Donghae, “ini enak kok.”

 

“Eish..suami istri yang mesra…kapan kami dapat keponakan?”

 

“Uhuk uhuk..” Hani yang tengah mencoba sup rumput laut buatan Donghae langsung tersedak saat kalimat terakhir Heechul masuk ke gendang telinganya.

 

“Kau tak apa?” tanya Donghae sedikit khawatir seraya memberikan segelas air putih yang langsung di minum Hani sampai habis.

 

“YA, OPPA! Kau jangan meledekku, aish, pertanyaan macam apa itu,” sungut Hani.

 

“Mian, aku hanya bercanda. Ayo makan lagi. Habis ini kita buat permainan.”

 

Semua orang di meja makan itu berseru kompak. Mereka makan dengan diselingi canda tawa. Tak lupa Siwon dan Eunhyuk mengenalkan kekasihnya pada Hani dan Selly.

 

Selesai makan, semua member dan para wanita duduk di lantai, mereka membuat lingkaran yang tak terlalu besar dengan sebuah botol cola kosong dan semangkuk kertas kecil yang telah ditulisi sebuah hukuman oleh masing-masing member Super Junior dan para wanita di tengahnya. Mereka akan bermain truth or dare.

 

“Baiklah, peraturannya cukup mudah,” mulai Heechul. “Jika ujung botol ini mengarah ke salah satu dari kalian, berarti kalian harus memilih truth atau dare. Jika memilih truth, kalian harus menjawab pertanyaan kami dengan jujur, kalau memilih dare kalian harus melakukan apapun yang ada di dalam kertas di mangkuk itu. Jika tidak bisa, kalian harus menerima hukuman. Hahaha..”

 

“Tapi oppa, kalian tidak akan menanyakan hal-hal yang aneh kan?” Hyon Hee bertanya dengan khawatir.

 

“Tidak, tidak. Aku tidak akan bertanya apa kau dan Hyuk sudah ciuman, Hyeon Hee-shi,” Heechul menyeringai pada Eunhyuk yang spontan memberengut.

 

“Sudah siap? Akan aku putar sekarang. Siap-siap ya?”

 

Botol yang diputar oleh Heechul mulai berputar dengan cepat kemudian melambat secara perlahan. Perhatian semua orang mengarah pada ujung botol itu yang akhirnya berhenti ke arah Leeteuk.

 

“WOAAA,” sorakan sontak keluar dari semua orang.

 

“Yak, hyung. Kau pilih truth atau dare?” Kangin bertanya dengan penuh kebahagian saat melihat ekspresi frustasi memancar di wajah leadernya.

 

Leeteuk diam sejenak, “aku pilih truth.”

 

“Waaah, jinjja daebak! Kalau begitu biar aku yang bertanya,” Kyuhyun menyeringai dengan bahagia, seakan menemukan mangsa empuk. “Kau, apa kau sudah punya kekasih, hyung? Jawab dengan jujur, kekekeke.”

 

“Woaah, benar. Hyung, cepat jawab!”

 

“Jadi Teuk oppa juga sudah punya pacar?”

 

Wajah Leeteuk memucat, dipelototinya magnae yang benar-benar menyebalkan itu.

 

“Ayo hyung, jangan diam saja.”

 

Seruan tak sabar mulai bersahut-sahutan. Semua menatap ingin tau ke arah Leeteuk yang tetap diam tak mau menjawab.

 

“Yak, kalau kau tak segera menjawab, Teuk-ah. Aku akan memberimu hukuman,” ancam Heechul dengan suara rendah.

 

“Aish, baiklah! Akan ku jawab,” Leeteuk berseru kesal. “Aku..eum..sudah bertunangan.”

 

“MWOYA?!!”

 

Pekik semua orang tak percaya. Bahkan Heechul yang duduk di sebelahnya pun sampai ternganga lebar.

 

“Sejak kapan, hyung?” tanya Yesung yang sudah kembali dari rasa shocknya.

 

“6 bulan yang lalu.”

 

“MWORAGO??”

 

Sungmin menggeleng tak percaya, “dan baru sekarang hyung katakan? Dan itupun karena kami paksa? Astaga,” Sungmin mendesah kecewa. Para member SJ pun juga sama. Mereka menatap Leeteuk menuntut. Meminta penjelasan atas diamnya Leeteuk tentang hal ini. Kecewa karena merasa tak di percaya oleh hyung mereka sendiri.

 

“Mian, ini..aku hanya merasa belum siap mengatakan pada kalian,” Leeteuk tampak merasa tak enak hati.

 

Suasana menjadi sunyi karena semua orang diam. Saling berbicara dengan diri sendiri di dalam hati.

 

“Ya sudah, ayo kita lanjutkan saja. Buatmu Teuk-ah, karena kau telah membohongi kami, kau kami hukum membawakan barang-barang semua member selama 1 minggu promosi.”

 

“Yak! Mana bisa begitu..”

 

“Eits, hyung tak boleh protes. Ayo putar botolnya!”

 

Botol kembali di putar, perhatian semua orang kembali terpusat pada desingan botol yang mulai melambat.

 

“Yak, Cho Kyuhyun. Kau pilih truth atau dare?” Heechul berseru senang karena ujung botol mengarah ke Kyuhyun yang kebetulan duduk di hadapannya.

 

“Dare.”

 

Dengan tanpa diminta, Kyuhyun maju ke tengah lingkaran mengambil 1 kertas kecil yang ada di mangkuk.

 

“HAH?! Yak! Siapa yang membuat perintah macam ini? Aish, aku tidak mau!!” Kyuhyun berseru kesal setelah membaca isi dari kertas tersebut kemudian meremasnya hingga menjadi gumpalan kecil.

 

Sedangkan semua orang terutama Kangin dan Selly-yang kebetulan duduk disamping Kyuhyun-menatapnya penasaran.

 

“Memang apa yang harus kau lakukan?” tanya Sungmin.

 

Wajah Kyuhyun seketika memerah, ia diam menolak menjawab dan justru memasang wajah garangnya.

 

“Kalau kau tak mau melakukan apapun yang ada di kertas itu, Hyunnie-ya,” Heechul mendesis penuh ancaman, bahkan ia menambahkan panggilan manis yang justru terkesan makin menyeramkan bagi yang mendengarkan. “Maka kau harus menerima sentilan di dahi dari kami semua.”

 

Kyuhyun melotot, mulutnya menganga. Bahkan ia reflek melindungi dahinya dengan ke dua tangan. “H-hyung, besok kami ada prescon.”

 

“Tak apa Kyuhyun-ah. Kan bisa ditutup dengan poni seandainya nanti membekas,” Siwon tersenyum lebar, tampak senang karena hukuman menyentil dahi magnae itu.

 

Kyuhyun bergidik ngeri menatap Siwon dan ototnya. Jika yang lain mungkin hanya merah, taph kalau Siwon yang ototnya makin besar setiap harinya itu, bisa-bisa biru-biru dahinya nanti, dan Kyuhyun tidak mau seperti itu.

 

“Ayo cepat, Kyuhyun-ah. Kau pilih melakukan tantanganmu atau kami hukum?”

 

“Iya, oppa. Malam sudah semakin larut, aku mengantuk nih.”

 

Seruan-seruan tak sabar mulai keluar dari mulut mereka, membuat Kyuhyun semakin terpojok dan melakukan tantangan yang ada di dalam kertas tersebut. Yah, itu lebih baik daripada sentilan dari 14 tangan manusia kan?

 

“Mianhae, Selly-ya.”

 

Kyuhyun dengan secepat kilat mencondongkan badannya ke arah Selly yang tengah menghadap ke arahnya, dan dengan cepat pula mendaratkan bibirnya ke dahi Selly. Meski tak sampai satu detik, tapi itu sudah cukup untuk membuat suasana dorm SJ lantai 11 menjadi semakin gaduh. Semua orang sibuk bersorak, bahkan Hani sampai berteriak.

 

“OPPA, AKU JUGA MAUU. Ayo cium keningku!!” seru Hani sambil memamerkan dahinya yang tertutup oleh poni. Donghae bahkan harus memegangi tangan Hani agar gadis itu tidak melompat ke arah Kyuhyun.

 

“Yak, aku ini suamimu. Kenapa kau minta dicium Kyuhyun?” protesnya.

 

Hani tersenyum cengengesan, “mian, oppa. Aku hanya terlalu senang.”

 

“Ish, kau ini!”

 

“Selly? Ahn Selly, kau tak apa?” Ryeowook tampak melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Selly yang mematung setelah insiden kecupan kilat magnae Super Junior.

 

Sedangkan pelakunya justru memilih melarikan diri ke kamarnya karena malu. Mau bagaimanapun, ia cukup ada rasa pada gadis yang baru saja ia cium keningnya. Jelas ia jadi malu, bahkan jantungnya tak mau kembali berdetak dengan normal.

 

“Hei, Selly-ya!”

 

Kembali keruang tengah, semua orang sibuk menyadarkan Selly yang tengah shock. Hingga setelah hampir 10 menit mereka mencoba, akhirnya Selly mengedipkan matanya beberapa kali. Tampak tersadar dan kembali ke dunia nyata.

 

“Kau tak apa, Selly-ya?” Hani menatap Selly khawatir.

 

“Apa tadi Kyuhyun oppa menciumku? Nyium jidat aku?” tanya Selly dalam bahasa ibunya, bahasa Indonesia.

 

Hani berdecak kesal, “iya, senang?”

 

“Ah..aku jadi pusing saking senangnya. Bisakah aku pulang sekarang saja?” tanyanya lagi.

 

“Yah..kok pulang,” keluh Yesung. “Lagipula, kau kan suka padaku. Kenapa sesenang itu dicium Kyuhyun, Selly-ya?”

 

“Kalau oppa cium dahi aku, aku bakal lebih senang lagi,” Selly tersenyum manis ke arah Yesung. Dan langsung mendapat jitakan maha kuat dari Hani yang membuatnya mengaduh seraya mengusap bagian kepalanya yang terasa perih.

 

“Yak, appo!!”

 

“Bukan urusanku,” Hani kembali ke tempat duduknya disebelah Donghae. “Oppa, sebelum acara ini selesai, ada yang ingin aku minta. Kalian belum memberiku hadiah kan?”

 

“Makan malam tadi kan hadiah dari kami,” seru Leeteuk.

 

Hani memutar matanya jengah, ‘dasar pelit,’ batinnya.

 

“Aku tak akan minta hadiah dalam bentuk barang kok. Tapi aku ingin kalian memaafkan kami,” lanjut Hani.

 

“Kami?”

 

Alis semua member berkerut tak mengerti, kecuali Donghae dan Eunhyuk yang langsung paham dengan maksud Hani, wajah mereka berubah tegang. Mulai terbayang apa saja yang akan dilakukan member mereka jika ternyata mereka telah berbohong.

 

“Sebenarnya, aku dan Donghae oppa,” Hani diam sejenak, mengamati ekspresi masing-masing member yang tampak serius mendengarkan ucapannya. Ditatapnya wajah Donghae berubah tegang, dieratkannya genggamannya ditelapak tangan Donghae, meminta sekaligus memberi kekuatan untuk mengungkapkan apa yang telah mereka lakukan.

 

“Kami tidak pernah melakukannya. Waktu itu..waktu itu kami hanya bersandiwara, agar Teukie oppa mengijinkan kami menikah,” tutur Hani apa adanya. Hatinya menjadi lega saat semua kalimatnya tersebut keluar dengan mulus dari bibirnya.

 

Semua member terkejut, sedangkan Hyeon Hee dan juga Nichan tampak diam tak mengerti. Sedangkan Selly, ia tersenyum maklum, ia sudah menyangka bahwa hal itu tidak benar. Dan ternyata dugaannya tepat.

 

“Jadi kalian membohongiku?” Leeteuk bertanya dengan pelan. “KAU MEMBOHOGIKU LEE DONGHAE??” bentaknya.

 

“Hyung, tahan emosimu,” ucap Siwon mengingatkan. “Aku akan mengantar Nichan pulang. Selesaikan hal ini dengan baik-baik,” pamitnya seraya menggadeng kekasihnya keluar dorm.

 

“Kalau begitu aku juga akan mengantar Hyeon Hee. Selly-ya, ayo sekalian ku antar kau kerumahmu,” ajak Eunhyuk yang dijawab anggukan oleh Selly.

 

Kyuhyun yang tadinya sudah larut dengan permainan gamenya seketika mempause permainannya saat teriakan hyungnya terdengar. Dan begitu ia keluar, yang ia dapati adalah membernya yang sudah tak selengkap tadi tengah terdiam menatap Donghae dan Hani yang menunduk.

‘Apa yang terjadi?’ tanyanya dalam hati.

 

“Apa sebegitu inginnyakah kalian menikah?” desis Leeteuk. disampingnya, Heechul merangkul bahunya dalam diam.

 

“Kami minta maaf, hyung.”

 

“Maaf? Apa kau pikir dengan maaf saja cukup hah?? Kau tau apa yang kulakuan agar kalian bisa menikah. Dan kau, Lee Donghae, kau tak tau kan bagaimana aku meminta ijin pada Kim sajangnim?” Leeteuk merepet marah. “Aku bahkan rela bersujud pada sajangnim hanya agar kau bisa menikah. Karena aku terus memikirkanmu, memikirkan jika kalian tak menikah, dan Hanny sampai hamil, apa yang akan terjadi padamu, pada gadis ini dan pada kita. Tapi, ahahaha…ternyata kekhawatiranku hanyalah lelucon bagimu.”

 

Donghae terus menunduk dalam, sedangkan Hani menggigit bibirnya kuat-kuat agar ia tak menangis. Rasa bersalah semakin membesar saat mereka melihat ekspresi terluka dan kecewa di wajah hyungnya.

 

“Hyung, aku menyesal telah berbohong. Kumohon, maafkan aku, hyung.”

 

“Entahlah, Donghae-ya. Kau mengecewakanku.” Leeteuk bangkit dari dudukannya dan melangkah meninggalkan mereka.

 

“Hyung,” panggil Donghae menghentikan langkah Leeteuk. “Aku-”

 

“Lebih baik kau pikirkan cara agar kau cepat mendapat anak. Aku..” potong Leeteuk seraya menggosok hidungnya dengan gugup. “Aku beralasan kalau Hani hamil agar sajangnim mengijinkanmu menikah.”

 

“APA?!!”

 

Semua member dan Hani langsung berteriak dengan kompak. Bahkan Donghae langsung berdiri sakit shocknya.

 

“AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA”

 

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. Kemudian di ikuti oleh member yang lain. Mereka merasa lucu dengan semua pengakuan yang baru saja terjadi.

 

“Jadi, darimana kau dapat ide daebak seperti itu, Donghae-ya?” tanya Kangin. Kyuhyun dan Shindong mengangguk semangat.

 

“aku tak yakin kau sendiri yang merencanakan hal ini,” timpal Sungmin.

 

“Ya, benar. Apalagi kalau idenya darimu, Hani. Aku makin tak percaya.”

 

“A-anniya. Aku hanya ikut intruksi dari Hae oppa,” buru-buru Hani membela diri dari ucapan Yesung.

 

Leeteuk kembali duduk disamping Heechul, ditatapnya Donghae yang tengah terdiam dengan penasaran, “apa ada hubungan dengan Eunhyuk?”

 

Donghae mengangguk pelan membenarkan. Sedangkan Hani memasang ekspresi ‘jelas. Siapa lagi kalau bukan dia?’

 

“Ya sudah. Toh semua sudah terjadi. Tapi, sebagai hukuman dariku, kalian harus memberi kami keponakan,” putus Leeteuk akhirnya.

 

“Dan aku mau dengar berita itu dalam jangka 3 bulan dari sekarang,” timpal Heechul.

 

“Tapi oppa, aku masih kuliah.”

 

“Kami tak peduli, Hani-ya.” Kyuhyun memamerkan smirk kebanggaannya. “Ah, aku mau main game lagi, sambil menunggu keponakan dari kalian.”

 

“Yak! Tidak bisa begitu! Aku tidak mau!!” pekik Hani.

 

Sayangnya tak ada yang menggubris teriakan Hani. Mereka justru pergi satu persatu, termasuk member lantai 12 yang juga akan kembali ke dorm mereka.

 

“Hani, aku ingin kembar ya?” Sungmin tersenyum aegyo dengan kepala yang menyembul di balik pintu kamarnya. Sengaja menggoda Hani yang bersungut marah.

 

“YAK! AWAS KAU SUNGMIN OPPA!!” Hani berteriak sekencang-kencangnya.

 

“YAK! LEE HANI, JANGAN BERTERIAK, KASIHAN KEPONAKANKU YANG ADA DI PERUTMU AHAHAHAHA!!”

 

“DIAM KAU CHO KYUHYUN!!” Hani menendang pintu kamar KyuMin dengan kesal, meski akhirnya justru telapak kakinya yang berdenyut nyeri.

 

“Sudahlah, ayo kita pulang,” ajak Donghae, di gandengnya Hani yang tampak kesal setengah mati ke arah pintu keluar. “Sebaiknya kita membuat bayi saja di rumah daripada kau marah-marah pada Kyuhyun.”

 

“Ish, kau juga sama saja, dasar mesum!”

 

 

***

 

“Apa itu?” tanya Donghae yang baru saja selesai mandi. Badannya kini terasa segar, setelah bekerja keras seharian penuh tadi. Mulai dari latihan di SM hingga mempersiapkan acara ulang tahun Hani.

 

Hani menoleh sejenak, kemudian kembali fokus pada kotak persegi tak terlalu tebal yang tengah ia buka bungkusnya. “Hadiah dari Eunhyuk oppa.”

 

“Oh, dari Eunhyuk..” Donghae mengangguk mengerti. Selesai menyisir rambutnya mulai panjang, ia merangkak ke atas ranjang. Duduk di sebelah istrinya yang bersandar di kepala tempat tidur.

 

“Apa isinya?”

 

“Entahlah, dia sepertinya mengerjaiku. Bungkusnya tebal sekali.” Hani kembali merobek kertas pembungkus yang entah sudah keberapa lapis.

 

“Kau mengotori tempat tidurnya, Hani-ya.”

 

“Aish, ternyata isinya setipis ini.”

 

“Memang isinya ap-HAH?!” Donghae yang tadinya penasaran kini menganga tak karuan saat akhirnya isi kertas berlapis-lapis itu terlihat. “Jadi uang yang dikumpulkan para member itu hasilnya ini? Kalau cuma ini, gratis juga dapat!”

 

Hani mengamati album Super Junior ke 6 yang ada di tangannya dengan seksama.

 

“ELF bilang, photocardnya random, kira-kira aku dapat siapa ya? Semoga Siwon oppa.” Hani mulai meneliti satu persatu isi dari album terbaru milik Super Junior.

 

“Ya, harusnya kau berharap dapat photocardku, bukannya Siwon!” protes Donghae.

 

“Ish, diamlah,” Hani melirik Donghae tajam. “Yak! Kenapa kau pamer dada dan dahimu, oppa? Ish, menyebalkan!”

 

Hani mengacungkan photocard miliknya yang bergambar Donghae mengenakan kaus tanpa lengan.

 

“Itu fanservis namanya, sayang.”

 

“Fanservis apanya,” sungut Hani. “Kalau Kyu oppa pamer abs, itu baru yang namanya fanservis.”

 

“Aish, iya iya. Lain kali aku tak akan sering-sering pamer dahiku yang seksi ini.” Donghae merengkuh pinggang Hani agar merapat ke tubuhnya.

 

“Sudah ah lihat-lihat albumnya, ayo jalani hukuman dari Teukie hyung dulu.”

 

“YA! AKU TIDAK MAU!!” pekik Hani.

 

“Aku tidak menerima penolakan nyonya Lee.”

 

Dengan gerakan cepat Donghae merebahkan tubuh Hani ke ranjang. Di jepitnya ke dua kaki Hani dengan kakinya agar gadis itu tak memberontak.

 

“Kau tau, mulai saat ini dan seterusnya, aku ingin memilikimu seutuhnya, Hani-ya. Aku ingin kita menjadi sepasang suami istri yang utuh.”

 

Hani terdiam, belaian jari-jari Donghae di pipinya membuat ia tak sanggup menolak. Suaminya itu benar-benar telah membius Hani dengan segala perlakuan dan ucapannya. Dan juga melalui tatapan mata sayu yang sangat Hani sukai.

 

“Kau mau kan?”

 

Donghae mempersempit jarak di antara mereka. Hingga ujung hidung mereka saling bertemu dan kedua manik mata mereka saling menatap satu sama lain. Menyelami setiap rasa yang terpancar dari dalamnya.

 

Donghae mengecup ringan bibir mungil Hani, setelah istri yang amat ia cintai itu memberi ijin bagi dirinya untuk melakukan hal yang sangat ia inginkan.

 

“Saranghae,” bisik Donghae penuh cinta.

 

Kecupan-kecupan lembutpun terus ia berikan, sedangkan tangannya sibuk membelai rambut Hani yang terasa lembut di jemarinya.

 

 

Mereka terus berciuman, tanpa melakukan hal yang lain. Hingga pada akhirnya karena kehabisan nafas, dengan terpaksa mereka saling melepaskan diri. Dan pada kesempatan itulah, Donghae mulai menelusuri rahang milik Hani dengan bibirnya, mengecupinya dengan lembut hingga ke dagu, kemudian turun ke leher, membuat beberapa tanda merah disana dengan bibirnya. Menandakan bahwa Hani telah menjadi miliknya seutuhnya. Terus dijelajahinya setiap jengkal leher dan bahu putih nan harum tersebut. Sedangkan Hani hanya dapat pasrah menerima setiap perlakuan yang suaminya berikan padanya. Ia sudah tak sanggup melakukan apapun saat sentuhan-sentuhan penuh cinta membuatnya melayang.

 

 

Dan pada malam itu, setelah menikah satu bulan lamanya. Mereka saling mengungkapkan cinta dengan cara yang berbeda. Tanpa sebuah kata, tanpa sebuah hadiah, tapi dengan sebuah hal yang sangat diinginkan oleh semua pasangan suami istri.

 

Sebuah persatuan yang akan semakin mengeratkan hubungan cinta mereka. Saling melebur menjadi satu dalam kehangatan yang tak terbayangkan.

 

***

 

 

3 MONTH LATER

 

“Hani, benar kau baik-baik saja?”

 

Hani memutar matanya jengah, sudah lebih dari tiga kali wanita yang berjalan disampingnya ini menanyakan hal yang sama. Ternyata bukan hanya perumpaan like father like son de el el. Ternyata like boyfriend like girlfriend pun ada. Contohnya yang Nichan, mengenalnya selama 3 bulan lebih membuat Hani tau bahwa Nichan itu bisa di bilang mirip dengan kekasihnya, Choi Siwon. Mereka sama-sama suka khawatir secara berlebihan.

 

“Jeongmalyo, unni. Aku benar-benar sehat kok,” Hani tersenyum meyakinkan. “Lebih baik kita melanjutkan mencari kadonya.”

 

Sesekali Hani menoleh ke kanan dan kiri saat ia melangkah. Melihat-lihat isi toko di kawasan Myeongdong dari kaca etalase. Sedangkan Nichan, ia tetap memasang raut khawatirnya seraya mengikuti langkah Hani yang terkesan sangat santai.

 

“Kalau begitu kita istirahat di cafe itu saja dulu. Kau err terlihat sangat pucat,” saran Nichan seraya menunjuk ke arah cafe tak jauh dari tempat berdiri.

 

Hani diam sejenak, “baiklah, ayo kita istirahat.”

 

Mereka berjalan bersisian kearah cafe. Dan begitu mereka masuk, mereka langsung merasa kelelahan di tubuhnya menghilang. Suasana cafe yang sengaja dibuat sederhana itu mampu membuat kedua gadis itu merasa rileks.

 

“Hani, boleh aku bertanya sesuatu?” pinta Nichan setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.

 

Hani mengangguk sekali. Ia sedang asyik mengamati pejalan kaki yang terlihat dari jedela dekat tempat mereka duduk.

 

“Kapan terakhir kau datang bulan?”

 

“HAH?” Hani menatap penuh tanya ke arah Nichan. Tak mengerti dengan arah pembicaraan temannya itu.

 

“Terakhir saat aku ulang tahun waktu itu sepertinya.”

 

“MWO? Benarkah?” Nichan terperangah, namun senyum kebahagiaan sesaat setelahnya. “Lalu, apa kau merasa kurang sehat atau merasa aneh akhir-akhir ini?”

 

Hani menatap semakin tak mengerti, meski tak urung ia menjawabnya juga. “Aku sehat, bahkan aku jadi semakin hobi makan. Makanya aku sedikit lebih gemuk akhir-akhir ini.”

 

“Apa kau pernah merasa mual?” tanya Nichan lagi.

 

“Ck, unni-ya..kau ini kenapa? Kau sudah mirip seorang dokter, ingat profesimu itu koki, pembuat roti, bukan dokter yang hobi menyuntik orang,” jawab Hani keluar topik. Membuat Nichan sedikit merasa jengkel, ketidak pekaannya benar-benar sudah diluar batas normal.

 

“Aish, jawab saja pertanyaanku, Lee Hani.”

 

Hani mendesah lemah, “iya, belakangan ini aku juga sering merasa mual saat bangun tidur.”

 

“Jinjja?” seru Nichan, ia bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya. “Hani, kau tunggu disini. Aku pergi sebentar.”

 

“YA, YA..UNNI!” panggil Hani sia-sia, gadis itu sudah menghilang dari pandangannya. “Kenapa sih? Tadi tanya ini itu, sekarang pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ck, bahkan pesanan pun belum sampai,” gerutu Hani dengan kesal.

 

Hani tengah menyatap es krim coklat miliknya saat Nichan kembali.

 

“Kau lama sekali sih, unni-ya. Bahkan kopimu sudah dingin tuh,” keluh Hani sambil menunjuk secangkir kopi di hadapannya.

 

“Aish, itu nanti saja, sekarang ayo cepat ikut aku ke toilet.”

 

“Mwo? Untuk apa?” tanya Hani ditengah langkah cepatnya menuju toilet, karena Nichan menyeretnya.

 

“Kau akan tau nanti, cepat masuk.”

 

Hani dan Nichan masuk ke dalam toilet perempuan yang kebetulan sedang sepi.

 

“Cepat masuk dan pakai ini,” perintah Nichan seraya mengangsurkan sebuah benda terbungkus plastik yang entah apa.

 

“Ini apa?”

 

“Itu test pack. Ayo cepat pergunakan, intruksinya ada di belakang bungkus.”

 

Di dorongnya Hani hingga masuk ke salah satu bilik closet, kemudian ia tersenyum, merasa ikut bahagia atas dugaannya yang kemungkinan 99% benar.

 

“Unni..”

 

“Ne?” Nichan segera merebut test pack yang di pegang Hani saat gadis itu keluar bilik. Diamatinya tanda strip yang ada di layar kecil test pack tersebut.

 

“KYAAAA CHUKHAE HANI-YA!”

 

Nichan melompat kegirangan, dipeluknya Hani erat-erat.

 

“Unni, eottohke?” tanya Hani lirih, ingin rasanya ia menangis. Melampiaskan berbagai rasa yang kini menyesakkan dadanya.

 

“Eottohke mwoya?”

 

“Kuliahku, unni. Jika aku hamil seperti ini, bagaimana dengan kuliahku? Hiks..” airmata Hani meluncur turun dari pelupuk matanya. Ia benar-benar sedang bimbang.

 

“Aigoo, uri dongsaengie. Kau tak perlu khawatir. Kuliahkan bisa kau lakukan di rumah melalui internet. Seperti oppadeul,” hibur Nichan, dipeluknya Hani dengan erat, sedikit mengusap punggungnya untuk memberi ketenangan.

 

“Kau bahagia kan atas kehamilanmu ini?”

 

Hani tersenyum dan mengangguk, dia usap perutnya masih terlihat datar itu dengan penuh rasa kasih sayang.

 

“Dia adalah calon anakku dan Donghae oppa. Tentu aku merasa bahagia, hanya saja masalah kuliah itu yang membuatku merasa terbebani.”

 

“Sudahlah, tak usah kau pikirkan. Yang penting sekarang kau harus menjaga kandunganmu dengan baik.”

 

“Ne,” Hani tersenyum bahagia.

 

“Ah, ini bisa jadi hadiah ulang tahun Donghae oppa besok. Dan ini pasti akan menjadi kado paling special untuknya,” pekik Nichan semangat.

 

“Jinjja?”

 

“Ne, ayo!” Nichan dengan semangat kembali menyeret Hani keluar toilet.

 

“Sebaiknya kita ke rumah sakit dulu. Kita periksakan tentang kondisi kehamilanmu,” saran Nichan begitu mereka telah berada di luar cafe, dan disambut dengan anggukan bersemangat dan penuh senyum oleh Hani.

 

***

 

HanHae Apartment, 15 October 2012

Breakfast time

 

 

“Wow, apa ada perayaan disini?” tanya Donghae seraya duduk di kursi meja makan apartment mereka. Matanya tak berhenti mengamati berbagai makanan yang tersaji di meja makan.

 

“Ne, hari ini kan perayaan ulang tahunmu yang 27,” jawab Hani dari arah dapur sambil membawa sepanci sup iga sapi yang sangat harum baunya.

 

“Oh, jadi ini untuk merayakan ulang tahunku? Aigoo, istriku memang penyayang.”

 

Donghae bangkit dari kursinya kemudian memeluk Hani dari belakang dan mendaratkan kecupan kilat di pipi istrinya.

 

“Jangan menggobaliku, ini masih pagi,” Hani menepuk gemas lengan suaminya yang melingkar erat di perutnya. Tak urung mereka tertawa karena perdebatan kecil di antara mereka.

 

“Tapi, Hani-ya. Kenapa kau masak sebanyak ini? Ini kita makan dua hari juga tidak akan habis.”

 

“Karena kupikir kau pasti akan mengundang oppadeul kesini, makanya aku memasak banyak sekali makanan.”

 

“HA? Siapa bilang? Ini hanya akan jadi acara kita berdua, sayang..” ucap Donghae kembali ke kursinya.

 

“Benarkah? Aku tak yakin jika kau sudah membuka hadiah dariku,” goda Hani.

 

“Hadiah? Kau masih menyiapkan hadiah juga untukku?” Donghae berseru senang.

 

Hani tersenyum manis sambil menyerahkan sebuah kotak persegi panjang berwarna biru yang di ikat dengan sebuah pita pada Donghae.

 

Donghae menerimanya dengan bahagia, “boleh aku buka sekarang?”

 

“Tentu.”

 

“Apa ini?” dahi Donghae mengkerut sambil memperhatikan benda persegi panjang yang ada di dalam kotak. Disampingnya, Hani berdiri dengan jantung yang berdebar-debar.

 

“Coba kau baca kertasnya,” perintah Hani.

 

Donghae membaca lembaran kertas yang tadi ada di bawah benda persegi yang tak lain adalah test pack yang dipakai Hani kemaren. Mulut Donghae menganga tak percaya pada apa yang tertulis di dalam kertas itu.

 

“Be..benarkan kau..kau hamil? Kau mengandung anakku, Hani-ya?” tanya Donghae meminta kepastian.

 

Hani mengangguk berkali-kali. Matanya berkaca-kaca karena terharu dengan reaksi Donghae yang terlihat begitu bahagia.

 

“Jinjja? Huwaaa, aku akan jadi ayah? Ahahaha aku sebentar lagi akan jadi ayah?” Donghae melonjak senang. Dipeluknya Hani dan memutarnya beberapa kali.

 

“Ahahaha, iya oppa. Kita akan jadi ayah dan ibu sebentar lagi,” Hani tertawa bahagia.

 

Donghae merengkuh ke dua pipi Hani dengan tangannya dan mengecup bibir istrinya itu dalam. “Gomawo..gomawo.”

 

“Ne, sekarang kita harus menjaganya dengan baik, oppa.”

 

Hani meletakkan telapak tangan Donghae pada perutnya yang masih datar itu. Senyum tak lepas dari wajah mereka.

 

“Oh, ya. Sejak kapan kau tau tentang kehamilanmu ini?” tanya Donghae penasaran.

 

Hani tersenyum malu, “aku baru tau kemarin sore, oppa. Itupun karena Nichan unni yang curiga dan memaksaku untuk melakukan tes kehamilan dengan alat itu,” jawab Hani sambil menunjuk test pack yang tergeletak di meja.

 

“Jadi, apakah mual-mualmu tiap bangun tidur sebenarnya karena kau hamil? Dan bukan karena kebanyakan makan seperti yang kamu bilang?”

 

Hani menganggu malu, sedangkan Donghae langsung menghebuskan nafasnya dengan geli. Sangat heran dengan ketidak pekaan istrinya yang kelewat batas itu.

 

“Ahahaha, ya sudah. Aku akan ke dorm untuk mengumumkan kabar gembira ini pada mereka.”

 

Donghae melangkah dengan cepat ke arah pintu. Tapi tiba-tiba ia berhenti dan berteriak pada Hani yang masih ada di dapur.

 

“Sayang, kuharap anak kita akan kembar seperti yang di inginkan Sungmin hyung.”

 

“YAK! ENAK SAJA, KAU LAHIRKAN SENDIRI SAJA KALAU BEGITU.”

 

“Ahahaha, aku hanya bercanda.”

 

***

 

Super Junior’s Dorm, 12 floor

 

Donghae membuka pintu dorm dengan tergesa, ia bahkan menutupnya dengan sedikit berlebihan.

 

“HYUUUNG!!”

 

Shindong yang tengah berjalan ke arah ruang makan spontan menangkap tubuh Donghae yang melayang kearahnya. Rupanya tadi saat Donghae melihat Shindong, ia langsung melompat ke gendongan Shindong.

 

“Ya, apa-apaan kau Donghae-ya? Cepat turun,” pekik Shindong.

 

“AAA HYUNG, KAU AKAN JADI AHJUSSI! AKU AKAN JADI AYAH HYUNG!!” teriak Donghae kelewat bersemangat seraya berjalan ke arah dapur tempat para member sedang sarapan. Bahkan member lantai sebelas pun juga ada di sana.

 

“MWO!!”

 

Semua member pun tak mau kalah, mereka juga ikut berteriak kearah Donghae saking terkejutnya.

 

“Benarkah?” tanya Leeteuk.

 

Donghae mengangguk berkali-kali layaknya anak kecil.

 

“Huwaa, CHUKHAE DONGHAE-YA!!” Eunhyuk langsung menerjang memeluk Donghae di ikuti oleh para member yang lain.

 

“AHAHAHAHA, KITA AKAN JADI AHJUSSI!!”

 

“Hyung, aku request kembar 4!!”

 

“YAK! CHO KYUHYUN! KAU PIKIR ISTRIKU PABRIK ANAK!!”

 

 

-FIN-

 

 

 

 

HUWAAAA….AKHIRNYA FANFIC INI SELESAI JUGA.

*sujud syukur*

asal kalian tau, dalam pembuatan fanfic ini penuh rintangan..jahahahaha

mulai dari hape yang rusak dan jadi gak nulis hampir 2 minggu,

cuma bisa ngetik di siang hari karena kalo malem hapenya di pake adik dan sebagainya.

tp aku bersyukur banget, akhirnya ff ini selesai dan saya PUAS!!

terimakasih buat yang udah baca fanfic aku ini palagi yang mau ninggalin jejak..

komenmu adalah energiku..jehehehehe

yang ngelike juga maksih buat jempolnya..

dan ehem…mungkin ini adalah fanfic berpart terakhir yang saya rilis, karena mmutuskan hiatus dalam dunia tulis menulis.

saya pengen fokus buat nyari kerja. buat modal kawn lari ama bang wonnie kalo ntar papi kiho nggak ngijinin.

*drama mode on*

jadi saya juga mau ngucapin makasih banget buat yang welcome banget ma tulisan saya yang acak2an ini, yang alur-alurnya gak pernah jelas.

dan yang membosankan ini.

GOMAWO..

*Bungkuk dalem*

mari bertemu sebagai sesama reader…

aku juga mau ngucapin GOMAWO, VERY GAMSHA

  1. Hanny yang udah support aku. Gomawo saudara ikan.
  2. Selly Serlin yang udah ngijinin aku buat publish fanfic abal di wp ini. Imaksih banget dongsaeng-ah.
  3. Sujuyongwonhie tercinta.. I LOVE YOU.

With love

SIWONNIE WIFE

NICMA CHOI

 

Advertisements

11 comments on “(SHARE FF) I WANT TO GET MARRIED (Last Sequel)

  1. nice story chingu.bkin story buat selly ma kyu ato yeppa donk kn penasaran aplgi kyu diam2 ada rsa ma selly kekeke.hae childishnya kumt pdhl dh mo pny baby.dtgu karya2 laennya chingu 🙂

  2. Wah………q ska critanya…..tegang pas teuk marah tp ujung ujungnya jadi ngakak…..aaa……q jg mau di cium ma kyuh……..^^ wah akhirnya hani hamil jg….ikt sneng^^kyuh rikwes 4 anak?????kurang bnyak mas.’hani q rikues 13 anak ya……..hehehe

  3. ceritanya bagus
    ya ampun sempet takut pas leeteuk marah2
    kirain bakal ngusir hae untung aja cma main2
    hukumannya malah disuruh bikin anak wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s