(SHARE FF) Neo Naekoya

321304_238266499544666_103393059698678_633260_3375566_n

[FF Oneshoot] Neo Naekoya

Author:Ikmalia N Firdaus

Title: Neo Naekoya

Cast:

Cho Kyuhyun

Yoon Seo Hwa

Ini Fanfiction yang saya publish pertama di Blog (http://ikmaliafirdausi.wordpress.com) ini^^ Thanks for reading…

Sudah lama Seo-hwa memendam perasaannya dan berkali-kali itu pula ia harus menahan rasa sakit yang melebur dalam jiwanya. Ini sudah sebulan, semenjak pernikahannya dengan Kyuhyun. Pria itu seakan bisu, bahkan tak pernah menganggap Seo-hwa ada. Sempat Seo-hwa mencoba mengajaknya bicara, tapi pria itu tetap sama. Ia lebih memilih melenggang pergi dari hadapan Seo-hwa atau berpura-pura tuli.

Seo-hwa sudah menyerah, ia tak tau harus melakukan apa. Ia terlampau lelah untuk Kyuhyun. Pria itu tak pernah sekalipun bisa menatapnya.

Sore ini, Seo-hwa berencana mengunjungi Ibu mertuanya. Tadi, setelah ia menghubungi beliau. Beliau sedang berada di café, yang Ibu Kyuhyun bangun dengan Ibu Sungmin dan juga Ibu Leeteuk, mereka memberi nama Kona Beans. Sekarang, Seo-hwa dan Ahra berada diruangan  khusus yang dirancang untuk bersantai Member Super Junior jika berkunjung atau salah satu sanak saudara dari mereka, sedangkan Ibu Kyuhyun masih sibuk mengurusi beberapa keperluan di café.

“Seo-hwa, bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun?” Tanya Ahra. Wanita itu duduk disamping Seo-hwa.

Seo-hwa pun sontak tertegun dengan pertanyaan Ahra, sebisa mungkin ia mengubah mimik wajahnya seolah hubungannya dengan Kyuhyun, baik-baik saja.

“N-ne.. Kami baik, eonni..”

“Apa selama ini Kyuhyun memperlakukanmu dengan baik?”

Tuhan! Seo-hwa rasanya ingin menjerit. Ia tak tau lagi harus berkata apa. Ia ingin jujur, tapi bisa saja kejujurannya membuat malapetaka. Tapi, jika ia berbohong? Banyak dosa yang harus ditanggungnya.

“N-nde.. Dia memperlakukanku dengan baik…”

Walau sebenarnya tidak..

Ahra menganggukkan kepalanya berkali-kali, lalu ia mengambil segelas orange jus diatas meja didepannya dan meminumnya. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan. Ahra sibuk dengan ponselnya yang tadi mendering dan Seo-hwa pun sedang berkutat dengan pikirannya sampai pintu ruangan itu terbuka. Tampaklah Ibu Kyuhyun yang tersenyum lebar kearahnya.

“Seo-hwa, maaf membuatmu menunggu terlalu lama, sayang…” Ibu Kyuhyun menarik Seo-hwa, lalu memeluknya. Tak lupa ia mendaratkan dua buah kecupan pada pipi Seo-hwa.

“Tidak, Eomonim. Aku yang seharusnya minta maaf padamu karena telah merepotkanmu,”

“Tidak-tidak.. Aku tidak merasa terepotkan. Lalu, dalam rangka apa kau kemari?” Seo-hwa seperti menimang-nimang haruskah ia mengatakannya sekarang?

“eum.. Aku bosan dirumah, Eomonim.. Jadi bolehkah aku bekerja disini?” Pertanyaan mendadak Seo-hwa membuat Ibu Kyuhyun maupun Ahra sontak membulatkan mata. Mereka dengan serempak menjerit, dan dengan pergerakan reflek Seo-hwa menutup telinganya dengan kedua tangannya.

“Apa selama ini Kyuhyun tidak memberimu uang? Sehingga kau harus bekerja?” Mata Ahra menyelidik. Ia seakan curiga dengan permintaan Seo-Hwa. Sebisa mungkin Seo-hwa menjelaskan maksudnya. Ia hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman yang membuat malapetaka berkepanjangan menimpa dia.

“Tidak.. Kyuhyun– oppa memberiku uang yang cukup. Hanya saja aku ingin bekerja, aku bosan dirumah dan harus berdiam diri.” Kepala Seo-hwa menunduk. Ia tak berani menatap wajah Ibu Kyuhyun maupun Ahra.

“Aku tergantung pada Kyuhyun. Jika ia menyetujuimu bekerja disini. Baiklah.. Jika sebaliknya, kau tau sendiri kan, sayang?”

“Nde, Eomonim. Arraseo, gomawo..” Seo-hwa memeluk tubuh Ibu Kyuhyun erat. Inilah yang ia suka dari ibu Kyuhyun. Kasih sayang seorang Ibu yang selama ini tidak pernah Seo-hwa rasakan.

**

Seo-hwa berjalan pelan menuju lorong Apartemen menuju rumahnya. Ia dan Kyuhyun menempati Apartemen yang masih satu bangunan dengan asrama Super Junior, dengan alasan kesehatan Kyuhyun yang sewaktu-waktu bisa menurun karena terlalu lelah menempuh jarak ditambah lagi dengan jadwalnya yang cukup padat.

“Aku pulang..” Suara Seo-hwa terdengan lirih. Percuma saja ia bersuara dengan lantang. Ada atau tidak adanya Kyuhyun ia tidak akan pernah menjawab yang  menurutnya tidak perlu dijawab.

Seo-hwa pun melepas sepatunya dan meletakkannya pada rak sepatu. Setelah itu, ia memasuki ruang tengah dan melemparkan asal tas selempangan yang tadi ia pakai. Rasanya, tenggorokannya kekeringan. Ia haus dan membutuhkan minuman yang menyegarkan. Ia berjalan dengan cepat menuju dapur, membuka lemari pendingin, lalu meraih sebotol air minuman dan meneguknya hingga habis. Gila! Dia dehidrasi.

“Kau wanita, ‘kan? Apa wanita tidak memiliki tata aturan minum tanpa menggunakan gelas?” Suara dingin itu menyapu indra pendengarannya. Seo-hwa pun berbalik, ia mendapati Kyuhyun tengah menatapnya tak suka. Ia benci jika Kyuhyun terus menatapnya seperti itu. Seperti ia adalah sosok yang harus dimusnahkan dimuka bumi.

“Lalu, aku harus bagaimana agar menjadi seorang wanita yang benar-benar wanita?” Seo-hwa tersenyum miris. Ia mendekati Kyuhyun, menyenggol bahunya dan berjalan melewatinya. Ia seakan tersadar jika ia melupakan sesuatu. Tanpa membalikkan tubuhnya, ia pun berucap.

“Mulai besok aku akan bekerja di Kona Beans..” Dan kejadian sore itu telah berakhir. Seo-hwa lebih memilih mengasingkan dirinya didalam kamar sampai ke’esokan harinya.

**

Ini sudah seminggu sejak kejadian malam itu, Seo-hwa kini bekerja di Kona Bens. Dan masalah hubungannya dengan Kyuhyun seperti benda mati, ini jauh lebih parah dari satu bulan Seo-hwa menyandang sebagai istri seorang Cho Kyuhyun.

“Seo-hwa.. Kau melamun?” Seo-hwa seakan tersentak. Ia menatap Sungjin gamang, lalu secepat mungkin mengubah ekspresi wajahnya didepan Sungjin.

“Kau melamun?”

“Tidak..”

“Lalu?” Sungjin menyipitkan sebelah mata seolah mengintimedasi Seo-hwa. Dengan cepat Seo-hwa menyengir lebar, lalu mengapit lengan Sungjin.

“Oppa.. Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu didepanku. Kau tau? Kau jelek..” Seo-hwa berlari pergi meninggalkan Sungjin. Setelah ia menyatakan kalimat yang membuat Sungjin terkaget-kaget. Lantas ia pun mengejar Seo-hwa yang berlari terlebih dahulu meninggalkannya.

“YA, Yoon Seo Hwa! Berhenti!”

Sudah seminggu ini Seo-hwa mengenal Sungjin. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah berteman akrab dan keakraban mereka banyak yang menduga jika mereka tengah menjalin hubungan. Seo-hwa yang mengetahui tentang itu mencoba mengelak, memang tak semua orang mengetahui jika ia telah bersuami, hanya segelintir sanak saudara saja yang mengetahui. Dan tentang Sungjin.. Entahlah, Seo-hwa telah menganggap Sungjin sebagai kakaknya. Tidak lebih.

“Kau akan pulang, ‘kan?” Tanya Sungjin, sesaat setelah mereka selesai berkejaran dan diakhiri dengan kekalahan Seo-hwa.

“N-eh.. Wae?”

“Akan aku antar kau pulang, sekalian aku ingin berkunjung ke asrama..”

“Aniyo—“

“Jangan menolak Yoon Seo-hwa.. Aku akan tetap mengantarmu pulang. Kajja!” Sungjin menarik pergelangan tangan Seo-hwa. Dan pada saat itu juga, seuntai senyuman terpatri dari seorang Lee Sungjin. Ia bahagia.. Sangat…

**

Mereka kini berada disebuah pintu dimana tempat anggota Super Junior berada. Sungjin terlebih dahulu memencet bel yang berada disana dan tak lama Donghae membukakan pintunya. “Sungjin.. Kau datang? Ah! Bersama Seo-hwa juga.. Ayo masuk!” Donghae membuka pintunya lebar-lebar, member akses agar Sungjin dan Seo-hwa bisa masuk dengan leluasnya. Mereka bertiga berjalan kearah ruang keluarga dan disana semuanya berkumpul.

Seo-hwa sempat menyipitkan mata. Apa-apaan ini? Matanya mendelik kearah Sungjin. Tadi, ketika Seo-hwa akan menuju lantai 15, tangannya ditarik paksa oleh Sungjin. Ia sempat memberontak. Tapi ia wanita, kekuatannya tidak sebesar seorang pria.

“Oh.. Seo-hwa, kau datang?” Eunhyuk terlihat bersemangat. Ia menarik tangan Seo-hwa dan mendudukkannya ditengah-tengah para anggota. Dan parahnya, sekarang mereka tengah melakukan permainan kartu Uno.. Gila! Seo-hwa bisa gila jika lama-lama ia disini..

“Eungg.. Eunhyuk Oppa, sebaiknya aku pulang. Ini sudah malam,” Ujar Seo-hwa lirih. Wajah Eunhyuk yang sudah memutih karena bedak yang terpatri diwajahnya membuatnya terkesan seperti anak kecil. “Waeyo? Temani kami bermain Uno.. Aku dengar kau pandai bermain Uno?”

“Nde? Tapi aku ingin pulang..”

“Tidak bisa.. Malam ini kau temani kami bermain Uno dan malam ini juga kau tak perlu pulang. Kau bisa tidur dengan Kyuhyun dikamarnya..”

“Mwo?”

“Wae? Mengapa wajahmu terkejut begitu? Bukankah Kyuhyun suamimu? Apa selama ini kalian tidak tidur da—“

“Anio.. Baiklah.. Aku akan tidur disini..” Seo-hwa memotong ucapan Kangin yang mungkin akan mengulitinya jika ia membiarkan pria ember itu meneruskan ucapannya. Dan permainan UNO itu dimulai, teriakan frustasi, suara jeritan membahagia menjadi satu pada malam itu.

Seo-hwa menguap lebar.. Ia benar-benar mengantuk, jika dia memaksakan diri untuk pulang ke apartemennya. Dipastikan, ia akan tidur ketika ia belum menginjakkan kaki di apartemennya. Dasar, Yoon Seo-hwa! Seo-hwa merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk milik Kyuhyun. Ia baru teringat tentang pria itu. Eunhyuk bilang, jika Kyuhyun tengah mengisi sebuah acara dan selesai hingga larut malam.

Seo-hwa mencoba membuka matanya dan melirik jam yang bertengger manis diatas pintu. Sudah pukul 01.00 dini hari dan pria itu belum pulang? Persetan! Seo-hwa mengantuk, ia lebih memilih tidur daripada memikirnkan suaminya itu.

**

Seo-hwa mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia baru menyadari jika ia tertidur bukan pada tempat yang ia tinggali. Lantas ia terbangun dan menatap sebuah jam yang bertengger diatas pintu. Pukul 07.30. Seo-hwa segera menyingkap selimut yang melilit tubuhnya. Seo-hwa bodoh! Kau tertidur layaknya kerbau!

Seo-hwa merapikan kasur yang berantakan karena ulahnyaa. Eh? Ngomong-ngomong.. Dimana pria itu? Apa dia belum pulang? Seo-hwa merapikan sedikit penampilannnya sebelum ia keluar dari kamar. Tetapi niatnya harus segera pudar saat pintu kamar itu terbuka dan nampaklah Kyuhyun sekarang.

Pria itu memakai sweater berwarna biru gelap dan celana jeans biru pudar yang dipakainya. Ditambah dengan rambut coklatnya yang telah tersisir rapi sekarang. Seo-hwa terpana. Namun, ia dengan cepat mengubah mimik wajahnya seperti biasa saja. Ia tak menatap Kyuhyun sekarang, lebih memilih mencari tas yang tadi sempat ia ditinggalkannya.

“Apa yang kau cari?” Suara Kyuhyun terdengar biasa-biasa saja. Pria itu sedari tadi hanya menatap Seo-hwa dan tak tau harus melakukan apa.

“Ini..” Seo-hwa menunjukkan tasnya. Tanpa melihat Kyuhyun, ia berjalan keluar kamar. Sertinya Seo-hwa masih mengibarkan bendera perangnya.

“Bisa kita bicara sebentar?” Suara Kyuhyun menggelegar digendang telinga Seo-hwa. Seo-hwa pun menghentikan langkahnya. Ia sedikit bingung menerima atau tidaknya ia menolak permintaan Kyuhyun. Ia terlalu lelah jika harus mengurusi hidupnya dengan Cho Kyuhyun. “Dimana?”

Tubuh Seo-hwa menegang. Pembicaraannya dengan Kyuhyun beberapa lalu mampu mengoyak kembali hatinya. Ia sedikit lelah dengan permainan Kyuhyun kali ini. Dua bulir air mata menggenang di pelupuk matanya.

Sakit! Sakit sekali! Apa yang harus dilakukan Seo-hwa kali ini? Ia terlalu lelah dengan jalan ceritanya kali ini.

Yoon Seo-hwa.. Seorang gadis yang baru menginjak 21 tahun. Ia telah menikah dengan Kyuhyun beberapa bulan yang lalu, karena unsur ketidaksengajaan yang dilakukan Kyuhyun pada Seo-hw. Pada saat itu, Kyuhyun tengah menumpahkan kopi dibaju Seo-hwa. Karena, tak ingin membuat keributan berkepanjangan. Kyuhyun membawa Seo-hwa ke apartemen yang baru dibelinya. Ia lupa jika tidak memiliki pakaian wanita. Akhirnya Seo-hwa diberikan sebuah kemeja putih yang hanya mampu menutupi tubuh Hae-jin hingga setengah paha. Dan kekacauan itu dimulai.

Ibu Kyuhyun datang dengan tiba-tiba dan berpendapat jika Kyuhyun telah berbuat sesuatu dengan membawa seorang gadis di apartemennya. Ditambah lagi dengan pakaian gadis itu yang menurutnya tidak pantas dikenakan seorang wanita dirumah seorang pria tanpa status yang jelas. Dan pilihan memuakkan itu menggelegar. Pernikahan keterpaksaan itu terlaksana, membawa kesakitan yang mendalam dari dalam diri Seo-hwa.

Seo-hwa menutup matanya rapat-rapat. Ia gadis yang kuat! Masih ada banyak hal yang harus ia lakukan. Dan ini masih permulaan. Masih adalagi kesakitan yang mengatasnamakan dirinya.

**

Malam ini.. Kesakitan itu akan dimulai. Hal yang paling berharga dari dalam diri Seo-hwa harus direnggut oleh seseorang yang membuat semuanya semakin menjadi lebih rumit. Walau orang itu sendiri adalah suami Seo-hwa.

Permintaan Kyuhyun beberapa hari yang lalu adalah Kyuhyun dan Seo-hwa diharuskan untuk segera memiliki anak. Mau tidak mau, Kyuhyun harus menyetujui permintaan sang Ayah. Ia meminta seorang cucu dari Kyuhyun dan jika Kyuhyun sampai 3 bulan Seo-hwa belum mengandung juga. Maka, nama Kyuhyun mau tidak mau harus dicoreng dari daftar keluarga.

Appa, Kau gila! Kyuhyun beberapa kali mengumpat dalam hati. Ia sebenarnya malas jika harus menyentuh sesuatu yang memang tidak untuk disentuhnya. Ia tahu jika ia boleh dengan leluasanya menyentuh Seo-hwa. Tapi kembali lagi, rasa untuk gadis itu bahkan tidak ada sama sekali.

Jantung Kyuhyun berdebar sangat kencang. Ia gugup melebihi kegugupannya saat diatas pangung. Sebisa mungkin ia menarik napasnya kuat-kuat untuk menetralkan kerja jantungnya. Sekarang Kyuhyun berjalan disebuah lorong menuju apartemennya. Beberapa hari yang lalu ia sudah mengatakan semuanya pada Seo-hwa dan Kyuhyun berharap Seo-hwa melupakan semua perkataannya. Dan malam ini tidak akan terjadi apa-apa antara Kyuhyun maupun Seo-hwa.

Kyuhyun berjalan memasuki apartemennya. Ketika ia akan menuju kamarnya. Seo-hwa ternyata tengah menunggunya diruang tengah. Gadis itu tengah menikmati acara yang disiarkan disalah satu stasiun televise. Kyuhyun mencoba berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Seo-hwa. Ia memandang lurus kedepan dan berjalan kearah kamarnya.

“Kau tak melupakan sesuatu kan, Cho Kyuhyun-ssi?” Kyuhyun berbalik. Mereka berdua saling bertatapan, tapi yang Kyuhyun lihat adalah tatapan sendu milik Seo-hwa.

“Oh! Apa aku melupakan sesuatu?” Kyuhyun mencoba menjadi orang bodoh disini. Ia seakan menjelma seperti orang idiot dalam beberapa waktu yang kedepan.

“Aku tau ini bukan kau. Tapi setidaknya kau hargai aku.” Mimik wajah Kyuhyun berubah seketika. Ia menatap Seo-hwa tajam, lalu berjalan menuju gadisnya. Menarik tangan istrinya dan membawanya memasuki sebuah kamar yang ditempati Kyuhyun sekarang. Tak lama sebelum itu ia berjalan terlebih dahulu mengunci pintu kamarnya.

“Kau memang wanita tak tau diri. Kau mengusikku dan dengan sekejap saja menjadi bagian hidupku.. Kau tak ubahnya seperti wanita—“

“CUKUP! Jangan mengataiku dengan sumpah serapahmu. Bukankah seharusnya malam ini kau menjadikanku tawananmu, hah? Mengapa kau mengataiku seperti ini?” Jerit Seo-hwa. Air matanya mengalir deras dipelupuk mata. Dan Kyuhyun baru menyadari jika ia telah berbuat kesalahan. Betapa bodohnya dia.

Kyuhyun pun berbalik bermaksud meninggalkan Seo-hwa, tetapi sebuah cekalan menghentikannya.

“Lakukan.. Perlakukan aku layaknya isterimu malam ini. Setelah ini, kau boleh tidak menganggapku ada. Tetapi, jika anak itu lahir perlakukan dia seperti dia adalah anakmu. Aku mohon!” Seo-hwa terisak. Mau tidak mau Kyuhyun berbalik. Ia menyentuh dagu Seo-hwa dan menghapus tetesan air mata yang mengalir dipelupuk matanya. Tepat pada saat itu juga, Kyuhyun mendaratkan sebuah ciuman dibibir Seo-hwa. Itu ciuman pertama mereka. Ciuman yang sangat lembut dilakukan Kyuhyun kepadanya. Ciuman yang menjadi awal kehancuran Seo-hwa untuk waktu yang akan datang.

**

Sungjin membawa dua cup kopi ditangannya. Ia menyunggingkan sedikit senyumnya, lalu menyodorkan satu cup kopi kepada Seo-hwa. “Satu cup kopi untuk gadis cantik bernama Yoon Seo-hwa.”

Seo-hwa tertawa… Sungjin memang selalu bisa membuat moodnya cepat berubah. “Gomawoyo..” Sungjin mengangguk. Ia duduk disamping Seo-hwa. Memainkan kopinya yang tinggal setengah cup saja.

“Seo-hwa, bolehkah aku menanyakan sesuatu adamu?” Sungjin menatap wajah Seo-hwa dari samping. Menurut Sungjin, Seo-hwa terlampau cantik untuk seorang gadis pendiam sepertinya. “Apa?”

Mata Seo-hwa yang jernih seolah menghipnotisnya. Sungjin mencoba menekan perasaannya, ia harus ingat jika Seo-hwa telah bersuami. “Kau sudah bekerja hampir 3 bulan.. Bukankah penghasilan Kyuhyun mencukupi kebutuhanmu? Untuk apa kau bekerja?”

“Eumm.. Aku tidak bisa hanya berdiam diri dirumah. Aku lebih suka bekerja,”

Walau pada kenyataannya aku bekerja untuk menyambung hidupku. Aku tak mau menjadi kaki tumpu Kyuhyun. Menjadi parasitya saja aku sudah cukup.

“Benarkah?”

“Yah.. Apa kau tak percaya?” Seo-hwa bangkit. Bersamaan dengan itu angin menerpa tubuhnya membuat rambat hitamnya yang tergerai panjang mengayun dengan sesukanya. “Haha.. Baiklah Sungjin oppa. Aku pulang dulu. Terima kasih kopinya..” Seo-hwa melambaikan tangannya dengan senyum khas miliknya. Gadis itu tidak mencerminkan gadis seumurannya, tetapi gadis itu mencermikna seorang gadis yang berumur 17 tahun. Dari situlah. Senyum Sungjin kembali mengembang menyaksikan tingkah laku Seo-hwa.

Seo-hwa memasuki apartemennya. Diruang tengah terdapat Kyuhyun yang sedang menonton televise. Gadis itu meletakkan tas selempangannya dan mengambil posisi disebelah Kyuhyun.

“Aku dengar semenjak kau bekerja di Kona Beans, kau menjadi dekat dengan Sungjin. Apa itu benar?” Tanya Kyuhyun setelah Seo-hwa kembali dari dapur. “Ouh, neh.. Wae?” Kyuhyun tak menjawab. Ia kembali menatap layar televise membuat dahi Seo-hwa berkerut. Orang aneh..

“hmm, Ngomong-ngomong.. Apa kau belum berisi?” Pertanyaan Kyuhyun membuat keja organ tubuh Seo-hwa berhenti. Tubuh gadis itu menegang seketika. Ia melupakan sesuatu yang seharusnya penting baginya. Bahkan ini sudah berjalan hampir tiga bulan lamanya. “Yoon Seo-hwa? Kau tidak apa-apa, kan?”

Seo-hwa seolah tersadar. Ia menatap Kyuhyun gamang. Bagaimana ini? Bahkan ia lupa kapan terakhir ia menstruasi. “Engg.. Mollayo, aku rasa belum.” Seo-hwa menundukkan kepalanya. Ia meremas tangannya. Kyuhyun yang mendengar jawaban Seo-hwa hanya mampu mendesis gusar.

“Kau yakin?” Tanya Kyuhyun memastikan sekali lagi. Namun, Seo-hwa kembali lagi menggelengkan kepalanya lemas. “N-eh..”

“Aish! Bagaimana ini?” Kyuhyun menjerit gusar. Setidakmaukah kau tercoreng dalam daftar keluargamu, Cho Kyuhyun? “Kau bisa melakukannya lagi denganku..”

“Kau gila, Yoon Seo-hwa!” Desis Kyuhyun gusar. “Kau yang akan lebih gila jika namamu tercoreng dari daftar keluarga Cho..”

“Tapi—“

“Lakukan saja.. Percuma saja kau menikahiku jika tidak untuk memuaskan hasratmu,”

Seo-hwa, gila! Seharusnya ia tahu apa arti perkataannya baru saja. Sama saja ia menyerahkan dirinya pada Kyuhyun, tanpa kasih sayang dan tanpa cinta.

“Kau yakin?”

“Jika aku sudah mengucapkan apa yang seharusnya apa yang aku ucapkan.. Itu berarti aku bersungguh-sungguh,”

**

Seo-hwa terbangun, merasakan sinarmatahari yang menyilaukan matanya. Tubuhnya terasa remuk dan tubuh bagian bawahnya terasa ngilu. Semalam, ia dan Kyuhyun bermain menjelang pagi dan sekarang jam 8 pagi, itu berarti ia hanya tidur 4 jam lamanya.

Seo-hwa melirik Kyuhyun yang tertidur pulas disampingnya. Menurut Seo-hwa, pria itu jika tertidur mirip seorang bayi. Sudut bibir Seo-hwa tertarik, ketika ia melihat bekas air liur Kyuhyun yang menetes. Tangannya terulur, merapikan tatanan rambut Kyuhyun.

Sekali lagi, Seo-hwa menatap mata Kyuhyun dalam, karena ia tau. Setelah ini mungkin ia tidak akan berada pada jarak yang begitu dekat. Mungkin iya, tapi dalam kurun waktu tertentu. Seo-hwa baru menyadari jika Kyuhyun memiliki tai lalat dibawah kelopak matanya sebelah kanan. Selama ini ia tidak begitu jeli memperhatikan Kyuhyun. Mungkin karena hubungan mereka yang merenggang ini.

Tak ingin berlama-lama menatap wajah Kyuhyun. Seo-hwa membenarkan letak selimut yang melilit tubuhnya. Ia beranjak memunguti satu persatu pakaiannya yang berserakan dilantai. Sampai suara serak itu membuat tubuhnya lagi-lagi terasa kaku. “Setelah menikmati wajahku. Kau dengan seenaknya pergi begitu saja, Nona Yoon?” Kyuhyun memperlihatkan smirk kecilnya. Sejujurnya ia sudah terbangun darri satu jam yang lalu. Ia hanya ingin berdiam diri diranjang dan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Seo-hwa.

“M-wo? Aniyo.. Siapa yang menikmati wajahmu?” Mencoba mengelak, wajah Seo-hwa memerah. “Kau.. Jangan mengelak, Yoon Seo-hwa..”

“Tidak, Cho Kyuhyun!” Seo-hwa berlari memasuki kamar mandi. Membuat secarik senyuman terpatri pada bibir Kyuhyun.

Kyuhyun telah berpakaian. Ia sebenarnya ingin segera mandi, tetapi Seo-hwa sedari tadi belum keluar dari sana. Mungkin dia masih berendam.

Kyuhyun keluar dari kamarnya. Ia ingin kedapur, dibukanya lemari pendingin rasanya perutnya selalu berbunyi meminta untuk diisi. Dan sialnya, ia hanya mendapati potongan daging steril disana. Kyuhyun hanya memandangi daging itu tanpa minat. Ia sebenarnya terlampau lapar, tapi daging ini bagaimana? Ia bahkan tak bisa mengolahnya.

Bunyi suara bel membuat Kyuhyun berjenggit. Ia segera kearah pintu dan melihat siapa yang datang sepagi ini. “Eoh.. Eomma,” Kyuhyun menunjukkan wajah keterjutannya. Ibu Kyuhyun yang melihat sentak menyipitkan matanya. Anaknya itu tidak seperti biasanya ketika ia datang kemari. “Kau baik-baik sajakan, Kyu?”

“Eng.. Baik Eomma,” Kyuhyun membawa Ibunya masuk. Wanita paruh baya itu memberikan sebuah kotak berukuran sedang kepada Kyuhyun. “Dimana istrimu?”

Dia sedang mandi, semalam kita habis bertempur. “Eung.. Dia mandi,” Kyuhyun terlihat salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ibu Kyuhyun yang melihat tingkah Kyuhyun semakin mencurigai anaknya. Lantas ia memasuki kamar Kyuhyun dan bertepatan pada saat itu juga, ia melihat Seo-hwa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit sebagian tubuhnya. Dan yang membuat Ibu Kyuhyun semakin melebarkan senyumnya adalah beberapa tanda merah yang terpatri dibeberapa bagian tubuh Seo-hwa. “E-eomonim..”

“Oh, akhirnya.. Aku akan segera memiliki cucu,”

Kiamatmu akan segera tiba, Yoon Seo-hwa…

Seo-hwa menatap Ibu Kyuhyun dengan pandangan terkejut. Tidak bisakah Ibu Kyuhyun datang pada waktu yang tepat? Tapi ini? Oh Tuhan! Seo-hwa, kau bahkan tidak berpakaian didepan Ibu mertuamu! “Eng.. Eomonim…” Suara Seo-hwa terdengar lirih. Ia bahkan sama sekali tidak berpindah tempat dari posisinya. Membuat Ibu Kyuhyun menghampirinya, menarik tangannya dan membawanya duduk dipinggir ranjang.

“Astaga! Bahkan kamar kalian? Jinjjayo? Kalian melakukannya?”

“Eomma…” Kyuhyun mendesis. Ia ingin sekali mengusir Ibunya darri kamarnya. Namun, ia tak sampai hati ketika melihat aura kebahagiaan yang terpancar dalam dari wajah sang Ibu. “Ahh.. Aku akan menghubungi Appamu.. Mengatakan jika sebentar lagi, kami akan mendapatkan seorang cucu,”

“Eomma.. Ini tidak seharusnya diumbar.. Kami memang melakukannya, tapi jika tentang seorang cucu kami akan berusaha. Dan tentang Appa.. Jangan memberitahukan kepadanya, Eomma.. Aku ingin kehamilaan Seo-hwa nanti adalah kejutan yang membahagiakan bagi keluarga Cho,”

Benarkah? Benarkah Kyuhyun yang mengatakan itu semua? Tubuh Seo-hwa berdesir hebat. Ia menatap Kyuhyun dengan tatapan yang.. Ahh, sulit dibuktikan.. Tetapi, ia kembali tersadar. Kyuhyun membutuhkan bayinya untuk membantu namanya agar tidak tercoreng dari daftar keluarga Cho. Seo-hwa ingat itu. “Baiklah, Eomma akan merahasiakan ini.”

“Berganti bajulah terlebih dahulu. Eomma akan kedapur menyiapkan makanan untukmu dan Kyuhyun,” Ibu Kyuhyun mengusap rambut Seo-hwa, lalu ia meranjak dan keluar dari dalam kamar Kyuhyun.

“Mengapa Eomonim harus tau ini?” Tanya Seo-hwa setelah Ibu Kyuhyun sudah tak berada lagi disana. “Aku sudah mencegahnya. Kau tau sendiri kan sifat, Eomma?”

“T-api.. Aku malu, Cho Kyuhyun..” Desis Seo-hwa lirih. “Apanya yang harus dipermalukan? Bukankah sama saja? Eomma hanya mendapatimu masih mengenakan handuk. Jika Eomma mendapatimu dengan tidak terbalut satu benang pun—“

“Geumanhae! Keluar dari kamarku sekarang juga.. Aku mau berganti baju..”

“Kau lupa, nona Yoon? Ini kamarku! Ehem.. Atau kau mau jika aku menggantikan bajumu? Tidak.. Tidak..  Kita melakukannya lagi saja bagaimana? Bukankah itu membahagiakan?”

“Keluar Cho Kyuhyun! Kau, setan mesum!!” Jerit Seo-hwa.

**

Seo-hwa mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Ia menaiki tangga dri lantai 1 menuju lantai 11. Tadi, Sungmin menghubunginya. Mengatakan Kyuhyun demam. Memang, setelah insiden beberapa hari yang lalu. Kyuhyun tidak sama sekali pulang, yang Seo-hwa tau Kyuhyun  tengah menjalani tour di Luar Negeri. Seo-hwa memencet beberapa kali bel dan tak lama Ryeowook yang membukakan pintunya. “S—seo-hwa?” Wajah Ryeowook terlihat terkejut. Seo-hwa pun sontak mengerutkan keningnya. “Sungmin Oppa tadi menghubungiku.. Kyuhyun, sakit?” Belum sempat Ryeowook menjawab Seo-hwa terlebih dulu mendorong sedikit tubuh Ryeowook kebelakang. “Tapi—“

“Astaga! Mala petaka akan segera dimulai!”

Mata Seo-hwa membulat melihat pemandangan dihadapannya. Dua bulir air mata keluar dari pelupuk matanya. Pemandangan menyesakkan yang dilihatnya mampu mengoyak hatinya. Kyuhyun.. Pria itu tengah bercumbu dengan seorang wanita. Hati Seo-hwa seperti diremas-remas. Ia berlari sekuat tenaga, menjauh dan pergi meninggalkan mereka. Sudah cukup kesakitan yang diberi Kyuhyun untuknya. Ia hanya bisa bertahan sampai disini.

**

Kyuhyun kembali ke apartemennya. Ia hanya ingin menjelaskan apa yang harus ia jelaskan kepada Seo-hwa. Gadis itu mungkin salah paham. Sebenarnya niat  baik Kyuhyun ini ditolak oleh para hyungs-nya. Kyuhyun masih sakit, para hyungnya hanya takut jika kesehatan Kyuhyun semakin menurun.

Seakan berat menopang berat tubuhnya, Kyuhyun masih mencari Seo-hwa dipenjuru apartemennya. Dalam hatinya ia selalu berdoa, semoga saja Seo-hwa tidak dengan gampangnya percaya dan yang lebih terpenting adalah Kyuhyun masih belum siap jika ia harus ditinggalkan oleh Seo-hwa. Karena Kyuhyun merasa jika ia tidak akan bisa hidup tanpa Seo-hwa disampingnya.

“Aaarrrghhhtt….” Kyuhyun menjerit dalam keheningan. Sejujurnya ia sakit karena merindukan Seo-hwa. Ia merasa jika Seo-hwa sekarang menjadi candu baginya. Selama ini, ia memang terlihat acuh didepan Seo-hwa, tapi itu semua hanya ia ingin tau seberapa Seo-hwa bersabar untuknya. Dan lihat? Kyuhyun bahkan sudah tak bisa berkata apa-apa.

Suara derasnya hujan menyapu indra pendengaran Kyuhyun. Ia baru menyadari jika diluar dilanda hujan. Astaga! Bagaimana dengan Seo-hwaku? Kyuhyun bangkit, ia keluar dari apartemennya. Ia berinisiatif untuk mencari Seo-hwa. Ini hujan, mungkin Seo-hwa masih berada disekitar apartement mereka.

Ketika Kyuhyun sampai dilorong. Ia bertemu dengan Eunhyuk dan Donghae, wajah mereka terlihat khawatir. Terlebih ketika melihat wajah pucat Kyuhyun yang mirip seperti mayat hidup. “Kyu- Kau mau kemana?” Tanya Eunhyuk.

“Aku mau mencari Seo-hwa, hyung. Aku tidak bisa membuatnya salah paham terhadapku..”

“Tapi Kyu, kau sakit…”

“Aku baik-baik saja, hyung..” Kyuhyun berlari meninggalkan kedua hyungnya itu. Donghae dan Euunhyuk yang mengkhawatirkan Kyuhyun pun mengikutinya dari belakang.

Kyuhyun berlari menerobos derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya. Ia seakan tuli dengan panggilan Donghae dan Eunhyuk. Baginya sekarang mencari Seo-hwa adalah yang terpenting untuknya. Kyuhyun tetap berlari, sekali-sekali melihat sekelilingnya. Ia hanya ingin memastikan adanya Seo-hwa atau tidak. Dahi Kyuhyun sedikit mengernyit, ia melihat orang-orang tengah menatapnya. Apa Kyuhyun sesuatu barang mewah yang harus ditatap? Astaga! Kyuhyun lupa jika ia tidak memakai masker.

“Bukankah itu Kyuhyun Super Junior?” Suara salah satu orang itu mengena diindra pendengara Kyuhyun. Kyuhyun dengan cepat berlari sebelum salah satu dari mereka mengejarnya. Kyuhyun rasa Donghae dan Eunhyuk juga sudah tidak mengejarnya lagi.

Nafas Kyuhyun sedikit tersenggal. Tubuhnya menggigil karena rasa dingin yang menyergap tubuhnya. Ia lebih memilih berlindung sebentar didepan sebuah toko yang tutup. Ia tidak menyerah. Hanya saja, ia ingin beistirahat sebentar.

Mata Kyuhyun berjelajah. Ia menolehkan kepalanya kepenjuru tempat. Dan saat itu juga ia bisa menatap siluet tubuh Seo-hwa yang berada dipinggir jalan… Mata Kyuhyun membulat. Gadisnya itu akan menyebrang. Dan dari arah yang berlawanan itu datanglah semua mini truck yang melaju kencang.

Tidak…. Tidak…. Yoon Seo-hwa..

Brakk….

“Kyuhyun.. Cho Kyuhyun! Sadarlah Kyu—“

**

Disebuah padang ilalang. Gadis itu berlari, menikmati hangatnya mentari dan angin sejuk  yang menerpa tubuhnya. Ia tersenyum cantik pada seorang pria yang sedang menunggunya dibawah pohon.. Melambaikan tangannya dan berlari riang menghampirinya. “Kyuhyun.. Aku bahagia,” Ujarnya setelah ia menduduki tempat disebelah pria bernama Kyuhyun itu.

“Wae?” Kyuhyun meletakkan kepala gadis itu dipundaknya dengan sebelah tangannya. “Ya.. Aku bahagia karena kau yang menjadi suamiku dan ayah dari calon anak-anakku.”

“Benarkah?”

“Nde.. Neo Naekoya..”

END

Advertisements

18 comments on “(SHARE FF) Neo Naekoya

  1. aku yg pertama???? hehehe…
    kayaknya dlu prnah bca, tp lupa dmana….tp bca lg. hehehe
    FF’y bagus, panjangnya udah pas, g terlalu pendek hingga jelas bacanya, tp itu endingnya mksud’y gmana ya???

  2. akunya bingung….. isi cerita nangkep siy,, tapi ceritanya terlalu ngebut. masih ada bagian yg rancu, kaya yg diliat seo hwa waktu kyu sakit itu maksudnya bercumbu gimana. sama endingnya juga ..
    hehe it’s just my comment 🙂

  3. ceritanya bagus,,tapi masih belum ngerti sama keseluruhan isi cerita, gak dijelasin knpa tiba” kyu jadi suka ke seo-hwa, kan awalnya gak ada perasaan bgt, trus gak dijelasin salah paham yang kyu bercumbu itu, dan endingnya aku gak ngerti, maksudnya itu ada yang mati kah? kyu atau seohwanya yang mati???

  4. bingung,,,
    alur awalx dah bagus,,,
    tp knflik sicewek yg brcmbu msh blm djlasin,,,
    trlebih endingx,,,kbaca c klo happy end,cuma kcepetan alurx mnrt q
    *blg j ni klo readerx yg lola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s