(SHARE FF) My Man (Part 1)

my man part 1

 

 

Cast: Kim Jong Woon, Lee Saerin, dan Kim Nara

 

Author/FB: Rahmi SarangheSUJU

 

FF ini juga dipublis diblog pribadi author, superjuniorbluesapphireclouds.wordpress.com #promosi ^_^

 

Mian kalau gaje dan banyak typo, mian kalo terkesan asal2an author bikin ff ini hanya untuk senang2 kok jd semuanya digarap dengan tak serius *plak apaan sih bilang aja gak kompeten ya*  hahaha. So happy reading!!!

 

*****

 

 

 

‘Lepaskan! Brengsek! LEPASKAN!!! Kau pikir bisa memukulku?!! Aku yang akan lebih dulu membunuhmu!’ BRUAK!!!

 

‘Anak kurang ajar, kau berani mengancamku!?? ‘ BRUAK!!PRANG!!!

 

Aku menepi pada dinding di dekat jendela, dinding yang membatasi ruang di mana kami saling berpijak, dinding dimana aku selalu bersembunyi dan dengan diam-diam mendengarkan keributan dari rumah yang jaraknya tak dibatasi lagi oleh apa pun keuali hanya dinding ini, dinding yang menegaskan bahwa kami memiliki kehidupan yang sangat berbeda. Aku memiliki orang tua yang sangat mencintaiku yang tak pernah sekali pun berbuat kasar bahkan untuk sekedar membentakku. Sedangkan Jong Woon memiliki seorang ayah yang jahat. Ayah yang mempunyai hobi memukuli anak dan istri, berjudi, bermabuk-mabukan, suka sekali berbuat kekacauan. Dan Omma Jong Woon juga tak kalah buruknya,  Bibi Kim suka sekali berselingkuh, sampai-sampai aku tak habis pikir kenapa ia melakukan itu. Tapi Omma pernah bercerita, Kim ajumma hanya ingin melampiaskan rasa sakit hati dan kecewanya yang diperlakukan sangat buruk oleh sang suami. Omma mengetahuinya karena omma sering mendengarkan keluhan-keluhan Kim ajumma, bahkan Omma sering menasehati Kim ajumma agar memperbaiki sikap, namun nasehat-nasehat itu hanya dianggap angin lalu oleh Kim ajumma.

 

BRUAK!!! PRANK!!! Dan lagi-lagi suara debuman keras benda-benda yang entah apa itu, bentakan demi bentakan, makian demi makian, lolongan, jeritan, semua itu selalu mewarnai hari-hariku.

 

Cklek… Pintu kamarku terbuka dan dapat kulihat kepala Omma menyembul dari baliknya. Beliau tersenyum dan dengan anggun menghampiriku, meraih tanganku dan berujar, ‘Saerin, sayang… Kenapa belum juga turun? Nanti telat lho, Appa sudah pergi dari tadi.’

 

Lihat ‘kan, betapa bahagianya hidupku? Tuhan… Kenapa ada hidup yang seberbeda ini? Apakah Engkau hanya ingin memperlihatkan betapa seharusnya aku menjadi makhlukMu yang paling bersyukur? Jika itu adanya, terimakasih Tuhan, aku bahkan ingin meledak rasanya karena rasa syukur ini.

 

Kukunyah roti dengan tergesa karena tak ingin terlambat sekolah, akhir-akhir ini aku sering sekali nyaris terlambat. Ketika akan beranjak setelah menciumi pipi ommaku, omma menahan tanganku dan meletakkan kotak bekal makanan ditanganku. Oh, inilah satu hal lagi yang perlu aku syukuri, beginilah caranya omma mengajariku untuk menghargai hidup dan bersyukur pada Tuhan; selalu berbuat kebaikan dan saling membantu antar sesama. Aku tersenyum pada omma dan memeluknya sekilas. Beliau tersenyum sebelum akhirnya aku beranjak dan meninggalkannya.

 

Sembari melangkah menuju pagar, kutatap rumah sederhana bercat abu-abu itu. Suara-suara dari sana masih terdengar jelas. Kubuka gerbang pagar sambil tak mengalihkan tatapanku dari pintu rumahnya, aku mematung ketika melihat sosok itu muncul dari balik pintu. Sempat kulihat raut wajahnya yang kacau, tapi begitu bola matanya menemukanku berdiri di sini sambil menatapnya, ia langsung merubah ekspresi itu, langkahnya yang tadi terburu-buru memelan ketika menghampiriku.

 

‘Hay manis…?’ ujarnya menyapaku sambil tersenyum jahil?  Bukan, kurasa bukan jahil, tapi lebih kepada tersenyum sinis seolah-olah ia ingin berteriak pada dunia ‘beginilah hidupku! Kau mau apa hah!?’

 

Aku masih terpaku seperti biasa setiap kali adegan ini terulang.  Masih saja aku belum terbiasa dengan ini semua. Diam terpaku dan tak bisa berbuat apa-apa adalah kebiasaan bodohku setiap kali adegan ini terulang. ‘Anyong’, balasku kaku ketika ia sudah berada di depanku dan mulai melewatiku. Seperti biasa ia mulai bernyanyi di setiap langkahnya dan aku mengekori setiap langkah itu, tanpa besuara kami berjalan dalam dunia masing-masing menuju halte bus yang akan mengantarkan kami ke sekolah.

 

Ia memasang hadset bututnya dan suara paling indah di dunia itu pun mulai semakin meninggi. Ia seolah tak peduli dengan apa pun lagi, meninggalkan dunianya yang hancur. Sesekali ia menendang kerikil yang menghalangi jalannya ia bahkan tak menengok ke kiri dan ke kanan seolah-olah ia tak sudi untuk sekilas saja matanya menoleh ke dunia hancurnya yang ia tinggalkan dibelakang.

 

Ada banyak bangku kosong, bus kami tidak seperti bus kebanyakan yang selalu penuh dijam-jam sekolah seperti ini, jadi aku memilih duduk di sampingnya yang telah lebih dulu duduk di dekat jendela. Ia masih asik bernyanyi sambil melihat jalanan, tanpa peduli dengan beberapa orang yang melihatnya sambil tersenyum geli dikarenakan tingkahnya bahkan ada yang dibuat terkagum-kagum oleh suaranya itu. Benar, tidak ada yang salah dengan pemuda ini. Ia tetaplah manusia biasa meskipun namanya tercetak di daftar hitam murid-murid pembuat onar disekolahnya, sebagai murid yang ditakuti oleh murid lain karena kelakuannya yang buruk. Ia tetaplah seorang pemuda berseragam SMA, butuh sarapan untuk menjalankan aktivitasnya sebagai pelajar.

 

Aku membuka bungkus bekal sarapanku dan membuka tutupnya, kusodorkan padanya. Ia berhenti bernyanyi dan memandang makanan itu.

 

‘Makanlah selagi sempat,’ ujarku padanya. Bola mata itu beralih menatapku dengan ekspresi datar andalannya. Lalu ia tersenyum, lagi-lagi senyum itu, senyum yang seolah-olah meremehkan. Aku tahu ia selalu meremehkan setiap hal yang aku lakukan jika itu terkait dengannya. Kurasa ia hanya tak ingin dikasihani.

 

Sedetik kemudian ia menjangkau kotak bekal makanan itu dan memakan isinya dengan lahap. Ada perasaan damai ketika melihat makanan itu perlahan-lahan ia lahap. Seperti perasaan yang dimiliki seorang ibu yang melihat anaknya yang kelaparan tengah melahap makanan dengan rakus.

 

 

 

*****

 

‘Ck!!! Kau ini kenapa akhir-khir ini hobi sekali memperhatikan orang itu !??’

 

Aku tersenyum sambil menatap Nara yang baru saja duduk di depanku. Meskipun pelan, suara cekikikan sepasang kekasih yang sedang pacaran di sudut pustaka ini  sayup-sayup sampai menelusup memenuhi ruang telingaku. Benar, akhir-akhir ini aku selalu memperhatikan sepasang kekasih itu, aku hanya berfikir dan heran kenapa kali ini perempuannya yang ini lebih lama dari perempuan-perempuannya yang dulu-dulu, mantan-mantan pacarnya itu.

 

‘Aku hanya tak sabar melihat mereka berciuman, seperti apa berciuman itu…’ jawabku asal pada Nara.

 

‘Aish…sepertinya otak yadongmu itu perlu kucuci,’ Nara melirik pemandangan yang menyerempet adegan panas itu sekilas lalu begidik ngeri.

 

‘Iiih, tidak ada tempat lain ya. Kulaporkan kepenjaga pustaka baru tahu rasa dia, hey…kudengar korbannya kali ini yoja yang sangat tajir. Ayahnya pejabat, ibunya pengusaha kaya. Kurasa si Jong Woon itu sedang kerepotan menata pundi-pundi uangnya yang melimpah sekarang. Bahkan, sekarang Mirs Park tidak lagi menerornya dengan uang spp yang menunggak. Pintar sekali si Jong Woon itu menemukan targetnya,’ cerocos Nara panjang lebar sambil sesekali begidik ngeri seolah olah ia barus saja menggosipkan pejabat yang korupsi miliaran jumlahnya. Suaranya yang biasa cemprang itu berusaha ia tekan sedemikian rupa agar ia tak dipelototi oleh penjaga pustaka dan juga pengunjung pustaka.

 

‘Bagus bukan… dia punya cara untuk menyelamatkan hidupnya…’ ujarku pelan yang tanpa kusadari Nara telah menghadiahiku dengan tatapan sesolah-olah ia mulai skeptis dengan kewarasanku.

 

‘Saerin-ah, sudahlah jangan menatapnya dengan ekspresi iba begitu… Perasaan ibamu itu hanya akan menjatuhkan dirimu sendiri.’

 

*****

 

 

 

‘Hay…’ langkahku sontak terheti begitu mendengar suara yang tak asing lagi bagiku. Aku menoleh ke samping dan benar saja dia adalah pemuda yang kukenal. baru saja kami membicarakannya, ia telah mendapatkan target baru. Suara bujuk rayunya masih dapat kudengar karena jarak kami yang lumayan dekat. Meskipun hujan begitu lebat aku masih dapat mendengar perbincangan mereka yang sudah mulai terdengar akrab.

 

Aku menatap langit yang sangat gelap dan tak henti-hentinya menumpahkan berton-ton air ke bumi. Aku yang salah karena lebih memilih menyelesaikan novel yang kubaca diperpustakaan ketimbang mengikuti ajakan Nara, menumpang di mobil jemputannya ketika jam pulang sekolah telah bebunyi tadi. Sekarang aku terkurung tanpa payung tanpa kendaraan untuk pulang. Bagaimana caranya berjalan ke halte jika hujan sebegini lebatnya.

 

Samar-samar kudengar mereka telah saling bertukar nomor hape. Kuakui, Jong Woon sangat hebat, bagaimana bisa ia tersenyum semanis itu dan bersuara selembut itu di depan calon korbannya mengingat ia selalu sangat buruk dalam berekspresi. Ah, dia benar-benar aktor paling hebat yang pernah kukenal. Mungkin sebentar lagi mereka akan saling bertukar isi dompet.

 

Aku masih sibuk menatapi ujung-ujung air yang menyentuh bumi sampai sebuah suara membuatku mendongak kaget.

 

‘Hey Kau!!!’ pemilik suara itu tahu-tahu sudah berada cukup dekat di depanku, di depan kami, aku, Jong Woon dan gadis itu. Ia menudingkan telunjuknya ke wajah Jong Woon yang hanya memandangnya dengan tatapan datar dan posisi duduknya yang santai. Di samping pria itu berdiri beberapa orang pria lainnya.

 

‘Kau yang bernama Kim Jong Woon!??’ belum sempat Jong Woon menjawab pemuda itu telah mencengkram kerah baju Jong Woon. Jong Woon menarik sudut bibirnya dan menatap tajam pemuda yang tengah dikuasai emosi itu. ‘Dimana otakmu? Kau masih bisa tersenyum setelah melukai adikku dan merampok semua uangnya?’

 

‘Waeee?’ ujar Jong Woon terkekeh meremehkan yang membuat pria itu menghadiahkan sebuah pukulan ke wajah Jong Woon. Dari tempat aku berdiri aku bisa melihat darah yang menetes dari mulut Jong Woon. Gadis yang tadi duduk di samping Jong Woon berlari ketakutan menghindari keributan.

 

Kuambil ancang-ancang untuk berlari menembus hujan dan menghampiri pos keamanan sekolah. Aku masih mendengar erangan-erangan kesakitan Jong Woon yang dikeroyok dan suara-suara pukulan yang masih dapat kudengar dicelah-celah suara ujan yang berpacu mengguyur tubuhku

 

Beberapa orang satpam yang berdiri di posnya bergegas mengikutiku yang sudah basah kuyup begitu mereka selesai mendengar penjelasanku yang terburu-buru. Bisa kulihat beberapa orang pemuda yang mengeroyok Jong Woon menarik-narik temannya yang masih memukuli Jong Woon dan mulai berlari menghindar begitu menyadari kami mendekati mereka.

 

Aku berjongkong memperhatikan Jong Woon yang terkulai lemah dilantai dengan berlumuran darah, ia masih saja memamerkan senyum congkaknya meski wajahnya babak belur. Kami melarikan Jong Woon kerumah sakit terdekat.

 

Ia tertidur pulas setelah luka-lukanya mendapat perawatan. Aku duduk di bangku yang ada di samping ranjangnya dan mengamati luka-luka itu. Matanya yang lebam, sudut bibirnya yang memerah darah, lengannya yang berbalut kain kasa dan masih banyak lagi luka-luka yang ada dibalik piyama rumah sakitnya. Aku mengalihkan tatapanku pada seorang pasien yang sedang disuapi anaknya. Pasien yang satu kamar dengan Jong Woon. Seorang wanita paruh baya yang kulihat juga menderita luka-luka di sekujur tubuhnya, mungkin saja wanita itu mendapatkan luka karena mengalami kecelakaan. Ia mengunyah makanannya sambil mendengarkan suara dari handphone yang ia tempelkan di telinga.

 

Rupanya wanita itu sedang menelpon suaminya.  Aku melirik Jong Woon. Omma dan appa  Jong Woon pasti sedang sibuk, sibuk dengan diri mereka sendiri sehingga mungkin tak ada waktu mengunjungi putranya. Kukeluarkan telepon genggam dari dalam tasku beberapa detik kemudian aku sudah tersambung dengan ommaku. Omma sangat terkejut ketika kukatakan aku sekarang berada di rumah sakit dan lebih terkejut lagi ketika mendengar yang sedang terluka adalah Jong Woon. Mungkin sebentar lagi mereka, omma dan appaku akan muncul dihadapanku. Omma dan appa memang orang tua yang tiada duanya di dunia ini.

 

Tidak lama kemudian kedua orang tuaku sudah memasuki kamar rawat inap Jong Woon. Jong Woon masih terlelap ketika mereka datang sedangkan aku sedang asik membaca buku yang tadi kebetulan kupinjam di pustaka sebelum pulang. Omma terlihat sangat mengkhawatirkan Jong Woon, ibu mengusap kepala Jong Woon yang berbalut perban dan ia mulai terisak. Appa menghampiri omma dan berusaha menenangkannya. Ommaku memang begitu, beliau memiliki hati yang sangat lembut, penyayang dan mudah sekali merasa iba. Apalagi terhadap Jong Woon anak laki-laki yang selalu membuat omma khawatir karena nasibnya yang menyedihkan. Omma menyayangi Jong Woon, memperlakukan Jong Woon seperti putranya sendiri begitu pula dengan appaku. Mereka memang orang tua yang luar biasa.

 

Omma sudah mulai tenang dipangkuan appa. Kulirik bawaan omma yang tergeletak di atas meja. Meskipun dalam keadaan mencemaskan seseorang sepertinya omma tidak  lupa membawakan pesananku. Omma membawakan banyak makanan dan buah, serta pakaian ganti untukku. Seragam sekolahku sangat tak nyaman karena basah, aku segera harus menggantinya.

 

Begitu aku keluar dari kamar mandi dan selesai mengganti pakaianku aku mendengar omma embicarakan orang tua Jong Woon, memepertimbangan antara memberi tahu keadaan Jong Woon atau tidak.

 

‘Walau bagaimana pun, mereka itu orang tuanya mereka berhak tahu,’ omma sepertinya ingin sekali orang tua Jong Woon mengetahui keadaannya sedangkan appa sama denganku. Aku beranggapan orang tua seperti itu tidak akan ada artinya diberitahu.

 

‘O…omma,’ kami sontak menoleh pada orang yang mengucapkan kata itu. Rupanya Jong Woon mengigau, ia bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Omma menghampiri Jong Woon dan duduk di tepi ranjangnya. Omma meletakkan sebelah tangannya di kepala Jong Woon dan mulai mengusap-usapnya lembut. Seolah-olah omma ingin mengatakan di tiap belaiannya, ‘jangan khawatir ada ibu di sini.’

 

Aku sedikit terkejut karena Jong Woon tiba-tiba membuka matanya. Ia seperti tersentak dan terjaga dari mimpinya sendiri.

 

‘Kau sudah bangun?’ ujar omma sambil tersenyum. ‘Tenanglah omma ada di sini.’

 

Bola mata Jong Woon yang tadi menatap langit-langit kamar dengan lemah perlahan-lahan beralih menatap omma yang tersenyum padanya. Ia menatap omma lama dengan tatapannya yang lemah dan kosong, ekspresinya begitu datar. Tapi tidak lama kemudian ia mulai membalas senyum omma. Meski lemah, itu adalah senyum tertulusnya. Senyum yang hanya ia berikan pada ommaku.

 

‘Omma… omma datang?’ ujarnya  kemudian.

 

‘Ne… aku datang. Aku  di sini karena aku ingin sekali memukul kepala jagoanku yang bandel ini. Berantem lagi, oh?’ omma menjewer telinga Jong Woon dengan lembut, meskipun omma berujar seolah-olah ia sedang kesal tapi aku masih dapat melihat senyum keibuan omma.

 

Jong Woon ikut tersenyum karenanya. Omma dan juga appa tertawa pelan bersama Jong Woon. Melihat itu entah kenapa aku ingin sekali keluar dari ruangan ini sekarang. Aku berdiri dan melangkah keluar, begitu aku menutup pintu di belakangu sakit di kerongkonganku semakin nyata, dadaku terasa sesak, jantungku terasa berat sekali. Bahkan kakiku terasa ngilu untuk sekedar berdiri, aku merosot dan duduk berjongkok di depan pintu. Aku meraba pipiku yang terasa aneh. Pipiku basah. Semakin kuhapus semakin tak henti-hentinya air mataku mengalir. Aku menangis. Aku menangis.

 

*****

 

Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit, kami, aku dan omma menemaninya di rumah sakit akhirnya hari ini Jong Woon mulai sekolah lagi. Aku sendiri memberikan ia catatan pelajarannya yang tertinggal selama ia tak masuk. Aku meminjam buku catatan Rinna onnie yang sekelas dengan Jong Woon dan menyalinnya. Lalu buku catatan itu kumasukkan ke dalam tasnya yang tergeletak ditinggal pemiliknya yang keluar di jam istirahat.

 

Begitu aku memasuki kelas para gadis di kelasku terlihat lebih histeris dari pada sebelumnya, mereka berkelompok-kelompok dan membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat menarik.

 

Aku melintasi kelas dan duduk manis di bangkuku, tidak lama kemudian bel tanda berakhirnya jam istirahat pun berbunyi, aku mendongakkan kepalaku untuk mencari keberadaan Nara. Sejak kutinggal tadi, teman sebangkuku itu belum kelihatan batang hidungnya. Kemana perginya? Semua orang di kelas mendadak mulai duduk manis di bangku masing-masing ketika mereka menyadari guru kami tengah berjalan kekelas.

 

Druak!!! Ya Tuhaan… Anak ini nyaris membuat aku mati karena jantungan. Nara tiba-tiba saja menubruk kursinya dan duduk dengan nafas ngos-ngosan.

 

‘Sukurlah… Sonsaemnim (mian tulisannya benar?) belum keburu masuk, huff,’ ujarnya disela-sela nafas yang memburu, tapi belum sempat ia membetulkan cara bernafasnya, ia malah mengubah ekspresinya menjadi lebih exited.

 

‘Saerin… Ada murid baru masuk ke kelas kita… tuampuannya minta ampun…’ Nara belum menyelesaikan ucapan ketika  guru kami memasuki kelas sambil berdehem dan mengucapkan selamat pagi. Semua mata tertuju pada songsaenim yang berjalan ke tengah kelas, eh bukan, tapi pada namja berseragam yang berjalan di samping songsaenim.

 

Benar kata Nara. Ada murid baru di kelas kami. Murid baru itu bernama Kim Soo Hyun, murid pindahan dari Seoul. Dan tampangnya? Memang tampan, sangat-sangat tampan malah… Pantas saja para gadis mendadak menguarkan aura kegadisannya (?).

 

Setelah memperkenalkan diri, pemuda itu melangkah menuju bangkunya tepat dibelakangku. Ketika melewatiku ia tersenyum sekilas yang kubalas dengan anggukan. Nara jelas sekali terlihat iri, karena harusnya Nara yang diberi senyuman itu mengingat aku yang duduk dekat jendela kan lumayan jauh dari jalan yang ia lewati.

 

Ketika kami telah memulai pelajaran, aku mendengar ada yang memanggilku. Namja bernama Kim Soo Hyun itu yang memanggilku. Dia kenal namaku rupanya? Dengan berhati-hati agar tak menimbulkan kemarahan saem aku memutar kepalaku sedikit untuk menatapnya dan bertanya apa yang ia inginkan.

 

‘Saerin-ah… Aku Soo Hyun, pangeran Soo Hyunmu yang cengeng dan baik hati’, bisik namja itu antusias!  Pangeran? Cengeng? Tiba-tiba saja sebuah bayangan menyergapku. Ya benar, Kim Soo Hyun… Dia adalah teman kecilku, tetanggaku yang pindah ke Jepang ketika kami masih duduk di bangku kelas enam SD. Waaah… dia kembali.

 

‘Soo hyun? SOO HYUN???!!!’  tanpa sadar aku memekik saking kaget dan senangnya sampai-sampai semua orang menatapku, termasuk sonsaemnim dan akhirnya aku berakhir di toilet umum.. Membersihkan toilet umum yang luar biasa kotor dan berbau itu adalah hukuman yang diberikan sonsaemnim yang mengira aku keenakan bicara ketika ia sedang menerangkan pelajaran. Haduh saem, aku kan murid kebanggaanmu, selau peringkat pertama tiap tahunnya selalu menang lomba sebagai perserta perwakilan dari sekolah yang otomatis mengharumkan nama sekolah, masa sekai-kalinya berbuat begini tidak boleh? Untung saja ada yang menemaniku, Soo Hyun-ku.

 

****

 

TBC

 

 

 

Nde, gaje dan banyak typo kan??? Silahkan dikritik hehe

 

 

 

Advertisements

3 comments on “(SHARE FF) My Man (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s