(SHARE FF) Strategy of Pursuing Love Lee Donghae (Part 1)

 

 

 

Author : Nicma Choi

Maincast :

 

– Hanny

– Lee Donghae

 

Note : part ini alurnya lambat banget, semoga enggak bosen ya… happy reading…

 

 

Jakarta, July 2012

 

Author’s POV

 

“jadi beneran nih, Han?”

Hanny yang tampak sibuk memasukkan pakaiannya kedalam koper hanya tersenyum lebar sambil mengangguk. Membuat gadis yang tengah duduk di atas ranjang berwarna biru itu memutar matanya tak percaya.

 

“Kamu bener-bener gila,” ejeknya.

 

Hanny terkekeh mendengarnya, “Yah, aku memang gila, gila karena Lee Donghae.”

 

Lagi-lagi gadis itu memutar matanya jengah. Dan ia juga masih terus memperhatikan pekerjaan Hanny menata baju dan yang lainnya. Tanpa berniat membantu sedikitpun.

 

“Lalu gimana dengan kuliahmu? Bentar lagi kan semester lima di mulai, Han.”

 

Lama Hanny tak menjawab, ia terus berkutat dengan barang-barang yang akan ia bawa nanti. Sedangkan gadis yang sedari tadi merecokinya juga ikut terdiam, menunggu jawaban yang akan di berikan Hanny, lebih tepatnya.

 

“Aku udah bilang ke kampus kalo aku mau nunda semester 5, kak.”

 

Mata gadis yang lebih tua dari Hanny itu sontak melebar sempurna, begitu tak percaya atas jawaban yang Hanny lontarkan.

 

“APA?!”

 

“Aduh kak Novi yang cantik, nggak usah lebay deh. Toh, papa juga gak bakal marah. Ehehehe,” protes Hanny cengengesan.

 

Gadis yang ternyata bernama Novi itu mendengus kesal. “Jelas aja om gak bakal marah. Dia kan gak tau kalo anaknya mau minggat ke Korea.”

 

“Eits, no no no.” Sanggah Hanny cepat sembari menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri di hadapan Novi. “Aku enggak minggat, kok. Cuma menjemput belahan jiwa aja. Ahahahahaha.”

 

Dengan gemas Novi melempar bantal ke kepala Hanny, “yak! Dasar cewek gila. Udah ah. Aku mau tidur.”

 

“Ya udah, aku juga udah selesai kok. Ayo tidur kakaaaak,” jawab Hanny usil.

 

Dengan sekali lompat, Hanny langsung mendarat disamping Novi yang tengah menggulung tubuhnya dengan selimut. Dipeluknya Novi dengan erat.

 

“Kak, jangan ngambek dong. Aku kan nggak pergi lama.”

 

Novi tersenyum tipis, “sapa juga yang ngambek, cuma heran aja ama ide gila kamu ini.”

 

“Ehehehe, ini nggak gila loh, kak. Malah super brilian. Ah, cerdasnya otakku.”

 

“Eish, udah tidur sana.”

Dipukulnya Hanny dengan guling saking kesalnya.

 

“Iya iya. Met malem,” cengir Hanny terakhir sebelum ia memulai mimpi indahnya bertemu dengan pangeran Mokpo pujaannya.

 

 

***

 

Icheon International Airport.

 

 

“WAAAA KOREAAAAA!!” pekik Hanny begitu ia keluar dari pintu kedatangan luar negeri. Dengan cuek, tak peduli tatapan heran orang-orang disekitar, ia terus berjalan. Kepalanya terus saja menoleh ke kanan dan ke kiri menganggumi bandara yang benar-benar menakjubkan baginya.

 

Sesekali ia berhenti, sedikit heran melihat para wanita seumurannya yang sibuk mondar mandir membawa kamera.

‘Memangnya disini ada pemotretan ya?’ batinnya.

 

Hanny terus memperhatikan rombongan wanita yang sibuk dengan kamera berbagai tipe itu. Menerka-nerka apakah mereka sesama turis seperti dirinya. Tapi jika memang turis, kenapa semua berwajah Korea? Atau mereka pelajar yang tengah PKL? Seperti di Indonesia, mungkin mereka tengah praktek lapangan yaitu memotret objek yang ada di bandara.

 

“Ah pasti begitu. Kok aku jadi makin penasaran ya?”

 

Dgn pelan Hanny mendekat ke arah mrk. Dan semakin jauh dr pintu keluar yang seharusnya dia lewati.

 

“Oh, ini di area keberangkatan luar negeri toh. Kira-kira siapa ya yang mau mereka potret?” gumam Hanny makin penasaran.

 

Dengan bodohnya Hanny ikut berdiri di samping para gadis itu, sedangkan trolly koper yg tadi ia dorong, sengaja ia tinggal di samping tiang besar tak jauh dr tempatnya berdiri. Para gadis yang mengundang rasa penasarannya itu terus saja mengobrol dengan sangat cepat. Membuat Hanny yang tidak begitu lancar berbahasa Korea menjadi merasa pusing saat mendengarnya.

 

Setelah menunggu hampir 15 menit, para gadis itu mulai berteriak-teriak. Hanny yang sebenarnya sudah mulai bosan dan berniat pergi, menjadi kembali bersemangat. Di longokkannya kepalanya ke arah pintu. Yang mana lensa kamera para gadis itu mengarah kesana. Dan taulah Hanny apa yang sebenarnya mereka tunggu.

 

“Astaga. Ya tuhan!”

 

Lutut Hanny terasa lemas seketika. Pria bertubuh tinggi kurus itu benar-benar membuatnya seolah kehilangan gravitasi.

 

“Lee Donghae, Ya tuhan. Laki aku cuma Lee Donghae. Tolong selamatkan aku, Lee Donghae. Lee Donghae,” gumam Hanny terus menerus seraya matanya tak pernah lepas dari wajah visual grup Infinite itu. Apalagi saat sang visual berjalan melewati dirinya, dan tersenyum manis ke arah Hanny. Hanny merasa ingin pingsan saat itu juga.

 

Para member Infinite itu sudah berjalan jauh meninggalkannya. Dan juga para gadis yang ternyata adalah para inspirit, fans dari grup Infinite. Mereka juga sudah pergi mengikuti para member. Sedangkan Hanny, dia masih mematung dengan bibir menganga. Tak percaya dia baru saja mendapat senyum eklusif-menurut Hanny tentunya-oleh sang idola.

 

“KYAAAA KIM MYUNGSOO SARANGHAEEEE!!” pekik Hanny setengah sadar.

 

“Ya, Agashi!! Kau berisik sekali!” protes seorang bapak-bapak.

 

“ehehehe mianhae, Mister. Mianhae…” ucap Hanny cengengesan sembari membungkukkan badannya.

 

“Cha! Saatnya ke apartment. Kayaknya perjalanan menjemput Lee Donghae bakal mulus nih. Buktinya aku abis ketemua yang bening-bening. Ehehehe,” gumam Hanny tak jelas seraya mendorong trollynya keluar bandara dan segera menghentikan taksi untuk pergi ke apartment yang sudah ia sewa sejak di Indonesia.

 

***

 

Hanny’s apartment

 

“Hiyaaah, capeknyaaa.” keluh Hanny seraya meletaknya bungkusan yang baru saja ia beli di atas meja.

 

Setelah sampai tadi, dia langsung membersihkan apartment kecilnya yang sedikit kotor, sekaligus menata barang-barangnya. Dan baru malam hari ia selesai, karena merasa lapar, akhirnya ia keluar dan membeli beberapa makanan yang ada di kedai makanan depan apartmentnya.

 

“Ah, sebentar. Aku juga harus mulai menyiapkan strategiku. Baiklah..sepertinya merancang strategi sambil makan tidak buruk.”

 

Setelah mendapatkan pulpen dan kertas yang ia perlukan. Hanny mulai membuka satu persatu makanan yang ia beli. Ada 1 bungkus teokpokki, 1 bungkus jajangmyeon dan 1 cup besar es krim yang ia dapat dari supermarket 24 jam.

 

“Huwaa..ini pasti enak.”

 

Dengan lahap Hanny menyantap makanannya. Tak lupa sambil memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan agar bisa berdekatan dengan Donghae-nya.

 

Sesekali ia menorehkan pulpen ke kertas yang ada dihadapannya. Kadang ia juga terkikik sendiri dengan apa yang ia tulis, atau mencoret hal yang ia rasa tidak di perlukan. Hingga akhirnya ia mendapatkan beberapa buah nomor.

 

-STRATEGI MERAIH CINTA LEE DONGHAE-

 

1. Mencari segala hal yang berhubungan dengannya. Contoh: mencatat plat mobil Donghae agar hapal, siapa saja yang selalu bersamanya, dll.

 

2. Pura-pura amnesia karena donghae.

(ps: harus memikirnya cara terlogis)

 

3. Menyimpan semua identitas diri, agar bisa tinggal serumah dengannya.

 

4. Harus menjadi gadis anggun nan lemah lembut.

 

Hanny mendesah panjang saat membaca strategi nomor 4.

 

“Emang bisa ya aku begitu?” tanyanya pada diri sendiri. Dan sejurus kemudian, ia mencoret strategi nomor 4 tersebut, kemudian menggantinya dengan kalimat lainnya.

 

4. Menjadi diri sendiri, Donghae lebih suka gadis yang menjadi dirinya sendiri.

 

Hanny tersenyum puas, “nah, cukup segini dulu. Yang lain bisa di tulis nanti.”

 

Dengan semangat Hanny membersihkan bekas makanannya, kemudian pergi ke kamar untuk tidur. Tak lupa sebelumnya mencuci muka dan memakai krim malam untuk pertama kalinya.

 

“Aku kan harus tampil cantik. Jadi meski merepotkan, ini harus tetap dilakukan,” ucapnya mencoba membenarkan kegiatan barunya yang dulu sering ia cemooh saat sepupunya sibuk mengoleskan bahan kimia itu setiap malam.

 

“Cha, saatnya tidur. Lee Donghae, tunggu diriku. Belahan jiwamu ini akan segera menjemputmu. Ehehehe.”

 

***

 

Pagi ini cuaca tampak cerah, burung-burung berkicau dengan riangnya. Suasana awal musim panas tampak menyenangkan. Dengan hotpans dan kemeja sedikit kedodoran yang di lipat lengannya hingga ke siku, Hanny tampak asyik mengarahkan lensa kamera FLRnya ke arah seorang pria yang tengah sibuk dengan syutting perdananya.

 

Ya, hari ini Hanny memutuskan untuk mulai melaksanakan misinya. Diawali dengan mendatangi tempat pengambilan adegan dari drama yang dibintangi oleh Donghae, pria yang dia anggap sebagai belahan hatinya.

 

Senyumnya tersungging sempurna saat beberapa informasi ia dapatkan, ia bahkan sempat memotret mobil yang digunakan oleh Donghae.

 

“Hah, capeknya!” keluh Hanny. Sudah hampir waktu makan siang, itu artinya sudah 5 jam ia berada di tempat itu.

 

“Annyeong.”

 

Hanny menoleh kesamping, melihat siapa gerangan yang menyapa dirinya disaat dia tengah berada di negara asing yang bahkan tak ia kenal seorang pun kecuali super junior. Di hadapan Hanny, kini berdiri dua orang gadis berwajah Korea dengan seragam SMU yang tersenyum cerah padanya. Dengan ragu, Hanny membalas sapaan dua remaja itu disertai senyum dari bibirnya.

 

“Annyeong, nuguseyo?” tanya Hanny.

 

“Nan Park Seulmi imnida,” ucap gadis yang berperawakan pendek dengan rambut sebahu ala Geum Jandi di drama Boys Before Flower sambil membungkuk.

 

“Nan Cho Eunhyee imnida,” jawab gadis di sebelahnya. Gadis yang lebih tinggi dan juga lebih langsing itu juga ikut membungkukkan badannya. “Apa kau ELF? Dari luar negeri?” lanjutnya.

 

Hanny tersenyum sumringah, ‘asik, dapet temen baru nih!’ batinnya.

 

“Ne, nan elphue. Hanny imnida, Indonesia saramiyeyo,” ucap Hanny disertai dengan bungkukkan badan yang sedikit berlebihan.

 

“Wah, senangnyaaa…” pekik Seulmi senang, “Apa kau sudah makan?”

 

Hanny menggeleng, “aku baru mau mencari rumah makan atau cafe.”

 

“Kau tau, kami sudah memperhatikanmu sedari tadi,” tutur Seulmi, dan di benarkan oleh Eunhyee dengan anggukan. “Biasanya, ELF yang datang dari luar negeri itu berkelompok, tapi kau justru asyik sendirian dengan kameramu, makanya kami jadi penasaran dan ingin menawarkan pertemanan.”

 

“Jinjja?” tanya Hanny cukup terkejut. Ia tak menyangka akan mendapat teman dengan mudah. “Wah, aku senang sekali. Jadi, aku boleh menjadi teman kalian?”

 

Kedua gadis itu mengangguk mantap. Kemudian berjalan ke kedua sisi Hanny dan menyeretnya agar mengikuti kemana mereka pergi.

 

“Eh..eh..kita mau kemana?” tanya Hanny panik. Prasangka buruk mulai bermunculan di pikirannya.

 

“Cari makan, kau laparkan? Kami juga. Ehehehehe..” jawab Seulmi cengengesan.

 

‘oh..kukira,” batin Hanny lega.

 

***

 

At Handle & Gretel

 

Hanny’s POV

 

”Waaaah, ini keren banget!” kagumku lirih.

 

Ku amati seluruh penjuru cafe milik Yesung yang memang sudah lama ingin aku datangi. Kami, aku dan kedua teman baruku sengaja memilih tempat duduk di sudut ruangan. Dengan begitu aku bisa dengan mudah mengamati setiap aktifitas yang ada di cafe. Termasuk Jongjin oppa yang ternyata lebih tampan dari yang ada di foto.

 

“Cha, kau ingin memesan apa, unni-ya?” tanya Eunhyee padaku.

 

Karena terlalu semangat mengamati suasana cafe, aku bahkan tak sadar jika kini ada seorang wanita setengah baya berperawakan mungil yang tengah berdiri di sampingku.

 

“A-annyeong, ahjumma,” sapaku kikuk.

 

Wanita yang tak lain adalah ibu dari Yesung oppa itu tersenyum ramah padaku. Seolah telah terbiasa dengan tingkah pelanggan yang sepertiku. “Annyeong, kau ingin memesan apa, gadis manis?”

 

“Aa..sandwitch extra large dan satu gelas coklat dingin, ahjumma,” ucapku.

 

Ibu Yesung oppa tersenyum tipis sambil mencatat pesananku, “baiklah. Tunggu sebentar ya?” ucapnya kemudian melangkah pergi.

 

“Jadi, unni-ya. Kau sudah kemana saja sejak datang ke Korea?”

 

“Aku baru sampai kemarin, jadi baru ke tempat syuting Donghae oppa tadi. Memangnya kalian mau menemaniku berlibur?” jawabku dengan sedikit basa basi. Dalam hati aku berharap mereka menjawab tidak. Karena aku harus mulai menjalankan misiku hari ini. Jadi tak ada waktu untuk liburan.

 

“Mianhae, unni-ya,” Eunhyee tampak merasa bersalah. “Kami sedang banyak ulangan minggu ini, jadi tak ada waktu untuk bermain.”

 

‘Yes!’ ucapku dalam hati. “Ah, gwenchana. Kalian fokus pada sekolah kalian saja,” ucapku dengan senyuman tipis. Meski sebenarnya aku sangat ingin tertawa karena bahagia.

 

Seorang pelayan datang membawa pesanan kami. Langsung saja aku menyantap makananku dengan lahap. Tak kupedulikan pandangan tak percaya dua gadis dihadapanku. Aku sedang sangat lapar karena seharian berdiri, jadi sekarang yang ada dipikiranku hanyalah yang penting aku kenyang, ahahaha…

 

Kami makan dalam diam. Baru setelah selesai makan, kami kembali melanjutkan perbincangan kami. Menggosip tentang super junior terutama Lee Donghae, hingga saling bertukar koleksi video yang ada di ponsel masing-masing. Tak lupa kami juga bertukar nomor handphone. Jadi kami bisa sering berhubungan meski jarang bertemu nantinya.

 

***

 

Author’s POV

 

“Ah, kenyangnya…” jerit Hanny begitu ia keluar dari H&G, setelah berpamitan dengan nyonya Kim dan sedikit menggoda Kim Jongjin tentunya.

 

“Hanny unni, kau mau kemana sekarang?” tanya Eunhyee.

 

Hanny diam sejenak, ia tengah sibuk mengarahkan lensa kameranya ke arah cafe. “Ke tempat syuting Donghae oppa lagi,” jawabnya bersemangat.

 

“Kesana? Tapi kan cukup jauh dari sini.”

 

Hanny tertawa kecil, “gwenchana, apa kalian mau ikut?” tawarnya dan sekali lagi menekan tombol di kameranya dengan objek Eunhyee dan Seulmi.

 

Eunhyee dan Seulmi menggeleng bersamaan. “Mian, tapi kami ada ulangan besok. Jadi harus segera pulang untuk belajar,” tutur Seulmi yang di amini dengan anggukkan kepala oleh Eunhyee.

 

Hanny mengangguk mengerti, “okay, no problem. Good luck for your exam tomorrow!”

 

Kedua gadis itu tersenyum, “kalau begitu kami pergi, nanti malam akan aku sms, unni-ya!”

 

“Ne, I can’t wait. Ehehe,” jawab Hanny penuh semangat.

 

Hanny melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan, kemudian mulai melangkahkan kakinya ke arah halte bus yang ada di dekat KBS.

 

“Eh? KBS?!” pekik Hanny begitu ia sadar kalau ia sedang berada di depan gedung KBS.

 

Langkahnya yang semula menuju halte, ia belokkan mendekati pagar KBS. Sedikit berharap dapat bertemu dengan 1 idol, siapapun itu. Sayang, hampir 15 menit ia berdiri disana, tapi tak ada tanda-tanda akan adanya para idol korea.

 

Dengan sedikit menggerutu Hanny kembali melanjutkan perjalanannya. Begitu ia sampai di halte terdekat, ia sedikit heran. Di halte itu duduk seorang pria yang sedikit aneh bagi Hanny.

 

“Cuaca super panas begini, kok malah pake begituan sih?” komentar hanny dalam bahasa Indonesia.

 

Pria yang mengenakan topi hingga menutupi mata dan juga masker itu menoleh sejenak.

 

Merasa di lirik sebentar oleh pria korea yang-jika menurut insting Hanny-sangatlah tampan. Hanny jadi salah tingkah, kemudian membungkuk sejenak, menyapa si pria city hunter.

 

Tak lama bus yang Hanny tunggu tiba. Dan ternyata, pria city hunter-begitu julukan yang Hanny berikan-juga ikut naik mendahuluinya.

 

“Permisi, sudah tak ada kursi yang kosong. Jadi, aku duduk disini saja ya?” pinta Hanny kikuk pada si pria city hunter.

 

Pria itu diam, meski tak urung ia menggeser duduknya hingga menempel ke dinding bus.

 

“Hei, kau tak panas ya pakai masker begitu? Pakai hoodie pula,” tanya Hanny. Sebenarnya ia tak ingin bertanya, takut di kira sok kenal. Tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa ketidak inginannya.

 

Pria city hunter itu mendesah kesal. Setelah mengamati penumpang bus yang rata-rata adalah orang tua. Pria itu melepas maskernya, kemudian tersenyum tipis pada Hanny dan menunjukkan isyarat agar Hanny diam dengan menempelkan jari telunjukkan yang ramping dan panjang ke depan bibirnya.

 

Hanny diam, nafasnya terasa tercekat. Demi Donghae yang dahinya begitu seksi, Hanny tak percaya jika pria yang ia amati sekaligus ia recoki itu adalah Lee Joon, dan sekarang mereka sedang duduk berdua.

 

“Lee..Lee Joon?!” pekik Hanny lirih karena saking tak percayanya.

Ia merasa mendapat jackpot karena setelah bisa bertemu dengan L, kini Lee Joon. Member MBLAQ yang ia kagumi.

 

“Sst, jangan berisik. Gawat kalau ada yang tau,” ucap Lee Joon memperingatkan.

 

“Ah, mianhae Lee Joon-ssi. Tapi, kenapa kau naik bus?”

 

Lee Joon tersenyum tipis sambil mengenakan kembali maskernya. “Kebetulan aku sedang libur, jadi aku ingin jalan-jalan dan merasa bebas seperti dulu.”

 

Hanny membulatkan bibirnya sambil mengangguk, “pasti lelah ya jadi idol.”

 

“Hm, kadang begitu. Tapi saat berdiri di atas panggung dan berhadapan dengan fans, semua rasa lelah itu akan hilang, kok.” Lee Joon tertawa kecil saat Hanny lagi-lagi mengangguk kecil. Di acaknya pelan rambut gadis berkulit kuning langsat itu gemas.

 

“Hei, kau bukan dari Korea ya?”

 

Hanny mengangguk penuh semangat, “aku dari Indonesia,” ucap Hanny bangga.

 

“Kau sedang berlibur kesini? Beruntung sekali kau bertemu denganku secara gratis! Kekeke,” canda Lee Joon membuat Hanny mengerucutkan bibirnya.

 

“Eo! Itu halte tempatku turun. Lee Joon-ssi, semoga kita bertemu lain waktu!” ucap Hanny ribut. Tanpa menunggu jawaban dari Lee Joon, Hanny berjalan cepat ke pintu keluar, kemudian setelah membungkuk singkat pada sang sopir.

 

Hanny sempat melihat Lee Joon melambai padanya, membuat senyumnya merekah sempurna.

 

“Huwaah, kalo kak nopi tau, pasti dia udah jejeritan nih. Ahahaha..” gumam Hanny senang. Dibenaknya terbayang kakak sepupunya yang tengah histeris karena mendengar pengalamannya.

 

“Eh?! Yah, lupa minta photo. Kan jadi nggak punya bukti otentik buat bikin iri kak nopi..aih, dasar babo!” sesal Hanny sambil memukul kepalanya sendiri.

 

Rasa sesal Hanny tak berlangsung lama, karena ia kembali ingat dengan misinya datang ke Korea. Dengan berjalan santai, menyusuri jalanan yang memang diperuntukkan pada para penjalan kaki, Hanny merancang rencana awalnya untuk bisa mendekati Donghaenya.

 

“Ah, gimana ya, biar bisa pura-pura amnesia?” tanya Hanny pada dirinya sendiri. Sesekali ia membidik apapun yang ada di sekitarnya dengan kamera yang menggantung di lehernya.

 

“Apa sengaja nabrak Donghae terus pingsan?” ucapnya mencari solusi.

 

“Eh, tapi. Kalau cuma ketabrak Donghae masa bisa amnesia sih?! Yang ada juga entar aku malah mimisan!” bantah Hanny sambil mengacak rambutnya dengan gemas.

 

“Atau pura-pura kepleset di depan dia ya, terus kepala aku kebentur lantai..” Hanny mengangguk-angguk kecil menyetujui idenya. Wajahnya tampak begitu serius, sedangkan kakinya tak berhenti melangkah.

 

“Ah. IYA!!” pekik Hanny saat ia melihat mobil van yang di pakai oleh Donghae tengah parkir di sisi jalan. Tampak managernya yang tengah berdiri di dekat van tersebut sambil mengutak-atik ipad.

 

Wajah Hanny berubah ceria. “Ahahahaha, I got you Lee Donghae!!” tembak Hanny ke arah van dengan jari-jarinya yang di bentuk seperti pistol.

 

Dengan riang Hanny berlari kecil ke arah lokasi syuting. Siang ini tak terlalu banyak fans yang datang. Jadi Hanny bisa dengan leluasa mengamati aktifitas Donghae serta mengambil gambarnya.

 

Saat ia tengah asyik mengamati kesibukan para staff yang tengah menyiapkan lokasi yaitu di depan toko roti milik panda yang dari sisi jalan. Tiba-tiba…

 

BRAK!

 

Hanny merasa tubuhnya terdorong dan membuatnya terjerembab ke belakang hingga membentur pagar yang ada di belakangnya.

 

“AUKH!!” pekik Hanny. Belakang kepalanya terasa berdenyut-denyut perih karena membentur jeruji-jeruji pagar.

 

“Ah, mian, mianhae! Aku tak sengaja. Apa kau baik-baik saja?” pria yang ternyata adalah seorang staff membungkuk dalam.

 

“Gwenchanayo,” jawab Hanny pelan. Ia mengerti, mungkin staff tersebut tengah terburu-buru sehingga berlari kencang dan tak sengaja menyenggolnya.

 

Begitu mendengar jawaban dari Hanny dan memastikan bahwa gadis yang ia tabrak itu benar-benar baik-baik saja. Pria itu membungkuk dalam kemudian kembali berlari meninggalkan Hanny. Hanny masih bersandar di pagar. Kepalanya masih terasa sakit bahkan perih.

 

Untung saja ia menggendong ransel, jadi punggungnya tak begitu terasa sakit.

 

Hanny terus menyandarkan tubuhnya ke pagar, sambil kembali mengamati proses syuting. Hingga ia melihat Donghae, tengah menatapnya dengan wajah kaku dan mata yang begitu tajam.

 

Nafas Hanny seolah tercekat, ia tak menyangka akan di tatap oleh Donghae seperti itu.

 

“Ah, tidak. Mungkin dia tidak sedang melihatku,” hibur Hanny pada dirinya sendiri. Karena selama sesaat, ia berpikir bahwa Donghae marah padanya karena telah membuat keributan.

 

Kreeek…

Mata Hanny melebar saat ia menegakkan tubuhnya dengan cepat.

‘Oh, tidak! Jangan bilang kalau tasku tersangkut dan sobek!’ batin Hanny.

 

Buru-buru ia memeriksa tasnya kesal karena ternyata tasnya benar-benar sobek. “Ah, bikin repot aja sih!”

 

Dengan gontai dan juga kepala sakit, Hanny melangkah mencari tempat duduk agar ia bisa membenahi tasnya.

 

***

 

Donghae Side

 

Author’s POV

 

Donghae tak menyangka bahwa ia akan bisa melihat gadis yang ia temui di Indonesia tahun lalu disini. Ditempat ia tengah bekerja. Gadis itu tampak berbeda dengan gadis-gadis yang lain. Kulitnya tidak putih, tapi justru terkesan indah di matanya. Dengan berbalut hotpants dan kemeja kedodoran yang sama dengan miliknya, gadis itu terus berdiri di sisi jalan.

 

Andai bisa, ingin sekali ia menghampiri gadis itu. Tapi itu tak mungkin. Ia tengah bekerja, dan lagi disini terlalu banyak orang.

 

“Donghae-ssi.”

 

Donghae menoleh ke arah pria yang memanggilnya. “ne?” jawabnya tanpa berdiri dari dudukannya.

 

“Kau bisa istirahat hingga 2 jam ke depan. Kami akan mengambil scene dengan aktor lain.”

 

Donghae mengangguk mengerti. Kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada gadis yang jujur sangat ia rindukan.

 

Tapi, begitu ia menoleh. Yang ia dapatkan justru pemandangan yang membuat jantungnya hampir lepas. Gadis itu tengah terjerembab karena tersenggol staff yang tampak terburu-buru, dengan kepala yang sepertinya membentur pagar karena ekspresinya tampak begitu kesakitan.

 

Wajah Donghae menegang seketika saat sang staff justru pergi tanpa berniat menolong gadisnya. Rasa kesal tiba-tiba menyerangnya, kesal pada staff yang tak bertanggung jawab itu dan juga pada dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apapun untuk menolong gadis yang tak ia ketahui namanya itu.

 

Gadis itu tampak menatapnya sebentar, kemudian bergerak terburu-buru lalu pergi dengan langkah gontai.

 

Begitu gadis itu mulai berjalan menjauh, Donghae berlari ke arah vannya. Mengambil topi, hoodie dan juga masker. Mengenakannya secepat kilat kemudian berlari ke arah managernya yang tengah berbincang dengan manager artis lain.

 

“Hyung, aku pergi sebentar!” pamitnya.

 

Donghae berlari kecil mengikuti arah gadis tadi pergi. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari si gadis yang sangat cepat menghilang.

 

Sampai akhirnya ia menemukannya tengah berbaring miring dengan berbantalkan tas ransel di kursi panjang yang ada di sebuah taman kecil dekat lokasi kerjanya.

 

Gadis itu tengah tertidur, tampak gurat lelah di wajahnya. Dengan perlahan Donghae mendekati si gadis. Dan secara hati-hati ia memeriksa kepala gadis itu di bagian yang terbentur. Hasilnya, ia menemukan memar kebiruan di kulit kepalanya.

 

“Ini pasti sakit,” ucapnya lirih.

 

Dengan cekatan Donghae mengompres memar di kepala gadis itu dengan sekaleng minuman dingin yang ia bawa dari lokasi syuting.

 

Gadis di hadapannya bergerak kecil, mungkin karena rasa dingin yang ia rasakan di kepalanya.

 

“Hei, kau. Siapa namamu?” tanya Donghae lirih sambil berjongkok. Sehingga wajahnya bisa sejajar dengan wajah gadis yang terus memenuhi hatinya satu tahun terakhir ini.

 

Pelan ia sentuh poni si gadis. Kemudian turun ke pipi. Rasa hangat yang menjalar dari ujung jari-jarinya akibat bersentuhan dengan kulit halus si gadis seketika membuat hati Donghae menghangat. Membuat jantungnya berdetak-detak tak karuan.

 

Hampir setengah jam Donghae disana. Mengamati setiap inci wajah si gadis dalam diam. Mengobati rasa rindunya yang menumpuk di hati. Hingga akhirnya, dengan tidak rela Donghae beranjak pergi karena ia masih harus bekerja.

 

“Gadis bandara, ku harap kita bisa bertemu lagi,” ucap Donghae sebelum pergi dan tak lupa mendaratkan kecupan lembut di pipi si gadis. “Annyeong..”

 

***

 

Hanny terbangun saat matahari telah terbenam. Lampu-lampu taman yang tak terlalu terang membuatnya sedikit bingung.

 

“Aku dimana ya?” Hanny menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian menepuk dahinya saat akhirnya ia ingat. “Ah, aku kan tidur di dekat lokasi syutingnya Donghae..”

 

Mata bulat Hanny berbinar saat ia menemukan sekaleng teh hijau di kursi tempat ia tidur.

 

“Ah, tau aja sih kalau aku lagi haus!” ucapnya senang. Diraihnya teh hijau tersebut kemudian menegaknya dengan cepat.

 

“Aaah..segarnya!!” desah Hanny. “Eh, tapi ini punya siapa ya?”

 

Setelah mengamati keadaan sekitar yang sepi dan hanya ada dirinya seorang. Akhirnya Hanny mengangkat bahunya tak peduli. Barangkali ada orang baik yang sengaja meninggalkan minumannya untuk Hanny. Begitu pikirnya.

 

Setelah puas menikmati tehnya dan juga sandwich yang siang tadi ia beli di H&G, yang meskipun sudah tak berbentuk tapi masih layak untuk di makan. Hanny melangkah ke luar aera taman, menuju lokasi syuting Donghae lagi.

 

Ia harus mencari informasi kapan Donghae selesai syuting. Jadi ia bisa memulai aksinya dengan lancar.

 

“Permisi, tuan,” sapa Hanny pada staff pertama yang ia temui. Staff tersebut menghentikan langkahnya dan menatap Hanny penuh tanya.

 

“Ada apa?”

 

Ditanya dengan nada yang agak ketus membuat Hanny jadi sedikit gugup, “kapan kira-kira syuting hari ini selesai?”

 

Staff itu mendengus, “kau tak liat ya, syuting sudah selesai.”

 

“Hah??” pekik Hanny. Diamatinya lagi sekitarnya, dan ia baru sadar kalau semua orang tengah sibuk membereskan perlengkapan syuting.

 

“Ah, tu-tunggu!” Hanny meraih kaus staff yang hendak pergi itu. “Ah, mian. Tapi apa Donghae oppa sudah pulang?”

 

Sekali lagi staff yang sudah sangat merasa terganggu itu mendengus. “Kau fansnya? Ck, dasar. Dia sedang ada pengarahan untuk syuting besok dari sutradara. Mungkin satu jam lagi baru selesai. Sudah, kau tunggu saja seperti teman-temanmu yang lain. Jangan ganggu kami!”

 

Hanny meringis kecil mendengar omelan dari staff itu. Meski ia juga merasa lega sekaligus senang karena orang yang ia tunggu masih belum pulang. Dan ia punya waktu satu jam untuk menyiapkan aksinya.

 

Dengan segera Hanny mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi GPS untuk memeriksa jalur mana yang kira-kira akan di lewati oleh Donghae. Dan beruntungnya Hanny, dari lokasi syuting ke jalan utama hanya ada satu jalur. Jadi bisa di pastikan Donghae akan lewat di tempat Hanny menunggu nantinya.

 

“Tuhan, lancarkan jalanku. Ku mohon…” doanya seraya berjalan meninggalkan lokasi syuting.

 

Sesampainya di tempat yang Hanny rasa cukup strategis. Yaitu jalan raya yang tak terlalu besar, berjarak sekitar 3 sampai 4 tikungan dari lokasi syuting. Hanny mulai merancang rencananya.

 

Diamatinya suasana jalan. Sekali lagi ia harus bersyukur karena jalanan tempat ia berdiri di pinggirnya itu cukup sepi. Hanya ada satu dua mobil yang terkadang melintas.

 

Hanny mengatur jaraknya dari tikungan. “Eum, kalau naik mobil. Mungkin butuh 30 sampai 40 detik nih dari tikungan itu. Berarti aku harus berlari saat mobilnya berjarak 5 meter dariku,” ucap Hanny memperkirakan.

 

Setelah Hanny rasa cukup. Hanny diam menunggu dengan bersandar pada pohon yang di tanam di sisi jalan. Hampir 20 menit Hanny menunggu hingga akhirnya mobil yang ia tunggu terlihat.

 

Tas ransel yang tadinya ia gendong kini ia tenteng. Tas itulah yang nanti akan ia lempar ke mobil sehingga terkesan ia terserempet.

 

Saat jarak mobil sudah dekat, Hanny menyiapkan dirinya.

 

“Satu…dua…”

 

***

 

At Donghae’s van.

 

“Ah, lelahnya..” desah Donghae. Akhirnya ia bisa pulang juga setelah seharian berada di lokasi syuting. Badannya sudah terasa remuk.

 

Sang manager yang tengah memegang kemudi hanya tersenyum maklum. Dia yang hanya menemani dan mengatur jadwal saja sudah merasa sangat lelah. Apalagi Donghae yang melaksanakannya.

 

“Ya, kenapa kau senyum-senyum seperti itu?” tegur sang manager saat melihat Donghae tersenyum sambil memejamkan mata.

 

“Anniyo hyung.”

 

Sang manager mendengus pelan, “kau dapat pacar baru ya?”

 

“MWO??” Donghae menegakkan badannya karena terkejut. “Ck, pacar apa?!”

 

“Eiy..mengaku saja. Aku akan diam. Janji..” goda si manager.

 

“Aish, jangan menggodaku hyung!” sungut Donghae.

 

“Atau kau sedang jatuh cinta?” goda managernya sekali lagi.

 

“Ya, hyung. Jangan menoleh ke belakang. Kau bisa..YA HYUNG, AWAS!!” teriak Donghae saat ia melihat siluet seseorang yang hendak menyebrang jalan.

BRAAK!!

CCIIIT…

-TBC-

HUWAAAAAAAAAAAAAA

ANNYEOOOOOOOOOOOOONG!!!!!!!!!!!!!!

masih inget saya??

hahha pasti enggak.

okey…saya kembali ke dunia perfanfickan..

pertama, makasih buat yang udah mau baca, ngasih like apalagi komen. gomawo……

kedua, Hm…..sebenernya setelah bagian akhir itu saya gak tau bakal di apain lagi ini kopel,

jadi, kalau ada readers yg mau nyumbang usul tentang strategi2 lain agar donghae jatuh cinta ke saya, eh maksudnya Hanny, saya bakal bahagia banget.

*sejujurnya saya ngarep banget ada yg nyumbang ide ahahaha*

ke tiga, buat Hanny, maap yak karakter kamu aku bikin begini..ehehehehe

*kabur kepelukan siwon*

mian juga kalau banyak tipo….

okay..demi bahu putih bening Cho Kyuhyun yg seksoy…saya harus pamit.

gomawo…

annyeooong…

nicma Choi

Advertisements

6 comments on “(SHARE FF) Strategy of Pursuing Love Lee Donghae (Part 1)

  1. anneyong….. new reader… slm kenal…. sbnrnya kmrn ak dah ninggalin komen tapi kok g da ya… tau dach tu komen nyasar kmn…. hmmmmmm……
    nice ff, ditunggu lanjutnnya…. jd terinspirasi wat ngejar cinta teuki ke korea… oh… my angelllllllllllll saranghae….. kekekeeeee

    • Aaaaa dapet komeeeen
      *nangis bahagia*

      huwaa, gomawo udah baca..apalagi nyempetin komen, 2 kali pula..aaa
      *terharu*

      ngejar cintanya si om teukie? Ayoo, aku ngikut. Aku jg mau ngejar cinta trio ikan *ikan teri, nemo, ama paus*
      *dihajar eunsihae*

      reader baru ya? Waaah,
      welcome to wp rada sarap ini.
      *ikutan sarap dgn nulis campur2*
      jgn lupa bc haeri, jongshin, jungah,ama eunji couple.

      Okay, met ngejelajah yaw chingu. Salam kenal juga dari istri siwon nan ganteng.

      • critanya seru g rugi dech baca… hehehe buat refres….
        mauuuuu bgt ngejar cinta teuki…. ayo ke korea sama2…. kekekkeeee
        sebenarnya aku dah baca beberapa tapi lum sempet komen,
        ni br mau komen wat ff yang dah ku baca….
        biasanya ff ak kumpulin dulu trus pas sempet br dibc trus br di komen, maklum ak menghayati crita(?) jadi kalo bc agk lama dan baru komen stlh sls bc…. kekekeeeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s