(SHARE FF) My Breath

my_breath

Author: Rahmi SarangheSUJU

******

‘Hyung…?‘ seorang pemuda menghampiri pemuda yang baru saja ia panggil hyung. Hyung pemuda itu menatapnya sambil tersenyum kebapakan. Senyum yang sungguh menenangkan, hanya dengan menatap senyum itu, rasanya kau adalah makhluk paling aman di dunia ini meski perang dunia ke tiga sedang berkecamuk.

‘Ck aku benci senyum itu… Jangan tersenyum lagi hyung,’ si pemuda berdecak kesal, entah kenapa perasaan aman yang baru saja bersemayam di hatinya malah mengantarkan ia pada rasa lain; perih dan teriris. Sebab, sangat menyedihkan bukan jika pengadat sebentar lagi akan kehabisan stock? Bahkan ia tak lagi dapat menjamin sebentar lagi ia akan selamat dari sekarat dan mati karena tak kuat menahan kebutuhan mendesak yang tak terpenuhi oleh candunya yang sebentar lagi akan kembali raib.

‘Waeee? Kibum-ah, senyumku ini adalah nafas bagi jutaan ELF di luar sana, bagaimana bisa kau membenci senyumku ini? ’ sang hyung  merajuk dan mengikuti pemuda yang melewatinya sambil menatapnya sisnis. Ia mengekor pemuda yang ia panggil Kibum sambil terkekeh-kekeh kecil dan ikut duduk ketika Kibum duduk di salah satu bangku yang terletak di depan sebuah tenda kecil.

‘Kau mau semua ELF mati terkapar karena mendadak kehilangan nafasnya ini?’ ekspresi heboh pemuda itu masih terpatri di wajah tampannya sampai ia menyadari raut wajah dongsaeng yang duduk di sampingnya tak ikut heboh seperti yang ia lakukan.

Seketika ekspresinya berubah. Mereka terhening sesaat.

‘Kibum-ah, bagaimana kabarmu?’ ujar pemuda itu kemudian.

Kibum tak membalas tatapannya ia hanya memandangi pemandangan dimana beberapa orang kru yang tengah sibuk membereskan perlengkapan syuting dihadapannya.

‘Hyung, jika  itu lagi alasanmu menemuiku sudah berkali-kali kukatakan kau hanya akan membuang waktumu hyung.’ ujar Kibum masih menatap lurus ke depan. Matahari cukup terik sehingga para kru itu terlihat begitu tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya. Kibum lalu mengalihkan perhatiannya pada atap tenda yang menaunginya dari terik matahari.

‘Hyaaa… Siapa bilang maksudku ke sini hanya untuk itu?’ balas pemuda itu lagi tanpa sedikitpun meninggalkan kekehan lembutnya di setiap suku kata yang ia ucapkan.

‘Aku hanya ingin berpamitan denganmu,’ akhirnya Kibum mengalihkan mata indahnya agar dapat menatap Leeteuk.

Bukannya Kibum tidak tahu, ia sudah mendengar berita ini bahkan dari salah satu hyungnya di Super Junior, ia hanya belum yakin.

‘Kembalilah Kibum, ini adalah permintaan terakhirku, tidakkah kau ingin memenuhi permintaan terakhirku ini?’ kali ini Leeteuk tampak lebih serius, ia juga ikut menatapi lapangan yang mulai ditinggalkan satu persatu oleh para kru.

‘Ck… Kau seperti akan mati saja hyung, permintaan terakhir sebelum mati, oh?’ ujar Kibum meremehkan. Bukan maksudnya, ia hanya ingin mencairkan suasana hati yang mendadak terasa begitu asing sekarang..

‘Tentu saja, tidak lagi bersama dongsaeng-dongsaeng kesayangan dan kebanggaanku, tidak lagi berada di tengah lautan blu safir yang selalu mendukung dan mencintaiku, dan tidak lagi menjadi leeteuk yang selalu mengerjakan pekerjaan yang disukainya, bagiku itu sama saja dengan mati Bum-ah,’

‘Kau hanya memikirkan dirimu hyung,’

‘Ya, kau benar… Aku hanya memikirkan diriku. Tidakkah kau lihat aku sedang sekarat sekarang? Dan aku sedang bekerja keras mengais dan mengumpulkan segalanya yang membuat aku mampu bertahan di tengah kesekaratanku. Melewati ini semua dengan tenang dan kembali jika tiba saatnya nanti.’

‘Aku bukanlah bagian dari sesuatu yang sedang kau kais dan kau kumpulkan, hyung.’

‘Tentu saja bukan kau! Mereka, dongsaeng dongsaengku adalah orang-orang yang paling bahagia jika semuanya berkumpul dan orang-orang yang juga paling sedih jika satu persatu dari member pergi meninggalkan Super Junior meskipun hanya pergi sementara untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga negara yang baik. Dan ELF adalah juga yang paling keras jerit tangisnya jika angka tiga belas itu berkurang dan juga paling lantang teriakan bahagianya jika angka tiga belas itu genap untuk selamanya sampai maut memisahkan. Sedih mereka akan memperparah keadaanku yang sekarat, Bum-ah, dan bahagia mereka adalah nafas yang membuat aku mampu bertahan dan melewati ini semua. Tentu saja kau bukanlah sesuatu yang kukais dan kukumpulkan, tapi kau adalah salah satu kuncinya. Kunci dari kepingan-kepingan nafasku yang akan membuat aku mampu bertahan sampai akhir.’

Leeteuk memutar bola matanya dan sempat menangkap mata Kibum yang memerah dan mengerjap-ngerjap berusaha menyingkirkan awan mendung di matanya. Leeteuk melihat Kibum yang berpaling dan memilih menatap lapangan luas yang kini telah ditinggal pergi oleh semua kru.

‘Kau hanya berbicara tentang dirimu hyung, sedang di sini ada dua aktor yang sedang sibuk mendalami dan menghafal  bagian dari dialognya.’

‘Aku tahu Bum-ah, kau adalah aktor yang terbaik yang pernah ada dalam hidupku, kau hanya aktor peragu, ragu memilih antara menerima tau menolak peranmu, sementara skrip dialog drama yang akan kau mainkan sudah berada di tanganmu. Pulang, dan katakan kau memang merindukan dan mencintai Super Junior dengan lantang dan penuh penekanan, aku yakin kalimat itu akan mengantarkan kau sebagai aktor terbaik yang menyabet banyak penghargaan di ajang pengharagaan paling bergengsi di dunia ini, karena dialog dan sken itu adalah dialog yang benar-benar meluncur dari hatimu dan sken itu merupakan refleksi dari hidupmu sebagai adik, teman dan idola yang akan kembali pulang kepangkuan orang-orang yang menyayangi dan menunggumu  pulang.

‘Ck! Kau pintar sekali bicara, hyung,’ decak Kibum sembali memalingkan wajahnya ke sisi kiri sehingga wajah itu tak terlihat lagi oleh Leeteuk. Namun, dari suara Kibum yang bergetar Leeteuk tahu bagaimana suasana hati dongsaeng yang sangat teramat ia sayangi ini sekarang.

‘Sejatinya tempatmu kembali pulang adalah super junior Bum-ah, apa lagi yang kau pikirkan? Kau masih mempertanyakan dimana posisimu dan diam-diam menyingkir karena semua orang telah mendapatkan semua perannya sementara kau tidak? Bukankah Super Junior memang begitu? Peran sebagai pemilik suara nomor satu di Super Junior seperti Yesung? Dancing machine dan reppernya Super Junior seperti Eunhyuk? Evil magnae, ethernal magnae?  Semua orang mendapatkan perannya masing-masing. Begitula super junior, begitu banyak peran, termasuk peran sebagai orang yang tak kebagian peran. Kalau kau mentok di situ, kau hanya perlu berfikir  hal itu juga adalah sebuah peran Bum-ah, berperan sebagai orang yang tak kebagian peran, itulah peranmu Bum-ah maka sebagai aktor sejati kau harus menghayati peran itu menikmatinya dan memainkannya dengan benar. Kau hanya perlu bekerja keras, dan biarkan semua orang melihat dan menilai kerja kerasmu.’

Kibum baru saja berniat untuk menyela dan urung ketika Leeteuk kembali berbicara.

‘Kau merasa harus menyingkir saat itu karena  gaya hyung-hyungmu yang konyol tak cocok dengan gayamu? Maka sekarang-lah saatnya kau pulang, Bum-ah. Mereka telah melewati batas angan-anganmu. Mereka bahkan telah jauh melampau cita-cita yang selama ini hanya menjadi mimpimu.’

‘Hya… Hyung, kenapa kau kejam sekali menuduhku begitu?’ Kibum jelas tak terima sang hyung malah menuduhnya seperti itu.

‘Kau merasa terasing, dianaktirikan? Atau merasa, rasa sayang kami, hyung-hyungmu lebih besar kepada dongsaengmu dari pada pada dirimu sendiri? Kau boleh bertanya padaku Kim kibum-sii, maka akan kujawab; kau, dongsaengku yang paling kejam yang telah merenggut paksa sebagain hatiku dan tak berusaha mengembalikannya ke tempat semula seperti sedia kala, maka masih pantaskan aku berkata aku tak menyayangimu sebesar rasa sayangku pada dongsaeng-dongsaengku yang lain?’

‘Kenapa Bum-ah? Mana yang betul dia antara semua terkaanku ini?’ Leeteuk membalas tatapan Kibum yang begitu tajam menusuk jantungnya.

‘Itukah dirimu, hyung? Bisamu hanya menerka-nerka?’ Kibum tersenyum sinis sambil merubah posisi duduknya, menyatukan jari jemari dan menupangkan kedua siku ke lututnya.

‘Jangan salahkan aku jika aku akhirnya hanya bisa menerka-nerka, kau tak memberi petunjuk apapun, kau tak memberikanku kesempatan untuk menjadi hyung yang baik yang bisa mendengarkan, mengetahui dan memahami permasalahanmu. Hanya itulah upaya terakhirku, batas dari kemampuanku sebagai hyung yang berupaya menjadi hyung yang terbaik,’ Leeteuk berdiri mengibaskan pakaiannya yang memang tak berdebu, berharap dengan berdiri tindakan itu dapat menyingkirkan sesuatu yang terasa menyumbat kerongkongannya.

‘Tanggal 30 ini aku akan berangkat, akhir-akhir ini aku sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Bum-ah…’  Leeteuk memutar kepalanya agar dapat menatap Kibum yang mendongakkan kepalanya membalas tatapan Teukie.

‘Ini adalah yang terakhir kalinya aku meminta, ketika aku melangkahkan kakiku kali ini, aku tak ‘kan kembali lagi dalam beberapa waktu yang cukup lama. Pulanglah Kim Kibum karena keluarga adalah orang-orang yang akan selalu menanti kepulanganmu dan menerimamu baik di keadaan terburukmu maupun dikeadaan terbaikmu. Begitu juga kau seharusnya seperti itu,’ Leeteuk mulai melangkahkan kakinya ketika Kibum kembali memanggilnya.

‘Hyung…!! Berapa kau dibayar SM, atau Super Junior? Atau ELF mungkin untuk membawaku kembali?’ ujar Kibum dengan ekspresi datar.

‘Ternyata uang seberapa pun itu tak akan sanggup menandingi betapa besarnya kebahagiaanku jika memang akhirnya mampu membawamu kembali,’ balas Leeteuk sambil tersenyum bijak dan kembali memutar tubuhnya membelakangi Kibum dan melangkah pergi.

‘Hyung…kau kejam, kau memintaku kembali hanya untuk melihatmu pergi?’ bisik Kibum sambil terus menatapi punggung Leeteuk yang menjauh. Air matanya menetes. Ia menunduk dalam untuk sesaat dan ketika ia mendongakkan kepalanya lagi air mata itu telah membanjiri pipinya.

*****

‘Hyung ayo ki…’ Ryeowook mendadak terdiam ketika dilihatnya Donghae yang ingin ia ajak ke lantai 11, berdiri mematung di pintu kamarnya sendiri. Tatapan donghae yang begitu sendu  tertuju pada tempat tidur yang serba putih, tempat tidur sang leader Super Junior, Teukie hyungnya. Ia bahkan belum menyadari keberadaan Ryeowook yang kini berdiri di sampingnya mengikuti arah pandang Donghae.

Ryeowook tercekat melihat pemandangan ini. Ia buru-buru menahan emosi yang mungkin sebentar lagi akan menguasainya.

‘Ah, hyung kenapa kau masih di sini? Ayo kita ke bawah, semua orang sudah menunggumu hanya kau saja yang belum ke bawah sampai-sampai mereka mengutusku untuk menjeputmu,’ Ryewook berujar seriang mungkin sambil mengalungkan lengannya di leher Donghae. Donghae terkesiap menerima perlakuan yang menurutnya mendadak itu. Ia menoleh dan menemukan senyum imut Ryeowook di sampingnya.

‘Ah ne! Kau Ryeongu! A.. aku hanya berfikir bagaimana jadinya kamar ini jika tak ada lagi Teukie hyung di sini?’ balas Donghae juga dengan gaya riangnya, atau riang yang sedang diusahakannya?

‘Ah, hyung, jangan dipikirkan… Kita jalani saja. Seperti saat kita melihat kepergian Kibum Hyung… disusul Kangin Hyung dan Hangeng hyung, terus…yang terakhir Heechul hyung… buktinya kita masih baik-baik saja sampai saat ini bukan?’ ujar Ryeowook lagi dengan gaya ceria andalannya. Mereka sekarang tengah melangkah menuju dorm lantai sebelas di mana semua orang tengah berkumpul untuk makan malam. Akhir-akhir ini mereka lebih sering makan bersama, terkadang member yang tinggal dilantai 11 bergabung makan bersama di lantai 12 begitu juga sebaliknya. Keberangkatan Teukie menunaikan tugas negara membuaat mereka ingin selalu bersama.

‘Ne… Kehidupan memang akan selalu begitu ‘kan Ryeongu? Ada yang datang dan ada yang pergi, setelah Kangin Hyung sebentar lagi Heechul Hyung juga akan menyusul pulang,’ ujar Donghae, lebih kepada menghibur diri sendiri karena pahit dikerongkongannya belum juga mau pergi.

‘Mwo?’ langkah kaki kedua bocah itu terhenti ketika mereka membuka pintu dan mendengar suara yang lumayan keras dari dalam.

‘Bagaimana bisa begitu hyung? Apa jadinya Super Junior tanpa leader? Hyaa…Tidakkah kau terlihat seprti pemuda serakah? Hanya kau seorang leadernya? Dan kau tak mengizinkan siapapun menggantikan posisimu? Apa-apaan itu?’ Suara Eunhyuk benar-benar terdengar lantang ketika Donghae dan Ryeowook telah ikut bergabung di tengah-tengah mereka. Yang lain memutuskan hanya diam, sementara yang sedang ‘dicecar’ hanya tersenyum.

‘Bukankah sudah kubilang aku tak ingin ada seorang pun yang menempati posisiku, semua orang telah memiliki tempat masing masing, aku juga mempunyai tempatku, jika tempatku diambil kelak ketika aku kembali aku tak ingin kehilangan tempatku satu-satunya. Jika itu terjadi kemana lagi aku akan pergi? Aku percaya pada kalian, kalian adalah pemimpin atas diri kalian masing-masing. Kalianlah yang bertanggung jawab terhadap diri kalian sendiri. Maka dari itu akau yakin super junior akan jauh lebih baik.’

****

‘Hyaa… Donghae-aah, siapa lagi yang bertugas menggantikan Appamu jika Leeteuk hyung pergi?’ celetuk Yesung tiba-tiba di sela-sela kegiatan berleha-leha mereka setelah makan. Aktivitas seharian penuh menyisakan jejak-jejak keletihan di tubuh mereka, terutama SJM yang baru sore tadi landing di incheon Airport dan sekarang terdampar keletihan di dorm mereka. Henry dan Zhoumi juga ikut ke dorm, bukannya pulang kerumah mereka yang lebih dekat dari pada dorm.

‘Aku sudah besar, tak perlu lagi ada yang menjagaku hyung,’ Ujar Donghae santai sambil ngemil kimchi bikinan ommanya Yesung.

‘Hyaaa…pok pok…aku bersedia menggantikan Teukie hyung menjagamu sementara. Tinggal kau bilang saja pada appamu, bilang akulah yang akan menggantikan Teukie hyung, oh?’ ujar Yesung sambil menepuk-nepuk bahu Donghae dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memagut  dangkoma dipangkuannya. Leteuk yang duduk tak jauh dari mereka sambil bertelekan bantal sofa tersenyum geli.

‘Hea-ah, kelak ketika kau merasa sangat jenuh, lelah dan merasakan kekejaman dunia, datanglah padaku, ya…’ ujar Yesung dengn muka datarnya, ia mengangsurkan tubuhnya semakin merapat pada Hae yang sedang asik bersandar pada sofa sambil menonton duo magnae mereka yang sedang asik bertarung PSP (?).

‘Kau ini, jangan lebay hyung…’ balas Donghae cuek.

‘Kau hanya perlu percaya padaku seperti kau mempercayai Teukie Hyung, percayalah Hae…’ ujar Yesung senyum-senyum gaje.

‘Aku tak membutuhkan kepercayaanmu, hyung,’ balas Donghae asbun, asal bunyi, yang lain melirik mereka sambil terkekeh…

‘Hae-ah..K…’

‘HYAAA, Kau berisik sekali hyung… Apakah kau selalu seberisik ini… Tidak bisakah kau diam saja dan duduk tenang, kau sudah lihatkan, Hae tidak mau diganggu. Kenapa kau masih saja berisik? Ini bukan saat yang tepat untuk bercanda! Aku mulai muak melihat wajahmu yang konyol itu,’ tiba-tiba Eunhyuk berteriak-teriak tak jelas dengan emosi yang tak dapat lagi ia tahan. Semua mata memandang Eunhyuk yang kini benar-benar terlihat sedang dilanda emosi yang campur aduk, antara gusar dan dongkol…

Yesung hanya terdiam sesaat, mematung dan menatap Eunhyuk dengan eksprei datar andalannya.

‘Kaulah yang mestinya mendinginkan kepalamu Hyuk-ah,  lihat wajahmu yang tanpa ekspresi, itu mengerikan Hyuk. Ini juga bukan saat yang tepat untukmu berwajah murung,’ Yesung yang tadi menghadap Donghae, sekarang memusatkan perhatian sepenuhnya pada Eunhyuk yang duduk tak jauh dari Donghae. ‘Kenapa tidak kau coba saja ikut tersenyum, senyum riang gummymu seperti yang biasa kau lakukan? Agar menulari semua orang di sini? Suasana hati setiap orang di sini sungguh dalam keadaan buruk Hyuk, jangan kau tambah lagi dengan wajahmu yang murung itu,’ tepat sasaran mungkin, Eunhyuk tak bisa berkata-kata lagi. Ia terdiam sesaat mengatur kembali emosi dan ekspresi wajahnya.

‘Tak ada lagi yang bisa aku lakukan lagi dengan wajahku ini hyung, biarkan saja wajahku begini,’ ujar Eunhyuk tersendat-sendat, namun berusaha juga untuk tersenyum. Hasilnya fatal, terlihat senyuman terpaksa yang sungguh menyembilu hati.

Yesung yang melihat itu segera berdiri melewati Donghae, menghapiri Eunhyuk yang duduk memeluk lutut di atas sofa. Yesung akhirnya meraih Eunhyuk ke dalam pelukannya. Donghae ikut menepuk-nepuk bahu Eunhyuk. Beberapa saat Eunhyuk terdiam, tapi kemudian ia berusaha menepis pelukan Yesung.

‘Lepaskan aku hyung, kenapa kau memelukku,’ Eunhyuk meronta. Yesung tak peduli ia semakin mempererat pelukannya.

‘Menangis lebih baik dari pada kau cemberut seperti itu Hyuk,  menyeramkan,’ ujar Yesung lagi.

‘Siapa yang menangis, aku tidak menangis, aku tidak menangis, lepaskan aku…’ ucapan Eunhyuk tak sesuai dengan reaksi tubuhnya, buktinya air mata mulai mengalir deras di kedua pipinya, isakan yang menyembilu hati terlontar dari bibirnya.

‘Hiks, aku tidak menangis, tak ada yang perlu aku sedihkan, aku tak peduli padamu Teukie hyung… Kau mau pergi wamil, pergi saja. Mau pergi sekarang,  juga boleh. Cepat pergi sana! Aku tak mau melihatmu lagi…huwaaaa,’ Eunhyuk sudah seperti anak kecil yang sedang kehilangan mainan. Donghae sudah ikut bergabung memeluk Yesung dan Eunhyuk yang sedang berpelukan. Matanya juga mulai berkaca-kaca mengikuti jejak belahan jiwanya: menangisi kepergian Teukie hyungnya yang tinggal beberapa hari lagi.

Akhirnya, Leeteuk yang dari tadi hanya mengamati sambil tersenyum, berdiri dan beranjak menghampiri Eunhyuk yang sedang dikuasai kesedihan.

Ia mengulurkan tangannya dan mengusap kepala dongsaengnya itu. ‘Hyuk-ah, sekarang kau boleh menangis sepuasmu, tapi nanti pada saat melepas kepergianku kau tak boleh lagi menangis. Karena kau adalah si periang gummy smilenya Super Junior,‘ Teuki melepaskan tangannya dari kepala Eunhyuk yang masih terisak pilu, lalu pergi begitu saja.

‘Aku mau tidur’ ujar Teukie sesampainya di ambang pintu keluar dorm lantai 11. Member yang lain ikut menyusul memeluki Euhyuk dan mereka akhirnya berpelukan sambil berurai air mata.

Sementara, di luar sana dua langkah jaraknya dari pintu dorm Leeteuk tertunduk dan air matanya mulai jatuh satu satu, ‘Eunhyuk-ah, bukankah seharusnya aku yang sedih? Aku akan meninggalkan semua ini, kalian, super junior, ELF dan keluargaku, kenapa kau yang menangis?’ Air matanya mengalir deras seakan-akan tak dapat dihentikan. Ia menguatkan kakinya untuk melangkah menuju dorm lantai 12, tapi tak bisa. Ia begitu sibuk dengan dadanya yang terasa sesak sekarang, sibuk dengan kerongkongannya yang tersa mencekik dan air mata yang seperti mata air yang tak kunjung mereda. Sampai sebuah sentuhan mengejutkannya, seseorang memeluknya dari belakang.

‘Hyung…maafkan aku…’ Eunhyuk entah sejak kapan telah berada di belakangnya dan menyurukkan setiap inci wajahnya ke punggung Leeteuk. ‘Mianhe hyung…Mianhe hyung mianhe, ujar Eunhyuk disela-sela isakannya. Dan untuk kedua kalinya malam itu mereka berpelukan seperti teletabis, diawali oleh Ryeowook yang berada paling dekat, diakhiri oleh siwon dan shindong yang melingkupi member dengan tubuh besar mereka.

******

‘Sudah siap semua ‘kan hyung? Kau yakin tidak ada yang tertinggal?’ tanya Donghae begitu dilihatnya hyung kesayangannya itu celingak celinguk tak jelas sebelum memasuki van mereka. Hyungnya itu seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Sejak semalam Donghae merasa Teukie mulai terlihat anehnya, setiap saat ia selalu melihat ke arah pintu, dan apa bila bel pintu dorm berbunyi, hyungnya itu sangat antusias menanyai siapa yang datang. Apakah hyung kesayangannya itu menjadi depresi gara-gara keberathatiannya meninggalkan super junior karena harus memenuhi kewajibannya sebagai pemuda Korea Selatan?

Ketika telah memasuki van pun –van yang akan membawa mereka, super junior menuju tanah lapang dimana di sana ELF dan media massa telah menanti untuk acara pelepasan Leeteuk menuju pengabdiannya kepada negara- Leeteuk masih saja menatap ke seluruh penjuru. Seakan-akan  orang atau apa pun itu yang sedang ia nantikan adalah orang yang mampu menyelamatkan ia dari keharusan wajib militer ini atau bahkan seseorang yang akan mengumumkan padanya bahwa Korea Selatan baru saja menghapuskan undang-undang wajib militernya bagi rakyat sipil itu?

‘Hyung kita telah sampai,’ Donghae yang duduk di samping Leeteuk menyentuh bahu hyungnya itu yang hanya terpaku menatapi jalanan sepanjang perjalanannya. ‘Kau tidak lupa ‘kan hyung, kita sudah sepekat tidak kan memperlihatkan air mata kita di depan ELF?’ Donghae mengingatkan kesepakatan mereka tadi malam sambil mengikuti member lain yang telah berjalan mendahului mereka.

Donghae mengernyit ketika dilihatnya leeteuk  masih menyempatkan dirinya untuk menengok kebelakang dengan tatapan nanar.

‘Hyung? Waee? Apa yang kau lihat?’ Donghae merajuk merasa tak tahan lagi dengan tingkah hyungnya itu.

‘Ah, ne? Tidak ada apa-apa, ayo kita menyusul mereka,’ ujar teukie kemudian melangkah menyusul member lain yang terlebih dahulu berjalan sambil sesekali tertawa-tawa.

******

‘Ne, ELF! Sampai jumpa 21 satu bulan lagi. Jaga diri kalian aku akan merindukan kalian, Saranghe ELF,’ ELF semakin terisak keras setelah mendengarkan kalimat penutup yang di ucapkan leetauk di acara perpisahannya ini. Tapi, Leeteuk dan member yang lain tidak menitikkan air mata, mereka telah sepakat tidak akan membuat perpisahan ini semakin berurai air mata. ELF tidak boleh terlalu banyak menangis karena perjuangan mereka masih panjang untuk mendukung Super Junior. Ketika semua member membungkuk memberi hormat pda semua ELF yang hadir, Jerit hiateris ELF semakin menjadi lebih keras dari pada sebelumnya

‘Oppa! OPPA! Hiaaaaa ‘

‘Kyaaaaa, Oppa!’ teriakan yang bersahut-sahutan.

Semua member mengangkat kepala karena merasa keheranan dengan teriakan ELF yang terasa nsangat janggal, jika ini perpisahan mengapa ada teriakan haru dan bahagia di antaranya?

Semua member mengangkat kepalanya untuk menatap ELF dan alangkah terkejut ketika mereka mengikuti arah pandang ELF yang tak lagi tertuju pada mereka. Di sana, pemuda  yang tengah berjalan ke arah mereka melambai pada ELF sambil tersenyum.

Leeteuk sontak membekap mulutnya melihat senyumaan membunuh itu, tangisnya yang tertahan akhirnya pecah.

Begitu pula dengan semua member mereka semua tersenyum lega dan bahkan ada yang menangis bahagia, akhirnya sipemilik killer smile itu kembali.

Leeteuk adalah yang pertama mendekati Kibum. ‘Akhirnya, Uri Dongsaeng telah kembali,’ ujar Teukie sambil memeluk Kibum dan tersenyum penuh kelegaan di sela-sela air mata bahagia yang tiada henti-hentinya mengalir.

Akhirnya ia akan melewati ini dengan tenang, bahkan saat ini ia berfikir dua puluh satu bulan itu tidaklah lama. Hanya selama kedipan mata.

THE END

uwooo… Dialog apaan itu di atas? Mianhe saya sok-sok an bikin dialog tak jelas begitu… Mana mungkin leader kita akan berdialog segaje itu… blibet banget daah.  #abaikan. FF ini terinpirasi dari EHB yang emua membernya pada joget2 gaje eh malah Kibumnya menyingkir…Dari situ author berimajinasi yang tidak-tidak… Ingat ya reader, FF ini hanyalah imajinasi gaje author…

 

 

Advertisements

2 comments on “(SHARE FF) My Breath

  1. 13…mereka akan kembali bersama….just wait them (Kibum, Hangkyung, Heechul, and uri lovely Leader Leeteuk) to comeback…

    Jangan bosan menunggu mereka kembali ELF….
    Miss u soldier no 85…You always make me proud of you….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s