(SHARE FF) True Lover Part 4

True LOVE

Tittle    : True Lover Part 4

Author : 신 수림 (Baby Kim)

Cast     :

–          Kim Jongwoon

–          Kim Hyojin

–          Park Hyojin

 

Annyeong…..aku kembali dengan “True Love” yang seperti terbengkalai hehe. Gomawo untuk yang udah kasih komentar di 3 part sebelumnya. Gomawo juga buat Selly yang udah mau nampung FF aku diblognya hehe /xoxo/. Karena kata beberapa readers yang komen bilang 3 part kemarin kependekan makanya part yang ini aku buat lumayan panjang. Semoga pada suka yaa….^^

 

Previous Part

“Jongwoon-ssi…” lirih Hyojin.

 

“aku tidak tau apa yang terjadi, yang aku ingat kau adalah orang yang sangat berharga bagiku dan jangan pernah tinggalkan aku lagi, Hyojin-ah” isak Jongwoon yang  masih mendekap erat tubuh Hyojin. Hyojin yang bingung hanya bisa diam tanpa membalas pelukan Jongwoon.

 

Dibalik pintu, nyonya Kim yang tadinya ingin mengambil bukunya yang tertinggal malah terkejut melihat putrannya memeluk Kim Hyojin, namun setelah mendengar ucapan dari Jongwoon, Ia tau yang dimaksud Jongwoon adalah Park Hyojin bukan Kim Hyojin. Nyonya Kim pun tersenyum,

 

“kurasa aku mempunyai rencana yang bagus.”

 

—————————— Part 4 ——————————

 

Sudah 2 hari setelah Jongwoon sadar, gadis itu selalu menemaninya. Senang. Jongwoon sangat merasa senang, namun tidak dalam hatinya. Jujur saja, Ia memang sangat merasa kenal dengan gadis itu, tapi entah mengapa hatinya masih ragu untuk menyadarkannya bahwa gadis itu memang berharga untuknya.

 

“Buka mulutmu aaaaaaa” Kim Hyojin menyodorkan sumpitnya kemulut Jongwoon. Jongwoon tersenyum lalu menangkap sumpit tersebut dengan bibirnya.

 

“Baiklah, waktunya minum obat.” Hyojin tersenyum puas saat suapan terakhirnya kepada Jongwoon. Sudah cukup bersabar gadis ini menyuapi Jongwoon yang terkesan berlama-lama ingin disuapi olehnya. Hyojin mengambil beberapa obat untuk Jongwoon dan menyiapkannya disebuah wadah kecil. Hyojin lalu berbalik dan mengambil segelas air untuk Jongwoon dan langsung menyodorkan gelas dan wadah obat tersebut pada Jongwoon. Hyojin mengernyitkan dahinya saat Jongwoon hanya mengambil gelas berisi air putih tersebut.

 

Yak! Jongwoon ssi…eh maksudku Jongwoon oppa kenapa tidak mengambil obatnya juga??” Tanya Hyojin bingung.

 

“Aku mau kau yang memasukan obat-obat ini ke dalam mulutku” jawab Jongwoon sambil menunjukan jari mungilnya kedalam wadah.

 

“Hah! Mau apa lagi pria ini? kenapa selalu begini? Apa memang dia terlalu manja? Kalau bukan karena dia anak nyonya kim aku pasti sudah  memukul kepalanya!” Batin Hyojin. Akhirnya Hyojin mengambil beberapa obat dan hendak memasukannya ke dalam mulut Jongwoon sekaligus.

 

Yak! Kim Hyojin!!!!!! Bukankah obat itu sangat banyak?? Aku mana bisa menelan semua itu sekaligus?” Kata Jongwoon seraya memundurkan wajahnya dan mengibas-ngibaskan tangannya untuk menyingkirkan tangan Hyojin.

 

“Ah kau ini kenapa manja sekali.eoh?” Hyojin mengembalikan semua obat yang ada digenggamannya dan mulai mengambilnya satu-satu seraya membantu Jongwoon meminumnya. Jongwoon terkekeh geli melihat ekspresi Hyojin yang sangat lucu menahan marahnya. Setelah semua obat berhasil diminum oleh Jongwoon, Hyojin langsung membereskan wadah dan meletakkan kembali gelas Jongwoon ke meja.

 

“Hyojin-ah kau marah? Yak…maafkan aku” Hyojin menoleh tajam kepada Jongwoon dan menghela napasnya dengan kasar.

 

“Aku harus bekerja sekarang. Kau aku tinggal dulu ya.” Hyojin melangkah ke arah sofa dan memasukan kotak bekal yang ia bawa untuk Jongwoon kedalam tasnya dan bersiap melangkah keluar, yah Jongwoon meminta Hyojin untuk menyiapkan bekal padahal dirinya berada di Rumah Sakit yang pastinya memberikan makan siang setiap harinya.

 

Yak! Hyojin-ah kau benar-benar marah?” Seketika Hyojin berhenti melangkah dan berbalik menghadap Jongwoon.

 

“Aku tidak marah oppa“, ucap Hyojin sambil terus tersenyum pada Jongwoon.

 

“Bohong…” Tuduh jongwoon dengan nada manja dan sangat membuat Hyojin risih. Hyojin mendengus kesal dan membalikan badannya sempurna ke arah Jongwoon.

 

“Aku memang kesal sekali padamu Kim Jongwoon! Kau selalu saja bersikap kekanakan dan manja. Kau tau, aku tidak suka! Bukan karena apa, kau itu sudah dewasa bersikaplah dewasa! Jangan terlalu manja seperti ini! Huaaaaaaaa…..kau sangat menyebalkan!” Hyojin berteriak dan menghentak-hentakan kakinya, tangannya mengacak-acak frustasi rambutnya. Sedangkan Jongwoon, Ia langsung terdiam melihat ekspresi Hyojin yang selama 2 hari ini belum pernah ia liat. Hyojin tiba-tiba tersadar setelah melihat muka Jongwoon yang tampak shock akibat teriakannya. “Ah…itu.” Hyojin menggaruk belakang kepalanya, lalu menunduk “mianhae…harusnya aku…bukan begitu…tapi…”

“HAHAHA” Hyojin langsung mengangkat wajahnya saat mendengar Jongwoon tertawa sangat keras.

 

Neo! Kenapa tertawa?” Kata Hyojin sambil memajukan bibirnya.

 

“Hahaha…akhirnya aku bisa membuatmu menunjukan sifat aslimu. Kau tahu, kau selalu bersikap baik didepanku dan aku tau  kau pasti sedang berpura-pura. Ayolah Kim Hyojin bukankah kita ini sepasang kekasih? Walaupun aku lupa ingatan, aku pasti tetap akan menerimamu apa adanya.”

 

Hyojin terhenyak mendengan penuturan Jongwoon tentang “kekasih”. Ya, nyonya Kim telah mengarang cerita tentangnya dan Jongwoon. Hyojin tidak tau mengapa nyonya Kim membuat cerita yang sangat mengada-ngada seperti itu. Aneh. Bagaimana kalau ingatan Jongwoon kembali? Namja itu pasti sangat marah padanya. Lalu, buat apa nyonya Kim bilang kalau dirinya adalah kekasih Jongwoon? Tapi mengapa Jongwoon sangat merasa kenal dengannya? Sebenarnya ada apa? Ah…semua terlalu rumit untuk dipikirkan sendiri.

 

“Hyojin-ah….wae?” Jongwoon memandang aneh Hyojin yang mematung di depan pintu kamarnya, kini jongwoon bangun dan duduk ditepi ranjang. Hyojin menatap Jongwoon sendu, apa harus Ia katakan sebenarnya, bahwa Ia bukanlah kekasih Jongwoon?

 

“Tidak apa-apa” Hyojin lalu tersenyum pada Jongwoon lalu menghampirinya setelah Jongwoon mengisyaratkan dirinya untuk mendekat. Hyojin tersentak akan perlakuan Jongwoon yang memegang tangannya tiba-tiba.

 

wae?” Tanya Jongwoon heran saat Hyojin reflek ingin melepaskan tangannya. “apa aku tidak pernah memperlakukan ini sebelumnya?” Hyojin menggeleng pelan.

 

“Hyojin-ah…kau terlihat aneh.” Jongwoon kini melepaskan tangannya dan menunduk sedikit agar bisa melihat wajah Hyojin yang tengah tertunduk.

Oppa..aku harus bekerja sekarang. Aku sudah sangat terlambat. Aku pamit.” Hyojin segera berbalik dan cepat-cepat membuka pintu.

 

saranghae,,,Kim hyojin. Saranghae…” ucap Jongwoon setengah berteriak. Hyojin berhenti mendadak. Ia merasa sangat sudah keterlaluan membohongi Jongwoon. Sudah seharusnya Ia menolak untuk menjadi kekasih palsu untuk Jongwoon dari awal! Hyojin menoleh dan tersenyum sambil melambaikan tangannya, lalu menutup pintunya.

 

Jongwoon hanya terdiam mengamati pintu yang tertutup. Ada apa ini? Apa benar gadis itu, Kim Hyojin adalah kekasihnya? Ya. Gadis itu pasti kekasihnya, bukannya Ia mengenalnya dan merasa tak ingin jika gadis yang bernama Hyojin itu pergi darinya?

 

“arrgh!” Jongwoon memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit saat semua pikiran itu berkecamuk di dalam kepalanya. Selalu saja seperti itu.

 

***

 

Hyojin melangkahkan kakinya dengan sangat tak bersemangat di koridor Rumah sakit. Ia masih saja memikirkan ucapan Jongwoon tadi…hah! Mengapa harus begini?

 

“arrrghhhhhhhhh…………menyebalkan sekali!” Hyojin menangkupkan kedua telapak tangan kewajahnya sambil menggerakan kepalanya kekanan dan kekiri. Gerakan aneh Hyojin berhenti ketika ia melihat seseorang berdiri dihadapannya. Padangannya yang tertuju pada kaki orang tersebut perlahan naik ke atas.

 

“kau sedang apa Kim Hyojin?? Kau seperti orang gila saja…ada masalah?” Jongjin. Namja itu berkacak pinggang sambil menahan senyumnya saat melihat Hyojin. “hehe..kau baru saja keluar dari kamar hyungku kan? Apa dia berbuat sesuatu padamu?”

 

ani…aku tidak apa-apa Jongjin oppa.”

Jongjin yang masih menahan geli, mengangkat bungkusan yang ia bawa hingga sejajar dengan wajah Hyojin. “ice cream?”

 

Hyojin dan Jongjin berjalan disekitar taman kota yang letaknya tak jauh dari rumah sakit dimana Jongwoon berada. Keduanya tampak sangat akrab dan terlarut dalam obrolan aneh mereka. Tapi walaupun aneh mereka sangat menikmatinya. Sampai-sampai Hyojin melupakan sesuatu.

 

“lalu aku meletakkan kecoa itu diatas meja belajarnya dan kau pasti akan senang melihat Jongwoon hyung yang sangat ketakuan berlari kearah eomma. Hahaha” Jongjin tertawa sangat lepas saat menceritakan pengalaman kakaknya yang sangat takut terhadap kecoa.

 

“haha…dasar pria penakut! Apa sampai sekarang Ia masih takut terhadap kecoa?” ucap Hyojin yang sangat bersemangat sekali mencari fakta bahwa Jongwoon itu adalah namja yang sangat manja. Jongjin mengangguk dan menyantap kembali ice creamnya.

 

“jongwoon-ssi sudah kuduga Ia sangat manja. Kau tau, dia setiap hari memintaku menyuapinya dan memintaku mengusap kepalanya saat ia tidur.” Ujar Hyojin sebal. Jongjin terkekeh kecil lalu mengacak-acak puncak kepala Hyojin, membuat gadis itu menjadi salah tingkah.

 

Hyungku menyuruhmu melakukan semua yang eomma lakukan padanya dulu, aku tidak tau ternyata Ia bisa seperti itu padamu. Hahaha” Hyojin terdiam sesaat saat melihat Jongjin tertawa, lalu ia ikut tersenyum. Entah, Hyojin sangat merasa bahagia jika Jongjin tertawa dihadapannya.

 

Hyungku suka dengan mahluk seperti itu” Jongjin menoleh cepat ke arah salah seorang penjual boneka disudut taman kota dan menunjuk satu jenis boneka yang terjajar rapi disana.

 

“Kura-kura?” Hyojin memastikan, Jongjin mengangguk dan kembali menoleh Hyojin dengan cepat lalu tersenyum lagi dan lagi-lagi Hyojin dibuat tidak fokus dengan senyumannya itu.

 

“Aku tidak tau mengapa hyungku suka sekali dengan kura-kura itu, padahal kura-kura sangat membosankan dan hyungku cepat bosan.” Jongjin mengadahkan kepalanya sambil memejamkan matanya.

 

“Kau kenapa?”Tanya Hyojin

 

“Tidak apa-apa…aku hanya mengingat ulang apa yang terjadi saat kami sama-sama masi sangat kecil dan tumbuh bersama. Tapi, hyungku sudah tidak bisa mengingatnya lagi.”

 

Hyojin kembali menunduk, perasaan bersalah itu muncul lagi. Tapi, bukankah itu bukan sepenuhnya salahnya? Bahkan ia hampir saja mati karena Jongwoon yang hendak menabraknya, tapi kalau dia waktu itu berhati-hati saat hendak menyebrang, kejadia itu tidak mungkin terjadi.

 

“Tidak usah merasa bersalah begitu, sudah aku katakan padamu itu sebuah kecelakaan tidak ada yang salah.” Jongjin menepuk-nepuk pundak hyojin. Gadis itu mengamati kembali boneka kura-kura itu, namun ia kembali teringat hal yang sempat Ia lupakan tadi.

 

“Hah…Jongjin oppa sekarang jam berapa” Ujar Hyojin panik dan membuat Jongjin kaget.

 

“Jam 3 sore, wae?”

 

Mwo?!!! Bagaimana ini? Aku kan harus bekerja dan sekarang aku sudah sangat terlambat! Aku pasti akan dipecat oleh nona Jung” Hyojin panik dan mengacak-acak rambutnya lagi, bukannkah seharusnya gadis itu memasang mata boneka tadi setelah selesai menyuapi Jongwoon?

 

Aigo..mianhae Hyojin-ah. Aku yang mengajak kau jalan-jalan.” Hyojin menoleh sekilas, Jongjin Ia tampak menggemaskan jika berekspresi bersalah seperti itu, apa pria itu selalu seimut dan semanis ini?

 

“Hum, bukan salahmu oppa. Aku yang terlalu bodoh. Hehe” Hyojin menghela napasnya, sebentar lagi Ia pasti dipecat.

“Lagi pula sepertinya kau juga memang harus berhenti pekerjaanmu itu.” Ujar Jongjin dengan santai dan membuat Hyojin membulatkan matanya.

 

“Mak..mak..sudmu?”

 

“Eh? Apa eomma belum memberitahumu kalau Ia akan mengangkatmu menjadi anaknya?” Jawab Jongjin yang membuat mata Hyojin membulat.

 

MWORAGO?!!” Hyojin berdiri dari tempat duduknya “Me..mengankat aku sebagai anaknya?” Jongjin mengangguk ragu, lalu menarik tangan Hyojin agar gadis itu kembalu duduk.

 

“Kenapa nyonya Kim selalu melakukan sesuatu diluar pemikiranku?” Hyojin menggigit bibir bawahnya, “sampai sekarang aku juga masi belum mengerti mengapa nyonya Kim mengarang cerita tentangku dan Jongwoon-ssi, lalu sekarang? Ia ingin mengangkatku sebagai anaknya.” Hyojin lalu menoleh kearah Jongjin yang juga menatapnya,

 

“Jongjin oppa, apa kau mau menceritakan semuanya padaku? Apa yang sebenarnya terjadi?” Jongjin terkejut lalu memandang lurus kedepan, memejamkan matanya sesaat lalu membukanya lagi.

 

“Dulu Jongwoon hyung mempunyai seorang kekasih namun Ia pergi meninggalkan hyungku tanpa kabar dan membuatnya frustasi.” Hyojin tertegun sejenak,

 

“lalu?”

 

Eomma sangat tidak menyukainya, aku tidak tau. Kata eomma, Ia tidak suka dengan gadis itu karena gadis itu adalah anak penjual bubur, tapi aku tau eomma tidak seperti itu. Eomma juga yang telah membuatnya pergi.” Hyojin membulatkan matanya.

 

“Nyonya Kim….” Lirih Hyojin yang dibalas anggukkan lesu oleh Jongjin. “Lalu..kenapa Jongwoon-ssi…”

“Park Hyojin…nama gadis itu Park Hyojin.itu sebabnya dia merasa sangat tidak asing padamu Hyojin ah.” Jongjin memotong. Hyojin menunduk memerhatikan cup ice creamnya yang sudah habis, dia sama sekali tidak habis pikir, apa nyonya kim sudah gila mengarang cerita bahwa dirinya adalah kekasih Jongwoon itu?

 

“Tapi….mengapa nyonya kim harus berbohong? Kenapa…”

 

Hyung, dia amat mencintai kekasihnya itu.” Hyojin menoleh menghadap jongjin, yang kini berdiri dan memandang lurus ke depan. “Eomma..menginginkan hyung jatuh cinta denganmu dan melupakan kekasihnya” Jongjin menundukkan kepalanya dan tersenyum miris lalu menoleh menatap Hyojin yang dari tadi memperhatikannya, “tidak apa-apa kan?”

 

Hyojin terdiam, hatinya sakit. Semuanya menjadi sangat kacau! Tak habis pikir, mengapa nyonya Kim berpikiran seperti itu. Membuat Jongwoon mencintainya dan apa mereka tidak memikirkan perasaannya?

 

“Aku tidak tau Oppa…tapi aku tidak mungkin membiyarkan Jongwoon ssi mencintaiku. Aku bukan kekasihnya, nama kami hanya mirip namun aku bukannya orang yang sama dengan kekasihnya itu…dan ingatan Jongwoon ssi, dia mungkin akan mengingatnya lagi. Dia pasti akan marah padaku. Lalu…ia pasti akan membenciku….” Suara Hyojin bergetar, Ia mengeratkan genggaman tangannya pada wadah ice cream yang nyaris berbentuk tak sempurna. Jongjin duduk kembali dan menggenggam tangan Hyojin bermaksud untuk menenangkannya.

 

Hyung…pasti juga marah dengan eomma dan aku…” Lirih Jongjin. Hyojin mengangkat wajahnya menatap Jongjin, tangisannya sudah tak terbendung lagi. Aliran kecil dipipinya telah terbentuk sempurna, Jongjin menarik tubuhnya, memeluknya dan mengusap punggung Hyojin,

 

“Tolong…demi eommaku.” Rasanya Hyojin ingin melepas pelukan Jongjin dan memukulnya yang tidak tau bagaimana kacaunya hati gadis ini. Namun, atas semua kebaikan nyonya Kim dan rasa bersalahnya atas kecelakaan Jongwoon, tanpa disetujuinya, kepalanya mengangguk perlahan. Artinya….Hyojin sudah bersedia masuk permainan konyol nyonya Kim. Bodoh? Sudah pasti.

 

***

Sudah dua jam semenjak kembalinya Hyojin ke rumah sakit dan sepeninggal Jongjin seusai menjenguk kakaknya yang terbaring lemah dengan tangan, kaki, dan kepala yang masi diperban sempurna, Hyojin hanya diam merenungkan bagaimana nasibnya setelah ini. Jongwoon yang semenjak ditinggalkan Jongjin berdua bersama Hyojin mulai merasa bosan. Jongwoon menggerakan badannya untuk duduk di atas kasurnya dan mencoba turun, agak gila memang karena kondisinya memang tidak memungkinkan dia untuk berjalan.

 

“Brak!”

 

suara seseorang terjatuh itu membuat Hyojin tersentak dan sadar dari lamunanya “Jongwoon ssi!!!” Hyojin menghapiri jongwoon yang tergeletak di samping tempat tidurnya.

 

“Kau mau apa Jongwoon ssi? Kenapa bisa terjatuh” ucap Hyojin kesal lalu berjongkok dan membantu Jongwoon naik kembali ke atas tempat tidur. Saat hendak menarik tangan Jongwoon, Jongwoon menarik kembali tangannya lalu menatap garang Hyojin dan membuang wajahnya. Hyojin tersentak saat Jongwoon melepaskan tangannya seolah enggan Hyojin membantunya.

 

Yak…Jongwoon ssi!! Kau kenapa hah?” Hyojin menarik kembali tangan Jongwoon dan namja itu menolaknya lagi. Kini Hyojin menatap Jongwoon yang berusaha berdiri namun tidak bisa.

 

“Tsk! Kau tidak akan bisa melakukannya sendirian Jongwoon ssi. Lihat, kaki dan tanganmu masih sakit!” Hyojin kembali menarik lengan namja itu namun lagi-lagi namja itu menghempaskan tangannya. Kini Hyojin hanya berjongkok mematung melihat Jongwoon menggapai tombol dan menekannya. Tak lama pintu terbuka dan beberapa suster menghampirinya.

 

“Tuan Kim mengapa bisa terjatuh?” Lalu beberapa suster itu membantu Jongwoon agar bisa kembali di atas tempat tidurnya.

 

Hyojin masi menatap Jongwoon yang sejak tadi mengacuhkannya. Kali ini Jongwoon sedang menonton tv sambil memakan makan malamnya sediri, hal yang amat jarang ia lakukan sejak 2 hari lalu, biasanya ia akan meminta Hyojin menyuapinya. Aneh. Itulah yang dipikirkan Hyojin? Ada apa dengan mahluk bernama Kim Jongwoon ini?

 

Hyojin menghampiri Jongwoon yang sedari tadi mengacuhkannya. “Jongwoon ssi?”

 

Jongwoon masi saja berpura-pura tidak mendengar Hyojin. Hyojin yang kesal langsung menggapai lengan Jongwoon dan menggoyangkannya.

 

“Kau kenapa?” Tanya Hyojin sambil terus menggoyangkan lengan Jongwoon. “Yak! Aku bicara padamu kau kenapa?”

 

“Tsk! Harusnya aku yang tanya kau kenapa!!” Bentak Jongwoon yang membuat Hyojin terkejut. Jongwoon melepaskan genggaman tangan Hyojin dilengannya dan meletakkan piring makan malamnya yang belum habis dengan asal di mejanya dan menghasilkan dentingan piring dan sendok yang sangat nyaring. Jongwoon membuang wajahnya ke arah samping dan melipat tangannya.

 

“Kau..dari tadi hanya diam. Lalu, buat apa kau disini? Kau bosan menungguiku disini? Apa aku memintamu? Tidak kan? Pulanglah…aku tidak butuh dirimu kalau kau hanya diam duduk disana”

 

“Jongwoon ssi…”

 

“Tsk! Bahkan kau memanggilku Jongwoon ssi!” Jongwoon merebahkan tubuhnya di atas kasur dan membelakangi Hyojin.

 

“Jongwoon..op..jongwoon oppa….mianhae. Aku…”

 

“Pergi kau!”

Hyojin terpaku. Kim jongwoon mengusirnya. Hyojin mengambil tasnya di sofa dan berbalik menuju pintu. Hyojin menoleh sedikit melihat Jongwoon yang masi membelakanginya. Entah apa yang membuatnya tak nyaman sekarang, baru saja tadi ia menyetujui permainan konyol nyonya Kim, sekarang ia telah membuat Kim Jongwoon marah terhadapnya. Tepat saat pintu tertutup, Jongwoon menolehkan kepalanya dan tersenyum miris,

 

“Bahkan…kau benar-benar pergi Hyojin ah”

 

***

Hyojin terduduk lemas saat membaca surat permohonan adopsi yang baru saja ditandatangani oleh Lee ahjumma. Bearti permainan konyol ini segera dimulai.

 

“Jaga nama baik panti ini, eoh” ucap Lee ahjumma saat membantu Hyojin mengemasi semua barang-barangnya.

 

“Kenapa harus malam ini? Protes Hyojin.

 

“Nyonya Kim menginginkan kau pindah malam ini juga ke rumahnya. Anggap saja ini adalah perintah dari orang tuamu yang harus kau patuhi, ne.” Lee ahjumma tersenyum dan mengusap pipi Hyojin lembut. “Jadilah anak yang baik, eoh? Jangan kecewakan orang tuamu yang baru”

 

“Haha…ahjumma. Aku ini sudah besar, mengapa bersikap seperti aku adalah anak umur 5 tahun?”

 

“Kau memang masih sangat kecil Hyojin ah”, Hyojin menoleh dan melihat Sungmin yang tersenyum di pintu kamarnya.

 

“Ahh oppa!” Hyojin cemberut saat melihat Sungmin menertawakannya.

 

“Kau harus baik-baik saja disana, jangan lupa mengunjungi kami disini. Arra?” Kata Sungmin yang sekarang sudah memeluk Hyojin.

Ne! Pasti aku akan sering-sering mengunjungi kalian disini”

 

“Aku pasti akan merindukanmu eonni

 

“Aku juga”

 

Ne…aku juga noona!”

 

Hyojin menoleh terhadap 3 adik-adik kecilnya di panti, Hwanmi, Hana, dan Seungjoo. Hyojin berjongkok dan mengacak rambut adik-adiknya itu satu-satu.

 

“Aku juga pasti akan merindukan kalian semua, aku janji setiap kali datang kesini aku akan membelikan kalian banyak makanan!” seketika itu mereka bertiga berteriak dan memeluk Hyojin erat.

 

“Sudah..sudah…Hyojin ayo cepat” ucap Lee ahjumma sambil membawa beberapa tas milik Hyojin. Sungmin juga membantu membawakannya.

 

Nyonya kim merekahkan senyumannya saat melihat Hyojin keluar dari panti dan berjalan menuju mobilnya. Hyojin juga tersenyum saat nyonya Kim memeluknya dengan sangat erat dan untuk kesekian kalinya ia merasa sangat nyaman.

 

“Aku senang karena aku tidak perlu mengganti margamu.” Kata nyonya Kim sambil mencubit pipi Hyojin. “Kajja…kita pulang sekarang” ucapnya lagi seraya mendorong Hyojin untuk masuk ke dalam mobil. Hyojin membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya saat mobil perlahan bergerak meninggalkan tempat itu. Hyojin berbalik saat merasakan nyonya Kim menggenggam tanganya. Nyonya kim menatapnya dengan tatapan dan senyuman yang sulit dimengerti.

 

“Hyojin ah..jadilah anakku seutuhnya.”

Hyojin mengerutkan keningnya dan mencoba mengerti maksud kata-kata nyonya kim, bukankah sekarang hyojin anaknya?

 

“Menikahlah dengan Jongwoon” ucap nyonya Kim dengan pelan, namun bisa Hyojin dengar.

 

“Tapi…mana bisa? Dia…Jongwoon ssi…tidak mencintaiku” ucap Hyojin lirih. Hyojin kembali menatap nyonya Kim saat ia merasakan genggaman nyonya Kim semakin erat.

 

“Aku tau…tapi eomma yakin Jongwoon bisa mencintaimu nanti dan kau pasti akan mencintai Jongwoon. Eomma tidak akan melaksanakan pernikahan jika kalian benar-benar belum saling jatuh cinta.” Nyonya Kim merangkul pundak Hyojin dan mengusap bahunya. “Kau mau ne? Demi eomma

 

Lagi..perasaan yang sama saat Hyojin mendengar ucapan Jongjin tadi siang, ia rasakan lagi. Tidak tau mengapa, Hyojin yang sangat ingin menolak semua ide konyol ini malah menganggukan kepalanya. Nyonya Kim kini memeluknya dan berbisik,

 

“Biasakan memanggil Jongwoon dengan panggilan oppa, ne. Bukankah kalian sepasang kekasih?” Nyonya Kim terkekeh dan melepaskan pelukannya. Hyojin tersenyum kecil. Yah…kehidupannya dimulai.

 

***

Kim’s Residence

 

Hyojin terkesima saat melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mewah keluarga Kim, bahkan ruang tamunya 2 kali lebih besar dari halaman panti asuhan tempat tinggalnya dulu.

Rumah ini seperti istana para putri kerajaan yang dulu Ia lihat ditelevisi, awalnya Hyojin mengira rumah seperti istana itu hanya ada di negeri dongeng tapi kenyataan rumah itu memang ada dan bahkan bisa dikatakan ini adalah rumahnya sekarang.

 

“Selamat datang di rumahmu yang baru, anakku” ujar nyonya Kim lega, “nah ayo eomma tunjukkan kamarmu” nyonya Kim lalu merangkul Hyojin untuk menuntun gadis itu ke kamarnya, naik kelantai kedua lalu melewati sebuah ruangan yang penuh dengan buku-buku, sekilas Hyojin melihat  seseorang berkursi roda yang sedang membaca salah satu buku disudut ruangan.

 

Nyonya Kim berhenti di depan pintu bercat coklat tua dan membukannya. Sebuah kamar yang menurut Hyojin, terlalu besar kalau disebut sebagai kamar, ada sofa kecil dan televisi berukuran besar didalamnya. Disudut terdapat ranjang king size dengan bed cover berwarna merah muda. Hyojin menganga lebar melihat sesuatu yang disebut kamar untuknya ini. “Waaa” Hyojin bergumam kagum saat melihat lemari pakaian yang penuh dengan berbagai jenis pakaian bermerk dan tentu saja sangat mahal. Hyojin hampir saja berteriak gila sewaktu memasuki kamar mandi pribadinya. Semua fasilitas mewah ini, miliknya?

 

“Hyojin-ah” panggil Nyonya Kim dari luar kamar mandi.

 

“Ahh..nyonya Kim” Hyojin langsung menghampiri nyonya Kim yang berada di balkon kamarnya.

 

“Eh? Apa kau bilang? Panggil aku eomma!” Ucap Nyonya Kim cepat.

 

“Ah, iya eomma” Hyojin tersenyum seperti kuda dan menggaruk belakang kepalanya, dia hanya merasa canggung saat harus memanggil wanita ini eomma. Hyojin berdiri disamping nyonya Kim dan melihat pemandangan halaman belakang rumah keluarga Kim yang penuh dengan lampu taman yang indah, ada air mancur ditengah taman.

 

“Hyojin-ah, mianhae” lirih Nyonya Kim yang sontak membuat Hyojin menoleh cepat kearahnya.

Mianhae, eomma seperti memaksakan sesuatu yang sangat jahat padamu. Tapi, eomma sangat ingin kau menikah dengan Jongwoon, Hyojin-ah.” Hyojin masih menatap wajah nyonya Kim yang menunduk dengan tatapan sendu. Ini memang rumit untuk Hyojin, namun melihat Nyonya Kim yang kini menjadi ibunya seperti ini, Hyojin tidak bisa mengutarakan keinginannya untuk tidak mau menuruti semua permintaan konyol ini.

Eomma mohon Hyojin-ah, buat Jongwoon jatuh cinta padamu.” Kini Nyonya Kim menatap Hyojin dengan padangan memohon, tangan nyonya Kim menggenggam erat tangan Hyojin yang sangat dingin.

 

Eomma…kenapa…” Ucap Hyojin terputus, ia memang sudah tau apa alasan nyonya Kim dari Jongjin, tapi Ia memutuskan untuk mendengarkan alasan itu langsung dari Nyonya Kim. Nyonya Kim menundukkan kepala kembali,

 

“Ada sesuatu yang amat teramat sulit dijelaskan…”

 

“Park Hyojin…eomma tidak ingin Jongwoon ssi ingat dengan wanita itu lagi” ujar Hyojin cepat, nyonya Kim kembali memandang kaget gadis itu.

 

“Jongjin oppa..dia sudah menceritakkan semuanya padaku” ucap Hyojin yang seolah tau apa yang akan ditanyakan nyonya Kim. Wanita paruh baya itu melepaskan genggaman tangannya pada Hyojin dan kembali memandang lurus kedepan dan tersenyum miris.

 

“Ada beberapa hal yang tak bisa aku ungkapkan tentang masalah ini. Terlalu rumit untuk kau, Jongjin, maupun Jongwoon tau. Namun cepat atau lambat pasti akan aku ceritakan.” Nyonya Kim kembali menatap Hyojin lembut dan mengusap pipi gadis itu. “Hyojin-ah…anak perempuan eomma satu-satunya. Tolong…buat Jongwoon jatuh cinta dan melupakan gadis itu. Nanti…eomma pasti akan menceritakannya.”

 

“Tapi kalau Jongwoon ssi……”

 

“KalauJjongwoon mengingat kembali masa lalunya, maka akan eomma pastikan Ia tetap akan melihatmu. Buatlah dia jatuh cinta secepatnya, maka semua akan baik-baik saja”

 

Hyojin termenung, sesak didadanya sangat menyiksanya. Membuat orang lain -yang tidak Ia cintai- jatuh cinta dan melupakan cintanya demi seorang gadis yang bahkan tidak Ia kenal dulu. Bukankah itu sama saja, membuat Jongwoon sakit pada akhirnya? Apa bedanya Jongwoon mencintai seorang gadis yang sama sekali tidak mencintainya dengan Jongwoon yang harus kehilangan cintanya?

 

“Cinta..bisa datang kapan saja kan? Eomma yakin kau pasti tertarik dengan putra pertamaku itu Hyojin ah, bukankah Jongwoon sangat tampan?” Goda nyonya Kim yang seakan tau apa yang sedang dipikirkan gadis itu.”Sudahlah, kajja…kita bertemu dengan appamu

 

Hyojin menurut saja saat nyonya Kim membawanya menuju ruang yang penuh buku tadi. Benar. Memang ada seseorang berkursi roda didalamnya, dan ternyata orang itu….

 

Yeobo! Ini anak kita yang baru…” Ucap nyonya Kim yang penuh semangat.

 

Pria itu. Tuan Kim memutar kursi rodanya dan memandang Hyojin dengan mata berbinar. “Ah! Hyojin-ah! Sang pemberani yang menolong eommamu saat tasnya dirampas perampok ! Appa tidak menyangka ternyata kau anak yang manis!” Canda tuan Kim.

 

Hyojin dan Nyonya Kim terkekeh mendengarnya.”Kapan kalian datang? Kenapa aku tidak mendengar kalian datang?”

 

“Ah kau ini! Kau lupa kalau kau ada dimana? Kau diruangan favoritmu untuk menjadi seseorang yang sangat tidak peka terhadap lingkungan!” Nyonya Kim menghampiri Tuan Kim dan mengambil buku yang ada dipangkuan Tuan Kim.

 

“Kau lihat ini Hyojin ah, asal kau tau appamu ini sangat menyukai tempat ini dan kalau sudah membaca, dia seperti berada didunianya sendiri!”

 

Hyojin tertawa mendengar pernyataan Nyonya Kim tentang suaminya. Appa Hyojin yang baru. Tuan kim mendorong roda kursinya dan menghampiri Hyojin. Dengan reflek Hyojin berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Tuan Kim. Tangan pria paruh baya ini terulur untuk mengusap lembut kepala Hyojin. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya, pria itu sangat bahagia sekarang.

 

“Ah, aneh rasanya mempunyai anak dengan rambut sepanjang ini” ucap Tuan Kim sambil terkekeh. “Sekarang kita mempunyai seorang putri yang sangat cantik!”

 

“Huum! Kajja ayo kita makan, eomma sudah menyiapkan makanan yang sangat special dan banyak untuk Hyojin!” Ujar nyonya Kim sambil mendorong kursi roda suaminya.

 

“Ah yeobo, kau memasak banyak, apa kau mengirim beberapa untuk Jongwoon?” Tanya Tuan Kim.

 

Nyonya Kim langsung menepuk jidatnya dan berkata, “ah! Aku lupa kalau mempunyai Jongwoon”

 

Yak! Bagaimana bisa melupakan anakmu sendiri!” Komentar Tuan Kim sambil menggelengkan kepalanya. Oh, rasanya Hyojin sangat bahagia melihat pemandangan ini. Eomma, Appa yang lengkap dan sangat menyenangkan!

 

“Ngomong-ngomong tentang Jongwoon, bearti kau akan menjadi menantu appa juga eoh?” Tanya Tuan Kim dengan senyuman yang masih betah hinggap diwajahnya.

 

Ne..” Jawab Hyojin gugup.

 

“Ah! Mulai sekarang kau harus sering-sering menggilku “appa” sebelum berubah menjadi “abeonim”! Hahahaha”

 

***

Seoul Hospital

 

Jongwoon sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit hari ini, hanya ada Jongjin dan Heechul – sepupunya- yang menjemputnya. Kedua orang tua Jongwoon sedang berada di Taiwan untuk mengantarkan appanya terapi tradisional.

“Kudengar, keluarga kalian mengadopsi seorang gadis? Apa benar?” Tanya Heechul yang kini sedang duduk santai selesai membantu Jongjin mengepak barang-barang Jongwoon.

 

Eoh, kau tau kan hyung, eomma dan appa sangat menginginkan anak perempuan” jawab Jongjin.

 

“Apa dia sudah ada dirumah?” Tanya Jongwoon penasaran, ya semenjak kejadian waktu itu Hyojin tidak pernah menemuinya lagi dan dia memang benar-benar merasa sangat bodoh!

Jongjin menatap hyungnya dan mengangguk.

 

“Kenapa dia tidak ikut menjemputku?” Tanya Jongwoon sekali lagi.

 

“Mulai kemarin ia menjadi staff di whystyle. Dia membantu Gyuri mengecek bebarapa stock kacamata produksi pabrik kita. Hari ini dia tidak menjemputmu karena harus bekerja hyung” jawab Jongjin yang kini duduk disebelah Heechul.

 

“Ah, harusnya dia tidak perlu sok sibuk seperti itu, itu perusahaanku dan dia adalah kekasihku.” Ucap Jongwoon sambil mengerucutkan bibirnya.

 

Mwo? Kekasihmu? Gadis itu kekasihmu? Bukankah…” Ucapan Heechul terhenti saat mendapat senggolan keras dipunggungnya dari Jongjin, Heechul menoleh cepat pada Jongjin dan hendak memarahinya, namun melihat tatapan Jongjin, ia lalu teringat sesuatu.

 

Wae hyung?” Tanya Jongwoon yang bingung saat Heechul tiba-tiba menghentikan ucapannya.

 

“Ah itu…tidak apa-apa” Heechul terkekeh canggung, dia hampir saja membocorkan sesuatu yang bisa berimbas fatal.

 

“Kau aneh hyung!” Ejek Jongwoon

 

“Memangnya kau tidak aneh? Kau bahkan jauh lebih aneh dariku, kau tau?” Heechul membalas ejekan Jongwoon.

 

“Ayolah hentikan! Kalian sama-sama aneh! Ah!” Ucap Jongjin yang sudah biasa atas pemandangan kurang akur dari kakak dan sepupunya ini, padahal Jongwoon srdang lupa ingatan. Mereka hanya berbeda 1 tahun dan sama-sama bergolongan darah AB, maka dari itu mereka berdua sebenarnya memang aneh!

 

***

Hyojin keluar dari sebuah mobil yang berhenti tepat dirumahnya. “Gomawoyo eonni” ucap Hyojin sambil membungkukkan badannya kepada gadis yang duduk dibalik kemudi.

 

“Eoh! Terimakasih juga sudah menemaniku memilih barang-barang pernikahanku. Kau sangat membantu Hyojin-ah!” Ujar Gyuri.

 

Hyojin lalu menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya hingga mobil Gyuri menghilang. Ia lantas masuk dan langsung menuju kamarnya. Beberapa pelayan menundukkan kepalanya hornat yang dibalas senyum canggung Hyojin.

 

“Nona, apa perlu aku siapkan air hangat? Nona pulang terlambat malam ini, sepertinya nona kelelahan.” Ujar salah satu pelayan yang paling tua, Song ahjumma.

 

Hyojin menggeleng pelan “aku tidak terbiasa mandi dengan air hangat ahjumma.”

 

Hyojin menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya. Melewati sebuah kamar yang tidak tertutup rapat dengan lampu yang menyala. Seingat Hyojin kamar disebelah kamarnya itu adalah kamar kosong. Hyojin berhenti dan mencoba mengintip, gadis itu menjulurkan kepalanya dengan cepat, membuat seseorang yang berada didalam hendak menutup pintunya terkejut.

 

“Aaaaaaa!” Namja itu mundur selangkah dan memegang dadanya! “Yak! Kau!” Ujar namja itu setelah sadar kalau Hyojin yang menjulurkan kepalanya dari balik pintu sencara tiba-tiba.

 

“Jongwoon ssi..eh oppa! Kau sudah pulang?” Tanya Hyojin yang juga kaget melihat Jongwoon yang ternyata ada di dalam kamar ini.

 

“Kau tidak melihat aku disini? Aku ada dirumah Kim Hyojin! Bearti aku sudah pulang” ujar Jongwoon kesal yang masih menetralkan napasnya.

 

“Oh! Ya sudah aku masuk ke kamar dulu ne

 

“Hyojin ah” panggil Jongwoon yang membuat Hyojin tidak jadi mengeluarkan kepalanya.

“Masuklah!” Perintah Jongwoon dan mengisyaratkan Hyojin duduk di sofa yang berada didepannya.

 

Hyojin melangkah ragu namun akhirnya tetap masuk. Hyojin duduk dihadapan Jongwoon dan menundukan kepalanya. Ia takut Jongwoon masih marah, karena terakhir mereka bertemu memang mereka dalam keadaan yang tidak baik.

 

“Kenapa kau tidak menjemputku?” Tanya Jongwoon akhirnya.

 

“Aku…aku bekerja. Sekarang aku…”

 

“Sekarang kau bekerja di whystyle?” Tebak Jongwoon. “Kata eommaku whystyle adalah perusahaanku yang aku bangun sendiri dan kau adalah kekasihku. Kau sekarang adalah anak appa dan eomma. Jadi kalau kau pergi pada jam kerja sudah pasti tidak akan ada satu orang pun yang menegurmu, hyojin-ah. Arra?” Kata Jongwoon panjang lebar dan menyadarkan Hyojin pria ini sangat cocok menjadi bos yang menyebalkan.

 

Hyojin masih tertunduk dan menganggukkan kepalanya sedikit tanda ia mengerti ucapan jongwoon. Hening. Kembali keheningan menyelimuti keduanya. Jongwoon menghela nafasnya dan berdiri mendekati Hyojin yang masih menunduk. Jongwoon berjongkok dihadapan Hyojin, membuat gadis itu terkesiap melihat Jongwoon didepannya. Tangan Jongwoon terulur meraih dagu Hyojin agar yeoja itu melihatnya, sedetik kemudian Jongwoon menggerakkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Hyojin. Ada perasaan bergejolak yang dirasakan Jongwoon saat melihat gadisnya ini. Sesuatu yang aneh mulai dirasakan Jongwoon, ini seperti benar-benar baru untuk Jongwoon. Hyojin menggerakkan bola matanya kesegala arah asal tidak memandang Jongwoon. Gadis itu sedang bingung, ini untuk pertama kalinya dia dengan seorang namja dalam jarak pandang sedekat ini. Hyojin berani bersumpah ia bisa saja pingsan sekarang juga, bukan karena gugup tapi takut. Ia takut Jongwoon akan melakukan sesuatu yang biasa dilakukan pasangan kekasih yang lainnya. Bagaimana pun Jongwoon hanya tau Hyojin adalah kekasihnya.

 

Jongwoon sepertinya mengetahui gadisnya dalam keadaan yang sangat aneh. Bukankah hal ini wajar? Bahkan Jongwoon hanya mengusap pipinya. Dengan perasaan yang seperti “baru” bagi Jongwoon yang beberapa waktu lalu ia tepis dengan pemikiran bahwa dia memang belum mengingat apa-apa, kini kembali hinggap. Apa semua perasaan ini karena dulu kami tidak pernah melakukan hal yang biasa dilakukan pasangan lainnya? Apa benar? Jongwoon semakin nekat menepis jarak diantara keduanya. Jantung mereka berdua sama-sama berdegup kencang. Hyojin merasa takut namun Jongwoon merasakan sensasi asing yang baru baginya.

 

“Kau tidak merindukanku, hum?” Bisik Jongwoon tanpa mengalihkan pandangannya pada Hyojin.

 

Perlahan tapi pasti Jongwoon memiringkan kepalanya dan terus mencoba menepis jarak antar keduanya. Semakin lama tubuh keduanya kian menempel. Hyojin tidak tau harus berbuat apa, tangannya meremas kuat bantal sofa disampingnya. Hyojin memberanikan diri melihat Jongwoon yang matanya melihat kearah bibirnya. Seperti melihat slow motion, Hyojin seakan terhipnotis akan pesona Jongwoon dari jarak sedekat ini. Kini malah Hyojin menatap balik bibir Jongwoon, entah setan apa Hyojin seakan menginginkan bibir itu juga. Ah! Hyojin tersadar saat pikirannya sudah berpikir yang tidak-tidak. “Aish, kenapa kau mesum sekali Kim Hyojin!” Rutuk hyojin dalam hati. Semakin lama wajah Jongwoon semakin dekat. Hyojin langsung menutup matanya rapat-rapat.

 

Hening.

 

Hyojin masi menutup matanya, mempersiapkan hatinya untuk merasakan ciuman pertamanya -mungkin-

 

CHU!

 

Hyojin membuka matanya cepat saat merasakan Jongwoon mengecup sekilas keningnya. Lalu berdiri dan mengelus poni Hyojin.

 

“Tidurlah. kau pasti sangat lelah Hyojin-ah”

 

Hyojin masi menatap Jongwoon tak percaya, bukankah Jongwoon tadi hendak mencium bibirnya tapi kenapa…

 

Wae? Kau mau tidur denganku?” Tanya Jongwoon dengan wajah polosnya.

 

Mwo? Ah..ya. Aku ke kamarku dulu. Jaljayo oppa” Hyojin masih harus menetralkan degup jantungnya. Hyojin dengan cepat mencapai pintu lalu keluar.

 

Jongwoon menatap nanar pintu yang baru saja tertutup, kilasan kejadian beberapa menit yang lalu kembali terputar diotaknya. Melihat Hyojin yang begitu gugup dari awal Ia menyentuhnya. Lalu perasaan aneh ini. Ada apa sebenarnya? Apa benar mereka sepasang kekasih? Jongwoon menutup matanya dan menekan kepalanya, ia selalu merasakan sakit saat ingin mencari tau segala sesuatu yang dilupakannya.

 

“Arrghhhh” Jongwoon mengerang tertahan dan terduduk lemas di sofa. Jongwoon mengatur nafasnya dan menutup matanya lagi. Tak lama Jongwoon membukanya dan yakin atas satu hal.

 

“Kim Hyojin, siapa kau?”

 

————————————– TBC ——————————————

Part 4 Selesai jugaaaaa… *lap keringet* gimana? Masih kurang panjang? Mohon komentarnya yaa ^^ Gomawo ~

Advertisements

4 comments on “(SHARE FF) True Lover Part 4

  1. Wah smg kim hyojin yg ini tdk akan disalahkan jong woon oppa, hyojin yg ini hny menuruti permintaan ny kim yyg tlh menganngkatnya sbg anak dan ny kim hny menginginkan dirinya u mjd menantu dan istri jong woon oppa.. pastinya kim hyojin was2 takut jong woon oppa mengingat akan kenyataan sbnrnya dan akan memarahinya.. ditunggu kelanjutannya chingu

  2. Suka ff nyaaa….
    Penasaran dgn kelanjutanny…
    Ad kh kelanjutannya, jongwooon sdh inget kh??kasian hyojin klo jongwoon inget dn jd benci dy..
    Krn nama mrk sm jd ag bingung mn kim mn park hyojin, tp suka sm tema ff ny, smpai married life kh ini??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s