Jong-Shin Slight Scene : Kiss The Rain

jongshin slight

Sore itu Jong Woon masih betah bersandar di kursi, kedua matanya terpejam mendengarkan alunan musik dari earphone yang terpasang di telinga. Dentingan melodi dari pianist favoritnya Yiruma memainkan harmoni Kiss The Rain.

Tiba-tiba kedua sudut bibir Jong Woon tertarik membentuk senyuman kecil. Tanpa ia sadari, kepalanya mulai dipenuhi oleh memori bersama seorang gadis yang sejauh ini menjadi sosok paling berpengaruh dalam hidupnya. Terlebih hatinya.

Sudah dua hari ini Jong Woon tidak bertemu Shin Yeong. Ia membiarkan sang istri pergi ke Daegu untuk bertemu keluarganya disana. Sementara ditinggal Shin Yeong, ia justru sibuk di kantor mengurusi berbagai hal. Banyak sekali tugas yang harus diselesaikan, mengingat ia juga baru saja membuka cabang perusahaan di Jepang.

Sebenarnya Shin Yeong juga tidak terlalu rela meninggalkan Jong Woon sendirian disana, tapi gadis itu tidak punya pilihan karena neneknya di Daegu juga sedang sakit. Jangan tanyakan apa respon Jong Woon mengenai hal itu, ia memiliki kepribadian yang terlalu sempurna sebagai sosok suami. Tidak usah mengira-ngira apa saja yang sudah dilakukan Jong Woon untuk keluarga sang istri. Meskipun banyak sekali ketidaksetujuan Shin Yeong dengan semua tindakan yang Jong Woon lakukan, tapi pria itu selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk keluarga sang istri. Jika diibaratkan bahwa ia sudah memegang hak kepemilikan sepenuhnya terhadap Shin Yeong, tapi dia tidak ingin membatasi interaksi gadis itu dengan keluarganya sendiri.

Pintu itu terbuka secara  perlahan, dapat kulihat keduanya memasang wajah ketakutan mereka. Aku ingat namanya sekarang, Kim Shin Yeong dan Song Ji Eun, 2 gadis pembawa malapetaka.

“Annyeonghaseyo…” sapanya kaku. Keduanya tidak ada yang berani mengangkat wajah untuk menatapku.

“Aku tak tahu harus berbicara apa tapi kalian berdua, aissh.. benar-benar pembawa masalah! ARA?” ujarku tegas dan sedikit menekan di kalimat akhir.

“YAK! SA-JANG-NIM, ku rasa kau yang pembawa masalah. Semenjak kedatanganmu kemarin kami terus menerus di dera berbagai macam masalah. Sudah sebulan kami bekerja di tempat ini. Dan sebelum kau datang, kurasa semuanya baik-baik saja. Bahkan hidupku penuh malapetaka setelah bertemu denganmu.” Kim Shin Yeong mendongakkan wajahnya dengan angkuh ke arahku. Heh? Mwoya? Pegawai macam apa yang berani membentak atasannya seperti ini? Memang tidak waras, dasar yeoja aneh.

“Neo… berani sekali kau!!” aku membulatkan mataku dengan tatapan sadis. Tapi itu tidak membuatnya takut, dia malah balik menatapku tajam meskipun temannya sudah berusaha untuk mencegah sikap keterlaluannya itu.

“Kau bahkan belum meminta maaf atas perbuatanmu kemarin dan sekarang mau menuduh Ji Eun dengan status tanpa bukti seperti ini? Apa kau sudah bosan hidup?” tambahnya lagi. Kali ini dia berkacak pinggang menantangku.

“Jangan pernah mengungkit masalah kemarin lagi, atau aku akan memecatmu sekarang juga!” aku menggebrak meja dan segera bangkit dari posisiku menghampiri mereka.

“Oh jeongmalyeo? Aku tidak takut dan memang aku sudah memikirkannya dari kemarin, Tuan Kim Jongwon.  Aku lebih suka berdiri seharian di bawah terik daripada harus melihat wajahmu walaupun hanya sedetik!” ujarnya masih dengan tampang angkuh yang terlihat sangat menyebalkan.

Apa yang dia katakan? Baru kali ini aku mendengar seorang yeoja dengan terang-terangan berbicara seperti itu dihadapanku. Ah benar dia itu memang tidak normal.

“Dan aku lebih suka berada dalam salt room di Jincilbang selama 24 jam dibandingkan harus melihat batang hidungmu, gadis trans gender!” balasku tak kalah galaknya.  Song Jieun hanya menonton pergolakan kami dengan wajah tanpa dosa. Ku lihat dia memegang hidungnya sekilas setelah mendengar teriakanku.

Kali ini tanpa di sadari Jong Woon tertawa. Ia membuka mata, memijat tengkuknya karena merasa malu dengan apa yang sedang ia pikirkan. Jika diingat-ingat, pertemuannya dengan Shin Yeong memang bukan sebuah pertemuan manis seperti film romantis yang pernah ia tonton. Tapi pertemuannya dengan gadis itu justru memberikan banyak kesan yang tidak terlupakan untuknya. Ciuman pedas rasa tteukboki dan makian kasar serta umpatan kesal, terdengar sangat tidak menarik. Tapi justru itulah yang terjadi padanya.

“Ah… paboya… memikirkanmu seperti ini membuatku semakin merindukanmu.” Jong Woon mendesah berat. Pria itu memutar kursinya menghadap ke jendela besar. Ruangan kerjanya memang di desain khusus agar tetap terang meskipun tanpa lampu. Jika ia mengingat phobianya terhadap gelap, maka yang ia ingat saat itu juga Shin Yeong. Secara tidak langsung, gadis itu yang membuatnya sembuh. Menurut dokter pribadinya, Jong Woon memang masih bisa kembali menderita myctophobia, tapi kemungkinan itu sangat kecil jika Jong Woon tetap bisa mengontrol dirinya. Apalagi, sampai saat ini ia masih tidak berani menggunakan elevator ataupun tidur dengan lampu mati. Perubahan besar yang bisa ia rasakan adalah, ia tidak perlu menyimpan senter kecil di dalam tasnya lagi.

“Hujan….” Jong Woon bergumam kecil. Ia bisa menyaksikan tetesan air dari langit yang turun kemudian menjadi deras. Beberapa menit lagi ia sudah harus pulang kerumah, tapi jika hujannya deras seperti ini ia yakin jalanan akan macet. Lagipula, jika tidak ada Shin Yeong dirumah, rasanya ia juga tidak ingin cepat-cepat pulang. Rumahnya lebih sepi dari pada kantor, karena keluarganya yang lain juga pasti akan sibuk di kafe sampai jam 11 malam.

Dentingan piano Yiruma masih terputar dengan nyaman. Alunan pelan itu mungkin bisa membuat sebagian orang yang mendengarnya merasa ngantuk, ditambah suasana hujan deras seperti ini. Tapi untuk Jong Woon, melodi itu justru membuatnya merasa terbawa ke masa lalu. Di waktu-waktu yang meninggalkan bekas nyata di dalam kepalanya. Kesan manis yang ia lewati bersama gadisnya.

“Kenapa kau ada disini malam-malam seperti ini?”
“Listrik dirumahku mati?”

“MWO?”

Dia membulatkan matanya menatapku. Mulutnya menganga lebar seakan tak percaya. Sebuah ekspresi yang terlihat sangat berlebihan. Aku kembali beringsut dari dudukanku kemudian menyandarkan punggung ke sandaran sofa dengan lebih nyaman.

“Listrik dirumahku mati. Dan kamarku menjadi gelap.” Jelasku.

“Lalu memangnya kenapa kalau gelap? Huh? Apa eomma-mu tidak ada. Jadi tidak ada yang menemanimu dan menepuk punggungmu sampai tertidur? Aish, menggelikan.”

Dia mencibirku dengan tatapan sinisnya. Tidak tahu kenapa, aku sangat suka dengan tampang menyebalkannya itu. Dia terlihat sangat imut.

“Berhenti meledekku. Aku sedang berbicara serius.
“Lalu apa masalahnya jika kamarmu gelap?”
“Aku menderita myctophobia”

Kim Shin Yeong, satu-satunya gadis yang secara terang-terangan bisa ia jadikan tumpuan. Satu-satunya gadis yang bisa dengan leluasanya ia ceritakan keluh kesahnya, dan segala kekurangan dalam dirinya. Jelas itu bukan pribadi seorang Kim Jong Woon. Ia bukan tipe pria yang dengan mudahnya membagi-bagi masalahnya pada orang lain. Ia mempunyai kekuatan invisible untuk menyelesaikan segala masalah orang lain. Tapi setelah bertemu Shin Yeong, ia justru menemukan kekuatan invisible dari gadis itu, yang hanya untuk dia saja.

Di akhir tahun 2011, Jong Woon mempersunting Shin Yeong menjadi istrinya. Pernikahan mereka menjadi moment paling berharga. Hampir 2 tahun mereka hidup bersama, saling melengkapi, saling menghargai, dan saling mencintai. Tidakah menjadi pasangan itu adalah impian setiap orang? Terutama menjadi pasangan dari seseorang yang paling ingin di bahagiakan.

“JONG WOON OPPA…”

Aku mendengar suara nyaring seseorang yang sedang tergesa-gesa menghampiriku. Semua orang yang sedang berada disini menjadikannya sebagai pusat perhatian. Entah karena suaranya atau memang karena tampang imutnya yang benar-benar menggemaskan. Dia tampak sangat kusut dan rambutnya sedikit berantakan. Keringat di dahinya terlihat jelas. Dan lehernya. Ya Tuhan, kenapa aku sangat suka melihat leher gadis itu. Kim Shin Yeong, ada apa dia meneriakiku seperti itu?

“Yeongi-ah, ada apa kau menemuiku di sini?”

“OPPA, APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, HUH? KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU?”

Oppa? Sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan seperti itu? Ah, aku tau. Kali ini ada Hyorin nuna di hadapannya dan dia mulai ber-akting manis. Tapi kenapa dia malah meneriakiku seperti itu? Apa yang salah. Dan lagi, kenapa dia sampai menyusulku ke tempat ini? Aneh sekali.

“Shin… Shin Yeong-ah… apa… maksudmu?”

“AKU HAMIL…”

“MWORAGO?”

“KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU? HIKS… AKU SELALU MEMPERCAYAIMU, HIKS… BAHKAN AKU RELA MEMBERIKAN SEMUANYA UNTUKMU, KAU TELAH MENGAMBIL HAL YANG PALING BERHARGA DALAM HIDUPKU, HIKS… TAPI APA YANG AKU DAPAT DARIMU? APA KAU MENCOBA MENIPUKU? OPPA… BAGAIMANA DENGAN ANAK KITA? HUWAAAAAAAAAAAA…”

Aku hanya bisa ternganga melihat dia yang terus saja berteriak sembari menangis.Rasanya lantai ini mulai berputar kencang dan kepalaku tiba-tiba menjadi sakit.  Oke Kim Shin Yeong harusnya aku menenggelamkan diriku ke dalam Sungai Han sekarang juga. Kau sukses membuatku malu di hadapan Hyorin nuna, dan semua orang yang berada di tempat ini.

Hamil? Ya Tuhan, cabut nyawaku sekarang juga.

Deruan angin di luar sama sekali tidak menggubris Jong Woon. Yang ia dengar hanya nada-nada lembut dari earphone-nya. Sudah berapa kali ia memutar ulang Kiss The Rain? Mengingat suasananya sangat tepat, jadi pria itu sangat betah duduk di kurisnya dengan banyak sekali kepingan memori yang memenuhi kepalanya.

Tapi di tengah kenikmatannya terbuai dalam dentingan piano, tiba-tiba ponselnya bergetar. Pria itu segera meraih dan seketika tersenyum lebar membaca nama kontak yang tertera di sana.

Apakah benar, jika dua orang yang saling mencintai itu bisa saling merasakan keinginan satu sama lain meskipun terpisahkan dalam jarak dan tanpa saling mengatakannya? Ia kira hanya anak kembar saja yang katanya punya ikatan batin.

Yeoboseyo…” Shin Yeong menyapa duluan.

“Eum….”

“Apa-apaan ini?” Gadis itu mendengar balasan singkat Jong Woon langsung menunjukkan protes. “Aku meneleponmu, tapi yang kau katakan hanya “Eum?” sepertinya kau sangat malas berbicara denganku.” ia langsung merepet.

“Eiy… sensitive sekali. Kau sedang hamil ya?”

“MWORAGO?” Shin Yeong menjerit kaget. Jong Woon tertawa kecil. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan. Entah kenapa akhir-akhir ini ia senang sekali meledek Shin Yeong dengan sebutan yang satu itu. Ia tahu istrinya akan merasa sangat tidak nyaman jika Jong Woon membicarakan tentang keinginannya untuk punya bayi.

Sajangnim yang terhormat… jangan buat aku menutup sambungan teleponnya.”

Araseo… aku juga sedang tidak ingin diteriaki olehmu.” Jong Woon mengalah.

Sementara itu, dibalik percakapan mereka. Shin Yeong sedang duduk di teras depan kediaman neneknya. Rumah tradisional yang masih menggunakan bara api sebagai penghangat di balik lantai. Rumah panggung yang cukup luas di desa tersebut. Tidak bisa ia pungkiri, rumah sang nenek adalah tempat yang paling sering ia kunjungi sebelum menetap di Seoul untuk menempuh pendidikan. Shin Yeong memang bukan putri dari keluarga kaya raya. Orang tuanya hanya pemilik kedai jajangmyeon pinggir jalan yang terkadang harus mengangkat meja dan kursi yang sudah disusun rapih jika hari hujan.

“Gerimis….”

Shin Yeong paling senang jika tiba-tiba tetesan air turun dari langit sedikit dem sedikit. Goyangan agin di dahan-dahan pohon yang ada di depan rumah membuat Shin Yeong betah berlama-lama menyaksikan pertunjukan alam itu.

“Apakah disana hujan turun?”

“Iya, deras sekali. Karena hujan, aku juga terjebak di kantor. Tidak tahu bisa pulang jam berapa.” jawab Jong Woon.

“Apakah kau makan dengan benar selama aku tidak berada disana?” Shin Yeong mengkhawatirkan Jong Woon. Makin lama usia pernikahan mereka, gadis itu semakin banyak menaruh perhatian pada Jong Woon. Bahkan untuk urusan makan dan juga pakaian yang akan dipakai ke kantor. Gadis itu melayani suaminya dengan baik. Perannya sama seperti istri tradisional yang mengemban amanat pernikahan dengan sangat apik. Ia ingin tetap menjadi gadis desa yang manis memperlakukan sang suami, meskipun pada kenyataannya ia tetap saja tidak sabaran menghadapi Jong Woon dan selalu saja terlibat dalam perdebatan.

“Aku tidak makan dengan baik. Aku kehilangan selera makan karena tidak ada kau.” Jong Woon menahan diri untuk tidak tertawa saat ia mengucapkan kalimatnya. Jarang sekali pria itu mau mengakui kelemahan hatinya karena ketidakberadaan Shin Yeong.

“Jangan begitu. Kau harus makan dengan benar. Cuaca sedang tidak baik, nanti kau bisa terkena flu jika daya tahan tubuhmu buruk.”

Araseo. Aku juga sebenarnya sedang mencari cara bagaimana agar aku bisa terkena flu. Agar nantinya ada alasan yang bisa menjadikanmu pulang ke rumah dan mengurusiku seharian penuh.” Jong Woon terkekeh sendiri dengan ucapannya.

“Aish, dasar gila. Kau tidak boleh sakit. Aku tidak akan membiarkanmu sakit. Meskipun hanya terkena flu ringan.” Balas Shin Yeong possessive.

Entah kenapa, Jong Woon justru tiba-tiba merasa sangat senang mendengar jawaban gadis itu. Bukan senang karena diperhatikan oleh Shin Yeong. Tapi ia senang Karena ancaman gadis itu justru terdengar seperti gombalan.

“Yeongi-a… jangan menanyaiku terus. Gantian aku yang menanyaimu.” Jong Woon menghentikan ocehan Shin Yeong. “Apakah kau tidur dengan baik? Apakah kondisi nenek mulai membaik juga?” tanyanya.

“Tentu. Aku istirahat banyak sekali agar tidak terkena flu. Nenek juga sudah mulai bisa melakukan aktivitasnya seperti semula. Tidak lama lagi aku juga akan pulang kembali ke sana.”

“Baguslah. Aku juga tidak ingin kau berlama-lama jauh dariku.”

“Aish, berlebihan sekali.” Komentar Shin Yeong.

Jong Woon terkekeh, menertawakan dirinya sendiri yang rasanya semakin tidak tahu malu mengumbar kata-kata manis untuk Shin Yeong.

“Aku sedang menatap hujan. Dan kebetulan disana juga sedang hujan. Dalam keadaan seperti ini, aku semakin merindukanmu.” Jong Woon menghela nafas. “Katakan sesuatu apa saja untukku, agar aku tidak berbuat nekat dan menyusulmu kesana. Tanggung jawabku di kantor harus diselesaikan terlebih dahulu.”

Shin Yeong terdiam mendengar ungkapan Jong Woon. Kalau suaminya bersikap seperti itu, bagaimana bisa ia tahan lebih lama di Daegu. Biasanya ia akan membantu Jong Woon menyelesaikan tugasnya. Sama seperti ketika sang suami menyelesaikan konsep untuk pembukaan Why Style di Jepang. Tapi sekarang, ia justru tidak bisa menemani Jong Woon.

Oppa…. Ehm….” Shin Yeong tiba-tiba berdeham menghentikan ucapannya. Ia selalu tertawa sendiri jika menyebutkan kata –oppa- untuk Jong Woon.

“Ke… kenapa?” Jong Woon yang mendengarnya malah salah tingkah. Akhir-akhir ini ia senang sekali mendengar Shin Yeong memanggilnya oppa.

“Jangan kesini. Jangan datang kesini dan selesaikan semua pekerjaanmu. Aku akan cepat pulang….” Shin Yeong mengusap tengkuknya sambil berbicara. “Aku sangat merindukanmu.” Ujar gadis itu.

Cengiran Jong Woon tidak bisa ditahan. Sejak tadi ia ingin sekali mendengar Shin Yeong mengatakan hal ini padanya. Ia tahu, gadis itu masih sangat pelit mengungkapkan isi hatinya.

Sementara itu di tengah posisi duduknya yang sangat nyaman, Shin Yeong menghembuskan nafas lega. Seolah ia sudah mengatakan apa yang tertahan di mulutnya.

“Yeongi-a…. aku rindu melihatmu cemburu. Aku suka melihat ekspresimu saat kau possessive.”

“Eoh?” Shin Yeong mengerutkan alisnya.

Gadis itu langsung mengingat memori masa lalunya. Kejadian yang sudah 2 tahun berlalu dan masih sangat melekat di kepala pintarnya. Ia tidak akan melewatkan sedetikpun memori kebersamaannya dengan Jong Woon. Sejak pertemuan pertama, sampai saat ini.

“Ottaeyo? Aktingku bagus kan?”

Aku mendekatkan wajahku ke arahnya dan mengangkat alisku dengan tatapan tanpa dosa. Aku tau dia pasti akan merasa sangat sebal melihat wajah imutku dengan ekspresi seperti ini.

“Kau bilang akting? Mempermalukanku di depan umum itu kau sebut dengan akting?”

“Ya… aku tidak berlebihan melakukannya, aku hanya bertindak bagaimana semestinya?”

“Mengaku hamil, dan memintaku untuk bertanggung jawab. Kau pikir itu akting yang lucu, huh?”

“Hei, ayolah. Aku hanya bermain-main. Kau kan sangat senang bermain-main denganku. Kini giliranku untuk bermain-main denganmu. Dan kau tau?”

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik pelan

“Rasanya sangat menyenangkan melihat tampang bodohmu.”

Beberapa saat setelah mengucapkannya tiba-tiba dia memutar kemudi dan menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba. Membuat aku hampir kehilangan keseimbangan dan menabrak tubuhnya karena posisiku saat ini yang sedang menghadapnya dengan jarak yang cukup dekat.

“Shiyeong-ah..”

Kali ini Jongwon mendekatkan kepalanya ke arahku, membuat aku secara spontan memundurkan wajahku ke sanderan tempat duduku saat ini. Apa yang akan dia lakukan?

“Mwo…rago?”

“Kau cemburu padaku kan?”

Tawa keras Jong Woon memecah keheningan saat keduanya sama-sama mengingat kejadian lama itu. rasanya suasana kali ini sangat menyenangkan. Di tengah hujan, dan berada dalam jarak yang jauh, larut dalam kerinduan yang mulai terasa ringan karena pengertian.

“Cemburu yang paling konyol adalah karena Hyorin Nuna. Dan yang paling membuatku bingung adalah karena Seol Ki. Tapi aku senang saat kau seperti itu.”

Shin Yeong ikut tersenyum. “Jangan membuatku cemburu lagi. meskipun kau senang. Tapi aku yang sakit hati.” Balasnya.

“Hahahaha… araseo.”

Keduanya terdiam beberapa saat.

“Yeongi-a… apakah disana hujannya deras?”

“Eoh… ne… deras, tapi tidak disertai angin. Aku masih betah duduk di teras.”

“Aku akan naik keatap. Berada di dalam ruangan seperti ini, aku jadi tidak bisa merasakan suasana hujan.”

“Um…. Hujannya membuatku merasa sedih. Entah kenapa, jadi teringat perpisahan.”

“Perpisahan kita dulu sepertinya tidak terlalu sedih kan?”

“Aku memang tidak pernah mengatakannya padamu. Aku bahkan menahan diri untuk tidak sering-sering menghubungimu di Jepang. Saat kau sedang menyelesaikan pengobatan untuk myctophobiamu. Setiap hari aku selalu berdoa. Dan mengharapkanmu segera kembali. Meskipun pada kenyataannya, berada di tempat kerja tanpa kau itu benar-benar menyiksaku. Rasanya sangat sepi karena kau tidak meneriakiku.”

Jong Woon tertawa mendengar cerita Shin Yeong. Derap langkahnya semakin cept menaiki anak tangga menunggu lantai paling atas setelah ia melangkah dari escalator. Karena myctophobianya, ia juga secara spesial menambahkan escalator dalam desain gedung agar ia tidak perlu menaiki elevator.

Setelah mendengar Shin Yeong, ia semakin tahu apa saja yang terjadi pada gadis itu selama ia berada di jepang. Perpisahan mereka memang tidak se-dramatic yang dikira. Mereka berpelukan dengan perasaan lega.

_

“Aku pergi”

“Jangan lupa makan, dan hubungi aku karena aku tidak akan menghubungimu terlebih dahulu. Kau tau kan berapa pulsa yang harus aku habikan untuk melakukan panggilan internasional?’

“Araseo. Aku tau kau itu memang pelit!

“Sudahlah, jangan membuatku kesal. Cepat masuk”

“Em”

Jong Woon melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan yang cukup luas dimana semua penumpang akan melakukan pemeriksaan data. Baru saja dia akan melewati garis masuk. Jong Woon kembali membalikan badannya menatapku, membuat aku mengangkat tangan kananku untuk melambai, tapi tiba-tiba dia malah berlari menghampiriku. Spontan aku hanya bisa menatapnya dengan sedikit bingung.

“Ada apa lagi?”

Jongwon tidak menjawab pertanyaanku dan malah menarik tubuhku kedalam pelukannya, dia mendekapku dengan sangat erat sampai aku merasa sesak karena pelukannya. Dia membenamkan wajahnya di bahuku dan mengusap punggungku pelan.

“Aku akan sangat merindukanmu”

Bisiknya tepat di telingaku. Saat ini aku menguncir tinggi rambutku dengan satu ikatan, dan karena itulah, aku bisa merasakan dengan jelas udara hangat yang keluar dari mulutnya menyapu leherku. Membuatku merinding seketika.

“Aku mencintaimu”

Jong Woon lama terdiam. Ia juga tidak mendengar Shin Yeong berbicara lagi selama beberapa saat. Pria itu berkonsentrasi untuk menaiki anak tangga paling ujung yang berada di ruangan gelap. Ia buru-buru mendorong pintu atap terbuka, dan hembusan angin langsung menyapa. Pria itu berdiri tepat di depan pintu dan mengulurkan sebelah tangannya menadahi air hujan. Ia tersenyum melihat telapak tangannya yang basah, dan hawa dingin mulai menyentuhnya disana.

“Yeongi-a… terkadang aku selalu berpikir bahwa kau itu adalah malaikat. Kau memasukki hidupku dalam keadaan yang sangat tepat. Tapi…. Saat kau mengomel, saat kita berdebat, dan kesalahan lainnya yang dilakukan, aku menyadari bahwa kau hanya gadis Daegu yang cerewet dan kau juga punya banyak sekali sisi menyebalkan.” suara Jong Woon berlomba dengan hujan. Tapi Shin yeong masih bisa mendengarnya dengan jelas. Entah kenapa gadis itu tidak ingin mengajukan protes apapun tentang pendapat Jong Woon yang satu itu.

“Bangunlah… berdiri dan ulurkan tanganmu di bawah tetesan air hujan. Aku sedang melakukan hal yang sama.”

Shin Yeong mengerutkan alisnya mendengar perintah Jong Woon. Ia segera bangkit dari posisinya dan mengulurkan tangan. Cipratan dingin yang mengenai wajahnya membuat gadis itu harus berkedip berkali kali.

“Yeongi-a….”

“Eum?”

“Saranghae….”

*END*

Chaaaa…

Selamat bermalam minggu.

Jangan lupa liat videonya yah. Hasil iseng sambil nunggu buka puasa. Kalau bisa di komen juga. Hihihihi.

Ohiya, ini ada satu lagi Video Donghae-Gyuri… semoga kalian menyukainya.

Selamat menikmati bulan ramadhan. Selamat menanti lebaran.

 

Regard : Senselly ^_^

Advertisements

86 comments on “Jong-Shin Slight Scene : Kiss The Rain

  1. ahaha ciye ciyee makin romantis aja euy mereka berdua eonnie :3 duh penasarah nih kpn mereka pny anak 😀 tp masih pgn baca mereka romantis2an gini sih ahahah ><

  2. aigo aku baca ini fanfict kok terasa cpt yak? eoh gk sadar klo ini satnight ciiiee selly eonni publish yg romantis” 😮 bagus” tp berasa pendek 😀 bkn ficlet kn eonni?
    keep writing eonni!
    haapy satnight :v

  3. Ehhh selly gak mau tau mau yg full……
    duh kangen saya komen dsini hahaha

    Ya ampun entah kenapa ini romantis bgt seeeeh….
    Kan jd mau nikah lol
    Hahaha

    Kangen jg sama captain Cho…
    Sama park jungsu sama…. *ditimpuk selly*
    Aduh maap dateng2 malah ngerusuh wkwkwk

  4. wowowow
    yg lg saling merindukan, mengenang masa lalu, romantis sekali.
    iri ma suami istri ini, aku jg pengen.., *lirik minho*

  5. “nado saranghae…. jong woon oppa”
    *cium jong woon dg membabi buta*

    ini selly-nya ato jong woon yya yg kesambet bikin adegan suooo sweeet begitu… kkk~ *jd ikut2an senyum2 sendiri*
    met malam minggu juga for all readers in here! *salamin satu2*

  6. adoh.. encung my baby yo!! past past!! #efek shinhwa broadcast
    hohoho

    shinhyeong itu akoh.. ya kan selly cantik *kedipin*

    jarang jarang kan aku main disini lagi, ciyeh kangen tuh ama aku, kesepian dan merasa kehilangan tuh klo aku ga komen

    oke ngomongin salah satu pasangan favorit aku yg satu ini, dari sekian banyak cast perempuan aku paling suka sama si yeongi ini. entah kenapa sikapnya itu berasa akoh banget, pasti ya kamu bikin karakter yeongi karna terinspirasi tiap hari ketemu aku dikampus #angkat alis

    intinya aku suka cara mereka berdua klo ngegombal ga norak gitu. kece lah pokoknya.

    maaf yah, cinta pertamanya tuan muda choi, soulmatenya cho kyuhyun, orang yg dicintai lee donghae, wanita idaman lee hyukjae segitu aja komennya.

    aku tau ini pendek banget, klo kamu masih kurang nanti yah aku lanjutin di wa HA HA HA..

    dengan segenap hati dan penuh cinta dari saya, cukup sekian dan terima kasih. maaf klo ada kesalahan.

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
    #edisi idul fitri

    Selly~a talanghae
    *joget lope” ala om andy*

    • han plis han, jangan setres disini napa….

      astaga, kamu abis kerasukan arwah macam apa tiba-tiba dateng kesini berkoar koar

      lagi kangen sama blog akuh ya, yang bikin kamu jatuh cinta sama ikan.

      • salah, disini aku jatuh cinta sama bapaknya kura kura *kedipin jongwon~

        iya kangen ngerusuh disini. sayang member darma wanita super juniornya ga lengkap kayak dulu lagi. klo lengkap pasti ni ff penuh sama saut”an ditambah komen ala capslock jebol dimana mana hehe

  7. Aciaaaa …… haseeeek. mlm minggu yg menyenangkn, ahaha 🙂 mrka br2 MANISSS ky Kurmaaaa, Lalalalalalalalala .. bikin gigit jariii, dn tmbh Cinta ma Couple ini 🙂
    O’ia kpn CRnya lanjutt, kangen KyuRi,, ^^

  8. aduuuuh jadi makin n tambah tambah tambah kangen sm cow nie,p lg abs liat videonya rasanyya pengen …..kyaaaaaaaaaaaaaaaa……
    shin yeong kali nie jd istri yg manies z..
    G ribut ky bysnya,mungkin karena kangen sm suaminya jd dia manfaatin moment mereka d telepon.
    Oh y selly a br j abs bc CEO’s scandal,
    Stelah ngubek2 smua toko buku d kotaq akhirnya dpt jg.
    happy ending sh tp sedih jg,cmn berhrp d sequelny j.

  9. cie cie yg lgi kangen so sweet kkk…
    jdi ikut senyum2 jg pas bca flasbacknya.
    bernostalgia di temani rintkan hujan jdi tmbh romantis.
    *crazymodeon

  10. Lagi kangen sma jongshin couple eh keluar ni ff pas banget
    aigoo jongshin sweet and romantis #mupeng
    eoni bkin jongshin slight scene lagi ya 🙂
    maaf kalo reader terlalu lancang
    fighting eon

  11. Eonniiiiiiiii….eonniiiii..eonni….eonniiiii..
    Huaaaaaaaa aq baru tau eonni pyblish lg songshin slight scene. Ini tuh pas banget eonni.. Aq bru beres baca myctophobia lagi.. Huaaaaaa kekangenan aq terhadap jongshin terobati.. Gomawo eonni. Ini tuh romantis bgt.
    Bikin ser2an, aaaaaaaaaakkkhhh! Aq bisa gila2 gara2 jongshin. Hey! Semoga youngie cepetan plg kasian bang jongwonn sendirian..

    Tinggal kyu-ri nie. Captain romance-nye ditunggu eonni. Love u.

    -jiyeon T-ara-

    Ps; btw aq belom ol pc jd blm bisa liyat videonya. Mianhae T.T

  12. Gyaaaaa! Eonni, itu kenapa ending-nya begituuuuu…bikin merinding >////<
    Aku malu sendiri baca endingnya, berasa Jong Woon ngomong gitu ke aku *dibakar clouds* *ditendang Eunhyuk*

    Demi apa ini so sweet abis! Kenapa mereka begitu romantis disini Eonni, kenapa? Aku ga bisa kl kaya gini, ga bisa! *Yesung: ngapa lo? Stres? | oh ya ampun gw diajak ngomong sama Yesung kyaaaa* #abaikan

    Aduuuh, tapi beneran deh ini kelewat so sweet. Senyum2 sendiri gini bacanya hahahaha XD
    Apalagi aku suka sama couple ini. Ayo dong Eon bikin slight scene-nya Park Jung Soo trus juga si Jaksa Lee, sekalian lanjutin Captain Romance * nyengir cantik tanpa dosa*

    Aku tunggu postingan berikutnya darimu Eonni…. Paipaaaiii~ *tebar Yesung*

    P.s: pasti Eonni ga inget aku siapa hahahaha~ gapapa kok Eon santai, aku juga kadang ga inget aku siapa *eeeeh?*

  13. huwaaa pasangan suami istri maniiiiiiis sekali ,
    Meskipun mereka jauh dan berbeda tempat mereka melakukan yng sama ,
    Bener2 manisssssss

  14. Aissh ketinggalan .
    Wlpn singkat bukan maen ni ff ttp berkesan bwt pecinta jongshin couple ini . Lumayan ngilangin rindu berat ama abang tercinta, huwa kangen ma certa mereka yg penuh romantica hehe trus bwt jongshin yaa!

  15. kyaaaa romantis sekaleee
    aku iri aku iri, mau kaya mereka *tunjuk jongshin*
    eon kau selalu bisa bkin cerita yang bikin senyum senyum sendiri (?)

  16. Udah lama gak baca jong-shin couple eehh akhirnya publish juga… Walaupun ceritanya pendek tp romantis banget.. ^^

    Smoga selly sering2 update FF jong-shin lagi.. Hwaiting! Keep writing selly 😉

  17. astagaaaaaaaaaaaaa sweetnya #mabok~ tapi ada beberapa kalimat yg rasanya agak aneh ya eon..
    seperti : “Apakah disana hujan turun?” >> “apa hujan juga turun di sana?” kkkk

  18. Maniiiiiiiiis dan romantisssss… Pengen banget Jong-shin couple itu jadi real. Berharap mereka jadi pasangan beneran. Kim Shin Yeong tu cantik dan imuuuuuut banget^^

  19. Videony top deh, suka banget2 deh sm couple ini, walau konflikny g berat2 amat tp suka banget ceritany dr awal smpai akhir…
    Jong woon-shin yeong t.o.p dah…

  20. Annyeong 🙂
    ff daebakk,, bikin senyum” gaje #heheheh..
    Ah iya ff *Jong-shin – Whatever! Just sleep together* kenapa tidak bisa terbuka yaa minn 🙂 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s