(SHARE FF) Love Like Chocopreso (Part 7)

llc

Author : Hanny

 

Hani’s pov

 

Tugas kuliah, laporan praktikum, observasi.. bla bla bla…. Aish kenapa tugasku tidak kunjung usai. Kenapa juga para dosen mempunyai hobi yang sama ketika waktu ujian sebentar lagi tiba, mereka memberikan tugas sebanyak-banyaknya diakhir semester dam berhasil membuat mahasiswanya stress sebelum ujian. Tugas kuliahku memang banyak tetapi aku juga harus melaksanaan kewajibanku yang lain di café. sudah sampai semester 5 ini aku masih bisa menjalani semuanya dengan baik, yah meski terkadang mau tak mau Nichan unni turun tangan jika aku benar-benar terlalu sibuk dengan tugas kuliahku.

 

“Chukae….”  Kenapa mereka semua menyelamatiku. hari ini bukan hari ulang tahunku, aku juga tidak memenangkan sebuah juara maupun undian.

 

Otakku yang masih panas setelah hampir seharian terkurung diperpustakaan, sesampainya di café mereka semua malah bersikap seperti ini. kenapa mereka tersenyum aneh kepadaku, apa ada yang aneh dengan wajahku,  ah aku sangka wanita mungil itu tau jawabanya.

 

“Nunna-ya” panggil  Dongho dengan suara manja.

 

“Ada apa?? Kau memberikan selamat padaku juga?” tatapku curiga, tapi anak ini menggeleng dengan wajah polos

 

“Untuk apa aku menyelamatimu, ini kan bukan hari ulang tahunmu. Ah kau menang undian ya?” ahh jadi dia tidak tau apa yang terjadi sebenarnya dengan apa yang terjadi disini. Ahh kalau begitu semua ulang wanita itu, aku yakin dia tau jawaban atas semua ini.

 

“Ani, kemana wanita itu?”

 

“Nichan Unni? Dia sedang diatas katanya perutnya keram” Dongho menunjuk kearah atas

 

“Heh? Keram? Tunggu bukankah ini pasti akan terjadi setiap dia datang bulan dan bukankah ini waktunya” jadi dia tidak hamil.. aish bisa-bisanya mereka membohongiku.

 

 

 

***

 

 

 

“Kau sedang datang bulan?” aku berhasil membuka pintu setelah susah payah membukanya, maklum saja tanganku saat ini sibuk membawa beberapa barang.

 

“Dari mana kau tau?” ucapnya sambil menunjukkan wajah bingungnya. Yah wajar saja aku hafal aku kan bukan satu dua tahun mengenalnya

 

“Yak… Jadi kau membohongiku, kemarin kau bilang kau itu hamil makanya aku bersedia merelakan diriku untuk menuruti apa maumu itu” mengingat apa yang dilakukanya padaku membuatku emosi. orang yang aku ajak bicara hanya meringis sambil memegangi perutnya yang sakit.

 

“Aku lakukan semua itu karena aku sayang padamu” sayang?? Yang seperti itu dibilang sayang. Bukankah yang seperti itu lebih pantas dibilang menyiksa temanya sendiri.

 

Menyebalkan, bagaimana bisa dia tega membohongiku dan menjebakku seperti itu. emosiku benar meletup-letup sekarang. Kepalaku seperti mau pecah, gadis ini harus diberi pelajaran. Arghhh menyebalkan.

 

“tcih sayang katamu, kau tidak tau rasanya bagaimana kan. Meyebalkan” dia sempat terlonjak kaget setelah membanting beberapa buku yang kubawa tepat dihadapanya.

 

“kau marah? Harusnya kau berterimakasih berkat aku dan suamiku kalian berdua sekarang sudah berpacaran kan” hei bahkan dia tau sejauh itu,padahal aku sendiri belum cerita apapun padanya.

 

“Astaga jadi kau sudah merancang sejauh itu, jadi kau sekongkol dengan Lee  dong dong itu?” sial, menyebalkan ternyata semuanya sudah dirancang dengan sempurna. Apa mereka tidak tau bagaimana perasaanku hari itu.

 

“Dia juga korban kami, kau tiak tau betapa gemasnya kami melihat tingkah kalian berdua. Sudah jelas kalian itu sama-sama suka tetapi kenapa malah  bersikap pura-pura tidak tau” lagi-lagi gadis itu meringis kesakitan. “kau tau betapa paniknya kami ketika melihat Donghae oppa malah membantumu untuk datang kekencan buta itu, hampir saja semuanya gagal”. Bahkan mereka juga mengikuti kami diam-diam, aishh benar-benar bosan hidup rupanya.

 

“kalian rupanya sudah bosan hidup ya. siapa pria yang akan kencan denganku waktu itu?”

 

“Tidak ada” ucapnya tanpa dosa, ya tuhan nenek sihir ini benar-benar “Jadi kalian benar-benar pacarankan sekarang, Chukae” dia mengulurkan tanganya seraya memberi selamat. Kutepis tanganya, kulangkahkan kakiku kemeja kerjaku yang letaknya berada disalah satu sudut ruangan ini

 

“Siapa yang pacaran” ucapku emosi. ku keluarkan leptop dan  beberapa buku dari tasku, berniat untuk melanjutkan mengerjakan tugas kuliahku yang hampir selesai.

 

“Mwo??” pekiknya percaya. Ku anggukkan kepalaku sambil melanjutkan aktifitasku. “Kau bohong”

 

“Siapa yang bohong, tanya saja dia”  aku memang tidak sedang berbohong. Aku memang bukan pacar pria itu, jelas-jelas pria itu menekankan bahwa dia memintaku untuk menjadi calon isrinya bukan pacarnya.

 

 

 

 

 

Author’s pov

 

 

 

Kevin pun akhirnya berpacaran dengan Jee in, menurut Hani mereka adalah pasangan yang lucu. Karena dua-duanya memang pemalu, keduanya hanya duduk tanpa mengucapkan apapun. Terkadang tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan , wajah mereka bersemu merah. Keduanya terlihat kikuk, tetapi benar-benar terlihat menggemaskan.

 

“Aigoo kalian itu kenapa begitu manis” tiba-tiba Hani  duduk di depan pasangan baru tersebut.

 

Gadis itu duduk sambil menumpu dagunya dengan tangan kananya. Sepasang kekasih itu makin terlihat malu-malu.  Matanya benar-benar memperhatikan gerak-gerik pasangan dihadapanya.

 

“Berhentilah menatap kami dengan tatapan seperti itu?” ujar Kevin merasa tidak nyama diamati seperti itu.

 

“Whoaaa kalian itu mirip. Eumm sepertinya berjodoh” Jee in hanya menundukkan  wajahnya yang bersemu merah. Sedangkan Kevin malah menatap kearah Hani kesal.

 

Dua pasangan itu masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kevin sedang sibuk mengerjakan pembukuan sementara gadisnya sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Tiba-tiba Nichan datang dan menjewer telinga Hani, yah mereka sekarang terlihat seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang berbuat nakal.

 

“Yak kenapa kau menjewerku , sakit tau” ringisnya

 

“Berhentilah mengganggu orang pacaran. Apa kau tidak sadar kalau mereka itu tidak nyaman dengan keberadaanmu” omelnya, sedangkan orang yang diomeli hanya menunjukkan cengiran lebarnya.

 

“Hei kau tidak tau bagaimana sensasinya mengganggu orang yang sedang berpacaran” lanjutnya sambil menunjukkan wajah tanpa dosanya.

 

Mereka bertiga hanya tercengang mendengar penjelasan dari Hani, jadi ternyata itu alasanya selama ini dia sering mengganggunya ketika Nichan dan Siwon berpacaran dulu. Dengan Wajah yang berseri-seri hani menatap kearah tiga orang yang ada di dekatnya.

 

“YAK YAK UNNI LEPASKAN!!!”  Hani pun berhasil diseret nichan meninggalkan kedua pasangan itu.

 

 

 

Donghae’s pov

 

 

 

Disinilah aku sekarang, di kampus Hani menunggu dia  pulang. Aku memang sengaja datang kesini untuk menjemputnya, dia memberi kabar katanya kalau sekarang dia sedang bermain futsal bersama temanya dilapangan dekat gedung fakultasnya. Hari ini aku memang sengaja memakai baju santai ke kantor, yah setidaknya jika aku menjemputnya kekampus penampilanku tidak mencolok dengan mahasiswa lainya.

 

Langkahku berhenti disebuah lapangan. Suasana disini terlihat ramai, aku pun memutuskan untuk duduk ditempat yang sudah disediakan. Tatapanku mengarah  lapangan yang sekarang sedang berlangsungnya pertandingan. Hei tunggu dulu, kenapa semuanya pria.  semuanya pria, dia bilang kalau dia main futsal. Huft  aku mendesah berat ketika melihat keberadaanya diantara pria-pria itu. wajahnya terlihat serius sedangkan kakinya dengan lihainya menggiring bola sampai kedepan gawang.

 

Kuakui kemampuanya menggiring kulit bundar itu cukup mengagumkan, dan beberapa saat kemudian bola itu berhasil masuk kedalam gawangnya. Ada sesuatu kebanggaan melihat dia melakukan semua itu, mengingat dia adalah satu-satunya gadis yang bermain disana. tetapi, yak apa-apaan itu. KENAPA MEREKA MEMELUKNYA.. YAK MENJAUHLAH DARINYA… YA TUHAN… rasanya ingin menariknya dari kerumunan pria-pria itu sekarang.

 

 

 

***

 

 

 

Aku lebih memilih untuk kembali kedalam mobilku daripada melihatnya terus-terusan dipeluk oleh pria pria itu. aishh pasti dia sangat bahagia dikelilingi banyak pria seperti itu. kalian menyebutku pria pencemburu??? Terserah kalian saja lah, tetapi aku benar-benar cemburu melihatnya seperti itu. coba saja kalian jadi aku aku yakin kalian akan melakukan seperti apa yang aku lakukan. Masih untung aku tidak menarik gadis itu dari lapangan dan untungnya lagi aku bisa mengendalikan diriku untuk melakukan hal seperti itu.

 

Tok tok tok…

 

Hani mengetuk kaca mobilku dan membuka pintu sebelum dia masuk dan duduk nyaman disebelahku. Seperti biasa dia melemparkan ranselnya ke jok belakang.  Kemudian mengeluarkan lollipop dari saku celananya dan memasukkanya kedalam mulutnya. Aku pun hanya diam tanpa kata, menyalakan mesin mobilku dan melajukan mobilku menuju tempat yang kami tuju, yah kemana lagi selain Chocopresso café.

 

“Ada apa dengan wajahmu” tanyanya pada akhirnya. Dia sedikit memiringkan tubuhnya agar lebih leluasa melihat wajahku. Tanganya pun terulur kearahku kemudian meletakkan telapak tanganya di dahiku. “Tidak panas”

 

“Aish…. Kau pasti senang berada diantara para pria seperti tadi “ dan akhirnya  kalimat itu terucap dari mulutku. Gadis itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya setelah mendengar ucapanku tadi.

 

“Bukankah kau tau kalau temanku itu memang kebanyakkan pria”  ucapnya sambil mengangkat lolipopnya itu. “Eiyy, kau cemburu??”

 

“Orang gila mana yang tidak cemburu jika melihat gadis yang dicintainya dipeluk pria lain” ucapku kesal “Dan yang memelukmu itu bukan hanya satu orang, tapi lebih dari satu” dan sialnya aku cemburu pada orang yang salah, gadis itu malah kelihatan senang. bahkan ekspresi jahilnya muncul

 

“Ommo calon suamiku sangat menggemaskan” ledeknya, dengan jahilnya tangan kananya mengacak-ngacak rambutku. “Jadi begini radanya dicemburui… aigooo ternyata menyenangkan” kekehnya. Aku baru dengar ada orang yang bahagia jika dicemburui. Dasar gadis aneh.

 

“Yak!!!” aku menghentikkan mobilku. Kemudian keluar dari mobil, bisa gila jika aku lama-lama berada didalam mobil.

 

“Dong dong oppa kau mau kemana?” teriaknya ketika aku mulai menjauh dari mobilku. “ YAK LEE DONGHAE KAU MAU MENINGGALKANKU SENDIRIAN??” ya aku memang ingin meninggalkanya sendirian. Aku pun memutuskan untuk naik taksi dan meninggalkanya bersama mobilku dengan mesin   yang  masih menyala.

 

 

 

 

 

Hani’s pov

 

Whoaa dia benar-benar marah, bahkan seminggu ini dia tidak muncul dihadapanku. Ketika aku mengantarkan mobil kerumahnya pun dia menghindariku. Pria macam apa dia itu, biasanya yang pencemburu itu adalah perempuan bukan laki-laki. Bukanya aku tidak berusaha untuk menghubunginya, hampir setiap waktu aku mencoba menguhunginya, tapi tidak pernah ada jawaban darinya. Kekanakan, yah begitulah. Tidak ada cara lain selain mengunjunginya  kekantornya siang ini, lagi pula aku sudah menanyakan jadwal pria itu pada Sunggyu oppa.

 

Sampailah aku disebuah gedung tempat Donghae oppa berkerja, sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku datang kesini. Dulu ketika tangan pria itu cedera aku pernah datang kesini tetapi tidak sempat masuk kedalam gedung ini. eumm ternyata seperti ini tempatnya berkerja, aku suka. Beberapa karyawan berbisik-bisik melihat kedatanganku. Ah tapi mungkin  itu hanya perasaanku saja, mereka kan tidak tau aku sebelumnya, mana mungkin mereka membicarakan orang yang mereka tidak kenal. Lagi pula penampilanku hari ini tidak secuek biasanya.

 

“Hani-ssi” sapa Sunggyu oppa,aku suka melihatnya tersenyum. Karena pada saat itu aku mata sipitnya menghilang. Terkadang aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menjahilinya.

 

“Oppa, berhentilah memanggilku dengan Hani-ssi. Hani-ya, itu lebih enak didengar. Arasseo!”  dia pun hanya mengangguk. “Di mana pria menyebalkan itu?”

 

Aku mengedarkan pandanganku kesekelilingku dan dengan aku berbicara dengan Sunggyu oppa saat ini para karyawan makin banyak mengarahkan pandanganya padaku. “Apa yang salah denganku?” tanyaku pada Sunggyu oppa. Awalnya dia menatap bingung kearahku kemudian dia mengangguk mengerti.

 

“Ani, hanya selama ini mereka penasaran dengan gadis yang bisa membuat bos kami yang dingin itu bisa jatuh cinta” jelasnya. Sedangkan aku hanya bibirku hanya membentuk huruf O. “Sangjangnim sedang melakukan rapat, apa kau mau mengintipnya dari luar?” dia mengajakku untuk mengikuti langkahnya.

 

Setelah melewati sebuah lorong kami tiba di depan ruangan yang dipenuhi kaca. Aku pun mengintip kedalamnya, untuk mengetahui bagaimana keadaan didalam. Dan pria itu sedang serius menjelaskan hasil rancanganya pada klienya. Tidak bisa aku pungkiri, melihatnya sedang serius berkerja seperti ini membuatku semakin menyukainya. Aku memang tipe gadis yang sangat suka melihat pria yang bersungguh-sungguh dalam perkerjaanya, dan Donghae oppa adalah pria yang seperti itu.  mataku terus menatap kearah pria berkemeja putih di balut dengan jas warna biru dongker yang dipadukan dengan dasi berwarna merah hati itu.

 

“Oh My God, senyumanya” ucapku tak sadar. Sunggyu oppa yang mendengar ucapanku menyembunyikan kekehannya. “Ehem, oppa dimana ruangan Donghae oppa. Aku akan tunggu disana saja” ucapku karena malu. Mungkin kalau aku berlama-lama melihatnya disini aku bisa melakukan hal yang lebih memalukan lagi.

 

 

 

 

 

Author’s pov

 

 

 

Lima belas menit Hani menunggu Donghae diruanganya, tetapi pria itu tidak muncul juga. Untuk menghilangkan rasa bosanya gadis itu memutuskan untuk melihat-lihat ruang kerja calon suaminya itu.  disana terdapat banyak buku berbahasa inggris tersusun rapi. Disudut lain terdapat tempat dia menggambar desainya yang berhadapan dengan jendela.  Beberapa penghargaan yang dia dapatkan juga terpajang disana.

 

Hani pun duduk dikursi kerja pria itu, matanya pun mengamati satu-persatu benda yang berada diatasnya. Tentu saja disana terdapat beberapa dokumen yang sepertinya belum diperiksa oleh pria itu. leptop pria itu yang dibiarkan menyala begitu saja, beberapa foto pun terpajang disana. Foto keluarganya ketika ayahnya masih hidup, foto pria itu bersama ibu dan kakaknya, dan fotonya bersama pria itu. Hani  tidak pernah merasa mengambil foto berdua dengan Donghae. karena  foto itu memang  di potret secara diam-diam oleh Donghwa. Kemudian gadis itu memejamkan matanya sambil membayangkan bagaimana kalau pria itu sedang duduk ditempatnya sambil mengerjakan tugas-tugasnya.

 

“EHEM” Donghae yang baru masuk dan mendapati gadis itu tengah duduk dikursinya pun hanya berdeham ringan. perlahan dia membuka matanya dan mendapati pria itu sedang bersedekap ringan menatap tajam kearahnya.

 

Sebenarnya Donghae senang melihat kehadiran gadis itu diruang kerjanya, tetapi rasa kesalnya masih tersisa walau hanya sedikit membuatnya merasa kesal dengan gadis ini.

 

“Anyeong” ucap gadis itu sambil menunjukkan wajah tanpa dosanya.  Gadis itu bangkit kemudian menghampiri pria itu.  pria itu pun masih diam membisu. Melihat sang pria seperti itu, sedang gadis pun langsung menggandeng  tangan pria itu dan mendorong tubuh pria itu dan menyurunya duduk diatas kusi kerja pria itu.

 

“Maafkan aku” ujar gadis itu sambil menatap kearah pria itu. “kau mau memaafkan aku tidak?” tanya gadis itu.

 

Sang pria pun masih terdiam tanpa kata, matanya masih mentap lekat gadis dihadapanya dengan tatapan yang susah dimengerti apa maksudnya.

 

“Jadi kau benar-benar tidak mau memaafkanku” ujar gadis itu kecewa, kali ini matanya mulai berkaca. Kaca. Melihat gadisnya ingin menangis seperti itu sang pria menarik gadis itu dalam pelukkanya.

 

“Kenapa kau jadi cengeng begini?” akhirnya  pria itu mengeluarkan suaranya.

 

“Kau.. hiks.. hikss.. kau yang membuatku hiks… hiks… cengeng seperti ini bodoh” umpat hani kesal disela-sela tangisanya. Donghae tersenyum diam-diam ketika mendengar umpatan gadis itu lagi. “Apa.. kau ti..dak.. hiks tau… hiks… ka…lau..kau itu menyiksaku karena telah mengacuhkanku seperti ini”

 

Pria itu menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya, kemudian tersenyum kearah gadisnya sambil mengacak rambutnya. “Eum kerena kau menangis karena aku, maka aku akan memaafkanmu”

 

“Yak!!” Hanipun akhirnya menjewer telinga Donghae

 

 

 

Donghae’s pov

 

“Yak kenapa kau memakai pakaian seperti itu?” aku menatap geram kearah gadis yang baru saja sampai dihadapanku.

 

Memang tidak ada yang salah dengan pakaian yang dia kenakan,  wajar saja dia menggunakan gaun keacara pesta pernikahan Donghwa hyung. kuakui dia memang cantik mengunakan gaun itu, gaun itu memang terbalut sempurna di tubuhnya. Tetapi aku tidak suka dengan gaun yang dia gunakan. Gaun itu terlalu terbuka dibagian dadanya, aishhh kenapa dia tidak menggunakan gaun yang biasa-biasa saja.

 

“Wae?? Apa yang salah?” jawaban darinya membuatku semakin naik darah. Apa dia tidak sadar kalau dia berpenampilan seperti ini sudah pasti akan menjadi pusat perhatian disini karena kecantikkanya. Kenapa sifat bodoh dari gadis ini tidak pernah hilang, dia selalu tidak peka. Padahal jelas-jelas aku tidak suka jika dia menjadi pusat perhatian orang lain, karena dia hanya boleh menjadi pusat perhatianku.

 

“Jadi kau senang jika pria-pria itu menikmati tubuh indahmu itu?” gadis itu menunduk melihat baju yang dia gunakan, kemudian terkekeh geli.

 

“Whoaa apa katamu tubuhku indah, aishh Lee Donghae kenapa otakmu jadi mesum begitu” dengan kurang ajarnya, gadis itu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dahi favorinya.

 

“Hah.. siapa yang mesum…. Sudah Pakai jasku” aku membuka jasku dan kusampirkan di tubuhnya. Sedangkan dia malah menatapku tidak mengerti

 

“Sebenanya kau kenapa sih?” kali ini alisnya berkerut. “Ah karena bajuku ini terlalu terbuka dibagian ini” dia menganggukkan kepalanya sambil menyilangkan tangan tepat didepan dadanya.

 

“Baguslah kalau kau tau” ucapku yang sudah terlanjur kesal. Gadis itu malah tersenyum jahil kearahku, kemudian menyerahkan kembali jas milikku.  “Yak kenapa kau malah melepaskanya”

 

“Jadi kau tau kan alasan kenapa aku selalu marah jika kau membuka dua kancing atas kemejamu itu” what??? Jadi dia mau balas dendam padaku. Aishh benar-benar menyebalkan, oke aku tidak bisa marah. Karena apa yang dikatakanya benar, alasnya sangat masuk akal.

 

 

 

 

 

Hani’s pov

 

 

 

Donghae oppa masih tidak beranjak dari tempatnya dari tadi, matanya masih menatapku kesal sesekali dia mengumpat dirinya sendiri karena kesal. Ahahaha rasakan apa yang aku rasakan, sebenarnya aku tidak nyaman juga menggunakan pakaian seperti ini. tetapi pria itu juga harus diberi pelajaran bukan. Sejak lima bulan yang lalu dia menyatakan cintanya, tidak ada yang berubah sedikitpun diantara kami. bertengkar tentang hal sepele atau berdebat tentang hal yang tidak penting sering terjadi diantara kami. tetapi dengan cara itulah kami mengungkapkan rasa kasih sayang kami.

 

“Ommo calon menantuku cantik sekali” Ibu dari pria itu datang menghampiriku. Wajahnya tersenyum cerah,  karena memang tidak ada alasan untuknya tidak terlihat bahagia hari ini. karena anak laki-laki pertamanya hari ini melepas masa lajangnya.

 

“Eomonim” wanita paruh baya itu memelukku erat dan aku pun membalas pelukkan hanganya. Jujur jika dia memelukku seperti ini aku merasa makin rindu dengan ibuku sendiri. “Kau pasti lelah, ya?”

 

“Aniyo, aku sangat bahagia hari ini”  ucapnya riang,  melihatnya seperti itu aku pun menjadi ikut senang. “Dimana Donghae?” pandanganya mencari sosok anak bungsunya itu.

 

“Disana” aku menunjuk kearah Pria itu.  meskipun dia berusa membalas sapaan yang ditujukkan kepadanya dengan ramah tetapi tetap saja raut kekesalanya sedikit terlihat diwajahnya.

 

“Ahjuma” Sunggyu, asisten kesayangan Donghae Oppa pun datang menghampiri kami. sebelumnya dia sempat berbincang dengan pria itu. Sunggyu tersenyum kearah kami sampai-sampai mata sipitnya itu menghilang.

 

“Sunggyu-ya, Sudah lama kau datang?” Eomonim menepuk punggung Sunggyu.

 

“Ani, aku baru sampai”  ucapnya sopan dan kali ini pandanganya mengarah kearahku.

 

“Wae?” aku membalas tatapanya. “Kau disuru atasanmu tersayang itu untuk menyerahkan jas itu untukku” mataku melirik ke jas yang dia sampirkan ditanganya.

 

Pria itu menyodorkan jas itu padaku, eomonim hanya menatap bingung kearahku. Aku pun hanya bisa menunjukkan cengiranku kearahnya.

 

“Ani, kau bawa saja sana” tolakku. Eomonim masih menatapku seolah meminta penlasan. “Eomonim, anakmu itu tidak suka aku memakai pakaian ini”

 

“Wae?? Apa yang salah” dia langsung meneliti penampilanku dari atas sampai bawah. “Gaun itu sangat cocok untukmu” dia pun mengangguk-anggukkan kepalanya

 

“Ini karena menurutnya bagian dadanya terlalu terbuka” bisikku tepat ditelinganya, seketika wanita paruh baya itu tertawa. “Padahal dia juga suka memamerkan dadanya yang idang itu dengan membuka dua kancing kemajanya itu” lanjutku

 

“Aigoo, kalian ini sungguh menggemaskan” kali ini dia mencubit pipiku gemas.

 

 

 

Author’s pov

 

 

 

Donghae sedang menyiapkan beberapa barang yang dia bawa saat ke Jerman nanti. Ada dua misi yang dia harus lakukan disana nantinya. Yang pertama adalah datang untuk menyelesaikan perkerjaanya dan yang kedua adalah melamar gadis itu pada orang tuanya, tetapi tanpa sepengetahuan Gadisnya. Perjalanan bisnis ini memang sangat berbeda dengan perjalanan bisnis yang biasa dia lakukan. Perasaanya pun tidak karuan, dia bahkan menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan orang tua gadisnya itu. terlebih ayah gadis itu sebelumnya menunjukkan bahwa dia kurang menyukai dirinya.

 

“Semuanya sudah kau bawa?” Ibu dari pria itu masuk kekamar milik anak bungsunya yang sibuk mengepak barang

 

“Ne, eoma”  setelah menutup kopernya pria itu duduk dipinggiran tempat tidur sambil menatap ibunya.

 

“Aku tau kalau kau itu gugup. tetapi eoma yakin, anak eoma pasti bisa melakukkanya” ucap wanita itu menyemangati putranya.  Langkahnya membawanya mendekati Donghae kemudian memeluk anakknya.

 

Akhirnya tiba saatnya satu persatu anaknya akan menjejaki jenjang pernikahan. Memeluk anaknya dengan erat seperti ini membuatnya teringat bagaimana ketika dia mengandung dan melahirkan anak-anaknya, membesarkanya dengan penuh kasih sayang sampai tumbuh menjadi pria dewasa yang bertangung jawab. Membuat semua itu membuat air matanya hampir turun, dia pun membalikkan tubuhnya berusaha menyembunyikan air matanya dari anaknya itu.

 

“Jaljayo, eoma” Ucapan anaknya itu membuat air matanya jatuh. Tidak ada  kekuatan darinya untuk membalas ucapan selamat malam dari anaknya tersayang itu. dia pun hanya mengangguk sebelum pergi meninggalkan anak laki-lakinya itu.

 

 

 

Donghae’s Pov

 

 

 

“Tugasku sebagai supirmu sudah selesai, sudah sana bukankah kau harus segera masuk” memang susah menyukai gadis setengah-setengah seperti dia. harusnya dia memelukku sebelum aku pergi lalu mengatakkan ‘telpon aku jika kau sampai’ , tetapi dia malah seperti ini padaku.

 

“Kau mau pulang begitu saja?” akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulutku.

 

“Wae?? Kau minta aku peluk??” ucapnya. “Tidak akan, kau kan hanya pergi selama empat hari bukanya bertahun-tahun”  sudah kuduka pasti ini jawabanya.

 

Ya sudahlah memang resikoku menyukai gadis seperti dia, lebih baik aku pergi sekarang. Tanpa mengucapkan kata-kata aku hanya memberi isyarat kepadanya kalau aku mau masuk kedalam. Gadis itu pun hanya tersenyum riang sambil menganggukkan kepalanya sesekali melambaikan tanganya kearahku. Membalikkan badanku dengan perasaan sedikit kecewa, melangkahkan kakiku perlahan-lahan menuju tempat yang aku tuju tanpa membalikkan tubuhku untuk mentapnya.

 

Sebenarnya ingin sekali aku melakukan hal tersebut, tetapi jika aku membalikkan tubuhku dan menatapnya bisa-bisa aku malah terlambat masuk kedalam pesawat karena masih ingin menatap gadis yang kucintai itu sepuas puasnya. Kenapa begitu, karena empat hari kedepan aku tidak  akan melihat wajahnya secara langsung dan pastinya itu akan membuatku tersiksa.  Ayolah Lee Donghae jangan membalikkan badanmu, kau harus menatap kearah depan sekarang.

 

Senyumku mengembang ketika tangan gadis itu berusaha untuk memelukku dari belakang. Yah memang dia tidak memelukku secara langsung akibat terhalang ransel yang aku gunakan tetapi apa yang dia lakukan untukku ini benar-benar membuatku senang.  Oke aku harus membalikkan badanku tetapi sebelumnya aku harus mengatur ekspresiku untuk tidak terlihat biasa saja dihadapanya.

 

“Yak apa yang kau lakukan?” ingin aku tersenyum ketika melihat semburat merah diwajahnya. Tetapi aku harus mati-matian menjaga ekpresiku sekarang

 

“Ya memelukmu, bodoh”  sungutnya kesal,  meski wajahnya memerah dia masih memberanikan diri untuk menatapku

 

“Kau yang bodoh, tadi yang kau peluk itu ranselku bukan aku” balasku tidak mau kalah

 

“Aish masih untung aku mau melakukan itu padamu”  dia pun mengembungkan pipinya yang bershasil membuatnya semakin terlihat menggemaskan.

 

“Peluk aku yang benar sekarang” pintaku padanya sambil  merentangkan kedua tanganku .

 

“Hya oppa kau itu keterlaluan. Apa wajahku yang memerah ini tidak bisa menjelaskan betapa malunya aku sekarang” ini dia, sifat polosnya yang membuatku kehilanganya ketika tidak berada didekatnya. Gadis ini selalu mengatakan apa yang dia rasakan.

 

“Kalau begitu aku pergi” ucapku ketika dia masuk kedalam pelukkanku. Meski singkat tetapi itu memberi pengaruh besar pada diriku.

 

 

 

 

 

Hani’s pov

 

 

 

Aku hanya terkekeh melihat raut kecewa yang muncul dari wajahnya. Dia membalikkan badanya kemudian melangkahkan kakinya terus kedepan, aku tau pasti dia mati-matian untuk tidak membalikkan badannya kearahku. Ini adalah pertama kalinya ditinggalkan olehnya  selama empat hari untuk pertama kalinya sejak dia menyatakan cintanya.  Apakah aku akan merindukanya?, itu sudah pasti. Bohong kalau aku bilang aku tidak akan merindukkan pria itu didekatku. Bukan juga aku tidak mau memeluknya hanya saja aku terlalu malu untuk memeluk pria itu.

 

Menatap punggungnya yang mulai menjauh makin lama membuatku semakin ingin memeluknya. Tapi apakah benar-benar aku harus melakukanya, eumm bagaimana ya. baiklah sepertinya memeluknya dari belakang bukanlah hal yang buruk. Aku  setengah berlari mengejar langkah pria itu, kemudian memeluknya dari belakang. Langkah pria itu seketika terhenti.

 

Meskipun lebih tepatnya aku memeluk ranselnya bukan tubuhnya tetapi ini benar-benar membuatku malu. Tanganku berhasil menyentuh pinggang milik pria yang ku peluk ini. jujur saja ini pertama kalinya aku memeluknya, karena aku memang bukan tipe gadis yang suka menempel pada kekasihnya.

 

“Yak apa yang kau lakukan?” pertanyaannya membuatku refleks melepaskan pelukkanku. Wajahku pasti sudah memerah sekarang

 

“Ya memelukmu bodoh” ucapku kesal, apa dia tidak tau betapa malunya aku. Aku bahkan sudah membuang harga diriku untuk memeluknya.

 

“Kau yang bodoh, tadi yang kau peluk itu ranselku bukan aku” ocehanya membuatku semakin kesal

 

“Aish masih untung aku mau melakukan itu padamu”  aku pun mengembungkan pipiku karena kesal atas ulahnya.

 

“Peluk aku yang benar sekarang” pintanya padaku sambil  merentangkan kedua tanganya .

 

“Hya oppa kau itu keterlaluan. Apa wajahku memerah tidak bisa menjelaskan betapa malunya aku sekarang” aku bahkan sudah tidak perduli lagi dengan wajahku yang memerah karena kesalnya

 

“Kalau begitu aku pergi” ucapnya setelah aku menyambut pelukkanya dan akhirnya benar-benar pergi meninggalkanku yang masih berdiri menatap kepergianya.

 

‘cepat pulang, awas saja jika kau membiarkan rasa rinduku nanti berlarut-larut’ ujarku dalam hati setelah aku tidak melihat wujudnya lagi. baiklah aku rasa aku harus kembali ke kampus sekarang, bukankah mahasiswa yang baik itu tidak pernah membolos pada jam pelajaran.

 

 

 

 

 

Nichan pov

 

 

 

“Sampai kapan kau terus memandangi ponselmu itu huh?”  sudah tiga puluh menit dia menatap ponselnya dengan tatapan bingung.

 

Mereka bilang mereka tidak berpacaran, tetapi kenapa kepergian pria itu membuat Hani seperti orang linglung seperti ini. Ahhh sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua.

 

“Kalian bilang kalian tidak berpacaran kenapa kepergiannya bisa membuatmu seperti itu”  Hani pun menatap malas kearahku, dia melipat kedua tanganya diatas meja dan menidurkan kepalanya disana.

 

“Yah, jelas saja karena dia tidak memberi kabar tentang dirinya disana” ucapnya lemas. Matanya sesekali terperjam, aku yakin sebentar lagi dia akan tertidur pulas.

 

“sebenarnya apa hubungan kalian?” ucapku tak sabar, benar-benar lima bulan ini mereka membuatku membuatku penasaran.

 

“Dia itu orang yang akan menjadi suamiku nanti” ucap gadis itu dengan mata terperjam. Aishh kenapa dia senang sekali sembarangan berbicara.

 

“Yak Lee Hani, berhentilah bercanda, aku ini benar-benar sedang serius” aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Gadis itu pun membuka matanya kemudian menatapku kesal.

 

“Aishh siapa yang bercanda, kalau tidak percaya tanya dia saja sana” sungutnya kesal. Jadi dia sedang tidak bercanda. Tapi bagaimana bisa.

 

“Yak kenapa tidak memberitahuku dari dulu” aku masih menunggu penjelasan yang lebih darinya sebelum dia benar-benar pulas.

 

“kau tidak bertanya tentang hal ini, ya aku tidak memberitahumu. Lagi pula aku juga kesal Karena kau juga sudah membohongiku kerena pura-pura hamil” ucapnya tidak mau kalah

 

 

 

 

 

Author’s pov

 

 

 

Ucapan dari ayah gadis itu membuat Donghae berpikir sepanjang perjalanan pulang menuju Korea. Sebenarnya ada benarnya juga kenapa tuan Lee menyuruhnya masuk wamil terlebih dahulu sebelum menikahi putri kesayanganya itu. tetapi untuk masuk wamil membuatnya memikirkan beberapa pertimbangan. Alsanya karena perkerjaanya, yah perkerjaanya saat itu memang sedang bagus-bagusnya. Bisa dibilang tahun ini adalah tahun dimana karirnya sedang berada dipuncak.

 

Meski ayah dari gadis itu tidak memberi batas waktu baginya untuk menyanggupi permintaanya tersebut tetapi tetap saja pria itu memikirkanya, bahkan meski dia lelah dia tidak tidur karena memikirkan hal tersebut. sepertinya dia harus meminta pendapat ibunya untuk menyelesaikan hal ini. dia harus memikirkan semuanya secara matang.

 

Otaknya kini tengah  memikirkan langkah apa yang harus dia jalani setelah ini. dia harus memulainya darimana dan apa dampak yang akan dia dapatkan jika dia harus pergi wamil dalam waktu dekat ini. bisa saja dia menunda mendaftar wamil satu atau  dua tahun lagi. hanya saja bukankah lebih cepat lebih baik dan jika dia masuk dalam waktu dekat ini bukankah waktunya sangat tepat. 2 tahun lagi kebetulan gadis itu akan lulus kuliah dan umur mereka pun sudah pas untuk menikah.

 

 

 

Donghae’s Pov

 

 

 

Saat ini aku duduk disudut kamarku sambil melihat pemandangan diluar rumah . merenungkan ucapan dari ayah gadis itu membuatku berfikir ekstra keras, eumm benar juga apa katanya jika aku menikahinya dalam keadaan belum melaksanakan kewajibanku sebagai warga negara yang baik pasti nantinya aku akan meninggalkan istriku selama 21 bulan seorang diri. Lebih kasian lagi jika aku meninggalkanya ketika dia sedang mengandung anak kami, bisa-bisa anak kami tidak mengenali ayahnya karena tidak bisa melihatnya lahir dan merawatnya ketika bayi.

 

“Hae-ya, apa yang kau pikirkan?” eoma masuk kedalam kamarku dengan susu hangat yang dia bawakan untukku.

 

“Eoma kalau aku masuk wamil dalam waktu dekat ini bagaimana?” pertanyaanku berhasil membuat eomaku terkejut. Memang sebelumnya aku tidak pernah berpikiran atau membicarakan tentang wajib militer kepada siapa pun. Eomaku sempat terdiam sebentar sampai akhirnya dia menjawab pertanyaanku.

 

“Sebagai ibu, eoma apa yang baik bagimu eoma akan selalu mendukungmu” ibuku mengusap punggungku pelan, wajahnya tersenyum yang berefek membuatku menjadi lebih tenang. “kenapa kau menanyakan hal ini, bukankah kau kesana untuk melamarnya”

 

“Karena Ayah Hani mau aku untuk masuk wajib militer terlebih dahulu sebelum aku menikahi anaknya”  sempat terdiam sebentar. “Sebelumnya memang aku tidak pernah memikirkan tentang ini, tetapi setelah kupikir-pikir perkataanya memang benar”

 

“Kau tau kenapa alasan orang tuanya memberi syarat seperti itu padamu?” aku mengangguk, kali ini ibuku menggenggam tanganku, aku pun mentap wajahnya lekat-lekat. “sebenarnya eoma juga lebih suka kalau kau itu masuk wamil terlebih dahulu sebelum kau menikah.Eoma ingat  ketika eoma hamil kakakmu waktu itu eoma ditinggal oleh ayahmu masuk wajib militer. Kau tau, tidak mudah menjadi ibu muda yang sedang hamil menjalani masa kehamilan tanpa didampingi suaminya”

 

 

 

Hani’s Pov

 

 

 

Baru saja aku ingin pergi ke café tidak sengaja aku melihat L dengan kekasihnya. Yah akhirnya pria itu berhasl menjadikan Namgyu mahasiswi jurusan tata boga menjadi kekasihnya. Aku juga tidak tau kapan mereka bertemu, aku memang pernah melihat gadis itu beberapa kali sebelum dia resmi berpacaran dengan L. Aku senang melihat mereka berdua, karena memang benar-benar cocok. Eum kenapa aku merasa terpanggil-panggil untuk mengganggu kedua insan yang sedang berpacaran itu.

 

Ahahaha ini memang kebiasaanku sebenarnya, karena aku dari dulu memang suka mengganggu orang yang ku kenal ketika sedang pacaran. Kalau kalian tanya apa alasanku melakukan hal itu maka jawabanku adalah, karena menganggu orang yang sedang bermesraan itu memberikan kesenangan tersendiri bagiku, apa lagi jika mereka yang aku ganggu akhirnya marah kepadaku. Kalian menganggapku aneh atau aku gila, terserahlah. Bukankah aku sudah biasa dibilang seperti  itu.

 

“Anyeong!!”  melihat kedatanganku L langsung memasang wajah cemas. Sedangkan Namgyu yang tidak terlalu mengenalku melambaykan tanganya kearahku. “Sepertinya hari ini adalah hari yang indah untuk pacaran” celetukku, L pun langsung menatapku dengan tatapan lesernya, yang sayangnya tidak mempan sama sekali untukku.

 

“Mau apa kau kesini?”

 

“Ya tentu saja menyapa kalian” ahaha wajahnya mulai panik. Aku mulai suka kalau keadaanya seperti ini. sekarang tatapanku tertuju pada Namgyu yang tengah duduk manis disampingnya. “Namgyu-ssi, kau tau tidak kalau… humph..” ahaha sudah kuduga dia akan melakukan hal ini padaku.

 

Namgyu hanya menatap bingung kearah kami. kalau seperti ini waktunya aku pergi. dengan mudahnya aku menyingkirkan tangan pria itu dari mulutku, kemudian aku memelintir tanganya membuat L meringis  kesakitan.

 

“Namgyu-ssi, sepertinya aku harus pergi”  kekehku pada gadis yang masing menatap bingung kami berdua. “Jaga temanku ini baik-baik. Dia memang terlihat dingin tetapi sesungguhnya dia anak yang manis”  ucapku sebelum melepas tanganya.

 

“Kenapa kau pergi?” tanyanya, aku pun melirik kearah L kemudian mengedipkan sebelah mataku kearah Namgyu

 

“Aishh aku heran kenapa Donghae hyung mau menjadikan kau calon istrinya” ucapnya kesal

 

“Aku pergi dulu, nikmati kencan kalian”

 

 

 

***

 

 

 

“Sedang apa kau disini” ucapku ketus pada pria berhodie merah dihadapanku.

 

Pria itu muncul dihadapanku setelah menghilang selama satu bulan. Memang empat hari dia melakukan perjalanan bisnis dan sisanya dia sibuk dengan pekerjaanya, bahkan menelpon atau mengirimiku pesan saja tidak.

 

“Apa lagi selain menemuimu” jawabnya santai, aishh kenapa dia harus menunjukkan senyumanya yang manis itu.

 

“ Menemuiku, tcih memang aku ini siapa” otakku yang tadinya sedang memikirkan laporan yang ingin aku buat mendadak hilang.

 

“Calon ibu dari anak-anakku” ucapnya santai, dia menatapku lekat-lekat sedangkan tatapanku hanya tertuju pada layar leptopku. “Ckckckck sebulan tidak bertemu dengaku saja sudah membuatmu lupa dengan stastusmu” tanganya kini mengacak rambutku.

 

Oke sekarang dia berhasil membuat kami menjadi tontonan para pegawai dan sepasang suami istri yang selalu menyusahkanku itu. untung saja café sudah ditutup, alhasil tidak seorang pun pelanggan berada disini. Tatapanya membuatku salah tingkah dan aku pun sudah tidak tahan lagi.

 

“Kya~ Lee Dong Dong berhenti menatapku seperti itu” Teriakku dan sontak seluruh ruangan tertawa melihat tingkahku yang salah tingkah. “Yak kalian kenapa menertawaiku” bentakku lagi, mereka pun mencoba menahan tawa mereka.

 

“Mianhae” ucap pria itu, dia pun memajukan kepalanya. Karena sepertinya dia dia akan mengecup dahiku lebih baik aku menepisnya sebelum terlambat.

 

“Yak jauhkan kepalamu dariku” ucapku panik.

 

Ya ampun wajahku pasti merah sekarang, aishh kenapa jantungku ini tidak bisa diajak kompromi. Aku mengalihkan pandanganku dari pria dihadapanku ini. kulihat Nichan unni dan lainya sedang asik menonton kami berdua. Aishhh memangnya kami ini sedang syuting film apa.

 

“Jadi kau mau marah padaku. Ya sudah marah saja sampai kau puas, jika kau sudah puas jangan lupa hubungi aku” aku pun makin naik darah mendengar ucapanya, ditambah lagi pria itu langsung bangkit dari posisinya.

 

Hei apa-apaan ini, kenapa dia malah meninggalkanku bukan membujukku agar tidak marah. Aishhh pria macam apa dia, kenapa selalu bersikap seenaknya sendiri. MENYEBALKAN… YA TUHAN KENAPA AKU HARUS MENCINTAI PRIA SEPERTI DIA.

 

“Apa-apaan ini, bagaimana bisa kau meninggalkanku seperti ini” lanjutku.

 

“Kan kau yang mengacuhkanku. Lagi pula aku juga sudah minta maaf apa itu tidak cukup?” ucapnya santai.

 

“Aishh, jinja” decakku sebal.

 

 

 

Siwon’s pov

 

 

 

“Hae-ya, sampai kapan kau akan seperti ini” setelah pertengkaran yang cukup menegangkan Donghae, aku dan istriku memutuskan untuk mengobrol diatas gedung café.

 

“Aku rasa sampai sekarang dia masih belum puas marah-marah” jawabnya santai

 

“Oppa apa kau benar-benar akan menikahi Hani” Nichan yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Memang dia sangat penasaran tentang kebenaran bahwa donghae meminta gadis itu menjadi istrinya.

 

“Begitulah, bukankah kasian jika sampai tua tidak ada yang akan menikahinya” senyum mengembang diwajahnya. Benar-benar gadis itu sudah mengubah Lee Donghae yang dulu menjadi Lee Donghae yang baru.

 

“Ya tuhan, alasan macam apa itu” aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Donghae malah tersenyum bangga kearah kami, tanganya sibuk memainkan ponselnya.

 

“Aku akan menitipkan dia pada kalian selama aku pergi wamil” katanya dengan nada serius.

 

“MWO???? Wajib militer???” Pekik aku dan Nichan bersamaan. Pria itu menutup kedua telinganya dengan tanganya.

 

“Ne, wajib militer. Memang ada yang salah?” dia menatap kearah kami bergantian

 

“Aniyo, tetapi kenapa begitu tiba-tiba” Nichan menatap bingung kearah pria itu

 

“Setelah aku melamar gadis itu pada orang tuanya sebulan lalu, aku langsung memikirkan hal ini. ini juga yang menjadi alasanku kenapa satu bulan ini aku tidak muncul dihadapanya. Karena aku menyiapkan semuanya sebelum aku pergi” jelasnya panjang lebar.

 

“Tetapi bukankah kau akan menikahinya, kenapa sekarang kau malah ingin masuk wamil” tanyaku lagi yang masih belum merasa puas dengan jawaban temanku yang satu ini.

 

“Aku pikir jika aku masuk wamil sekarang adalah waktu yang tepat. Nanti jika aku setelah keluar dari wajib militerku dia juga akan selesai dari kuliahnya” pria itu berhenti sebentar, menghirup napasnya dalam-dalam. “lagi pula aku tidak mau meninggalkan istriku nanti dalam jangka waktu yang lama” kami hanya menganggukkan kepala.

 

Benar juga apa katanya, seharusnya aku juga melakukan hal yang sama sepertinya. Kalau seperti ini sudah pasti aku akan meninggalkan nichan nantinya.

 

“Kau benar, kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehku” ucapku membenarkan.

 

“Tapi aku mohon jangan memberi tahunya,karena aku yang   akan  memberitahunya langsung”

 

 

 

 

 

Hani’s  pov

 

 

 

“Sudah puas marah-marahnya?” dia datang dengan senyumannya yang berhasil membuatku terpesona. Untuk membalas jawabanya aku pun hanya menganggukkan kepalaku.

 

“tetapi kenapa kau tidak mau melihatku, apa kau tidak merindukkanku?” tidak merindukkanya, bohong kalau aku mengatakan hal itu. karena pada dasarnya aku memang benar-benar merindukkanya.

 

“Tentu saja aku merindukanmu, kenapa kau masih mempertanyakan itu” tanganya memebelai rambutku lembut.

 

Ada gurat kelelahan diwajah tampanya, aku menjadi merasa kasian padanya. Harusnya aku tau kenapa alasan dia menghilang selama satu bulan. Sekarang aku tidak perduli dengan alasanya tentang menghilangnya dia selama sebulan ini.

 

“Mianhae, karena aku sudah menghilang selama satu bulan ini. ini karena…” ucapnya penuh penyesalan

 

“Aku tau, aku sudah tidak marah lagi. lagi pula aku tau perkerjaanmu itu bukanlah perkerjaan yang mudah”  aku tersenyum manis kearahnya.

 

Sebentar, kenapa perasaanku mendadak menjadi tidak enak. Ada apa denganya, kenapa sekarang sepertinya dia ingin sekali mengatakan sesuatu yang bisa membuatku sedih.

 

“Dan sepertinya kita akan terpisah lagi dalam waktu yang lama” ujarnya, aku hanya menatap bingung kearahnya.

 

Apa  maksudnya terpisah dalam waktu yang lama. Memangnya dia mau pergi kemana, kenapa raut wajahnya berubah seperti ini. hei Lee Donghae kau itu kenapa. Setelah menyadari kalau sekarang ini aku sedang menunggu penjelasan darinya dia pun menyelesaikan ucapanya itu.

 

“Aku akan masuk wajib militer” aku menatap intens kematanya,  dia benar-benar tidak main-main dengan ucapanya. Jujur aku bingung bagaimana aku harus menanggapinya. Ada perasaan sedih sekaligus bangga denganya.

 

“Jinja.. Hoaa keren” Ucapku antusias.  Yah ini jawabanku, bukankah aku harus mendukungnya.

 

Aku pun mencoba bersikap seperti biasanya, yah meski tidak bisa kupungkiri aku merasa sedih karena tidak akan bisa melihat pria itu setiap hari. Tetapi ini semua juga keputusan darinya, aku tidak berhak menolaknya apa lagi ini adalah kewajibannya sebagai pria Korea Selatan.

 

“Keren?” alisnya berkerut, sepertinya dia benar-benar bingung dengan reaksiku saat ini.

 

“Eumm” aku menganggukan kepalaku. “bukankah keren jika kau melaksanakan tugasmu sebagai warga negara yang baik. Aku membayangkan dirimu memakai seragam militer. Selama 21 bulan menjadi prajurit, melayani masyarakat dan melindungi negara. Jika aku terlahir menjadi seorang pria aku akan senang hati mengikuti wajib militer” jelasku secara marathon, tiba-tiba aku menjadi bersemangat mendengar kabar ini.

 

“Kau benar-benar merelakanku pergi?” tanyanya lagi, aishh manusia ini apa kurang jelas dengan penjelasanku tadi. Aku yang malas menjawab pertanyaanya hanya mengaggukan kepalaku penuh dengan keyakinan.

 

“Fighting!!!” ucapku penuh semangat. “kapan kau mulai masuk camp?”

 

“Dua minggu lagi” ekspresi wajahnya kini kembali normal.

 

Dua minggu lagi, kenapa terlalu terburu-buru. Padahal dia baru saja muncul dihadapanku setelah menghilang selama sebulan.

 

“Berarti kau keluar kira-kira setelah aku lulus kuliah”  pikirku sambil tanpa sadar menganggukkan kepalaku.

 

“Yap, maka dari itu kau harus mengikuti apa mauku selama dua minggu ini” aishhh wajah menyebalkanya kenapa bisa tiba-tiba  muncul disaat seperti ini.

 

Sebenarnya aku tidak merasa kesal ataupun keberatan dengan permintaanya ini. bukankah dua minggu ini memang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Eumm tapi nanti dulu, aku tidak boleh menerima permintaanya itu dengan begitu saja.

 

“Tidak bisa, aku tidak mau”  elakku, aku pun bangkit dari posisiku dan meninggalkanya yang masih diam diposisinya tadi.

 

Kenapa tidak ada reaksi darinya, jadi dia menerima penolakkanku begitu saja. Lee Donghae kau benar benar pria menyebalkan. Sepasang tangan bertengger di bahuku, kedua tanganya  disilangkan tepat dibahuku. memelukku tiba-tiba seperti ini sepertinya  dia ingin aku mati karena tidak kuat menahan debaran jantungku yang makin menggila ini. dia membenamkan wajahnya di tengkukku, tubuhku seketika merinding akibat hembusan nafasnya yang mengenai kulit leherku.

 

“Hani-ya saranghae” bisiknya tepat ditelingaku

 

 

 

 

 

Author’s  pov

 

 

 

Hari ini hari terakhir sebelum Donghae memulai tugasnya sebagai prajurit.  Selama dua minggu ini Hani benar-benar mengikuti semua permintaan donghae. menghabiskan waktu berdua selama mereka bisa, menikmati setiap momen yang mereka lewati bersama, membuat perasaan cinta mereka semakin besar. Mereka merasa amat bahagia melewati dua minggu ini yang terasa amat cepat bagi mereka. Tentu saja setiap harinya perdebatan-perdebatan kecil itu selalu muncul diantara mereka. Tetapi lagi-lagi perdebatan tersebut bisa membuat mereka makin menyayangi satu sama lainya.

 

Donghae meminta Hani untuk melaksanakan pacaran normal seperti pasangan lainya. sejak jam Sembilan pagi dia sudah menjemput gadis itu dirumah bibinya, yah karena ini kencan normal Hani pun tampil seperti gadis normal lainya. penampilanya hari ini lebih keliatan feminim atasan dress santai berwarna peach yang berbalut cardigan warna putih membuat penampilanya terlihat manis hari ini.

 

Setelah pamit dengan Bibi Nari mereka pun memulai kencan mereka. Destinasi pertama, Donghae memarkirkan mobilnya disebuah taman yang cukup rindang. Disana juga terdapat danau kecil yang indah.  Karena hari ini adalah hari libur jadi taman ini lebih ramai dari biasanya. Banyak pasangan disini dari kakek nenek yang masih harmonis, keluarga kecil yang bahagia dan tentunya pasangan kekasih yang sedang berbahagia seperti mereka berdua.

 

Ketika mereka duduk disebuah kursi dibawah pohon rindang. Tiba-tiba ada pasangan suami istri muda yang lewat, kebetulan sang istri sedang hamil. Melihat suami istri tersebut diam diam Hani tersenyum, pikiranya kini membayangkan kalau sepasang suami istri itu adalah dia dan Donghae. enatah bagaimana rasanya nanti, yang jelas sedari dulu dia memang suka melihat suami yang selalu perhatian pada istrinya.

 

Jam makan siang pun tiba, mereka memutuskan untuk makan siang disebuah restaurant yang menjual menu seafood. Mereka pun melewati makan siang tersebut dengan semestinya. Yah kali ini mereka benar-benar seperti pasangan normal lainya, mungkin ini juga disebabkan karena sebentar lagi mereka akan berpisah dalam waktu yang lama, karena itu mereka ingin memberikan kenangan yang indah untuk melewati hari ini.

 

Hari pun mulai sore sudah waktunya Donghae mencukur rambutnya dengan potongan rambut ala  tentara. Mereka pun masuk kesalon langganan Donghae. alat cukur itu memotong rambut Donghae perlahan-lahan, Hani yang duduk dikursi tunggu melihat proses tersebut lewat pantulan cermin. Wajahnya sangat serius mengamati bagaimana alat cukur itu memangkas habis rambut pria itu.

 

 

 

 

 

Donghae’s  pov

 

 

 

Rambutku selesai dicukur, eumm sedikit merasa aneh karena belum terbiasa. Tetapi mau bagaimana lagi, ini kan sebuah keharusan.

 

“Whoaa ternyata kau tetap tampan meski rambutmu seperti itu”  aku membalikkan tubuhku agar bisa berhadapan denganya. Hani menatapku dengan tatapan berbinar-binar,  terlihat sedikit berlebihan tetapi aku suka setiap menunjukkan ekspresi berlebihanya itu ketika menatapku.

 

“Tentu saja, aku ini memang tampan” aku hanya bisa tersenyum lebar kearahnya. Dia pun memberi hormat kepadaku, dan aku balas hormat kepadanya.

 

“Oppa, ayo beli ice cream” ucapnya manja sambil menunjukkan aegyonya. Ya ampun dia hari ini memang berbeda sekali dengan dia yang biasanya.

 

Seharian tangan kami saling menggenggam satu sama lainya. membiarkan jari-jariku bertautan dengan jari-jari lentik miliknya. Bahkan dia juga bersikap seperti gadis normal lainya. tetapi aku tidak merasa kalau semuanya itu dibuat-buat, semua terjadi begitu natural.

 

“Khaja” ucapku pada akhirnya, aku menariknya sehingga dia mengikuti langkahku ke toko ice cream.

 

 

 

***

 

 

 

Dan sekarang sampailah aku tepat didepan rumah Bibi Nari. Mengantarnya pulang mengingat hari mulai malam, kalau saja tugas kuliahnya sedang tidak menumpuk mungkin aku akan berlama-lama lagi denganya.

 

“Sampai jumpa besok” ucapnya sebelum keluar dari mobilku.

 

Membuka pintu mobil lalu turun, perlahan langkahnya menjauh dari mobilku. Aku memilih untuk melihat kepergianya dari dalam mobil. Karena jika aku turun kemauanku untuk memelukknya itu sangatlah besar. Lagi pula gadis itu selalu menolak pelukkanku. Kulihat langkahnya terhenti tepat didepan pintu pagar, sempat terdiam beberapa saat hinga akhirnya dia berlari kearah mobilku.

 

Dia menimbulkan kepalanya dijendela mobil yang terbuka “Oppa, apa aku boleh memelukmu?”. apa aku tidak salah dengar, dia meminta aku memeluknya. Bukankah biasanya dia yang selalu menolakku setiap aku ingin memeluknya.

 

Tanpa menjawab lagi, aku turun dan langsung memeluk tubuh mungilnya. Aku mengeratkan pelukkanku sedangkan dia bersandar dibahuku sambil membenamkan kepalanya disana.

 

“Peluk aku selama setengah jam” titahnya. “Tidak boleh terlepas, arra!!” ada apa dengan otaknya hari ini. apa pagi ini kepalanya itu terbentur benda keras sampai-sampai otaknya bergeser.

 

“Setengah jam? Biasanya kau selalu menolak pelukanku”  ledekku.

 

“Aishh cerewet, pelukkan ini sudah aku akumulasikan untuk 21 bulan kedepan” apa katanya akumulasikan.. ahaha ada-ada saja. mana ada pelukkan yang bisa di akumulasikan.

 

“Yak bagaimana bisa begitu” protesku

 

“Tentu saja bisa” jawabnya tak mau kalah

 

Kami melewati percakapan yang cukup menyenangkan selama kami berpelukkan. Kami bahkan tidak perduli dengan tatapan aneh orang-orang yang lewat didekat kami. benar-benar merasa dunia ini milik kami berdua.

 

“Sudah tiga puluh menit, sekarang lepaskan aku” dia mulai berusaha untuk terlepas dari pelukkanku, tetapi aku sengaja mengeratkan pelukkanku. Hehe siapa suruh memintaku memeluknya, aku tidak akan melepasnya sampai aku benar-benar mau melepasnya.

 

“Tidak mau, aku masih ingin memelukmu” jawabku acuh

 

“Yak.. op…pa… le…pas…kan… ak…ku…” Ahahaha baiklah seharusnya aku melepaskanya sekarang. “aish dasar kenapa kau senang sekali mencari kesempatan dalam kesempitan” omelnya

 

“Hei tunggu sebentar, hampir saja aku lupa” aku meraih tanganya dan memasukkan tanganya itu kedalam saku jasku.

 

“Kotak?” dia menatap bingung kotak itu

 

“Bukalah” dia pun membuka kotak pemberianku, senyuman pun mengembang diwajahnya.

 

“jam tangan” pekiknya riang. Gadis ini memang gemar memakai jam tangan. Akhir-akhir ini dia sering membujuk Nichan untuk membelikanya jam tangan seperti yang siwon punya.

 

“Ne, kau suka?”

 

“Sangaaaaat suka…” dia memasang jam tangan itu langsung ditangan kirinya

 

“Jam itu adalah jam pasangan, aku juga memakainya” aku menunjukkan jam tangan yang melingkar ditangan kiriku.

 

“Jinja??”  dia menyandingkan tangan kami berdua.

 

“Pakai itu, awas saja kau menghilangkanya. Aku harap dengan jam tangan itu selalu melingkar ditanganmu setiap waktu kau bisa mengingatku. Dan aku harap juga kau akan merasa kehadiranku, meski aku tidak ada didekatmu” ucapku panjang lebar

 

“Iya cerewet”  dasar gadis menyebalkan, jawaban macam apa itu. “Oppa aku masuk dulu”

 

“Kau tidak mau mengucapkan terima kasih karena aku telah memeberimu jam tangan” ucapku tepat Hani membalikkan badanya.

 

“Ahh iya, pantas sedari tadi aku merasa telah melupakan sesuatu. Gomawo Lee Dong Dong ku”  dia tersenyum cerah kearahku .

 

Aku pun mengangguk sambil melambaikan tanganku. Melihatnya yang mulai menjauh, aku pun memutuskan untuk kembali masuk kedalam mobilku.

 

“LEE DONGHAE…. AKU HARAP 21 BULAN KEDEPAN PERASAANMU PADAKU AKAN TETAP SAMA SEPERTI HARI INI” teriaknya sebelum dia benar-benar menghilang dari hadapanku. Bagaimana bisa dia kabur begitu saja setelah mengatakan hal itu.

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

CIEE CIEE PADA SENENG TUH FF INI GA JADI TAMAT DI PART 7 , BUAT KALIAN AKU KASIH BONUS SATU PART LAGI.. SENANG KAN KALIAN.. AHAI… AKU BAIK KAN IYA KAN… *maksa*

 

Oke sebenernya aku frustasi nulis ff ini. begini ceritanya, ide bikin part ini sebenernya mau bikin konflik Han-Hae sayangnya GAGAL PERMIRSAH *jedotinkepala*. Ini kenapa jadinya so sweet-so sweetan gini. Aishh nyebelin tau ga sih, padahal yang udah bagus-bagus berantem akhirnya malah begitu. Ampuuuunnnn deeeeeehhh….. Aku jadi merasa ga enak sama Siwon-Nichan yang bagianya makin dikit aja di part ini. ahaha mangap ya *sungkeman*

 

Wamil.. eumm ga tau kenapa dari sebelum mulai nulis part 1 udah kepikiran nulis donghaenya masuk wamil. Dan nulis adegan itu  ga segampang apa yang aku pikiran. Beneran deh tanganku gemeteran ngebayangin Donghae mau masuk wamil, bahkan aku hampir mewek.. huhuhu * mewek didada Donghae* buat endingnya tunggu aja ya, mudah-mudahan bisa publish dalam waktu dekat.

 

Aku rasa cukup, aku mau pamit dan menyelesaikan laporanku yang tertunda karena nulis ini hehehe. Ditunggu komenya yah. Maaf juga yah klo aku punya salah, atau ngebalas komen kalian suka lama.

 

Terima kasih

 

Hanny

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

25 comments on “(SHARE FF) Love Like Chocopreso (Part 7)

  1. Wamil??? Wahhh donghae bakal ninggalin hani, trz siwon gmn????
    Ne part edisi khusus hae-han y???? Part depan siwon and nichan ada ceritany jg dunkkkk buat nichan hamil chingu, d tgu sangatttttt part depan

    • iya wamil, aku udah lama ngebayangin klo dia wamil kyk gimana. aku masikin aja deh disini

      aku coba ya bikin adegan siwon nichan pas hamil.
      sebenernya aku udah bingung bikin bagian nichan siwon hehe tp demi kamu aku coba

    • hahaha dia gundul tapi mebawan kok
      tetep manis sama seksi tapinya jgn suruh dia berdiri di deket lampu taman ya, takut ketuker soalnya hehe *dibanting ke ranjang*

    • hahaha dia gundul tapi menawan kok
      tetep manis sama seksi tapinya jgn suruh dia berdiri di deket lampu taman ya, takut ketuker soalnya hehe *dibanting ke ranjang*

  2. hwa eonni gomawo ud mgbulkan requestq dg mgungkap yc tkoh2 dsini. .hehe

    ehm, , ni part romantis bgt lah, pggambaran ssok suamiq aka donghae oppa mkin myempurnakan imageny d hatiq. .hwahwaa, jd pgen pny suami dlm kisah yg nyata kya dy. .
    sing *Tuhan krimkanlah aq kekasih yg kayak donghae yg mcintai aq apa adax* wkwkwk

    cipokbasahdonghae. .

    • ktinggalan eon. .
      next part hae-ni partx ttp byk ya, q ud jd shipper mrka ni. .hehe
      q sk hub ky mrk tu, prtgkaran2 kcil tu justru yg jd bumbu manis sebuah hub. . kalo ky siwon-nichan,Sking trlalu rmantisx jstru trkesan datar, trlalu g realistis crtax. .just opinion c eon, mianhe

      • idih idih ngaku ngaku
        istri SAH DUNIA AKHIRAT LEE DONGHAE HANYA HANNY ANAKNYA BAPAK HADI SEORANG HAHAHA*pamer buku nikah*

        gpp kamu mau kritik apa juga aku terima
        aku juga yah udah bingung bikin mereka ngapain lagi di ff ini. makanya part ini bagian siwon nichanya dikit banget hehe

    • eciee udah ga sabar banget sih liat aku sama donghae nikah.. suwiwit.. hehee *dilepar galon*

      cie pasti baca bagian pelukkan jadi mupeng pengen meluk juga AHAYDE….

  3. waaa,…
    donghan couple semanis madu neh d part ini.
    hani yg sabar ya nungguin donghae plg wamil.

    hohohohoho,..
    gk jd tamat dpart ini ya?
    jd penasaran neh ma siwon nichan.hehehehe
    KEREN!!!

    • iya aku setia nunggu donghae oppaku sayang kok

      iya ga jadi tamat tp ga tau juga nulis lanjutanya kapan ahaha
      maaf lagi ga mood

      eaa keppo niye ama nichan ama siwon
      kasih tau ga ya???
      *tampol*
      nichan siwon baik baik aja mereka hidup bahagian pokoknya

    • cemburu itu salah satu bentuk dari pembuktian cinta kami berdua.. tsah..
      *nyender di badan donghae*

      disini kan haenya bukan anggota sj, lagian hari dimana dia wamil nanti juga bakal tiba kan. anggap aja ini latihan ngebayangin pas dia masuk wamil.

  4. lee dong dong masuk wamil
    iya jg sih mndingan wamil dulu daropada nikah dulu ma hanny trus anak nya lahir gak kenal ma bapaknya lee dong dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s