(SHARE FF) Caught your Love [Part 4]

Caught your Love [Part 4]

(End of First Case)

 

Author                       : Riikuclouds

Cast                           :

Kim JongWoon, Shin Miwoo (OC)

Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Choi Younha (OC), Han Jiyoung (OC).

Genre                         : Mystery, Detective Story, Romance, Friendship

Rating                        : PG-17

Length                       : Chaptered

 

Jongwoon POV

Baru saja Jiyoung kutelpon untuk menemuinya nanti sore. Sebenarnya aku sejak awal tidak pernah berniat bertemu dengannya. Aku hanya berkata begitu kemarin malam pada Miwoo bermaksud menggodanya. Pada akhirnya aku yang terjebak sendiri. Terpaksa aku harus menemui Jiyoung nanti.

Sekarang aku sedang mengemudikan mobilku menuju rumah sakit jiwa. Di belakang ada dua mobil kepolisian yang mengikuti aku. Pamanku sekarang berada di sampingku. Paman akan ikut untuk menemui istri korban. Sebenarnya berharap menemui tersangka. Soalnya tadi kami menuju rumah tersangka tetapi tersangka tidak ada di sana. Jadi kupikir pasti ia menuju rumah sakit menemui ibunya.

Ketika menyetir aku melewati sebuah halte dan menangkap sesosok orang yang kukenal di ujung jalan tempat penyebrangan jalan. Shin Miwoo. Aku langsung memberhentikan mobilku di halte terdekat. Aku jadi ingin mengajaknya kali ini. Sudah kuputuskan untuk menjadikan yeoja ini asisten pribadiku. Apa aku gila? Jujur aku mulai bisa menerima ia yang tiba-tiba hadir dalam kehidupanku.

“Kenapa berhenti di sini?” Tanya paman.

“Sebentar paman.”

Aku melepaskan sealtbeat, lalu membuka pintu menghampiri Miwoo. Miwoo yang melihatku langsung terkejut dan tanpa sempat membiarkannya bertanya aku menarik tangannya untuk masuk ke mobilku. Duduk di kursi penumpang belakang. Kemudian aku masuk kembali.

“Yak! Kenapa kau.. ah, paman!” ia berniat ingin memakiku tadi tapi langsung berhenti dan bersikap sopan setelah melihat paman duduk di sampingku.

“Aigoo Ternyata karena Miwoo kau tiba-tiba berhenti Jongwoon.”

Aku membalas ucapan paman dengan tersenyum dan kembali menyetir.

“Kau pasti bingung kan Miwoo? Ck. Anak ini memang kelakuannya keras kepala. Sudah kukatakan untuk jangan melibatkan kau dalam bahaya tapi ia masih saja mengajakmu.”

“Mengajak?”

“Iya. Kita akan mencari pelaku, Miwoo sayang..”

“Ohh..Mwo?” kulihat dari balik kaca mobil ia sedang melotot ke arahku. Apa karena panggilan sayang itu ya? Hi hi. Aku kegelian sendiri jadinya.

“Ck dasar anak muda. Tidak bisa tidak bertemu kekasihnya barang sebentar saja. Sahut paman.”

Miwoo POV

Aku sedang berjalan tanpa arah. Tubuhku rasanya melayang tidak karuan. Pikiranku cukup kacau ketika kembali terngiang-ngiang suasana tadi. Semua pantas kudapatkan. Tiga hari aku membolos tanpa berita tentu saja membuat aku melalaikan semua tugas dan proyek yang seharusnya diselesaikan oleh tim kami. Tapi karena aku sebagai salah satu anggota tim tidak datang terus selama tiga hari itu, otomatis pemecatan harus kuterima.

Otakku memang sudah tidak waras. Menyesal setelah apa yang aku lakukan tiga hari gila itu membuang waktuku. Ini gara-gara cerita detektif yang kusuka. Gara-gara pikiranku yang mengadaptasi para otaku. Seharusnya aku lebih bisa melihat dunia nyata ketimbang berandai-andai melibatkan diri dengan kasus-kasus tidak penting. Aku menyesal melibatkan diri dengan detektif Jongwoon. Aku menyesal menyelupkan diriku sendiri dalam kehidupannya. Menyesal menjatuhkan harga diriku memohon untuk ia membantuku melibatkan diri menemukan pelaku orang tuaku. Padahal dua tahun berlalu aku sudah bertekad mengikhlaskan semua. Tapi..

Aduh, aku bagai remaja labil yang sekarang tidak bisa menentukan nasib ku yang mau dibawa kemana lagi nanti. Aku memutuskan pulang ke apartemen. Meskipun sepertinya hidupku yang indah berada di apartemen nanti tidak akan bertahan lama lagi. Ah..aku harus memulai pencarian pekerjaan lagi. Tapi kali ini aku lelah dan sedikit terpukul. Jadi kuputuskan pulang saja.

Aku menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki. Tapi aku terkejut ketika aku menengok ke suatu arah sesosok Jongwoon menghampiriku. Ia langsung saja meraih tanganku dan menariknya juga badanku ikut tertarik ke arah mobilnya yang berhenti di depan halte. Aku terpaksa masuk ke mobilnya. Bisa-bisanya ia melakukan hal itu padaku tadi tanpa mengatakan apapun dan tidak membiarkan aku mengatakan apapun.

“Yak! Kenapa kau.. ah, paman!” aku berniat ingin memakinya tadi. Tapi langsung kuurungkan niat itu karena paman duduk di sampingnya.

“Aigoo Ternyata karena Miwoo kau tiba-tiba berhenti Jongwoon.” Kata paman.

“Kau pasti bingung kan Miwoo? Ck. Anak ini memang kelakuannya keras kepala. Sudah kukatakan untuk jangan melibatkan kau dalam bahaya tapi ia masih saja mengajakmu.” Lanjut paman.

Tunggu dulu. Ini sungguh aneh. Kemarin ia mati-matian melarangku ikut dengannya. Sekarang ia malah mengajakku ikutan kegiatannya ini.

“Mengajak?”

“Iya. Kita akan mencari pelaku, Miwoo sayang..”

“Ohh..Mwo?”

Aku terhenyak mendengar barusan yang ia katakan. Apa itu? Kalimat sayang? Apalagi ini. Aish mainan apa lagi yang mau ia lakukan di depan paman. Gara-gara aku mengucapkan kalimat “aku menyukaimu” kemarin ia jadi mulai menggodaku terus. Padahal sudah kuralat juga kemarin. Belum cukup hilangnya pekerjaanku, aku masih harus terjebak berurusan lagi dengan detektif ini. Entah apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Kenapa jadi begini hidupku? Masih tidak bisa melepaskan diri berurusan dengan  detektif ini. Anehnya hati kecilku tidak merasa keberatan dengan ini.

“Ah..”

Aku mengacak rambutku yang terurai dengan gusar.

“Ck dasar anak muda. Tidak bisa tidak bertemu kekasihnya barang sebentar saja.”

Ah..sudah. hancur sudah reputasiku. Sekarang aku benar-benar dikira yeojachingunya Jongwoon sama paman. Hiks.

Aku, tepatnya kami, aku dan Jogwoon, dan Paman dan awak pengikutnya paman, anggota kepolisian maksudnya, berhenti di rumah sakit jiwa Seoul, bagian dari rumah sakit pusat kota Seoul juga. Kami semua berjalan masuk ke rumah sakit, eh, tidak semua. Karena beberapa anggota polisi yang lain tidak masuk. Hanya tiga orang polisi, paman, dan Jongwoon yang sekarang sedang berjalan memimpin di depan dengan tangannya memegang tanganku atau lebih tepatnya menarik secara paksa. Aku berusaha melepaskan cengkraman tangan pendeknya tapi tidak terlepas. Pegangannya erat. Aku akhirnya pasrah juga.

Sampai di sebuah kamar, Jongwoon membuka pintu dan,,TARRA..

Kosong

“Paman,,”

“Ya.”

“Kita segera ke bandara. Yang lainnya ke stasiun dan terminal bus lain untuk berjaga-jaga.”

“Oh, okey.”

Paman langsung mengerahkan awaknya menuju tempat yang tadi disebutkan Jongwoon. Kali ini aku melihatnya bersikap serius. Ia melepas genggaman tangannya padaku dan berjalan kembali ke luar. Saat kami kembali ke mobil, ia sedikit menoleh padaku dan tersenyum. Wah, senyum penuh arti.

Gimhae, 07:00 am

Donghae POV

Serangkaian mimpi di alam tanpa jejakku yang nyaman telah berakhir. Perlahan aku membuka mata merasakan sinaran mentari pagi yang menusuk bola mataku. Tadi malam aku ingat sesuatu. Aku sungguh lelah dan mengantuk sekali saat mengomeli Younha. Ini semua karena efek obat sakit pinggang yang aku minum semalam. Lain kali aku tak akan meminumnya sebelum pinggangku benar-benar mati rasa dipijit.

Aku merasakan sesuatu yang berat sekaligus basah di dadaku. Sesuatu menimpa kakiku juga hingga aku sulit bergerak. Aku menengok supaya aku tahu apakah gerangan sesuatu itu. Tidak jelas. Kotoran mata sepertinya menutupi jarak pandangku. Aku menggosok-gosokkan mataku ini. Kemudian meraba apa yang menimpa dadaku ini. Kepala? Kepala itu menggeliat dan akhirnya menampakkan wajahnya yang masih terpejam sempurna. Yang menyebalkan, mulutnya terbuka hingga mengeluarkan air liur paginya.

“Yak!! Younha!!”

Ia masih menggeliat. Aku berusaha menyingkirkan kepalanya yang mana sukses membuat kausku basah beraroma. Aku bangun dan membuka bajuku kemudian mendengus melihatnya. Gadis ini malah masih asik menikmati alam mimpinya karena belum membuka matanya juga. Tidak tahu ia masih terlelap atau cuma pura-pura terlelap karena masih malas untuk bangun.

“Yak!! Younha!! Bangun kau!”

Teriakku sambil memukuli kasur dekat mukanya. Ia tak kunjung bangun padahal sudah berkalikali ku teriaki. Memang dasar kerbau. Susah dibangunin. Aku pun menempelkan saja kausku yang beraroma cairan mulutnya tadi ke wajahnya, tepatnya membiarkan ia mencium sendiri aromanya sendiri.

“Akh..”

Ia membuka matanya dan bangkit. Badannya kini duduk di atas kasur menghadapku.

“Bau apa tadi?”

Bau air ilermu bodoh. Kataku dalam hati.

“Heh. Bangun!”

Ia masih mengucek-ngucek matanya. Perlahan melihatku yang sudah memasang tampang ingin membunuhnya. Seketika matanya melotot dan mulutnya menganga. Kemudian ia berteriak dan mengambil bantal terdekat untuk menutup mukanya.

“Kyaa.. Lee Donghae! Kenapa kau telanjang, huh!”

Ia kemudian menurunkan bantalnya itu dan merangkuh badannya sendiri dengan menyilangkan kedua tangannya itu.

“Apa yang sudah kau lakukan padaku, Lee Donghae.. A..hu…”

Dia malah menangis-nangis dibuat-buat. Aku melihatnya benar-benar dengan ekspresi ingin membuangnya segera ke kutub utara.

“Heh, liat ini. Akibat perbuatanmu. Bisa-bisanya seorang yeoja ngiler sebanyak ini. Ishh. Menjijikan!” makiku sambil melemparkan bajuku ke arahnya.

“Mwo?”

Aku langsung bangun dan berdiri ingin menuju kamar mandi. Ia mengambil kaus yang kulempar tadi ke mukanya dan langsung kembali berteriak lagi.

“Akh. Bau!” katanya melempar bajuku itu.

 

“Yak! Lee Donghae kenapa kau malah pergi. Katakan apa yang sudah kau lakukan padaku, huh! Kalau kau sudah macam-macam kubunuh kau!”

Aku telah tiba di pintu kamar mandi dan berhenti. Menengok ke arahnya untuk menjawab mulutnya yang ribut ini.

“Apa yang sudah aku lakukan padamu? Huh. Maaf ya. Melihat kau tadi saja rasanya ingin kucekik kau di tempat. Ngiler sebanyak itu. Menjijikan. Orang gila saja yang bisa berpikir mau macam-macam pada yeoja jorok seperti kau!”

“Yak! Donghae-a!”

Teriaknya dan kemudian meraih bantal untuk dilemparkan padaku. Untungnya aku segera masuk ke kamar mandi sebelum ia melempar bantal itu ke arahku. Sampai di kamar mandi hal pertama yang kulakukan adalah mencuci bekas ilernya yang merembes ke dadaku.

Younha POV

Astaga. Mana mungkin ini hasil perbuatanku. Kataku dalam hati sambil melirik kaus tak berdaya itu di atas kasur.

Aku ingat. Tadi malam Donghae tertidur dan aku tak kuat mengotongnya jika ke kamarnya yang tak kuketahui dimana, jadi aku memutuskan meletakkannya di kasur. Aku juga menyerah mencari lokasi tidur lain untukku selain kasur ini. Artinya kami semalam tidur bersama.

Padahal sudah kubatasi guling bertumpuk bantal bertumpuk selimut tebal, masih saja tembus benteng. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal padahal. Aku menyesal mengambil keputusan itu tadi malam. Masalahnya ini menyangkut harga diriku sebagai seorang yeoja. Uh..aku malu sekali.

Donghae keluar kamar mandi dengan membawa handuk kecil yang dilingkarkan di lehernya. Rambutnya sedikit basah di bagian dekat kening dan meteskan airnya. Masih dengan tubuh atasnya yang tanpa berbalut pakaian. Kulihat wajah dan tubuhnya itu. Seketika aku diam terpesona dengannya. Tapi langsung cepat aku menyadarkan diriku dari marabahaya yang kubuat sendiri. Aish.

Ia kemudian berjalan ke arah sofa mengambil jaketku. Memakainya seenaknya. Kemudian melampar handuk kecilnya itu ke arahku.

“Kupinjam dulu jaketmu. Aku mau ke kamarku. Kita berangkat setelah sarapan di bawah. 15 menit dari sekarang.”

 

Aku hanya mengerucutkan bibirku. Tak sanggup melawannya lagi karena sudah rontok harga diriku hari ini.

“Cuci tuh, kaus hasil perbuatanmu!”

Aku mendengus kesal. Ia kemudian berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu itu. Sebelum keluar, ia berbalik, tersenyum dan berkata sesuatu yang kurasa maksudnya tak lain tak bukan  adalah untukku.

“Terima kasih untuk semalam. Semoga lain kali kita bisa tidur bersama lagi.”

“Yak!! Donghae!”

Belum sempat kubunuh ia sudah menutup pintunya dengan baik.

—-

Incheon Airport

Jongwoon POV

Sudah kuperkirakan dengan pasti, Hyunki akan melarikan diri. Ia mungkin tidak tahu kalau aku sudah menghubungi Donghae meminta tolong agar Lee Coorporation membantu supaya pihak bandara, terminal ataupun stasiun kota Seoul ini mencegah Lee Hyunki lari. Jadi sekarang aku cukup tenang menghadapinya.

Kami segera berpencar untuk mencari si pelaku. Berlari-lari kecil sambil terus memasang mata awas. Orang-orang yang lewat hanya melihat ke kami keheranan. Aku menengok ke belakang. Miwoo masih mengejarku. Aku jadi tak khawatir. Seperti yang ia janjikan bahwa ia bisa melindungi dirinya sendiri. Jadi aku mencoba mulai percaya padanya.

Aku menemukannya! Masih jauh, tapi tetap dalam jangkauan jarak pandangku. Ia bersama ibunya yang berada di kursi roda. Ibunya sepertinya tertidur di kursi roda itu. Tanpa basa basi aku segera menghampiri mereka. Pelaku kelihatannya sedang berdebat dengan petugas keamanan di sana. Bagus. Akan mempermudah kami menangkapnya.

“Di sana pelakunya?”

Aku terkaget. Paman tahu-tahu sudah ada di sebelahku. Dua anggota kepolisian segera mendekati dan menampilkan aksi ketika ingin menangkap seseorang. Menghunuskan senapan, menunjukkan surat penangkapan, membuka borgol, dan menarik kedua tangan Hyunki ke borgol.

Beberapa orang yang melihat ini berteriak ketika pistol sang polisi masih terhunus sementara polisi satu lagi memborgol pelaku. Miwoo segera mengamankan istri korban, Nyonya Lee dengan mendorong kursi rodanya mendekati kami. Hal yang terjadi sebenarnya lancar-lancar saja. Namun semua sedikit bermasalah ketika tiba-tiba seseorang berteriak.

“Kyaa..”

Semua menoleh ke sumber suara. Seorang wanita paruh baya sedang disekap oleh seseorang yang tak lain tak bukan adalah sopir bus tempat kejadian pembunuhan itu, sekaligus saksi pertama. Aku tak ingat siapa namanya. Parahnya lagi aku tidak ingat kalau ia juga terlibat. Bisa-bisanya aku melupakan hal penting ini.

“Lepaskan dia atau aku akan membunuh wanita ini..”

Wanita yang disekapnya menangis ketakutan memohon pertolongan. Aku melangkah mendekat. Namun si sopir itu segera menembak ke arah lantai nyaris mengenai kakiku. Semua orang yang melihat makin teriak.

Pelaku terus saja menghunuskan pistolnya itu yang entah ia dapat darimana, ke segala arah. Petugas keamanan bandara sekaligus semua pihak kepolisian bersiap-siap berantisipasi. Sebenarnya bisa saja kami keroyok langsung pelaku tersebut. Namun sedikit berbahaya jika pelaku sembarangan menembakkan pistol tersebut.

“Turunkan dan buang semua senjata kalian!” lanjut sopir bus itu.

“Kau turunkan senjatamu! Kalian juga!” katanya ke beberapa anggota kepolisian lainnya termasuk ke Paman Dae Goo.

Paman mengisyaratkan semua anggotanya menurunkan senjata mereka yang juga terhunus ke sopir tersebut. semuanya menurunkan senjata mereka. Ku melirik Miwoo yang ternyata masih ada di sampingku. Ia terlihat sedikit syok dan kaget. Tapi aku tak melihat ketakutan dari wajahnya. Ia kemudian melirik juga melihatku. Aku tersenyum. Setidaknya aku ingin ia merasa semua akan baik-baik saja.

“Lepaskan dia!” si pelaku terus menggertak agar keinginannya dipenuhi.

Paman Dae Goo segera mengisyaratkan anggota kepolisian tersebut untuk melepaskan borgolan Lee Hyunki itu. Lee Hyunki segera melepaskan diri, memukul anggota kepolisian yang didekatnya, dan mengambil pistolnya, berlari ke samping sopir bus itu. Bagus. Benar-benar bodoh sekali dan sangat menguntungkan sekali kedua pelaku kini masing-masing punya pistol.

Jujur saja, aku tak memiliki senjata apapun saat ini. Aku tak mungkin memiliki pistol, karena memang aku tidak bisa menembak. Paman Dae Goo yang berada di sebelahku kulihat bersiap-siap mengangkat pistol di saku celana belakangnya. Ia mengisyaratkan padaku agar bergerak ke arah sopir bus itu. Aku mengerti. Aku harus menghentikan sopir itu agar lepas dari senjatanya, nanti Paman akan membantuku menembak Hyunki. Selagi mereka berjalan mundur ke arah pintu menuju lepas landas pesawat, aku bersiap-siap ke arah sopir.

Miwoo POV

Aku sedikit khawatir dengan keadaan ini. Tadi Jongwoon hampir saja tertembak kalau saja ia melangkah sedikit lagi ke depan, dan kalau saja pelaku, si sopir bus itu melepaskan pelurunya tepat sasaran. Sekarang keadaannya kedua pelaku masih menggertak kami dan berjalan perlahan ke arah pintu keluar menuju lepas landas.

Tiba-tiba saja Jongwoon meloncat dan memutar tubuhnya. Melayangkan kakinya menjangkau tangan sopir itu yang sedang menghunuskan pistolnya. Pistol itu terlempar dan wanita yang menjadi sanderanya segera berlari jauh.

DORR!

“Kyaa..!!”

Aku berteriak cukup keras. Tentu saja bersama orang-orang lain yang berada di bandara ini yang menjadi saksi kejadian ini. Aku takut tembakan itu mengenai Jongwoon. Karena tadi kulihat Hyunki menghunuskannya ke arah Jongwoon tadi. Tapi bersyukur aku salah mengira. Ternyata tangan Hyunki yang terkena tembakan dari paman Dae Goo. Wow. Paman ternyata hebat pikirku.

Keributan dan kesibukan segera  terjadi. Beberapa polisi tersebut langsung memborgol kedua pelaku dan membawa mereka ke luar ke mobil kepolisian. Aku melirik Nyonya Lee yang sekarang duduk di kursi roda ini. Ia sedang terdiam menatap anaknya itu yang sedang dibawa pihak kepolisian. Apa dari tadi ahjumma ini sudah terbangun? Aku tidak menyadarinya. Tapi matanya berair dan meneteskan air mata. Aku terdiam dan ikut sedih melihatnya seperti ini. Jongwoon menghampiri kami. Ia berjongkok di depan Nyonya Lee dan mengatakan sesuatu.

“Nyonya Lee, kau tidak perlu khawatir. Anakmu akan baik-baik saja..dan..”

“Aku baik-baik saja. Aku ikut. Aku ingin menemui anakku dan ayahnya.”

Nyonya Lee menyahut. Aku terkejut. Bukankah ia mengalami gangguan jiwa. Tapi apakah ia sudah kembali sembuh dan normal? Jongwoon hanya mengangguk dan segera mengambil alih mendorong kursi roda itu menuju mobil kepolisian di depan.

Kudengar suara-suara resepsionis bandara sudah kembali. Daerah kejadian telah dipasang police line. Orang-orang kemudian kembali hiruk pikuk dan sesekali mereka melirik atau berhenti melihat daerah police line ini. Jongwoon yang sudah sedikit menjauh dari pendanganku berhenti dan menengok ke belakang. Kemudian ia mengisyaratkan agar aku segera beranjak dan kembali berjalan mendorong kursi roda dimana Nyonya Lee duduk. Sudah selesaikah ini?

Aku kemudian memutuskan beranjak dan berjalan mengikuti Jongwoon. Tapi aku berhenti saat penglihatanku menjangkau sseorang yang ku kenal dan kuingat pandangan matanya. Orang itu sedang berdiri di samping police line melihat lokasi kejadian tadi dengan serius. Matanya kemudian bertemu denganku. Aku semakin yakin. Dia orang itu. Orang yang selama ini aku cari. Aku tidak akan melepaskannya lagi kali ini.

Jongwoon POV

Ada apa dengannya? Kenapa ia diam saja di tempat? Sudah kuisyaratkan untuk segera pergi. Aku berdecak kesal melihat Miwoo yang diam saja mematung dengan menatap lalu lalang orang di bandara. Aku segera menghampirinya. Tapi sebelum kuhampiri ia sudah tiba-tiba berlari sepertinya mengejar seseorang yang juga berlari. Aku cukup terkejut dan refleks ikut mengejarnya juga.

Sampai di sisi barat Bandara dekat pintu keluar pendaratan dari wilayah benua Amerika, aku melihatnya yang celingak-celinguk di tengah keramaian orang-orang yang lewat. Lariku semakin dipercepat saat ia tidak bisa mempertahankan tubuhnya untuk berdiri tegak, dan mulai lunglai. Nyaris terjatuh aku kemudian menangkapnnya dalam pelukanku.

“Miwoo..”

Ia pingsan.

At Seoul Hospital

Aku mengamati wajahnya yang tertidur pulas. Saat ini aku duduk di samping ranjang tempat ia tertidur. Ia terlihat berbeda dari yang baru ku kenal. Ani, terlalu cepat untuk mengatakan aku mengenalnya. Ia baru tiga hari ini memasuki kehidupanku. Tapi meski aku baru mengenalnya, aku merasa yeoja ini memberikan kesan yang menarik bagiku. Kuperhatikan wajahnya yang mungil karena hidung mancung dan bibirnya yang kecil. Dokter bilang ia tidak apa-apa, ia hanya kelelahan.

Setelah ia pingsan aku sempat panik dan khawatir padanya. Sekarang rasa itu sudah menghilang karena sekarang ia sudah mulai perlahan membuka matanya. Ia membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan dan kemudian terdiam setelah melihatku akhirnya.

“Apa aku pingsan?” ujarnya lirih.

Ia mengatakannya sambil tersenyum tipis. Dasar. Kalau bukan karena itu, untuk apa kau tergeletak di ranjang pasien sekarang bodoh. Ujarku dalam hati.

 

Aku tersenyum menanggapi pertanyaannya tadi. Ruangan menjadi hening dan tak bernyawa. Miwoo diam dan menatap langit-langit ruangan masih dalam keadaan berbaring di ranjangnya.

“Kau benar-benar menghawatirkan. Kau bilang kau bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik. Lihat kan, kau tetap saja merepotkanku.”

Aku bermaksud memecahkan suasana diam ini. Setidaknya aku menasehati sebuah petuah yang penting baginya.

“Kau menghawatirkanku tuan Detektif? Mianhe, aku memang merepotkan.”

Bagaimana tidak aku khawatir. Tiba-tiba saja pingsan hanya karena berlari mengejar sesuatu. Kau sungguh merepotkanku Miwoo. Tapi aku juga yang aneh, bisa-bisanya merepotkan diriku sendiri mengajak dan melibatkanmu. Ucapku masih dalam hati.

“Sebenarnya apa yang terjadi tadi? Kenapa lari tiba-tiba dan pingsan begitu saja. Kau pikir kau sedang main film india? Kalau aku tidak menangkapmu tadi, kau sudah merasakan kerasnya lantai bandara!” ujarku.

Mulanya aku hanya ingin bertanya tapi aku jadi berkata sedikit keras. Miwoo hanya diam dan dengan asiknya beranjak dari tidurnya, bukannya menjawab keluhanku tadi. Ia duduk di ranjang. Selimut masih menutupi kakinya. Ia membungkukkan badannya diikuti kepalanya yang tertunduk.

“Aku menemukan orang itu. Dia ada di Seoul.”

Ia berkata berbisik dan pelan. Tapi aku sedikit bisa mendengarnya. Namun, aku tidak mengerti yang ia katakan. Orang itu? Maksudnya tadi ia mengejar seseorang yang ia maksud orang itu?

“Maksudnya? Orang itu siapa?” tanyaku ingin tahu.

Ia menengok ke arahku. Tatapannya aneh. Kemudian ia menyibakkan selimut dan hendak turun dari ranjang. Mau kemana dia?

“Hei, hei..mau kemana kau?”

“KAMAR MANDI! Mau ikut, huh?” jawabnya galak.

Aish. Rupanya ia sudah sembuh dan baik-baik saja. Kembali menjadi yeoja menyebalkan dan tetap menjadi yeoja merepotkan seperti sebelum-sebelumnya. Ia kembali dari kamar mandi. Berjalan kembali ke arah ranjangnya. Tapi berhenti berdiri di dekatku.

“Aku baru ingat. Kita tidak jadi bertemu dengan jaksa Han Jiyeong?” tanyanya.

“Tidak jadi.”

“Kenapa?”

“Masih tanya. Ya karena kau pingsan pabo!”

“Ish, aku kan tidak tahu! Jangan teriaki aku pabo! Orang yang mengatai orang lain itu pabo sama saja mengakui kalau dirinya pabo!” Ia malah balas berteriak padaku begitu dan duduk di ranjang.

“Mwo? Aish..sudahlah. Aku tak ingin berdebat.” Jawabku menyerah. “Kau istirahat saja. Kau itu kelelahan.” Lanjutku.

“Tidak mau. Aku mau pulang. Antarkan aku pulang.”

Ujarnya dengan menyuruhku dan segera ia keluar dari ruangan. Astaga. Beginikah kelakuannya setelah mendapat pertolongan. Tidak menjelaskan apapun dan mudahnya memerintah aku mengantarnya pulang. Meskipun satu gedung apartemen, tapi sungguh tidak sopan memerintah orang yang lebih tua mengikutinya sekarang.

Selama di mobil ia hanya melihat ke luar jendela. Beberapa pertanyaan muncul di pikiranku dan aku memutuskan daripada mati penasaran, aku beranikan bertanya padanya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Masa?”

“Iya.”

“Pertanyaan mana?”

“Aish,, yang tadi,, siapa yang kau maksud orang itu? Maksudnya menemukannya? Jelaskan padaku”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Memang aku tidak boleh tahu?”

“Tidak masalah meskipun kau tahu.”

“Kalau begitu tidak apa-apa jika aku tahu. Sekarang jelaskan.”

“Tapi aku tidak mau menceritakannya.”

“Aish, tadi kau bilang tidak masalah meskipun aku tahu.”

“Ya. Kalau kau memang tahu sendiri nanti ya tidak masalah. Aku hanya enggan menceritakannya.”

“Aish. Kau ini! Jadi intinya kau mau menjelaskan padaku atau tidak?”

Aku sedikit mulai tidak sabar bicara berputar-putar dengannya. Aku bertanya dengan tinggi tadi ia malah tidak menjawab. Dia malah diam melihat ke arah luar dari jendela dengan pandangan kosong. Kupanggil berkali-kali ia tidak menyahut. Aish! Terpaksa aku juga malas memperpanjang masalah sepele ini. aku menghela napas dan kuputuskan diam pula.

Hingga sampai apartemen suasana tetap hening diantara kami. Setelah mobil ku parkir dan kumatikan mesinnya, Miwoo tanpa basa-basi segera keluar melangkah dan masuk lift basemen. Aku buru-buru mengejarnya. Napasku sedikit terengal-engal karena lari masuk lift sebelum tertutup. Miwoo masih membisu dan membuatku semakin kesal akan kelakuannya yang diam daritadi.

“Yak! Kau ini kenapa sih? Sepanjang perjalanan hanya diam. Aku tanya kenapa kau tidak mau menjelaskan apa-apa!”

“Aku hanya enggan menceritakan apapun pada siapapun. Kau jangan bertanya lagi. Semakin kau banyak bicara, semakin akan kesal nanti.”

“Dasar aneh! Pingsan sudah membuatmu menjadi semakin sakit jiwa. Ck.”

Lift terus naik dan tiba di lantai 16 lokasi ruangannya Miwoo. Ia segera beranjak keluar saat pintu dibuka. Aku mengikutinya.

“Kenapa kau mengikutiku? Sudah kubilang aku enggan menceritakan apapun padamu.”

“Kau lupa kau baru dari rumah sakit? Aku hanya akan memastikan kau kembali ke kamar dan beristirahat.”

“Aku bukan anak kecil yang perlu dikawal.”

Sanggahnya dengan ketus dan berjalan menuju pintu apartemennya. Membuka kunci kode yang sebenarnya aku melihatnya, tapi aku tidak dapat menghafal nomor kunci yang banyak dan berantakan yang ia tekan itu. Pintu terbuka dan ia masuk ke dalam. Melempar pintu itu agar tertutup. Aku menahan pintu yang hampir saja tertutup dan ikut masuk ke dalam. Ia menyadari aku masuk ketika menengok ke belakang dan melihatku.

“Kenapa kau ikut masuk?”

“Aku akan memastikan kau istirahat di kamarmu.”

“Aku akan istirahat. Kau pergi sana!”

Ia mendengus kesal dan masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamarnya dengan keras. Aku benar-benar emosi dengan kelakuannya. Aku membuka pintu kamarnya. Kudapati ia tertelungkup di kasurnya.

“Yak! Tidurlah dengan baik! Jangan seperti itu!” teriakku.

“Kenapa kau masuk? Keluar sana! Dasar tidak sopan masuk ke kamar yeoja!” balasnya masih dalam posisi tertelungkup. Wajahnya ia benamkan di bantal.

“Aku akan pergi kalau sudah memastikan kau istirahat dengan baik. Sekarang betulkan posisi tidurmu itu! Itu tidak bagus!”

Aku meraih bahunya bermaksud memutarkan tubuhnya agar tidur dengan benar. Ia malah menghempaskan tanganku. Aku kesal. Aku raih kembali bahunya. Ia berontak dan mendorongku. Aku nyaris jatuh dari kasurnya ini.

“Kau ini! Seperti anak kecil saja! Kalau kau tidak mau tidur dengan benar aku tidak akan pergi dan terus memaksamu!” ancamku.

Kali ini aku meraih bahunya dengan sedikit mengangkat tubuhnya berbalik. Dengan mudah badannya membalik dan tidak tertelungkup lagi. Tapi karena ia berontak dan mendorong tanganku. Aku tidak bisa menahan tubuhku yang goyah. Aku terjatuh tepat di atas tubuhnya. Untungnya aku tidak menindihnya karena aku segera menahan berat tubuhku dengan kedua tanganku. Dalam detik kejadian ini nafasku sempat tercekat karena jarak wajah kami sekarang begitu dekat. Aku ingin segera beranjak, namun aku menjadi diam dan tenang karena kulihat wajahnya yang basah karena air mata.

“Miwoo-a. Kau menangis?” tanyaku penuh prihatin.

Ia segera mendorong tubuhku dan bangun. Aku terduduk di kasur. Ia mendudukkan tubuhnya tak jauh dariku sekarang sambil terus menangis tanpa henti. Tak ada suara yang keluar dari tangisannya. Tapi aku melihat tetes demi tetes air matanya.

“Apa yang terjadi? Mianhe. Apa karena aku kau menangis? Miwoo-a, mian.”

Aku terus saja memperhatikannya. Entah mengapa perasaan bergejolak muncul di dadaku sekarang. Perasaan sakit dan panas melihatnya seperti ini. Aku meraih tubuhnya dan memeluknya. Membenamkan wajahnya di dadaku.

“Dia..orang yang membunuh kedua orang tuaku.”

Sebuah kalimat akhirnya keluar darinya. Meskipun samar-samar terdengar, tapi aku berusaha ingin menyimaknya. Masih dalam keadaan menangis.

“Aku ingat siapa dia. Matanya. Tidak akan pernah aku lupakan.”

“Aku akan menghukumnya. Ia sudah melakukan dosa tapi tidak ada balasan baginya. Semua sungguh tidak adil.”

“Eomma dan appa..”

“Ia telah membunuhnya..”

“Kenapa..tidak adil.. Ia merengut appa eomma dariku..aku melihatnya..eomma appa pergi di hadapanku..tapi..ia..masih bisa hidup hingga sekarang..”

Ya Tuhan. Ia melihat orang tuanya dibunuh oleh orang. Bagaimana bisa? Ani. Aku sekarang sedang memikirkan bagaimana keadaan dirinya. Ia memiliki kenangan mengerikan berarti. Siapapun, melihat kedua orang tuanya pergi dari hidupnya saja pasti sangat terpukul dan sedih. Ia melihat orang tuanya meninggal, dibunuh, di depan matanya. Jika itu aku, aku tidak yakin apakah aku bisa hidup normal kembali seperti ini. Aku semakin mengeratkan pelukanku. Membiarkan air matanya membasahi kemejaku sekarang.

“Aku harus menghukumnya Jongwoon.. Dia tidak boleh bebas..Aku..harus menghukumnya..”

“Ya, kau harus menghukumnya. Aku pasti akan membantumu.” Kataku.

“Kau harus membantuku…”

“Iya. Aku akan membantumu”

“Harus menemukan buktinya.”

“Iya.”

Aku mengusap punggungnya perlahan.

“Janji ya.”

“Iya.”

“Jongwoon-a”

“Iya, aku akan membantumu.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?”

“Bajumu basah.”

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa. Menangislah agar kau sedikit lebih tenang.”

“Aku sudah tidak mau menangis. Bajumu sudah kena ingus.”

“Tidak masalah.”

“Jongwoon-a”

“Apa?”

“Kau membuatku sulit bernapas.”

Eh? Aku segera melepaskan pelukanku padanya. Ini benar-benar membuatku canggung. Aku memeluknya terlalu erat tadi.

“Lihatkan bajumu basah.”

Benar saja. Bajuku basah.

“Sudahlah. Jongwoon. Aku mau tidur. Kau keluarlah. Aku sudah tidak apa-apa.” Ujarnya.

Ia kemudian mengambil selimut dan berbaring dengan mata yang sudah terpejam. Setelah berbaring ia kemudian mengangkat tangannya dan mengibas-ngibaskannya bermaksud menyuruhku keluar. Apa ini? Kelakuannya kembali lagi menjadi tidak sopan. Tanpa mengatakan terimakasih atau apapun. Ia mengusirku? Aku mendengus dan segera beranjak keluar.

“Jangan lupa tutup pintunya dengan baik”

Teriaknya mengingatkanku. Aish. Aku jadi benar-benar bingung apa yang sebenarnya kulakukan? Bukankah ini semua seperti tindakan konyol?

Author POV

#Flashback#

Gadis itu berlari menuju rumahnya. Setelah mendapat berita bahwa ia lulus dan mendapat beasiswa, ia sangat bahagia dan senang sehingga bermaksud segera memberitahu orang tuanya sampai akhirnya berlari meninggalkan sepedanya yang masih ada di sekolah.

Eomma appa harus segera tahu.

Pikir gadis itu.

Sesampainya di pekarangan rumah dengan berbagai tanaman sub tropik yang rindang. Beberapa bunga tulip dan sunflower menghiasi pagar pintu rumah tersebut. jarak pagar menuju pintu rumah utama tak kurang dari 3 meter. Ia berlari menuju pintu dan hendak membuka. Sempat terhenti ketika dikejutkan seseorang yang muncul dari samping rumah. Orang tersebut terburu-buru muncul dari samping rumah dengan wajah terkesan panik atau takut. Semakin terlihat panik ketika melihat gadis itu dan saling berpapasan. Segera orang tersebut berlari menuju pagar dan membukanya. Gadis tadi hanya melihat aneh.

Mengapa orang tersebut tiba-tiba muncul?

Batinnya.

Tak mau berpikir lebih lama, ia memutuskan tidak peduli dan hendak membuka pintu rumah. Tapi pintu rumah tidak tertutup. Pintu sedikit terbuka. Gadis itu bingung dan membuka pintu rumah. Meskipun siang hari, tapi rumah sedikit gelap jika tidak dibuka. Gadis itu menuju ruang tengah dan melihat penampakan yang seharusnya tak ia lihat. Sekujur tubuhnya kaku dan berhenti bergerak seketika. Getaran jari tangan dan peluh yang menetes deras dari dahi dan leher, serta tatapan kosong membelalakkan mata tidak percaya dengan yang ia lihat. Pita suaranya tidak berfungsi dan ia hanya jatuh tersungkur dan meneteskan air mata perlahan, dan semakin deras.

Dengan lemas dan terseok-seok ia mendorong tubuhnya menuju telepon. Tangannya yang bergetar hebat berusaha meraih gagang  telepon dan menghubungi sebuah nomor darurat yang ia hafal. Telepon diangkat dan ia menyebutkan alamat rumahnya. Kemudian menutup teleponnya. Ia menyeret tubuhnya yang terduduk lemas menuju tembok dan melipat kedua kakinya. Kedua tangannya memegangi rambutnya acak-acakan dan berteriak sekencang-kencangnya sambil menangis terisak.

Interogasi dan bujukan siapapun tak cukup membuat gadis itu membuka mulutnya. Ia hanya sesekali mengatakan kalimat lirih “orang itu pembunuhnya”. Pihak kepolisian tidak menemukan apapun untuk menjadi barang bukti. Penggambaran pelaku dari keterangan gadis itu cukup menyulitkan karena gadis yang terpukul ini hanya menjawab pertanyaan singkat dengan tatapan kosongnya.

Shin Miwoo, gadis berusia 17 tahun yang seminggu lagi akan wisuda kelulusan SMAnya menjadi salah satu korban. Kedua orang tuanya tewas dibunuh oleh orang yang belum diketahui. Bukti mengenai pembunuhan tersebut tidak ditemukan di TKP. Bukan modus perampokan, karena barang-barang berharga tidak hilang. Motif dendam atau kekerasan akibat kesenjangan sosial setelah diselidiki, tidak ada kemungkinan. Semua terasa aneh. Kedua korban tewas sama sekali tidak terlibat permusuhan dengan siapapun.

Waktu berjalan lebih dari sebulan. Tak ada perkembangan dari peristiwa tersebut. Sampai akhirnya kasus ditutup tanpa penyelesaian. Kasus yang ditutup juga karena pihak keluarga Shin Miwoo yang meminta menghentikan mencari keterangan dari Miwoo yang sedang frustasi hebat.

Keluarga memutuskan pindah dan mencari kehidupan nyaman yang baru agar gadis itu kembali dapat hidup normal. Keputusan pindah yang dilakukan paman dan bibi Miwoo merupakan keputusan yang cukup bijaksana. Gadis itu perlahan melupakan kejadian buruk yang ia alami itu. Setelah sebulan pindah, ia kembali menjalani aktivitasnya, memulainya dengan meneruskan kuliah dari beasiswanya. Seperti hidup kembali, kesungguhannya menekuni apa yang menjadi jalan pilihannya membuat ia menyelesaikan studinya dengan cepat. Ia dapat diterima menjadi pekerja tetap setelah satu tahun lulus dari universitas. Sekarang Miwoo dapat hidup mandiri dan menjalani dengan baik.

#Flashback end#

At Hallyu Café Street

Jiyoung POV

Tidak tahu harus menanggapi apa. Aku seperti orang bodoh yang berbaik hati memaafkan Jongwoon oppa. Ia yang memintaku bertemu sekarang, ia juga yang membatalkannya. Meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya batal. Kepala kepolisian Dae Goo yang datang dan mengatakan apa yang akan dibicarakan Jongwoon oppa seharusnya. Jongwoon oppa ingin meminta bantuanku dalam menangani kasus yang ia selidiki. Menuntut pelaku dengan bukti yang ada.

Sekarang aku sedang berjalan kaki akan pulang dengan tidak semangat. Ketika tadi paman Dae Goo menjelaskan alasan Jongwoon oppa tidak bisa menemuiku, aku merasa kecewa. Paman mengatakan bahwa Jongwoon oppa menjaga pacarnya di rumah sakit. Sungguh aku tidak tahu kalau Jongwoon oppa sudah punya pacar.

Aku sekarang menunggu lampu hijau untuk menyebrang jalan. Tiba-tiba pipiku disentuh dalam. Aku kaget dan langsung menoleh melihat siapa yang berani melakukan hal itu padaku. Namun, pandangan mataku terhalang oleh permen lollipop. Seseorang menyodorkannya padaku. Tentu saja aku tersenyum ketika tahu orang yang menyodorkan permen itu. Aku memang suka sekali permen lollipop.

“Mau pulang ya?”

“Kyuhyun oppa..”

“Kebetulan aku akan ke rumah temanku. Rumahnya dekat dengan rumahmu, jadi kita bareng saja, otte?”

Aku mengangguk, mengambil lollipop yang ia sodorkan tadi, dan segera menyebrang jalan ketika lampu hijau bersama-sama orang-orang lainnya yang menunggu juga untuk menyebrang. Selama berjalan, kami hanya diam dan sesekali saling tersenyum ketika pandangan kami bertemu. Memasuki gang rumahku, Kyuhyun oppa membuka suasana dengan memulai bertanya padaku.

“Tidak jadi bertemu Jongwoon hyung?”

“Tidak.” Jawabku singkat sambil mengemut lollipop rasa melon yang ia berikan tadi padaku.

“Jongwoon hyung tadi mengikuti penangkapan yang terjadi di bandara. Kemudian temannya pingsan di tempat kejadian. Jadi mungkin karena urusan tersebut ia tidak bisa menemuimu.”

“Aku tahu. Bagaimana oppa bisa tahu?”

“Tadi aku bertemu dengannya di rumah sakit.”

“Oh. Mau apa oppa ke rumah sakit? Apa kau sakit?” tanyaku ingin tahu lebih lanjut.

“ Ani. Bukan aku. Aku hanya mengunjungi teman ayah yang sakit.”

“Oh..”

Suasana kembali diam.

“Berarti, oppa juga bertemu dengan pacarnya Jongwoon oppa. Seperti apa gadis itu?” tanyaku.

“Eh? Pacar? Maksudmu?”

“Kan yang pingsan itu pacarnya Jongwoon oppa?”

“Benarkah? Jongwoon hyung tidak bilang bahwa mereka pacaran. Memangnya kau kata siapa kalau Jongwoon oppa sudah punya pacar?”

“Paman Dae Goo.”

Suasana kemudian diam. Kyuhyun oppa hanya memperhatikan aku yang bermain-main mengemut permen lolipopku yang belum habis.

“Waeyo oppa?”

“Kau tidak sedih?”

“Kenapa harus sedih? Aku tidak tahu kalau Jongwoon oppa sudah punya pacar. Sekarang aku sudah tahu. Jadi aku akan..”

“Kau akan menyerah?”

Pertanyaan Kyuhyun oppa membuat aku berhenti berjalan dan berpikir sejenak. Kyuhyun oppa berdiri menghadapku seperti menunggu apa yang akan aku katakan.

“Oppa. Kau berkata seperti itu seakan-akan aku memang mengejar Jongwoon oppa.” kataku sedih. Memang iya. Aku seakan-akan berburu cinta Jongwoon oppa selama ini. Kyuhyun oppa tahu kalau aku meyukai dan menginginkan Jongwoon oppa. Tapi untuk kali ini, setelah aku tahu Jongwoon oppa sudah punya pacar, aku seperti tidak menginginkan lagi.

 

“Aku bukan tipe yeoja yang mengejar-ngejar namja oppa..” kataku mencoba mengubah pandangannya terhadapku.

“Ani, aku tidak berkata kau tipe yeoja seperti itu. Aku hanya..eumm..bertanya. Yah, aku hanya khawatir denganmu.”

“Aku tidak apa-apa oppa. Aku tidak sangat menyukai Jongwoon oppa kok.”

“Baguslah kalau begitu.” Katanya sambil mengusap-ngusap puncak kepalaku. Ia membentuk senyuman manis menatapku. Sedikit kikuk dengan tingkahnya lagi kali ini. Seharian ini ia sudah menyentuhku tiga kali, dan setiap sentuhannya, entah kenapa nafasku seperti tercekat dan tertohok.

“Ah..oppa. ngomong-ngomong dimana rumah temanmu? Emm..rumahku sudah dekat.” Kataku kikuk.

“Ah,, iya sudah dekat. Aku antarkan kau sampai rumah dulu. Baru nanti aku kerumah temanku. Kajja!”

Aku menjatuhkan lolipopku yang sudah tinggal sedikit karena sangat terkejut. Kyuhyun oppa meraih tanganku dan menuntunku sampai rumah. Kali ini bukan hanya nafasku yang tercekat, tapi jantungku berdegup kencang dan sangat kencang. Bahkan sampai tiba di rumah, ketika ia melambaikan tangannya tersenyum, mengucapkan sampai jumpa, dan kemudian menghilang dari pendanganku, aku masih termenung berdiri di depan pagar rumah.

“Eomma..apa yang terjadi padaku…”

-TBC-

 

 

Advertisements

2 comments on “(SHARE FF) Caught your Love [Part 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s