Jong-Shin Slight Scene : Miracle 4

hasik hasik

Jong-Woon’s POV

Oppaaaaaaa… buka pintunya!”

Suara teriakan Shin-Yeong terdengar nyaring mengalahakan suara air yang meluncur dari shower menyirami rambutku yang penuh busa. Gadis itu sudah bangun rupanya.

“Ada apa? Aku sedang mandi, kau mau mandi bersama?” balasku diakhiri kekehan.

Akhir-akhir ini dia anti sekali dekat-dekat denganku. Jangankan bisa aku sentuh, aku dekat tigapuluh sentimeter saja dia sudah ingin muntah. Aneh sekali, memangnya bayi yang ada di dalam perutnya itu anak siapa? Kalau dia anakku, lalu kenapa Shin-Yeong malah benci sekali padaku akhir-akhir ini?

“YAK! Oppa~ya, cepat buka pintunya! Aku butuh toilet! Cepat, cepat, cepat!”

Astaga! Kebiasaan gadis itu. aku lupa mengatakannya tadi. Selain hobi mem-bully suaminya sendiri, Shin-Yeong juga gemar sekali menggedor pintu kamar mandi ketika aku sedang di dalam. Berkali-kali aku harus mengalah dan keluar dengan pasrah karena dia bahkan tidak mau menggunakan toilet selain yang ada di dalam kamar kami.

“Rambutku masih penuh busa. Pakai toilet yang lain saja. Kau bisa gunakan kamar mandi utama, di kamar Jong-Jin atau di kamar Eomma.”

“Tidak mau! Cepatlah, oppa! Sebelum aku ngompol. Aaaaah… rasanya seperti akan melahirkan. Cepat buka!”

Cish! Rasanya seperti akan melahirkan? Dia bahkan baru hamil tiga bulan. Sok tahu sekali bagaimana rasanya melahirkan.

Araseo.”

Tidak ada pilihan lain, akhirnya aku mengalah. Dengan rambut yang masih penuh busa dan mata merah karena perihnya shampoo yang belum terbilas. Aku menarik handuk, melilitkannya di pinggangku dan bergegas membuka pintu kamar mandi.

Bikyeo! (minggir!)” Shin-Yeong langsung mendorong tubuhku ke samping dan memakai toilet dengan sangat nyaman setelah menahannya selama tidak kurang dari dua menit. Sungguh… aku tidak bisa melayangkan protes apapun padanya.

“Kau lihat apa? Kojo! (pergi)” ucapnya sambil mengibaskan sebelah tangan dan bergumam dengan suara menyebalkan “Hush… hush…”

Ya Tuhan… beri aku kekuatan untuk menghadapi wanita hamil seperti Kim  Shin-Yeong. Sungguh, jika dia sedang tidak hamil, sudah kujambak rambutnya sampai rontok.

Akhirnya di pagi yang sibuk ini aku harus kembali berakhir di kamar mandi Jong-Jin, bocah itu bahkan masih tidur ketika aku masuk ke kamarnya dengan kepala berbusa dan secarik handuk melilit di pinggangku. Kalau dia sudah bangun, pasti aku akan ditertawakan lagi karena terusir dari kamar mandi.

Selesai berbenah diri, aku menikmati sarapan bersama-sama. Hari ini tema pembicaraan masih sama seperti kemarin, tentang rencana liburan kami sekeluarga ke kampung halaman Shin-Yeong. Ide siapa lagi? Tentu saja ini adalah ide menantu kesayangan yang seluruh keinginannya harus dituruti. Jika tidak, Shin-Yeong pasti akan menangis habis-habisan. Sebelumnya, gadis itu berbicara dengan ibuku, mendengarkan cerita tentang pengalaman ibuku ketika hamil anak pertama. Memang sudah takdir, bahkan ketika aku masih di dalam perut. Eomma bilang aku sudah sangat berwibawa. Semua itu terasa dari tingkahku yang tidak anarkis, aku termasuk janin yang tenang, dan bisa aku jamin ketika aku lahir itu menjadi kebahagiaan paling istimewa bagi seluruh keluarga besarku. Kim Jong-Woon yang tampan akhirnya melihat dunia tepat pada tanggal 24 Agustus 1984.

“Kalau bisa, kita pergi ke Daegu di musim semi saja, sekitar bulan Maret atau April, bagaimana?” Eomma memberikan pernyataan sekaligus pertanyaan sambil menengok ke arahku.

Geurae (benar). Shin-Yeong akan sangat cerewet sepanjang perjalanan. Lagipula, salju membuat jalanan semakin licin, danau di dekat rumah Shin Yeong juga pasti sedang beku, tidak banyak yang bisa dilakukan jika kita pergi kesana di musim dingin seperti ini.” balasku diplomatis.

Kalau dipikir-pikir, aku tidak akan tahan menyetir lama-lama dengan dia disampingku, karena gadis itu pasti akan terus berteriak sepanjang perjalanan. Apalagi Seoul-Daegu tidak bisa ditempuh dengan waktu singkat. Jalanan yang licin membuat Shin-Yeong terus membuka matanya lebar-lebar memperhatikan jalur yang kami lewati, ia juga tidak pernah lengah mengingatkan agar aku tidak mengemudi diatas batas kecepatan yang sudah ditetapkan olehnya. Alasannya bukan hanya karena dia menyebalkan, tapi dengan tingkahnya yang seperti itu justru membuat dia menjadi stress dan akan berpengaruh juga pada bayiku di dalam perutnya. Serba salah sekali jika menghadapi Kim Shin-Yeong jika sedang hamil. Meskipun belum melahirkan anak pertama kami, dia sudah punya rencana untuk hamil lagi agar nanti anak-anak kami tidak memiliki jarak umur yang jauh. Semoga Tuhan memberikan kekuatan bagiku sebagai ayahnya anak-anak, dan sebagai suami dari seorang istri  macam Shin-Yeong.

“Wah, sepertinya aku mendengar kata Shin-Yeong cerewet lagi dari suamiku yang tampan ini.” Shin-Yeong bergabung di meja makan dan menikmati sarapan. Hari ini dia tampak manis sekali mengenakan dress selutut berwarna kuning gading. Meskipun perutnya masih tergolong datar tapi sudah cukup banyak baju-baju hamil yang ia kumpulkan. Kehamilan tiga bulan memang tidak akan begitu terlihat. Dan aku bisa membayangkan bagaimana jika badannya yang pendek itu berperut besar, pasti akan sangat imut sekali, seperti seorang anak kecil yang akan melahirkan anak.

Aigo, telinga menantu kami tajam sekali.” ujar ibuku dengan tawa tertahan di akhir kalimatnya. Ia tahu, nyawa putra pertamanya ada di tangan gadis imut cerewet itu. Hahaha… terkadang jadi sangat lucu jika aku melebih-lebihkan sikap istriku seperti ini. Tapi rasanya gadis itu memang tidak akan pernah ada habisnya menjadi fokus perhatianku. Semua hal dalam diri Shin-Yeong, bahkan hal-hal terkecil disekitarnya, aku ingin mengawasi semuanya. Mungkin karena kehamilannya jugalah aku jadi sangat posesif.

“Tentu saja, sieomeoni (ibu mertua).” Shin-Yeong malah menunjukkan cengiran lebar. Gadis itu kemudian tersenyum ke arahku, mengusap kepalaku—atau lebih tepatnya merusak tatanan rambutku dengan tangan lembutnya. Matanya yang besar terlihat sangat cantik karena eye smilenya yang manis. “Aigo, nae nampyeon, manhi meoggo…” (ya ampun, suamiku, makan yang banyak ya…)

Eo….” Aku menatapnya sekilas, kemudian memasukkan sup jagung ke dalam mulutku penuh-penuh. Dalam kepalaku terus berpikir, tumben sekali dia mau menempel denganku seperti ini. mungkinkah ada yang dalah dengan isi kepalanya? Kemarin dia benci sekali dekat-dekat denganku.

Oppa~ya… suapkan ke mulutku, aaaaa…” Shin Yeong membungkukkan badannya, menghadapkan kepalanya mendekat dan membuka mulutnya lebar-lebar.

Antara senang bercampur heran aku menyuapkan sesendok sup jagung ke dalam mulutnya, dan gadis itu mengunyah dengan sangat baik, membuatku tidak bisa menah gemas dan mengusap pipinya yang gembung.

Aigo, kyeopta (ya ampun, lucunya).”

Aku masih tidak mengerti apakah seluruh ibu hamil di dunia ini bertingkah seperti Shin-Yeong, kadang manis, kadang galak, kadang bisa jadi sangat anarkhis. Tapi istriku ini, dengan semua sikap-siakapnya justru membuatku sangat bahagia menghadapi sikapnya setiap hari, bisa juga menebak-nebak, akan seperti apa sikapnya padaku besok. Heran, sebenarnya dia sedang mengandung bayi laki-laki atau bayi perempuan? Orang tua bilang, jenis kelamin bayi yang dikandung juga mempengaruhi pola tingkah laku ibunya.

Selesai sarapan aku kembali ke kamar, mengenakan jas dan juga memeriksa isi tas yang akan kubawa hari ini, memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal. Dan senangnya karena yang merapikan dasi serta jasku hari ini adalah Shin-Yeong. Dia bahkan harus naik ke ranjang dan berdiri dengan lututnya untuk memastikan bahwa tubuh pendeknya bisa sejajar denganku, sebenarnya tidak usah serepot ini, hanya saja dia memang hobi merepotkan diri sendiri. Yasudah, aku biarkan saja.

Meosisseoyo (tampan)”  Shin-Yeong menepuk-nepuk pundakku, kemudian melompat turun dari ranjang, membuatku menahan nafas selama beberapa detik karena terkejut melihat kelakuannya. Bagaimana bisa wanita hamil masih melompat-lompat seperti itu? Aish!

“Hati-hati, jaga gerakanmu. Ingatlah, di dalam perutmu itu ada bayi.” ujarku memperingatkan.

Araseo, sajangnim.” Balasny sambil membungkukkan badan, ber-akting seperti seorang bawahan terhadap atasannya.

“Sini biar kupeluk dulu, pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir kau baru bisa kupeluk lagi.”

Aku menarik tubuhnya, mendekapnya erat-erat. Kuusap punggungnya, merasakan bagaimana tubuhnya begitu kecil berada dalam pelukanku.

“Kau kurusan ya?”

“Aku rasa tidak.” jawabnya dengan suara yang tidak begitu jelas karena teredam di dadaku.

“Apa kau tidak makan dengan baik? Susu dan semua vitamin tidak pernah lupa kan?”

“Tentu saja tidak.”

Aku melepaskan pelukan, merapikan rambut panjangnya yang lembut.

“Jaga kesehatanmu, aku tidak mau kau sakit. Kau bilang kita mau pergi berlibur ke kampung halamanmu kan? Bersabarlah sebentar lagi, setelah musim dingin berakhir, kita pergi ke Daegu.”

Yaksok? (janji)”

Araseo, yaksok.” Aku tersenyum, kembali menariknya ke dalam pelukanku.

Ahhh… senangnya, pagi ini semangatku untuk pergi ke kantor sedikit menurun. Aku ingin dirumah saja dengan Shin-Yeong, menemaninya membaca novel-novel faoritnya, atau menjadi lawannya ketika bermain game agar gadis itu tidak merasa bosan menghabiskan waktu dirumah. Satu tahun ini Shin-Yeong memutuskan untuk cuti kuliah, padahal ia sudah semester akhir dan sebentar lagi akan menyusun tugas akhirnya sebagai mahasiswa. Tapi gadis itu mengambil keputusan yang tepat. Aku bahkan sudah berpikir untuk membujuknya agar berhenti kuliah. Aku lebih senang melihatnya berada dirumah mengurus anak kami nanti.

***

Shin-Yeong’s POV

Aku membuka lembaran berikutnya dari novel yang sedang kubaca. Sebuah novel lama yang pernah kubaca beberapa tahun lalu. Ditulis oleh Kim Ji-Oh berjudul After The Wedding. Ini adalah bagian favoritku. Aku benar-benar ingat bagian ini karena ada coretan yang aku tuliskan disana. Kebiasanku jika membaca novel adalah memegang pulpen, jadi bukan hanya membaca, aku juga mencorat-coret isi novel tersebut.

Bagian yang paling sangat kusuka adalah ketika Hyun-Sung menjemput Min-Jung ke Jeju, dan membawa istrinya pulang ke Seoul, kerumah mereka.

“Min-Jung, kalau aku… memikirkan seberapa sulit dan menyakitkannya bagimu saat melahirkan… aku… aku memang tidak mungkin bisa membantumu melahirkan, tapi kita kan bisa membesarkan anak kita bersama. Semua akan lancar-lancar saja jika kita melakukannya bersama. Kau takkan membesarkan anak kita sendirian. Ya?”

Sepenggal dialog yang diucapkan Hyung-Sung aku batasi dengan pulpen merah, menurutku perkataan itu terdengar sangat bagus. Ah iya, kalau aku menjadi Min-Jung dalam novel itu, aku juga pasti akan merasa kesal pada Hyung-Sung. Bagaimana tidak? Dia begitu galak, hanya bisa mengucapkan kata “iya” dan selalu memanggilku “cerewet”. Tapi… tunggu sebentar, kenapa aku jadi terbawa jauh ke dalam novel ini?

Sudah pukul lima sore. Rumah besar ini masih sangat sepi. Aku sudah menghabiskan satu judul novel sejak pagi, hanya dipotong makan siang dan mandi. After the Wedding mejadi buku bacaan yang mengingatkanku ketika masih sangat aktif kuliah dulu, ketika novel itu menemaniku di dalam bus, ketika aku akan pergi ke bobtols untuk bekerja paruh waktu, bahkan sebelum aku bertemu dengan Jong-Woon. Memundurkan waktu ke masa itu selalu bisa membuatku tersenyum. Mengingat kisahku dan suamiku, dari pertama bertemu sampai saat ini ketika aku sedang mengandung anaknya. Janin yang tumbuh di dalam perutku, bayinya.

Aku sudah menelepon Jong-Woon agar tidak pulang terlalu sore. Sebelum jam lima dia harus sudah ada dirumah dan membantuku menyiapkan makan malam. Hari ini mungkin aku sedang mendengarkan ucapan malaikat daripada iblis. Aku menyadari sikapku akhir-akhir ini pada Jong-Woon sangat keterlaluan. Karena itu, aku ingin bersikap manis didepannya agar bisa mendapatkan pelukan banyak-banyak.

Setelah membaca novel hari ini, rasanya aku tidak ingin jauh-jauh dari Jong-Woon. Kalau bisa menempel, aku ingin menempel terus padanya meskipun dia pergi ke kantor. Kami akan menjadi pasangan paling kompak di dunia. Tapi aku yakin, Jong-Woon akan membunuhku jika aku terus-menerus menempel padanya seperti permen karet. Dia paling tidak tahan kalu aku sudah mengomentari setiap hal yang dilakukannya.

Ting… tong…

Suara khas dari bel rumah terdengar nyaring setelah sebelumnya aku mendengar suara derap kaki yang sangat akrab ditelingaku. Tapi sebelum membuka pintu, aku melihat terlebih dahulu siapa yang datang. Dan yap, benar saja. Ternyata Jong-Woon pulang tepat waktu, meskipun lewat lima menit tapi aku tetap menyambutnya dengan pelukan.

Aigo, tumben sekali istriku yang cantik ini menyambutku di depan pintu. Ditambah pelukan dan senyum paling manis.” ujarnya sambil mengusap pipiku. Aku tersenyum sambil menggandeng tangannya.

“Kau membawakan pesananku kan?”

“Oh, ternyata. Pantas aku langsung dipeluk. Pasti karena ini kan?” Jong-Woon mengangkat jinjingan plastik yang dibawanya.

“Wah, mandu (pangsit) pesananku. Apakah mandu-nya besar-besar?”

“Tentu saja, aku mencari pedagang yang menjual mandu paling besar di sepanjang jalan.”

Jinjjaya?”

Eo,”

Aku membuka bungkusan yang dibawa Jong-Woon dan menaruhnya di meja makan. Tapi sayang sekali, ternyata yang dia belikan bukan mandu yang aku inginkan.

Oppa~ya, kenapa mandu goreng?”

“Bukankah biasanya kau sudah mandu goreng yang renyah?”

“Aku ingin mandu rebus. Mandu rebus yang masih panas dan juga besar-besar. Aku tidak mau mandu goreng.” protesku.

Ah, bagaimana sih Jong-Woon. Kenapa dia malah salah membelikan pesanan. Harusnya dia tahu apa yang aku inginkan. Benar-benar suami yan tidak perhatian.

“Yasudah, dimakan saja dulu mandu gorengnya. Besok baru aku belikan mandu rebus.”

Aku menatap mandu goreng di dalam plastik, dan memperhatikan terlalu banyak minyak disana. Mungkin karena penjualnya buru-buru memasukkan mandu tanpa meniriskannya terlebih dahulu.

“Kau tidak lihat minyaknya banyak sekali? Apakah kau bermaksud untuk mencelakaiku dan bayi di dalam perutku, hah?” cecarku.

Jong-Woon hanya menggengkan kepala, kemudian menepuk dahinya. Tapi dia tidak membalas pernyataanku sedikitpun. Terlihat sebelah tangannya terkepal kesal, sebelum kemudian ia menghela nafas.

“Baiklah, akan kubelikan.” ujarnya sambil bergegas keluar.

Aku tahu kalau dia sedang lelah sepulang bekerja, tapi ini juga bukan sepenuhnya keinginanku. Yang ingin madu itu bayinya, bukan aku.  Dan sebagai ayah, Jong-Woon harus bertanggung jawab. Ya, benar, seperti itu seharusnya.

***

Jong-Woon’s POV

Dan pada akhirnya kembali seperti ini, aku berakhir dengan melepaskan dasi, menggulung lengan kemeja, dan melesat dengan mobilku untuk mencari mandu rebus paling besar. Memang rasa kesal selalu menyergapku jika Shin-Yeong bertingkah, tapi aku juga mengerti mood-nya memang akan sangat ekstrem jika sedang hamil. Impianku untuk memiliki banyak anak jadi kupertimbangkan jika setiap hamil dia akan bertingkah seperti ini.

Mandu rebus bukanlah tantangan bagiku, karena mendapatkannya cukup mudah. Makanan itu banyak dijajakan di pinggir jalan, apalagi di musim dingin seperti ini mandu menjadi kudapan favorit. Siksaan yang masih kuingat adalah beberapa hari lalu ketika Shin-Yeong memintaku membelikan patbingsu (es serut dengan kacang merah manis). Di musim salju seperti ini, mencari patbingsu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Memang tidak mustahil, tapi sangat sulit rasanya. Aku pulang kerumah dengan raut wajah frustrasi, menyodorkan sekotak es krim vanilla dengan taburan choco cips yang sangat banyak. Akhirnya Shin-Yeong mau memakan eskrimnya. Aku kira dia sudah lupa dengan patbingsu, tapi setelah eskrimnya habis gadis itu merengek lagi minta patbingsu. Rasanya aku ingin mengiris nadi tanganku dan mengakhiri siksaan yang diberikannya. Ya Tuhan.

Setelah mengitari jalanan terdekat akhirnya aku bisa menemukan mandu rebus. Awas saja kalau dia tidak menghabiskan semuanya.

“Kyaaaa… mandu rebusnya datang.” Shin-Yeong langsung menyambar bungkusan plastik yang aku bawa. Melihatnya seperti itu, rasa lelahku langsung hilang begitu saja. Saat paling memuaskan adalah ketika gadis ini merasa senang dengan apa yang aku berikan padanya. Meskipun sepanjang perjalanan aku mengomel sendirian, tapi aku tidak bisa mengomel di depannya. Gadis ini… terlalu aku sayangi, meksipun ia cerewet setengah mati akhir-akhir ini.

“Ayo, kau juga makan mandu-nya. Aaaaaa…” Shin-Yeong mengarahkan mandu ke dalam mulutku, ukurannya yang besar memaksaku membuka mulut lebar-lebar. Mandu itu harus aku kunyah dengan susah payah.

Aigo, kyeopta.” ujarnya sambil mengusap-usap pipiku. Aneh, nampaknya istriku mau membunuh suaminya dengan membuatku tersedak mandu.

Aku tidak menemani Shin-Yeong memakan mandu-nya sampai habis karena aku harus mandi dan bersiap menemani gadis itu memasak. Jika urusan masak, kemampuan Shin-Yeong tidak perlu diragukan lagi, dia bisa diumpamakan sebagai seorang gadis desa yang sangat pandai memasak.

Selesai mandi, aku meluncur menuju dapur dan mendapatinya sedang memotong sayuran. Ada panci berisi cumi dan gurita didekatnya, juga beberapa botol bumbu yang akan ia gunakan.

“Kau mau masak apa, sup seafood?”

Eo, ini kesukaan Jong-Jin. Dia pasti makan banyak jika menu ini dihidangkan di meja makan.”

“Perhatian sekali pada adik ipar.”

“Tentu saja.”

Aku mengusap kepalanya. “Oh iya, seharian dirumah apa saja yang kau lakukan?” tanyaku.

“Tidak ada. Hanya membaca buku sambil mengusap perut, anggap saja membacakan dongeng untuk bayinya.”

“Buku apa yang kau baca?”

Aku harus menanyakannya baik-baik, jangan sampai dia membaca buku bertema berat, dan lebih parahnya lagi membaca buku-buku ilmiah koleksinya. Buku-buku tentang perekonomian atau antropologi. Jika terlalu banyak mendengar ibunya membaca buku-buku bertema berat, aku khawatir akan mempengaruhi tumbuh kembang otaknya. Memangnya bisa ya? Entahlah, sebenarnya aku hanya asal berbicara karena terlalu khawatir.

“Novel. Romance.” ujarnya kemudian menunjukkan cengiran.

“Oh. Kau tidak suka membaca novel bertema berat tentang pembunuhan sadis kan? Atau tentang pemberontakan anarkis? Aku tidak ingin nanti anak kita ketakutan di dalam perutmu.” protesku.

Shin-Yeong menghentikan gerakan pisau di tangangannya. Ia melirikku sambil mengerutkan alis kemudian menghela nafas panjang.

Oppa~ya. Apakah kau ingat buku apa yang dibaca sieomeoni ketika kau di masih di dalam perut?”

Ani (tidak).”

“Aku rasa ketika kau masih di dalam perut, sieomeoni gemar membaca novel detektif, makanya ketika dewasa, kau jadi seperti ini. Penuh kecurigaan dan hobi bertanya.”

“Benarkah? Memangnya bisa seperti itu?”

“Mungkin saja. Aku akan menanyakan hal ini pada siemoi. Jika benar begitu, maka aku tidak akan pernah membaca buku-buku tentang detektif agar anakku nanti tidak sepertimu.” ujarnya dengan wajah datar. Gadis itu memajukan kepalanya, kemudian menjulurkan lidah.

“YAK!”

***

Shin-Yeong’s POV

Yeoboseyeo,

Ne, sieomeoni.

Eo? Iya baiklah, aku dan Jong-Woon akan makan bersama.”

Ne,”

Ne, sieomeoni. Hati-hati di jalan.”

Aku mengakhiri panggilan telepon dari sieomeoni yang memberi kabar bahwa hari ini ia dan Jong-Jin akan pulang telat dari kafe. Dan nampaknya malam ini aku dan Jong-Woon harus makan malam berdua saja karena siabeoji sedang berada di luar kota.

Nugu?”

sieomeoni.

Wae?”

“Dia bilang akan pulang agak malam, dan sebaiknya kita makan duluan saja.” jelasku.

Jong-Woon sudah duduk di kursi meja makan ketika aku menerima panggilan dari telepon rumah yang berbunyi. Ponselku dan Jong-Woon ada di kamar, mungkin karena itulah ibu mertuaku menghubungi telepon rumah.

Setelah selesai memasak, kami berdua akhirnya harus duduk berhadapan dengan sajian makan malam yang cukup banyak. Aku rasa makanan-makanan ini akan berakhir di lemari pendingin nantinya.

“Yasudah, ayo kita makan.” Jong-Woon menyendokkan nasi, memasukkan ke dalam mulutnya. sementara aku hanya menatap hidangan makanan tanpa minat.

Tadi ketika memasak, aku semangat sekali dan tidak sabar untuk segera menikmatinya. Tapi setelah matang, kenapa rasanya sup seafood itu terlihat sangat tidak menarik. Dan baunya, ya ampun, aku ingin muntah.

“Kau tidak mau makan?” jong-Woon menghentikan gerakan tangannya, menanyaiku yang sejak tadi terdiam tanpa menyentuh sedikitpun makanan di hadapanku.

Shireo. (tidak mau)” Aku menggelengkan kepala. Kuperhatikan tofu berbumbu merah yang baru saja diambil Jong-Woon dengan sumpitnya. Ia makan lahap sekali.

“Kenapa tidak mau makan?” suarnya terdengar tidak jelas karena mulutnya yang penuh.

Sementara itu aku hanya menggeleng. Kenapa semua makanan itu bisa membuat perutku benar-benar mual? Bumbu pedas tofu itu kan kesukaanku, kenapa aku sama sekali tidak ingin memakannya? Bahkan membayangkan tofu yang lembut dan terasa meleleh di dalam mulutku saja rasanya aku harus lari ke toilet untuk muntah.

“Hkkk… mmm…” Aku menahan tekanan dari perutku. Melihat Jong-Woon mengunyah tofu, aku akhirnya benar-benar lari ke toilet, dan muntah.

Spontan Jong-Woon langsung mengejarku teburu-buru. Kudengar dia terbatuk-batuk, mungkin karena tersedak. Tapi pria itu dengan sabar malah mengusap-usap tengkuk dan punggungku ketika aku dengan penuh semangat mengeluarkan isi perutku.

“Haruskan kita pergi ke dokter lagi?” suara Jong-Woon terdengar panik.

“Tidak… uhg… aku akan lebih baik setelah minum air putih.”

“Kau benar-benar menghawatirkan.”

Jong-Woon terus mengusap punggungku, ia membantu memegangi rambutku yang tidak dikuncir. Jika dia terus bersikap seperthatian ini, bagaimana bisa aku berteriak kesal padanya seperti dulu lagi? Aku bahkan merasakan perubahan yang sangat banyak pada sikapku. Mungkin karena aku sedang hamil, dan karena tahun ini pernikahan kita juga memasuki tahun kedua. Hidup semakin lama bersama Jong-Woon, aku berusaha untuk semakin dewasa.

Selesai dengan perjuanganku menahan mual, sekarang perutku malah lapar. Sekarang aku duduk sendirian di ranjang. Jong-Woon masih di dapur sedang membereskan makanan. Ia pasti sibuk memasukkan makanan ke dalam kotak sebelum disimpan ke lemari pendingin. Dia bilang akan membelikanku sesuatu yang ingin kumakan, tapi aku tidak ingin makan apapun yang dibelinya.

Aku memutuskan untuk turun ke dapur dan menemuinya yang sedang mencuci wajan.

Oppa~ya…”

Aku menghampiri Jong-Woon, memeluk tubuhnya dari belakang.

Eo? Sudah memutuskan kau ingin makan apa?”

Kimchi bokeumbab (nasi goreng kimchi).”

“Oke, aku akan membelikannya nanti.”

Ani…” aku segera menggeleng. Kulepaskan pelukanku dari tubuhnya dan mengambil posisi tepat disamping Jong-Woon. “Aku ingin kau yang membuatnya, bisa kan?” Aku menatapnya dengan ekspresi memohon, sesekali aku mengedip-ngedipkan mata sambil menggembungkan pipi. Aku tahu, ia tidak akan tahan jika aku menunjukkan agyeo.

Ara. Aku akan mebuatkannya untukmu.”

Gomaweo.” Aku tersenyum, kemudian memberikan ciuman singkat di pipi kanannya. Jong-Woon-ku yang manis benar-benar baik.

***

Jong-Woon’s POV

“Jaan… kimchi bokeumbab. Selamat menikmati.”

Aku menyodorkan nasi goreng kimchi yang diinginkan Shin-Yeong dengan menjual nama bayi yang ada dalam perutnya. Jika bukan karena dia sedang hamil, aku juga tidak akan sebaik ini menuruti semua keinginannya. Kalau dia terlalu banyak memerintahku, akan aku tarik saja kupingnya sampai copot. Gadis ini benar-benar beruntung karena ada bayiku di dalam perutnya.

“Woah, nasi goreng kimchi kesukaanku.” Ia bertepuk tangan riang. Tak selang dua detik kemudian, ekspresi gadis itu berubah.

Oppa, kenapa kimchi lobak?”

“Memangnya kenapa? Bukankah kau suka kimchi lobak?”

“Aromanya bisa membuatku muntah lagi nanti.” protesnya.

Shin-Yeong memandangi piring yang aku sodorkan ke hadapannya dengan raut wajah tidak suka.

“Lalu kenapa kau tidak bilang ketika aku memotong lobak tadi, kau tidak melihatku ketika memasak ya?”

“Kau kan tahu aku sedang streaming. Kemarin aku ketinggalan menonton drama kesukaanku.” Ujarnya sambil menunjuk-nunjuk jendela youtube di ponselnya yang sedang menayangkan drama kemarin malam.

“Astaga.” mencoba bersabar untuk kesepuluh ribu kalinya aku menghadapi gadis ini. Akhirnya hanya bisa menghela nfas dan kembali bangkit menjauhkan piring makanan dari hadapannya. Memulai proses memsak dari awal lagi. Kali ini tidak boleh salah, aku harus mencampurkan kimchi sawi, bukan kimchi lobak.

Tak lebih dari sepuluh menit aku bejibaku dengan wajan, akhirnya nasi goreng kimchi SAWI aku sodorkan ke dapannya. Gadis itu tersenyum, dan segera menyendok nasinya.

Oppa, tiup…” ujarnya sambil menyodorkan sendok kearah mulutku.

Aku hanya tersenyum, kemudian meniup sendoknya dengan bahagia. Saking bahagianya aku benar-benar ingin menendang wajan bekas nasi goreng kimchi tadi.

“Sekarang makan yang banyak ya… istriku.”

Nae, jal meokgesseumnida. (aku akan menikmatinya)”

Shin-Yeong menyuapkan makanan ke mulutnya. Mengunyah nasi goreng kimchi SAWI itu dengan lahap. Suapan pertama lancar, suapan kedua masih terlihat nikmat, suapan ketiga dia masih baik-baik saja, tapi setelah itu tidak ada suapan keempat.

Oppa… kau habiskan nasi gorengnya ya. Aku sudah kenyang.”

Ya Tuhan…………………… gadis ini!

“Aku sudah makan, dan aku juga sudah kenyang.”

“Tapi sayang sekali kalau nasi gorengnya dibuang. Anak kita pasti tidak akan suka. Sebagai seorang ayah, kau harus memberi contoh yang baik untuk anak kita.”

Aku mengepalkan tangan. Lagi-lagi gadis ini menyebut-nyebut bayi yang ada di dalam perutnya. Aku tidak boleh merasa kesal. Aku tidak boleh menunjukkan wajah kesal di depannya.

“Kita simpan saja, nanti kalau tengah malam aku lapar, aku akan memakannya.”

“Oh, oke kalau begitu. Sekarang, rapikan kembali dapurnya sebelum sieomoni pulang. Setelah itu, kau harus naik ke kamar. Aku ingin mendengarkan kaset yang kau belikan kemarin. Aku ingin mendengarkannya bersamamu.”

Araseo.” aku memasang senyum.

Baiklah istriku sayang. Apapun yang kau inginkan, maka katakanlah, aku bahkan akan mempertaruhkan nyawaku unutk melakukannya. Benar-benar istri yang sangat manis. Bahkan bisa membuat tekanan darahku melonjak tinggi. Aigo, manisnya.

Sambil memijat kepala, aku memasuki kamar dan mendapati Shin-Yeong tengah asik dengan buku bacaannya. Novel lagi. Gadis itu sangat senang menghabiskan banyak sekali judul novel untuk mengisi waktunya yang kosong setiap hari.

“Sudah selesai? Kau pasti lelah ya, sini aku pijat bahunya.”

Eo. Satu hari ini rasanya panjang sekali ya.” jawabku sambil merangkak naik ke atas ranjang, duduk di depannya yang langsung menggerakkan kedua tangan untuk memijat bahuku. Setidaknya gadis ini masih punya perasaan karena perhatiannya padaku.

Kim Shin-Yeong memang sering sekali membuatku kesal dengan segala tingkahnya, tapi jika sudah melihat wajahnya yang sedang tersenyum, maka semua perasaan itu langsung lenyap begitu saja. Sikapnya memang berubah akhir-akhir ini. Dia yang dulunya sangat mandiri, kini tingkah manjanya justru benar-benar diluar batas normal.

Aigo, ototmu kaku sekali. Sebelah sini pasti pegal kan?”

Eo, tekan agak kencang. Bahuku terasa kaku.”

Ne,” Shin-Yeong menurut.

Tak selang dua menit setelah kegiatan memijat yang dia lakukan, gadis itu langsung menurunkan kepalanya sejajar dengan wajahku. Dari sorot matanya, sepertinya ia akan menyampaikan keinginannya lagi.

Oppa~ya.”

Nah! Benar kan!

Oppa~ya, aku ngantuk. Ayo kita dengarkan musiknya sampai tidur.”

Baiklah, baiklah! Setidaknya ini tidak lebih berat dari membuat kimchi bokeumbab dua kali.

“Baiklah, ayo kita tidur, kau juga pasti lelah seharian ini menahan bosan sampai kau mual.”

Aku menggeser posisi, memastikan bahwa ia bisa tidur dengan posisi yang nyaman. Sebelumnya, aku menghidupkan DVD dan memutar musik yang ia inginkan. Kupeluk tubuhnya dibalik selimut, kutepuk punggungnya pelan-pelan. Gadis ini, gadis yang menemaniku selama dua tahun belakangan, dan akan menemaniku di tahun-tahun berikutnya, dia akan melahirkan anakku… ah tidak, tapi… anak-anak kami.

Shin-Yeong sudah menjadi menantu yang sangat baik, menjadi istri yang sangat baik, dan pastinya akan menjadi ibu yang sangat baik. Gadis ini, salah satu alasanku untuk tetap tersenyum setiap hari.

Gomawo.” ujarku tanpa bisa memikirkan kata-kata lain untuknya.

“Untuk apa?”

“Untuk membesarkan anakku di dalam perutmu, dan bersiaplah untuk membesarkannya sampai menjadi orang yang hebat.”

“Ini anak kita.”

“Iya anak kita.”

“Kau benar-benar hebat.” ujarku lagi.

“Iya, aku tahu, oppa.

Aku terkekeh. Seharusnya gadis seperti Shin-Yeong tidak terlalu sering dipuji. Dia ini sudah narsis sejak lahir, dan tidak boleh dilebih-lebihkan.

Shin-Yeong mendongakkan kepalanya, menatapku sambil mengedip-ngedipkan mata, dan memasang senyuman paling dahsyat. Apa lagi yang akan dia katakan?

Oppa~ya, aku mau patbingsu…”

Aku menghela nafas frustrasi, ternyata meskipun sudah akan tidur, keinginanya hari ini masih saja tersisa. Dan patbingsu? Malam-malam begini?

“Kim Shin-Yeong~ssi. bunuh saja aku sekalian.”

***

Advertisements

160 comments on “Jong-Shin Slight Scene : Miracle 4

  1. finaalllyy..
    comebaaacckkk jugaaa

    akhh memang gemesin couple yg ini ..
    slalu punya cerita rumah tangga yang berbeda *ehh

    pokooonyaa love u jong woon oppaaaaa
    #ciummm basah :*

    *kalo ak bunuh kamu oppa ,, apa kabar anak kita ????

  2. hihihiii, pukpuk jongwoon.. yg sabar yaa, ngadepin shin yeong.. kekeke.. envy bgd sma shin yeong ih.. sejak hamil makin bhgia gt keknya.. kerjaan drmh tu baca novel, streaming drama kesukaan, punya nampyeon yg tampan nan sabar mcam jong woon lagi.. krg bhagia aplg coba..hahahaa.. dtggu kelanjutan pnderitaan jongwoon berikutnya, eh mksdnya kelanjutan ceritanya. hehehe

  3. wah…kim shin yeong…benar2 sesuatu..hebat bgt bs bikin jong woon kelimpungan kyk gt..pokoky jong woon hrz sll jd suami yg siaga memenuhi acara ngidam shinyeong…

  4. hhuwaawaahaaahaahahaa…..kocak! “Kim shin yeong ssi bunuh saja aku sekalian” pasti cp bgd tuh jong woon ngadepin istri lg hamil model bgt;D

  5. Emosian ya jong woon oppa lucu liata jong woon oppa menderita karena acara mengidam shin yeong haha sabar ya oppa

    ditunggu kelanjutan Jong-Shin couple ini:-)

  6. Waduhhh cerewey bgt ya org ngidamnya,,
    Untung jongwoon bisa bersabar,, ini ngidam pertama aja minta ampun ngadepinnnya.. Mudah”an ngidam” selanjutnya jongwoon bakalan lebih kuat lg, hahahah

  7. Wkwkwk~ maklum yang hamil tu bawaanya pengen yg manis sm yg dingin2…”̮ƗƗɑ”̮ƗƗɑ”̮ƗƗɑ”̮ƗƗɑ”̮ƗƗɑ”̮ƗƗɑ”̮

  8. astaga shin young nyidamnya aneh bngett dan log mau minta pasti nunjukin muka imutnya agar dituruti
    kasihan jongwoonyaa tapi salah dia juga sihh gag nanyain secara spesifik mintanya apa jadi dia harus beli n masak 2 kai deh gara* oermintaan yg aneh* dr istrinya wkwk,, ,,
    tapi ini beneran bikin ngakaakk,,,

  9. sejauh n sbnyak aq bc ff online ktegori maried life cm da 2 psagan tg mnrtq kadar khdupan Rt nya tu ga lebay tp romantis 1.Kyu-Je Wo 2.Jong-Shin couple.. smga uri saengi ttp skali2 posting Jong-shin moment mpe mreka jd org tua y..fighting

  10. Ahaaaiii
    Shin yeong lagi manja-manja nya sama jongwon yaaa

    Oh kak ? Punya novel after wedding juga ? Aku sukaaaaa banget sama novel itu ~~ . Hmmm kita sama keke~

  11. ketawa2 gaje bacanya hehe, oppa kasian banget eon disiksa gitu. btw liburan kim family kedaegu dilanjutin ga eon? next ditunggu jongshin couplenya lg ya eonnn^^

  12. Aigoo..shin yong lucu bngt yah kalo bisa thn dpan hamil lg biar dimanja terus ma nampyeonnya…kekeke Yeppa…sering sering yah ke dokter biar tekanan darahnya normal, hohoho

  13. Shinyeong ngidam apa nyusahin sih, musim semi mau jalan” ke daegu ditunggu lho, oya ternyata novel on(c)e nya dijadi satu ya bolak balik covernya jg lucu, ceritanya ternyata saling berhubungan, tp jln cerita keduanya beda sama” menarik dgn konflik yg berbeda,

  14. whoaaaaa,,Jong-Ahin comeback….
    wkwkwkwk,,bnr” ngakak bayangin abang jongwoon sabar yg trlampau dahyat….
    waduhhhh,,gitu x ya nasib para lekaki yg pnya calon bayi.. bisa stress nurutin ngidam’a bini…
    tapi tapi tapi,,ff eonni mank DAEBAK >.<

  15. hahahaha
    Aigoo, Kim Shinyeong emang benar benar daebakk
    Aku bacanya sambil senyum snyum gaje
    benar kata eonie, ngidamnya Shinyeong benar benar ekstrim
    Sabar-sabarin aja yaak tuan Kim

  16. Eetdahh, ini ngidamnya keterlaluan bangettt, tapi tetep manis 😀
    jong woon oppa smangatt hingga bulan ke- 9 nanti ..
    #wakakak

  17. hahahahaha yg terakhir kacian bngettt

    anak ny bener* perpaduan ayah sama ibu ny ,, hahaha jd kangen yesung oppa ,

    kim shin yeon unii jd lebih ‘manis’ wkwkwkw

  18. Hahaha . . .dr awal bca ga lepas ketawa!
    Astagaa . . .ngebayangin wajah yesung yg frustasi pzt lucu bgt!!
    Ngidamnya shinyeong smpe bkin pengen bunuh diri!hahaha 😀

  19. Aigoo Shin Yeong benar2 lucu dan membuat Yesung oppa hrs sabar2 selalu, lucu banget setiap scene nya.. Untung Yesung oppa benar2 menghadapi Shin Yeong dgn sabar banget wlpn rasa lelah nya pasti jg sdh besar banget.. Sabar ya Jong Woon oppa

  20. wahhhhh harussss ektra sbarr bngtt yssa ngadepin ibu hamil yg satu ini .hohohoho
    😀
    d tnggu crta2 slanjutnya eon .. aplgi crta shin yeong mlahirkan 😀 😀

  21. Aduhhh sumpah eonni bahaya bgt baca ini ff sambil makan, bikin nyembur kmana manaa,, kocak bgt,, hahaha
    Aigoooo,, anarkiisss??? Uda kaya suporter bola aja eonni teh, hahahahahha
    Trs itu pula aduh beneran ini mah,, usaha penyiksaan untuk suami paling tampan semuka bumi, ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム ╋╋a ngakaak tiada henti ni,,
    Jongshin kopel tuh slu kocak ya eonni, ceritanya sweet,, macam gula gtu, hahhaha

    Ah ia, stlah berburu kmna-mana, aku bru dpet buku eoni yg on(c)e sma yg prosecutor aja,, yg CEO nya blm ni eonni, maklum jadi fans eonni nya telat, hehehe,, jadii,, aku bisa pesen dmna ya eonni? Ada info kah??
    Jadi aku bru aja bres baca si jaksa Lee yg keren nya pake maximal itu,, dan pgn ngajuin itu judul buat dbikin drakor aja,, mengharubiruuuu bgt,,
    (Malah curhat)
    Yasudah,,, dtgu kelanjutan nyaaa eonni,, another miracle,, ♡(^ε^)♡

  22. Aduhhh sumpah eonni bahaya bgt baca ini ff sambil makan, bikin nyembur kmana manaa,, kocak bgt,, hahaha
    Aigoooo,, anarkiisss??? Uda kaya suporter bola aja eonni teh, hahahahahha
    Trs itu pula aduh beneran ini mah,, usaha penyiksaan untuk suami paling tampan semuka bumi, ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム ╋╋a ngakaak tiada henti ni,,
    Jongshin kopel tuh slu kocak ya eonni, ceritanya sweet,, macam gula gtu, hahhaha

    Ah ia, stlah berburu kmna-mana, aku bru dpet buku eoni yg on(c)e sma yg prosecutor aja,, yg CEO nya blm ni eonni, maklum jadi fans eonni nya telat, hehehe,, jadii,, aku bisa pesen dmna ya eonni? Ada info kah??
    Jadi aku bru aja bres baca si jaksa Lee yg keren nya pake maximal itu,, dan pgn ngajuin itu judul buat dbikin drakor aja,, mengharubiruuuu bgt,,
    (Malah curhat)

  23. aaahhhh.. ini yg ditunggu2..
    bener2 lama banget nunggu, tp ga sia2..
    jongwoon jd suami siaga, shin yeong bener2 bisaaa bgt ya..
    oke, dtunggu kisah2 selanjutnya di mereka..
    selly ssi fightiiing.. 😀

  24. kkk~ kasian jong woon-nya akuuu XD *usap2 melo*
    hmm, tapi biasanya anak pertama aja kok yg ngerepotin, anak k-2, k-3, k-4, k-5 dst jarang ngerepotin hihihi *dukung shin yeong* *jong woon pingsan*
    hwaiting uri jong woon-ah *kecup*

  25. Aaaaaaa akhirnya publish juga.Kangen Couple ini hihi Shin Yeong lucu banget dan ada aja yang di mau *namanyajugangidam* kkk dan Jong Woon dengan sabarnya yang ekstra berusaha menurutinya,ya walaupun tetep aja menggerutu di belakang kkk pokoknya di tunggu cerita selanjutnya hihi

  26. Huaaaa sweett pke bgt,, mksh ya teh buat tulusannya yg menyegarkan di pagi hari,,, smga captain romance’a bsa segera rilis di tunggu

  27. jiahahahahahha…
    Shin yeong daeeebbbbaaakkkk…
    Jongwoon Oppa itu juga salahmu,, jadi kw harus bertanggung jawab.

  28. Shin young bnr2 top nyusahin jongwoon,, tu baby pinter bgt blm lahir z dh bsa bkin appanya kelimpungan
    😛
    D tunggu next moment, jgn lm2 y
    😛

  29. Ommo,,,, tulisan selly bener2 dech…
    nae jadi pengen punya nampyeon kayak Jongwoon..kkk
    keep writing ne selly.. fighting…

  30. Hahahaha… Couple ini cute banget deh. Makon cinta. Wkwk. Sering-sering update yah eon, aku selalu menunggu setiap FF mu. FIGHTING!!! 😀

  31. Wah, akhirnya keluar juga Miracle 4 nya. Kasihan Jongwoon, harus bersabar menghadapi kehamilan sang istri. Ditunggu kelanjutannya lg ya, trs berkarya. ^_^

  32. HAHA Kasian jongwoon…ini aku yg baca aja puyeng gmn jongwoon yang ngejalaninnya. Sabar-sabar aja punya istri kaya shinyeong hahahahaha….

    Tapi aku seneng bgt bayangin jongwoon tersiksa demi anak…haaaaaa bapak yang baik! ❤

  33. Akhirnyaaa…setelah sekian lama nungguin publish…
    Aigo…jongwoon bener2 suami dan calon appa yang baik ^.^
    lucu bayangin shin young yg lagi hamil,,kyeopta,,
    d’tunggu next part nya,

  34. Kasian juga liat jong woon harus ekstra sabar menghadapi istrinya yng lagi ngidam ingin ini dan itu ,

    Sabar oppa penderitaan cuma tinggal 6 bulan lg heheh 😀

  35. Yang sabar jongwoon-ah…..hahahhaa istri mandiri mendadak jadi manja
    Eohh author akhirnya update ff……sudah sekian lamanyaa, sering2 update yaa thor 😉

  36. Aku ngefans banget sama Jong Woon dan nge fans banget sama Shin Yeong. Mereka digabungin jadi makin ngefanssss… thanks unni cerita ini udah dilanjut, aku pembaca setia jong-shin. ♥

  37. Aku ngefans banget sama Jong Woon dan nge fans banget sama Shin Yeong. Mereka digabungin jadi makin ngefanssss… thanks unni cerita ini udah dilanjut, aku pembaca setia jong-shin. ♥

  38. akhirny JongShin couple kyaa.. >.< lanjutin trz y.. smp baby ny kluar n gede..kira2 tampan, cute n seaneh bapakny gak y itu anaknya.. kkkkkkk ^.^b JongShin couple love it °\^.^/°

  39. yaelah,,,
    tu ngidam pa manfaatin kesempatan,,,
    ckckck,,,sabar y jongwoon*pukpuk
    eh tu ntar main ke daegu kira2 dksh ramuan apa y ma nenekx shinyoeng,,,*smg bkn ginseng yg kmrn
    trus tmn2x shinyoeng kok g dimasukin,,

  40. pasangan Jong-Shin bner2 heboh yah,tp seru dan lucu,gimana nanti pas anak mereka lahir pasti makin heboh sampe mgkn anaknya geleng2 kepala liat appa dan eomma,
    ditunggu kelanjutan kehebohan Jong-Shin,segera lanjut ya thor..Fighting

  41. admin mau tanya kenapa bagian chap ini Jong-Shin Slight Scene : Whatever! Just sleep together! (NC?) kok ga bsa dibuka? jadi kurang nyambung ceritanya,,, oh ya kapan nih kelanjutan ceritanya

  42. bru bc yg ini, lucu banget…
    jongwoon sabar bnget yak..to jd gemes jg bacanya…
    jongwoon sayang banget sm shin yeong..
    couple ino bner2 g ngebosenin deh…
    menanti kelanjutan ff ny,,,^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s