(SHARE FF) Because I’m Yours (Henry Version)

Because I'm Yours

Title : Because I’m Yours

Author : Arisa

Cast : Lee Hyukjae, Lee Seo Young, Henry Lau

Genre : Romance, Sad

Length : OneShoot

A/N : Ini adalah Side keduanya, dan jika kalian ingin mendapatkan dengan secepatnya side terakhir dari Lee Hyukjae, bisa langsung berselancar menuju lautan fiksiku di ashleyverhallen.wordpress.com 😀 Gomawo yang sudah mau baca juga yang sudah kasih komentarnya. Aku sangat berterimakasih 😀

Henry terbangun setelah seharian kemarin menghabiskan waktunya untuk menemani adik perempuannya berjalan-jalan disepanjang jalanan myeongdong. Mereka jarang sekali singgah di Seoul, kalau bukan karena ia akan melanjutkan studynya di negara Ginseng ini, ia yakin, pagi ini ia terbangun di kasur kesayangannya tanpa merasakan sakit di badan.

Matanya mengerjap-ngerjap, berusaha mengembalikan segenap nyawanya yang sempat hilang dari tubuh saat tidur, dan sekarang ia mulai menggerakan badannya menuruni kasur yang dua tahun kedepan akan menemaninya setiap malam. Kakinya menyetuh lantai yang dingin, sedikit mengangkatnya karena mendapatkan suhu yang sedikit mengejutkan sarafnya.

Kali ini, Henry benar-benar melangkah menuju kamar mandi, melupakan bahwa hawa dingin masih merasuki tubuhnya, padahal ini sudah akhir dari musim dingin, dan sebentar lagi musim semi akan segera menyambutnya. Langkahnya terseok-seok, tubuhnya belum bisa seimbang dengan kadar kesadaran yang masih berada diambang batas minimal.

Tangannya meraih kenop pintu kamar mandi dan segera mendorongnya dengan tenaga yang dimilikinya. Menuju kearah westafel, membasuh muka, menggosok gigi, lalu kembali ke kamar mengganti pakaian.

Adiknya pasti sudah menunggu dengan senyum sumringah di meja makan begitu juga ayah dan ibunya. Mereka semua akan berangkat kembali menuju Beijing pagi ini, tepat setelah sarapan. Meski Henry sebenarnya masih menginginkan kehadiran keluarganya di Seoul, tapi ia begitu mengerti bahwa Ayah dan Ibunya tentu saja bukan sekedar orang yang suka bersantai di pagi hari. Mereka bahkan lebih sering menghabiskan sarapan di dalam mobil, seraya melakukan perjalanan menuju kantor masing-masing.

Sedang adik perempuannya, tentu saja masih bersekolah di SMA, hari ini saja, gadis itu terpaksa membolos demi mengantarkan sang kakak, dan merayakan perpisahan bagi mereka. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, apalagi Henry lebih memilih untuk tetap tinggal di Seoul hingga kelulusan nanti.

“Selamat pagi.” Henry menuruni anak tangga dengan senyum sumringahnya saat hidungnya mencium aroma masakan sang ibu. Sudah lama sekali Ibunya tidak memasak untuknya, dan ini benar-benar hari yang spesial untuk Henry.

“Selamat pagi, Mom, Dad.”

Ge, kau duduk disini,” ajak sang adik seraya menepuk-nepuk tempat duduk di samping tubuhnya.

Henry tersenyum lalu melangkah mendekat, menarik kursi dan duduk disana. Tangannya dengan segera mencomot makanan yang ada didepannya tanpa memedulikan omelan sang adik karena dengan seenaknya makan terlebih dahulu, sedangkan mereka bertiga-ayah ibu dan Whitney-telah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.

“Hehe, maafkan aku. Aku hanya terlalu bersemangat. Sudah lama sekali Mom tidak memasak makanan untukku,” ucap Henry seraya meminta maaf. Sang Ibu menggelengkan kepala memaklumi.

“Makan saja, aku sengaja memasakannya untukmu. Kau bisa makan dengan sepuasnya.”

Sang adik bersungut-sungut karena ia tidak bisa membuli sang kakak seperti hari-hari sebelumnya. Henry mengusap ubun-ubun adkinya lalu menyuruhnya untuk segera menyantap makanan yang sudah terhidang.

“Makanlah, jika kau terus mengomel, makanannya akan segera dingin!” tambah Henry lalu mengambil makanan kesukaannya keatas piring. Melahapnya dengan besar-besar membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala, tersenyum senang dengan kelakuan kedua anak kesayangan mereka itu.

***

“Kau belajarlah dengan baik. Dan jaga dirimu baik-baik Henry,” tutur sang Ayah. Henry mengangguk menyetujui lalu merengkuh tubuh yang selama ini telah menjaganya selama hidup. Mengusap punggung sang Ayah lalu mengecup pipinya sebagai tanda perpisahan mereka. Kali ini tubuhnya mengarah kearah sang Ibu yang tidak mengucapkan sepatah katapun sejak perjalanan menuju bandara.

Mom, jangan bersedih. Aku berada disini untuk belajar. Saat lulus nanti, aku akan segera pulang. Atau kau bisa berkunjung kesini kapanpun kau mau, Mom.” Henry kembali merengkuh tubuh Ibunya dan melakukan hal yang sama.

“Dan kau…” Henry mendesis kearah adiknya. Menjitak kepalanya dengan gemas. “Jaga dirimu baik-baik. Jangan berkencan terus. Belajar dengan baik,” kekeh Henry lalu memeluk adik kesayangannya itu. “Kau juga,” ucap sang adik mengikuti.

Henry mengecup ubun-ubun sang adik lalu melambaikan tangan ketika pengumuman penerbangan menuju Beijing akan segera take off.

“Aku akan baik-baik saja Mom, Dad,” teriak Henry. Ia segera membalikkan badannya menuju pintu keluar. Melupakan bahwa ia tidak akan melihat keluarganya dalam waktu dua tahun lamanya.

***

Henry memilih untuk menggunakan T-shirt warna biru tua dipadukan dengan jas warna gelap. Celana jeans menjadi pilihannya untuk mengawali pembelajarannya hari ini.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Henry dengan cepat menyambar makanan yang telah disiapkan oleh bibi yang ditugaskan oleh keluarganya untuk membantunya menyiapkan makanan juga membersihkan tempat yang ditinggalinya.

“Aku berangkat Bi. Kau bisa bersantai hari ini,” teriak Henry dengan kaki melangkah cepat-cepat menuju garasi. Bahasa Koreanya sudah membaik, tidak seperti saat dulu ia mengunjungi Korea untuk pertama kalinya.

Tangan kanannya segera membuka pintu mobil dan memasukkan kunci mobilnya. Menghidupkannya lalu menarik perseneling. Melajukan mobil dengan cepat. Ia sudah terlambat, bahkan dihari pertamanya, ia telah membuat masalah.

Tangan kirinya meraih makanan yang tadi diambilnya secara sembarang. Hanya ada dua potong roti dan juga sekaleng susu yang diambilnya secara acak dari dalam lemari. Dengan cepat pria itu memakannya sebelum sampai menuju kampusnya.

“Yah, kurasa ini tidak baik,” ucapnya saat ia terpaksa harus menerobos lampu merah. Membuat beberapa polisi yang sedang bertugas kini mengejar mobilnya.

Henry menepikan mobilnya di bahu jalan. Terdiam santai saat dua polisi menghampirinya dan mengetuk kaca mobil. Dengan senyum tanpa dosa pria itu membukanya lantas bertanya kepada kedua polisi tersebut.

Yes sir. What’s wrong?” tanyanya dengan aksen Inggris yang lumayan bagus. Kedua polisi itu terlihat bingung. Jarang sekali menemukan warga Korea yang menggunakan bahasa asing itu kepada polisi jalanan.

Henry menautkan kedua alisnya menunggu jawaban. Hingga akhirnya kedua polisi tersebut memilih untuk membebaskan Henry, tidak mencari masalah dengan membuka kamus untuk melakukan komunikasi yang sepertinya akan lebih rumit jika dibandingkan dengan dimarahi oleh atasannya.

Thanks,” ucapnya lalu menekan pedal gas. Melaju cepat sebelum kartu keberuntungan yang dimilikinya menghilang.

Langkahnya terlihat begitu santai meski jam sudah benar-benar menunjukan bahwa pria itu telah terlambat tiga puluh menit. Setelah berpikir cukup serius sepanjang perjalanan, dirasanya para pengajarpun akan memaklumi keterlambatannya. Banyak sekali alasan yang bisa diajukannya seperti, saya terlambat karena pertama kalinya mengemudi di Seoul atau saya belum terbiasa dengan jalanan Seoul sehingga saya mencoba lebih berhati-hati.

Henry tersenyum dan membungkukkan badan saat dosen yang sedang mengajar pendidikan kewarganegaraan mengalihkan tatapan dari kertas yang sedang dipegangnya kearah Henry. Sorot matanya begitu tajam membuat Henry terpaksa menghampirinya lalu menjelaskan sebaik-baiknya penyebab keterlambatannya itu.

Thank you, Sir. Later, i’ll come to your class in time.” Henry memperlihatkan giginya yang berbaris dengan rapi saat sang Dosen mempersilahkannya untuk duduk dan mengikuti pelajaran.

“Oh, tentu saja dosen kita satu itu terlalu baik. Meski tatapan matanya terlihat begitu tajam, itu hanya sebagai kedok saja,” suara seorang gadis disebelah Henry memecah keheningannya ketika bersiap-siap untuk mengikuti pelajaran. Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis dengan pakaian simple yang belum pernah dilihatnya. Hanya jeans belel dengan kemeja kebesaran. Tapi, anehnya pria itu malah terpaku melihat penampilan gadis tersebut.

“Seo Young imnida,” kenalnya seraya menyodorkan tangan. Henry terdiam sesaat, memerhatikan tangan mungil gadis di depannya. “Kau tidak ingin bersalaman?” tanya Seo Young menggerak-gerakkan tangannya.

Henry segera menyodorkan tangannya, bersalaman dengan seorang gadis yang akhirnya menjadi teman pertamanya di kampus. “Henry Lau.”

***

“Woaa, gomapta,” ucap Henry mengambil pesanan makanan yang dibawakan Seo Young. Gadis itu hanya mengangguk lalu duduk tepat di depan Henry.

“Henry-ya,” panggil Seo Young sebelum gadis itu melahap makanan yang dibawanya tadi. Melihat tingkah Henry yang sama sekali jauh dari bayangannya sedikit menggangunya. Ia kira, pria itu sedikit berwibawa karena penampilannya dan juga garis wajahnya yang cukup mampu membuat siapa saja terpesona. Memikirkan bahwa pria bernama Henry lebih suka dengan tempat semacam restoran, bukannya kedai seperti yang sekarang tengah mereka singgahi sepulang kuliah.

Wae?” Pria itu menengadah, menghadapkan wajahnya kearah Seo Young. Menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir mungil milik gadis itu.

“Kau benar-benar tidak akan mengajakku untuk makan di restoran setelah ini?” tanyanya ragu. Henry tergelak dengan pertanyaan polos yang dilancarkan Seo Young. Ini benar-benar mengejutkan, ia bahkan menyangka bahwa gadis di hadapannya akan bertanya tentang, bagaimana kehidupan di Beijing atau semacamnya. Tapi yang didapatkannya hanyalah sebuah pertanyaan yang terlihat begitu jujur dan polos.

“Kalau kau mau, kita bisa pergi kesana sekarang.”

Seo Young menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Menarik sudut bibirnya sehingga kedua matanya terlihat masuk kedalam. Henry terdiam, menikmati pemandangan indah yang baru saja ia sadari, bahwa gadis di depannya benar-benar cantik dan indah.

“Ah, anyway, kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Henry kemudian setelah melahap setengah makanan di atas piringnya. Seo Young tidak langsung menjawab. Gadis itu memilih untuk menghabiskan makanannya terlebih dahulu, ia sedikit tidak suka ketika ada pembicaraan ditengah-tengah acara makannya.

“Aku sempat berpikir bahwa kau lebih menyukai restoran dibanding kedai. Juga sempat berpikir bahwa kau adalah jenis manusia yang suka menghambur-hamburkan uang,” jawabnya. Henry merengut mendengar jawaban jujur gadis itu.

“Kau tidak bisa ya sedikit saja berbohong? Ucapanmu itu, kurasa sedikit menyakitkan.”

Seo Young hanya tersenyum. Lantas berdiri dari dudukannya melambai kearah Henry setelah berpamitan bahwa ia telah di jemput. Henry melipat dahinya, memerhatikan seorang pria yang menjemput gadis bernama Seo Young itu dari pintu kedai. Sejenak Henry tertegun ketika melihat reaksi berbeda yang ditunjukkan gadis itu kepada sang pria, memikirkan bahwa gadis itu memiliki hal yang spesial untuk pria yang sekarang tengah menggenggam tangannya.

Bayangan tubuh kedua orang itu menghilang diantara kerumunan orang yang berlalu lalang. Menyisakan Henry yang menahan napas saat kepergian gadis itu. Ia tidak tahu benar apa yang dirasakannya saat ini, hanya saja ia tahu bahwa ia tertarik begitu saja dengan gadis bernama Seo Young itu. Gadis yang mampu membuatnya terdiam hanya karena melihat tangan mungilnya saja. Belum keseluruhan tubuh yang dimiliki gadis itu.

Henry memutuskan pergi dari tempat tersebut, mengikuti jejak langkah Seo Young namun ia lupa bahwa ia telah kehilangan jejak mereka tadi. Pria itu mambalikkan badan, menghela napas berat lalu melangkah menuju parkiran.

Mobilnya bersuara saat Henry menekan tombol untuk membuka kunci mobil, dengan segera membuka pintu dan memasukinya. Melajukan mobil kearah jalan rumahnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa hari ini. Setelah seharian penuh menghabiskan waktu bersama Seo Young, berjalan-jalan disepanjang kampus, mendengarkan suara merdu Seo Young yang menjelaskan detail tentang kampusnya dan juga beberapa kegiatan yang sering dilaksanakan. Terlihat sekali bahwa gadis itu begitu aktif dan banyak orang yang menyapanya saat mereka berjalan bersama. Henry berpikir bahwa gadis itu adalah tipikal orang yang suka membantu dan juga ceria. Orang-orang juga terlihat begitu simpati kepada gadis itu, bahkan beberapa dari mereka mengikuti perjalanan Henry dan Seo Young selama beberapa menit hanya karena ingin bertegur sapa atau bertukar informasi dengan gadis itu.

“Kau bisa menggunakan ruangan ini untuk melakukan riset penelitian akhir studymu.” Seo Young menjelaskan ketika mereka melewati sebuah ruangan cukup besar jika dibandingkan dengan ruang kelas lainnya. Mereka memberi nama ruangan itu, “Crystal of Knowledge” begitulah yang disampaikan Seo Young.

Gadis itu juga menambahkan tentang asal muasal pemberian nama tersebut. Karena ruangan itu biasanya dipakai saat seseorang sedang menempuh semester akhir study, dengan buku-buku tebal yang selalu menemani mereka, sehingga semua warga kampus menyepakati bahwa ruangan tersebut adalah tempat dimana semua orang mengerahkan seluruh pengetahuannya untuk menembus pertahanan para petinggi kampus, untuk mendapatkan gelar sarjana.

“Tuan sudah pulang? Biar bibi yang bawa tasnya.” Henry menyerahkan tas yang sejak tadi tersampir di bahu kanannya.

“Bi, kau sudah masak? Aku sepertinya tidak akan makan malam ini,” ucapnya sambil tetap melangkah menuju ruang tengah. Duduk di sofa tepat di depan televisi dan menghidupkannya.

“Belum Tuan. Saya menunggu, ingin bertanya masakan apa yang Tuan inginkan,” jelasnya. Henry menoleh kearah wanita paruh baya yang selama dua tahun ke depan akan menemaninya menjaga rumah yang sengaja kedua orang tuanya belikan khusus untuknya.

“Ah, syukurlah. Sekarang bibi masak apa saja yang bibi inginkan, dan makanlah sepuasnya. Aku sudah makan diluar tadi. Dan bibi bisa beristirahat lebih cepat sekarang,” tutur Henry menunjuk agar wanita paruh baya itu menyerahkan tas yang sejak tadi dipeluknya.

“Terimakasih Tuan. Selamat malam.”

Henry melambaikan tangannya. Tersenyum sopan lantas menikmati tontonan malamnya. Tidak seperti kebiasaannya saat di Beijing, ia tidak pernah menonton televisi pada jam-jam seperti saat ini. Dan biasanya ia akan lebih memilih untuk mengunjungi Zhoumi untuk mengusir rasa bosannya menempati rumah yang setiap harinya hanya ada dirinya dengan Whitney, sang adik perempuan yang dimilikinya.

***

Satu minggu sudah Henry mengenal Seo Young. Gadis itu teramat menyenangkan baginya, meski hari ini ia tidak tahu mengapa gadis itu lebih banyak diam. Dan anehnya, saat Henry memanggil namanya, gadis itu seakan tidak mengharapkan kehadirannya setelah tahu siapa yang telah memanggilnya itu.

Henry mengikuti kemanapun arah langkah kaki Seo Young. Sesekali berusaha menyembunyikan diri dan sesekali mencoba mendekati gadis itu. Namun urung, saat Henry melihat Seo Young berhenti tepat di sebuah kedai yang dahulu pernah ia singgahi bersama gadis itu saat hari pertama mereka bertemu. Ada yang berbeda dari sorot matanya, semuanya tidak sama lagi. Sorot menyenangkan yang biasanya begitu terlihat dengan kuat, sekarang seolah-olah ia tidak akan menemukan kehidupan di esok hari. Matanya melemah.

“Kau kenapa?” Henry akhirnya menyerah, tidak bisa menahan diri dengan hanya berdiam diri saja memerhatikan Seo Young dari kejauhan. Ia tidak peduli apakah gadis itu menginginkan kehadirannya atau tidak, yang ia pedulikan saat ini adalah tubuh gadis itu, yang kian detik kian melemah.

Seo Young menoleh, lingkaran hitam dimatanya menjawab semua pertanyaan Henry. Gadis itu kurang tidur!

“Henry-ya, kau mau mendengarkan ceritaku?” Seo Young membuka mulutnya. Henry sedikit terperangah mendengar suara lemah Seo Young, benar-benar tidak seperti biasanya.

Pria itu menganggukan kepalanya lantas mengikuti Seo Young yang kini sudah melaju mendorong pintu masuk kedai. Ini kedua kalinya pria itu singgah di kedai yang sama dengan orang yang sama.

Seo Young memutar pandangannya, menghampiri meja kasir bertanya tentang sesuatu hal yang tidak diketahui Henry. Pria itu memilih untuk mengikuti apa saja yang ingin Seo Young lakukan. Lebih baik sedikit berbicara dengan baik daripada banyak bicara namun tak berguna.

Seo Young kembali, Henry terpaku saat gadis itu menarik tangannya agar mengikuti arah langkahnya. “Kita mau kemana?” Henry bertanya, penasaran.

“Ikuti saja jika kau ingin mendengar ceritaku,” ucapnya dingin. Pria itu terpaksa berdiam, menuruti apa saja yang akan dilakukan Seo Young. Henry tidak keberatan sama sekali, asalkan satu, DIA TETAP BERSAMA GADIS ITU.

Langkah mereka terhenti, napas Henry tidak beraturan sedang Seo Young terlihat biasa saja. Mereka sedikit berlari meski hanya sebentar, namun masalahnya adalah, mereka menaiki beberapa puluh anak tangga dengan waktu sesingkat-singkatnya. Membuat Henry yang tidak terbiasa berlari secepat itu kini hanya bisa terkapar meredakan detak jantungnya yang menggila.

“Kau gila? Tidak memberitahuku bahwa kita akan meniki empat lantai dalam waktu secepat itu. Hanya satu menit, kau ingat baik-baik. Kita menaikinya hanya dalam waktu satu menit. Gila!” Henry menggerutu panjang dengan kelakuan Seo Young. Pria itu mendengus tidak percaya ketika Seo Young hanya mengangkat bahunya tidak peduli.

“Saat aku tahu bahwa aku tidak hanya bisa menerimanya sebagai seorang kakak, aku hanya bisa mematung di depan cermin. Merutuki diri sendiri karena telah melanggar perjanjian yang telah kami sepakati.” Seo young membuka mulutnya tanpa menunggu Henry terlebih dahulu meredakan napasnya yang masih tersengal.

“Aku mengenalnya sudah hampir sepuluh tahun. Saat itu kami bertemu diacara besar keluarga. Orang tuaku mengundang keluarganya yang baru saja pindah tepat disamping rumahku. Aku berkenalan dengannya, bermain-main setelah dirasa bahwa dia cukup menyenangkan untuk dijadikan teman bermain masa kecil. Aku tidak menyadari kapan terakhir kalinya aku menganggap ia sebagai seorang kakak. Murni sebagai seorang kakak laki-laki. Bukan seorang pria yang menarik perhatianku.

“Namanya Hyukjae. Lee Hyukjae, dia pria yang kau lihat saat hari dimana kita berkenalan. Dia orang yang selama ini terus berada disampingku setelah kematian ibuku. Dia juga orang yang telah membangkitkanku dari keterpurukan. Dan karena semua pehatiannya yang terlalu berlebih, aku akhirnya merasa bahwa aku tidak lagi menganggapnya sebagai seorang kakak laki-laki yang dahulu sering membutaku kesal. Dia telah merubah perasaanku tanpa kusadari.”

Seo Young menghela napasnya sesaat. Menoleh kearah Henry yang terpaku mendengar apa yang sedang diceritakan oleh gadis yang disukainya itu. Ia sudah menduganya sejak awal. Ada yang berbeda dengan tatapan yang diberikan oleh gadis itu. Kepadanya dan juga kepada pria bernama Lee Hyukjae itu, Seo Young menatap dirinya dan pria itu dalam pandangan yang berbeda.

“Dan sekarang, ia pergi ke Thailand untuk menuntaskan masalahnya. Seperti yang bisa kau tebak. Aku berubah seperti ini karena ia tidak lagi dalam jarak pandangku. Dan aku memang tidak bisa jika ia tidak berada dalam potret retina mataku sehari saja. Aku seakan kehilangan oksigenku. Dia sangat berpengaruh besar atas keberlangsungan hidupku Henry-ya.”

Henry diam. Bungkam. Berusaha meredakan aliran darahnya yang tiba-tiba menyempit. Paru-parunya ikut tidak berfungsi. Semua itu akibat perkataan yang dilancarkan Seo Young beberapa detik yang lalu. Ia datang ke dalam kehidupan gadis itu bukan untuk melihat sang gadis tersiksa. Namun untuk membuat sudut bibir gadis itu tertarik kebelakang. Tersenyum selebar-lebarnya.

“Aku tidak adatang untuk mendengar ini. Kau tahu, kau pasti merasakan bahwa beberapa hari terakhir ini aku berusaha mendekatimu,” ucap Henry lalu bangkit begitu saja. Mninggalkan Seo Young yang terpaku setelah mendengar pernyataan jujur pria itu.

***

Jujur saja, Henry sama sekali tidak menyukai sikap Seo Young selama dua bulan ini. Apalagi saat ia untuk pertama kalinya berkunjung kerumah gadis itu, bermaksud untuk sedikit menghiburnya. Namun, gadis itu sedang merenung, masih saja memikirkan Hyukjae yang ia tahu bahwa pria yang belum pernah ditemuinya secara langsung itu jarang sekali memberikannya kabar. Tapi, tetap saja Seo Young memikirkannya, seakan ia tidak ada, mengacuhkan segala hal yang berada disekitarnya.

Kali ini entah kenapa Henry memutuskan untuk pergi ke kampus. Padahal ia tahu sekali bahwa hari ini tidak ada satu jadwalpun, tapi hatinya menyuruhnya untuk segera menekan pedal gas menuju kampus yang sudah dua bulan ini menjadi kampus tetapnya.

Henry berputar-putar di jalanan kampus, mencari sesuatu hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari tatapan matanya yang terus terarah ke satu tempat, dimana Seo Young tengah berterak akibat rasa tidak percayanya dengan apa yang telah dilihatnya. Henry hanya melihatnya dari kejauhan lantas segera berlari kecil mengikuti arah Seo Young.

Pria itu mempercepat langkahnya saat ia menemukan gadis itu tersungkur tepat di depan banyak orang. Mereka, teman yang sering menyapa Seo Young seolah tidak peduli dengan kejadian yang sedang dilihatnya. Hanya melintas begitu saja, tidak peduli bahwa gadis itu benar-benar tengah membutuhkan bantuan siapapun yang ingin menolongnya dengan tulus.

Henry menghentikan langkahnya. Menatap iba gadis yang sudah dua bulan ini menarik perhatiannya. Dan sedikit sakit hati karena baru saja kemarin ia melihat bagaimana Hyukjae mencium gadis itu tepat saat ia belum sepenuhnya keluar dari rumah gadis itu. Dan sekarang, apa yang telah dilakukan pria itu? Lebih memilih gadis lain daripada gadis yang telah lama memendam perasaan untuknya? Gadis yang telah lama berada dihidupnya.

“Aku hanya memberimu tawaran satu kali. Saat kau menerima uluranku maka lupakan segala hal tentang Lee Hyukjae. Tetapi jika kau menolak, maka aku tidak akan pernah muncul dihadapanmu. Dan tidak akan menolongmu. Bagaimana? Kau pilih yang mana?”

Henry dengan tangan terulur mengucapkan hal yang selama ini ingin ia lakukan. Seo Young menatapnya dengan mata sembab. Henry ingin sekali pergi berlari mengejar pria brengsek itu lalu menghajarnya karena telah menyakiti gadis yang benar-benar telah membuatnya gila akhir-akhir ini.

Gadis itu menundukkan kepalanya. Seperti sedang meratapi keadaannya yang kini berubah seratus delapan puluh derajat. Juga mencari keseriusan dari perkataan Henry.

“Apakah.. apakah jika aku menerima uluran tanganmu, kau tidak akan pernah mengkhianatiku? Kau akan tetap berada disisiku? Menghabiskan waktumu hanya untuk aku?” lirihnya beberapa detik kemudian. Henry benar-benar tidak bisa menahan amarahnya. Ia mengepalkan sebelah tangannya untuk menahan amarahnya yang kini sudah memuncak.

“Tentu. Aku akan selalu berada disampingmu, apapun keadaannya,” tutur Henry dengan yakin. Pria itu menggoyangkan tangannya, berusaha mengembalikan kesadaran gadis itu, juga berusaha untuk mengingatkan bahwa bukan hanya ada Lee Hyukjae saja yang berada di dunia ini. Ia bahkan yakin bahwa ia dilahirkan untuk menjadi seseorang yang bisa menguatkan gadis bernama Lee Seo Young itu.

Tanpa Henry sadari, gadis itu kini sudah menggenggam tangannya, membuatnya sedikit terperangah namun segera mengontrol kembali ekspresinya itu. Henry tersenyum lantas mengeratkan ganggamannya.

“Tersenyumlah. Dan melangkahlah bersama denganku.”

Seo Young mengangguk, memeluk Henry tanpa asa di depan semua orang, pria itu dengan seketika menelusupkan kepalanya kebahu Seo Young. Menyembunyikan bahwa kini wajahnya tengah memerah akibat perlakuan dadakan dari gadis itu.

“Kau jaga janjimu, Henry-ya. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melanggarnya,” ucapnya seraya mengusap pipinya yang basah. Kini isakan tangisnya telah mereda. Henry menggangguk cepat, membuktikan bahwa ia benar-benar tidak akan melanggar janji itu. Ia akan melindungi Seo Young sekuat yang ia bisa.

***

Tidak, bahkan setelah ia membuat janji itu dengan Seo Young, Henry sama sekali tidak mendapatkan apa yang diharapkannya. Perjuangannya selama ini hanya dibayar dengan sebuah luka yang cukup dalam. Henry mengerti, perasaan memang tidak dipaksakan, hanya saja, apakah tidak bisa ia merasakan satu hari saja ia bisa menghabiskan harinya dengn bahagia bersama Seo Young?

Bisakah, pria bernama Lee Hyukjae itu berterimakasih atas jasanya karena telah menjaga gadisnya selama pria itu menyelesaikan masalah dengan gadis bernama Kim Yari itu?

Henry meninju cermin di depannya. Membiarkan tangan kanannya terluka dan darah dari tubuhnya keluar begitu saja. Ia tidak merasakan rasa sakit, semuanya sudah tidak terasa. Dingin. Bukan hanya hatinya, tapi juga seluruh tubuhnya. Ia sudah mati rasa.

“Henry?” suara yang amat Henry kenali. Pria itu dengan segera mengalihkan tatapan matanya, mendapati Seo Young tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Henry dengan cepat menyembunyikan tangannya yang terluka, menyembunyikan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja saat ini.

Gadis itu melangkah, menyentuh tangan kanan Henry lalu menariknya keluar dari persembunyian.

“Maafkan aku,” lirihnya lalu menuntun pria itu menuju kamar mandi. Membasuh tangan Henry yang terluka.

“Biarkan saja,” ucap Henry dingin. Ia tidak tahu sejak kapan ia bisa bersikap tidak sopan seperti tadi. Namun, jika tidak seperti itu, ia akan terpuruk dengan perasaannya sendiri. Ia bahkan membenci dirinya sendiri karena kini terlihat begitu lemah.

Seo Young tidak memerhatikan bahwa sejak tadi Henry sama sekali tidak melepas pandangan matanya dari gadis itu. Seo Young hanya memfokuskan semua pikirannya pada satu hal. Mengobati Henry dengan benar sehingga pria itu tidak akan terinfeksi sedikitpun.

“Kau tidak perlu melakukannya, Seo Young-ah. Aku bisa melakukannya sendiri,” tutur Henry menarik tangannya. Seo Young mengabaikan tindakan pria itu lantas kembali menarik tangan Henry perlahan.

“Kau tidak tahu, bahwa aku sangat mengkhawatirkanmu? Kau harus mendengarkan penjelasanku.” Seo Young menyimpan tangan pria itu tepat diatas pangkuan kakinya. Mengelusnya sebagai tanda bahwa ia sedikit menyayangkan bahwa tangan hangat milik pria itu kini tengah terluka.

“Apa? Kau ingin menjelaskan apa?” Henry menautkan kedua alisnya bertanya penasaran. Apakah gadis itu akan mengatakan bahwa ia tidak mungkin bisa melupakan Hyukjae begitu saja dalam waktu enam bulan? yang notabenenya telah ia kenal selama sepuluh tahun?

“Kau, tidak ingatkah kau tentang janjimu itu? Aku mengingatnya Henry-ya. Dengan jelas, aku masih mengingat janjimu waktu itu.”

***

F.I.N

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s