(SHARE FF) Love Like Chocopreso (Part 8)

llc

author : Hanny

21 Month’s Later

Siwon’s pov

Aku menuntun istriku yang tengah hamil besar, kami baru saja selesai memeriksa kandungan. Dokter mengatakan anak kami akan lahir tiga minggu lagi dan aku sudah tidak sabar menunggu hari itu datang. kami sudah menyiapkan segala sesuatu barang yang akan diperlukan buah hati kami. anak yang dikandung istriku ini nantinya akan menjadi cucu pertama dikeluarga kami masing-masing. Tentu saja semuanya sangat menantikan kehadiranya didunia ini.

“Oppa aku lelah ayo istirahat sebentar” pinta Nichan. Tanganya mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.

Dia menarik tanganku kearah kursi kosong yang letaknya tidak jauh dari kami. perlahan dia duduk dan menyenderkan tubuhnya pada kursi tersebut.

“Istirahat lagi” ucapku sepelan mungkin. Tetapi kelihatanya dia mendengar perkataanku karena pada saat itu juga raut wajahnya berubah.

“Kenapa?? Kau tidak suka kalau aku istirahat lagi” dengusnya kesal. “tinggalkan aku, aku bisa sendiri” dia membuang wajahnya kearah lain.

Sial seharusnya aku tidak mengeluh dan sekarang dia mulai ngambek . perasaan ibu hamil memang sangat sensitive, terkadang aku sendiri bingung menghadapi kemanjaanya yang bertambah berkali-klai lipat dan kesensitifanya yang keterlaluan itu.

“Bukan begitu maksudku, baby-ya” rajukku.

“Memang kau kira menjadi ibu hamil itu mudah” dia melanjutkan omelanya. “untuk berjalan saja aku merasa lelah, akibat bobot tubuhku yang naik cukup banyak”

Tanganku meraih pipinya,menggerakkanya perlahan membuatnya agar menatap kearahku. Tangan kananku menggenggam tanganya, sedangkan tangan kiriku merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Mianhae, baby-ya” aku mengecup bibirnya singkat tanpa memperdulikan orang yang sedang berlalu lalang disekitar kami. “Meskipun aku tidak bisa merasakan bagaimana rasanya hamil, tapi aku tau bagaimana rasanya tanpa kau menceritakanya. Melihatmu setiap harinya makin menyadarkan aku bahwa kalian kaum wanita adalah manusia hebat. Meskipun masa kehamilan itu menyiksa kalian, tetapi kalian akan melewatinya dengan perasaan senang dan penuh kasih sayang” aku tersenyum simpul sambil menatap matanya intens.

Tanganku bergerak pelan di perutnya yang sudah membesar itu secara teratur. Senyum mengembang diwajahnya diikuti matanya yang berubah menjadi berkaca kaca. “Wae?” tanyaku yang bingung melihat ekspresinya.

“Aniyo, ayo kita pergi”

Hani’s pov

Dua puluh satu bulan ternyata tidak selama yang aku bayangkan, meski pun begitu banyak yang terjadi selama dua puluh satu bulan ini. misalnya sekarang aku sudah berhasil mendapat gelar sarjana dan sekarang aku tengah berkerja di Korea Meteorological Andministration sambil mengambil kuliah jenjang S2.  Kedua orang tuaku sejak setahun yang lalu juga kembali lagi ke Korea dan sekarang kami tinggal satu atap seperti dulu.

Wohyun sekarang sudah masuk ke Sekolah dasar dan dia bilang kalau saat ini teman sekelasnya ada yang menyukainya. Ckckckckck anak kecil jaman sekarang masih sekolah dasar sudah pacaran, dulu waktu aku seumurannya aku sibuk meminta mainan robot-robotan pada ayahku. Sekarang  Café kami semakin ramai dan sekarang kami sudah membuka tiga cabang di Seoul.

Nichan unni sekarang sudah hamil tua dan sebentar lagi dia akan melahirkan. Kali ini dia benar-benar hamil sungguhan dan mereka berdua sangat bahagia menunggu kehadiran anak mereka lahir kedunia.  Bukan hanya mereka aku juga, karena artinya aku benar-benar akan punya keponakan. Bukan Nichan unni namanya yang selalu menyusahkan aku, buktinya dia berhasil membuatku dan Siwon oppa kelimpungan menuruti permintaanya ketika dia diketahui hamil.

Kevin oppa menghendel urusan Café karena aku dan Nichan unni saat ini benar-benar tidak bisa berkerja di café seperti dulu lagi. Hubunganku dan  Donghae oppa juga berjalan dengan baik, meskipun kami hanya bertemu sebulan sekali tetapi itu tidak mengubah perasaanku terhadapnya. Kami semua hidup bahagia, semuanya berjalan dengan semestinya meski tidak dipungkiri masalah kecil tetap  saja muncul, tetapi kami bisa melewatinya.

***

“Hahahaha unni kau semakin bundar saja” ejekku pada Nichan unni yang tengah hamil tua datang dengan suaminya yang tampan itu.

“Lihat saja jika kau hamil aku sumpahi agar kau lebih bundar dariku” sunggutnya kesal .

Perutnya membesar, pipinya semakin chubby, yang jelas dia benar-benar terlihat sangat bundar. Siwon oppa membantu istrinya itu duduk diatas kursi kerjanya. Yah hari ini kami memang berada dicafe untuk membicarakan tentang cabang café kami yang akan dibuka didaerah Busan.

“Hei ibu hamil tidak boleh marah-marah, memangnya kau mau anakmu nanti menjadi anak yang pemarah”  menunjukkan cengiran lebarku kearah mereka berdua membuat Siwon oppa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aish aku marah juga karena kau yang memulainya duluan” ujarnya tidak mau kalah.

“Sudah-sudah jangan bertengkar lagi” ucap Siwon oppa menengahi. “Aku mau ke toilet,  tidak apa-apa jika aku tinggal?”  Nichan unni hanya mengangguk dan pria itu meninggalkan kami berduaan diruangan ini.

Donghae’s pov

21 bulan ternyata tidak selama yang aku pikirkan sebelumnya. Seminggu lagi aku bahkan masa wajib militerku akan berakhir. Banyak yang aku banyak mendapat pelajaran tentang kehidupan disini dan tentu saja aku banyak mengintrospeksi diriku sendiri. Beginilah aku sekarang, Lee Donghae yang lebih bertanggung jawab dan tentunya lebih penyabar.

Seperti yang sudah direncanakan pernikahanku akan dilaksanakan dua minggu lagi.  pernikahan ini dipersiapkan oleh keluarga kami dan tentunya Nichan dan Siwon. Kenapa begitu, karena pengantin wanitanya sendiri masih belum tau kalau  pernikahanya akan diselenggarakan dua minggu lagi dan aku sendiri sampai saat ini masih berada dalam camp.

Pasti kalian bingung kenapa Hani tidak mengetahui tentang rencana pernikahan ini. semua ini adalah ide calon ayah mertuaku. Yah ternyata ayah mertuaku ini sama jahilnya dengan anak gadisnya. Aku kira dia adalah sosok yang serius, ternyata dia adalah ayah yang menyenangkan. Dia sering menjengukku dan memberikan dukungan untukku selama aku disini. Kami juga suka saling bertukar pikiran. Dia bahkan menyuruhku menganggapnya sebagai ayah kandungku sendiri.

Dia bahkan sudah menyiapkan rencana gila ini dengan sempurna mungkin. Aku awalnya memang kurang setuju dengan rencananya, tetapi setelah kupikir-pikir memberi kejutan baginya bukankah itu sangat menyenangkan. Calon ayah mertuaku itu memang hebat.  Semua mempersiapkan pernikahan kami secara diam-diam tanpa sepengetahuan Hani. Entah bagaimana nanti yang pasti aku sudah tidak sabar menunggu datangnya hari itu.

Aku mengatakan pada Hani bahwa aku akan menyelesaikan tugas militerku pada bulan depan. Jadi dia tidak akan tau bahwa sebenarnya aku akan keluar seminggu lagi.  Setelah aku keluar maka waktu seminggu itu aku gunakan untuk  membantu keluarga kami menyiapkan pernikahan kami berjalan dengan baik. Semoga saja rencana ini tidak ketahuan olehnya.

NIchan’s pov

Eum.. sekarang tinggal masalah gaun, aku harus meminta gadis itu memilih gaun yang akan dia gunakan nanti diacara pernikahanya. Tetapi bagaimana caranya, alasan apa yang harus aku gunakan untuk membujukknya agar Hani  mau memilih gaun-gaun itu. Apa lagi Lee Ahjushi  belum memberitahu gadis itu tentang pernikahanya yang tinggal kurang dari dua minggu  ini.

Aku tau bagaimana caranya, lebih baik aku menelpon gadis itu dan meminta dia datang ketempat temanku yang menjual gaun pengantin.  Untung saja aku punya teman disainer gaun pengantin, setidaknya aku punya alasan untuknya mencoba gaun-gaun itu.

***

Hani masuk kedalam toko dengan langkah terjuntai. Dia memang sedang sibuk dengan perkerjaanya ditambah kuliahnya setiap malamnya. Sebenarnya aku tidak tega melihat wajah lelahnya, tetapi yang aku lakukan ini juga untuknya.

“Kau sudah datang” gadis itu menghempaskan tubuhnya tepat disebelahku.

“Kapan kita akan mulai?” tanyanya tanpa basa basi.

Aku memang menyuruhnya datang kesini dengan alasan temanku membutuhkan seorang model untuk baju pengantin yang dia rancang. Yah seperti biasa gadis ini awalnya menolak, tetapi seperti kebiasaanya meski dia menolakku pada awalnya pada akhirnya dia tetap akan menuruti apa mauku. Kenapa bisa begitu aku pun tidak tau, aku juga bingung kenapa gadis itu selalu mengalah demi aku. Padahal umurnya itu lebih muda dariku.

“Sebentar lagi. minum ini” aku menyodorkan sebotol air mineral kepadanya. Gadis itu menenggaknya sekali tegus sampai air itu habis tidak tersisa. “Sudah berapa lama kau tidak minum”

“Kalau kau mengomentariku lagi. lebih baik aku pergi sekarang” ancamnya, baiklah lebih baik aku diam dari pada nanti dia malah semuanya nanti menjadi kacau.

Tidak lama temanku Seung ah datang menghampiri kami. aku sudah mengatakan pada Seung ah agar  berpura-pura mengatakan bahwa saat ini mereka memang membutuhkan model untuk pakaian yang dia rancang.

“Anyeonghaseo” seungah menyapa Hani, gadis itu pun langsung bangkit dari posisinya. “Park Seung ah imnida, kau yang akan menjadi model kami kan?”

“Ne, anyeonghaseo Lee Hani imnida” balasnya memperkenalkan diri. “Wanita bundar ini menyuruhku datang kesini dan memintaku menjadi modelmu” ucapnya sambil menunjukkan cengiran lebarnya. Dasar, bisa-bisanya dia meledekku  dalam keadaan sepeti ini.

Seung ah hanya terkekeh mendengar ucapan Hani, sedangkan aku langsung mencubit perut Hani karena gemas.

“Kalau begitu ayo ikuti aku” Hani pun mengikuti langkah seung ah dari belakang. Mereka pergi keruang ganti untuk mencoba beberapa gaun yang memang sudah aku pilihkan untuknya.

 

Author’s pov

Hari ini Donghae menyelesaikan tugas  militer, kakak dan ibunya pun menjemputnya dari camp. Air mata ibu pria itu tidak kuasa mengalir melihat anaknya telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.  Donghwa pun memberikan pelukkan hangat kepada adiknya yang dia sayangi itu. kemudian mereka pulang kerumah mereka.

“Hyung, bisakah kita ke kantor terlebih dahulu” pinta Donghae pada kakak satu-satunya itu.

Dia memang sudah rindu untuk kembali beraktifitas seperti dulu lagi.  selama ini yang menggantikan posisi Donghae selama dia tidak ada adalah Donghwa dan Sunggyu. Tidak seperti yang ditakutkanya, perusahaanya malah semakin berhasil.

“Eoma bagaimana ini, anak bungsumu rasanya sudah tidak sabar lagi berkerja dikantornya” ledek Donghwa yang saat ini tengah mengendarai mobil yang mereka tumpangi. “Tenang saja, aku tidak merubah apapun yang ada disana”  pria itu mengedipkan sebelah matanya kearah adiknya.

“Jinja?? Awas saja jika kau bohong” balasnya sembari terkekeh. “Bagaimana persiapan pernikahanku?”  tanyanya ketika tiba-tiba pikiranya teringat akan pernikahan yang akan terjadi seminggu lagi dia kan melepas masa lajangnya.

“Tenang saja, semuanya sudah beres” ibu pria itu mengangkat kedua jempolnya, membuat sang anak tersenyum lebar.

“Kira-kira apa Hani sudah tau tentang pernikahan kalian ya?” gumam Donghwa sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke stir mobil.

“Aniyo, Abeoji belum memberi kabar kepadaku” Donghae menggelengkan kepalanya, perasaanya kini menjadi sedikit gugup dengan rencana pernikahanya itu.

“Apa sebaiknya eoma saja yang memberitahunya?”

“Jangan, Aku rasa biar saja abeoji memberitahunya”

Siwon pov

Aku memang sedang mengerjakan beberapa pekerjaanku dirumah, tetapi perhatianku sedari tadi hanya terfokus pada istriku yang sedang asik melakukan kegiatanya. menyenderkan tubuhnya di sofa sambil berbicara dengan seseorang tentang persiapan pembukaaan café barunya, belum lagi ditambah dengan persiapan pernikahan Hani Donghae yang semakin dekat. Aku berkali-kali mengingatkan  kepadanya agar mengurangi beberapa kegiatanya, dia tetap melakukan kegiatannya dengan alasan karena dia akan merasa bosan jika terlalu banyak berdiam diri dirumah.

“Wae?” ujarnya setelah memutus sambungan telponnya dengan orang yang tadi diajak bicara itu.

Aku pun meletakkan kacamata minusku diatas meja kerjaku, meletakkan pulpen dan beberapa kertas yang kupegang tadi. Aku menikmati wajah istriku dari tempatku duduk, membuatku tersenyum. Meski saat ini bobot tubuhnya naik akibat mengandung anak kami, tetapi kencantikkannya tidak hilang sedikit pun.

“Kau mau mengataiku wanita bundar juga?” mendengan celotehnya membuatku terkekeh. Aku putuskan untuk mendekat kearahnya.

“Bagaimana pun rupamu, aku perasaanku tetap sama”  aku mengacak rambutnya, kemudian mengecup puncak kepalanya singkat. Aku duduk dan mengelus perut isriku yang membesar.

“eiyy…. Gombal” kekehnya sambil memukul lenganku pelan

“Sebentar lagi anak kita lahir, bagaimana perasaanmu?” aku menatap kearahnya dengan antusias. Dia meletakkan tangan di dagunya alisnya sedikit berkerut seolah-olah sedang berfikir.

“Tentu saja aku sangat gugup” akunya. “tetapi aku yakin aku bisa melewatinya dengan baik” ucapnya yakin.

“Eumm nyoya Choi ku kan wanita yang hebat. Lagi pula kan ada aku”  aku mengacungkan kedua jempolku kearahnya.

Istriku mengangguk riang, menyenderkan kepalanya dibahuku kemudian memainkan jari-jari milikku.

“Oppa ayo tidur, aku mengantuk” ucapnya sambil mengusap kedua matanya.

“Khaja”

Hani’s pov

Ada yang aneh sepertinya disini, kenapa aku merasa saat  ini orang-orang disekelilingku sedang sibuk merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Dan aku rasa aku adalah korban dari rencana mereka semua. Tapi apa yang mereka sembunyikan dari aku, tidak mungkin mereka menyiapkan kejutan untukku mengingat ulang tahunku masih satu bulan lagi. Atau mereka itu sedang merencanakan sebuah acara pernikahan?. Sebenarnya aku curiga ketika tiba-tiba wanita bundar itu  memintaku menjadi model baju pengantin dan menanyakan padaku mana gaun yang akan dipakai pernikahanku nanti. Ah tapi tidak mungkin itu terjadi kan, lagi pula bagaimana bisa mereka mempersiapkan semuanya tanpa sepengetahuanku.

“Nuna-ya, kau bilang mau menemaniku jalan-jalan, tetapi kenapa dari tadi kau malah sibuk melamun” Wohyun yang sedang menyantap ice creamnya disebelahku akhirnya bersuara juga.

“Melamun?? Siapa yang melamun” ucapku bohong. Anak itu malah memicingkan matanya menatap kearahku. Hei sejak kapan anak kecil ini bersikap seperti ini padaku.

“Aku bukan anak kecil lagi, kenapa kau membohongiku” ucapnya sok dewasa. Aigoo dia bilang bukan anak kecil lagi, tetapi kenapa dia masih memakan  ice cream hingga berantakan di sekitar bibirnya begitu.

“kalau sudah besar, kenapa kau makan ice cream hingga berantakan begini ” jawabku sambil membersikan sisa ice cream itu diwajahnya dengan tisu basah.

“Nuna juga suka makan berantakan sepertiku. Dulu aku bahkan sering melihat Donghae Hyung mengelap sisa makanan yang tersisa disekitar mulut nuna” jawabnya tidak mau kalah. Anak ini benar-benar jago berbicara sekarang.

“Aishh sudah habiskan ice cream mu” anak itu pun menyantab ice cream miliknya itu.

Akibat Wohyun menyebut nama pria itu, aku tia-tiba jadi rindu padanya. kira-kira apa yang sedang dia lakukan disana. apakah dia tidur dengan baik, makan dengan benar, apakah dia sehat. Aku memandangi jam tangan pemberiannya waktu itu membuatku tersenyum, mengingat kejadian malam itu. itu merupakan malam yang tidak terlupakan untukku.

Eum sebenarnya setiap momen yang aku lalui bersamanya merupakan momen istimewa bagiku. Aku bahkan masih mengingat bagaimana ketika kami berdua pertama kali bertemu. Memang itu bukan pertmuan yang manis seperti pasangan pada umumnya, ditambah lagi pertengkaran yang terjadi setelah kejadian itu. tetapi pertemuan itulah yang membuat kami menjadi serti sekarang, saling mencintai meski cara kami berbeda dengan pasangan lain yang selalu bersikap romantis.

Aku suka cara pria itu menatapku, aku juga suka ketika kami sedang beradu pendapat tentang hal yang sebenarnya tidak penting. Disaat dia panik dan cemburu disitulah aku tau betapa besar perasaan cintanya kepadaku. Terkadang  aku merasa tidak pantas untuknya, karena aku ini adalah gadis yang tidak bisa menunjukkan perasaan secara terang-terangan. Bahkan aku terkesan terlalu cuek, padahal sesungguhnya aku selalu memperhatikannya hanya saja aku tidak tau bagaimana caranya menunjukkan rasa perhatianku padanya.

Lee Donghae, pria pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta. Pria itu yang berhasil membuatku hampir gila karena pria itu berhasil berseliweran didalam otakku setiap jam, menit bahkan setiap detik. Dia juga lawan yang seimbang untuk aku ajak berdebat. Hanya pria aneh yang terang-terangan memintaku untuk menjadi calon istrinya.

Donghae’s pov

Aku menginjakkan kakiku lagi  ke café setelah sekian lama tidak datang kesini. Tidak ada yang berubah disini, hanya saja aku melihat beberapa pegawai baru disini. Yang aku dengar beberapa karyawan yang lama saat ini menjadi kepala cabang café yang baru.

“Donghae Hyung” sapa Kevin. Kemudian memelukku

“Kevin-ah, bagaimana keadaanmu?” tanyaku pada saat dia melepaskan pelukkanya.

Pria ini masih terlihat sama sepeti terakhir kali aku bertemu denganya. Masih tetap ramah, masih suka menebarkan senyumanya kepada semua orang yang bertemu denganya.

“Tentu saja baik, kau pasti datang untuk membicarakan pernikahanmu dengan Nichan dan Siwon hyung kan” aku hanya menganggukkan kepalaku. “mereka sudah menunggumu sedari tadi” lanjut Kevin

“Baiklah kalau begitu aku keatas dulu ya” pamitku pada Kevin. Kevin pun melanjutkan perkerjaanya sedangkan aku melangkah kakiku ke ruangan Siwon dan istrinya itu berada.

Ketika aku sampai  didepan ruangan terdengar sayup sayup suara mereka berdua yang sedang asik membicarakan sesuatu. Aku pun membuka pintu ruangan itu dengan sangat hati-hati. Aku memang sengaja tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Hei kalian sedang membicarakan aku ya?” ucapku setelah aku berhasil masuk. Mereka berdua kemudian mengarahkan pandanganya kearahku.

Siwon langsung menghampiriku kemudian memelukku “Hae-ya, akhirnya kau kembali” ucapnya sambil mengusap-ngusap punggungku.

“Tentu saja, jika aku tidak kembali siapa yang akan menikahi gadis aneh itu”  kataku dengan nada bercanda.

“Ckckckck kau dan dia sama saja. kalian tidak ada bedanya” Nichan yang tengah mengandung anaknya Siwon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika mendengar perkataanku tadi

“Chan-ah, kau makin bundar saja” ledekku, Siwon pun langsung menyikut perutku “Aww appo” ringisku sambil terkekeh. Nichan pun hanya memanyunkan bibirnya.

“Bisa-bisanya kau meledek istriku padahal dia sudah repot mengurusi pernikahan kalian” protesnya sebagai tanda bahwa dia sedang  membela istrinya.

“Kau tidak ingat, dulu kami juga yang sibuk mengurusi pernikahanmu waktu itu” balasku tidak  mau kalah.

Benarkan apa dugaanku dia tidak bisa membalas ucapanku tadi. Memang dia pikir mengurusi pernikahanya dulu itu adalah hal yang mudah. Aku bahkan selalu bertengkar dengan Hani ketika itu.

Author’s pov

Tuan Lee berniat memberitahukan tentang pernikahan pada putri kesayanganya itu. meski dia yakin kalau putrinya itu pasti akan menolak pernikahanya mentah-mentah.  Tetapi semuanya sudah terpikirkan olehnya agar anak satu-satunya itu mau menerima perjodohan ini. sore ini dia sengaja pulang lebih awal ke rumah, dia tau kalau anaknya itu akan pulang kerumah sebelum makan malam. Oleh karena itu dia memilih waktu setelah makan malam untuk memberitahukan pada anaknya itu.

“Aku pulang” Hani datang dengan langkah terjuntai memasuki rumah.

Dia mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang sudah tersedia dan melangkahkan kaki keruang keluarga dimana sang ayah sedang asik menonton berita ketika sang ibu sibuk meyiapkan makan malam di dapur.

“kau itu habis kerja, kenapa seperti orang mau mati saja” ledek ayahnya melihat wajah anak gadisnya yang kusut. Terlihat raut kelelahan diwajahnya.

“Astaga appa, tega sekali mengatakan kalau aku seperti orang yang mau mati” hani merenggangkan tubuhnya kekanan dan kiri setelah menggeletakkan tasnya dilantai .

“Habis memang begitu ekspresi wajahmu saat ini” kekeh sang ayah. Anak gadisnya hanya bisa memanyunkan bibirnya sedikit.

***

Setelah makan kebiasaan keluarga mereka adalah berkumpul untuk menceritakan apa saja yang mereka alami selama seharian melakukan kegiatan. Tidak ada rahasia yang disembunyikan diantara mereka, semuanya saling menceritakan apa yang mereka rasakan. Mereka pun sering bertukar pikiran, orang tua Hani adalah orang tuan yang demokratis. Mereka membolehkan anaknya menyuarakan pendapatnya sendiri.

Sejenak Tuan Lee menatap kearah istrinya yang memberi aba-aba kalau saat ini adalah saatnya memberitahukan soal rencana yang mereka buat ini.

“Hani-ya” panggil sang ayah pada anak gadisnya. Mendadak perasaan tidak enak menghinggapi perasaan Hani. “mungkin  ini adalah saat yang tepat untuk ayah memberitahukan semua ini padamu”

Hani hanya menelan ludah, seketika napasnya tercekat. Matanya menatap kearah orang tuanya bergantian. “Ada apa?” tanyanya hati-hati

“Sebenarnya kami sudah merencanakan pernikahanmu”

“MWO???” pekik  Hani. “Bagaimana …. Aishhh jinja” sontak matanya melebar dengan seketika. Aliran darahnya begitu deras mengaliri pembuluh darahnya.

Tidak pernah terpikir olehnya kalau apa yang dipikirkanya selama ini ternyata benar. Tubuhnya menegang, dia masih tidak percaya tentang apa yang didengarnya. Pernikahan??? Dia bahkan tidak pernah memikirkan seperti  itu sebelumnya.

“Dan pernikahanmu akan dilaksanakan dua hari lagi” sang ibu pun melanjutkan penjelasan sang ayah

Matanya terbelalak ketika mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan sang ibu. Dia tidak habis pikir kenapa dia diberitahukan sekarang. Dua hari sebelum pernikahanya.

“WHOAAA… MWOYA???!!!!!”pekiknya lagi dengan suara yang lebih keras. “YAK BAGAIMANA BISA…”  dia tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya itu.

Matanya hanya menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tajamnya. Tanganya kini mengepal, emosinya sebenarnya sudah mencapai tingkat atas. Hanya saja dia masih bisa mengendalikan dirinya untuk melakukan hal yang lebih dari membentak orang tuanya.

“Bisa saja” potong sang ayah dengan menunjukkan tampang seriusnya. Sebenarnya tuan Lee sedang menahan tawanya mati-matian melihat ekspresi anak gadisnya ini.

Bagaimana tidak baru kali ini sang ayah melihat ekspresi putrinya yang begitu shock. Ayahnya merasa senang melihat purinya yang jahil masuk dalam perangkapnya.

Kepala Hani tertunduk lemas, dunia seakan berputar cepat kepanya pun pusing. “Tapi bagaimana bisa kalian menyiapkan semuanya tanpa aku” kali ini nada bicara gadis itu melemah. “Siapa pria itu” tanyanya pada akhirnya, matanya kini menatap kearah sang ibu berharap semua apa yang didengarnya sekarang ini adalah lelucon dari sang ayah.

“Seseorang yang kau kenal” lanjut sang ibu. “Kami sudah mempersiapkan semuanya dan kau akan bertemu dengan calon suamimu ketika di altar nanti” kontras dengan ekspresinya dan sang ayah ibunya malah tersenyum riang kearah anak gadisnya.

Lagi-lagi gadis itu membelalakkan matanya. Bagaimana bisa dia tidak diberitahu tentang pria yang akan menikah denganya nanti. Kenapa sebelum mempersiapkan semua ini mereka tidak bertanya kepadanya terlebih dahulu. Rasa kecewa yang teramat besar kini dia rasakan. Dia merasa hidupnya dengan mudahnya dipermainkan seperti ini.

“Eomaaa” Hani mengacak rambutnya gusar, matanya menatap kearah eomanya yang masih tersenyum. ‘Sebegitu bahagianya kah ibunya akan pernikahanya yang akan dilaksanakan dua hari lagi’ ujar hani dalam hati.

“appa sudah menyebarkan undangan pernikahanmu dan kau tidak boleh menolak pernikahan yang telah kami persiapkan ini” ucap ayahnya tidak mau tau.

“SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK MAU DATANG KE ACARA PERNIKAHAN ITU!!!” tolaknya mentah mentah. “AKU BUKAN BONEKA YANG SEENAKNYA KALIAN BISA PERMAINKAN. MANA MUNGKIN AKU MAU MENIKAHI PRIA GILA PILIHAN KALIAN”  emosi itu kembali meledak, rasa marah menghinggapi dirinya.

“KALIAN  TAU KAN AKU BUKAN TIPE ANAK PENURUT, JANGAN HARAP MELIHATKU KEHADIRANKU DI ACARA PERNIKAHAN YANG KALIAN BUAT ITU. KENAPA KALIAN TIDAK MENGERTI PERASAANKU, KALIAN TAU KAN KALAU AKU MENCINTAI PRIA BERNAMA LEE DONGHAE ITU. DAN SAMPAI SAAT INI KAMI MASIH MENJALIN HUBUNGAN MESKI SEKARANG DIA MASIH MELAKSANAKAN WAJIB MILITERNYA . AKU MENCINTAINYA… SANGAT MENCINTAINYA….” Air mata itu pun akhirnya mengalir membasahi pipi mulusnya. Wajahnya kini terlihat putus asa, kepalanya merasakan sakit yang luar biasa.

“SEBELUM KALIAN MENYEBUTKU ANAK DURHAKA, LEBIH BAIK AKU MRENDEKLARASIKAN BAHWA SAAT INI ANAK KALIAN SATU-SATUNYA LEE HANI ADALAH ANAK DURHAKA” Hani menunjuk dadanya sendiri. sedangkan keua orang tuanya terpana akan tingkah anak gadisnya itu. mereka benar-benar yakin bahwa anaknya itu benar-benar sudah cinta mati pada calon menantu mereka.

Hani pun meraih tas yang sedari tadi  tergeletak begitu saja diatas lantai dan kunci mobilnya yang dia letakkan di laci yang memang disediakan untuk menaruh semua kunci dirumah ini, setelah kejadian ini dia berniat untuk meninggalkan rumahnya. Rumah yang dia tempati bersama orang tuanya, rumah yang menyimpan banyak kenangan bagi mereka. Nyonya Lee yang tersadar setelah sempat ikut terpana dengan kelakuan putrinya menyadari indikasi putrinya akan pergi dari rumah langsung menggoyangkan tubuh suaminya untuk melakukan rencana yang mereka susun jika anak gadisnya itu menolak pernikahan ini.

Tuan Lee menganggukkan kepalanya kemudian mengatur nafasnya dan ekspresinya sebelum melaksanakan aksinya. Nyonya Lee sedikit terkekeh melihat tingkah anak dan suaminya.

“YAK KAU!!!!!”  Hani terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan seruan ayahnya.

setelah melihat langkah anak gadisnya hampir sampai diambang  pintu tuan lee pun melanjutkan perkerjaanya.

“LEE HANIIIIII…… ARRGHHHHH” tuan lee pun melanjutkan aktingnya.  Bak aktor professional, dia berpura pura jatuh seraya memegangi dadanya seperti orang yang terkena serangan jantung.

“SUAMIKU….!!!! “ kali ini nyonya Lee memulai aktingnya bagaikan istri yang sedang melihat suaminya sakit jantung. Dia berteriak heboh dan tangisnya pun pecah. “HANI-YA, AYAHMU”

Ibu gadis itu berhasil meyakinkan sang anak dengan tangisanya yang keluar begitu saja. sebenarnya nyonya lee juga bingung kenapa dia bisa menangis seperti semua yang dilakukanya ini memang sungguhan bukan kebohongan semata.

Sang anak pun langsung menghampiri ayah dan ibunya. Wajahnya semakin panik melihat keadaan ayahnya yang seperti itu.

“APPA!!!!” dia mengguncang tubuh ayahnya. otaknya semakin kacau ketika melihat air mata sang ibu terus turun dan wajah sang ayah yang terus mengekpresikan rasa sakitnya.

“Ha… ni..” ucap tuan lee terbata untuk meyakinkan aktinya sebagai seseorang yang sedang terkena serangan jantung .

“Cukup appa.. cukup.. jangan bicara lagi” ucapnya diiringi isakkan

Donghae’s pov

From: Abeoji

B E R E S ! ! !

Aku terkekeh ketika mendapat pesan dari calon mertuaku, hei umurnya itu sudah hampir lima puluh tahun tetapi jiwanya tetap seperti anak muda. Aku sangat beruntung mempunyai mertua seperti itu, tidak ada rasa canggung diantara kami, yang ada rasa kenyamanan yang tercipta sehingga membuat hubungan kami menjadi satu.

Aku jadi penasaran bagaimana reaksi calon istriku yang aneh itu ketika ayahnya memberitahu tentang pernikahanya tanpa memberitahu siapa calon suaminya terlebih dahulu. Ingin aku menelpon untuk mendengar cerita langsung dari calon mertuaku itu. tetapi sepertinya waktunya tidak tepat, pasti saat ini gadisku ini sedang berada di dekat ayahnya. jika aku menelponya pasti semua akan sia-sia.

“Ya tuhan jangan membiarkan adikku ini menjadi gila sebelum hari pernikahanya tiba” ledek Donghwa hyung yang sedang menggendong anaknya yang masih bayi itu.

“Gila katamu??? Tcihh aku memang gila puas kau” perhatianku beralih pada keponakkanku yang sedang berusaha menarik-narik jam tangan ayahnya. “Ahhh jaehwa-ya, appamu sepertinya sudah pikun. Dia bahkan sudah lupa bagaimana dirinya ketika hari pernikahannya dan ibumu dulu semakin dekat” kakakku hanya terkekeh mendengar ucapanku.

Aku mengambil keponakanku dari ayahnya kemudian membiarkanya duduk dipangkuanku sambil memainkan boneka beruangnya.

“Kau sudah tidak sabar untuk malam pertama kan?” bisik kakakku.

Astaga sejak kapan kakakku manjadi semesum ini. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.

“Aigo hyung, aku tidak seyadong dirimu” astaga jadi  ternyata dia menikahi istrinya itu hanya karena sudah tidak tahan untuk melakukan itu.

“Tidak seyadong?? Tetap saja yadong” balasnya tidak terima. Aish menyebalkan dia malah tertawa penuh kemanangan. Terserah apa maunya sajalah, jika aku meladeninya apa bedanya aku denganya.

“Aish terserahmu saja. sudah sana jangan menggangguku yang sedang asik bermain dengan keponakkan kecilku” usirku. Dia memukul kepalaku membuatku meringis pelan.

“aku ini ayahnya, bagaimana bisa kau mengusirku menjauh darinya” protesnya.

“Ya tuhan, kenapa hyungku ini bodoh sekali” orang yang kusebut bodoh malah menunjukkan ekspresi bodohnya sekarang. “ Bukankah dengan aku menemani jaehwa kau punya waktu untuk bermesraan istrimu” lanjutku, cengiran lebarnya pun langsung mengembang seketika.

“Kenapa tidak terpikir olehku. aku titip Jaehwa, dia sudah minum susu. Pasti sebentar lagi dia tertidur” ujarnya sebelum benar-benar menghilang dari hadapanku dan jaehwa.

Benar apa yang dikatakan kakakku, keponakkanku Jaehwa mulai mengantuk. Sesekali dia menguap dan sukses membuatku terkekeh geli karena melihat betapa menggemaskanya keponakkanku ini. meski aku baru beberapa hari bertemu denganya, tetapi melihat keberadaanya di keluargaku membuatku senang. melihat dia mengantuk aku pun berniat untuk menggendongnya.

Aku membalikkan tubuhnya sehingga membuatnya berhadapan denganku dengan hati-hati, membiarkan kepalanya menyender didada bidangku. Aku bangkit dari posisiku yang sedari tadi duduk nyaman diatas sofa, kemudian menggerakkan tubuhku kekanan dan kekiri secara perlahan sambil menyanyikan lagu pengantar tidur untukknya. Tanganku sibuk mengelus punggung mungilnya sampai akhirnya dia tertidur pulas dalam dekapanku.

“Hae-ya” aku menoleh mendapati eomaku yang sepertinya sedari tadi memperhatikanku, senyumnya mengembang diwajahnya. Aku menempelkan jari telunjukku di bibirku, memberitahunya agar mengecilkan volume suaranya. Ibuku pun mengangguk, lalu aku menunjuk kearah kamarku memberi isyarat bahwa aku akan merebahkan keponakanku diatas tempat tidurku.

Hani’s pov

Setelah Dokter Ahn memeriksa keadaan Appa dan memberi obat untuk menghilangkan rasa sakitnya appaku pun tertidur. Keadaannya pun sudah lebih baik dari sebelumnya. Yang bisa aku lakukan hanya tertelungkup di atas ranjangku. Otakku pun memutar kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu.

Aku membenamkan kepalaku dibantalku, sudah empat jam air mataku tidak berhenti mengalir dan sekarang mataku benar-benar terasa sakit akibat tangisanku ini. Appa, apa dia benar baik-baik saja setelah serangan jantung yang dia terima akibat perlakuanku padanya tadi. Aku memang suka tidak menuruti apa maunya tetapi kali ini aku rasa kelakuanku memang benar-benar keterlaluan. Ini pertama kalinya aku melihat ayahku seperti ini, aku pun langsung merutuki perbuatanku tadi.

Aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku, aku tidak mau kehilangan ayahku. Tidak ada cara lain selain pasrah untuk mengikuti kemauan mereka untuk menuruti pernikahan yang telah mereka persiapan yang telah dilakukan jauh-jauh hari.

Dadaku merasa sakit ketika bayangan wajah pria bernama Lee Donghae itu muncul dipikiranku. Di satu sisi aku tidak mau berpisah denganya dan menikah dengan pria yang akan menjadi calon suamiku itu. tetapi aku juga tidak mungkin melawan kedua orang tuaku jika semuanya menyangkut nyawa ayahku sendiri.

Sakit yah sakit.. hatiku sangat sakit, aku tersiksa dengan perasaanku sendiri. ya tuhan apa yang ku pilih ini adalah jalan yang benar, apakah dengan begini semua orang akan bahagia. Apakah artinya mulai dari sekarang aku harus membiasakan perasaanku yang sebenarnya amat menyakitkan ini. oke aku harus berhenti menangis, aku mengusap kedua mataku yang membengkak.

“Lee Hani adalah gadis yang hebat, aku tidak boleh menangis… tidak boleh.. tidak hiks.. hikss…” mencoba untuk menjadi kuat seperti biasanya tetapi aku tidak mampu melakukanya, airmataku benar-benar mengaliir. Kali ini bahkan lebih deras  dari yang tadi, aku sengaja menggigit bantal untuk meredam isakkan tangisku. Baiklah kalau begitu, aku pikir tidak ada salahnya aku menangis sepuas puasnya malam ini dan aku berjanji tidak aka nada airmata lagi dikemudian hari.

Author’s pov

Ketika anak gadisnya sedang pergi kekantor untuk mengurusi beberapa perkerjaannya, calon suaminya datang berkunjung kerumahnya untuk menemui orang tua gadis itu atas permintaan calon ayah mertuanya itu. meski dengan pearasaan was-was  menginjakkan kaki dirumah itu, tetapi dia sampai disana dengan selamat tanpa ketahuan dari sang calon istri.

“Wah Menantuku sudah datang” sambut ibu dari gadis itu melihat pria yang besok resmi menjadi menantunya datang.

Pria itu seketika membuat seulas senyuman diwajah tampannya sembari membungkuk hormat kearah wanita itu.

“Ne~, Eomonim” Donghae lagi-lagi menatap kesekeliling seolah dia sedang bersembunyi dari polisi yang ingin menangkapnya.

Nyonya Lee melihat menantunya seperti itu langsung terkekeh dan memukul lengan pria itu pelan. “Dia tidak ada dan dia bilang akan pulang nanti setelah jam satu siang”  Donghae hanya menunjukkan cengiran lebarnya. “Ommo Menantuku lucu sekali”

“Kau sudah datang Donghae-ya” sapa pria paruh baya pada Donghae. menatap ramah kearah pria itu kemudian memeluk pria yang dicintai anaknya itu.

“Chagi-ya, harusnya kau melihat ekspresi menantumu ini ketika sedang memasuki rumah”  Tuan Lee hanya melempar pandangan penuh tanya pada istrinya. “Dia masuk kerumah ini seakan-akan bersembunyi dari polisi yang sedang ingin menangkapnya”

Nichan’s pov

Hani datang kerumahku dengan wajah kusut, matanya masih sedikit membengkak. Aku yakin paman telah memberitahu semuanya pada anaknya ini. Besok gadis dihadapanku ini akan menikah. adik kecil yang selalu menjahiliku meski begitu dia selalu mengalah demi aku, selalu melindungiku terkadang jika sikap dewasanya muncul maka sifatnya akan berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

“Unni-ya” dia memelukku kemudian tanganya beralih pada perutku.

“Wae??”  aku menatap wajah sendu itu yang tidak mau menatap kearahku. Aku sangat hafal dengan kebiasaan gadis ini. dia sangat gengsi menunjukkan wajah sedihnya dihadapan orang lain.

“Apa kau juga tau tentang pernikahanku besok?” pertanyaanya membuatku bingung bagaimana menjawabnya. Aku harus jujur atau membohonginya. Sempat terdiam sebentar untuk  berfikir, kemudian aku pun mencoba menjawab pertanyaanya

“Ne” jawabku pada akhirnya. Aku tidak mau lagi membohonginya, aku sudah tidak sangggup lagi menutupi semua ini darinya. “kau pasti menyadari kesibukkanku akhir-akhir ini kan. Yah sebenarnya aku yang mempersiapkan pernikahanmu. Bahkan kau juga sudah memilih gaun pengantinmu waktu itu” Wajah itu terlihat kecewa, aku mohon jangan memasang wajah yang seperti itu.

“Bagus, kalian semua membohongiku. Lee Hani kenapa kau ini bodoh” ucapnya sambil memukul kepalanya sendiri

Benar-benar terlihat menyedihkan, aku tidak tega. Tapi aku sangat hafal dengan sifat gadis ini yang paling benci dikasihani.

“Mianhae Hani-ya” ucaku sembari menggenggam tanganya. “Mianhae… mianhae” hanya itu yang bisa kuucapkan untuk menebus rasa bersalahku.

“Ini bukan salahmu, aku saja yang terlalu bodoh karena tidak menyadari semuanya” dia menghela napas berat , kemudian menyeka air matanya yang berhasih lolos dari pertahananya dengan wajah yang masih menunduk. “ini semua atas perintah appaku kan dan aku yakin appaku juga melarangnmu untuk memberitahu kepadaku siapa pria yang akan menikahiku nanti” ucapnya pasrah

“Hei jika kau mau menangis, menangislah sepuasnya dihadapanku” aku menyenggol bahunya pelan, membuat gadis itu buru-buru menyeka air matanya kemudian berusaha menunjukkan senyum cerah cerianya padaku.

“Siapa yang menangis” ucapnya sok tegar.

“Heh unni kira-kira apakah suamiku besok lebih keren dari Lee Donghae itu” ucapnya mencoba mengganti suasana. mendengar ucapanya membuatku terkekeh, seandainya saja dia tau kalau calon suaminya itu adalah pria yang dia cintai pasti dia tidak akan membuang air matanya dan tidak merasakan rasa sakit yang seperti ini.

“Lihat saja nanti” aku memutar kedua bola mataku sembari meledeknya.

“keponakkanku, aku harap jika kau lahir kau harus menuruni sifat appamu. Karena sifat ibumu itu begitu menyebalkan” dia mengelus perutku beraturan, aku hanya menyunggingkan senyumanku mendengar ocehanya itu. “Whoaa unni dia bergerak” ucapnya heboh setelah merasakan bayi yang didalam kandunganku ini bergerak.

“Kau benar-benar menerima semua ini?” tanyaku yang sedikit bingung kenapa gadis ini bisa begitu saja menerima semuanya kenyataan ini. Hani yang ku kenal adalah gadis yang akan menuruti hal seperti itu dengan mudahnya. Dia tidak akan melakukan semuanya tanpa ada alasan.

“Ne, aku pasrah menerima semua ini. aku tidak mau kehilangan appa karena melarikan diri dari pernikahan konyol yang kalian buat” ucapnya santai dengan nada suaranya yang biasa.

“Kehilangan appa?” tanyaku lagi untuk memastikan. Apa yang dilakukan ahjushi sampai-sampai anaknya berbicara seperti ini.

“Awalnya aku menentang keras pernikahan ini. saat aku ingin pergi melarikan diri dari rumah, belum sempat aku sampai di depan pintu dan membuka pintu tersebut kemudian pergi, ayahku terkena serangan jantung” matanya menerawang kesudut ruangan sepertinya dia sedang memikirkan kejadian semalam.

Aigoo jadi cara itu yang digunakan Lee ahjushi untuk membujuk anak gadisnya yang keras kepala ini. membayangkan kejadian yang dialami Hani semalam membuatku ingin terkekeh. Karena aku tidak kuat menahan kekehanku aku pun memalingkan wajahku kesamping.

“Lalu bagaimana dengan Donghae oppa??” aku kembali mengatur ekspresi wajahku, aku menatapnya menyelidik menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.

“Orang tuaku lebih penting dari pria itu, aku sudah rela jika dia membenciku sepanjang hidupnya. Karena aku memang pantas dibenci karena telah mengkhianatinya karena telah memilih untuk menikah dengan pria yang dipilihkan orang tuaku” meski terlihat tegar aku bisa melihat betapa sakitnya perasaan gadis dihadapanku ini. tenang saja Hani-ya, kau kan menikah dengan pria yang kau cintai. Bukan orang asing seperti yang kau pikirkan.

“Ahh unni cukup, kenapa kau selalu ingin tau tentang aku” protesnya. “aku tau kau itu sangat ngefans padaku tetapi biar begitu kau tidak boleh mngetahui semuanya tentangku kan” cengiran menyebalkannya itu muncul membuatku memukul kepalanya dengan bantalan sofa.

Autho’s pov

Setelah kedatangan Donghae akhirnya mereka duduk dengan santainya diteras belakang sambil menikmati hidangan yang dibuat Nyonya Lee. Tidak lupa mereka menceritakan bagaimana akting mereka saat membohongi anak mereka sendiri. Donghae hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya mendengar cerita calon mertuanya itu.

“Aku pulang…” suara Hani seketika membuat mereka panik, bagaimana gadis itu bisa pulang lebih cepat. “Eommaaa… appaaa…. Dimana kalian” teriaknya sambil mondar mandir menyusuri sudut setiap rumah mencari keberadaan orang tuanya.

Donghae panik mencari tempat untuk bersembunyi, dia memutuskan untuk bersembunyi diantara semak-semak. Sedangkan sepasang suami itu memasang senyuman yang dibuat buat ketika anak gadisnya menghampiri mereka.

“Eiyy mencurigakan” anaknya menatap kearah ayah ibunya bergantian sambil menyipitkan matanya.

“Mencurigakan apanya?” ujar ibunya yang sesungguhnya sedikit panik.

“Eumm kenapa ada tiga cangkir teh disini” tangan Hani mengangkat cangkir teh yang digunakan Donghae tadi , menghirupnya. “masih hangat, siapa yang datang?” tanyanya penasaran.

Sedangkan kedua orang tuanya sedang bingung mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaanya. Mereka hanya bertukar pandang saling melemparkan tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan anaknya itu. Donghae yang melihat gadisnya dari jauh hanya terkekeh sekaligus takut kalau persembunyiannya saat ini diketahui oleh gadis itu.

“Apa orang itu calon suamiku?” pertanyaan yang keluar dari mulut Hani sukses membuat mereka bertika menelan ludah.

Hani’s pov

Aku tersenyum miris melihat jam tangan pemberian pria itu sebelum masuk wajib militer. Seperti apa katanya sampai sekarang jam tangan itu selalu menemani hari-hariku. Aku pun merawat jam tangan ini dengan baik. Lagi-lagi bayangan pria itu muncul, membuatku merasa bersalah karena merasa telah mengkhianatinya. Besok aku akan menikah dengan seorang pria yang aku tidak ketahui, memang mereka bilang aku mengenalnya tetapi tetap saja mereka tidak bersedia untuk memberitahuku.

Entah apa yang dia katakan ketika selesai dari wajib militernya nanti dan melihatku sudah resmi sebegai istri orang lain. Membenciku itu pasti, aku menerima resiko untuk dibenci olehnya seumur hidupku. Meski aku yakin semua itu tidak mudah karena aku akan menanggung rasa sakit yang aku derita karena mengkhianatinya.

Waktu menunjukkan tepat jam dua pagi dan sampai sekarang aku tidak merasa mengantuk sedikit pun. Biasanya aku tidur tepat jam Sembilan malam, karena aku bukanlah tipe orang yang bisa tidur larut malam. Rasa gugup tentu saja menghantuiku, meski pernikahan ini akan terlaksana bukan dengan orang yang aku cintai. Tapi tidak bisa dipungkiri perasaanku sekarang seperti perasaan seorang gadis yang akan menikah pada umumnya. Apa lagi aku juga tidak tau rupa suamiku nanti.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar milik orang tuaku. Aku berniat untuk mengetuk pintu kamar mereka tetapi tepat disaat itu juga eoma membuka pintu kamarnya dan mendapatiku yang tengah berdiri didepan pintu.

“Eoma..” ucapku manja. Aku harus menikmati masa lajangku yang tinggal hitungan jam ini untuk bermanja-manjaan dengan orang tuaku.

“Wae?? Kau tidak bisa tidur?” ucapnya lembut, tanganya mengusap punggungku. Aku meletakan daguku tepat dipundaknya, meski itu membuatku sedikit menunduk karena badanku yang lebih tinggi darinya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku lemah, kemudian eoma menuntunku menuju tempat tidur. “Ayo tidur” appaku menepuk ruang kosong disebelahnya.

“Malam ini ayo kita tidur bertiga” ucap eomaku riang seperti biasanya. “Sudah lama sekali kan kita tidak tidur seperti ini”

Aku pun naik diatas ranjang yang ukuranya cukup untuk kami bertiga. Aku berbaring diantara kedua orang tuaku. Mereka menyelimutiku, ibuku sibuk membelai rambutku sedangkan ayahku lebih memilih untuk menyanyikan lagu pengantar tidur untukku meski aku cukup tua untuk dinyanyikan seperti itu. kenangan ini mengingatkanku akan masa kecilku, aku pun merasa nyaman diantara mereka sampai akhirnya terlelap tidur.

Auhtor’s pov

Tanggal 2 juni dipilih  sebagai hari pernikahan Hani dan Donghae. Hari  yang dinanti pun tiba, Donghae menatap bayangan dirinya di cermin. Pria itu menggunakan tuxedo hitam yang dengan kemeja putih didalamnya. Terlihat sangat gagah dan tentunya tampan. Dia mencoba menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman, rasa gugup tentu saja menghinggapinya. Bahkan dia tidak tidur semalaman ini karena memikirkan pernikahanya.

“Sudah biasa saja, kau tegang karena takut salah mengucap ikrar pernikahan atau kau tagang karena malam pertamamu?” melihat kemunculan kakaknya disertai cengiran tengilnya membuatnya melempar botol kosong yang berada didekatnya kearah kakak satu-satunya itu.

“Yak hyung ini masih pagi, kenapa otakmu sudah yadong begini” Donghwa menghampirinya dan memukul kepalan adiknya seenaknya. Baru saja dia ingin membalas jitakkan hyungnya  ibu mereka masuk.

“Hei sampai kapan kalian bertengkar, Hae-ya tidak lucu bukan jika sang pengantin pria datang terlambat keacara pernikahanya sendiri”  lerai ibu mereka, mereka pun mengikuti langkah ibu mereka dari belakang sambil membalas jitakkan satu sama lain tanpa sepengetahuanya.

***

“Cantik” puji sang ibu. wajah anak gadisnya yang biasa saja mendadak menjadi cemberut. Dari dulu gadis itu tidak suka jika dibilang cantik, “Wae??” tanya eomanya yang bingung dengan perubahan ekspresi wajah anak gadisnya.

“Kau sudah lupa, aku tidak suka dibilang cantik” protesku.

“Tapi kau benar benar cantik sayang” ibu gadis itu membelai wajah anak gadis yang baru aja selesai dirias.

Matanya tidak henti-hentinya mengamati putrinya yang sekarang ini bak bidadari. Gaun putih yang dipilih gadis itu memang sangat pas baginya, gadis itu terlihat cantik sama seperti yang ibunya katakan tadi. Perasaan senang sekaligus sedih menghinggapi perasaan Nyonya Lee. Hani memutar tubuh ibunya agar membelakanginya.

Anak gadisnya dengan manja memeluk tubuh mungil sang ibu dari belakang dan menempelkan dagunya di bahu eomanya. Hidungnya menghirup wangi aroma tubuh sang ibu yang menurutnya bisa menghilangkan rasa gugupnya serta memberi kenyamanan yang membuatnya merasa sangat tenang.

“Eoma bagaimana gaun yang aku pilih, aku pantas tidak memakainya?” gadis itu mencoba menghilangkan rasa gugup dan rasa sakit yang bercampur aduk pada dirinya sekarang ini.

“Eum tentu saja” ucap ibunya yang menepuk-nepuk tangan anak gadisnya yang melingkar di pinggangnya.

Sang ibu mendengar anaknya mendesah berat, dia merasa bersalah karena membohongi anaknya sendiri seperti ini. Tetapi semuanya ini memang sengaja dilakukan mengingat anaknya yang suka berbuat jahil. Bukankah sekali-sekali orang jahil seperti anaknya perlu dikerjai juga.

“Apakah calon suamiku itu sudah datang?”

“Dia sudah datang” eomanya berbalik menatap kearah putrinya “Kau tau. dia tampan sekali, bisa-bisa kau pingsan jika kau melihatnya nanti” gadis itu tertawa melihat reaksi eomanya yang selalu antusias dengan apa yang dia ceritakan.  “Kau tidak ingin melarikan diri kan?” tanya eomanya memastikan.

“Melarikan diri??? Jika aku akan melarikan diri untuk apa aku mau mereka dandaniku serta memakai gaun ini” ibunya terkekeh setelah mendengar ocehan sang anak.

“Kau sudah siap??” Siwon Muncul dari balik pintu, seperti biasanya pria itu selalu terlihat tampan.

“Tentu saja” hanya kata itu yang terucap dari mulut Hani, meski pada kenyataanya dia sama sekali tidak siap. Tidak siap menerima kenyataan bahwa dia akan menikah dalam waktu dekat, apa lagi sampai menit menit sebelum mengikrarkan janji dia belum tau siapa pria yang akan menikah denganya nanti.

Donghae’s pov

Aku berdiri di depan altar menunggu gadis yang aku cintai masuk kedalam ballroom tempat kami melaksanakan pernikahan. Semua tamu undangan duduk ditempatnya masing-masing untuk menyaksikan berlangsungnya pengucapan janji pernikahan yang akan kami ikrarkan beberapa menit kedepan.

Eoma, eomonim, hyungku berserta istrinya , tentu juga bibi nari dan keluarganya duduk di kursi barisan paling depan. Para pegawai café juga semuanya hadir Kevin datang bersama kekasihnya yang bernama kim jee in, Baro, Gonghcan,Dongho, jinyeong, sungjong, eunji dan eunri juga. Mereka sudah tidak sabar melihat Bosnya yang satu itu mengakhiri masa lajangnya.

Pintu besar itu pun akhirnya terbuka lebar, pantulan cahaya yang masuk membuat dirinya semakin bersinar. Gadisku masuk sambil menggandeng lengan ayahnya, kepalanya sedikit menunduk sembari memperhatikan langkahnya. Benar apa yang akan kudengar dari orang-orang kalau seorang gadis kecantikkanya akan bertambah berkali-kali lipat dihari pernikahanya.

Aku menatap gadis itu tanpa kedip, sampai pada akhirnya dia mengangkat kepalanya dan tatapan kami saling bertemu. Wajahnya terlihat kaget meski hanya beberapa saat  karena detik berikutnya gadis itu menyadari bahwa ratusan pasang mata kini menatap kearahnya. Gadis itu menoleh kearah ayahnya untuk memastikan apa yang dia lihat. Ayahnya pun hanya menatap kearahku sembari tersenyum ketika menganggukkan kepalanya.

“Anyeong” aku menunjukkan senyuman terbaikku ketika jaraknya semakin dekat denganku.

Gadis itu kini tepat berada didepanku, dia masih mentapku bingung. Ayahnya menyerahkan tangan anak gadisnya kepadaku dan saat itulah artinya sang ayah memindahkan tanggung jawabnya kepadaku, menjaga anaknya dan pastinya membuat anaknya itu hidup bahagia. Aku membungkukkan tubuhku sebelum aku menyambut tangan anak gadisnya itu.

aku menggenggam tangan Hani ringan, meremasnya pelan untuk menenangkan gadis itu. kami berbalik menghadap pendeta yang akan menikahkan kami .

Sebuah perjanjian serius di  hadapan Tuhan dan  tamu yang hadir. Semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.

“Ya, Saya bersedia…”

Kalimat itu kami ucapkan secara bergantian sebagai proses pengesahan hubungan kami berdua  menjadi suami istri.

Aku pun memasangkan cincin yang sudah disediakan ke jari manis tangan kiri istriku.  Lee Hani.. yah gadis aneh ini sudah resmi menjadi istriku sekarang.

 

Hani’s pov

Ciuman ahhh ciuman kenapa harus berciuman di depan umum seperti tadi. Sungguh memalukkan, apakah sebuah kewajiban bagi sepasang pengantin yang baru saja mengikrarkan janji pernikahan melakukan itu. apa lagi ditambah teriakan-teriakan dari orang terdekatku. Sialnya lagi pria itu benar benar menciumku sampai-sampai aku hampir terbawa suasana. untung saja aku bisa menghentikan diriku untuk memperdalam ciuman kami, padahal bisa saja kan dia hanya mengecup bibirku singkat.

Oke aku benar-benar merasa orang paling bodoh di dunia ini. semua orang membohongiku termasuk Lee Dong Dongku. Aisshhh bisa-bisanya dia bersekongkol dengan ayahku, sejak kapan mereka sedekat itu. padahal setahuku dulu ayah tidak terlalu menyukai Donghae Oppa. Meski senyum terus mengembang diwajahku ketika semua para undangan menyapaku tetapi tetap saja rasa kesalku pada mereka amat besar. Dadaku terasa sesak, ingin rasanya aku berteriak dan menendang mereka satu-persatu dari hadapanku.

Dan sekarang aku masih menunggu  mereka menjelaskan kebohongan ini padaku. Aku belum banyak mengobrol dengan Donghae oppa karena begitu banyak tamu yang datang. Eoma, Appa, Eomonim, Donghwa Oppa berserta istrinya dan Nichan dan suaminya, serta  L datang bersama sepupunya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sunggyu oppa  datang menghampiri kami. mereka hanya menunjukkan cengiran tanpa dosa, apa mereka tidak tau bagaimana perasaanku yang telah mereka bohongi.

“Chukae” ucap mereka serempak. Dan disaat itu juga tangisanku pecah

HUEEEEEEE….. HIKS HIKS..  tangisanku membuat mereka menatapku bingung. Yah aku sudah tidak tahan lagi menahan rasa kesal yang menderaku. Dadaku sudah terlalu sesak untuk menahan semuanya.

“Wae??” Donghae oppa mengelus-ngelus bahuku dengan wajah yang terlihat panik.

“Kalian.. hiks… hiks.. kalian.. jahat…” untung saja suasana saat ini tidak terlalu ramai. Ini memalukan, yah sangat memalukkan. Aku memang paling tidak suka  menangis di depan banyak orang tetapi mau bagaimana lagi, kali ini aku benar-benar kesal.  Yang membuatku makin kesal adalah mereka malah menertawakanku. “Yak kenapa kalian malah menertawaiku”

“Mianhae, bukankah orang jahil sekali-sekali juga perlu dijahili” ucap wanita bundar yang tengah menggandeng tangan suaminya yang tampan itu.

“Yak kau Lee Donghae, bisa-bisanya kau bersekongkol dengan mereka saat kau melaksanakan wajib militermu” aku memukul dadanya karena kesal.

“Yak kau mau menjadi janda dihari pernikahanmu, huh?” ledeknya diiringi senyuman polos anak berumur lima tahunya.

“Aigooo mereka mulai lagi” Siwon oppa hanya menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran kami.

Dan sekarang tatapanku mengarah kearah Appaku yang sedang memasang senyum seperti iklan pasta gigi itu. tcihh menjijikan aku tau semua ini adalah ide appaku.

“Hei kau mau marah pada appa?” tanyanya dengan wajah tanpa dosanya. “Harusnya kau berterima kasih pada appa. Bukankah kau senang karena pada akhirnya kau menikah dengan orang yang kau cintai”

“Benar juga” ceplosku. Dan lagi-lagi mereka menertawaiku. “tapi tetap saja kalian membohongiku” ujarku tidak terima.

“Ternyata kau memang sudah cinta mati padaku istriku” ucap Donghae oppa dengan penekanan di kata terakhir. Mendengarnya membuatku bergidik ngeri.

“Ya Tuhan kau sangat percaya diri suamiku” balasku tidak kalah sengit.

“Kalian ingin punya anak berapa?” ceplos Jaeyoung Unni, istri Donghwa oppa. Pertanyaanyanya itu membuat mata mereka menatap penuh tanya kearah kami.

“yak bisa kah kalian tidak menatapku seperti itu” ucapku salah tingkah, berbanding terbalik dengan ekspresi santai yang terlihat dari wajah Donghae oppa.

“Eiyy kami hanya mau tau” L ikut bersuara, aishh kenapa harus penasaran tentang hal seperti ini sih.

“Empat”ucapan Donghae oppa berhasil membuatku mengangga lebar sambil menatap kearahnya tak percaya. “Kalau bisa lebih dari empat”

“Whoaaa Donghae-ya memang kau sangka istrimu itu pabrik anak” pekik Siwon Oppa dan Donghwa Oppa bersamaan.

“Ya buat anak yang banyak… eoma ingin  punya banyak cucu” aku makin menganga lebar setelah mendengar ucapan eomaku.

“Ya benar, aku juga ingin punya banyak cucu” kali ini ibu memertuaku malah ikut membenarkan.

“Menantuku, kau sudah mempersiapkan staminamu untuk nanti malam kan?” apa-apaan ini, bagaimana bisa appaku menanyakan hal seperti itu didepan banyak orang

“APPA!!!!”

“Tentu saja” jawabnya dengan menunjukkan cengiran lebarnya.

“YAK HENTIKAN!!!” teriakku frustasi karena kelakuan orang-orang disekelilingku yang tidak waras ini.

“Hyung semangat untuk malam pertamamu. Fighting” dan sekarang asisten kesayangannya yang bermata segaris itu malah ikut-ikutan, sedangkan yang diberikan semangat hanya mengangguk.

Nichan’s pov

Astaga hari ini aku benar-benar  tidak bisa berhenti tertawa, berkali-kali aku memegangi perutku yang terasa sakit akibat dari terlalu banyak tertawa. Bagaimana tidak gadis jahil itu hari ini benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Melihatnya seperti itu aku sangat bahagia, betapa puasnya aku hari ini melihatnya tersiksa.

Dia akhirnya menikah dengan pria yang dia cintai, tentu saja itu membuat perasaanku menjadi lega. Setidaknya aku tau bahwa Donghae Oppa akan menjaganya dengan baik serta bisa membuat Hani bahagia. Untung saja Donghae Oppa mau menikahi gadis itu, mengingat gadis terlalu menakutkan bagi laki-laki karena sikapnya yang kelaki-lakian itu.

“Hei wanita bundar begitu puaskah dirimu memertawaiku hari ini” orang yang aku bicarakan itu muncul setelah mengganti gaun pengantinya.

“Yak kau mengganti bajumu” mataku hanya mentapanya yang kini memakai kaos dan celana jeans dan sepatu kets.

“ne, aku sudah tidak betah memakai gaun berat itu” ujarnya santai.

“Yak kenapa kau tidak memakai gaun yang eoma sediakan” eomanya datang dan menjewer anak gadisnya yang tidak menuruti apa maunya.

“Eoma apakah tidak cukup melihatku berpenampilan sebagai wanita normal tadi. Aku sudah muak dengan gaun-gaun itu” rengeknya.

Wanita normal ahaha berarti secara tidak sadar dia mengakui bahwa selama ini dia tidak normal. Aku mennutup mulutku yang tengah tersenyum ketika tatapan lasernya mengarah kerahku.

“Wae??” tanyaku untuk menanggapi tatapanya itu. dia tidak menjawabnya tetapi tatapanya kini mengarah pada eomanya dengan tatapan yang berbeda dengan yang diarahkan padaku. Yaitu menatap memelas kearah Eomanya,tcih seperti anak kecil saja.

“Terserah kau sajalah” akhirnya sang ibu menyerah meladeni anak gadisnya yang keras kepala. Cengiran lebar penuh kemenangan langsung terpancar diwajahnya.

“Ahahaha aku menang” ujarnya setelah sang ibu pergi.

“Donghae oppa, lihat kelakuan istrimu ini” aku menunjuk gadis yang berada disampingku disaat suaminya datang.

“Yak wanita bundar kau mau mengadu padanya, aku tidak perduli” dia menjulurkan lidahnya kearahku kemudian memasang wajah tidak perduli.

“Apa?? Menjahilimu. Bukan itu memang pekerjaan wajib baginya” aku menganga mendengar jawaban darinya. Suami istri sama saja. kedua orang itu tengah terkekeh setelah bersalaman sebelumnya.

“Aigoo kalian benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa memperlakukan ibu hamil seperti ini” omelku yang sedikit kesal atas ulah mereka.

“Menyebalkan.. ahh bukan sudah biasa kau menyebutku seperti itu” lagi-lagi cengiran itu terpancar diwajahnya.

“YAK LEE HANI….” Kalimatku terputus ketika aku merasakan sakit yang amat luat biasa di perutku.

Aku meremas gaun yang ku pakai untuk menahan rasa sakit yang aku rasakan. Memang kata dokter kandunganku sakit perut wajar terjadi jika waktu melahirkan sudah dekat. Tetapin yang kali ini rasanya beda dari yang biasanya.  Keringat dingin pun keluar dari tubuhku.

“Unni kau kenapa?” sayup-sayup kudengar suara Hani. Mereka menunjukkan ekspresi panik setelah melihat wajahku yang memucat

“Yak dia mau melahirkan ” ucap Donghae oppa panik .  “SIWON.. YAK CHOI SIWON ISTRIMU MAU MELAHIRKAN!!!” teriaknya “Aku ambil mobil dulu, kita bawa kerumah sakit”  pria itu langsung menghilang.

Semua orang yang masih berada disini pun akhirnya berkumpul mengelilingiku setelah mendengar teriakkan Donghae oppa tadi. Suamiku yang baru kembali dari toilet pun datang menghampiriku dengan raut wajah panik.

“Chan-ah” suara suamiku terdengar ditelingaku.

“Oppa.. sakit”

“Siwon oppa cepat bantu aku membawanya. Donghae oppa sudah menunggu diluar”.

 

Author’s pov

“Yak Lee Donghae hentikan mobilnya, biar aku yang menyetir” teriak Hani pada suaminya yang kini berada dikursi kemudi.

“Diam kau”

Hani merasa gemas dengan suaminya yang mempunyai kemampuan menyetir yang sedikit payah. Dia sudah tidak tahan untuk menggantikan posisi suaminya untuk mengemudikan mobil yang mereka tumpangi. Apalagi sejak tadi dia mendengar suara rintihan Nichan, dia tidak tega melihatnya merasakan sakit lebih lama lagi.

“Oppa… arghh” Nichan meremas lengan suaminya untuk mencurahkan sakit yang dia alami.

“Yak kau itu sudah hampir tiga kali mau menabrak. Kemampuan mengemudiku lebih baik daripada dirimu” omel Hani setelah lagi-lagi Donghae hampir saja menabrak mobil didepanya. Rasanya gadis itu sekarang ingin menendang keluar suaminya itu . sedengkan pria itu lebih memilih untuk tidak menghiraukan omelan istrinya itu.

Suasana didalam mobil cukup kacau, mungkin ini juga yang membuat Donghae tidak konsentrasi menyetir. Rintihan diiringi tangisan Nichan ditambah ekspresi wajah wanita itu yang sedang kesakitan, meremas, mencakar bahkan menjambak suaminya yang sedang berada disampingnya itu membuatnya memikirkan bagaimana kalau nanti dia berada diposisi Siwon saat ini.

“Yak ini bukan saatnya kalian bertengkar” lerai siwon yang sudah pusing dengan  pertengkaran dua pasangan yang baru resmi menjadi sepasang suami istri itu.

Stress melanda dirinya, Wajah tampan milik Choi Siwon terlihat kusut, khawatir dan panik. Pertama kalinya dia mengalami hal ini. Dokter memprediksikan bahwa kelahiran anaknya itu seminggu lagi, tetapi ternyata tuhan berkata lain.

“SAKIT…..” pria itu hanya bisa mengusap tubuh istrinya. Walaupun sebenarnya  rasa sakit juga dirasakanya  akibat cakaran, cengkraman dan jambakkan istrinya menderanya.

“Unni-ya, tarik nafasmu pelan-pelan kemudian hembuskan perlahan” gadis itu memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa melihat Unninya yang sedang kesakitan itu, sambil mempraktekkan apa yang dia katakan.

Nichan mengikuti instruksi dari Hani. Tunggu, bukan hanya Nichan tetapi dua pria di dalam mobil itu juga melakukan hal yang sama. Nichan terlihat lebih tenah sekarang, tetapi tanganya tetap saja meremas lengan milik suaminya itu.

“Tarik nafas hembuskan”

“Aku sudah tidak kuat lagi” teriak nichan.

“Yak kenapa kalian berdua juga ikut-ikutan” ujar Hani melihat dua pria yang megikuti  apa yang dia instruksikan pada Nichan. Mereka berdua hanya menunjukkan senyuman lebaranya.

“Hanya terbawa suasana” celetuk Donghae setelah memberhentikan mobilnya di depan rumah sakit.

“Ayo kita turun”

Siwon’s pov

Ruang bersalin, aku memutuskan untuk ikut masuk menemani istriku yang saat ini akan melahirkan anakku. Dokter dan beberapa suster sudah memulai perkerjaanya, sedangkan aku hanya bisa memberikan semangat pada istriku.  Suasana cukup menegangkan. bagaimana tidak, sekarang istriku berada antara hidup dan mati. Melihatnya begitu keras perjuanganya untuk melahirkan anak kami membuatku makin mencintainya.

“Engaaaaaaa” lima menit kemudian terdengar suara tangisan bayi kami memecah suasana ruang bersalin ini.

“Semalat tuan, bayi anda perempuan”

Air mataku keluar tanpa diperintah, melihat  darah dagingku lahir kedunia. Setelah suster membersihkan bayi mungil kami, suster meletakkan bayi kami tepat di dada ibunya.

“Oppa, ini anak kita” ucap Nichan lelah dengan airmata yang mengalir diwajahnya , meski begitu wajahnya terlihat sangat bahagia.

“Iya dia anak kita” aku menyentuh pipi milik anakku yang sekarang sedang tertidur diatas tubuh ibunya. “Cantiknya sama sepertimu, baby-ya” aku pun memotret istriku dengan bayi kami. aku yakin mereka yang sedang menunggu diluar juga tidak kalah gugupnya denganku.

“Kau mau menggendongnya?” aku hanya menganggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaanya.

Aku menatap bayi mungil kami lekat-lekat, membuatku lagi-lagi ingin menangis karena bahagia. Mulai dari sekarang dia mulai meramaikan rumah kami yang tadinya sepi.

 

Author’s pov

Dengan langkah terjuntai Hani masuk kedalam kamar mereka terlebih dahulu dan diikuti oleh Donghae dari belakang. mereka baru saja pulang dari rumah sakit,karena ikut menunggu proses kelahiran keponakan mereka yang lahir tepat dihari pernikahan mereka.

Tiba-tiba Hani mengingat sesuatu kebohongan-kebohongan yang direncanakan oleh ayahnya itu. dia juga ingin penasaran bagaimana bisa ayahnya yang dia tau tidak terlalu menyukai Donghae malah bersengkokol dengan pria itu.

“Tuan Lee, kau  masih berhutang sebuah penjelasan padaku”  gadis itu duduk di sofa yang tersedia didalam kamar.

Donghae tersenyum dalam hati mendengar pertanyaan yang dilayangkan pada dirinya itu. dia sudah tau pasti gadisnya itu akan menanyakan hal ini padanya.

“Penjelasan apa?” ucap Donghae pura-pura tidak mengerti. Matanya menatap lembut kearah istrinya yang terlihat cantik dengan kaos dan celana jeasnya.

Mendengar penjelasan Donghae sukses membuat bibir gadisnya mengerucut. Dan hal itu malah membuat istrinya itu terlihat menggemaskan. Dia sudah sangat rindu pada gadis yang berhasil dia nikahi hari ini. ingin sekali meraih gadis itu kedalam pelukkanya untuk melepaskan rasa rindu yang dideritanya.

“Aishh ayo ceritakan” dia menarik tangan suaminya itu sampai terduduk disampingnya.

“Baiklah”

 

Flash back

Donghae pov

Tiga hari disini aku memang sangat sibuk dengan pekerjaanku dan hari ini adalah hari terakhir ada dinegara ini. Sebelum aku pulang  aku memutuskan untuk datang kediaman orang tua Hani disini. Aku memang mendapat alamat mereka dari Bibi Nari dan aku juga memberitahunya apa maksud kedatanganku jauh-jauh kesini.

Taksi yang kunaiki berhenti di depan rumah bergaya eropa yang tampak asri. Sempat terdiam beberapa saat didepan rumah tersebut, mengatur perasaanku yang sekarang mulai gugup. maklum saja terakhir waktu aku bertemu dengan tuan Lee waktu itu dia terlihat tidak terlalu menyukaiku. sekarang aku jauh-jauh datang dari korea ke jerman hanya ingin bertemu denganya dan menyampaikan padanya tentang diriku yang akan memperistri anaknya itu. aku sudah siap tentang apa yang akian terjadi nantinya. apakah dia akan menerimaku dengan baik atau sebaiknya, aku akan menghargai apapun keputusan darinya.

Langkahku berhenti di depan pintu, rasa gugupku semakin menjadi. Kuulurkan tanganku kemudian menekan tombol bel.  Beberapa menit kemudian ada perempuan paruh baya   membuka pintu rumah, wajahnya tersenyum ramah kearahku.

“Ommo kau itu Lee Donghae kan?” sangat terlihat kalau wanita itu terlihat terkejut dengan kedatanganku. Sebelumnya aku memang sudah menghubungi tuan Lee kalau aku akan menemuinya hari ini.

“Ne, anyeonghaseo” aku membungkuk sopan kearahnya. Wanita itu langsung menyuruhku masuk kedalam rumahnya.

“Wah ternyata kau itu lebih tampan dari pada yang kulihat difoto” ucapnya riang. “Panggil aku eomonim, oke”

“Ne, eo..mo..nim” ucapku kaku.

“Kau mau minum apa?” aku duduk di balkon rumah ini yang langsung menghadap hamparan hijau yang dipenuhi bunga-bunga yang berada dihalaman belakang.

“Kau sudah datang” Tuan lee muncul, aku pun bangkit dan membungkuk kearahnya. “Aku tidak suka basa-basi, cepat katakan apa maksud kedatanganmu kesini”

Sifanya yang tidak suka basa basi itu sangat mirip dengan anaknya. Pria itu duduk dihadapanku, ketika Nyonya lee pergi untuk mengambil minum. Aku menghirup napasku dalam-dalam kemudian menghembuskanya, mencoba untuk bersikap tenang.

“Aku ingin menikahi anak anda” oke aku berhasil mengatakanya. Aku menatap pria  paruh baya dihadapanku dengan tatapan yakin.

“Menikahi anakku?? atas dasar apa kau mau menikahi anakku?” dia masih terlihat tenang, sepertinya dia sudah tau bahwa aku datang kesini untuk mengatakan ini.

“karena aku yakin bahwa dia adalah  gadis yang diciptakan tuhan untukku. Aku mencintainya dan aku juga menyayanginya” ucapku yakin

“Kau pikir hanya kau mencintai dan menyayanginya kau bisa menjadikan alasan itu untuk menikahinya?”   matanya menatapku intens sepertinya dia benar-benar sedang membuktikan betapa seriusnya aku.

“Tentu saja tidak, bukan hanya itu. saat aku bertemu denganya dia telah merubah hidupku, dia membawa pengaruh besar padaku. Aku bahkan hampir gila jika tidak mendengar kabar tentangnya meski hanya sehari. Anakmu berhasil membuatku tidak waras, berhasil membuatku jatuh cinta padanya tanpa susah payah menarik perhatianku. Dan yang pasti membuatku merasa yakin menghabiskan hidup denganya, membangun rumah tangga yang bahagia, menjaganya meski harus mempertaruhkan nyawaku sendiri, memberinya kebahagiaan yang tidak terhingga dan tentu saja memberikan keturunan untuk kalian”

“Aku tau kau memang tidak terlalu suka denganku, aku menyadarinya waktu kau datang waktu itu. tapi aku tau bagaimana perasaanmu. Mungkin aku juga akan seperti itu jika aku mempunyai anak perempuan nanti. Dia adalah anakmu satu-satunya dan kau sangat menyayanginya. Kalian tinggal terpisah dan kau juga tidak bisa menemani anak gadismu tumbuh menjadi gadis dewasa. Ada kekhawatiran dari dirimu bahwa jika anakmu menyukai seorang pria maka perhatiannya akan berkurang padamu. Tapi anakmu itu berbeda, dia itu sangat sayang pada orang tuanya dan kasih sayangnya pada orang tuanya dan kepadaku adalah kasih sayang yang berbeda. Jangan takut untuk kehilangan perhatian darinya, karena aku juga tidak akan membiarkan rasa perhatianya pada kalian berkurang sedikit pun”

Setelah mendengar penjelasanku, pria dihadapanku ini hanya diam sejenak. Entahlah apa yang dia pikirkan sekarang. Aku sudah merasa lega mengatakan apa yang ingin aku katakan. Meski dilanda rasa gugup tetapi aku bisa mengatakanya dengan lancar dan aku tidak main-main dengan ucapanku ini.

“Baiklah aku ijinkan kau menikahi anakku” senyum tersungging diwajahnya. “Tetapi ada  syaratnya” tatapan yang tersirat itu membuatku bingung mengartikanya

“Syarat?” aku mengulang perkataanya, mataku masih menatapnya intens

“Kau baru  boleh menikahinya 2 tahun lagi setelah kau keluar dari wamil dan dia lulus dari kuliahnya”  dari ucapanya dia sedang tidak main-main. “Aku hanya tidak mau jika kau menikahi anakku sebelum kau pergi wamil, yang aku takutkan adalah kau meninggalkanya dalam keadaan hamil. Kau tidak mau kan meninggalkan istrimu yang sedang hamil dan membiarkan dia melewati masa kehamilan tanpa dirimu”

Flash back end

“Whoaaa kenapa kau tidak menceritakanya padaku sejak dulu” protesnya.

“Kenapa kau protes, terserah diriku mau memberitahumu atau tidak” ujarku tidak mau kalah. Sebenarnya aku hanya menggodanya. Karena menggoda gadis ini benar-benar membuatku bahagia tidak terkira.

“Kau menyebalkan”

“Biar pun aku menyebalkan tapi kau mencintaiku kan” godaku lagi.

“Iya ya ya aku  memang mencintaimu, kau puas. Tapi aku tidak tau apa kau punya rasa yang sama sepertiku atau tidak” dia menggembungkan pipinya, melihat ekspresinya seperti itu membuatku ingin memberi kecupan singkat di bibir mungilnya.

“Apa dengan aku menikahimu kau masih tidak percaya kalau aku mencintaimu” aku mengecup bibirnya singkat. Dan seketika itu dia terlonjak dari posisinya dan berlari kearah tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. “Kau kenapa?” tanyaku yang bingung melihat reaksinya.

“Aku malu, kenapa kau masih bertanya” ucapnya dibalik selimut. Ini yang paling aku suka darinya, dia terlalu polos.

“Hei kau jangan tidur dulu” aku pun berlari kemudian meloncat keatas tempat tidur dan berhasil mendarat disampingnya.

Dia masih tidak bergerak sedikitpun, aku sengaja menaruh tanganku tepas diatas tubuhnya.

“Yak oppa berat, aku sudah mengantuk. Kenapa aku tidak boleh tidur” akhirnya dia menyingkap selimut yang sedari tadi menyelimuti tubuhnya.

“Kita masih punya perkerjaan yang harus dilakukan malam ini” bisikku tepat ditelinga.

Dia masih menatapku bingung, kemudian beberapa detik berikutnya dia malah memmeunggungiku dan merebahkan tubuhnya. Aku pun mengusap bagian pinggangnya dan membuatnya berbalik dan melayangkan tatapan kesalnya kearahku.

“yak oppa apa maumu”

“Kita kan harus melakukan sebuah perkerjaan baru malam ini dan aku yakin kau akan menikmatinya” raut wajahnya kini berubah sepertinya sedang mencerna perkataan yang baru aku lontarkan dari mulutku.

 

Hani’s pov

“Malam pertama maksudmu” ucapku dengan suara yang sangat pelan. Mataku  melebar seketika setelah mengerti apa yang dimaksud Donghae oppa “Astaga….. jadi maksudnya itu.. malam pertama, aishh kenapa tidak terpikirkan olehku. Eomaaaa.. aku harus bagaimana”.  Ucapku heboh lagi-lagi dia hanya terkekeh lihat tingkah bodoh ku.

Aku melompat dari tempat tidur dan memilih berdiri agak jauh dari ranjang.

“Astaga istriku ini begitu polos bagaimana kau tidak memikirkan hal sepenting ini”  ledeknya. “Kau sudah siap belum, kita harus mempunyai paling sedikit empat anak ” ucapnya santai

Aku hanya mengaga lebar dan salah tingkah. Aku  sedang menimbang-nimbang apa yang dia katakan tadi soal malam pertama. Tanganku  meremas kaos yang ku pakai, kemudian menatap kearahnya  dan dibalas dengan tatapan yang aku tidak mengerti apa maksudnya.

“Wae??”

Aku  menelan ludahku sesaat sebelum mengucapkan apa yang ingin ku katakan “ tapi… aku.. eungg.. tidak tau harus bagaimana melakukan itu”  ujarku malu-malu.

Lee Hani bodoh, bagaimana bisa aku mengatakan hal itu. kenapa.. kenapaa.. aishh aku mulai frustasi akan sikap polosku yang terkadang membuatku terlihat bodoh.

“Kita kan mengawalinya dengan berciuman, kemudian memperdalamnya, melucuti….” Ucapanya terhenti karena teriakku.

“STOOPPPPP… CUKUP JANGAN LANJUTKAN” aku menutup kedua telinga dan mataku. Aku menggelengkan kepala kekanan dan kekiri. “jangan mengatakan apa yang akan kita lakukan. Itu menjijikan”

“Kau bilang tidak tau”

“tetapi kalau kau menjelaskanya itu menjijikan, langsung lakukan saja” Bodoh… kenapa.. ahh mulut ku ini mengucapkan kalimat seperti tadi.

“Kau sudah siap??” dengan mata terperjam aku mengangguk ringan. “Mari kita mulai”

Donghae oppa berjalan mendekatiku perlahan lahan, tidak perlu waktu yang lama sampai dia berdiri dihadapanku. Aku pun mundur beberapa langkah sampai-sampai tubuhku membentur tembok, dia pun sengaja mendekat kearahku. Aku yakin seratus persen wajahku memerah sekarang, ya tuhan apa begini nafsu seorang lelaki dimalam pertamanya.

Dia  menundukkan kepalanya berusaha menjangkau bibirku, sedikit demi sedikit membunuh jarak diantara kami. aku bahkan bisa merasakan hembuskan nafasnya, ini benar-benar seperti apa yang aku tonton difilm-film. Tubuhku mematung ketika bibirnya mulai melumat bibirku, dia melakukanya sangat pelan-pelan. Jujur aku sendiri merasa geli dengan apa yang dilakukanya, tetapi rasa geli yang sangat menyenangkan itu membuatku gila. lama-kelamaan lumatannya yang tadinya lembut seakan menuntut, dia pun menjadi lebih liar ketika lidahnya berhasil menelusup kedalam mulutku.

Oke oke ciumanya membuatku lepas kendali, aku bahkan sudah tidak menahan diri  untuk membalas lumatanya tersebut. kami pun cukup menggila melakukan semua ini, sesekali berhenti untuk memenuhi oksigen diparu paru kami kemudian melanjutkan ciuman ini. tangan kekarnya berada dipinggangku dan yang satunya lagi berada ditengkukku, sedangkan tanganku yang sedari tadi berada didadanya beralih kerambut hitamnya dan mebiarkan membenamkan jari-jariku disana.

“Siap melanjutkan semua ini” aishh apa dia tidak tau kalau aku ini sedang malu. Bagaimana dia bertanya seperti itu, jelas-jelas dia sudah membuatku dalam keadaan seperti ini.

“Aishh oppa kenapa kau malah menanyakannya sih, aku malu tau. Lagi pula jika aku tidak mau  untuk apa aku pasrah kau buat seperti ini” ujarku penuh emosi, aku baru saja mau melanjutkan omelanku tetapi dia malah melanjutkan perkerjaanya itu. pintar sekali membuat nafsu marah-marahku hilang dengan cara ini dan tentu saja aku hanya bisa pasrah dengan apa yang dia lakukan padaku.

“Baiklah, aku akan membuatmu merasa kelelahan malam ini istriku”

~The End~

 

Hai semuanya… *cengengesan* maaf ya publishnya ngaret. aku ga nepatin janji aku buat publish secepatnya *sungkeman* .  mau maafin aku kan ya.. ya kan.. pastinya dong. mau ngomel atau mau marah keaku silahkan, paling Cuma aku biarin ahaha.

Akhirnya ff ini tamat juga ya permirsah. Mau aku certain ga bagaimana perjuangan aku nulis ini ff. sungguh biasa sekali ga ada istimewa-istimewanya ahahaha jadi ga usah didengerin aja. Eh tapi dengerin aja deh dari pada pada keppo #apadeh.

Aku nulis part terakhir itu kan lagi banyak tugas ya maklum waktu itu mau uas jadi dosen aku pada seneng tuh nyiksa mahasiswanya ama tugas akhir. Trus karena aku kalau nulis suka ga urut jadi  aku nulis dikit pas adegan ranjang duluan,  gara-gara otak aku lagi kacau banget tuh maklum efek kebanyakan gaul ama Lee Hyukjae (maaf bang kunyuk soal yadong menyadong dirimu selalu disalahkan).  Abis itu mau lanjut lagi eh malah moodnya ilang, ditambah uas hampir dua minggu. Alhasil ga sesuai sama apa yang aku janjiin deh.

Pasti pada kecewa ama part terakhir ini ya, aku juga kurang memuaskan. Maaf buat di part sebelumnya yang pada kecewa karena Nichan Siwonnya Cuma dikit, di sini juga. Abis aku bingung mau diapain lagi mereka berdua, soalnya hidupnya bahagia. Aku udah bikin adegan nichan hamil meski keliatan banget maksain ahaha.  Sumpah kacau banget deh nih jadinya ga sesuai dengan yang aku harapkan.

Nah ini nih tinggal ngomongin Hani Donghae. sumpah gaje banget deh,  kenapa juga aku nulis kayak begini. Kenapa pake bohong sana sini. Apa lagi pas orang tuanya Hani berakting didepan anaknya, apa yang sebenernya aku pikirkan ketika nulis itu, entahlah hanya Tuhan yang tau jawabanya.

Tapi ya apakah kalian puas? Kasih tau aku ya pokoknya. Aku ga bakal bikil sequelnya, jadi apa yang kalian pendam selama baca Love Like Chocopresso ini dari part pertama sampe akhir silahkan kalian utarakan kepadaku. Dengan senang hati aku akan membacanya.

Tapi aku yakin deh kalian pada protes soal adegan ranjang dan aku rela kalian apain demi adegan itu. tadinya aku udah niat ga mau nulis adegan ranjang bahkan ciuman di part terakhir ini. tetapi setelah dipertimbangkan kalau ga dimasukin salah satu dari adegan itu bakal hampa. Apa lagi ini kan ceritanya Hani ama Donghaenya udah nikah.

 seperti apa yang udah aku bilang tadi, sebenarnya aku udah bikin adegan ranjang. Terus aku kirim ketemen aku minta pendapat soal adegan itu. eh dia bilang itu ratenya cukup tinggi, akhirnya hanya ini yang aku tulis deh. Abis beban kalau nulis adegan begitu. Ga dimasukin bakal hampa di tulis merasa berdosa karena aku merasa membuat kalian tidak suci lagi. abis biasannya yang udah-udah kalian baca adengan nc trus yadong akunya yang disalahin hehe

udah ah, kepanjangan nih curhatnya. Cukup sampai disini aja. aku minta maaf klo aku punya salah sama kalian, kalau tulisanya kurang memuaskan, akunya juga suka ingkar janji pokoknya aku minta maaf. Mungkin karena aku mulai liburan doain aja supaya aku bisa nulis ff baru buat kalian baca hehe.

Terima Kasih untuk segalanya. Jangan kangen ya ama bininya donghae yang kece ini.

Bye~

Hanny

 

Advertisements

37 comments on “(SHARE FF) Love Like Chocopreso (Part 8)

  1. ya ampun donghae sama appanya hani sekongkol ngerjain hani hahaha
    hani cinta mati bgt ya sama donghae sampe nangis gt gara2 dikira bakal dinikahin sama cwo lain
    ya ampun hani polos bgt sih lah si donghae napsuan wkwk
    tp emang adegan ranjangnya biasa aja harusnya dksh pg-17(?) #plak
    end?? endingnya kurang greget
    after story dong thor ya ya ya *puppy eyes*

    • hahaha sengaja adegan ranjangnya dibikin kayak gini. abis yang sebenarnya parah, jadi ga berani ngepublishnya

      makasih ya udah rela baca ff ini hehe ^^

  2. wah,…
    mertua ma menantu kompak bgt yak???hahahahahaha,…
    kasian bgt tuh Hani.untung gk nekat minum racun kyk julliet.
    kerenlah pokoknya neh ff.gk sia2 nunggu lama. (y)

  3. OMMO…!!!!!
    DAEBAK…,!!!!
    😀

    aku bukan yg pertama..
    😦
    eonni kau cocok sebagai PENULIS..
    eonni lebih baik kau jual sja ni ff ke sutradara, ceritanya keren ABIEZZ….
    daebak untuk eonni author..
    DAEBAK..
    #triak bareng SUJU oppadeul

    • yah sayang sekali hehe

      penulis amatir kayak aku yakin tulisanya belom dibaca langsung ditolak hehehe
      terima kasih udah baca ^^

  4. astagaaa jail parahh appanya hani ya Allahhh , ga heran hani juga jailnya ehemm bgt -_-
    itu hani sampe segitunya nangisnyaaa kan kesiaaaannn unn T…T
    epilog ! Epilog ! Epilog ! *demo depan rumah unnie*
    great FF unnie , dari awaaal sampe akhir hohoho boleh lah bikin FF lain hihii 😀

  5. huaaaaaa
    romantisnya
    wkwkwkwkwkwkwkwkwkk acting yg bikin hani copot tuh jantungnya
    klo punya bapak kaya gitu gimana ya
    hhahhaaha
    apalagi pas adegan nichan lahiran…tarik nafas…buang nafasssss
    wkwkwkwkwk

  6. Ahh ya ampun bener* d’luar pikiran ak , ak pikir akn ngebahas cz wanil oppa ternytaa cz penikahan diam* eitss salah pernikahan yg d’rahasiakan hehehhehe

    Bener* so sweet hahah wanita bundar , gadis jail yg d’jailin bener* d’luar pikiran aku

  7. hahahaha
    emang ya ni couple ga ada matinya.
    Kocak.
    Pantes aja hani begitu orang emak babe nya juga sama gilanya.
    Itu bagian si ayah sok kena serangan jantung lucu bgt.
    Nah itu yang terakhir nanggung banget.. Hahaha ketauan yadong deh

  8. HAHAHAHA lucu bgt ada gitu ya mau nikah tapi rahasia2an gitu wkwkwkwkw donghae-hani jjaaaaanggg
    semoga nanti ada cerita buat donghae sama hani nya punya anak he he he

  9. hwaa, gmawo eon. .
    untk pertma kalix sejak LLC publish, cm d part ni q sk siwon-nichan part. .
    ehm, soalx nichanx lg hmil c, jd wjar kalo manjax aga over dikit. .
    trz, sumffeh, q nepsong bgt ma kisah cintax hani-hae. .
    doain q nemu jdoh yg ginian y eon. .wkwk
    endingx jg bgus eon, PAS. .krn kalo d trusin sptx bkal d protec, n krn q ga tw fb authorx, q jmin pzti bkal ribet. .hehe
    *bgi almt fbx donk eon*

    ehm, d part ni byk bgt typox eon, n pngulangan kata ga brmakna..tp d mfkan kq eon, mgingat eon ngrjainx d tgah tgs yg jelimetin otak+hati. .hoho

    baiklah eon,
    gmawo

    • ahaha typo pengulangan kata
      mian itu emang kekurangan aku dari dulu *bow*

      iya sebenernya ada lanjutannya tapi sengaja aku skip dari pada nanti ribet hehe

      salam kenal ^^
      alamat fb aku Hanny Hardianti, klo twitternya @Hanhan207..

  10. Asdfghjkl….
    Thorrrrr, miapa… Saya suka banget sm karakter hani…!!!!
    Kyaaaaaa….. Dy polos, cuek, tomboy tp ga trkesan berlebihan! 😀
    Bnr2 lucu, puas ngakak saya! XD
    Even typo nya ttp tp bnr2 puas baca ff ini.
    No comment lg deh… Daebak d(⌒o⌒)b
    Ff d blog ini mmng super duper awesome to the max! *_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s