(SHARE FF) The Way You Look (Part 1)

kyuhyun 

The Way You Look…

 

Author : Ellyn / @hellollyn

Cast     : Cho Kyuhyun

 

Things that I needed here are comments and critics… beritahu saya dimana kekurangan saya dan saya akan memperbaikinya, happy reading :))

=Prolog=

Na’s pov

Dipandang lemah oleh orang-orang disekelilingmu. Bagaimana perasaanmu? Tidak suka? Kesal? Atau tidak boleh melakukan hal-hal yang kau sukai hanya karena keadaanmu? Tidak bisa menjalani kehidupan yang bebas seperti yang orang lain miliki. Pergi kemana pun mereka suka tanpa ada yang mengawasi. Aku rasa hanya itu yang aku inginkan dalam hidupku. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin kalaupun hari ini adalah hari terakhir hidupku.

 

Lalu bagaimana hidupku? Sebenarnya tidak terlalu buruk. Hidup di tengah keluarga kaya raya yang memungkinkanku untuk meminta segalanya, meminta apa pun yang aku mau. Tentu saja hal itu berupa barang-barang. Barang mewah. Berbagai macam gadget canggih. Fasilitas mewah yang ada di ruang pribadiku. Bagaimana menurut kalian? Pasti sangat menyenangkan bukan? Tapi tidak terlalu bagiku. Aku bisa memiliki semua itu, aku bisa dengan mudahnya memiliki gadget keluaran terbaru tapi aku tidak bisa merasakan kebebasan di hidupku. Aku harus selalu berada di rumah besar nan mewah miliki Appa ini. Berada dalam pengawasan, tanpa melakukan apa pun karena segala sesuatunya telah dilakukan oleh para pelayan yang begitu banyak jumlahnya di rumah ini. Bagaimana dengan jalan-jalan atau bermain di luar? Oh, yang benar saja. Itu sama sekali tidak mungkin. Ehm, tunggu sebentar. Mungkin. Mungkin saja. Tapi dengan satu syarat, harus dengan pengawalan. Oh, God! Hidup macam apa ini? Bahkan usiaku saat ini sudah menginjak 18 tahun! Haruskah aku memiliki pengawalan seperti itu? Aku tau Eomma dan Appa menyayangiku. Sangat menyayangiku, oleh karenanya mereka tidak ingin aku terluka sedikit pun. Tapi, harus beginikah? Hhh…

 

Lalu apa aku tidak punya teman? Nyaris saja. Atau mungkin benar. Ya, aku tidak punya teman. Ralat. Tidak punya teman sebanyak gadis-gadis sebayaku, karena aku hanya mempunyai seorang sahabat. Ya, hanya satu orang. Park yoojin. Hanya dia yang setia menemaniku kemanapun aku pergi. meskipun konsekuensinya dia juga turut dijauhi oleh yang lain. Bagaimana tidak?! Siapa di dunia ini yang betah dikelilingi oleh pengawal-pengawal dengan badan tegap berpakaian hitam-hitam yang selalu memantau segala gerak gerik kita setiap saat? Bahkan di sekolahmu sendiri. Di kantin. Di kelas. Bahkan ketika kau harus ke toilet, para pengawal itu akan setia menunggumu di depan pintu masuk! Damn it! Aku benar-benar merutuki nasibku yang bisa dibilang sangat menyedihkan. Ya, teman-temanku yang lain memang menjauhiku. Mereka menatapku dengan tatapan aneh menyindir. Berlagak layaknya seperti seorang ratu dengan pengawalan yang bahkan mengalahkan pasukan pengamanan anak pemimpin negara. Aku lelah…

 

Setidaknya aku ingin sekali merasakan kebebasan. Tanpa pengawalan. Tanpa rasa khawatir dari Eomma dan Appa. Melakukan segala sesuatu yang kusukai. Bermain di luar. Berjalan-jalan ke taman bermain. Menikmati hari dengan tidak hanya oleh seorang teman. Mungkin di mata mereka aku merupakan gadis tegar. Dingin. Pendiam. Angkuh. Tapi sebenarnya aku tidak seperti itu. Itu hanya alibiku, alibi yang kugunakan untuk menutupi bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Aku ingin merasakan kebebasan. Sangat ingin, meskipun hanya untuk satu hari… bisakah?

 

Kyu’s pov

Apa yang paling kau inginkan di dunia ini? Menjadi kaya? Populer? Dipuja banyak yeoja? Ditakuti dan disegani? Tentu saja semua meinginginkannya. Siapa yang akan menolaknya? Begitu halnya aku. Beruntung aku memiliki semuanya. Kaya, menjadi idola para yeoja, populer, dan tidak ada seorang pun yang berani melawanku. Simple saja, karena aku termasuk seorang biang onar di sekolah. Hidup sesuka hatiku tanpa ada seorang pun yang berani melarangku. Orang tua? Ah, mereka tidak akan perduli padaku.

Lalu apa aku bahagia? Tergantung cara kalian memandangnya dari sisi sebelah mana. Jika dengan semua yang aku miliki, ya tentu aku bahagia karena ku cukup menikmatinya. Tapi bagaimana dengan yang lain? Bukankah hidup harus seimbang? Jika memiliki kepuasan jasmani, bukankah kita perlu kepuasan rohani? Kasih sayang mungkin? Atau merasa dicintai? Bahkan bisa membalas rasa cinta itu dengan sepenuh hati. Merasa diperhtikan. Dibutuhkan. Merasa dilindungi? Hhh… aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku merasakan itu semua. jangankan untuk aku ceritakan, mengingatnya saja aku sulit.

 

Teman? Jangan tanya. Tanpa aku perlu sibuk-sibuk mempromosikan diriku agar orang lain mendekatiku, semua orang dengan senang hati mendekatiku. Berteman denganku. Mungkin lebih tepatnya mencari aman. Karena jika mereka bersamaku, otomatis mereka juga akan ditakuti dan dengan mudahnya menindas mereka yang tidak mau menuruti perintahku. Bukan hanya itu saja. Menjadi idola diantara para yeoja juga menjadi hal yang patut diperhitungkan. Siapa yang tidak ingin dikenal di kalangan yeoja? Meskipun aku tahu, bahkan sangat mengerti. Mereka yang berteman denganku hanya ingin memanfaatkanku dan mengambil jalan aman agar tidak menjadi korbanku. Dengan segala yang aku miliki mereka bisa turut hidup enak. Turut menikmati fasilitas mewah yang tersedia. Bahkan mereka tidak perlu repot-repot membawa uang jajan ke sekolah karena aku akan dengan senang hati membayarkannya. Terlalu baikkah? Atau bodoh? Sebenarnya aku tidak terlalu perduli yang penting aku selalu bisa menjalani hidup sesuai kemauanku.

 

Tapi tak bisa kupungkuri, aku tidak akan bisa sanggup jika harus terus seperti ini. Semua orang menganggapku kuat. Pemberani. Tapi mereka hanya melihatku di luarnya saja. Karena satu pun dari mereka sama sekali tidak mengenalku. Tidak tahu apa yang aku rasakan ketika orang tua mereka dengan senang hati datang kesekolah memenuhi undangan orang tua murid ketika pengambilan buku penilaian di akhir semester. Lalu aku? Terlihat tidak mempermasalahkan, karena para pekerja orang tuaku juga akan dengan senang hati melakukan, ah ralat, menggantikan tugas majikannya. Hhh… aku tidak ingin seperti ini. Bisakah?

 

***

 

And the story begin…

“Bukankah sudah ku katakan padamu bahwa hari ini adalah giliranmu yang menyerahkan uang sakumu padaku?! Apa kau lupa, huh?!” bentakku pada adik kelasku yang bahkan aku tidak mengetahui namanya. Tsk. Apa itu penting? Aku menarik kerah bajunya.

“A.. Aku tidak lupa, s-sama sekali tidak. Bukankah sudah ku katakan bahwa aku tidak membawa uang saku hari ini?” jawabnya terbata dengan tatapan ketakutan.

“Cih… lalu apa aku percaya?! Geojitmal! Berikan padaku sekarang juga atau kau akan menerima akibatnya!” ancamku.

Mianhae, Sunbaenim. Aku benar-benar tidak membawa uang saku karena Eomma membawakanku bekal hari ini,” ucapnya lirih. Tidak menatapku.

Tsk…” aku mendorong tubuhnya hingga terhempas ke lantai. Menggidikkan kepalaku menunjuk bocah itu pada “pesuruhku” dan dengan segera dua diantara mereka bergerak mendekati tubuh bocah laki-laki yang kini terduduk di lantai.

Salah seorang dari mereka mencengkram kerah baju bocah itu kemudian melayangkan sebuah pukulan tepat ke arah wajahnya. Kini yang lainnya berusaha mengangkat tubuh bocah itu agar berdiri dan memegangi tangannya ke belakang, dan dengan segera aku mengarahkan tinjuku ke perutnya hingga ia mengerang kesakitan.

“Buukk”

Tubuhnya jatuh dengan bunyi debam pelan di lantai. Aku tahu saat ini kami sudah menjadi tontonan banyak murid. Namun, siapa yang perduli. Beberapa diantara mereka hanya berani memekik tertahan atau memandang iba pada bocah laki-laki itu tanpa berniat membantunya. Yang benar saja, jika mereka membantunya mereka pasti akan bernasib sama dengan bocah itu.

Aku kembali menarik kerah baju bocah laki-laki itu. Wajahnya sudah dihiasi dengan lebam akibat perbuatan kami. Aku mengarahkan telapak tanganku kepada “pesuruhku”, seperti mengerti apa yang ku maksud, mereka memberikan beberapa tumpukan buku ke tanganku.

“Ku dengar kau merupakan siswa yang pandai. Jadi bisakah kau mengerjakan semua tugas-tugasku? Semua harus selesai besok! Jika tidak… kau sudah tau kan apa akibatnya, hmm?” tanyaku kuakhiri dengan smirk-ku kemudian menyodorkan dengan paksa buku-buku ditanganku dan menghempaskan tubuhnya kembali ke lantai tepat ketika sepasang kaki berhenti di depan tubuh bocah laki-laki itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya gadis itu sembari membantu bocah laki-laki itu berdiri sementara bocah laki-laki itu hanya menggeleng tak berdaya. Cih.. laki-laki macam apa dia? lemah sekali!

Gadis itu menatapku tajam ku balas tatapannya lebih sengit dan lebih memajukan tubuhku ke depannya. Dia pikir aku takut padanya? namun dengan segera para pengawalnya memberikan pengamanan disekelilingnya. Tsk… apa-apaan dia ini? Dia pikir dia siapa? Mendapatkan pengawalan selama 24 jam! Yang benar saja. Apa dia pikir dia ini seorang putri?!

“Cih…” aku berbalik meninggalkannya diikuti dengan “pesuruhku” yang lain.

 

***

 

Na’s pov

“Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kelakukan bocah itu! Bertindak semaunya! Keterlaluan sekali!” gerutu Yoojin ketika kami akan pergi ke kantin, sontak membuat semua yang berada di koridor menyingkir. Karena apa lagi? Kalian pasti sudah bisa menebaknya.

“Sudahlah. Aku tidak perduli dengan apa yang dia lakukan, aku bahkan merasa kasihan. Apa dengan hidup seperti itu dia bisa merasakan bahagia?” ujarku menanggapi kata-kata Yoojin. Bodoh! bukankah aku juga mengatai diriku sendiri? Apa dengan hidup seperti ini aku bahagia?

“Apa orang tuanya tidak pernah mengajarkannya sopan santun atau berperilaku baik?” Yoojin masih tetap saja menggerutu kesal.

“Sudahlah, Yoojin-ah, untuk apa kau memikirkan kehidupannya? Itu urusannya, mengapa kau yang pusing?” ujarku sambil tertawa kecil.

Kami melanjutkan perjalanan kami ketika langkah kami akhirnya berhenti karena gerombolan yang berjalan berlawanan arah menuju arah kami. Para biang onar yang dikepalai oleh Cho Kyuhyun. Aku hanya tersenyum getir menatap mereka.

 

Kyu’s pov

Seperti biasa, tidak ada yang berani melawan kami. Jadi dengan segera koridor yang tadinya penuh kini menjadi sepi, semua menyingkir ketika kami lewat namun tidak dengan gerombolan yang ada di depan kami kini. Sang putri juga seorang dayang dan para ajudannya! Cih. Aku muak dengan sikapnya!

Mereka berhenti tak jauh dari kami. Lalu kami? Jangan harap kami akan mengalah! Kini kami mulai berjalan berlawanan. Sang putri itu berada di barisan paling depan. Kami berhenti tepat di depannya. Matanya lurus menatapku begitu juga sebaliknya. Wajah dingin nan angkuh miliknya, benar-benar menyebalkan!

Aku masih menatapnya ketika kami berjalan berselisihan, namun dia mengalihkan pandangannya. Tunggu dulu! Tatapan apa itu tadi? Mengapa tatapannya berubah? Mata itu… mata itu terlihat berbeda…

 

***

 

Na’s pov

“Tidak bisa!” jawab Appa tegas. Sontak nyalihku menciut.

Hajiman, Appa… aku mohon sekali ini saja. Aku tidak enak dengan Yoojin, dia pasti tidak nyaman dengan adanya pengawalan-pengawalan itu. Lagi pula aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku, jebal…” aku berusaha meyakinkan Appa agar mengijinkanku keluar tanpa pengawalan.

“Eunna-ya, kami mohon kau jangan melawan. Kami melakukan semua ini demi kebaikanmu,” eomma kini mengelus kedua pundakku.

Eomma…

“Jangan membantah, Na-ya!” seru Appa tegas membuatku terlonjak.

“Kalian keterlaluan! Kalian tidak menyayangiku! Sama sekali tidak!” Aku berlari meninggalkan Eomma dan Appa di ruang tengah menuju kamarku yang ada di lantai dua kemudian membanting pintu dengan keras sebagai tanda protes. Aku tahu Eomma kini menangis. Mianhae Eomma, tapi aku ingin merasakan hidup normal sama seperti yang lainnya.

Aku membenamkan wajahku pada bantal tidurku. Menangis tanpa suara.

 

***

 

“Yoojin-ah!” seruku sambil berlari kecil dan melambaikan tangan ke arahnya. “Maaf membuatmu menunggu,” ujarku kemudian ketika sudah berada di hadapannya.

Yoojin tersenyum. “Gwaenchana, eung?” Yoojin menatap kebelakangku.

“Maafkan aku, Jin-ah. sepertinya kita akan tetap dengan pengawalan hari ini,” ucapku lirih.

Yoojin mengehela nafas. Aku tahu dia kecewa. “Sudahlah, Na-ya. tidak apa-apa, yang penting kita bersenang-senang hari ini! Ok?!” ujar Yoojin sambil membuat lingkaran kecil dengan ibu jari dan telunjuknya.

Aku mengangguk semangat.

 

 

Aku dan Yoojin menaiki merry go round. Kami sengaja tidak menaiki kuda tapi sebuah kereta yang seolah ditarik oleh kuda karena kami kini berpura-pura menjadi seorang purtri yang sedang melambaikan tangannya pada rakyatnya yang sedang menyambut mereka. Setelah sadar beberapa anak kecil memperhatikan tingkah kami, kami malah tertawa lepas.

Setelah puas tertawa kami memutuskan untuk membeli es krim. Makanan kesukaan kami tentu saja. Kami berjalan sambil terus tertawa membicarakan apa saja yang dapat membuat kami melepaskan penat dari beban sekolah. Aku berjalan sambil tertawa menatap Yoojin ketika tiba-tiba tubuhku oleng dan terjatuh dengan mulus di tanah. Seseorang telah menabrakku.

“Yak! Lepaskan aku!” teriak seseorang tak jauh dari posisiku sementara Yoojin membantuku berdiri.

“Lepaskan dia!” teriak suara yang lainnya.

Aku mendongak menatap sosok yang kini sudah berada dalam pengamanan para pengawalku.

“Kau tidak apa-apa, nona?” tanya seorang pengawal padaku. Aku mnggeleng. Namun betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang telah menabrakku! Cho Kyuhyun?!

“Yak! Lepaskan!” pinta kyuhyun lagi mencoba brontak dari cengkaraman para pengawalku.

“Lepaskan dia. Aku tidak apa-apa,” ujarku.

“Cih!” umpat Kyuhyun pelan. Ia menatapku. Mungkin pada awalnya tatapan kesal juga amarah yang terpancar di matanya, tapi ketika mata kami bertemu, tatapan itu berubah. Berubah menjadi teduh.

Kyuhyun menatapku dengan tatapan, entahlah. Cemas?

“Kau… tidak apa-apa?”

 

Kyu’s pov

Lagi-lagi tatapannya berbeda. Hanya perasaanku saja atau memang tatapannya seperti itu. Tiba-tiba rasa cemas menyelimutiku. Bukan karena nasibku dengan adanya pengawal-pengawal ini, tapi aku lebih merasa cemas… padanya. Aneh bukan?

“Kau tidak apa-apa?” tanpa komando bibirku mengucapkan kata-kata itu yang sudah pasti membuatnya sedikit kaget dan kini mengernyitkan keningnya. Heran.

Dengan masih menatapku dia menggeleng pelan. Aku mengangkat bahuku tak acuh kemudian mengintruksi teman-temanku yang lain untuk meninggalkan tempat itu.

 

Na’s pov

“Dasar menyebalkan! Sudah membuatmu kacau seperti ini, dia meninggalkanmu begitu saja tanpa minta maaf?!” gerutu yoojin ketika melihat dress-ku yang kini terkena noda eskrim.

“Sudahlah, Jin-ah. tidak apa-apa. Temani aku ke toilet aku ingin membersihkan ini,” pintaku sambil menatap miris dress kesayanganku, dia hanya mengangguk dan merangkul lenganku.

 

 

“Kita akan kemana lagi?” tanya Yoojin ketika kami sudah keluar dari toilet. Beberapa orang memandang aneh kearah kami. Pasti karena beberapa pria berbadan tegap dan berpakaian hitam di sekeliling kami. Terserahlah, aku sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Aku tidak perduli.

Aku mengalihkan perhatianku kesekeliling taman bermain kemudian melihat sebuah permainan berbentuk lingkaran yang besar dengan ruang-ruang kecil berbentuk sangkar burung yang berputar sesuai lingkaran tersebut. Bianglala.

“Kita kesana!” teriakku antusias sambil menunjuk ke arah bianglala. Kami memang sengaja menikmati permainan-permainan yang terbilang aman. Aku menggamit lengan Yoojin dan berlari menuju loket karcis permainan tersebut kemudian turut mengantri dengan pengunjung lain.

Tak berapa lama tiba giliran kami untuk masuk ke arena bermain. Kami memberikan tiket yang kami pegang kepada petugas yang menjaga pintu masuk namun tiba-tiba seseorang menyenggol lenganku dengan gerakan sedikit kasar. Aku mengerang pelan, berharap para pengawal berpakaian hitam itu tidak melihat, karena masalah akan menjadi runyam. Aku menoleh kearah para pengawal yang berdiri agak jauh dari kami, karena mereka tidak mungkin ikut mengantri dengan kami, kemudian menoleh kearah pelaku yang menyenggol lenganku. Aku memutar bola mataku. Terkejut. I namja??

 

Kyu’s pov

Ya! Kyuhyun-ah, aku bosan dengan taman bermain ini, bagaimana kalau kita pergi ke karaoke?” usul Donghae dan segera diamini oleh yang lainnya.

Eo? Baiklah,” aku mengangkat bahu tak acuh. Namun segera ku hentikan langkahku ketika aku melihat dua orang yeoja berlari riang sambil tertawa menuju arah bianglala.

Hyung!” seru Henry ketika ia sadar aku tertinggal jauh oleh mereka.

Eo?” aku menoleh kearah mereka yang kini menatapku heran. Aku mengeluarkan beberapa lembar won dari sakuku kemudian memberikannya pada mereka.

“Kalian pergilah sendiri, aku masih ingin disini,” ujarku mantap langsung berbalik meninggalkan mereka dan berlari menjauh tanpa menghiraukan teriakan mereka.

 

 

Dengan segera aku memesan tiket di loket dan berlari menerobos antrian menuju antrian terdepan tanpa memperdulikan teriakan protes dari pengunjung yang lain. Aku menghentikan langkahku ketika tepat berada di sampingnya. Tanpa sengaja aku menabrak lengannya, mungkin sedikit keras hingga dia terlonjak kaget. Namun tatapannya jauh lebih menunjukkan rasa terkejut ketika ia tahu siapa yang menabraknya.

Kau?” desisnya. Terlihat sekali dia tidak suka melihat keberadaanku. Aku hanya mengangkat sebelah bibirku.

“Silahkan!” ujar seorang petugas ketika selesai memeriksa tiket Eunna dan Yoojin sementara aku dengan segera memberikan tiketku dan melesat masuk ke dalam bianglala yang sama dengan mereka membuat keduanya memekik tertahan.

“Aku boleh duduk disini kan?” tanyaku dengan senyum lebar.

Yoojin hanya membuka mulutnya tanpa berniat berkata apa pun, sementara Eunna menatapku penuh heran kemudian mengangkat bahu tak acuh menandai bahwa ia tidak keberatan.

“Terserah kau,” gumamnya namun cukup jelas ku dengar sementara yoojin segera memalingkan wajahnya dariku.

Oke. Ini aneh. Entah kenapa ketika melihat sorot matanya saat itu. Saat kami berpapasan di koridor aku sedikit tertarik pada “putri” di hadapanku. Ada sedikit rasa penasaran yang menggelitik dadaku. Entah apa. Tapi sorot mata itu sama sekali tidak bisa membohongi siapa pun yang melihatnya. Dibalik sosoknya yang dingin dan angkuh, aku yakin dia menyembunyikan sesuatu. Ia menutupi sesuatu dalam dirinya yang orang lain tidak tahu. Sama halnya sepertiku. Yah, mungkin itu alasan utama mengapa aku berniat mengikutinya hari ini. Memiliki kesamaan nasib? Haha… terdengar lucu bukan?

Eunna dan Yoojin terlihat asik menikmati pemandangan taman bermain dari bianglala yang sudah berputar menuju posisi yang paling atas ini. Sesekali mereka memekik kegirangan ketika melihat sesuatu yang menarik perhatian mereka kemudian tertawa bersama. Ya tertawa bersama, atau tidak. Mungkin hanya Yoojin saja yang benar-benar tertawa. Karena ekspresi Eunna begitu berbeda dengan ekspresi yang dimiliki oleh Yoojin. Yoojin bisa saja tertawa lepas dengan tatapan mata riang dan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia benar-benar bahagia, namun tidak dengan eunna. Ia tertawa. Ekspresinya nampak bahagia. Namun aku tahu pikirannya sedang tidak bersamanya. Ia tertawa tapi hanya menatap kosong. Tatapan sendu. Lelah. Apakah ada di dunia ini seseorang yang memiliki ekspresi seperti itu. Memaksakan dirinya untuk tertawa lepas padahal dia memiliki beban dalam dirinya? Lalu bagaimana denganku? Tidak-tidak, aku tidak begitu, bukankah sudah kukatakan, aku sudah cukup senang karena bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang ku inginkan?

Aku tersadar ketika salah satu dari mereka menatapku.

Ya, kemana teman-temanmu yang lain?” tanya Yoojin sedikit ketus.

Eo? Mereka sudah pulang lebih dulu, aku hanya malas pulang ke rumah, disini lebih baik,” sahutku tak acuh kemudian mengalihkan pandanganku ke luar jendela bianglala sebelum ekor mataku berhasil menangkap sorot mata gadis lain yang kini bersamaku. Ia hanya menatapku datar tanpa ekspresi.

 

Na’s pov

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran namja ini. Dari tadi dia hanya mengikuti kami. Mengikuti ke setiap arena bermain yang kami datangi tanpa perduli kami mengajaknya berbicara atau tidak kami menganggapnya ada atau tidak. Bahkan dia juga meyakinkan para pengawalku bahwa dia tidak akan menggangguku atau membahayakan keselamatanku. Benar-benar namja yang aneh. Apa semua namja yang menjadi biang onar selalu seperti ini?

“Biar aku saja!” ujarnya tiba-tiba sambil mengeluarkan beberapa lembar won dari sakunya ketika kami membeli kembang gula dan memeberikannya pada si penjual.

“Mwo?!” seruku terkejut namun dia hanya mengangkat sebelah bibirnya. Senyum yang sangat tidak kusukai. Senyum meremehkan.

“Aku bisa membayarnya dengan uangku sendiri,” ujarku dingin.

Ia mengernyitkan keningnya menatapku. “Aku tahu,” ia menatapku datar.

“Ehmm… sekarang kita kemana?” ujar Yoojin mencoba mencairkan suasana.

“Kalian lapar tidak?” tanya namja aneh itu kini.

Yoojin mengalihkan pandangannya pada kyuhyun dengan mata berbinar. Aku tahu kami sudah hampir seharian penuh menghabiskan waktu di taman bermain ini namun belum sempat makan apa pun.

“Bagaimana kalau kalian ku traktir hotdog?” ujarnya lagi. Hey! Kenapa sekarang jadi dia yang mengatur kami? Sayangnya Yoojin menyetujuinya, ia hanya mengangguk mengiyakan.

“Kebetulan sekali aku sudah lapar!” ujar Yoojin yang kini sudah berlari mengikuti Kyuhyun, mau tak mau aku turut mengikuti mereka. Apa kali ini dia juga akan menarik Yoojin menjadi antek-anteknya?

Mianhamnida, nona. Bukankah anda tidak boleh makan-makanan cepat saji?” aku mendongak menatap salah seorang pengawalku. Ah, dia benar. Eomma dan Appa memang melarangku memakan makanan cepat saji.

“Ah, ne. Aku lupa hal itu, Na-ya. Apa kau mau kita mencari restoran di sekitar sini?” ujar Yoojin kini sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling taman bermain.

“Ah, anniya. Tidak usah. Sesekali tidak apa, kan? Ajussi, jangan katakan pada Eomma dan Appa ya!” ujarku dengan wajah sedikit memelas.

Go Ajussi hanya menghela nafas.

Jebaalll…” kini aku mulai memohon.

“Baiklah, nona,” ujarnya akhirnya.

Aku tertawa riang sambil bertepuk tangan. “Kamsahamnidaaaa!!

Ajussi! Berikan aku satu!” teriakku kepada paman penjual. Aku melirik Kyuhyun yang ada di sampingku yang menatapku dengan tatapan heran. “Kau yang membayarnya kan?” tanyaku dengan senyum lebar.

Kyuhyun mengerjapkan matanya, menatapku setengah takjub sebelum akhirnya mengangguk sambil mengeluarkan senyum separuhnya.

Sepertinya aku harus memperbaiki penilaianku tentang si biang onar Cho Kyuhun. Dia terlihat tidak terlalu menyebalkan, kecuali senyumnya itu. Senyum separuhnya yang aku tidak suka.

 

***

 

Author’s pov

Kejadian di taman bermain saat itu membuat ‘perang es’ diantara Eunna dan Kyuhyun sedikit mencair. Meskipun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, namun bisa dikatakan hubungan mereka menjadi ‘sedikit’ membaik. Mungkin tidak ada yang tahu apa yang terjadi diantara mereka dan tidak tahu juga perubahan apa yang terjadi diantara mereka, karena seperti biasanya, seluruh murid di sekolah tidak ada yang mau berurusan dengan mereka sehingga tidak terlalu perduli. Yang mereka tahu Eunna dan Kyuhyun merupakan dua pihak yang berseteru namun perseteruan yang ditunjukkan tidak dengan sebuah pertengkaran tapi terlihat jelas dari gerak-gerik dan sikap mereka satu sama lain selama ini.

Namun tidak dengan hari ini. Ada sesuatu yang berbeda yang ditunjukkan oleh kedua remaja itu. Mereka tidak lagi menatap dengan angkuh dan dingin atau tidak mau mengalah ketika lewat di koridor yang sempit, dan yang paling penting kini mereka bisa saling melempar senyum kecil ketika mereka tidak sengaja berpapasan. Ya, hanya sebuah senyum kecil.

 

 

Perubahan lain yang mungkin sebenarnya tidak terlalu disadari keduanya adalah menyimpan rasa penasaran satu sama lain. Menyimpan… entahlah… adanya ketertarikan?

Kyuhyun beserta kelompok biang onarnya baru saja memasukin area kantin. Sontak semua murid yang memungkinkan berada di jangkauan kyuhyun menyingkir mengamankan diri. Namun satu yang membuat perhatian Kyuhyun teralih dua orang gadis yang tengah duduk manis di temani dengan beberapa pria dewasa berbadan tegap dengan pakaian hitam. Lagi-lagi Kyuhyun melemparkan senyum kecil kearah gadis itu sementara yang diberi senyuman hanya bisa membalas singkat dan menunduk, malu.

 

Na’s pov

“Itu, Khuhyun Oppa!” pekik seorang gadis yang berada tak jauh dari meja kami.

“Kyuhyun Sunbaenim!” teriak yang lain dan menyebabkan beberapa murid mulai berhamburan meninggalkan kantin, tidak lain karena tidak ingin terkena masalah.

Baiklah. Ini buruk. Para biang onar itu pasti sedang menuju kemari. Dengan malas ku raih sedotan yang berada di gelas jusku, menyedotnya perlahan. Tak berapa lama beberapa murid sudah berlari menyingkir dari pintu masuk kantin. Here they come…

Seperti biasa, Kyuhyun memimpin di barisan depan. Diikuti dengan para ‘pengikutnya’ yang aku tahu pasti mereka hanya mencari posisi aman di samping Kyuhyun bukan karena benar-benar ingin berteman dari laki-laki itu. Detik berikutnya, mata dingin laki-laki itu telah hinggap tepat di mataku. Kaget? Iya. Namun yang lebih membuatku terkejut adalah senyum yang dia lontarkan. Bukan. Bukan senyum separuh yang ku benci itu. Tapi senyuman yang terlihat…. Err… manis?

Aku mengerjapkan mataku beberapa detik sampai aku tersadar ternyata dia masih menatapku sebelum aku memutuskan untuk membalas senyumannya. Hanya sekilas kemudian aku menundukkan kepalaku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku yakin saat ini pipiku sudah bersemu merah karena malu.

Ku beranikan diri untuk mengangkat kepalaku untuk mentapnya dan… oh yang benar saja?! Mengapa dia masih melihat ke arahku?! Baiklah. Sejak kapan kau menjadi pengecut, Kim Eunna!? Alih-alih menahan rasa maluku, ku balas tatapannya. Namun aku juga bisa melihat Henry, Donghae, Eunhyuk, dan Jungsoo menyingkirkan beberapa anak yang berada di meja tepat di hadapan meja kami dan dengan segera Kyuhyun duduk manis di kursinya bersamaan dengan beberapa gadis populer sekolah yang turut menghampirinya. Tsk.

Aku tidak tahan! Berhenti menatapku, Tuan Cho! Kini aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

“Apa dia tidak bisa mencari tempat lain? Kenapa harus meja yang sudah ditempati? Bukankah masih banyak meja kosong?!” rentetan kekesalan yang dilontarkan Yoojin mengalihkan perhatianku.

Aku memutar bola mataku menatapnya. “Biang onar. Kau lupa? Mereka melakukan segala sesuatu sesuka mereka tanpa perduli orang lain suka atau tidak,” jawabku datar mencoba menutupi rasa gugupku. Terus terang, pimpinan biang onar itu sudah cukup membuat jantungku memompa lebih cepat hari ini dan membuat perasaanku menjadi kacau.

“Aku pikir dia merupakan seorang yang menyenangkan, mengingat kejadian di taman bermain waktu itu, ternyata…” Yoojin sengaja menggantung kalimatnya karena diantara kami berdua sudah tahu pasti kelanjutannya.

Aku mengangkat bahu tak acuh kemudian menyendok sup kimchi dihadapanku yang sudah mulai dingin. Tepat ketika aku mengangkat kepala, mataku kembali bersitatap dengan matanya dan kini ia mengeluarkan senyum menyebalkan miliknya. Ia mengangkat sebelah bibirnya.

 

Kyu’s pov

Hey! Ada apa denganku?! Ini pasti kesalahan. Mengapa aku seperti memiliki kesenangan tersendiri ketika memperhatikannya? Terutama matanya. Aku juga bisa melihat dia membalas tatapanku. Ha! Waeyo, Nona Kim? Kau baru tahu kalau aku ini tampan, hmm? Kubiarkan teman-temanku membereskan murid lain yang menduduki meja di depanku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku sengaja memilih meja yang tepat berhadapan dengan meja miliknya. Ketika semua beres, ku hempaskan berat tubuhku di atas kursi dengan tetap menatap matanya tanpa memperdulikan beberapa gadis yang kini juga sudah duduk di sebelahku. Harus ku akui, matanya cukup indah. Bening. Namun satu hal yang tidak aku mengerti, mata indahnya itu memancarkan tatapan sayu, ia terlihat lelah, dan seperti menyembunyikan sesuatu, entah apa itu.

Kini ia mengalihkan tatapannya dan menit berikutnya ia sudah terlibat pembicaraan bersama Yoojin. Aku tahu saat ini gadis itu tengah membicarakanku, dan itu pasti hal buruk, terlihat dari tatapan tajam Yoojin ke arahku namun Eunna tidak mengalihkan tatapannya padaku.

Ia mulai melahap makanan di hadapannya tepat ketika ia mengangkat kepalanya mata kami kembali bertemu dan tanpa sadar aku menyunggingkan senyum separuhku namun seketika itu tatapannya berubah. Aku mengernyitkan keningku. Wae? Apa ada yang salah?

Dan  tidak berapa lama ia dan yoojin melangkah meninggalkan kanitin. Entah kenapa aku merasa sedikit… kecewa. Mataku tidak lepas dari sosok tubuhnya sampai akhirnya ia menghilang di akhir koridor dan mulai berbelok.

 

***

 

Na’s pov

Ku lemparkan tubuhku ke atas kasur empukku. Benar-benar nyaman. Terkadang diam di kamar seperti ini tidak begitu buruk, mengingat semua fasilitas yang aku butuhkan ada disini. Televisi plasma, pemutar video, komputer dengan koneksi internet, lemari pendingin tempat menyimpan snack favoritku, playstation, ruang karoke, toilet pribadi , dan berbagai keperluan yang ku butuhkan. Kalau saja yang menempati kamarku adalah orang lain yang tidak bernasib sepertiku, aku yakin dia tidak akan pernah keluar dari kamar ini.

Aku menghela nafas kasar kemudian berguling ke sisi tempat tidur yang lain. Pikiranku tiba-tiba melayang kepada sosok namja pembuat onar itu. Kenapa harus dia? Aku tertawa kecil mengingat kejadian di kantin siang tadi. Mengapa dia terus menatapku seperti itu? Tapi… aku merasakan ada yang berbeda dengan tatapan itu. Tatapannya bukanlah tatapan yang biasa ia tunjukkan ketika membuat keonaran. Melainkan tatapan teduh yang menenangkan. Aneh memang, tatapan mata teduh dibingkai dengan wajahnya yang dingin. Bukan hanya itu, aku seperti melihat guratan kesedihan. Begitukah? Apa mungkin aku bisa melihat semua itu hanya melalui matanya? Seakan wajah dingin dan tatapan angkuh yang selama ini dia miliki hanya untuk menutupi dirinya yang sebenarnya. Tapi apa?

 

***

 

Kyu’s pov

Aish! Membosankan. Seperti biasa, kali ini aku akan memanfaatkannya untuk melarikan diri dari sekolah. Aku meminta ijin pada Sonsaengnim untuk pergi ke toilet, namun tentu saja aku tidak melakukannya. Itu hanya alasanku saja agar aku bisa keluar dari kelas dan kabur!

Aku berjalan dengan santai dengan tetap memperhatikan sekeliling menuju taman belakang karena area disana jarang diawasi dan memudahkanku untuk memanjat pagarnya dan melesat keluar sekolah. Aku mempercepat langkahku, setengah berlari, ketika aku sudah mencapai area taman belakang sekolah yang lumayan banyak di tumbuhi pepohonan rindang. Sebenarnya tempat ini juga sering digunakan beberapa murid untuk berpacaran. Haha.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangan kalau saja ada yang memergokiku. Setelah ku rasa aman aku mulai mengambil ancang-ancang untuk melompat ke atas pagar yang lumayan tinggi ini dengan bertumpu pada kedua tanganku.

Aku baru saja mengangkat tubuhku dengan kedua tanganku ke atas pagar pembatas ketika ku dengar suara seseorang memanggilku. Terkejut? Tentu saja! Habislah aku! perlahan ku tolehkan kepalaku menuju asal suara sampai aku menemukannya berdiri tepat di bawahku.

 

Na’s pov

“Fuhh…” aku mengehela nafas lega begitu keluar dari toilet. Aku baru saja akan melangkahkan kakiku kembali ke kelas ketika mataku menatap sosok yang tidak asing. Laki-laki berkulit putih pucat dengan tubuh yang tinggi dan tegap tengah mengendap-endap menuju taman belakang. Aku segera memalingkan wajahku menatap para pengawalku. Sepertinya mereka tidak sadar kalau aku sudah keluar dari toilet. Segera saja aku mengambil ancang-ancang untuk pergi dari tempat itu, untuk apa lagi? Tentu saja mengikuti laki-laki itu. Aku juga tidak tau alasan mengapa aku tertarik untuk mengikutinya. Kuikuti langkahnya yang mulai terburu-buru ke arah taman belakang sekolah. Aku yakin dia pasti mau membolos. Dasar setan kecil. Kenapa dia senang sekali melanggar semua peraturan sekolah? Apa dia tidak takut dikeluarkan?

Kini kyuhyun sudah setengah berlari dan ketika ia sudah sampai di depan pagar pembatas yang terbuat dari beton yang tingginya bisa dibilang lumayan tinggi itu, ia sedikit melompat agar tangannya dapat mencapai puncak pagar kemudian berusaha mendorong tubuhnya agar bisa naik ke atas pagar tersebut.

“Kyu…?” panggilku berusaha menahan dirinya.

Kyuhyun terdiam beberapa detik dalam posisinya, aku yakin dia terkejut, sebelum akhirnya ia menolehkan kepalanya perlahan dan menatapku, bingung.

“Na-ya?” gumamnya bingung sambil mengernyitkan keningnya.

Mwoya? Barusan dia memanggilku apa? ‘Na-ya’? sejak kapan kami menjadi akrab?

Aku melihatnya perlahan-lahan menuruni pagar pembatas tersebut.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku, meskipun aku sudah tahu pasti untuk apa dia ada disini ia hanya menjawabku dengan senyum menyebalkannya kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal, canggung.

“Melarikan diri? Membolos! Benar, kan?” tembakku yang langsung dibalas dengan tatapan dinginnya. Namun detik berikutnya ia hanya tertawa sinis.

Sonsaengnim pasti mencarimu,” ujarku tidak memperdulikan tatapan kesalnya.

Tsk. Aku bosan, aku tidak mau kembali ke kelas itu,” sahutnya ketus. Aku menghela nafas.

Hening.

“YAK! APA YANG KALIAN LAKUKAN?! KALIAN PASTI INGIN KABUR, KAN?!” teriak seseorang. Aku dan kyuhyun segera memalingkan wajah menuju sumber suara. Benar saja, Taewon Sonsaengnim tengah berdiri dengan berkacak pinggang memandang kami geram.

Animnida, Sonsaengnim. Kami tidak berniat ingin kabur, sungguh,” ujarku memberi pembelaan.

Geojitmal! Kalian pasti ingin melarikan diri kan? Ingin membolos! Dasar bocah tengil! Ikut aku ke kantor sekarang juga!” hardik sonsaengnim sambil menyeret lengan kami menuju kantor.

Dari jauh aku bisa melihat beberapa pengawalku berlari menghampiriku dengan berusaha melepaskan cengkraman sonsaengnim.

“Maaf tuan! Dia muridku, dan sudah sepantasnya menjadi tanggung jawabku!” ujar sonsaengnim tegas tanda menolak permintaan para pengawalku. Aku mengangguk menatap mereka, meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Beberapa murid mulai terdengar rebut dan mengintip melalui jendela ketika kami melewati beberapa kelas menuju kantor. Aku tidak suka melihat tatapan mereka. Pandangan meremehkan juga direndahkan. Apa tidak cukup bagi mereka dengan hanya tidak menyukaiku?

Lalu bagaimana dengan namja biang onar itu? Diam. Dia hanya diam saja, tapi sama sekali tidak ada gurat menyesal di wajahnya. Dia menoleh menatapku, sadar sedari tadi aku memperhatikannya. Ia hanya melempar senyum getir.

 

Kyu’s pov

“Sudahlah, Na-ya kau tidak perlu membantuku, aku bisa mengerjakannya sendiri,” kataku pada Eunna yang kini tengah sibuk menyikat westafel toilet.

“Eung? Siapa bilang aku sedang membantumu? Aku sedang menjalankan hukumanku. Kau tidak ingat kita berdua dihukum membeersihkan toilet karena ketahuan mau melarikan diri?” jawabnya santai kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Aku menatapnya lekat. “Mianhae,

Eunna kembali mengangkat wajahnya, menatapku.

“Untuk?”

“Membuatmu terlibat dengan masalahku. Seharusnya aku saja yang dihukum, karena hanya aku yang ingin melarikan diri,”

Ia tertawa kecil. “Sudahlah. Ini juga salahku, salahku kenapa tertarik untuk mengikutimu diam-diam. Sudah bagus kita tidak di-skors, hanya disuruh membersihkan toilet,”

Aku mengangkat bahu tak acuh sementara Eunna hanya melemparkan senyum kecil yang menurutku terlihat manis. Mwo?! apa-apaan aku ini?! Aku memukul kepalaku sendiri, merutuki pikiran-pikiran bodohku yang keluar tidak pada tempatnya.

Wae?” tanyanya. Sepertinya ia memperhatikan tingkahku. Aku menggeleng cepat.

Anniya,

Ia menatapku heran. Tatapan itu lagi. Ekspresi matamu itu tidak bisa kau sembunyikan, Na-ya. eung? Kenapa aku jadi senang memanggilnya seperti itu? Biarlah, bukankah itu panggilan yang bagus?

“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?” gumamku lirih.

Mwo?” nampaknya ia mendengar gumamanku.

Anniya, anniya,” aku menggeleng cepat kemudian kembali sibuk dengan tugasku.

Hening.

“Sekali lagi aku minta maaf, Na-ya,” kataku memecah keheningan. Aku tidak suka suasana hening.

Kali ini Eunna benar-benar menghentikan tugasnya. Berbalik menatapku dengan kedua tangan melipat di dadanya. “’Na-ya’? sejak kapan kita menjadi akrab?”

Aku mengernyitkan keningku.

 

***

 

Na’s pov

“Kau yakin Kyuhyun tidak melakukan apapun kemarin?” tanya Yoojin penasaran dengan perubahan sikap kami.

“Kau ini bicara apa, Jin-ah. tentu saja tidak,” jawabku. Sudah beberapa kali aku dan Kyuhyun bertatap muka hari ini dan kami sudah tidak canggung lagi untuk saling menyapa bahkan mengobrol sebentar.

“Kau yakin? Mengapa hari ini kalian terlihat seperti ber-te-man?” ujar Yoojin dengan mengeja perlahan kata ‘berteman’.

Aku tertawa lepas. “Kau ini bagaimana, Jin-ah? bukankah kita semua yang ada di sekolah ini berteman?” jawabku santai namun Yoojin segera mengerucutkan bibirnya.

“Terserahlah,” sahutnya.

Ya! Park Yoojin! Kau cemburu karena aku mulai dekat dengan Cho Kyuhyun? Kau menyukainya?” tanyaku sekenanya yang segera disambut dengan tatapan tajam miliknya.

Arasseo, kau tidak menyukainya,” ujarku kemudian terkikik geli dengan sikap sahabatku yang sudah hampir tiga tahun ini menemaniku.

“Sudahlah! Aku lapar!” sergah Yoojin mengalihkan pemibicaraan dan menarikku menuju kantin.

 

***

 

Na’s pov

Sudah lewat beberapa minggu sejak peristiwa dimana aku memergoki sang biang onar, Cho Kyuhyun, ingin melarikan diri. Jika mengingat kejadian itu aku terkadang tertawa sendiri. Bagaimana jika aku malah ikut dengan Kyuhyun melarikan diri? Mengingat bahwa itulah keinginan terbesarku. Bebas dari pengawalan, menikmati dunia luar yang sama sekali tidak pernah ku rasakan.

Hubungan kami memang sudah tidak seburuk beberapa bulan lalu. Meskipun hanya orang-orang disekeling kami yang tahu apa yang terjadi diantara kami, bahwa kami sudah mengakhiri ‘peperangan’ yang entah kapan dimulainya dan entah siapa yang memulai. Tapi boleh dikatakan hubungan kami mulai membaik dan mau tidak mau hal itu turut membuatku merasa… senang? Namun yang membuatku merasa lebih senang adalah perubahan sikap laki-laki itu. Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah mendengar keributan-keributan yang biasanya ditimbulkan olehnya juga teman-temannya, dan itu justru membuat murid-murid yang lain merasa heran.

 

 

Sekolah baru saja usai. Aku dan Yoojin melangkah keluar kelas, setelah ini kami berencana bermain di rumahku. Aku sudah mengatakan pada Yoojin kalau aku mempunyai drama terbaru yang salah satu pemainnya merupakan aktor favoritnya, sontak ia langsung tertawa girang dan memutuskan untuk bermain ke rumahku.

Baru beberapa langkah kami keluar kelas, Donghae memanggil Yoojin dan mengajaknya berbicara. Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ia memanggil Yoojin?

Sebelumnya Yoojin berpamitan sebentar padaku dan berjalan mengikuti Donghae sementara aku menunggu disini. Aku menatap arloji di tanganku, hanya mencoba mencari kesibukan selama menunggu Yoojin. Aku bisa melihat Yoojin dan Donghae saling berbicara, namun aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

“Greb”

Aku merasa seseorang menarik lenganku menjauh dari tempat itu. Lengan kekarnya melingkar sempurna di sekeliling bahuku membuatku benar-benar terkejut. Aku baru saja akan berteriak namun orang asing itu segera membekap mulutku dan membawaku menaiki tangga darurat menuju atap gedung. Mau apa dia?! Aku mencoba melihat orang asing yang menarik tubuhku secara tiba-tiba. Namun mataku segera membulat. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Apa yang laki-laki ini lakukan? Wajahnya terlihat sangat serius. Apa yang akan dilakukannya terhadapku?

 

Kyu’s pov

Bagus! Donghae sudah berhasil mengalihkan perhatian Yoojin. Kini hanya tinggal tugasku ‘menculik’ putri dengan pengawalan ketat itu. Aku memperhatikan para pengawal Eunna yang terlihat tidak begitu memperhatikan anak majikannya. Dengan segera aku mengambil kesempatan. Dengan segera aku menarik lengan Eunna dan meraihnya dalam dekapku. Ia meronta karena kaget, tapi aku tidak membiarkannya lolos. Aku membawanya menuju tangga darurat dan menggiringnya menuju atap gedung. Ia meronta mencoba melepaskan tanganku namun aku berhasil menahannya tapi aku tidak menahannya ketika ia berusaha melihat wajahku. Ia segera membelalakkan matanya.

Aku terus menggiringnya menuju atap gedung namun kini sudah tidak membekap mulutnya, beruntung dia tidak banyak bertanya hingga kami sampai di tempat tujuan. Aku mengayunkan pintu yang menjadi akses utama menuju atap gedung sekolah dan mempersilahkannya lewat lebih dulu.

“Jadi apa maumu?” tanyanya ketus.

Aku menoleh padanya. tersenyum canggung. Sial, mengapa jantungku berdegup secepat ini?

Eo? Ehmm… aku hanya ingin.. mengobrol sebentar! Ya, mengobrol. Aku ingin mengobrol denganmu,”

Kulihat dia mengernyitkan keningnya. Bingung.

“Maksudmu?”

Aku mengerang frustasi sambil mengacak rambutku yang dari tadi sudah kelihatan berantakan dan gerakan tak beraturan tanganku membuatnya lebih berantakan.

“Aish! Sudahlah. Kalau kau mau pergi dari sini sekarang juga tidak apa-apa,” kataku menyerah kemudian menghempaskan tubuhku ke lantai dan menyandar punggungku di dinding terdekat.

Aku menatapnya yang terdiam menatapku. Lagi-lagi ia mengernyitkan keningnya, menatapku dengan tatapan bingung. Namun sesaat kemudian ia mengangkat bahunya tak acuh dan turut menempatkan dirinya duduk di sebelahku membuatku tergelak.

“Kau? Bagaimana jika pasukan pengamanmu mencarimu? Mengapa kau masih disini?” tanyaku heran.

“Itu salahmu! Salahmu karena sudah membawaku kemari, lagi pula bukankah tadi kau bilang ingin mengobrol denganku? Apa yang ingin kau bicarakan?” ujarnya santai sambil menyibakkan rambutnya panjangnya yang tergerai dan hal itu cukup membuatku terkejut.

Aku memposisikan tubuhku menghadap dirinya, menarik nafas dalam mencoba menenangkan detak jantungku yang mulai berdetak tak beraturan. “Na-ya…”

“Hmm?” ia menoleh menatapku.

 

***

 

Na’s pov

“Kau…  jadilah yeojachingu-ku!”

 

Kata-kata Kyuhyun terus berputar dikepalaku. Seperti kaset rusak yang pitanya mulai kusut. Berputar berulang kali. Permintaannya, bukan, mungkin lebih tepat perintahnya, karena memang terdengar seperti itu, yang memintaku untuk menjadi… yeojachingu-nya?

Ya Tuhan! Yang benar saja!? Apa ini nyata? Aku tidak tahu saat ini aku merasa senang atau justru sedih. Tapi aku rasa aku kini merasakan keduanya. Seorang Cho Kyuhyun, Cho Kyuhyun seorang pimpinan biang onar sekolah yang paling ditakuti dan juga diminati banyak yeoja, memintaku untuk menjadi yeojachingu-nya? Pasti otak namja itu sudah mulai rusak! Apa yang ada di pikirannya sampai dia berani berkata seperti itu? Apa dia mau aku babak belur dihajar seluruh yeoja yang ada di sekolah karena ulahnya?

Baiklah, jika aku boleh jujur, sebenarnya aku merasa cukup senang. Entahlah, tapi sepertinya aku juga mulai menyukainya, mungkin kami memiliki perasaan yang sama, tapi aku juga tidak begitu yakin. Namun disisi lain, aku juga merasa sedih, sangat sedih. Bukan karena yang menembakku adalah seorang Cho Kyuhyun, berandal sekolah yang selalu membuat masalah, namun justru aku juga tidak mau membuat Kyuhyun kecewa padaku. aku tidak mau melihat Kyuhyun tersakiti karenaku. aku tidak mau Kyuhyun terlibat dalam kehidupanku, masalahku, masalah yang aku sendiri bahkan tidak tahu apa jalan keluarnya. Sebenarnya aku memang sudah lama memperhatikan Kyuhyun, memperhatikannya secara diam-diam hanya karena tatapan matanya. Tatapan matanya yang dingin namun menenangkan dan terkadang terlihat begitu teduh. Aneh? Memang. Tapi begitulah perasaanku. Tapi aku tidak tahu apa perasaan seperti ini bisa dibilang perasaan suka? Atau hanya kekagumanku saja?

Namun tetap saja aku tidak bisa! Aku tidak mungkin menjadi yeojachingunya meskipun disisi lain aku sangat menginginkannya. Aku tidak bisa…

Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan ku katakana pada Kyuhyun besok jika aku bertemu dengannya. Apa aku masih sanggup menatap matanya? Menatap mata yang mungkin akan terlihat guratan sedih bahkan kekecewaan?

 

***

 

Author’s pov

Sejak sampai di sekolah Eunna selalu berusaha menghindari Kyuhyun. Jika ia melihat sosok Kyuhyun dari kejauhan, dengan segera ia mengambil langkah seribu untuk mencari jalan lain atau bahkan berjalan memutar balik dan sikapnya itu segera menyita perhatian sahabatnya, yoojin, yang mau tidak mau harus ikut merasa pusing karena berputar-putar keliling sekolah.

Ya! Kim Eunna! Mwoaneun geoya?!” bentaknya kini membuat eunna tersentak kaget.

Wae?” tanya Eunna bingung.

“Seharusnya aku yang bertanya! Wae?! Wae geurae?! Mengapa sedari tadi kau hanya terus berbalik arah atau memutar mencari jalan lain jika ingin ke suatu tempat, dan kali ini kita harus berputar keliling sekolah hanya untuk mencapai gedung perpustakaan yang bahkan kita sudah hampir mencapainya tadi, tapi kau memilih untuk berjalan memutar,” jelas Yoojin panjang lebar yang mulai menyadari keanehan sikap sahabatnya.

Eo? Anniya. Aku hanya ingin berkeliling, Jin-ah. Apa kau tidak mau menemaniku?” Eunna mencoba memberi alasan.

Yoojin mengernyitkan keningnya, kedua matanya mulai meyipit, meskipun hal itu justru membuat matanya nyaris hilang. “Tidak! Aku tahu pasti ada yang kau sembunyikan!” sergah Yoojin. Harusnya Eunna menyadari kalau temannya ini terlalu cerdas untuk bisa dia bohongi.

“Ehmmm….”

“Ah! Aku tidak ada melihatmu menemui Kyuhyun sepanjang hari ini, Na-ya. apa kalian bertengkar? Apa ini yang membuatmu berputar-putar seperti ini? Apa kau menghindarinya?”

Skakmat! Batin Eunna. Yoojin memang terlalu cerdas. Semua yang dikatakan Yoojin memang benar, namun mereka tidak bertengkar.

Eunna menghela nafas. Tidak ada gunanya berbohong di depan Yoojin.  Penciumannya terlalu tajam untuk hal-hal seperti ini. Eunna yakin, jika kelak Yoojin menjadi seorang detektif, ia pasti akan menjadi seorang detektif yang berhasil! Bahkan mungkin keahliannya bisa menyamai Sherlock Holmes!

“Benar kan?” Yoojin memastikan dugaannya dengan bertanya pada eunna. Eunna menganggukan kepalanya perlahan.

“Tapi kami tidak bertengkar, Jin-ah, sungguh,”

“Lalu?”

Eunna baru saja akan membuka mulutnya guna memberi penjelasan pada Yoojin ketika mereka mulai berbelok di tikungan akhir koridor menuju perpustakaan dan suara seseorang mengegetkan mereka, terutama Eunna.

“Jadi kau lebih memilih untuk menghidariku, Na-ya?” tanya orang itu dingin.

Eunna membelalakkan matanya melihat sosok yang kini sudah mengahadang mereka. Kyuhyun berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan dingin dan senyum separuhnya.

Ia maju selangkah mendekati Eunna, namun para pengawal Eunna sudah lebih dulu membuat ‘pagar pembatas’ di sekeliling eunna. Kyuhyun tertawa sinis.

“Aku yakin kita masih memiliki suatu hal penting yang harus kita bicarakan, Na-ya,” ujarnya lagi yang jelas membuat Eunna tidak berkutik. Namun ia juga tidak bisa terus menghindar. Mau tak mau Eunna mengangguk lemah.

 

***

 

Kyu’s pov

Aku mengajaknya ke atap gedung sekolah. Karena disitulah tempat yang menurutku aman. Aku tidak habis pikir, kemana dia seharian ini? Aku sudah lelah mencarinya, aku tahu dia pasti sedang menghindariku, lalu kenapa? Apa alasannya? Apa dia tidak tahu dia sudah cukup membuat hidupku tidak tenang seharian ini?

Aku menghela nafas kasar. Aku sudah tidak mau basa-basi. Sudah bukan waktunya. Aku hanya butuh jawabannya sekarang dan aku harap itu tidak mengecewakan. Aku beralih menatapnya yang berdiri di sampingku, hanya menunduk.

“Langsung ke pokok masalahnya, jadi… apa jawabanmu?” tanyaku, ia mengangkat kepalanya menatapku. Ku balas tatapannya lekat. Jujur saat ini aku merasa gugup. Namun aku berusaha keras agar tidak terlihat olehnya.

“Kyu… aku…” ujarnya terlihat ragu.

“Cukup katakan ya atau tidak, hanya itu, Na-ya,” sergahku tak sabar.

Ia menatapku sayu. “Kyu…”

“…”

“Kyu… mianhae,

 

= To Be Continued =

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s