(SHARE FF) Promise, Never With You

image001

Sebuah imajinasi konyol dalam sedikit cerita

Promise, Never With You

Author                                : Zee^^

Main Cast          : Song Ji Eun (imagine cast)

Jung Dae Hyun

Support Cast   : Sung So Ah

Tuan Song

Nyonya Song

Nyonya Jung

 

Tulisan ini uda pernah ak publish di blog aku http://zeenoerma.wordpress.com/ , aku harap kalian suka coretanku yang biasa ini. Gomapta kawan^^

Hari ini adalah hari kelulusanku, pengumumannya sudah aku lihat tadi. Tentu saja aku lulus. Aku memang bukan gadis yang pandai, tapi juga tidak bodoh. Hanya seorang gadis biasa-biasa saja dengan IQ rata-rata. Eits, tapi aku jago berenang. Tak punya banyak kegiatan, karena ya bukannya mau sombong, tapi memang aku adalah putri dari pengusaha real estate terbesar kedua di Korea. Kehidupanku secara umum sangatlah tercukupi, bahkan berlebih. Namun, aku bukanlah anak yang suka menyombongkan kekayaan orang tua. Cih, memangnya aku anak manja? Aku bukanlah tipe anak yang mau ini itu harus terpenuhi. Kehidupanku di luar rumah layaknya remaja sekolah pada umumnya. Oke, terlalu panjang jika aku deskripsikan segalanya tentang diriku, karena ada hal dari A sampai Z, bahkan menyangkut nenek buyutku yang mempunyai silsilah dari Raja Joseon. Masa bodolah. Back to graduation day.

“Woy, bebek selamat ya” Ini So Ah, kawan karibku sejak SMP. Lalu, bebek adalah panggilan sayangnya untukku. Kenapa bebek? Karena, ia ingin sekali punya panggilan sayang untukku, dan saat itu pula ia membaca berita tentang pembuatan ramuan pintar dari bebek. Ia ingin aku bisa pintar. Menurutku terbukti bahwa berita itu bohong atau ramuannya gagal, karena kini aku sama sekali bukan gadis pintar.

“Kau juga, bahkan pastinya peringkatmu lebih tinggi di atasku.”

“Yupz, 10. Alah, 76 juga bukan angka yang buruk kali, kau kan juga diterima di Universitas Korea. Lalu, bagaimana dengan Dae Hyun?”

“So Ah, berhenti menyebutkan nama anak mengerikan itu di depanku. Ah, hari ini adalah hari paling membahagiakan bagiku, kau tahu kenapa?”

“Ck, tentu saja kau akan terbebas dari Dae Hyun. Tak ada lagi percekcokan, teriakan di lorong, sepatu dan penghapus melayang, bahkan tak akan ada lagi kaca kelas yang pecah.”

“Bingo. Aku muak sekali dengan suara dan wajah lelaki tengil itu. Aku sungguh bersyukur pada Tuhan karena hari ini adalah hari terakhir aku melihat dan mendengarnya, dan bersumpah aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.”

“Bebek, jangan pernah bermain dengan sumpah!”

“Hah, sudahlah. Ayo kita pulang! Persiapkan untuk jadi mahasiswa.”

“Masih 2 bulan lagi, bebek.”

***

2 bulan berlalu.

Hari pertama kuliah. Sudah kulewati satu minggu orientasi dan kini saatnya masuk kelas. Penderitaan dari segala penderitaan telah berakhir. Tiba-tiba, kruyuk, kruyuk. OMG, bunyi apa itu? Ck, kurasa roemmaan cacing di perutku berdemo. Aku baru ingat bahwa tadi pagi aku tak menyentuh makanan apapun. Mungkin sebelum ke kelas, ada baikanya ke kantin. Hei, rasanya tidak enak juga berjalan sendiri. Sung So Ah berbeda fakultas denganku, dan hingga kini aku belum berhasil mendapatkan teman.

“Terima kasih” ucapku setelah menerima pesananku. Kupikir ini masih pagi, tapi kenapa kantin sudah penuh? Hanya ada satu bangku kosong di meja yang sudah ditempati. Terpaksa.

“Boleh aku duduk di sini?” Tanyaku pada penghuni meja keberuntunagan tersebut. Satu, dua, tiga, bagaikan gerakan slow motion, pria itu mengangkat wajahnya dari tundukannya saat makan. Dan pada hitungan keempat,

“Kamu”

“Kamu”

“Yakz, mau apa kau di sini? Kenapa mengikutiku, huh?” Dia berdiri mendengar aku berteriak padanya.

“Apa? Siapa yang mengikutimu, bodoh. Lagipula mana tahu aku kalau kau di sini? Dan, bukankah aku dulu yang ada di sini, huh?”

“Jangan sebut aku bodoh! Kau pikir dirimu pintar? “

“Lalu kusebut apa kau? Bebek? Oh ya, itu kan panggilanmu. Bebek. B-E-B-E-K. Dan tentu saja aku pintar, bukankah aku peringkat 1 saat kemarin lulus? Membuktikan, bukan?”

“Sama sekali tidak. Dan jangan pernah ejek temanku! Kau sama sekali tidak berhak.”

“Aku tidak mengejek So Ah, aku tadi mengejekmu, Bebek. Masa begitu saja tidak tahu, huh? Bodoh.”

“Yakz, grrr, baiklah aku tidak akan makan di sini. Dasar Pria Kejam.” Lalu kuputar tubuhku hendak pergi, kabur dari seorang Dae Hyun kejam. Namun sedetik kemudian kurasakan ada yang mencekik leherku.

“Awww, kenapa kau menarik kerah bajuku, sih? Dasar pria kasar”

“Duduklah! Aku sudah selesai.” Katanya santai, kemudian pergi. Hah, itu saja? Padahal kan makanannya belum habis. Dia mengalah padaku? Musuh bebuyutanku mengalah padaku? Kenapa? Selama ini kita sama sekali tak ada yang mau mengalah. Apa dia mau mengejekku? Ck, aku merasa diinjak-injak dengan dia mengalah seperti ini. Awas saja kau Dae Hyun. Tunggu pembalasanku! Menyesal aku tadi berpikir bahwa meja ini adalah meja keberuntungan.

***

Jam kuliahku habis. Kenapa hari ini benar-benar menyebalkan? Karena selain tak bertemu So Ah, aku malah bertemu dengan Dae Hyun. Aku benar-benar mengutuk diriku sendiri. Saat berjalan keluar, Iphoneku bergetar. Telepon dari sopirku.

“Aku pikir aku akan naik bus saja. Jangan jemput aku! Tak apa. Bukankah sejak SMA aku tak pernah dijemput. Tidak apa-apa Paman Yong Gun. Aku tahu rute busnya dari kampusku, kok. Oh ya, aku akan mampir, aku ingin membeli kacamata renang. Iya, iya, iya Paman, terima kasih.” Kuakhiri sambungan teleponnya. Huh, hari yang membosankan.

“Terima kasih, Paman” Kataku pada sopir bus. Kulangkahkan kaki, lalu kubawa ke toko langgananku. Dan, tunggu! Aku sangat familiar dengan wajah di dalam toko itu. Aku yakin sangat mengenalnya. Langkahku tak mau berhenti. Padahal sumpah demi Tuhan tolong hentikan langkah kakiku, karena wajah itu adalah milik Jung Dae Hyun dan kini tanganku telah menyentuh gerendel pintu. Sudah jelas pintu pun berayun ke dalam, lalu deng dong, dia menengok ke arahku. Aku mengumpat habis-habisan pada lonceng di pintu toko yang bergemerincing.

“Aku memang selalu benar, kau memang mengikutiku.”

“Berhenti menghakimiku! Aku sama sekali tidak mengikutimu. Memangnya untuk apa aku melakukan itu? Kau sendiri tahu kalau aku sangat sangat membenci suara dan wajahmu, jadi kalau tidak terpaksa, aku sama sekali tidak akan masuk ke sini.”

“Jangan berteriak padaku!”

“Kenapa? Memangnya selain otakmu yang selalu kau cuci itu, kau juga selalu merawat telingamu itu ya? Spa? Spa telinga? Hum, aku baru mendengarnya. Seberapa mahal itu? Seberapa sering?”

“Memangnya kau pikir semua bisa diukur dengan uang?”

“Tidak. Siapa bilang? Aku memang menghargai uang tapi aku tidak memujanya. Camkan itu! Lagipula ada urusan apa kau ke sini?”

“Aku rasa itu sama sekali bukan urusanmu, Bodoh.”

“Berhenti memanggilku bodoh! Aish, kenapa kau selalu memanggilku bodoh? Appa dan oemmaku saja tidak pernah memanggilku seperti itu. Kenapa juga sih aku harus selalu bertemu denganmu? Sebaikanya kau segera pergi! Karena aku akan gatal-gatal jika lama berada di dekatmu.”

“Cih, gadis sombong. Aku sama sekali tak menyukaimu.”

“Tak ada seorangpun yang menyuruhmu menyukaiku, dan aku tidak akan pernah menyukaimu sampai kapan pun dan di manapun. Cih, sebaiknya aku pergi karena aku bisa muntah darah jika harus terus bernafas di ruangan yang sama denganmu.”

“Ya sudah, pergi saja jika itu maumu!”

Aish, grrr, benar-benar menyebalkan, menyebalkan. Apa sih maunya? So Ah di mana kau? Ingin aku jambak-jambak rambutmu. Pada akhirnya tak ada kacamata renang, tak ada teman pulang, yang ada hanya kesebelan yang termatat besar, sebesar Planet Saturnus kepada makhluk mengerikan bernama Jung Dae Hyun.

***

Kini aku tengah duduk manis di sebuah ruangan khusus yang sepertinya sudah dipesan sebelumnya, di sebuah restoran Jepang. Sejak pulang kuliah tadi, asisten rumah tanggaku menyuruhku berdandan untuk persiapan acara malam ini. Menurutnya sih acara keluarga, tapi entahlah aku tidak terlalu memikirkannya, karena aku sudah terbiasa dengan jamuan bersama partner-partner appaku.

“Kau terlihat sangat cantik, Song Ji Eun, anakku, benar kan sayang?” tanya oemmaku pada appaku.

“Oemma, aku kan memang cantik. Jadi kurasa aku bukan anak kalian berdua.”

“Hahaha…hahaha” appaku tertawa kencang.

“Aish, kurang ajar sekali anak ini. Kau pikir kau anak siapa? Kau pikir kau ini anak yang kami temukan di depan gerbang rumah lalu kami adopsi dan kami besarkan? Ck, drama sekali. Kalau iya, semoga kau ini adalah anak dari orang yang sangat sangat miskin, huh?”

“Ah, Oemma. Aku kan hanya bercanda. Iya aku mirip oemma, tapi tentu saja masih lebih cantik aku kan, yah? Iya kan, yah?”

“Iya, iya. Kau lebih cantik, bahkan jika appa bertemu dengan dirimu terlebih dahulu, appa akan menikahimu.”

“Appa” Kataku manja. Kami semua pun tertawa. Kemudian, ada yang menggeser pintu dan masuklah dua orang, perempuan setengah baya dan laki-laki muda. Pada saat itu pula, ingin rasanya aku terbang ke segitiga bermuda karena untuk ketiga kalinya kesialan dalam sehari ini datang.

“Kau”

“Kau lagi”

“Mau apa kau datang ke sini?”

“Lalu untuk apa kau ada di ruangan ini?”

“Umh, sebaiknya kalian duduk dulu. Selamat datang Nyonya Jung, dan tentu saja ini pasti Jung Dae Hyun. Silahkan duduk!”

“Terima kasih, Tuan dan Nyonya Song, serta Song Ji Eun, kau cantik sekali. Kau ingat aku gadis kecil?”

“Gadis kecil?” tunggu, aku seperti tidak asing dengan sebutan itu. Sebutan yang rasanya selalu kudengar dulu waktu aku kecil. Apa dia adalah..

“Umh…, Bibi Monica?”

“Ternyata kamu ingat, sayang. Dan pasti kau kenal anaknya, Jung Dae Hyun, bukankah kalian satu sekolah saat SMA?” tanya oemmaku

“Apa? Dia anak Bibi Monica?” Seseorang tolong beri aku nafas buatan. Bumi rasanya berhenti berputar. Lalu, ada banyak sekali cacing dalam perutku dan yang kurasa sedang meronta. Aku ingin berteriak tidak mungkin. Sungguh ini suatu kesalahan besar, karena mustahil pria mengerikan di depan hidungku ini adalah anak pengasuhku dulu, pengasuh yang saat itu bagaikan oemma, teman dan Princess Monica-ku. Bibi yang selalu membacakan kisah tentang Princess Monica yang menikah dan hidup bahagia dengan anak pelayannya. Tidak mungkin, seribu kali tidak mungkin.

“Ji Eun, Ji Eun. Hei, kau mendengar apa yang appa katakan?” appaku membangunkanku dari lamunanku

“Apa? Ada apa lagi, appa?”

“Dijodohkan. Kalian, kami jodohkan.”

“mworago?”

“mwo?” Kata aku dan Dae Hyun bersamaan dengan lantang sampai rasanya tembok ruangan yang melingkupi kami bergetar.

“Bagaimana bisa appa berkata seperti itu?”

“Kau tidak mendengarkan sejak tadi? Kau itu, melamun saja, ck. Itu karena perjanjian appa dengan Paman Jung.”

“Appa, itu konyol. Tidak ada perjanjian seperti itu. Aku tidak akan pernah menikah dengan laki-laki itu. Aku membencinya, appa.”

“Tidak ada yang konyol dan tidak ada yang saling membenci. Awalnya memang hanya sekedar perjanjian candaan, tapi karena suatu hal perjanjian ini harus terikat, dan mau tak mau kalian harus memenuhinya. Bagaimana pendapatmu, nak Dae Hyun?”

“Kalau saya, jika memang itu yang harus terjadi, saya hanya akan menurutinya, Paman.”

“Kau. Bagaimana bisa kau menyetujuinya saja tanpa protes apa pun,  enteng lagi. Memangnya kau mau menikah denganku?”

“Tentu saja.”

“Apa? Gila kau ini. Mau menyiksaku, huh? Sungguh, aku baru saja mengalami kegilaan. Aku gila sekarang, appa.” Aku berdiri dan menggeser kasar pintu dan kabur pergi meninggalkan mereka semua yang memulai kegilaan ini. Tidak. Aku tidak akan pernah mengatakan janji apa pun bersama pria itu, apalagi janji suci pernikahan. Tidak sama sekali.

***

Aku terbangun di pagi hari. Sinar mentari masuk melalui jendela kaca besar yang tirainya di tarik oleh seseorang. Awww, silau sekali. Aku bahkan tidak bisa melihat wajah orang itu. Tubuh tingginya dibalut piyama bergaris biru.

“Hoam” kukucek mataku, kebiasaanku saat bangun tidur

“Cepat bangunlah! Dasar kebo. Apa tidak bisa bangun lebih pagi? 3 kali alarm dengan suara nyaring saja tak ada satupun yang kau dengar. Cepat bangun! Aku keluar dulu.” Tunggu sebentar! Aku seperti mengenal suara berat ini. Ya, itu tadi adalah suara yang paling aku benci. Suara Dae Hyun. Apa? Kubuka mataku lebar-lebar dan benar adanya.

“Kau, yakz”

“Apa? Ada apa lagi?”

“Bagaimana bisa kau ada di kamarku? Dan kenapa kau berpiyama? “

“Kau ini kenapa sih? Aku hanya di suruh membangunkanmu. Ini sudah siang, bodoh. Kau tidak kuliah? Kau bisa lebih lama lagi untuk lulus kalau kau malas. Apa tak ingin sepertiku? Sekarang sudah lulus dengan waktu yang singkat.”

“Maksudku kenapa kau ada di rumahku?”

“Ya Tuhan selain bodoh ternyata istriku ini pelupa stadium akhir. Jadi kau belum sadar sekarang, huh?” katanya sambil menoyor kepalaku.

“Apa? Istri?” OMG, maksudnya apa sih ini? Kenapa sih si kejam ini bilang istri? Istriku? Apa? Aku istrinya? Tunggu, ini ada kesalahan. Oh tidak, tidak. Ini benar sekali, huwaaa aku memang istrinya. Sepertinya pesta ulang tahun So Ah tadi malam membuatku pusing dan lupa akan hal-hal di sekitarku.

“Iya istriku sayang, ayo cepat bangun!” Astaga, kenapa wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Dia menunduk menyamaiku yang sedang duduk. Ya Tuhan, kenapa denganku? Sepertinya wajahku panas, terlebih saat apa tadi dia memanggilku? Sayang? Jangan sampai dia tahu kalao wajahku memerah.

“Atau mau aku gendong seperti tadi malam saat kau mabuk berat? Kau tahu, saranku kau harus diet, karena badanmu berat sekali. Ck, cepatlah!” lalu dia pergi begitu saja.

“Yakz, apa kau bilang?”

“Kau gendut. Jadi bangun gendut, jika kau tidak mau bertambah gendut.”

“Yakz, awas kau.” Kulempar bagian belakangnya dengan bantal, tapi ia menghilang begitu cepat di balik pintu. Awas kau, Jung Dae Hyun! Tunggu pembalasan dari Song Ji Eun! Ups, bukan. Kini, aku adalah Jung Ji Eun. Kini, aku adalah istri dari musuh bebuyutanku sendiri. Dahulu, entah harus bagaimana aku sekuat tenaga  menolak pernikahan ini. Nyatanya aku tidak berkuasa dan kami berdua harus menikah. Ternyata So Ah benar untuk tidak bermain dengan sumpah, dan inilah akibatnya. Aku pun berjanji pada Bibi Monica bahwa aku akan menghidupkan tokoh Princess Monica dalam kehidupanku. Meskipun aku tak yakin apakah aku sendiri mencintai Jung Dae Hyun atau tidak ?

“cepat bangun kalau tidak mau kuterkam lagi bibirmu itu!”

“Mwo? Mwo? Jung Dae Hyuuuuuuuuuuun”

END

Terima Kasih untuk membaca

Oleh Zee^^

Advertisements

6 comments on “(SHARE FF) Promise, Never With You

  1. wah seneng bgt dapet apresiasi..makasih ya,,sequel ya? haha nulisnya semau mau gue,,jd ya kalo pas ada ide n niat aja deh..tp bneran makasih loh uda baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s